cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
ANALISIS KEBIJAKAN STRATEGIS DALAM MENDUKUNG SISTEM USAHATANI BERKELANJUTAN DI LAHAN PASANG SURUT SEBAKUNG KALIMANTAN TIMUR Basir Nappu; RR. Widowati; Emilya ;; Dewa K.S. Swastika
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n1.2003.p%p

Abstract

Despite some existing problems, swampy areas in East Kalimantan are potential agricultural land. Oneof the problems is conflicting interest between the food crops farmers in the upstream and the brackish water fishgrowers in the downstream. The fish growers suspect that the water flows from upstream is contaminated withpesticides and sulfidic acid and it will be toxic to their ponds. Thus, they closed the primary canal flowing intothe ponds in the downstream. The results are destructive to both parties, namely flooding in the food crops fieldsin the upstream during the wet season and excessive inflow of salty water from the sea into the fish ponds in thedownstream. This assessment is aimed at investigating whether the food crops farming has negative impacts onthe brackish water fish growing. The results showed that closing of the drainage canal (Primer II) did not affectthe water acidity in the downstream. The negative impacts of the closing were bad drainage of the food cropsfields in the upstream and high salinity of the downstream fish ponds. Technically, if the Primer II canal wasopened it would function normally as a drainage canal and the supply of fresh water to the ponds. However,opening of the Primer II canal would raise protest of the fish growers because they kept assuming that water flowfrom the canal would be risky to the fish in the pond. The best option to take is widening and deepening bothbuilt alternative canals.Key words: policy analysis, sustainable agriculture, swampy areaMeskipun mempunyai banyak permasalahan, lahan pasang surut di Kalimantan Timur dapat dipandangsebagai sumberdaya pertanian yang potensial. Salah satu permasalahan yang memerlukan pemecahan segeraadalah konflik kepentingan antara petani tanaman pangan dengan petani tambak. Petani tambak menduga bahwalimpahan air dari usahatani pangan membawa racun pestisida dan pirit sehingga air bereaksi masam dan akanmeracuni ikan dalam tambak. Dugaan ini menyebabkan petani tambak menutup saluran primer (sungaiMaruwat) yang menuju ke areal tambak. Akibatnya, pada musim hujan terjadi banjir pada areal tanaman pangan,dan pada musim kemarau terjadi pemasukan air laut yang berlebihan di lahan tambak. Kondisi ini merugikankedua belah pihak, baik petani pangan maupun petani tambak. Pengkajian ini dilakukan untuk mengidentifikasiapakah benar usahatani tanaman pangan mempunyai dampak yang negatif terhadap budidaya ikan tambak. Hasilkajian menunjukkan bahwa penutupan saluran Primer-II tidak berpengaruh terhadap kemasaman air di bagianhilir. Dampak negatif dari penutupan saluran tersebut adalah buruknya sistem drainase pada lahan pangan dibagian hulu dan tingginya salinitas air tambak di bagian hilir. Secara teknis, saluran Primer-II akan berfungsisecara normal sebagai saluran drainase dan pemasok air tawar untuk tambak, apabila saluran tersebut dibukakembali. Namun langkah ini dapat menimbulkan gejolak di kalangan petani tambak, karena mereka masihberpendapat bahwa aliran air dari saluran Primer-II membahayakan ikan di tambak. Oleh karena itu, langkahyang paling strategis adalah memperlebar dan memperdalam dua saluran alternatif yang sudah dibangun.Kata kunci : analisis kebijakan, usahatani berkelanjutan, lahan pasang surut
KAJIAN LABA DAN TITIK IMPAS USAHATANI PADI HIBRIDA DI SULAWESI TENGGARA Zainal Abidin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 3 (2011): November 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n3.2011.p%p

Abstract

Income and Break Event Point Analysis of Hybrid Rice Farming at Southeast Sulawesi. Hybrid rice is a proceed technology to increase the domestic paddy productivity. This research was conducted to know the benefits and Break Event Point (BEP) of hybrid rice development in South East Sulawesi Province. It was conducted by using a survey method by involving 120 respondents that have planted the hybrid rice in Konawe, South Konawe and Kolaka Districts. The survey showed that the average of hybrid rice productivity around 4.2 t/ha. However this was still lower than the potential productivity of hybrid rice about 12 t/ha. Financial analysis showed that hybrid rice are feasible with the value of B/C 0.91 and give benefict about Rp.4,029,000/ha/. Break Event Point from production side (BEVP) and BEP from price side (BEVPc) are 2.2 t/ha and Rp.1,048/kg respectively. If hybrid rice productivity only 4.2 t/ha/, changing farming from inbryd rice to hybrid rice will cause losses. Hybrid rice will give benefict higher than inbryd rice if the productivity minimum 4.8 t/ha/. Sensitivity analysis showed that hybrid rice sensitive for increasing an input price. Increasing input price 5%, even still give a benefict, but farmer can not sustain and enjoy to adapt a hibryd rice, because the value of B/C < 1. Even thought output price increase 20%, farmer cannot adopt a hybrid rice if the input price increase more than 15%. Hybrid rice are potential to develop in Southeast Sulawesi, but government sould be prepare some regulation such us technical assistance for farmer, seed subsidies, fertilizer subsidies, land and social suitable mapping, and market insurance. Key words: benefit, break event point, hybrid rice Padi hibrida adalah salah satu terobosan teknologi untuk meningkatkan produktivitas padi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui laba, dan titik impas plus usahatani padi hibrida di Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei terhadap 120 orang responden yang telah menanam padi hibrida di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Kolaka. Hasil survei menunjukkan bahwa produktivitas rata-rata padi hibrida adalah 4,2 t/ha. Produktivitas ini masih lebih rendah dari potensi padi hibrida yang bisa mencapai 12 t/ha. Secara finansial padi hibrida layak diusahakan dengan nilai B/C 0,91 dan laba usahatani sebesar Rp. 4.029.000/ha/. Titik Impas Produksi (TIP) dan Titik Impas Harga (TIH) padi hibrida adalah masing-masing sebesar 2,2 t/ha dan Rp.1.048/kg. Dengan produktivitas padi hibrida yang dicapai saat ini yaitu hanya sebesar 4,2 t/ha, maka dengan mengubah padi inbrida menjadi padi hibrida akan mendatangkan kerugian. Pengusahaan padi hibrida hanya akan menguntungkan dan menarik bagi petani jika produktivitas padi hibrida minimal 4,8 t/ha/mt. Pengusahaan padi hibrida sangat sensitif terhadap adanya perubahan harga input. Peningkatan harga input 5% saja, meskipun masih memberikan keuntungan akan tetapi kurang menarik bagi petani karena nilai B/C < 1. Dari sisi harga produksi, meskipun ada kenaikan sebesar 20%, petani kurang berminat untuk mengusahakan padi hibrida jika pada saat yang bersamaan terjadi kenaikan harga lebih sebesar 15%. Untuk mengembangkan padi hibrida di Sulawesi Tenggara, maka pemerintah perlu menyiapkan beberapa kebijakan diantaranya pendampingan teknologi, penyediaan benih dan pupuk bersubsidi, pemetaan kesesuaian lahan dan sosial masyarakat serta jaminan pasar. Dengan regulasi tersebut, maka produktivitas dapat ditingkatkan dan dapat menarik minat petani untuk menanam padi hibrida. Kata kunci : Laba, titik impas, padi hibrida
PENGARUH FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI LADA DI SULAWESI TENGGARA (Kasus Integrasi Lada - Ternak di Kecamatan Landono, Kabupaten Kendari) Dewi Sahara; Yusuf ;; Sahardi ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

The assessment was conducted on June – July 2002 in Southeast Sulawesi. Objective of the study was toassess influence of some production factors on pepper yield. Methodology of the study was survey and participatoryappraisal. Structural interviews involved 31 farmers, i.e., 14 farmers implemented integration farming of pepper andgoat, and 17 farmers conducted pepper monoculture farming. Data were analyzed using ordinary least squareregression. Results of the study indicated that pepper yields between integrated farming and monoculture practice forthe first year of production were significantly different. Expanding planted area was the main way of increasing yieldon integrated farming. On the other hand, pepper yield of farmers’ practice could be improved through manureapplication. Labor increase will also expand pepper yield.Key words: production factors, pepper farming system, pepper-livestock integrationPengkajian faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas pada usahatani lada di Sulawesi Tenggaradilakukan pada bulan Juni – Juli 2002. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa faktorproduksi terhadap produksi lada. Pengkajian menggunakan metode survei dengan pendekatan partisipatif. Wawancaradilakukan secara terstruktur terhadap 31 petani responden yang terdiri dari 14 petani yang mengintegrasikan tanamanlada dengan ternak kambing selama satu tahun dalam usahataninya, dan 17 responden lainnya mengusahakan ladasecara monokultur. Data dianalisa menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square(OLS). Untuk membedakan teknologi produksi digunakan dummy variable pada analisa gabungan teknologi,selanjutnya semua teknologi dianalisa secara terpisah. Hasil analisis regresi fungsi produksi memperlihatkan bahwatidak ada perbedaan yang nyata antara teknologi lada secara monokultur dengan teknologi lada yang diintegrasikandengan ternak kambing pada tahun pertama percobaan. Upaya untuk meningkatkan produksi pada teknologi integrasiadalah dengan memperluas areal pertanaman, sedangkan pada teknologi petani dengan menggunakan atau menambahpupuk kandang. Di samping itu penambahan tenaga kerja masih perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas.Kata kunci : faktor produksi, usahatani lada, integrasi lada-ternak
ANALISIS ADOPSI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN BERBASIS PADI DI SUMATERA SELATAN DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI Jauhari Efendy; Yanter Hutapea
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n2.2010.p%p

Abstract

Analysis of Adoption of Agricultural Technology Innovation Rice-based Farming in Sumatra inthe perspective of communications. Assessment Institute of Agricultural Technology (AIAT) South Sumatrahas produced innovative rice-based farming technology in various agroecosystem. However, adoption ratesare still relatively low. Evaluation of four assessments aimed to identify the factors that predominantly affectthe adoption of technological innovation based local-specific farming rice and to know the level of adoption.This activity is carried out in OKI, East OKU and Banyuasin regencies with 67 respondents interviewedin July-September 2007. The results of this assessment showed that the factors that influence the adoption oftechnological innovations such as the level of selective exposure of technology innovation, cosmopolite,triability, complexity of technology and agricultural extension intensity. The average adoption index for thepacket of rice cultivation technology was 50.32%. As many as 93.02% of respondents have positive perceptionsof the researcher-extension AIAT South Sumatra as the communicator in delivering information technology.Most respondents (80%) expressed a desire to obtain agricultural information generated AIAT South Sumatra.Key words: Adoption, innovation, rice, communication Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan sudah menghasilkan inovasi teknologipertanian berbasis padi di berbagai agroekosistem. Namun tingkat adopsinya masih relatif rendah. Evaluasi terhadapempat pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dominan mempengaruhi proses adopsiinovasi teknologi pertanian spesifik lokasi berbasis padi dan mengetahui tingkat adopsinya. Kegiatan ini dilakukan diKabupaten OKI, OKU Timur dan Banyuasin dengan mewawancarai 67 orang responden pada bulan Juli – September2007. Berdasarkan hasil analisis deskriptif kualitatif diketahui bahwa (1) adopsi inovasi teknologi budidaya tanamanpadi di Sumatera Selatan dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan petani terhadap inovasi teknologi, sifat kekosmopolitanpetani, triabilitas dan kompleksitas teknologi dan intensitas pembinaan, (2) indeks adopsi inovasi petani terhadappaket teknologi budidaya padi kondisinya beragam tergantung pada jenis kegiatan, (3) petani di Sumatera Selatanumumnya memberikan apresiasi positif terhadap peneliti-penyuluh BPTP Sumatera Selatan, terlihat dari tingginyaminat petani untuk mendapatkan berbagai media informasi pertanian BPTP Sumatera Selatan, dan (4) temuankajian ini mengindikasikan faktor komunikasi memegang peran utama yang dapat mempengaruhi adopsi teknologi.Kata kunci : Adopsi, inovasi, padi, komunikasi
USAHA PEMBENIHAN IKAN HIAS CUPANG (Betta splenders) DI KABUPATEN SERANG Susanti Diani; Mustahal ;; Pramu Sunyoto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

The fighting fish (Betta splenders) is one of ornamental fish with high economic value. The price of malefish is about Rp 5,000 to Rp 1,000,000 per fish. Demand for the fish in Serang Regency is satisfied by the fish raisersfrom other regencies. Seedling technique for the fighting fish is available at the Fresh Water Fisheries ResearchInstitute and the hobbyists but the fighting fish raisers in Serang Regency still rely on natural stocks for live feedsupply. The assessment aimed at applying and disseminating seedling technique for the fighting fish, and improvingfish raisers in Serang Regency. Assessment was conducted on January to December 2002 with nine cooperatingfarmers classified into three groups. Nine pairs of the fighting fish parent stocks of Serit type were spawned in nineaquaria of 20 x 20 x 25 cm3 . There were three treatments with three replications, namely (A) male fish was separatedafter spawning, (B) male fish was separated after the larvae were three days old, and (C) male fish was separated afterthe larvae were seven days old. The larvae were fed with Moina sp until 14 days old, fed with Moina sp and Daphniasp for 14-30 days old, and fed with Daphnia sp and the mosquito larvae of Chironomus sp for 30-45 days old. Totalegg produced varied from 408-815 eggs per female parent. Fertilization rates were 80.5-94.5 percent and hatchingrates were 74.5-95.8 percent. Egg incubation periods were 25-31 hours. Survival rates of B treatment in 14 and 45days old were each of 87.5 and 87 percent, while those C treatment were each of 82.0and 81.5 percent, and those Atreatment were each of 81.5 and 80.0 percent. Profit earned from fighting fish breeding was Rp 3,390,000 perspawning period of 1.5 months.Keywords: Betta splenders, seedling, separation of male fish, survival rate, proitabilityIkan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu jenis ikan hias yang mempunyai nilai ekonomis tinggidan banyak terdapat di pasaran. Harga ikan cupang jantan berkisar Rp. 5.000,- - Rp. 1.000.000,- per ekor. DiKabupaten Serang kebutuhan ikan cupang masih dipenuhi dari berbagai daerah di luar Serang, seperti Tangerang,Bogor, Sukabumi, dan Jakarta. Kabupaten Serang merupakan salah satu daerah potensial yang dapat dikembangkanuntuk usaha pembenihan ikan cupang. Teknologi pembenihan ikan cupang sudah tersedia di Balai Penelitian Ikan AirTawar maupun di pihak swasta, namun di Kabupaten Serang para petani ikan cupang untuk penyediaan jasad pakan(pakan hidup) masih tergantung dari alam. Dengan menerapkan sistem budidaya pakan hidup yang berkesinambunganpada usaha pembenihan ikan hias cupang di tingkat petani, maka akan mendukung keberhasilan produksi benih.Tujuan pengkajian adalah untuk menerapkan dan menyebarluaskan teknologi pembenihan ikan cupang danmeningkatkan pendapatan petani di Kabupaten Serang. Pengkajian dilakukan bulan Januari-Desember 2002 yangdilaksanakan secara partisipatif. Petani kooperator berjumlah sembilan orang yang dibentuk menjadi tiga kelompok.Induk cupang yang digunakan sembilan pasang adalah jenis “Serit” dan dipijahkan dalam sembilan akuariumberukuran 20x20x25 cm. Perlakuan yang diberikan adalah: A. Induk jantan diambil setelah pemijahan selesai. B.Induk jantan diambil setelah burayak berumur tiga hari. C. Induk jantan diambil setelah burayak berumur tujuh hari.Semua perlakuan diulang tiga kali. Pemeliharaan burayak sampai umur 14 hari diberi pakan Moina sp, umur 14-30hari di beri pakan Moina sp dan Daphnia sp, umur 30-45 hari diberi pakan Daphnia sp dan larva nyamuk Chironomussp. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa jumlah telur berkisar 408-815 butir per ekor induk. Derajat pembuahanberkisar 80,5-94,5 persen, dan penetasan 74,5-95,8 persen. Masa inkubasi telur ialah 25-31 jam. Kelangsungan hidup293Usaha Pembenihan Ikan Hias Cupang (Betta splenders) di Kabupaten Serang (Susanti Diani, Mustahal, dan PramuSunyoto)benih pada umur 14 dan 45 hari pada perlakuan B mencapai 87,5 dan 87,0 persen jauh lebih baik bila dibandingkandengan perlakuan C yaitu 82,0 dan 81,5 persen dan perlakuan A. 81,5 dan 80,0 persen. Secara ekonomis keuntunganyang diperoleh dari usaha pembenihan ikan cupang cukup tinggi yaitu Rp. 3.390.000/1,5 bulan/periode pemijahan.Kata kunci : Betta splenders, pembenihan, pemisahan induk jantan, kelangsungan hidup, tingkat keuntungan
PENGKAJIAN POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENGEMBANGAN PALAWIJA DI PAPUA Afrizal Malik; Jermia Limbongan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

In general the assessment aims to investigate the development potency, threat and opportunity of secondary crops especially of corn, soybeans and groundnut in Papua. In particular, the research is to study to what extent the existing technology can be applied by farmers and its probability to the future development. The assessment was conducted in 2006, covering two regions of secondary crops namely Jayapura and Keerom's regency. Data collection was conducted through a survey by involving 190 farmers of corn, soybeans and groundnut which were chosen by simple random design method. Qualitative and quantitative approach were used for data analyses and the results were: (1) The performance of farming systems of corn, soybeans and groundnut in Papua is relatively low due to the low technology adoption, (2) The potency for secondary crops development in Papua still growing up, based on economic, natural resource and conducive agro-climate. The use of such relatively small potency lead to a wide open of opportunity to increase productivity performance of secondary crops i.e. corn, soybeans and groundnut in Papua, (3) the constraint in developing secondary crops is not only caused by economic aspect of farmers but also by low ability and skill of farmers as well as insufficient number of agricultural manpower. To increase productivity and secondary crop products in Papua we need to establish steps to increase the land optimalisation, the introduction of cultivation technology, the improvement of agricultural extension worker and the initiation of micro financial institution growth to accommodate farmers' need i.e. Agricultural Micro Financial Institute Key words: Secondary crops, potency, opportunity, threats, Papua   Pengkajian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui potensi, kendala dan peluang pengembangan palawija di Papua. Secara khusus, mempelajari sejauhmana teknologi yang telah diterapkan petani saat ini dan kemungkinan pengembangannya ke depan. Pengkajian dilakukan pada bulan Juni-September 2006 di dua kabupaten sentra palawija yaitu Kabupaten Jayapura dan Keerom Provinsi Papua. Pengumpulan data dilakukan melalui survai terhadap 190 petani jagung, kedelai dan kacang tanah yang terpilih secara acak sederhana sebagai responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil kajian menunjukkan: (1) Kinerja usahatani palawija khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah di Papua masih relatif rendah, karena penerapan teknologinya rendah. Kendalanya bermuara pada kemampuan modal petani yang lemah, (2) Potensi pengembangan palawija di Papua masih besar, baik ditinjau dan aspek ekonomi maupun ketersediaan sumberdaya alam dan dukungan agroklimat yang kondusif. Pemanfaatan potensi tersebut masih relatif kecil, sehingga terdapat peluang yang besar untuk meningkatkan kinerja produksi pertanian di wilayah ini khususnya jagung, kedelai dan kacang tanah, (3) Kendala pengembangan palawija selain faktor ekonomi, juga rendahnya tingkat pengetahuan petani dan kekurangan tenaga kerja pada saat diperlukan. Untuk lebih meningkatkan produktivitas dan produksi palawija di Papua diperlukan langkah peningkatan optimalisasi pemanfaatan lahan potensial dan introduksi inovasi teknologi budidaya, peningkatan kinerja penyuluh pertanian dan inisiasi tumbuhnya kelembagaan jasa keuangan yang dapat mengakomodasi kebutuhan petani, yaitu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pertanian. Kata kunci: Palawija, potensi, peluang, kendala, Papua
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK TEH HIJAU RAKYAT DI KECAMATAN CIKALONG WETAN-KABUPATEN BANDUNG Heny Herawati; Agus Nurawan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n3.2007.p%p

Abstract

Increasing the Added Value of Green Tea Product at Cikalong Wetan Sub Distric, Bandung. Green tea has great function such as antioxidant, cholesterol reducer, antivirus, tumor and cancer prevent, stimulant and deodorant. Tea as one of priority commodity in west java is public plantation domain. Tea public plantation still faced several restricted. The alternative of solution increased the added value of public green tea. To Increase the added value of green tea with recovered processing unit, grading and packaging. The assessment held in August 2005 — December 2006 in East Cikalong sub district, Bandung district with involved farmer group such as Tunas Maju, Mekar Harapan, Bale Pulang Cipicung, Merpati and Bintara. The methodology was descriptive method through green tea recovering and shelf life technology. Based on the assessment, farmer income raise with R/C 2,34 or B/C 1,34. Key words: Increasing, added value, green tea   Teh hijau memiliki banyak nilai fungsional diantaranya sebagai antioksidan, menurunkan kolesterol, antivirus, menghambat pertumbuhan tumor dan kanker, stimulant serta penghilang bau (deodorant). Teh merupakan salah satu komoditas unggulan Jawa Barat dengan sebagian besar merupakan perkebunan teh rakyat. Dalam pengusahaannya, teh rakyat masih mengalami beberapa kendala. Salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, dengan jalan meningkatkan nilai tambah teh hijau rakyat. Untuk lebih meningkatkan nilai tambah teh hijau diantaranya yaitu dengan melakukan perbaikan proses pengolahan, kegiatan sortasi dan perbaikan pengemasan teh hijau. Pengkajian dimulai dari bulan Agustus 2005 - Desember 2006 di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung dengan melibatkan gabungan kelompok tani yang terdiri dari kelompok tani Tunas Maju, Mekar Harapan, Bale Pulang Cipicung, Merpati dan Bintara. Metodologi pendekatan yang dilakukan yaitu dengan metode diskriptif melalui kegiatan perbaikan mutu teh hijau dan teknologi penyimpanan teh hijau. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan pengkajian tersebut, diperoleh peningkatan pendapatan petani teh rakyat dengan nilai R/C sebesar 2,34 atau WC sebesar 1,34. Kata kunci: Peningkatan, nilai tambah, teh hijau
KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS MESIN PENYIANG (POWER WEEDER) PADI DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN Harnel .; Buharman .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n1.2011.p%p

Abstract

Technical and Economic Study of Power Weeder Machine for Rice in Rainfed Field. Rice farming in rainfed field needed much labour, especially in terms of planting and weeding. Dependence of rainfall will cause labour for planting and weeding has become more limited because it must compete with other commodities. On the other hand, the increased availability of agricultural labour in rural areas is limited because it’s started to shift out of agriculture. Therefore, it’s needed a weeder machine to increase labour productivity and to benefit economically. Review of power weeder, held in Nagari Muaro Bodi, IV Nagari Sub district Sijunjung District which is location of Primatani of West Sumatra AIAT, whereas includes work capacity, slip percentage, efficiency, rotation’s speed, depth of equipment and tools of economic analysis. Power weeder cultivator obtained effective work capacity of 0.0377 ha/hour, theoretical work capacity of 0.0427 ha/hour, lost time during the weeding 15.72%, field efficiency of 88.37%, energy requirement of 0.223 HP, about 0.65% not weeded, and 0.37% of crop damage. Basic cost of weeding by power weeder amounted IDR 246,220,-/ha while the break event point is 10.1 ha/year. This cultivator can be developed in rainfed lowland, technically and economically.Dalam usahatani padi di lahan sawah tadah hujan cukup banyak membutuhkan tenaga kerja, terutama dalam hal penanaman dan penyiangan. Ketergantungan akan curah hujan menyebabkan tenaga kerja untuk tanam dan penyiangan padi semakin terbatas karena harus bersaing dengan komoditas lain. Di sisi lain, ketersedian tenaga kerja pertanian di pedesaan mulai terbatas karena bergeser ke luar sektor pertanian. Oleh karena itu, diperlukan alat penyiang padi sawah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan efisiensi biaya. Kajian teknis dan ekonomis dimaksudkan untuk menilai kinerja alat dan mesin tersebut dan kemampuan secara ekonomi untuk meperoleh keuntungan. Kajian dari mesin penyiang (power weeder), dilaksanakan di Nagari Muaro Bodi Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung yang merupakan lokasi Prima Tani Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat, yang meliputi kapasitas kerja, persentase slip, efisiensi, kecepatan putaran, kedalaman alat dan analisis ekonomi alat. Kinerja dari mesin penyiang power weeder diperoleh kapasitas kerja efektif sebesar 0,0377 ha/jam, kapasitas kerja teoritis 0,0427 ha/jam, kehilangan waktu selama penyiangan 15,72%, efisiensi lapang 88,37%, tenaga yang dibutuhkan 0,223 HP, persentase gulma yang tidak tersiang 0,65% dan persentase kerusakan tanaman 0,37 %. Biaya pokok penyiangan dengan menggunakan mesin penyiang power weeder adalah sebesar Rp.246.220/ha. Sedangkan titik impas (break event point) untuk mesin penyiang power weeder adalah 10,1 ha/th. Secara teknis dan ekonomis mesin penyiang ini dapat dikembangkan pada lahan sawah tadah hujan.
KAJIAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN BAWANG MERAH ASAL BIJI DI KABUPATEN SIDRAP, SULAWESI SELATAN Muh. Asaad; Warda ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n1.2010.p%p

Abstract

Study of Organic Fertilizer Usage in Onion Plant From Seed at Sidrap Distric, South Sulawesi. Theproductivity of shallots in South Sulawesi is still low due to lack of knowledge about the most appropriate typeand amounts of fertilizer usage. The objective of this study was to determine the effectiveness of organic fertilizersin combination with inorganic fertilizers on the growth and yield of shallots grown from seed. Assessment wasconducted at farmers’ field, Ponragae village, Pitu Riawa subdistrict, Sidrap district, from July to December2007. The assessment used a randomized block design consisting of ten treatments with three replicates andused the Tuk-Tuk variety. Result showed that applications of an organic fertilizer combined with inorganicfertilizers gave a good effect on growth and yield of shallot. The highest yield was obtained at treatment ofzeo-organic fertilizer at 5 t/ha + 200 kg urea + 50 kg SP-36 and 200 kg KCl/ha i.e 233.70 g of dry bulb perten plants or equal to 5.58 t/ha of dry bulb. On that treatment, plant height and bulb diameter were 50,80 cmand 3,66 cm respectively. Application of organic fertilizer decreased the usage of inorganic fertilizer on shallot.Key words: Fertilizer, organic, shallot, seedTingkat produktivitas bawang merah di Sulawesi Selatan masih rendah disebabkan antara lain kurangnyainformasi tentang jenis dan dosis pupuk yang tepat. Kajian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pupuk organikyang dikombinasikan dengan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah asal biji. Kajiandilaksanakan di lahan petani di Desa Ponragae, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidrap, pada bulan Juli sampaiDesember 2007. Kajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, yang terdiri dari sepuluh perlakuan dan tigaulangan. Varietas yang digunakan adalah varietas Tuk-tuk. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan pupukorganik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhandan hasil bawang merah. Hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan pupuk zeo-organik 5 t/ha + 200 kg urea +50 kg SP-36 dan 200 kg KCl/ha yaitu 233,70 g umbi kering per 0 tanaman atau setara dengan 5,58 t/haumbi kering. Pada perlakuan tersebut, tinggi tanaman dan diameter umbi masing-masing mencapai 50,80 cm dan3,66 cm. Pemanfaatan pupuk organik mengurangi penggunaan pupuk anorganik pada tanaman bawang merah.Kata kunci: Pupuk, organik, bawang merah, biji
INTRODUKSI MODEL PTT DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI DI SULAWESI TENGAH Muljady D. Mario; RH. Anasiru; IGP Sarasutha; Husen Hasni
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

It is still possible to improve potential yield of rice in Central Sulawesi. One of efforts to increase yield isthrough Integrated Rice Crop Management (PTT), namely managing crop, soil, water, and soil nutritional elements toimprove crop growth, and higher, sustainable yield. Results of PTT were promising. Rice yield increased from 3.5tons/ha (Non PTT) to 6 tons/ha (PTT) with farm income of Rp 4,617,500/year and B/C ratio of 1.56. Total productioncost of Non-PTT farmers and PTT farmers were each of Rp 4.1 million/ha and Rp 3.2 million/ha.Key words : rice, integrated farming system, production, income, Central Sulawesi Pencapaian produksi rata-rata padi sawah di Sulawesi Tengah relatif masih jauh dari potensi genetik yangdimiliki oleh tanaman padi (yield gap), sehingga masih terdapat cukup besar peluang untuk meningkatkan produksipadi. Upaya peningkatan produksi padi dilakukan melalui pendekatan model Pengelolaan Tanaman Padi secaraTerpadu (PTT) yakni mengelola tanaman, tanah, air dan unsur hara secara terintegrasi untuk mendapatkanpertumbuhan tanaman yang lebih baik, serta hasil yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Hasil yang dicapai dariintroduksi model PTT ini sangat menggembirakan dan membuka harapan yang besar bagi peningkatan produktivitasdan pendapatan usahatani padi. Peningkatan hasil gabah yang diperoleh sangat signifikan yakni dari rata-rata produksigabah non-PTT sekitar 3,5 t/ha meningkat hingga 6 t/ha dengan pendapatan sebesar Rp 4.617.500/tahun dan nilai B/Csekitar 1,56. Sementara total biaya produksi dari sistem usahatani menggunakan model PTT tidak terlalu jauhberbeda dibandingkan cara petani non-PTT, yaitu Rp. 4,1 juta/ha dibanding Rp. 3,2 juta/ha pada non-PTT.Kata kunci : Oryza sativa, usahatani terpadu, produksi, pendapatan, Sulawesi Tengah

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue