cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
MOBILISASI ALSINTAN BERDASARKAN KALENDER TANAM PADA BUDIDAYA PADI DI KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH Trip Alihamsyah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n2.2016.p177-188

Abstract

ABSTRACTMobilization of Agricultural Machines Based on Crop Calender for Rice Cultivation in Grobogan District, Central Java. Agricultural machines for rice production in Central Java especially Grobogan District are already intensively developed, but their utilization is still low. Optimalization use of those agricultural machines is needed to improve their performances. This research aimed: (i) To arrange mobilization concept of agriculturalmachines in order to optimize their use for rice cultivation in Grobogan District, and (ii) To analyze the deficit and working capacity of those agricultural machines after optimalization use through their mobilization. This research was focused on hand tractors and power threshers only, and was conducted in Grobogan District, in 2013. Data on lowland area and population of hand tractor and power thresher were collected from agricultural office of Grobogan District and its Sub-districts, meanwhile data dealing with agricultural machine’s performances were collected through interview with agricultural machines owner and UPJA using well structured questioners. The collected data were arranged in the form of table and map, and then analyzed using requirement and mobilization analyses. The results showed that through mobilization scenario of 20% available agricultural machines among sub-district with four different planting times in Grobogan District could improve the machine’s performance and could reduce their deficit. By mobilizing those agricultural machines for rice cultivation in Grobogan District, their deficit could be reduced up to >50%, meanwhile, working capacity of those machines could be increased from < 30 ha/year/unit before mobilization become 35,5 ha/year/unit after mobilization.Keywords: optimalization, mobilization, agricultural machines, crop calendar, rice ABSTRAKAlsintan untuk budidaya padi di Jawa Tengah khususnya di Kabupaten Grobogan sudah berkembang namun pemanfaatannya masih rendah. Mobilisasi alsintan antar wilayah berdasarkan kalender tanam diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatannya yang sekaligus meningkatkan kinerjanya. Tujuan kajian ini adalah: (1) Menyusun konsep mobilisasi alsintan berdasarkan kalender tanam untuk optimalisasi pemanfaatannya pada budidaya padi di Kabupaten Grobogan, dan (2) Menganalisis kekurangan dan kapasitas kerja alsintan setelah dilakukan mobilisasi.Kajian ini difokuskan kepada traktor tangan dan perontok padi di Kabupaten Grobogan pada tahun 2013. Data luas lahan sawah serta penyebaran traktor tangan dan perontok padi diperoleh dari kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten dan Kecamatan, sedangkan data primer kinerja alsintan dan jasa sewanya diperoleh melalui wawancara kepada pemilik alsintan dan UPJA di tiga kecamatan yang banyak alsintannya masing-masing tiga responden menggunakan daftar pertanyaan terstruktur. Data yang diperoleh disusun dalam bentuk tabel dan peta, kemudian dianalisis menggunakan Analisis Kebutuhan Alsintan serta Analisis Mobilisasi Alsintan dan Analisis Kapasitas Kerja Alsintan. Konsep mobilisasi alsintan disusun berdasarkan perbedaan jadwal tanam menurut kalender tanam antar kecamatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa melalui skenario mobilisasi 20% alsintan yang ada antar kecamatan dengan 4 jadwal tanam padi berbeda di kabupaten Grobogan dapat meningkatkan pemanfaatan dan kinerja alsintan serta menekan kekurangan alsintannya. Dengan skenario mobilisasi alsintan tersebut, kekurangan traktor tangan dan perontok padi di Kabupaten Grobogan dapat ditekan sampai > 50%, sedangkan kapasitas kerja alsintannya dapat ditingkatkan dari awalnya < 30 ha/tahun/unit menjadi 35,5 ha/tahun/unit setelah mobilisasi.Kata kunci: optimalisasi, mobilisasi, alsintan, kalender tanam, padi
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP KACANG TANAH DI LAHAN TADAH HUJAN SUMATRA BARAT azwir azwir
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n3.2017.p209-220

Abstract

                                                          ABSTRACTInfluence of fertilization on peanut in rainfed lands in West Sumatra. Generally, crop productivity in rainfed lowland of West Sumatra is relatively low due to limited available water especially during dry season and soil nutrient status. The main objectives of this assessment were to obtain adaptive varieties and suitable fertilizer packages for peanuts production in rainfed lowland and rainfed highland. The assessment was conducted in two rainfed field locations, i.e. in Lurah Ampalu village, Padang Pariaman District (55 m asl/lowland) and in Koto Gadang Guguk Village, Solok District (885 m asl/upland) from July to November 2015 using Split-Plot Design with three replications. As the main plot was three fertilizer package while as the subplot was five peanut varieties (Hypoma-2, Takar-1, Takar-2, Jerapah, dan Kelinci). The results showed that the five peanut varieties significantly affected crop yield on both rainfed fields, while the three fertilization packages significantly affected crop yield only on rainfed lowland field. The yields in rainfed lowland field were higher than in rainfed highland field.  Potential peanut varieties suitable for rainfed lowlands are Takar-1 and Takar-2, whereas in rainfed highland are Hypoma-2 and Kelinci varieties. For both rainfed areas the highest peanut yield was obtained in the fertilizer package based on soil nutrient status, i.e. for lowland 50 kg, Urea 25 kg, TSP 45 kg, KCl 2 tons of manure and 200 kg of Dolomite, while for higland 50 kg Urea, 75 kg TS, 50 kg, KCl 1 ton of cage manure and 200 kg Dolomite.varieties, peanut, fertilizer, rainfed land ABSTRAK Secara umum produktivitas lahan sawah tadah hujan di musim kemarau rendah, karena kurangnya ketersediaan air dan status hara tanahnya rendah. Tujuan pengkajian adalah mendapatkan varietas adaptif dan paket pemupukan yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi kacang tanah di lahan sawah tadah hujan dataran rendah dan dataran tinggi. Pengkajian dilaksanakan di dua lokasi lahan sawah tadah hujan, yaitu Desa Lurah Ampalu, Kabupaten Padang Pariaman (55 m dpl/dataran rendah) dan Desa Koto Gadang Guguk, Kabupaten Solok (885 m dpl/dataran tinggi) mulai Juli sampai dengan November 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dan tiga ulangan. Petak utama adalah tiga paket pemupukan, dan sebagai anak petak adalah lima varietas unggul kacang tanah (Hypoma-2, Takar-1, Takar-2, Jerapah, dan Kelinci). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kelima varietas berpengaruh nyata terhadap hasil kacang tanah di kedua lahan sawah tadah hujan, sedangkan ketiga paket pemupukan hanya berpengaruh nyata terhadap hasil kacang tanah di lahan sawah tadah hujan dataran rendah saja. Hasil kacang tanah lebih tinggi di lahan sawah tadah hujan dataran rendah dibandingkan dengan hasil di lahan sawah tadah hujan dataran tinggi. Varietas yang potensial dikembangkan di lahan tadah hujan dataran rendah adalah Takar-1 dan Takar-2, sedangkan pada lahan tadah hujan dataran tinggi lebih sesuai dikembangkan varietas Hypoma-2 dan Kelinci. Untuk kedua lokasi paket pemupukan yang lebih memberikan hasil tinggi adalah paket pemupukan berdasarkan status hara tanah, yaitu untuk dataran rendah 50 kg Urea + 25 kg TSP + 45 kg KCl + 2 ton pupuk kandang dan 200 kg Dolomit, sedangkan untuk dataran tinggi 50 kg Urea + 75 kg TSP + 50 kg KCl + 1 ton pupuk kandang + 200 kg Dolomit.varietas, kacang tanah, pupuk, lahan sawah tadah hujan
PEMANFAATAN BIOCHAR KULIT BUAH KAKAO DAN SEKAM PADI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH DI ULTISOL LAMPUNG Neneng Laela Nurida; nFN Sutono; nFN Muchtar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n1.2017.p69-80

Abstract

Utilization of Biochar of Cocoa Shell and Rice Husk to Increase Rice Productivity in Ultisol Lampung. Biochar application as soil amendment is technology for soil and crop productivity improvement in acid soil. The main problem of acid soil including in paddy field is high concentration of Al3+ that inhibit crops growth causing low crop production. The objective of this study was to evaluate the effects of cocoa shell and rice husk biochar on paddyfield productivity and soil chemical properties. The study was conducted at Agricultural Research Station of Tamanbogo, East Lampung on June-September 2012 (planting season 1), January-April 2013 (planting season 2) and December 2013-March 2014 (planting season 3). The experimental design was split plot design, which the main plotswere two types of biochar (cacao shell and rice husk), the sub plots were biochar rates 0.5 t/ha (control), 5 t/ha and 15 t/ha with five replications. The parameters measured were paddy growth, yield and soil chemical properties (soil pH,C organic, N total, available P, K total, and Al3+ ). The result showed that biochar could affect weight of rice straw andrice yield at the second and third planting season, while biochar rates could affect crop growth and yield of rice at three planting. The effect of cacao shell and rice husk biochar application with the rate of 15 t/ha could up to three planting seasons without any biochar addition in following two consecutives year, whereas addition biochar 5 t/ha wasless effective. The cacao shell biochar was more effective in increasing crop growth and yield than rice husk biochar,as seen on dry grain rice yield, i.e. 3.58 t/ha (PS1) and 5.06 t/ha (PS III). During two planting seasons, both biochar at the rate of 15 t/ha were sufficient to improve soil chemical properties. Cacao shell biochar with the rate of 15 t/ha had better effect in improving soil chemical properties significantly in term of soil pH, available P, and total K content and decreasing aluminum content than rice husk biochar especially at second planting season. lowland, biochar, rice, Ultisol, LampungABSTRAKAplikasi biochar sebagai pembenah tanah merupakan salah satu teknologi untuk memperbaiki produktivitas tanah dan tanaman pada lahan masam. Permasalahan utama pada lahan masam adalah tingginya konsentrasi Fe3+ yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman sehingga menyebabkan rendahnya produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemberian biochar kulit buah kakao dan sekam padi serta takarannya terhadap peningkatan sifat kimia tanah dan produktivitas padi sawah di Ultisol Lampung. Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah di Kebun Percobaan Taman Bogo, Lampung selama tiga musim tanam yaitu bulan Juni-September 2012 (musim tanam pertama), bulan Januari-April 2013 (musim tanam kedua) dan Desember 2013 - Maret 2014 (musim tanam ketiga). Percobaan disusun dalam rancangan kelompok petak terpisah, sebagai petak utama terdiri dari biochar kulit buah kakao dan biochar sekam padi, sedangkan sebagai anak petak adalah takaran biochar yaitu tanpa biochar (kontrol 0 t/ha), 5 t/ha dan 15 t/ha, dengan 5 kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan dan hasil padi, sifat kimia tanah (pH, C-organik, N-total, P-tersedia, K-total dan Al3+ ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa  jenis biochar hanya berpengaruh nyata terhadap berat jerami kering dan hasil gabah pada musim tanaman kedua dan ketiga, sedangkan takaran biochar berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil padi pada ke tiga musim tanam. Pengaruh pemberian biochar kulit buah kakao dan sekam padi 15 t/ha mampu bertahan sampai tiga musim tanam dilihat dari pertumbuhan dan hasil padi sawah, sedangkan pemberian biochar 5 t/ha bertahan satu musim saja. Efektivitas biochar kulit buah kakao dalam mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman lebih tinggi dibandingkan sekam padi terlihat dari hasil gabah kering panen sebesar 3,58 t/ha (MT II) dan 5,06 t/ha (MT III). Selama dua musim tanam pemberian biochar kulit buah kakao sebanyak 15 t/ha juga mampu meningkatkan pH tanah, P tersedia, dan kandungan K tetapi menurunkan kandungan aluminium melebihi biochar sekam padi terutama pada musim tanam kedua.produktivitas, padi sawah, biochar, Ultisol
PENENTUAN DOSIS PUPUK LAHAN SAWAH BERDASARKAN STATUS HARA FOSFOR DAN KALIUM DI LAHAN SAWAH KABUPATEN PANDEGLANG Muchamad Yusron; Rita Sinta Wati; Diah Setyorini; Hiriah Mutmainah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p149-158

Abstract

 ABSTRACTGrowth and yield of rice are significantly determined by soil nutrient availability. Phosphorus and potassium  are two soil nutrients that are required in considerable amounts. The aims of this research was to investigate nutrient status of P and K in lowlandrice, which in turn could be used to set up fertilizer recommendation in Pandeglang Regency, Banten.The research was conducted in January to December 2016, consisted of three steps, namely research preparation, field survey, laboratory and data  analysis.  The result indicated that P and K status was found varying from low to high. 44,296 ha of rice field indicated high P status, which was found in 33 subdisctricts, 5,362 ha have medium P status, spread out at 21 subdistricts and  rice fields with low P status spread in 8 subdistricts covering an area of 5,110 ha. Nutrient status of paddy fields with high-K status of 36,710 ha scattered in 30 subdistricts, while the rice field with medium K status spread in 21 sub-bistrict covered of 7,616 ha and status of low-K spread across 9 subdistricts covered of area of 1,333 ha. Based on the 3 status level of P and K, it is recommended 9 packages of P and K fertilizers. Keywords: nutrient status, phosphorus, potassium, lowland rice, Pandeglang ABSTRAK Pertumbuhan dan produksi padi sangat ditentukan oleh ketersediaan hara dalam tanah. Hara P dan K merupakan dua unsur hara yang banyak dibutuhan tanaman padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status hara P dan K lahan sawah, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk menentukan dosis pupuk rekomendasi di Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pelaksanaan kegiatan dimulai bulan Januari hingga Desember 2016. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahap persiapan, survei lapang dan analisa laboratorium serta analisa data. Hasil menunjukkan bahwa kelas status hara P dan K lahan sawah bervariasi dari rendah sampai tinggi. Sawah dengan status hara P tinggi seluas 44.296 ha tersebar di 33 kecamatan, sawah berstatus hara P sedang seluas 5.362 ha tersebar di 21 kecamatan dan sawah berstatus P rendah menyebar di 8 kecamatan seluas 5.110 ha. Sawah dengan status hara K tinggi seluas 36.710 ha tersebar di 30 kecamatan, sedangkan sawah berstatus hara K sedang menyebar di 21 kecamatan seluas 7.616 ha dan sawah berstatus K rendah menyebar di 9 kecamatan seluas 1.333 ha. Berdasarkan variasi antara 3 status hara P tanah (rendah, sedang, dan tinggi) dan 3 status hara K tanah (rendah, sedang, dan tinggi), dihasilkan 9 paket rekomendasi pemupukan P dan K.Kata kunci: status hara, fosfor, kalium, sawah, Pandeglang
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI RAWA LEBAK DI KALIMANTAN BARAT Muhammad Hatta
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p101-112

Abstract

Lahan rawa lebak di Kalimantan Barat luasnya 35.436  ha, sekitar  9.796 ha ditanami padi satu kali setahun dengan hasil rata-rata 1 t ha-1. Kondisi tersebut berpotensi untuk ditingkatkan produktivitasnya. Tujuan pengkajian ini adalah meningkatkan produktivitas padi di lahan rawa lebak melalui perbaikan tata air, perbaikan varietas dan perbaikan kesuburan tanah. Metode penelitian berupa analisis kesesuaian lahan dan percobaan lapang. Percobaan lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang 5 kali dengan 4 perlakuan  paket teknologi: 1) padi lokal, pemupukan N 45 kg ha-1, P2O5 9 kg ha-1, K2O 12 kg ha-1, 2) varietas Inpago 8, pemupukan N 90 kg ha-1, P2O5 22,5 kg ha-1, K2O 60 kg ha-1 dan kapur 2 t ha-1, 3) varietas Inpago 8, pemupukan N 90 kg ha-1, P2O5 22,5 kg ha-1, K2O 60 kg ha-1 dan kapur 2 t ha-1 dan bahan organik 2 t ha-1, 4) varietas Inpago 8, pemupukan N 90 kg ha-1, P2O5 22,5 kg ha-1, K2O 60 kg ha-1, kapur 2 t ha-1 dan bahan organik 2 t ha-1, serta sistem pengairan satu arah. Hasil kajian menunjukkan bahwa paket teknologi menggunakan varietas unggul, pemupukan berimbang dan pemberian kapur dan pupuk organik masing-masing 2 t ha-1 dengan sistem pengairan satu arah dapat meningkatkan hasil 148% dari 2,3 t ha-1 menjadi 5,7 t ha-1 GKG dan memperoleh kuntungan yang paling besar yaitu Rp. 24.442.500,-  ha-1 musim-1. Kata Kunci : Rawa Lebak, pengelolaan air, ameliorasi, produktivitas, padi
PERAN KELEMBAGAAN LOKAL KEUJREUN BLANG DALAM PENGEMBANGAN USAHATANI PADI SAWAH DI KABUPATEN ACEH BESAR husaini husaini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p159-175

Abstract

 ABSTRACT The Role of Local Institution Keujreun Blang in Wetland Rice Farming at Aceh Besar District. The role of local institutions in wetland rice farming is needed to mobilize the farmers community in overcoming various problems, especially pest attacks that potentially provide vulnerability for farmers community. The objectives of this research were to: (1) to identify role of Keujreun Blang in paddy farmers community and (2) to assess local institutional role of farmers to adaptation on pest attack. Primary data were obtained by the survey (questionnaire) assisted with qualitative data obtained by observations and in-depth interviews key informants (key informants). Purposive sampling was obtained that counted 80 farmer respondents and 20 key informants. This research used quantitative descriptive and qualitative data. The result of the research showed that Keujreun Blang was effective in setting up the planting schedule and resolving irrigation system conflict therefore preserving the rice fields tend to decrease, in local wisdom conserve, its role in Khanduri Blang was still important yet it should be assisted tends by headman (Geuchik: i^e Achenese terminology) as well as his role in controlling pest attacks, but in demolition of rats and concurrently planting.  Keywords: rice farming, institutional, Keujreun Blang, pest attack  ABSTRAK Peran kelembagaan lokal dalam usahatani padi sawah sangat diperlukan untuk menggerakkan komunitas petani dalam mengatasi berbagai permasalahan, terutama serangan hama yang berpotensi memberikan kerentanan bagi komunitas petani. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi peran kelembagaan Keujreun blang dalam usahatani padi sawah dan melihat peran kelembagaan lokal dalam mengorganisir komunitas petani untuk dapat beradaptasi terhadap serangan hama. Data primer diperoleh dari hasil survei (kuesioner) dibantu data kualitatif yang diperoleh dari observasi, dan wawancara mendalam informan kunci (key informan). Pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling sebanyak 80 responden petani dan 20 informan kunci. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif diperdalam dengan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Keujreun Blang tergolong efektif dalam pengaturan jadwal turun sawah, menyelesaikan sengketa di tingkat petani dan sistem pengairan, sedangkan dalam melestarikan adat (kearifan lokal) sawah cenderung berkurang. Perannya dalam melaksanakan Khanduri Blang masih tinggi, namun harus dibantu oleh kepala desa (Geuchik). Peran Keujreun Blang dalam mengorganisir komunitas petani dalam mengendalikan serangan hama cenderung berkurang, kecuali dalam melakukan geproyokan hama tikus dan melakukan tanam serentak.Kata kunci: usahatani padi, kelembagaan, Keujreun Blang, serangan hama
FORMULASI PEMBENAH TANAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL PADI DI LAHAN SAWAH KABUPATEN SIJUNJUNG SUMATERA BARAT Ismon Lenin; Widia Siska
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p113-126

Abstract

ABSTRACT Ameliorants formulation to increase rice yield in wetlands in Sijunjung District West Sumatera. The average yield of lowland rice in West Sumatra is still low due to low land fertility in the area of rice production centers. Low soil quality is characterized by low nutrient content, low organic matter, and high soil acidity. Improvement of soil quality can be done by managing soil enhancer such as providing organic materials, liming, zeolite applications, and balanced fertilization concepts. The study was conducted from June to October 2015 in Sei Langsek Village, Sijunjung District, West Sumatera. The experiments were arranged in a Two-Factor Randomized Block Design with 4 replications. As the first factor are three formulations of soil ameliorants, namely: 1) F1 (25% cow manure, 50% harzburgite, 25% zeolite, 0% dolomite); 2) F2 (50% cow manure, 25% harzburgite, 15% zeolite, 10% dolomite); 3) F3 (75% cow manure, 15% harzburgite, 5% zeolite, 5% dolomite); F4 (100% cow manure). As the second factor is the dosage of soil ameliorant, namely: 2.5; 5.0; 7.5; and 10 t/ha. Without soil ameliorant was used as a control, so the combination of treatment amounted to 17 treatments. The results showed that the highest yield (6,160 kg GKG/ha) was obtained at F3 treatment with a dose of 5 t/ha followed by F2 treatment with a dose of 2.5 t/ha (5,740 kg GKG/ha). Based on the regression analysis, a more efficient soil ameliorant formulation for low productivity paddy fields in Sijunjung district was F2 with a maximum dose of 4,391 kg/ha.Keywords: low land fertility, soil enhancer, productivity, West Sumatera ABSTRAK Hasil padi sawah di Sumatera Barat rata-rata masih rendah karena sebagian besar daerah sentra produksi padi sawah tingkat kesuburan lahannya tergolong rendah. Kualitas tanah yang rendah dicirikan oleh permasalahan kandungan hara, bahan organik, dan kemasaman tanah yang tinggi. Perbaikan kualitas tanah dapat dilakukan dengan pengelolaan bahan pembenah tanah seperti pemberian bahan organik, pengapuran, aplikasi zeolit, dan konsep pemupukan berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh beberapa formulasi dan takaran bahan pembenah tanah terhadap hasil padi sawah di Kabupaten Sijunjung. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni – Oktober 2015 di Desa Sei Langsek Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Dua Faktor dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama adalah tiga formulasi bahan pembenah tanah, yaitu: 1) F1 (25% pupuk kandang sapi, 50% harzburgit, 25% zeolit, 0% dolomit); 2) F2 (50% pupuk kandang sapi, 25% harzburgit, 15% zeolit, 10% dolomit); 3) F3 (75% pupuk kandang sapi, 15% harzburgit, 5% zeolit, 5% dolomit); F4 (100% pupuk kandang sapi). Faktor kedua adalah takaran bahan pembenah tanah, yaitu: 2,5; 5,0; 7,5; dan 10 t/ha. Tanpa bahan pembenah tanah dijadikan sebagai kontrol, sehingga kombinasi perlakuan berjumlah 17 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tertinggi (6.160 kg GKG/ha) didapat pada perlakuan F3 dengan takaran 5 t/ha dikuti oleh perlakuan F2 dengan takaran 2,5 t/ha (5.740 kg GKG/ha). Berdasarkan uji korelasi, formulasi pembenah tanah yang lebih efisien untuk lahan sawah berproduktivitas rendah di Kabupaten Sijunjung adalah F2 dengan takaran maksimum pemberian 4.391 kg/ha.Kata kunci: kesuburan rendah, pembenah tanah, produktivitas, Sumatera Barat
PERAN PERTANIAN PERKOTAAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA TANI DI DKI JAKARTA Chery Soraya Ammatillah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p177-187

Abstract

ABSTRACT The Role of Urban Farming on Household Income in DKI Jakarta. Cultivating agriculture is still attractive for some people in DKI Jakarta although it is constrained by limited land and resources. Economic factor that contributes to household income is the factor influencing society to keep cultivate agriculture in urban area. The purpose of this study was to analyze the income of urban agriculture in Jakarta, to analyze the total household income and to analyze the role of urban agriculture on total household income. The study was conducted in five districts of DKI Jakarta with a total of 60 respondents. Farm and non-farm income were analyzed using income analysis. Household income was analyzed using household income analysis. The role of urban agriculture was analyzed using income contribution analysis. The result of analysis showed that the average of urban agricultural income based on total costs per year in 2017 was 24,431,176 IDR. The average household income based on total costs was 38,948,226 IDR. The contribution of urban agriculture to total household income was 62.7% on income based on total costs, thus urban agriculture have a role as the main source of household income in DKI Jakarta. Keywords: vegetable, contribution, urban agriculture, household ABSTRAK Usaha pertanian masih menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, meskipun terkendala dengan lahan dan sumberdaya yang terbatas. Faktor ekonomi yang berkontribusi terhadap pendapatan rumah tangga adalah faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk tetap melakukan usaha pertanian di perkotaan. Tujuan penelitian untuk menganalisis pendapatan usaha pertanian perkotaan di DKI Jakarta, menganalisis total pendapatan rumah tangga yang diperoleh, dan menganalisis peran usaha pertanian di perkotaan terhadap total pendapatan rumah tangga. Penelitian dilakukan di lima wilayah kota administratif DKI Jakarta dengan total 60 responden pada tahun 2017. Pendapatan rumah tangga dianalisis menggunakan analisis pendapatan rumah tangga sedangkan untuk menganalisis peran pertanian perkotaan dilakukan analisis kontribusi pendapatan dari pertanian terhadap total pendapatan rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan rata-rata pendapatan usaha pertanian perkotaan di DKI Jakarta sebesar Rp.24.431.176/tahun, sedangkan rata-rata pendapatan rumah tangganya sebesar Rp.38.948.226/tahun. Kontribusi yang diberikan dari usaha pertanian perkotaan terhadap total pendapatan rumah tangga sebesar 62,7%, dengan demikian pertanian perkotaan berperan sebagai sumber utama pendapatan rumah tangga tani di DKI Jakarta. Kata kunci: sayuran kontribusi, pertanian perkotaan, rumah tangga
KELAYAKAN USAHATANI VARIETAS UNGGUL KACANG TANAH DI KABUPATEN HALMAHERA UTARA Bayu Suwitono
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p127-136

Abstract

ABSTRACT Feasibility Of Peanut Farming Of The New Superior Varieties Of Bean In North Halmahera Regency,Peanut farming in North Maluku is mainly grown in dry land with low level of productivity due to some factors. One of them is due to the low adoption of high-yielding varieties of seeds. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) has developed superior varieties for peanut commodities. The objective of the research was to identify adaptive high yielding varieties of peanuts with high production potential and to analyze the feasibility of peanut farming in North Maluku. Research was conducted in Tiowor Village, North Halmahera District, from February to November 2014. Four high yielding varieties of peanuts namely Hipoma, Talam, Bima, and Tuban and one local variety were cultivated by applying the integrated crop management (ICM) technology. Results showed that the high yielding varieties tested had high level of adaptation.  Bima peanuts was the most adaptive variety producing 3.79 ton/ha. Peanut variety Bima and peanut local variety were the most feasible varieties to be developed. The R/C ratios of peanut farming using these two varieties were 4.35 and 4.57, respectively.Keywords: Peanut, High yielding variety, farming, feasibility, adaptive. ABSTRAK Usahatani kacang tanah di Maluku Utara dominan di lahan kering dengan tingkat produktivitas yang masih rendah. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor di antaranya rendahnya penggunaan benih varietas unggul. Di sisi lain, Balitbangtan mempunyai banyak varietas unggul untuk komoditas kacang tanah. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan Varietas Unggul kacang tanah yang adaptif dengan produksi tinggi dan menganalisa kelayakan usahatani  kacang tanah. Penelitian dilakukan di Desa Tiowor Kabupaten Halmahera Utara pada bulan Februari sampai November 2014. Empat varietas unggul kacang tanah yang terdiri atas Hipoma, Talam, Bima dan Tuban serta satu varietas lokal ditanam dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Hasil penelitian menunjukan bahwa varietas unggul yang diuji memiliki tingkat adaptasi yang tinggi di lokasi kajian.  Kacang tanah Bima merupakan varietas yang paling adaptif dengan produksi 3,79 ton/ha. Secara finansial  Kacang tanah varietas Bima dan  lokal paling layak dikembangkan dengan R/C ratio sebesar 4,35 dan 4,57. Kata kunci: Kacang tanah, Varietas unggul, Usahatani, kelayakan, Adaptif
ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERLANJUTAN PELAKU USAHA UMKM DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN PROVINSI JAWA BARAT vera agustina yanti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p137-148

Abstract

ABSTRACT Factors Influence the Sustainability of Small Medium Micro Enterprises in Bandung and Bogor. Small Medium Micro Enterprises (SMEs) provide a huge contribution on economic. In line with the global economic, the competitiveness among enterprises rises. SMEs have low competitiveness caused by low quality, limited innovation and technological mastery. To have the competitiveness and business sustainability, SMEs are required to respond rapid technological innovations, focus on long-term interests, produce environmentally friendly products and strive for natural resource conservation as well as efficient use of technology. Factors supporting business sustainability need to be improved on business activities to support the sustainability of SMEs. This study aimed to analyze the profile factor, external environmental support, utilization of ICT facilities and competence that affect the sustainability of the business. This study used survey design with sampling technique disproportioned stratified random sampling to 358 respondents in four research sites. Data were collected through data collection questionnaire and done in 2017. Data was analyzed using descriptive techniques and Structural Equation Models (SEM). The results showed the level of MSME sustainability in urban areas was higher than in the district. City of Bandung and City of Bogor with sub variable income and business growth had score percentage higher than Bandung District and Bogor Dictrict. This is shown in product quality as well as better innovation. Factors affecting business sustainability are the perceptions of SMEs and ICT utilization factors, which directly affected business sustainability. One variable of ICT utilization is more effective to increase ICT adoption among SMEs business actors.Keywords: business sustainability, utilization of ICT facilities, perception of UMKM business actors ABSTRAK Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memberikan kontribusi besar pada perekonomian. Seiring perkembangan ekonomi global, persaingan usaha semakin kompetitif. Usaha Mikro Kecil Menengah memiliki daya saing rendah, salah satu penyebab adalah: mutu yang rendah, inovasi rendah, dan keterbatasan penguasaan teknologi (TIK). Untuk memiliki daya saing dan keberlanjutan usaha, UMKM harus merespon perubahan inovasi teknologi yang cepat, fokus pada kepentingan jangka panjang, menghasilkan produk ramah lingkungan dan mengupayakan pelestarian SDA, serta efisiensi penggunaan teknologi. Faktor-faktor pendukung keberlanjutan usaha perlu ditingkatkan pada aktivitas usaha untuk mendukung keberlanjutan usaha UMKM. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor profil, dukungan lingkungan ekternal, pemanfaatan sarana TIK, dan kompetensi yang mempengaruhi keberlanjutan usaha. Penelitian ini menggunakan desain survei dengan teknik pengambilan sampel dispropotioned stratied random sampling kepada 358 responden di empat lokasi penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengumpulan data pada tahun 2017. Pengolahan data menggunakan teknik deskriptif dan Struktural Equation Models (SEM). Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberlanjutan UMKM pada wilayah perkotaan lebih tinggi dibandingkan pada wilayah kabupaten. Kota Bandung dan Kota Bogor dengan sub peubah pendapatan dan pertumbuhan usaha memiliki skor persentase lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor. Hal ini ditunjukkan pada kualitas produk, serta inovasi yang lebih baik. Faktor-faktor yang berpengaruh pada keberlanjutan usaha adalah faktor persepsi pelaku UMKM dan faktor pemanfaatan sarana TIK secara langsung berpengaruh pada keberlanjutan usaha, satu peubah pemanfaatan TIK tersebut lebih efektif untuk meningkatkan adopsi TIK di kalangan pelaku usaha UMKM.Kata kunci: keberlanjutan usaha, pemanfaatan sarana TIK, persepsi pelaku usaha UMKM

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue