cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PENGKAJIAN SISTEM USAHATANI BAWANG MERAH DI SULAWESI SELATAN Muh. Thamrin; Ramlan ;; Armiati ;; Ruchjaniningsih ;; Wahdania ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n2.2003.p%p

Abstract

One of the problem of shallot in South Sulawesi is low productivity, due to low quality of seed plant,suitable packaged technology is not available, powerless support institution level of farmer, and small scale offarming system. The assesment was conduct at farmer land in Bangkalaloe village, Bontoramba subdistrict,Jeneponto district, South Sulawesi from May to August 2002. Two treatment were studied, introcuced technologyand farmer technology, involved cooperator farmer and non cooperator farmers. Activities carried out werecaracterisation farmers, existing technology package to farmers level were: superior variety Bangkok; fertilizer (10t/ha manure goat, 175 kg/ha Urea, 175 kg/ha SP-36, 175 kg/ha KCl and 400 kg/ha ZA); integrited pest/deseasmanagement; post harvest and harvest is right. The result showed that the farmers had practiced growing shallot 15years, with area of 0.20 – 0.50 ha. Package technology adoption is 71.5 % for cooperators and 21.3 % by noncooperators.The shallot productivity by cooperator was 11,4 t/ha and 9,0 t/ha non-cooperators. Income and R/CRatio of cooperator farmers were RP. 13,772,000, - and 1.94, while in non-farmers cooperator, the sameparameters were RP. 6,842,000,- and 1.44.Key words : farming system, technology adoption, shallot  Rendahnya produktivitas bawang merah di Sulawesi Selatan antara lain disebabkan penggunaan benihyang tidak bermutu, tidak tersedianya paket teknologi spesifik lokasi, lemahnya dukungan kelembagaan, dan skalausahatani yang kecil. Pengkajian dilaksanakan di desa Bangkalaloe, Kecamatan Bontoramba, KabupatenJeneponto, Sulawesi Selatan pada bulan Mei sampai Agustus 2002. Metode pengkajian menggunakan duaperlakuan yang dibandingkan yaitu penerapan sistem usahatani anjuran dan non anjuran (cara petani setempat).Masing-masing kegiatan diulang pada 14 petani koperator dalam kelompok tani yang sama pada lahan petaniseluas 3,0 ha. Pengkajian diawali dengan survei pendahuluan/karakterisasi dan penerapan paket teknologi yangmeliputi: penggunaan varietas unggul Bangkok; pemupukan (10 t/ha pupuk kotoran kambing, 175 kg/ha Urea,175 kg/ha SP-36, 175 kg/ha KCl dan 400 kg/ha ZA); pengendalian hama/penyakit secara terpadu; serta panen danpasca panen yang tepat. Jenis data yang dikumpulkan adalah data biofisik dan sosial ekonomi. Analisis datadilakukan terhadap keragaan pertumbuhan, produksi, pendapatan usahatani dan sosial ekonomi denganmenggunakan uji t, R/C Ratio dan statistik deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan paketteknologi anjuran diusahakan oleh petani yang sudah berpengalaman 15 tahun dengan luas pengusahaan rata-rata0,20-0,50 ha. Adopsi paket teknologi usahatani bawang merah baru mencapai 71,5 persen untuk petani koperatordan 21,3 persen pada petani non koperator. Produksi bawang merah pada petani koperator mencapai 11,4 ton/hadengan keuntungan bersih (NPV) Rp. 13.772.000,- per ha atau R/C Ratio 1,94; sedang non koperator hanya 9,0t/ha dengan keuntungan Rp. 6.842.000,- per ha atau R/C Ratio 1,44.Kata Kunci : sistem usahatani, adopsi teknologi, bawang merah
KAJIAN SISTEM MODULAR PADA USAHATANI IKAN BANDENG (Chanos-Chanos, forskal) DI SULAWESI SELATAN Ali Musa Pasaribu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

Milk fish (Chanos-Chanos,forskal) is one of important commodities to fulfill protein requirement. The fishis relatively cheap and preferred by costumers in Indonesia, particularly in South Sulawesi. The highest productioncost is feed (pellet) i.e., 60 percent. Therefore it is necessary to conduct assessment of modular system with naturalfeed and besides supplying artificial feed. It is expected to decrease costs and to increase profit. The assessmentmethod is farming system through group approach at homogenous farm land areas. The assessment was conducted atTakalar regency from May to August 2002 aimed at applying technology of milk fish growing through modularsystem to reduce costs. Results of the assessment indicated that average growth of milk fish was 207,60 g and 26,46cm of total-length, survival rate was 88,12 percent, and net profit was Rp 15.713.500 with R/C ratio of 1,94.Key words : modular, milk fish, fanning system, feed Ikan Bandeng (Chanos-Chanos, forskal) merupakan salah satu komoditas yang strategis untuk memenuhikebutuhan protein yang relatif murah dan digemari oleh konsumen di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. Biayaproduksi yang terbesar berasal dari pakan (pellet) yaitu 60 persen, maka diperlukan suatu pengkajian dengan sistemmodular dengan pemberian pakan alami yang cukup disamping tetap memberikan pakan buatan relatif kecil(supplement), sehingga dapat menekan biaya dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan. Metode pengkajian iniadalah sistem usahatani (SUT) dengan pendekatan hamparan secara kelompok petani yang homogen dilaksanakan diKabupaten Takalar, pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2002 dengan tujuan alternative suatu teknologipembesaran Ikan bandeng dengan sistem modular (berpindel) untuk dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi.Hasil pengkajian menunjukkan pertumbuhan rata-rata Ikan 207,60 g dan panjang 26,46 cm dengan sintasan 88,12persen, keuntungan bersih Rp 15.713.500, R/C rasio 1,94.Kata kunci : modular, ikan bandeng, SUT, pakan
PENUMBUHAN AGRO INDUSTRI PENANGKARAN BENIH PADI DI WILAYAH PRIMA TANI KABUPATEN KONAWE – SULAWESI TENGGARA Zainal Abidin; Didik Harnowo
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 3 (2010): November 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n3.2010.p%p

Abstract

Agro Industrial Growth of Rice Seed in Prima Tani Location, Konawe District, Southeast Sulawesi.High quality of seed is one of the key factor for the success for increasing production of lowland rice. However, in “Prima Tani” location at Konawe District farmers have difficulties in obtaining high quality seed of lowland rice. This because they lack of information on how to get certified seeds. In addition, they don’t know yet on how to producehigh quality (certified) seeds. Therefore, We justify that in this location the activity of growing rice seed producers is very important, and it will be the form of Rural Agro Industrial Unit (“AIP/Agro Industri Pedesaan”). This research was conducted at Karandu Village of Wawotobi Sub-District, Konawe District - Southeast Sulawesi during June –December 2007, with the objective to have comprehensive understanding on the advantages of producing certifiedseed as compared to producing rice for consumption based on the economic analysis of those two activities, as well as to know the linkage among supporting related institutions for the purpose of rice seed producers in the area.Descriptive analysis and economic analysis, such as RCR and MBCR, were used. The result shows that the Rural Agro Industry on rice seed production in “Prima Tani” location at Konawe District can be established. In those Rural Agro Industry, the link among institutional and functional institution have also been shown. The production of rice seed in the “Prima Tani” location shows advantages economically ascompared to those for rice consumption.Key words : Producing seed, rice, rural agro industry, Prima TaniBenih bermutu merupakan salah satu faktor kunci peningkatan produktivitas padi sawah. Namun demikian, di tingkat petani di lokasi Prima Tani Kabupaten Konawe benih bermutu sulit diperoleh, disebabkan kurangnya informasi bagi petani mengenai cara mendapatkan benih bermutu. Selain itu, di lokasi ini belum ada penangkar benih yang disebabkan teknologi penangkaran benih belum dikuasai. Oleh karena itu diputuskan untuk melaksanakan kegiatan penumbuhan penangkar benih padi di wilayah ini, yang sekaligus akan dijadikan suatu bentuk Agro industrial Pedesaan dalam bentuk Agro Industri Penangkaran Benih Padi. Pengkajian dilaksanakan di lokasi Prima Tani Desa Karandu, Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara pada bulan Juni – Desember 2007.Pengkajian bertujuan untuk memahami secara lebih komprehensif tentang perbedaan keuntungan ekonomi antara produksi padi untuk benih dan produksi padi untuk konsumsi. Pada pengkajian ini juga dievaluasi tentang keterkaitan antara institusi pendukung dalam penumbuhan Agro Industri Pedesaan Penangkaran Benih Padi. Analisis deskriptif dan analisis ekonomi seperti penghitungan nilai RCR dan MBCR dilakukan pada kajian ini. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa Agroindustri Pedesaan dalam Penangkaran Benih Padi di lokasi Prima Tani Kabupaten Konawe dapat diwujudkan. Pada Agro Industri tersebut, ditunjukkan pula keterkaitan antar istitusi/kelembagaan yang mendukung tumbuhnya Agro Industri Penangkaran Benih padi di pedesaan. Pengkajian ini juga membuktikanbahwa usahatani penangkaran benih padi lebih menguntungkan dibandingkan dengan usahatani padi untuk konsumsi.Kata kunci : Penangkaran benih, padi, AIP, Prima Tani
ANALISIS FINANSIAL TEKNOLOGI PEMUPUKAN ABU JANJANG SAWIT SEBAGAI SUMBER K PADA PADI SAWAH Ida Nur Istina; Amiruddin Syam
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

One of the effort to increase rice production and the farmer income is the usage of K source that available infield. The assesment of palm oil ash fertilizer as K resource on lowland rice financial analysis was done at PulauJambu Village, West Bangkinang sub district, Kampar regency on dry season 2003 used the farmer land and followsthe farmers as cooperator due to know the financial eligibility of the palm oil ash fertilizer technology on rice farm.This research used Randomized Block Design devided into three treatment and five replications. The agronomicperformance analized by statistical with Irristat version 3.1; the social performance data analyzed by descriptiveanalysis and the economic data analized by the Balanced Revenue (BC ratio), critical Break Event Point and thesensitivity analysis. The result showed that palm oil ash fertilizer give the increasing rice production about 36 percentand 42 percent and the farmer income about 47 percent and 52,29 percent. Base on economic performance the palmoil ash fertilizer performance be able to used with BC ratio more than one and base on sensitivity analyzing theintroduction technology applicable although the input increasing about 50 percent.Key words : financial analysis, fertilizers, ashes wastes, wetland ricey words : financial analisys, fertilizer technology, palm oil ash, K resources, lowland riceSalah satu upaya untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani padi di lahan marginal adalah denganpemanfaatan sumber pupuk K yang tersedia di lapangan. Kajian analisis finansial teknologi pemupukan abu janjangsawit sebagai sumber K pada padi sawah yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial pemupukan abujanjang sawit sebagai sumber K pada usahatani padi sawah telah dilaksanakan di Desa Pulau Jambu, KecamatanBangkinang Barat, Kabupaten Kampar pada MK 2003 dengan menggunakan lahan petani dan mengikutsertakanpetani sebagai koperator, disebabkan untuk mengetahui yang memenuhi syarat finansial dari teknologi pupuk abujanjang sawit pada tanaman padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan danlima kali ulangan. Keragaan agronomi dianalisis secara statistika dengan menggunakan perangkat Irristat, versi 3.1,data sosial dianalisis secara deskriptif, sedangkan data ekonomi dianalisis dengan analisis Imbangan penerimaan (BCratio), titik impas dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi pemupukan dengan abujanjang sawit memberikan peningkatan produksi sebesar 36 persen dan 42 persen serta peningkatan pendapatansebesar 47 persen dan 52,29 persen. Berdasarkan keragaan ekonomi teknologi pemupukan abu janjang sawit layakdengan nilai BC ratio lebih besar dari satu dan berdasarkan hasil analisis sensitifitas teknologi introduksi tetap layakditerapkan meskipun terjadi kenaikan harga sarana produksi sampai 50 persen.Kata kunci : analisis finansial, pemupukan, abu sawit, padi sawah
PERANAN LUMBUNG PANGAN DAN PENGGILINGAN PADI DALAM MENDUKUNG PEMBIAYAAN USAHATANI DI SUMATERA SELATAN Yanter Hutapea; Hermanto ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

The Role of Rice Barn and Rice Milling Unit to Support farming Finance in South Sumatera. The aimed of this assessment was to know: 1) The performance of rice barn and rice milling unit (RMU) to serve farmer 2) the farmer's accessibility to rice barn and RMU. Survey was conducted from March to May 2006 in 8 regencies (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data were collected by interviewing 19 members of rice barn, 25 customers of RMU, 14 rice barn leaders and 21 RMU owners. The result of this assessment showed that the scarcity of capital faced by the farmer household generally in order to develop their farming. The financial institute such as rice barn and RMU in rural areas could be accessed by the farmer to get the operational cost of farming. The average of cash money of rice barn and RMU with magnitude of Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300, respectively. The amount of rice barn have credits and debts with magnitude of 35,71% and 14,28% respectively. Meanwhile, RMU have credits and debts with magnitude of 38,09% and 9,52% respectively. Many of Rice barn and RMU have post-harvest and ploughing facilities, input production supply, besides lending the money that used for production cost. The owner of RMU appear to help farmer easily, nevertheless many of them were not able to fulfill the farmer needs. Rice barn institutes developed by government was not available yet to lend the financial capital for the farmer. Key words : Rice barn, rice milling unit, farmer accessibilityPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) keragaan lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi dalam melayani kebutuhan petani 2) aksesibilitas petani terhadap lembaga lumbung pangan dan penggilingan padi. Survei dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2006 di 8 kabupaten (OKI, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasin dan Banyuasin). Data dikumpulkan dengan mewawancarai 19 orang petani anggota lumbung pangan, 25 orang petani pelanggan penggilingan padi, 14 orang pengelola lumbung pangan dan 21 orang pemilik penggilingan padi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah tangga petani umumnya mengalami masalah keterbatasan modal dalam mengembangkan usahataninya. Lumbung pangan dan penggilingan padi merupakan lembaga ekonomi di perdesaan yang diakses petani untuk mendapatkan modal. Modal tunai rata-rata pada lembaga lumbung pangan dan penggilingan masing-masing sebesar Rp.25.329.880 dan Rp.46.483.300. Sebanyak 35,71% lumbung memiliki piutang dan 14,28% memiliki hutang. Sedangkan penggilingan padi, sebanyak 38,09% memiliki piutang dan 9,52% memiliki hutang. Beberapa di antara lumbung dan pengilingan padi juga memiliki fasilitas untuk pengeringan gabah, pengolahan lahan dan penyediaan sarana produksi selain menyediakan modal untuk biaya produksi usahatani. Pemilik penggilingan padi sering tampil sebagai penolong dengan kemudahan yang diberikannya, meskipun belum semuanya mampu melayani kebutuhan petani. Lumbung pangan sebagai lembaga ekonomi yang dibentuk pemerintah belum mampu berperan penuh dalam melayani kebutuhan petani.Kata kunci: Lumbung pangan, penggilingan padi, aksesibilitas petani
TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI USAHATANI PADI LAHAN SAWAH DI JAWA TIMUR : Suatu Kajian Model Pengembangan “Cooperative Farming” Wahyunindyawati ;; F. Kasijadi; Heriyanto ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n1.2003.p%p

Abstract

The study aimed at assessing factors affecting farmers to adopt technology of lowland rice farmingsystem using cooperative farming model. The study was conducted in Jember district during the wet season of2000/2001. Total samples were 105 farmers and data collection was done through a farm record keeping method.Data were analyzed using logit function. The results showed that factors affecting farmers’ adoption of culturalpractices were plant spacing within a legowo parallel system, choice of improved variety of Way Apu Buru,quantity of seed, and balanced fertilizer in the specific location. Factors affecting adoption of legowo parallelsystem and choice of the Way Apu Buru variety were costs of inputs, total labor, farming experiences, andprofitability. The factor of land area affected only plant spacing of legowo parallel system. Adoption of seedapplication was affected by total labor, land area, and educational background of the farmers. Balanced fertilizerapplication in the specific location was affected by costs of inputs and profitability. To encourage farmers toadopt new technology of rice farming system in the cooperative farming model, it requires the governmentprograms to improve farmers’ skills and knowledges through extension and capital credit.Key words : technology adoption, rice field, cooperative farming. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi petaniterhadap teknologi sistem usahatani padi di lahan sawah dalam model cooperative farming. Penelitiandilaksanakan di Kabupaten Jember pada musim hujan 2000/2001. Total petani contoh sebanyak 105 orang, danmetode pencatatan usahatani farm record keeping method digunakan dalam pengumpulan data. Analisa datamenggunakan model fungsi logit. Hasil penelitian menunjukkan keragaman faktor-faktor yang mempengaruhitingkat adopsi petani terhadap beberapa teknologi budidaya, antara lain : jarak tanam sistem jajar legowo;pemilihan varietas unggul padi Way Apu Buru; jumlah benih yang digunakan; dan penggunaan pupukberimbang spesifik lokasi. Faktor yang mempengaruhi adopsi jarak tanam sistem jajar legowo dan pemilihanvarietas Way Apo Buru adalah biaya sarana produksi, jumlah tenaga kerja, pengalaman usahatani dan tingkatkeuntungan. Faktor luas lahan, hanya mempengaruhi adopsi jarak tanam sistem jajar legowo. Adopsipenggunaan benih dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja, luas lahan dan tingkat pendidikan petani. Sedangkanpenggunaan pupuk berimbang spesifik lokasi dipengaruhi oleh biaya sarana produksi dan tingkat keuntungan.Dalam upaya peningkatan adopsi petani terhadap teknologi usahatani padi dalam model kooperatif usahatanimasih diperlukan dukungan program peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani melalui penyuluhan danbantuan permodalan.Kata kunci : adopsi teknologi, padi sawah, usaha kooperatif
FAKTOR PENENTU PRODUKTIVITAS KEDELAI DI LAHAN PASANG SURUT KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR, PROVINSI JAMBI Husni Jamal; Jumakir .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n1.2011.p%p

Abstract

Determinants for Soybean Productivity in Tidal Land of Tanjung Jabung, Timur District, Jambi Province. This study aims to identify the determinants of the soybean productivity grown on tidal land in a soybean production centre of Jambi Province. The data were collected through a survey on 60 respondents on Kelurahan Bandar Jaya and Desa Marga Mulya in the planting season of the year 2009. The data were analyzed using multiple regression models. The result showed that the variable application of technologies that have real significance (α = 0,05) to explain soybean productivity (Y) is the use of recommended seed variety (X1), the use of fertilizer (X3), and the use of manure (X4) with the regression equation Y = - 772 + 131 X1+ 110X3 + 77X4. This equation resulted in determination coefficient (R2) = 0,487. Social economic factors which have real significance (α = 0,05) in explaining the level of technology implementation (Y) is farmer’s knowledge (X1), plantation area of soybean (X3), availability of production materials (X4) and participation in the PTT activities of the year 2008 (D2) with the regression equation Y = 0,47 + 0,64X1 - 0,48X3 + 0,33X4 + 0,60D2.  This regression equation resulted in determination coefficient (R2) = 0,664. Concluded that the use of recommended seed varieties is the most dominant determinant factor in the effort to increase soybean productivity and increased farmers’ knowledge as a key factor in the application of cultivation technology of soybean in the research location. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penentu terhadap produktivitas kedelai yang ditanam di lahan pasang surut di salah satu sentra produksi kedelai Provinsi Jambi. Pengumpulan data dilakukan melalui survey terhadap 60 petani responden di Kelurahan Bandar Jaya dan Desa Marga Mulya pada musim tanam tahun 2009. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah penerapan teknologi yang memiliki keberartian nyata (α= 0,05) untuk menjelaskan produktivitas kedelai (Y) adalah penggunaan varietas anjuran (X1), pemupukan (X3), dan penggunaan pupuk kandang (X4) dengan persamaan regresi Y = - 772 + 131 X1+ 110X3 + 77X4. Persamaan regresi dari ketiga peubah ini menghasilkan koefisien determinasi (R2) = 0,487. Faktor sosial ekonomi yang memiliki keberartian nyata (α= 0,05) dalam menjelaskan tingkat penerapan teknologi (Y) adalah tingkat pengetahuan petani (X1), luas areal pertanaman (X3), ketersediaan sarana produksi (X4), dan keikutsertaan dalam kegiatan PTT tahun 2008 (D2) dengan persamaan regresi Y= 0,47 + 0,64X1 - 0,48X3 + 0,33X4 + 0,60D2. Persamaan regresi dari keempat peubah ini menghasilkan koefisien determinasi (R2) = 0,664. Disimpulkan bahwa penggunaan varietas benih anjuran merupakan faktor penentu yang paling dominan dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai serta peningkatan pengetahuan petani sebagai faktor penentu dalam penerapan teknologi budidaya kedelai di lokasi penelitian.
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAN PERLAKUAN BENIH TERHADAP PENINGKATAN VIGOR BENIH KAKAO HIBRIDA Baharudin ;; Satriyas Ilyas; Mohamad Rahmad Suhartanto; Agus Purwantara
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n1.2010.p%p

Abstract

Effect of Length Storage and Seed Treatment to Improve Seed Vigour of Kakao Hybrid. Cacaoseeds are categorized as recalcitrant which have some problems such as: hight water content, short storability,sensitive to desiccation, sensitive to low temperature and pathogen contamination. The aims of the research wasto observe the interaction effect between the period of storage and seed treatment on viability and vigor of hybridcacao seeds and seedling of TSH 858. This research was conducted at Seed Main Garden of Indonesian Centreof Coffee and Cacao Research Institute (Puslitkoka) in Jember, Laboratory of Bogor Agricultural University, andMicrobiological laboratory and glass house of Biotechnology Research Institute for Estate Crops of Indonesia inBogor during May to December 2008. Seeds used were derived from results of open cross pollination betweencacao TSH 858 vs Sca 6 from Puslitkoka. Factorial completely randomized design was used, the first factor wasthe period of seed storage and the second factor was the seed treatment. Result showed that interaction betweenthe period of seed storage and seed treatment were statistically significant on germination ability, speed growthrelatively, T50, and number of leaf. The germination ability of seed decreased after 4 weeks storage, but the useof Trichoderma harzianum DT/38 and T. pseudokoningii DT/39 able to increase the germination ability from 8%to 63%. Seed vigor was showed by speed growth relatively, growth velocity (T50- ), and number of leaf werealso improved in matriconditioned seeds compared with the untreated ones. Matriconditioning plus T. harzianumDT/38 and T. pseudokoningii DT/39 treatment also increased index of vigor 32%, speed of germination 0, 5 mg,height of seedlings 3,5 cm, length of roots 0,6 cm and number of roots 8,7 compared with those were untreated.Key words : Biological control, hybrid seed, seed storages, seed vigor, Theobroma cacaoBenih kakao tergolong rekalsitran yang memiliki beberapa kendala antara lain berkadar air tinggi, periodehidup yang relatif singkat, tidak tahan desikasi dan suhu rendah, dan mudah terkontaminasi patogen. Penelitianbertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara lama penyimpanan dengan perlakuan benih terhadapviabilitas dan vigor benih, serta bibit kakao hibrida TSH 858. Penelitian dilaksanakan di Kebun Induk Benih PusatPenelitian Kopi dan Kakao Indonesia Jember, Laboratorium Benih IPB, Laboratorium dan rumah kaca mikrobiologiBalai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia Bogor, pada bulan Mei sampai Desember 2008. Benih hibridaberasal dari hasil persilangan terbuka antara kakao TSH 858 x Sca 6 dari Puslitkoka. Penelitian menggunakanPengaruh Lama Penyimpanan dan Perlakuan Benih terhadap Peningkatan Vigor Benih Kakao Hibrida (Baharudin, SatriyasIlyas, Mohamad Rahmad Suhartanto dan Agus Purwantara)74rancangan lingkungan acak lengkap faktorial, faktor pertama adalah lama penyimpanan secara alami dan faktorkedua perlakuan benih. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara lama penyimpanan benih dengan perlakuanbenih nyata mempengaruhi daya berkecambah, kecepatan tumbuh relatif,T50dan jumlah daun. Benih kakaosetelah penyimpanan empat minggu menunjukkan daya berkecambah yang menurun, tetapi dengan perlakuanmatriconditioning plus Trichoderma harzianum DT/38 dan T. pseudokoningii DT/39 mampu meningkatkan dayakecambah dari 8% menjadi 63%. Vigor benih yang ditunjukkan oleh kecepatan tumbuh relatif, kecepatan tumbuh(T50 -), dan jumlah daun juga ikut meningkat dengan perlakuan matriconditioning. Perlakuan matriconditioningplus T. harzianum DT/38 dan T. pseudokoningii DT/39 mampu meningkatkan indeks vigor 32%, laju pertumbuhankecambah 0, 5 mg, tinggi bibit 3,5 cm, panjang akar 0,6 cm dan jumlah akar 8,7 dibanding tanpa perlakuan.Kata kunci : Pengendalian hayati, benih hibrida, penyimpanan benih, Theobroma cacao, vigor benih
PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP MUTU FISIK DAN CITARASA KOPI ARABIKA VARIETAS S 795 DI BALI Rubiyo ;; Luh Kartini; IGA. Mas Sri Agung
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

Study on effects of cow manure rates and fermentation periods on quality of Arabica coffee was carried outin Belantih Village, Kintamani District, Bangli in 2002-2003. The experiment used a randomized split block designwith two treatments and each of four replications, namely cow manure rates (P) and fermentation period (F). Therewere 6 levels of P treatment, namely 5, 10, 20, 30, 40, and 60 kg/tree/year. F treatment consisted of 4 levels, namely12, 24, 36, and 48 hours. Combination of two treatments improved significantly physical quality, except the beans ofL size and all components of coffee tastes. Cow manure of 5 kg/tree/year and fermentation periods of 12 to 24 hourswere able to produce quality beans and good coffee taste. Cow manure rate of 5 kg/tree/year with fermentation periodof 24 hours produced highest M-size beans (18.43%), with lowest Ss-size beans (10.07%). Best coffee aroma wasfound in manure rate of 5 kg/tree/year with fermentation period of 12, 24, and 36 hours. Flavor scores of manure rateof 5 kg/tree/year with all fermentation periods, except that of 48 hours, were higher than those of 60 kg/tree/year.Highest strength (7.30) was found on the rate of 5 kg/tree/year with 24 hour of fermentation. Acid or bitter taste waslower on the coffee tree at applied with 60 kg/tree/year than that applied with 5 kg/tree/year. Lower rate of manureapplication was able to produce optimal quality coffee beans than that applied by the farmers, namely 60 kg/tree/year.Key words: cow manure, coffea arabica, fermentation, physical quality, flavor, Bali.Penelitian mengenai pengaruh dosis pupuk kandang sapi dan lama fermentasi terhadap mutu hasil KopiArabika telah dilakukan di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Bangli pada tahun 2002-2003. Rancanganpercobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua perlakuan, yaitudosis pupuk kandang (P) dan lama fermentasi (F). Perlakuan dosis pupuk kandang (P) terdiri dari enam level, yaitu :5, 10, 20, 30, 40, dan 60 kg/pohon/tahun. Perlakuan lama fermentasi (F) terdiri dari empat level, yaitu : 12, 24, 36, dan48 jam. Fermentasi dilakukan dengan cara basah terhadap biji kopi yang telah dikupas. Perlakuan dilakukan empatkali ulangan. Untuk mengetahui beda antarperlakuan digunakan uji DMRT. Secara statistik, kombinasi keduaperlakuan, yaitu dosis pupuk kandang dan lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap semua komponen mutu fisikkopi, kecuali jumlah biji ukuran L dan semua komponen citarasa kopi. Secara umum, pemupukan dosis 5kg/pohon/ tahun dengan kombinasi lama fermentasi 12 jam sampai 24 jam sudah dapat menghasilkan biji KopiArabika Varietas S 795 dengan mutu fisik yang baik dan dapat menghasilkan seduhan kopi dengan mutu citarasa yangbaik pula. Dosis pupuk 5 kg/pohon/tahun dengan lama fermentasi 24 jam menghasilkan jumlah biji ukuran M tertinggi(18,43 %) dengan jumlah biji ukuran Ss terendah (10.07%). Aroma kopi terbaik (skor 7,00) diperoleh pada perlakuandosis pupuk 5 kg/pohon/tahun dengan lama fermentasi 12, 24, dan 36 jam. Skor perisa pada perlakuan dosis pupuk 5kg/pohon/tahun dengan semua perlakuan lama fermentasi, kecuali 48 jam lebih tinggi dibandingkan skor padaperlakuan 60 kg/pohon/tahun. Demikian juga dengan dosis pupuk 5 kg/pohon/tahun dengan lama fermentasi di atas 24jam memberikan skor kekentalan tertinggi (7,30). Namun, untuk keasaman dan rasa pahit, dosis pupuk 60kg/pohon/tahun memiliki skor yang lebih rendah dibandingkan dosis 5 kg/pohon/tahun. Rasa asam atau pahit yangterlalu tinggi tidak dikehendaki dalam citarasa kopi. Berdasarkan keunggulan mutu fisik dan citarasa kopi yangdihasilkan, aplikasi pupuk kandang yang lebih sedikit namun dapat menghasilkan produk dengan kualitas yangoptimal ini dapat menggantikan dosis pupuk kandang yang selama ini diterapkan oleh petani, yaitu 60 kg/pohon/ tahun.Kata kunci: pupuk kandang, Coffea arabica, fermentasai, mutu fisik, citarasa, Bali
ANALISIS DAMPAK KERAGAMAN CURAH HUJAN TERHADAP KINERJA PRODUKSI PADI SAWAH (Studi kasus di Kabupaten Merauke, Papua) Aser Rouw
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n2.2008.p%p

Abstract

Analyzing of Rainfall Variability Impact toward Rice Field Production (Case study at Merauke Papua). This study was conducted with aim: (1) knowing impact of rainfall variability to rice field production and (2) to arrange alternative planting strategy which can decrease rainfall variability impact. Analyzing approach used Decision Support System for Agro-Technology Transfer (DSSAT) Plant Simulation Model. Input of model consists of time series climate data for twenty years (1983-2003), soil physics and chemist data, IR 64 variety genetics data, and the farmers planting technology. The rice field production was simulated following time planting in 15 days. To know pattern of rice field production, output of analysis was plotted using Fourier regression. The result of simulation showed that the rice filed production followed rainfall variability event. The higher production 5, 4 t with lower variance ± 0,1 at the first planting season was gotten in December 15th. While the second planting season, the higher production just 3, 2 t with variance ± 0,3 was gotten in 15 July th. This case was caused by lower of rainfall event. If, the total of the farmers irrigation supply was increased from 630 mm to 850 mm, so average production on first planting season become 5,9 t and second planting season 6 t. If the farmer just used rainfall event, so the best time planting was in November with production was 6 t and variance ± 1,1. Key words: Variability, rainfall, production, rice field, simulation. Analisis dampak keragaman curah hujan terhadap kinerja produksi padi sawah: Kasus Kabupaten Merauke, Papua dilakukan dengan tujuan: (1) mengetahui seberapa besar dampak keragaman curah hujan terhadap produksi padi sawah, dan (2) menyusun alternatif strategi budidaya padi sawah yang dapat mengurangi risiko keragaman curah hujan. Pendekatan analisis menggunakan model simulasi tanaman DSSAT (Decision Support System for Agro-technology Transfer). Data input model terdiri atas seri data iklim harian 20 tahun (1983-2003), data fisika dan kimia tanah, dan data genetik varietas padi IR 64, serta data telcnologi budidaya padi sawah. Simulasi produksi padi sawah dilakukan menurut waktu tanam dalam selang 15 harian. Output analisis diploting menggunakan regresi Fourier. Hasil simulasi menunjukkan bahwa keragaman produksi padi sawah cenderung mengikuti pola keragaman curah hujan. Rata-rata produksi -tertinggi 5,4 t dengan keragaman terendah ± 0,1 pada MT I tercapai pada waktu tanam 15 Desember. Sedangkan MT2 rata-rata produksi tertinggi hanya mencapai 3,2 t dengan keragaman ± 0,3 tercapai pada tanggal tanam 15 Juli. Hal ini disebabkan karena rendahnya input curah hujan. Hasil ini masih dapat ditingkatkan, yaitu melalui penambahan suplai air irigasi petani clari 630 mm menjadi 850 mm, maka rata-rata produksi MT] mencapai 5,9 t dan MT2 6 t. Kalau hanya mengandalkan curah hujan, maka waktu tanam terbaik bagi petani adalah pada tanggal tanam 1 November, yaitu rata-rata produksi dapat mencapai 6 t dengan keragaman f 1,1. Kata kunci: Keragaman, curah hujan, produksi, padi sawah, simulasi

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue