cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
KERAGAAN DAN ANALISIS USAHATANI SALAK (Salacca edulis) DI LAHAN PEKARANGAN DESA SRI AGUNG (Studi Kasus Desa Prima Tani Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi) Jumakir ;; Julistia Bobihoe
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n2.2008.p%p

Abstract

Performance and Farming System Analysis of Zalacca in Sri Agung Village (Case Studies in Prima Tani Tanjung Jabung District, Jambi). The Zalacca Pondoh is one type of fruits that is favored by many people and has a good prospect to be cultivated in small-scale field in Sri Agung Village. The aim of this study was to evaluate the continual farming system and economical analysis of the commodity. The research was conducted in some transmigrated areas in Sri Agung village, Tungkal Ulu District, Tanjung Jabung Barat, Jambi Province from June 2007 to July 2007 by using site-observation and survey methods. The primary data were collected by interviewing zalacca farmers, while the secondary data were collected from the related institutions. The result showed that the technical production of zalacca on the farmers' level was quite good, but need an improvement in terms of the use of fertilizer, fruit trimming, pests and diseases control. Zalacca farming system gives added value and profitable with an R/C 2, 09. Key words: Salacca edulis, technology and farming system Tanaman salak merupakan salah satu tanaman buah yang disukai dan mempuyai prospek baik untuk diusahakan di desa Sri Agung. Tanaman salak terutama dibudidayakan di lahan pekarangan. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengkaji teknik budidaya dan analisis usahatani tanaman salak yang diusahakan petani di lahan pekarangan secant berkelanjutan. Pengkajian ini dilaksanakan di Desa Sri Agung Kecamatan Tungkal Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi yang merupakan daerah transmigrasi asal Jawa, dimulai dari bulan Juni sampai Juli 2007 dengan metode survei dan tinjauan ke lahan salak. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan petani yang mengusahakan tanaman salak. Data sekunder diperoleh dari lembaga terkait. Hasil pengkajian menunjukan bahwa teknologi budidaya tanaman salak yang berkembang dan yang dilakukan di tingkat petani sudah cukup baik, namun masih memerlukan perbaikan seperti pemupukan, pemangkasan atau penjarangan buah dan pengendalian hama penyakit. Usahatani salak memberikan nilai tambah dan menguntungkan, dengan nilai R/C 2,09. Kata kunci : Salak, teknologi dan sistem usahatani
BUDIDAYA DAN ANALISIS USAHATANI PISANG BARANGAN DI KABUPATEN DELI SERDANG SUMATERA UTARA Sortha Simatupang; Besman Napitupulu; M Prama Yufdi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 3 (2009): November 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n3.2009.p%p

Abstract

Cultivation and Analysis of Barangan Banana Farm Operations in Deli Serdang Regency North Sumatra. Red Barangan banana is one of the cultivar kinds mostly cultivated in Deli Serdang, North Sumatra. The aim of this study was to obtain the characteristics of barangan banana cultivation technology and to analyze the banana farm operations. This is necessary as an evaluation for an improvement in order to increase the income of Barangan banana farmers in Deli Serdang. The research was conducted in two villages namely Talun Kenas and Siguci, STM Hilir Sub-district, Deli Serdang, North Sumatra Province from April to June 2008 by using a survey method and direct observation at the banana area. The primary data were collected by interviewing farmers managing the banana plants, while the secondary data were collected from related institutions. The results show that the farmers have sufficiently been efficient in managing the agricultural land by implementing multi-cropping. However, the technology for banana cultivation still needs improvement by optimizing the use of organic and inorganic fertilizers, plant maintenance, especially in the provision of healthy Barangan banana seeds. Barangan banana farming system provides profit with a B/C 1.1.Key words: Musa paradisiaca, characteristic, technology and farming systemABSTRAKPisang Barangan Merah adalah salah satu jenis kultivar yang paling banyak dibudidayakan di Deli Serdang Sumatera Utara. Tujuan pengkajian ini yaitu untuk mendapatkan karakteristik teknologi budidaya pisang barangan dan analisis usahatani tdari pisang tersebut. Pengkajian ini dilaksanakan di Desa Talun Kenas dan Siguci Kecamatan STM Hilir Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara dimulai April sampai Juni 2008 dengan metode survei dan pengamatan langsung ke lahan Pisang. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan petani yang mengusahakan tanaman pisang. Data sekunder diperoleh dari lembaga terkait. Hasil pengkajian menunjukan bahwa petani telah cukup efien dalam mengkelola lahan pertanian dengan menanam tanaman lain secara tumpangsari. Teknologi budidaya tanaman pisang, masih memerlukan perbaikan dengan mengoptimalkan penggunaan pupuk organik, pupuk anorganik, perawatan tanaman, serta yang terutama ialah penyediaan bibit sehat pisang barangan. Usahatani pisang barangan memberikan keuntungan dengan nilai B/C 1,1Kata kunci : Musa paradisiaca , Karakteristik, teknologi, petani, sistem Usahatani
PENGARUH POLA KREDIT PENGADAAN BIBIT TERHADAP KINERJA PENGEMBANGAN SAPI POTONG PADA PETERNAK KECIL DI PROVINSI JAMBI Husni Jamul
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

A research aiming at determining the influence of credit scheme for breeding stock on the performance of beef cattle development for smallholder farmers was conducted in the middle of 2006. The research was held through a survey on 183 respondents divided into two groups of credit recipients, who received credit with Full Inkind and Cash Credit schemes. The location of the survey was three development areas of beef cattle in Jambi Province: Singkut, Regency of Sarolangun; Pamenang, Regency of Merangin; and Kuamang Kuning, Regency of Bungo. The aspects of cattle development observed were performance of breeding activities, feed supply, and cattle management. The results of the research showed that there were more heifers obtained from Cash Credit scheme (50%) to become acceptors of Artificial Insemination program than heifers were obtained from Full Inkind scheme (7%). Birth Rate of the heifers from Full Inkind scheme (0.51 + 0.02 heads/year) was significantly lower than it was from Cash Credit scheme (0.84+0.08 heads/year). Mortality Rate of calves from Cash Credit scheme (1.7%) was lower than it was from Full Inkind scheme (6.5%). There number of respondents from Cash Credit scheme who planted grasses (71%) and gave concentrate to their animals (46%) was higher than they were from Full Inkind, respectively 28% and 16%. Respondents received Cash Credit Scheme had more positive attitude toward Beef Cattle Development than those who received Full Inkind scheme. The conclusion was that Cash Credit scheme in providing breeding stocks for smallholder farmers in Jambi Province had a better influence on the performance of beef cattle development than Full Inkind scheme did. Therefore, the researcher recommended to the government to reevaluate the existence of Full Inkind scheme. Key words: credit scheme, beef cattle development Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola kredit pengadaan bibit terhadap kinerja pengembangan ternak sapi potong pada peternak kecil telah dilaksanakan pada pertengahan tahun 2006. Penelitian ini dilaksanakan melalui suatu survey terhadap 183 responden, yang dibagi dalam dua kelompok yaitu peternak yang menerima kredit dengan pola Gaduhan Murni dan Kredit Tunai. Survey dilakukan di tiga kawasan pengembangan ternak sapi potong di Provinsi Jambi yaitu: Kawasan Singkut, Kabupaten Sarolangun; Kawasan Pamenang, Kabupaten Merangin; dan Kawasan Kuamang Kuning, Kabupaten Bungo. Aspek yang diamati meliputi kinerja pengembangan bibit ternak, penyediaan pakan dan manajemen pengelolaan ternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk yang diperoleh dari pola Kredit Tunai lebih banyak (50%) yang menjadi akseptor program Inseminasi Buatan dibandingkan dengan penerima kredit pola Gaduhan Murni (7%). Angka kelahiran induk yang diperoleh dari kredit pola Gaduhan Murni (0,51+0,02 ekor/ tahun) sangat nyata lebih rendah dibandingkan dengan induk yang diperoleh dari kredit pola Kredit Tunai (0,84 + 0,08 ekor/ tahun). Angka kematian anak pada penerima Kredit Tunai (1,7%) lebih rendah daripada kematian anak pada penerima Gaduhan Murni (6,5%). Jumlah peternak yang menerima Kredit Tunai yang menanam rumput unggul (71%) dan memberikan konsentrat kepada ternaknya (46%) lebih banyak dibandingkan pada peternak yang menerima Gaduhan Murni yaitu masing-masing 28% dan 16%. Peternak penerima Kredit Tunai memiliki Sikap terhadap Pengembangan Sapi Potong yang lebih baik daripada penerima Gaduhan Murni. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pola Kredit Tunai untuk pengadaan bibit ternak pada peternak kecil di Provins Jambi mempunyai pengaruh yang lebih baik terhadap kinerja pengembangan sapi potong dibandingkan dengan poly Gaduhan Murni. Oleh karena itu direkomendasikan kepada pemerintah untuk meninjau kembali penerapan kredi pengadaan ternak dengan pola Gaduhan Murni.Kata kunci: pola kredit, pengembangan sapi potong
KAJIAN KETAHANAN VARIETAS KENTANG TERHADAP SERANGAN PENYAKIT Phytophthora infestans DI KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA Loso Winarto; Lermansius Haloho
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n2.2009.p%p

Abstract

The Study of Potato Variety Assessment Resistence for Phytophthora infestans Disease in District Karo, North Sumatra. Potate is a main potential commodity in  North Sumatra where the poduction was marketed to fulfill local and regional needs. This research was done in Cinta Rakyat Village, Simpang Empat Subdistrict, Karo Regency, North Sumatra which was located at 1,250 m above the sea level.  In this research four vatrieties were used; Granola, Atlantik, Kikondo, Margahayu and 0981-1085 Strains which were arranged by random Block Design and each treatment repeated 5 times. The distance between these plants was 30 cm x 80 cm, the plot measurement was 3m x 4 m (50 plants). The distance between each treatment was 50 cm, the distance between each repetition was 100 cm. To protect this plant from diseases several materials were used; 20 t/ha manure, 200 kg/ha urea, 400 kg/ha SP- 36, 200 kg/ha ZA, 150 kg/ha KCl.  Where as pest control was adjusted with the local condition. The research results after 70 days of plantation showed that the lowest intensity of Phytophthora  infestans disease was found  in Strains 0981-1085 (64.45%) treatment, where as the highest intensity was found in Granola variety (79.75%). The highest production was found in Strains 0981-1085 (31.89 t/ha) treatment, whereas Granola variety only reach 12,95 t/ha.  The R/C value was Granola (1), Margahayu (1.6), Atlantik (1.8), Kikondo (2.2) and 0981-1085 (2.5).Tanaman kentang merupakan salah satu komoditas unggulan dan menjadi sentra di Sumatera Utara, produknya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional.  Kajian ini dilaksanakan di Desa Cinta Rakyat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ketinggian 1250 m dpl.  Varietas kentang yang digunakan, yaitu: varietas Granola, Atlantik, Kikondo Margahayu dan Galur 0981-1085.  Menggunakan Rancangan Acak Kelompok, setiap perlakuan diulang 5 kali.  Jarak tanam kentang 30 cm x 80 cm, jarak antar perlakuan 50 cm.  Pupuk yang digunakan: pupuk kandang ayam 20 t/ha, Urea 200 kg/ha, SP-36 400 kg /ha, ZA 200 kg/ha, KCl 150 kg /ha.  Pengendalian hama disesuaikan dengan kebutuhan.  Hasil kajian menunjukkan bahwa tanaman pada umur 70 hari setelah tanam (hst), intensitas serangan Phytophthora infestans terendah terdapat pada perlakuan 0981-1085 (64,45%) sedangkan intensitas serangan tertinggi terdapat pada perlakuan Varietas Granola (79,53%).  Produksi tertinggi terdapat pada perlakuan Galur 0981-1085 (31,89 t/ha), sedang Varietas Granola hanya mencapai 12,95 t/ha.  Hasil perhitungan antara penerimaan dan pengeluaran (R/C) memberikan nilai secara berturut-turut Granola (1), Margahayu (1,6), Atlantik (1,8), Kikondo (2,2) dan Galur 0981-1085 (2,5).  Dengan demikian, tanaman kentang Galur 0981-1085 dan Kikondo layak untuk ditanam.
MASALAH DAN ALTERNATIF PENGENDALIAN PENYAKIT JERUK KEPROK SOE DI NUSA TENGGARA TIMUR B. Murdolelono; Yusuf ;; C.Y. Bora
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

Keprok Soe citrus is one of the potential agricultural commodities of East Nusa Tenggara Province.Production and yield of Keprok Soe currently are still relatively low due to disease attack. This study was carried outin 2000 in North Central Timor and South Central Timor Districts aimed at assessing types of diseases and diseasescontrol practiced by farmers. Locations of study consisted of three villages randomly selected. Data were collectedusing RRA approach, questionnaires, and direct field observation. The results showed that: (1) Phytophthora sp.,Diplodia sp, and sporosis virus were the most important diseases of the Keprok Soe citrus plantation and thosediseases affected 13.3 percent of the citrus trees; (2) farmers’ incomes gained from Keprok Soe citrus farms variedfrom Rp 613,000 to Rp 875,000 per year with average ownership of 98 trees per household and productive trees of33.8 percent; (3) spread of citrus diseases was probably due to low inputs application and inappropriate farmers’practice, namely without application of fertilizer and pesticide, and no irrigation. Some important measures to take tocontrol the diseases are: (1) improving citrus farming technology using simple introduced farming technology,applying low production inputs, and utilizing existing local inputs; (2) conducting extension through dissemination ofleaflets, brochures, and posters; (3) enhancing citrus plantation in non-endemic areas with agro ecosystems similar tothe citrus producing areas; and (4) using Cleropatra, Taiwanica, and Citromello clones as the rootstocks tolerant toPhytophthora sp and Diplodia sp diseases.Key words: Keprok Soe citrus, disease, control alternative, East Nusa Tenggara Jeruk keprok Soe merupakan komoditas unggulan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Produksi danproduktivitas jeruk keprok Soe saat ini masih rendah yang disebabkan serangan penyakit. Penelitian dilaksanakanpada tahun 2000 di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan yang bertujuan untuk mengetahuijenis-jenis penyakit dan teknologi pengendalian penyakit oleh petani. Lokasi penelitian terdiri dari tiga desa yangpemilihannya dilakukan secara acak. Pengumpulan data dilakukan melalui RRA, kuisioner dan pengamatan langsungdi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Phytophthora sp, Diplodia sp dan virus sporosis merupakanpenyakit terpenting pada tanaman jeruk keprok Soe dan kematian tanaman akibat penyakit mencapai 13,3 persen, (2)pendapatan petani dari usahatani jeruk keprok Soe berkisar antara Rp. 613.000 sampai 875.000 per tahun, sementarakepemilikan pohon jeruk 98 pohon per KK dan jumlah pohon produktif hanya 33,8 persen, (3) perkembanganpenyakit jeruk kemungkinan dipicu oleh penggunaan input teknologi yang rendah dan teknologi budidaya jeruk yangdilakukan petani sangat sederhana, yakni ditandai dengan tanpa pemupukan, tanpa pestisida dan tanpa pengairan.Beberapa upaya penting dalam pengendalian penyakit jeruk adalah: (1) melakukan perbaikan teknologi budidayajeruk dengan introduksi teknologi budidaya yang sederhana, menggunakan input produksi yang rendah danmenggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapat, (2) melakukan penyuluhan yang didukung bahan-bahanpenyuluhan seperti liflet, brosur atau poster, (3) melakukan pengembangan jeruk pada daerah nonendemik denganagroekosistemnya mirip dengan daerah sentra produksi jeruk, serta (4) menggunakan batang bawah yang toleranterhadap penyakit Phytophthora sp dan Diplodia sp seperti Cleopatra, Taiwanica dan Citromello 4475..Kata kunci: jeruk Keprok Soe, penyakit, alternatif pengendalian, Nusa Tenggara Timur
KAJIAN SISTEM PENANAMAN TUMPANGSARI KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI LAHAN DATARAN TINGGI RANCABALI, KABUPATEN BANDUNG Nana Sutrisna; Suwalan Sastraatmadja; Iskandar Ishaq
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Assessment on intercropping system of potato was conducted during the dry season (May-September) in2001 in Alamendah village, Rancabali district, Bandung regency, with the altitude of 1,400 m above sea level.Randomized block design was used with three replications of five cropping system treatments, namely (1) potato; (2)potato + celery; (3) potato + welsh onion; (4) welsh onion; and (5) celery. The tested varieties were Granola forpotato, Papak Kuningan for welsh onion, and Bamby for celery. The plant spacing used for the two potato systemswere as follows: 70 cm x 30 cm monoculture, 70 cm x 50 cm for intercropping. The plant spacing of celery and welshonion both planted in intercropping and monoculture methods were each of 20 cm x 20 cm. The areas of all treatmentswere each of 60 m2 . Results of assessment showed that: (1) average plant heights of potato were not significantlydifferent between those intercropping systems of potato-celery and potato-welsh onion; (2) average number of shootsper plant and visually observed plant vigor of welsh onion and celery were greater for monoculture system than that ofintercropping; (3) yields of both potato intercropped with celery and welsh onion were lower than those ofmonoculture, but when yield of the intercropping was made equivalent to potato, the land productivity would begreater if intercropped with potato-celery or potato-welsh onion with highest land equivalent ratio (NKL) of more thanone and the highest land equivalent ratio obtained by potato + celery intercropping was 1.19; (4) intercropping systemof potato + celery was able to lessen attack intensity of thrips (44%) and Myzus persicae (55,6%); and (5)intercropping potato-celery was the most profitable with marginal return level of 81,45 percent.Key words: solanum tuberosum L., intercropping, highland, income, Bandung Pengkajian sistem penanaman tumpangsari kentang pada lahan dataran tinggi telah dilaksanakan di DusunCibodas, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Bandung pada musim kemarau (MK) 2001, mulai bulan Mei-September 2001. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut. Penelitian menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan sistem penanaman dan tiga ulangan. Kelima perlakuantersebut terdiri dari: (1) kentang monokoltur, (2) tumpangsari kentang + seledri, (3) kentang + bawang daun, (4)bawang daun monokultur, dan (5) seledri monokultur. Varietas kentang yang digunakan adalah Granola, bawang daunvarietas Papak Kuningan, sedangkan seledri varietas Bemby. Jarak tanam kentang monokultur 70 x 30 cm, kentangtumpangsari 70 x 50 cm, sedangkan seledri dan bawang dan baik yang ditanam tumpangsari maupun monokultur 20 x20 cm. Luas plot masing-masing perlakuan 60 m2 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tinggi tanaman kentangyang ditanam secara tumpangsari dengan bawang daun lebih tingi dari pada yang ditumpangsarikan dengan seledrinamun hampir sama dengan yang ditanam monokultur, (2) Jumlah tunas tanaman bawang daun maupun seledri lebihbanyak pada sistem monokultur dibandingkan dengan sistem tumpangsari, (3) Hasil kentang sistem penanamantumpangsari baik dengan seledri maupun bawang daun lebih rendah dari pada secara monokultur, namun jika hasiltanaman yang ditumpangsarikan disetarakan dengan kentang, maka produktivitas lahan lebih tinggi diperoleh dengansistem penanaman tumpangsari kentang seledri atau bawang daun di mana nilai kesetaraan lahan (NKL) > 1. NKLtertinggi diperoleh pada tumpangsari kentang + seledri, yaitu 1,19, (4) Tumpangsari kentang + seledri dapatmenurunkan serangan hama daun Trips sebesar 44 persen dan hama kutu daun Myzus persicae sebesar 55,6 persenpada tanaman kentang, dan (5) Sistem penananam tumpangsari kentang + seledri secara finansial palingmenguntungkan, dengan tingkat pengembalian marginal 81,45 persen.Kata kunci: kentang, tumpangsari, dataran tinggi, pendapatan, Bandung
ANALISIS PEMASARAN JAGUNG DAN DAYA BELT PETANI DI KABUPATEN TAKALAR SULAWESI SELATAN Sunanto ;; Sahardi ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n1.2008.p%p

Abstract

Analysis on Maize Marketing and Farmer Purchasing Power in Takalar Regency South Sulawesi. Agricultural development is very important as an activator of the national economy. Domestic resources need to be empowered to improve the welfare of farmer communities. The empowerment offers problems and opportunities. South Sulawesi is one of prominent maize production centers and one region that can become a maize production center is Takalar Regency. This research was conducted from June to October 2006 at Parasangan Beru Village and Bonto Lebang Village, North Galesong Sub-district in Takalar Regency. The research result shows that Takalar Regency area has potency for maize development. This is supported by natural and farmer resources, and the potency of Takalar Regency as a support of a metropolitan city (the marketing potency for agricultural products). The price of maize at the farmer level is feasible, this is reflected by the analysis research on price determination through the determination on the selling price cost. The welfare level of farmers (especially those with corn base) reaches a sufficiently good welfare level as it reaches an average of 2.57. Furthermore, the average net income of a farmer household reaches Rp.10,440,400/year. Key words: Make, purchasing capacity, marketing.   Pembangunan pertanian sangat penting sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Sumberdaya domestik perlu diberdayakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat petani. Pemberdayaan tersebut memberikan dampak masalah dan peluang. Sulawesi Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung yang menonjol, salah satu daerah yang bisa dijadikan sentra produksi jagung adalah wilayah Kabupaten Takalar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Oktober 2006 di Desa Parasangan Beru dan Desa Bonto Lebang Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Wilayah Kabupaten Takalar mempunyai potensi untuk pengembangan jagung. Hal ini didukung sumberdaya alam, sumberdaya petani, dan potensi Kab. Takalar sebagai penyangga kota metropolitan (potensi pangsa pasar produk pertanian). Harga jagung yang berlaku di tingkat petani sudah layak, hal ini tercermin dari hasil analisis penentuan harga melalui penentuan harga pokok penjualan. Tingkat kesejahteraan petani (khususnya berbasis jagung ) mencapai tingkat kesejahteraan yang cukup bail karena mencapai rataan 2,57. selain itu juga rataan tingkat pendapatan bersih rumah tangga petani mencapai Rp.10.440.400/tahun.Kata kunci: Jagung, daya beli, pemasaran
KAJIAN USAHATANI KOMODITAS PERKEBUNAN BERBASIS KAKAO DI KABUPATEN PACITAN, JAWA TIMUR Bambang Irianto; Gatot Kartono; Harwanto ;; Luki Rosmahani
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

Cacao is one of the most potential estate crops to be developed since it could improve farmers’ income andsignificantly contribute to the national income. Besides, it could also contribute to solve employment problem muchbetter than other estate commodities such as rubber, coconut and palm do. An assessment on cacao farming systemhas been done in Pacitan, in 2003, to see the present status and role of cacao in farmers’ income structure and in estatecrops farming system in East Java as a whole. In addition to financial and other social-economic analysis, an LQanalysis was also carried out on the production data of several important estate crops in Pacitan, 2001 and 2002. Theresults showed that cacao farming system was commonly carried out in integrated fashion with other estate crops andhorticultural commodities. Financial analysis showed that, in general, estate crops farming system were economicallyfeasible to be developed especially in integrated way, while the LQ analysis showed that coconut was the mostimportant commodity in the area implying that development of cacao should be wisely integrated with development ofcoconut. The survey on the social and economic aspects showed that cacao as well as other estate crops is the mostimportant source of income for farmers. Some improvements are still necessary to increase farmers’ income andhence welfare through technological and social engineering such as empowerment of existing farmers institutions.Key words : theobroma cacao, farm income, estate crops, East JavaKakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki potensi pengembangan yang cukup tinggikarena selain mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dan memberikan sumbangan yang cukupberarti terhadap devisa negara juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi dibandingkan komoditasperkebunan lainnya seperti karet, kelapa dan kelapa sawit. Pengkajian yang dilakukan di Kabupaten Pacitan tahun2003 ini dimaksudkan untuk mengetahui status dan peranan usahatani kakao dalam struktur pendapatan petani dandalam subsektor perkebunan secara umum di Jawa Timur. Selain analisis finansial dan sosial ekonomi lainnya,analisis LQ juga dilakukan terhadap nilai rata-rata produksi komoditas perkebunan unggulan di Pacitan tahun 2001dan 2002. Hasil pengkajian memperlihatkan bahwa usahatani kakao dilakukan secara terpadu dengan komoditasperkebunan lainnya seperti kelapa, cengkeh dan kopi serta beberapa jenis tanaman hortikultura. Analisis finansialmemperlihatkan bahwa usahatani komoditas perkebunan umumnya layak untuk dikembangkan terutama biladilakukan secara terpadu. Pendapatan petani kakao yang berasal dari kegiatan usahatani ternyata lebih tinggidibandingkan yang berasal dari usaha di luar pertanian, sedangkan analisis LQ memperlihatkan bahwa komoditaskelapa mempunyai arti yang penting bagi perekonomian daerah sehingga pengembangan kakao harus diintegrasikandengan pengembangan kelapa. Hasil survai sosial ekonomi memperlihatkan bahwa komoditas kakao dan komoditasperkebunan lainnya merupakan sumber pendapatan penting bagi petani sehingga perlu dikembangkan melaluiperbaikan teknologi dan rekayasa sosial misalnya melalui pemberdayaan kelembagaan yang ada.Kata kunci : theobroma kakao, pendapatan usahatani, perkebunan, Jawa Timur
KERAGAAN DAN DAMPAK PENGKAJIAN USAHATANI KONSERVASI TANAMAN KENTANG DI LAHAN KERING DATARAN TINGGI BERLERENG DI KABUPATEN LUMAJANG Pudji Santoso; Moh. Soleh; Zainal Arifin; Ismail Wahab
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n1.2007.p%p

Abstract

This assessment was the evaluation of the potato conservation farming assessment activity which was done by the Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) in Argosari Village, Senduro District, Lumajang Regency East Java from 2002 until 2004. The recommended technology package which was applied during the activity includes (1) the use of 45° sloppy beds, (2) the use of stripped cropping plant, (3) the use of Granule potato variety, (4) the use of manure, (5) the use of rational fertilizer. This assessment was done from January to February 2004 using survey method aiming at ( I) to find the information on the performance of potato farming technology, (2) to find the information on the performance of farming conservation technology on potato, and (3) to find the information on the impact of the assessment on farming conservation which was done by AIAT East Java in 2002 until 2004 concerning the productivity, yield quality and farmers' income of potato farming. The results showed that the conservation technology of potato in sloppy dry upland has a potential power to minimize the soil erosion and is feasible to be developed in this area. The development of farming conservation technology on potato gives a positive impact towards the increase of productivity, yields quality and farmers' income. Among of the 5 recommended technologies, the use of Granule variety potato was the most adopted by the farmers. In order to continue the adoption process by the farmers, the following requirements are needed, they are (1) the constant supply of the qualified potato seed on the right time, (2) continuous coaching to the farmers from the beginning of the preparation to the harvesting process, (3) the guarantee of stable and feasible price, (4) the consciousness and full participation of the farmers themselves, and (5) the presence and continuous support from the local government. Key words : technology impact, conservation, potato Pengkajian ini merupakan evaluasi dari kegiatan pengkajian usahatani konservasi usahatani pada tanaman kentang yang telah dilakukan oleh BPTP Jawa Timur di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang tahun 2202 sampai 2004. Rakitan teknologi yang diterapkan pada saat kegiatan tersebut meliputi : (1) pembuatan guludan dengan arah 45°, (2) penggunaan tanaman strip cropping, (3) varietas kentang yang ditanam (4) penggunaan pupuk kandang dan (5) pemupukan rasional. Kajian ini menggunakan metode survei dan dilakukan pada bulan Januari Pebruari 2005. Tujuan dari pengkajian adalah (1) mendapatkan informasi keragaan teknologi usahatani konservasi pada tanaman kentang dan (2) mendapatkan informasi dampak kegiatan pengkajian usahatani konservasi yang telah dilakukan oleh BPTP Jawa Timur terhadap produktivitas, mutu hasil dan pendapatan usahatani kentang. Hasil kajian menunjukkan bahwa usahatani konservasi pada tanaman kentang di lahan kering dataran tinggi berlereng mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam menekan erosi tanah serta layak untuk dikembangkan di wilayah tersebut di atas. Pengembangan teknologi usahatani konservasi pada tanaman kentang telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas dan mutu hasil serta pendapatan petani. Dari lima komponen teknologi anjuran tersebut di atas, ternyata varietas kentang yang ditanam yang paling banyak diadopsi oleh petani. Agar adopsi teknologi usahatani konservasi pada tanaman kentang dapat berlanjut, maka diperlukan: (1) penyediaan bibit kentang yang bermutu tepat waktu, (2) bimbingan oleh petugas secara terus-menerus, sejak persiapan hingga panen, (3) adanya jaminan harga yang layak dan stabil, (4) kesadaran dan partisipasi petani sendiri serta (5) dukungan pemerintah daerah. Kata kunci : dampak teknologi, usahatani konservasi, kentang
ANALISIS EFISIENSI TEKNIS DAN SUMBER INEFISIENSI USAHATANI PADI PADA LAHAN SEMPIT DI KABUPATEN BANTUL PROVINSI YOGYAKARTA Yoshi Tri Sulistya; Lestari Rahayu Waluyati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n1.2019.p27-38

Abstract

Technical Efficiency Analysis and IneffeciencySources of Rice Farming In Narrow Lands in Bantul District Yogyakarta Province. The increasing rice production is mostly constrained by the ever-declining agricultural land area which is mainly solved by improving productivity through efficiency. Most of the farmer's land tenure in Java is a narrow area (less than 0.5 ha). Hence, this research aimed 1) to know the level of technical efficiency, allocative and economic, and 2) to know the technical inefficiency sources of rice farming in narrow land in Jetis District, Regency of Bantul. This research applied the basic method of descriptive analytic technique. The research location was determined based on the purposive method at the location with small farming scale (land area <0.5 ha). It involved 72 farmers as the research samples with were determined by surfeited sampling technique. The resulted data were analyzed by the method of stochastic production function model with frontier 4.1 program. It was revealed that the variables affecting the increase of rice production were land area, the seed’s number and the amount of pesticides use. It resulted in the average farmers’ technical efficiency level of 0.73. A total of 63.89% farmers at the research sites were already technically efficient (efficiency level > 0.70). The sources of technical inefficiency were education, experience, number of productive family members and number of plots (plots of land). The number of family members with productive age and the number of plots will improve technical efficiency. It was revealed that the variables affecting the minimize of production cost are production quantity, fertilizer NPK phonska price, organic fertilizer, and labor wage.Keywords:rice, narrow land, rice, technical efficiency, technical inefficiencyABSTRAKPeningkatan produksi padi terkendala dengan semakin berkurangnya luas lahan pertanian, maka diupayakan dengan peningkatan produktivitas melalui efisiensi. Sebagian besar penguasaan lahan petani di pulau Jawa merupakan lahan sempit (luas kurang dari 0,5 ha). Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui tingkat efisiensi teknis, alokatif dan ekonomi,  dan 2) mengetahui sumber-sumber inefisiensi teknis usahatani padi pada lahan sempit di Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Penentuan lokasi penelitian secara purposive pada lokasi yang skala usahataninya kecil (lahan sempit <0,5 ha). Penentuan sampel petani dengan metode sampling jenuh sebanyak 72 petani. Metode analisis menggunakan model fungsi produksi stochastic dengan program frontier 4.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh meningkatkan produksi yakni luas lahan dan jumlah penggunaan pestisida, sedangkan yang berpengaruh menurunkan produksi yakni jumlah benih. Rata-rata tingkat efisiensi petani sebesar 0,73. Sebanyak 63,89% petani di lokasi penelitian sudah efisien secara teknis  (tingkat efisiensi teknis >0,70). Sumber-sumber inefisiensi teknis yakni pendidikan, pengalaman, jumlah anggota keluarga produktif, dan jumlah persil (petak lahan). Jumlah anggota keluarga usia produktif dan jumlah persil akan meningkatkan efisiensi teknis. Variabel yang berpengaruh meminimumkan biaya produksi adalah jumlah produksi, harga pupuk NPK phonska, pupuk organik, dan upah tenaga kerja.  Kata kunci: padi, efisiensi teknis, inefisiensi teknis, lahan sempit 

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue