cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHATANI JAGUNG DI LAHAN SAWAH DAN LAHAN KERING Margaretha Sadipun Lalu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n1.2017.p81-90

Abstract

The Influencing Factors of Maize Farming in The Wetland and Dryland. Within 2010 –2013, harvested area of maize had been decreased 2.53%/year from the total area of 114,839 ha. Although corn productivity is still low that is about 3.55 ton/ha, during this period there was an increase productivity by 5.11%/year. This result shows the increasing of maize technology adoption yet it is not optimal. This study was conducted in Gowa District, SouthSulawesi Province in 2015, which aimed to determine the factors that affected the roduction of maize farming. This study used a survey method. Primary data were collected through interview of farmers’respondents using simple random sampling. The total respondents were 39 people consisting of 18 wetland farmers and dryland farmers. The results of data analysis showed that the use of urea fertilizer was very high and exceeds the recommendation whereas Phonska and ZA fertilizers were very less as well as pesticides and labor so it affected maize productivity. The yield was still low around 4.69 ton/ha in wetland and 4.40 ton/ha in dry land. Financially, corn farming has been efficient in using production inputs (NPSP>1) and labor (NPTK>1) with profit of 4.470.728 IDR/ha on wetland and 3,069,777 IDR/ha on dry land. The factors of maize production together had a significant effect (F hit > Ftabel 1%) both on wetland and dry land. But separately, only on dry land, land area and labor provided siginificant effect. Partially, dry land area had a significant and positive effect on corn production, whereas labor had a significant negative effect on corn production. Without seeing the type of land, the use of urea fertilizer and labor influenced significantly yet negative. Thus, the increase of maize production in Bontonompo sub-district, South Sulawesi Province can be achieved by the addition of planting area in dry land, reduction of labor and dose reduction of urea fertilizer.land area, fertilizer, pesticides, labor, maize productivityABSTRAKSelama periode 2010–2013, luas panen jagung menurun dengan laju 2,53%/tahun dari luasan 114.839 ha. Meskipun produktivitasnya masih rendah yaitu 3,55 t/ha, namun selama periode tersebut terjadi peningkatan produktivitas dengan laju 5,11%/tahun. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan adopsi teknologi jagung, namun belum optimal. Penelitian dilakukan di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2013 yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani jagung. Penelitian menggunakan metode survei. Data primer dikumpulkan dari wawancara dengan petani responden yang diambil secara acak sederhana (simple random sampling). Total responden sebanyak 39 orang terdiri dari 18 responden petani lahan sawah dan 21responden petani lahan kering. Analisis data menunjukkan bahwa penggunaan pupuk Urea sangat tinggi dan melebihi rekomendasi, sedangkan pupuk Phonska dan ZA sangat kurang, demikian pula pestisida dan tenaga kerja sehingga mempengaruhi produksi jagung. Produksi jagung masih rendah yakni 4,69 t/ha untuk lahan sawah dan 4,40 t/ha di lahan kering. Secara finansial kegiatan usahatani jagung telah efisien dalam menggunakan sarana produksi (NPSP>1) dan penggunaan tenaga kerja (NPTK>1) dengan keuntungan masing-masing Rp4.470.728/ha di lahan sawah dan 82 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 20, No.1, Maret 2017:81-90 Rp3.069.777/ha di lahan kering. Faktor-faktor produksi jagung secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata baikpada lahan sawah maupun lahan kering. Secara parsial, luas lahan kering berpengaruh nyata positif terhadap produksijagung, sedangkan tenaga kerja memberikan pengaruh sangat nyata negatif terhadap produksi jagung. Tanpa melihat tipe lahan, penggunaan pupuk Urea dan tenaga kerja berpengaruh sangat nyata negatif. Dengan demikian, peningkatan produksi jagung di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan dapat dicapai dengan penambahan luas tanam di lahan kering, pengurangan tenaga kerja, dan pengurangan dosis pupuk Urea.luas lahan, pupuk, pestisida, tenaga kerja, produktivitas jagung
PENGARUH FREKUENSI PENGAIRAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI Sutardi '; Arlyna B. Pustika; Mulyadi ' ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n2.2014.p%p

Abstract

Irrigation Frequency Effects on Growth and Yield of Soybean.  Improvement of soil moisture in fields after rice planting should be applied to support  the growth and yield of soybean. The aim of this study is to determine the effect of varieties and irrigation frequency on growth and yield of soybean. The trial was conducted a in ricefield of  Sumberharjo village, Prambanan District, Sleman Regency, Yogyakarta Special Region from July to October 2012 in dry season with “Marga Mulyo” farmer group as the cooperator in rice field of region.  Split plot design  with the three replication was used in this trial. The main plot were three soybean varieties and the sub plot were four irrigation frequencies. The   plot size was 15 m x 10 m.  The result showed that there were no significant interaction between variety and irrigation frequencies. The yield of Tanggamus (3.20 t/ha) was higher than Ijen (2.76 t/ha) as well as Anjasmoro (2.15 t/ha). Inspite of no signicant effect of irrigation frequency, improving soil moisture tent to support an optimal growth and production. However, this on farm trial produced 46.7 – 48.5% higher yield (2,737 – 2,899 kg/ha) than Yogyakarta average yield (1,336 and 1,489 kg/ha) in 2012 and 2013. Keywords: Soybean, growth, irrigation ABSTRAKPerbaikan lengas tanah pada lahan sawah setelah tanam padi perlu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan hasil kedelai yang optimal. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh varietas dan frekuensi pengairan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Penelitian dilakukan  pada musim kemarau (MK)  II bulan Juli sampai Oktober 2012. Percobaan dilakukan di lahan petani dengan melibatkan  petani sebagai kooperator pada kelompok tani “Marga Mulyo’  Dusun Bendungan, Desa Sumberharjo,  Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman,  D.I.Yogyakarta.  Pengkajian  menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan tiga ulangan.   Petak utama  3 varietas kedelai  dan  anak petak 4 frekuensi pengairan dengan petak  15 x 10  m2.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  tidak terjadi interaksi  dan tidak berbeda nyata pengaruh varietas dan pengairan.  Varietas Tanggamus produksi  cenderung   lebih  tinggi (3,20 t/ha) dibandingkan varietas Ijen (2,76 t/ha dan Anjasmoro (2,15 t/ha).  Namun perbaikan lengas tanah dibutukan untuk mendukung  daya tumbuh, pertumbuhan dan produksi kedelai secara optimal. Sistem pengairan parit bawah permukaan tanah secara on fram dapat menghasilkan  produktivitas meningkat 46,7 – 48,5% (2.737 - 2.899 kg/ha) dibandingkan produktivitas kedelai di D.I.Yogyakarta  tahun 2012 dan 2013 (1.336 dan 1.489 kg/ha)Kata kunci : Kedelai, pertumbuhan, pengairan
KAJIAN PRODUKTIVITAS DAN RESPON PETANI TERHADAP PADI VARIETAS UNGGUL BARU DI KECAMATAN PARUNGKUDA DAN CICANTAYAN KABUPATEN SUKABUMI Sunjaya Putra; Yati Haryati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n1.2018.p1-10

Abstract

ABSTRACT Assessment on the productivity and farmers’ responses towards new high yield varieties of rice in Sukabumi Regency, West Java Province. High yielding varieties (HYV) have contributed greatly to the national rice production, but is widely adaptable and not towards a specific area. This study aims to determine the productivity and responsiveness of farmers to new varieties of rice. The assessment was conducted in the rice field of Langensari Village, Parungkuda Subdistrict and Cijalingan Village, Cicantayan Subdistrict, Sukabumi Regency, West Java on Drought II (May-August) 2014, using a Randomized Block Design (RBD) with 6 treatments (varieties) and 4 replications. The varieties used are Inpari 22, Inpari 24, Inpari 25, Inpari 28, Inpari 30 and Ciherang. The parameters observed were: location characteristic was analyzed descriptively, rice yield (GKP) was analyzed by ANOVA (Analysis of variance) followed by Duncan Multiple Range Test at 5% level, farmer response to variety using likert scale, the farmer's response to the organoleptic test was analyzed using freidman test followed by Wilcoxon test and to see the cost, income and profit of farming was done input-output analysis of farming. The results showed that the productivity of new high yielding varieties in Parungkuda Subdistrict was the highest of Inpari 30 varieties (11,20 t/ha GKP) and Cicantayan Inpari 25 (11,15 t/ha GKP). Farmers' responses to rice crops seen from vegetative and generative appearances generally favor all new improved varieties. The response of farmers to the taste of rice in Parungkuda Subdistrict prefered Inpari 22 varieties of rice and the response of farmers to the taste of rice in Cicantayan Subdistrict prefers Inpari 28 and 30. Analysis of farming new varieties (VUB) based on the value of R/C ratio ranges from 4,21 to 6,59 (Inpari 25). productivity, new high yield varieties, farmers' response  ABSTRAK Varietas unggul telah memberikan kontribusi besar terhadap produksi padi nasional, namun beradaptasi luas dan belum ke arah spesifik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas  dan respon petani terhadap padi Varietas Unggul Baru. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Desa Langensari Kecamatan Parungkuda dan Desa Cijalingan Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada Musim Kemarau II (Mei-Agustus) tahun 2014, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan (varietas) dan 4 ulangan.  Varietas yang digunakan yaitu Inpari 22, Inpari 24, Inpari 25, Inpari 28, Inpari 30 dan Ciherang. Parameter yang diamati meliputi : karakteristik lokasi dianalisis secara deskriptif, produksi padi t/ha (GKP) dianalisis dengan ANOVA (Analysis of varians) dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%, respon petani terhadap varietas menggunakan skala likert, respon petani terhadap uji organoleptik dianalisis menggunakan uji friedman dilanjutkan uji Wilcoxon dan untuk melihat biaya, penerimaan serta keuntungan usahatani dilakukan analisis input-output usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas padi varietas unggul baru di Kecamatan Parungkuda paling tinggi Varietas Inpari 30 (11,20 t/ha GKP) dan di Kecamatan Cicantayan Inpari 25 (11,15 t/ha GKP). Respon petani terhadap tanaman padi dilihat dari penampilan vegetatif dan generatif umumnya menyukai semua varietas unggul baru. Respon petani terhadap cita rasa nasi di Kecamatan Parungkuda lebih menyukai padi varietas Inpari 22 dan respon petani terhadap cita rasa nasi di Kec. Cicantayan lebih menyukai Inpari 28 dan 30. Analisa usahatani varietas unggul baru (VUB) berdasarkan nilai R/C ratio berkisar antara 4,21 hingga 6,59 (inpari 25).produktivitas, varietas unggul baru, respon petani
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN HARA SPESIFIK LOKASI PADA TANAMAN PADI DI LAHAN SAWAH IRIGASI SULAWESI TENGGARA Zainal Abidin; Samrin ,; Didik Raharjo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n3.2016.p227-241

Abstract

Pemupukan merupakan salah satu komponen teknologi yang penting dalam upaya peningkatan produksi padi,namun teknologi rekomendasi pemupukan yang digunakan selama ini kurang spesifik. PHSL adalah aplikasi berbasis komputer yang dapat digunakan untuk memperoleh rekomendasi pemupukan yang spesifik lokasi. Kajian dilakukan untuk mengetahui keragaan pertumbuhan, produksi, dan aspek ekonomi penerapan teknologi PHSL pada lahan sawah irigasi di Sulawesi Tenggara. Kajian dilakukan melalui kaji terap dengan membandingkan antara teknologi pemupukan berdasarkan PHSL dengan teknologi pemupukan berdasarkan kebiasaan petani selama dua musim tanam yaitu pada MH 2011/2012 (Oktober 2011 – Januari 2012) pada luasan 4 ha yang melibatkan 40 orang petani dan MK 2012 (Juli – November) pada luasan 21,4 ha melibatkan 25 orang petani di Kecamatan Uepai Kabupaten Konawe.Hasil kajian menunjukkan bahwa jumlah anakan produktif dan hasil padi sawah yang menggunakan rekomendasi pemupukan PHSL lebih tinggi dan berbeda nyata sementara jumlah gabah hampa lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan teknologi petani. Produktivitas padi yang menggunakan rekomendasi pemupukan PHSL lebih tinggi 20% - 34% dibandingkan dengan teknologi eksisting petani. Aplikasi PHSL relatif baik dalam menentukan dosis pupuk N, P dan K dengan tingkat pencapaian target produksi mencapai 87,5% pada MT I dan 89,5% pada MT 228 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 19, No.3, November 2016: 227-241 II. Penerapan teknologi PHSL memberikan perbedaan keuntungan sebesar Rp3.912.200 pada MT I dan Rp2.838.700 pada MT II. Nilai MBCR pada MT I dan MT II masing-masing 5,12 dan 5,70, menunjukkan rekomendasi pemupukan PHSL layak diterapkan.ABSTRACTEffectiveness of Site Specific Nutrient Management (SSNM) Application for Rice on Irrigated Land at Southeast Sulawesi. Fertilizing technology is a component technology to increase the rice production, otherwise the existing recommendation for fertilizing is not locally specific. Site Specific Nutrient Management (SSNM) is a software technology to obtain the site specific fertilizing recommendation. The research was applied to analyze the performance of plant growth, production, and economic aspect on irrigated rice area in South East Sulawesi. The research was conducted using action research by comparing SSNM with farmer existing technology for two seasons including wet season (October 2011 – January 2012) for 4 ha area collaborated with 40 farmers and dry season (Juli – November 2012) for 21,4 ha and collaborated with 25 farmers at Uepai Sub District in Konawe District. The result showed that tillering quantity and rice yield of those using SSNM recommendation were significantly higher and the number of empty grains was significantly lower than farmer’s practice as well. The rice productivity using SSNM recommendation was higher 20 – 34% than farmer’s practice. SSNM software was compatible to use in setting doses of N, P and K recommendation with rate of production target reached 87,5% for season I and 89,5% for season II. The application of SSNM technology contributed to increase income by IDR3.912.200 in wet season and IDR2.838.700 in dry season. MBCR value were 5,12 in wet season and 5,70 in dry season those showed SSNM technology was feasible to be applied.
SISTEM USAHATANI CABAI MERAH PADA LAHAN PASIR DI YOGYAKARTA nFN sutardi; Cristina Astri Wirasti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n2.2017.p%p

Abstract

ABSTRACT Chili Farming System on Sandy Soil in Yogyakarta.  Low productivity of chili in Yogyakarta was caused by low quality of seeds, unavailability of suitable technology package, lock of institutional support small scale of the farming system and the disease caused by Gemini virus. Potential of sandy soil area of ± 3,300 ha is located along the south coast of Kulon Progo Regency and Bantul Regency. The objective of this research analysis of feasiability package of varieties of red chili varieties Kencana and Helix specific location of sandy soil that to be developed.  The research was conducted at the farmer field in Bugel II village, Panjatan subdistrict, Kulon Progo district, Yogyakarta from March to August 2015.The Rondomize Complete Block Design experimental design was used in this trial.  The Treatment of technology, that were innovation technology of introduction by BPTP Yogyakarta and farmer's way is repeated 20 times with 6 sample plants from each replication. The area of the plot corresponds to the land area of the farmer 500 m2. Data analysis was performed on growth, production, t test, and farming and socioeconomic income with B/C, R/C, MBCR and descriptive statistic. The results showed that the technology package was adopted up to 80% by the cooperators and 50% by noncooperators.  Productivity of variety Kencana  by the cooperators was 4.0 t/ha, within come and R/C were Rp20,979,500 and 1.15, respectively, and MBCR 1.96 times the value-added.  Meanwhile, productivity of variety Helix by the cooperators reached 8.068 t/ha by the same cooperators, resulted in income up to Rp120,666,500 with R/C 2.26 and MBCR 5.89 times the value-added. The availability of superior chili varieties supported by techological introductio mekes in the sandy soil potential comodity to be developed. Therefore, guidance of implemention and intensive assistance need to be prepared.chili, farming system, technology adoption, sandy soil ABSTRAK Rendahnya produktivitas cabai merah di Yogyakarta antara lain disebabkan penggunaan benih yang tidak bermutu, tidak tersedianya paket teknologi spesifik lokasi, lemahnya dukungan kelembagaan, dan skala usahatani yang kecil serta penyakit virus gemini. Potensi lahan pasir cukup luas ±3.300 ha terdapat di sepanjang pantai selatan Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kelayakan paket teknologi usahatani cabai merah varietas Kencana dan Helix spesifik lokasi pada lahan pasir pantai layak untuk dikembangkan. Pengkajian dilaksanakan di Desa Bugel II, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta pada bulan Maret-Agustus 2015.  Pengkajian menggunakan faktor tunggal dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (Rondomize Complete Block Design). Perlakuan berupa dua paket teknologi, yaitu teknologi inovasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta dan cara petani diulang 20 kali dengan luas plot sesuai dengan luas kepemilikan lahan petani 500 m2. Analisis data dilakukan terhadap keragaan pertumbuhan, produksi, dengan menggunakan uji t, dan pendapatan usahatani dan sosial ekonomi dengan pendekatan  B/C, R/C, MBCR dan statistik deskriptif.  Hasil pengkajian menunjukkan bahwa respon petani koperator terhadap paket teknologi usahatani cabai merah dengan teknologi introduksi sebesar >80% sedangkan petani non koperator hanya 50%.  Produksi cabai merah varietas Kencana dan Helix paket teknologi  introduksi untuk setiap hektar mencapai 3,621 t dengan keuntungan bersih Rp20.976.500 atau R/C 1,15 dan MBCR 1,96; sedang varietas Helix mencapai 8,068 t/ha dengan keuntungan Rp120.666.500/ha atau R/C 2,26 dan MBCR 5,89. Sementara dengan menggunakan teknologi yang dilakukan oleh petani, produksi cabai merah varietas Helix hanya 4,842 t/ha dan varietas Kencana 1,475 t/ha dengan keuntungan bersih Rp37.248.500 dan Rp.41.447.500. Dengan tersedianya varietas unggul cabai merah dan paket tekologi introduksi maka cabai merah dapat dikembangkan pada lahan pasir, dalam implementasinya diperlukan pendampingan secara intensif.cabai merah, sistem usahatani, adopsi teknologi, lahan pasir
ANALISIS EFISIENSI TEKNIS DAN FAKTOR PENENTU INEFISIENSI USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN GORONTALO Ari Abdul Rouf; Soimah Munawaroh
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v19n2.2016.p103-118

Abstract

Technical Efficiency Analysis and The Determinants of Inefficiency Factors of Beef Cattle Fattening in Gorontalo District. Beef cattle farming in Gorontalo Province generally is managed by household farmers. However, smallholder cattle operations have several problems like low productivity, small bussiness scale and traditional management. The objectives of this study are to estimate level of technical efficiency of beef cattle production and to assess the effect of socio-economic factors on the technical efficiency. Thirty respondents in Tolangohula Sub district, Gorontalo District, Gorontalo Province were selected by accidental sampling method and analyzed using stochastic frontier production function. Results of the analysis showed that the beef cattle farming was feasible but the level of technical efficiency was low with an average efficiency index of 0.690. There were chances to increase in efficiency by 31%. Factors that affected the production of beef cattle were labors, forages and feeder cattleweight while the inefficiency was determined by the ownership status of the beef cattle and the intensity of the extension. Therefore, an access to resources such as technical training and access to an increased number of cattles through a capital increase needed to be developed.Keyword : beef cattle, technical efficiency, Gorontalo ABSTRAK Secara umum budidaya penggemukan sapi potong di Provinsi Gorontalo dikelola oleh peternak rakyat dengan ciri-ciri diantaranya produktivitas usaha rendah, skala usaha kecil dan pengelolaan tradisional. Usaha ini menjadi unggulan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat efisiensi teknis dan faktor penentu inefisiensi usaha penggemukan sapi potong. Pengambilan data dilaksanakan di Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo pada bulan Oktober-November 2013. Penelitian menggunakan data primer yang diperoleh dari 30 peternak yang dipilih dengan metode accidental sampling. Data kemudian dianalisis menggunakan fungsi produksi stokhastic frontier. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha penggemukan sapi potong layak diusahakan namun capaian efisiensi teknis usaha sapi potong masih rendah dengan nilai indeks efisiensi rata-rata sebesar 0,690. Faktor yang mempengaruhi produksi sapi potong yaitu tenaga kerja, pakan hijauan dan bobot bakalan. Sementara inefisiensi usahatani ditentukan oleh status kepemilikan sapi dan intensitas penyuluhan. Oleh karena itu, akses terhadap sumber informasi seperti pelatihan teknis dan akses terhadap peningkatan jumlah sapi melalui peningkatan modal perlu terus dikembangkan.Kata Kunci : efisiensi teknis, penggemukan sapi potong, faktor,faktor penentu inefisiensi,etani
KAPASITAS PETANI PADI SAWAH IRIGASI TEKNIS DALAM MENERAPKAN PRINSIP PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI SULAWESI TENGAH Hera Herawati; Aida Vitayala Hubeis; Siti Amanah; Anna Fatchiya
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n2.2017.p155-170

Abstract

Kapasitas petani mengelola padi sawah ramah lingkungan di sistem sawah irigasi teknis, menurut karakteristik personal dan peluang pengembangannya, meliputi: kemampuan secara teknis inovasi teknologi, kemampuan menyusun rencana usahatani, kemampuan mengevaluasi, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, dan kemampuan bermitra sinergis. Kemampuan ini, merupakan wujud kapasitas tinggi yang dimiliki petani. Penelitian bertujuan: menganalisis hubungan antara karakteristik petani dengan tingkat kapasitasnya mengelola sawah ramah lingkungan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap 174 petani. Analisis data dilakukan uji deskriptif, uji beda Mann Whitney dan uji Rank Spearman, menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong berbeda baik karakteristik maupun kemampuan mengelola usahataninya. Terdapat perbedaan yang nyata pada pendidikan non formal dan luas lahan. Tingkat kapasitas petani dalam pengelolaan padi sawah yang ramah lingkungan pada kategori rendah. Rendahnya kapasitas petani dipengaruhi oleh kemampuan perencanaan usahatani dan kemampuan bermitra sinergis. Hubungan keseluruhan kapasitas petani terhadap kemampuannya menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan sangat nyata dan mempengaruhi kapasitas petani adalah pendidikan non formal dan luas lahan. Penelitian ini membuktikan bahwa mereka yang memiliki akses terhadap penyuluhan dan pelatihan usahatani ramah lingkungan secara nyata dapat meningkatkan kapasitas petani, dan petani yang memiliki lahan luas merasakan keuntungan menggelola sawah yang ramah lingkungan dibanding dengan lahan sempit.
ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN PENANGKARAN BENIH PADI PADA TIGA AGROEKOSISTEM DI SUMATERA SELATAN Yanter Hutapea; nFN Suparwoto; nFN Waluyo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n1.2018.p49-61

Abstract

ABSTRACTComparative Analysis of Paddy Seed Breeding Income on Three Agro-Ecosystems in South Sumatera. Farmer's access to the quality and quantity of seed depends on the types available and how they are available.With high production capability, the superior varieties of rice take a role in transforming the agricultural system from subsistence into commercial, which are needed in various agro-ecosystems. The aims of this research are to analyzing the factors that influence member's income from seed breeding business, to analyzing income received by members in irrigation, rainfed and swamp agro-ecosystems of South Sumatra and also the seed processing units. This activity was conducted in April-November 2016. Sampling methode using Disproportinate stratified random sampling, consists of 15 farmers of Usaha Bersama farmer group in Tulus Ayu Village, OKU Timur Regency representing irrigation agro-ecosystem, 16 farmers of Widhatama seed processing unit in Lubuk Seberuk Village, OKI Regency representing rainfed agro-ecosystem and 15 farmers of Maju Bersama Agribusiness Group in Sako Village, Banyuasin Regency representing swamp agro-ecosystem. Data analysis using multiple linear regression and independent-sample T test. The result show that income of breeder of paddy member significantly influenced by productivity of  seeds candidate and irrigation dummy agroecosystem. The income of group members from rice seed breeding was elastic to the changes of the productivity of seed candidates, and inelastic to changes of production costs, wetland area managed, number of family members involved in rice farming and dummy agro-ecosystem. The highest rice seed breeding income is obtained by members in rainfed agro-ecosystem (Rp 18,949,280/ha), while the highest income of seed processing unit is obtained in swamps agro-ecosystem (Rp 10,997,560/ha). rice seed, income, agroecosystem.ABSTRAKAkses petani terhadap kualitas dan kuantitas benih tergantung pada jenis yang tersedia dan cara penyediaannya. Dengan kemampuan produksi yang tinggi, varietas unggul padi berperan dalam mengubah sistem pertanian dari subsisten menjadi komersil. Pengkajian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan anggota dari usaha penangkaran benih padi, menganalisis pendapatan yang diterima oleh anggota di agroekosistem irigasi, tadah hujan dan lebak Sumatera Selatan. Kegiatan dilakukan pada bulan April–November 2016.Penarikan contoh secara acak berlapis tak berimbang terdiri dari 15 petani di Kelompok Tani Usaha Bersama Desa Tulus Ayu Kabupaten OKU Timur mewakili Agroekosistem Irigasi, 16 petani pada Unit pengolah benih Widhatama Desa Lubuk Seberuk Kabupaten OKI mewakili Agroekosistem Tadah Hujan dan 15 petani di Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) Maju Bersama  di Desa Sako Kabupaten Banyuasin mewakili agroekosistem lebak. Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan uji T (uji kesamaan dua rata-rata). Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan penangkaran padi anggota adalah produktivitas calon benih dan dummy agroekosistem irigasi. Pendapatan anggota kelompok dari penangkaran benih padi ternyata elastis terhadap perubahan produktivitas calon benih, dan tidak elastis terhadap perubahan biaya produksi, luas sawah dikelola, jumlah anggota keluarga terlibat usahatani padi dan dummy agroekosistem. Pendapatan penangkaran benih padi tertinggi diperoleh anggota di agroekosistem tadah hujan (Rp 18.949.280/ha), sedangkan pendapatan unit pengolah benih tertinggi diperoleh di agroekosistem lebak (Rp 10.997.560/ha).benih padi, pendapatan, agroekosistem. 
EFEKTIVITAS PUPUK MAJEMUK DAN ASAM HUMAT PADA BUDIDAYA KENTANG DI KABUPATEN GOWA SULAWESI SELATANFadjry Djufry Fadjry Djufry; Nurjanani ,; Ramlan ,
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v17n2.2014.p%p

Abstract

Effectiveness of Compond Fertilizer and Humid Acid in Potato Cultivation in the Gowa District, South Sulawesi. The organic fertilizer recommendation for potato cultivation ranged 10-30 t/ha. This dose is too high, because the farmers has to bear high cost for other agroinput and labor. Application of humic acid (HA) is one alternative that can replace the function of organic fertilizer. When it is compared to organic manure, HA is faster in fertilizing the soil 10 times or 200 times more efficient than that of manure (50 kg of HA is equivalent to 10 t ha of manure). The use of HA is expected to increase the efficiency use of NPK 25-50%. This study aimed to determine proper doses of Super NPK fertilizer and HA that gave the highest growth and yield of potatoes. The experiment was conducted in the Village Pattapang, District Tinggi Moncong, Gowa regency, South Sulawesi, at an altitude of 1,100 m above sea level on June through December 2011. The research used split plot design with three replications. The main plot consisted three levels of NPK Super, i.e. 300 kg/ha, 450 kg/ha and 600 kg/ha. Subplot HA comprised three levels that were 0, 0.75%, and 1.5%. The results showed that the application of various doses and percentages of Super NPK and HA had no effect on plant height, but it did with the width of the canopy and the production of potato plants. Highest potato production obtained in Super NPK fertilization 300 kg / ha and HA 1.5% (16.47 t/ha). Application of HA on the potato crop fertilization was able to save of NPK fertilizer up to 50%. Application of Super NPK at 300 kg/ha + 1.5% HA was able to give a profit of Rp73.481.339/ha with the RC ratio of 2.75.Keywords: Potato, compound, humic acid, effectiveness, farming analysisABSTRAKRekomendasi pupuk organik untuk usahatani kentang yang berkisar antara 10-30 t/ha dirasakan terlalu berat oleh petani, karena akan membutuhkan biaya cukup tinggi untuk membeli agroinput lainnya. Aplikasi asam humat (AH) merupakan salah satu alternatif yang dapat menggantikan fungsi pupuk organik. Jika dibandingkan dengan pupuk kandang, asam humat lebih cepat menyuburkan tanah 10 kali atau 200 kali lebih efisien dibandingkan pupuk kandang (50 kg asam humat setara 10 t pupuk kandang). Penggunaan AH diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pupuk NPK sekitar 25-50%. Penelitian ini bertujuan, mendapatkan takaran pupuk NPK Super dan AH yang tepat terhadap pertumbuhan dan produksi kentang. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dengan altitud 1.100 m dpl. Penelitian dilaksanakan pada Juni hingga Desember 2011. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama terdiri atas tiga level pupuk NPK Super, yaitu 300 kg/ha, 450 kg/ha, dan 600 kg/ha. Anak petak terdiri atas tiga level HA, yaitu 0; 0,75%; dan 1,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi berbagai dosis NPK Super dan presentase HA tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, tetapi berpengaruh nyata terhadap lebar kanopi dan produksi tanaman kentang. Produksi kentang tertinggi diperoleh pada perlakuan pemupukan NPK Super 300 kg/ha + AH 1,5%. Penambahan AH pada tanaman kentang dapat menghemat penggunaan pupuk NPK sebesar 50%. Usahatani kentang dengan pemupukan NPK Super 300 kg/ha + AH 1,5% dapat memberikan keuntungan Rp73.481.339/ha dengan RC rasio 2,75.Kata kunci: Kentang, pupuk majemuk, asam humat, efektivitas, analisis usaha tani
KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA nFN Suharno; nFN Rusdin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n1.2017.p36-46

Abstract

Feasibility Study of Hybrid Maize Farming in Muna District Southeast Sulawesi Province. Maize harvest area in 2015 in Muna District was 13,159 ha with the production by 32,007 tonnes and the productivity by 2.43 t/ha. This maize productivity is still considered low, due to the results of the study AIAT Southeast Sulawesi on 2014, wich able to obtain productivity by 5 tonnes of dry seed/ha. To increase the production of maize, advocacy anddissemination of technological innovations maize using hybrid varieties had been carried out. A research was applied to investigate the production of maize as well as the income of the farmers. Research was conducted using a structured interview with questionair to 30 maize hybrids farmers and 30 local maize farmers in the Wakobalu Agung Village,Kabangka Sub District, and Bente Village, Kabawo Sub District, Muna District in October to December 2015. The results showed that based on t test, the productivity of hybrid maize was significantly higher than the local variety, so the hybrid maize planting could increase of maize productivity. Hybrid farmers applied urea and NPK while the local maize growers did not use inorganic fertilizers. Organic fertilizer was applied both by hybrid maize and local maize group, yet dose of both groups respectively was varied. Hybrid maize farming with Bima 19 URI variety and local maize was feasible, each B/C 1.07 and 1.17. However the productivity and farmers’ income of the hybrid maize was higher than the local maize. The productivity of the hybrid maize by Bima 19 URI was 4,744 kg dry grain/ha and thefarmers’ income was IDR8,596,000. The productivity of the local maize was 1,404 kg dry grain/ha as well as farmers’ income was IRD4,666,000.Hybrid maize farming, productivity, farmers' incomeABSTRAKLuas panen jagung tahun 2015 di Kabupaten Muna yaitu 13.159 ha, dengan produksi 32.007 ton, produktivitas 2,43 t/ha. Produktivitas jagung yang dicapai selama ini dinilai masih rendah, mengingat hasil kajian BPTP Sulawesi Tenggara tahun 2014 sudah mampu diperoleh produktivitas 5 ton pipilan kering/ha. Untuk meningkatkan produksi jagung, maka telah dilakukan pendampingan dan penyebaran inovasi teknologi jagung menggunakan varietas hibrida. Berkenaan dengan hal tersebut maka dilakukan penelitian untuk mengetahui produksi dan pendapatan petani. Penelitian dilaksanakan dengan metoda wawancara terstruktur menggunakan kuesioner terhadap 30 petani jagung hibrida dan 30 petani jagung lokal di Desa Wakobalu Agung, Kecamatan Kabangka dan Desa Bente, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna pada bulan Oktober – Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji t, diketahui bahwa produktivitas jagung hibrida yang ditanam petani berbeda nyata dengan produktivitas jagung lokal, sehingga penanaman jagung hibrida mampu mendorong peningkatan produktivitas jagung per hektar. Petani telah melakukan pemupukan urea dan NPK pada usahatani jagung hibridaBima 19 URI, hal ini tidak dilakukan oleh petani yang menanam jagung lokal. Namun demikian pupuk organik digunakan untuk usahatani jagung hibrida Bima 19 URI dan jagung lokal dengan dosis yang bervariasi. Usahatani jagung hibrida Bima 19 URI dan jagung lokal layak dan menguntungkan dengan masing nilai B/C 1,07 dan 1,17, 36 Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 20, No.1, Maret 2017: 36-46 namun demikian produktivitas dan pendapatan usahatani jagung hibrida lebih tinggi daripada usahatani jagung lokal. Produktivitas jagung hibrida Bima 19 URI sebesar 4.744 kg pipilan kering/ha dengan nilai pendapatan Rp8.596.000, sedangkan produktivitas jagung lokal sebesar 1.404 kg pipilan kering/ha dengan nilai pendapatan Rp4.666.000.Usahatani jagung hibrida, produktivitas, pendapatan petani

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue