cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PENGKAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN MANISAN MANGGA KERING DI KABUPATEN INDRAMAYU Histifarina D; Deliana P. Agriawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n2.2009.p%p

Abstract

The Assessment of Technonological Application of Dried Sweet Mango in Indramayu Regency. Mango is one of the horticulture commodities that are seasonal and perishable. To increase the added value and lengthen the storage period as well as to be consumed out of season, mango can be preserved by the use of drying and sugar addition technology. The objective of the assessment is to increase the value of mango fruit by dried mango processing. This assessment was conducted from May 2006 until December 2006 in Kasmaran Village, Widasari District Indramayu Regency by using four mango varieties i.e. Golek, Harumanis, Cengkir and Beruk with raping rate > 80% in collaboration with farmer’s group of Bunga Mawar. The study was carried out by using descriptive method where the four mango varieties were weighed, skimmed, sliced then mixed with sugar and dried. Three major parameters used included physical properties (size, color, others materials and texture), chemical properties (water content, ash content, vitamin C content, sugar content and sulphite residues) and organoleptic properties (color, taste, aromatic, texture and appearance) were measured and the feasibility study was completed. The results showed that dried mango process gave the R/C value 1.65 and B/C value 0.65 and the quality of dried mango resulted from this assessment met the requirement of LITC (Landcaster International Trade Company) USA standard. This means that the fruit has the same physical-chemical characteristics as standard such as color, texture, water content, ash content and sulphite residue, while Beruk mango provided the highest preferences with score > 4 for all parameters.Buah mangga merupakan salah satu jenis komoditas hortikultura yang bersifat musiman dan tergolong perishable (mudah rusak). Untuk meningkatkan nilai tambah buah mangga dan memperpanjang daya simpannya serta dapat dikonsumsi di luar musim, buah mangga dapat diawetkan dengan menggunakan teknologi pengeringan dan penambahan gula. Tujuan pengkajian adalah untuk meningkatkan nilai tambah buah mangga melalui penerapan teknologi pengolahan manisan mangga kering. Pengkajian dimulai dari Mei 2006 hinggga Desember 2006 di Desa Kasmaran, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu dengan menggunakan empat jenis mangga yang dipanen pada tingkat kematangan > 80% dengan melibatkan kelompok tani Usaha Bersama Bunga Mawar. Metode pendekatan yang dilakukan yaitu dengan metode deskriptif. Empat jenis mangga yaitu golek, harumanis, cengkir dan beruk ditimbang, dikupas, diiris, ditambah gula dan dikeringkan. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik (ukuran, warna, benda asing dan tekstur), sifat kimia (kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, kadar gula total dan residu sulfit), sifat organoleptik (warna, rasa, aroma, tekstur dan penampilan) dan analisis kelayakan usaha. Hasil pengkajian, diperoleh nilai R/C sebesar 1,65 atau B/C sebesar 0,65 dengan kualitas manisan buah sesuai standar produk manisan mangga yang dikeluarkan oleh LITCO (Landcaster International Trade Company) USA yaitu dari segi warna, tekstur, kadar air, kadar abu dan residu sulfit, sedangkan dari segi organoleptik mangga jenis beruk memberikan penilaian tingkat kesukaan tertinggi dengan skor > 4 untuk semua parameter.
KAJIAN USAHATANI PEMBENIHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI DESA SUKASIRNA KECAMATAN SUKALUYU, KABUPATEN CIANJUR Sri Redjeki; Mayunar ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n2.2003.p%p

Abstract

An assessment on common carp breeding farm was conducted in Sukasirna and it involved 8 farmers inwhich 2 farmers used Wildan and local strains and the other 6 farmers applied local strain only. The aspectsassessed were spawning, fry rearing, and costs and return analysis. Spawning of Wildan strain used 6 female (30kgs) and 60 male (30 kgs) brood stocks, while that of local used females (10-91 kgs) and males (9-91 kgs) each of3-29 and 15-148 ind, respectively. Spawning was conducted in concrete-cemented ponds and the total eggapparatus was 40 to 420 units. Fry rearing was carried out in soil ponds with areas between 1,000 to 6,000 m2 and800 to 2,200 m2 for local and Wildan strains, respectively. Production of fry rearing ranged from 5 to 190 liters percycle for local strain and 14 to 63 liters for Wildan strain. Net profits of fry rearing for 18 days of local and Wildanstrains were each of Rp 16,000 to Rp 3,150,000 and from Rp 233,000 to Rp 1,057,000, respectively.Key words: common carp, breeding, local strain, Wildan strain. Pengkajian usahatani pembenihan ikan mas dilakukan di Desa Sukasirna pada 8 orang petani, dimana 2orang menggunakan ikan mas strain Wildan dan lokal sedangkan 6 orang menggunakan strain lokal. Aspek kajianmeliputi pemijahan, pemeliharaan kebul dan analisa usaha. Pemijahan ikan mas strain Wildan menggunakaninduk betina sebanyak 6 ekor (30 kg) dan jantan 60 ekor (30 kg), sedangkan strain lokal menggunakan indukbetina antara 3-29 ekor (10-91 kg) dan jantan 15-148 ekor (9-91 kg). Pemijahan dilakukan pada bak semen dansebagai tempat penempelan telur digunakan kakaban sebanyak 40-420 unit. Selanjutnya pemeliharaan kebuldilakukan pada kolam tanah dengan kisaran luas 1.000-6.000 m2 (strain lokal ) dan 800-2200 m2 (strain Wildan).Produksi kebul strain lokal berkisar antara 5-190 liter/siklus, sedangkan strain Wildan 14-63 liter/siklus.Keuntungan bersih usaha pemeliharaan kebul umur 18 hari berkisar Rp.16.000 - 3.150.000/siklus (strain lokal)dan Rp.233.000 - 1.057.000/siklus (strain Wildan).Kata kunci: ikan mas, pembenihan, strain lokal dan Strain Wildan.
UJI ALAT TANAM DAN PEMUPUK LAHAN KERING DI KECAMATAN CEMPAGA KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR KALIMANTAN TENGAH Rustan Massinai; Ary Hartono; Rukayah ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

Assessment of machinery and equipment for seed planting and 1st fertilizing was conducted in Pundu,Cempaga District, Kotawaringin Timur regency. Method of assessment used on farm research and area of each crop isone hectare consisting of two cooperating farmers. All of the three crops were planted in wet season (October). Boththe equipment and machinery were operated using four wheel tractor of more than >40 Horse Power (HP) modified byBalai Besar Alat dan Mesin Pertanian, Serpong. Aims of the assessment were to determine the performance ofagricultural machinery for seed planting of rice, maize, and soybean. Performance test of seed planting machinesconsisted of three replications. Results showed that use of planting and fertilizing machines is equal to 2 hours/hectarewith 2 operators. Human labour used in each crop is not equal and it depended on cropping spaces. Labour used forfarming practice of rice, maize, and soybean was 450 hours/ha, 150 hours/ha, and 300 hours/ha, respectively.Performance of equipment and machinery for rice cultivation was 4 ha or 2 ha/1 man day (MD) per day using 2operators. It was equal to 112,5 MD using human labour and it can save the cost of labour as many as Rp 536.938.Key words : planting machine, dry-land, rice, maize, soybeanPengkajian alat dan mesin penanam benih dan pemupukan pertama dilaksanakan di lahan kering desa Pundu,kecamatan Cempaga, kabupaten Kotawaringin Timur. Kegiatan ini dilakukan secara on farm research dengan luasmasing-masing 1ha dan melibatkan 2 petani kooperator untuk setiap komoditas. Ketiga komoditas ditanam padamusim hujan (Oktober). Alat tanam dan pemupuk yang telah dikaji adalah alat tanam benih dan pemupuk yang ditarikmenggunakan traktor roda empat >40 HP hasil modifikasi dari Balai Besar Alat dan Mesin Pertanian Serpong. Tujuandari kegiatan pengkajian ini adalah untuk mengetahui kinerja alat dan mesin pertanian sebagai alat tanam benih padi,kedelai, dan jagung, serta mengetahui prospek dari alat dan mesin penanam benih dan pemupuk tersebut. Metode yangdigunakan adalah metode uji kinerja atau fungsional alat tanam benih dan pemupuk dengan 3 ulangan. Untukmengetahui tingkat kelayakan penggunaan alat tanam dan pemupukan, digunakan analisis finansial usahatani(MBCR). Hasil pengujian menunjukkan bahwa dengan penggunaan alat mesin tanam kapasitas kerja lapang untuktanam dan pemupukan pertama pada masing-masing komoditiadalah sama yaitu dilakukan dalam 2 jam/ha dengan 2orang operator. Penggunaan tenaga manusia tidak sama pada masing-masing komoditas tergantung jarak tanam yangdigunakan, yaitu tanaman padi waktu yang digunakan untuk tanam dan pemupukan pertama adalah 450 jam/ha,jagung 150 jam/ha, dan kedelai 300 jam /ha. Kinerja alat untuk tanaman padi dalam 1 hari dengan 2 orang operatoradalah 4 ha atau 2 ha/1 HOK sama dengan 112,5 HOK dengan tenaga manusia dan dapat menghemat biaya tenagakerja Rp. 536.938. Respon petani dan pemerintah daerah cukup positif dalam kegiatan pengkajian ini. Diharapkandengan alat tanam dan pemupuk ini pemerintah dapat membantu petani dalam permasalahan tenaga kerja, perluasanareal tanam untuk peningkatan peroduksi dan meningkatkan pendapatan petani.Kata Kunci : alat tanam, lahan kering, padi, jagung, kedelai
KAJIAN PENGGUNAAN INSEKTISIDA NABATI TERHADAP ULAT JENGKAL (Hyposidra talaca) PADA TANAMAN TEH DI KABUPATEN BANDUNG Agus Nurawan; Yati Haryati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 3 (2010): November 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n3.2010.p%p

Abstract

Effect of Bio Insecticides to Caterpillar (Hyposidra talaca) at Tea Plant in Bandung Regency.The caterpillar (Hyposidra talaca) is one of limitation factor concerning productivity in tea plantation, this isthe plant pest of caterpillar attack the plant, including pest will attack tea shoots, young and old leaves. The pestattack begins from seedling through maturity, and commonly occur in productive plants and this happen in anew trim plants with a serious invasion the plants wills die. The assessment of the application of bio pesticidefor controlling the caterpillar was conducted at farmer area in Cikalong village, Cikalongwetan subdistrict on2006. The above assessment used synthetic pesticide, with 3 treatment bio pesticide, with one synthetic pesticideand 3 replication. Parameter being observed were caterpillar larva population, pest intensity attack and farmercost analysis with the above different treatment. The study is aimed at to knows effectiveness bio-insecticide,shoot productivity of tea, and farming analysis. The result of this assessment showed that, the nimba treatment,extract the soursop seed, toona, insecticide able to decrease the intensity invasion up to the seventh observationi.e. 0.00%, 1.50%, 0.00%, 0.00% and 0.00%. Optimum yields were achieved from insecticide treatment of 5,460kg/ha/70 days, followed by toona 5,250 kg/ha/70 days, w, soursop 4,207 kg/ha/70 days, nimba 3,423 kg/ha/70days, while the control point was only 1,463 kg/ha/70 days. Toona treatment i.e. Rp.4,380,387 with the B/C2,37. Bio pesticide suren was the best and give high income. The recommendation of this assessment, that usedbioinsecticide suren leaf extract dose 10 ml/l with interval 10 day on tea was effective and give high income.Key words : Bio insecticide, tea, catterpillarUlat jengkal (Hyposidra talaca) merupakan faktor pembatas dalam budidaya teh, hama ini dapat menyerangpucuk, daun muda dan daun tua. Serangannya sejak tanaman dalam persemaian hingga tanaman tua, umumnyapada tanaman yang produktif, dan bila menyerang tanaman yang baru dipangkas pada serangan berat tanamanakan mengalami kematian. Pengkajian dilakukan di lahan petani Desa Cikalong, Kecamatan Cikalongwetan padatahun 2006, dengan menggunakan metode demonstrasi plot dengan 3 perlakuan insektisida nabati, 1 pestisidasintetik dan 1 kontrol dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati meliputi populasi ulat jengkal, intensitas seranganhama, dan analisis usahatani. Tujuan pengkajian untuk mengetahui efektifitas insektisida nabati terhadap intensitasserangan ulat jengkal, produksi pucuk teh segar dan analisa usahatani masing-masing perlakuan. Hasil pengkajianmenunjukkan bahwa perlakuan nimba, ekstrak biji sirsak, suren, insektisida dapat menurunkan intensitas seranganmasing-masing 0,00%, 1,50%, 0,00% dan 0,00. Produksi tertinggi diperoleh dari perlakuan Insektisida yaitu5.460 kg/ha/70 hari, diikuti oleh suren 5.250 kg/ha/70 hari, sirsak 4.207 kg/ha/70 hari, nimba 3.423 kg/ha/70 hari,sedangkan kontrol hanya 1.463 kg/ha/70 hari. Perlakuan suren menunjukkan pendapatan tertinggi Rp.4.380.387,-. dengan B/C 2,37. Insektisida nabati suren merupakan insektisida terbaik dalam mengendalikan ulat jengkal(H.talaca). Rekomendasi dari pengkajian ini yaitu penggunaan insektisida nabati yang berasal dari ekstrak daunsuren dosis 10 ml/l dengan interval 10 hari untuk tanaman teh memberikan hasil dan pendapatan yang terbaik.Kata kunci : Insektisida nabati, teh, ulat jengkal
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI LADA Azri ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

The objective of this experiment was determined the effect of three analysis and introduction on growth andpepper production. A randomized block design consist of three treatment with five replication. The experimentconducted on January 2000 to Desember 2002 at Sinar Tebudak, Sub district Sanggau Ledo, district Bengkayang,West Kalimantan. The treatments were three dosage fertilizers namely : farmer (215 kg urea + 322.5 kg SP-36 + 322.5kg KCl), 2). Soil analysis (355.56 kg urea + 380 kg SP-36 + 388.96 kg KCl) dan 3). Introduction (800 kg urea + 400kg SP-36 + 400 kg KCl). The result showed that the treatment of fertilizer soil analysis had a significant effect ongrowth and pepper production (0.29 ton/ha). Increasing fertilizers were not increase pepper production. The treatmentssoil analysis efficiency using fertilizers with introduction are 55.56 percent urea, 5 percent P and 2.76 percent K.Key words : fertilizer, soil analysis, growth, production, pipper nigrumPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan introduksi, pola petani dan analisis tanahterhadap pertumbuhan dan produksi tanaman lada. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2000 sampaiDesember 2002 yang berlokasi di Desa Sinar Tebudak, Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang. Penelitianadaptif menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima kali ulangan. Adapun perlakuan yang akanditeliti adalah : 1). Pemupukan menurut petani (215 kg urea + 322,5 kg SP-36 + 322,5 kg KCl), 2). Pemupukananalisis tanah (355,56 kg urea + 380 kg SP-36 + 388,96 kg KCl) dan 3). Pemupukan introduksi (800 kg urea + 400 kgSP-36 + 400 kg KCl). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan berdasarkan hasil analisis tanah nyatameningkatkan pertumbuhan dan produksi hasil dibanding dengan pemupukan introduksi dan cara petani.Peningkatan pupuk tidak dapat meningkatkan produksi yang lebih tinggi. Pemupukan hasil analisis tanah mampumeningkatkan hasil lada sebesar 0,29 ton/hektar, disisi lain pemupukan analisis tanah menghemat pemakaian pupuksebesar 55,56 persen urea, 5 persen pupuk P dan 2,76 persen pupuk K dibanding dengan introduksiKata kunci : pemupukan, analisis tanah, pertumbuhan, produksi, pipper nigrum
PENERAPAN MODEL PENGELOLAAN TANAMAN DAN SUMBERDAYA TERPADU PADI SAWAH IRIGASI DI KABUPATEN SUMEDANG Bebet Nurbaeti; Siti Lia Mulijanti; Taemi Fahmi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

management by using straw or other organic matter as well as thresher machine, and 4) the development of strategy or the socialization of ICRM is done by conducting plot demonstration units in the field by extension workers in collaboration with local government Key words: Integrated crop management, The implementation of Integrated Crop and Resource Management (ICM) on Paddy in Sumedang District. Synergizes some technology components in ICM can increase yield and production input efficiency as well as to control environmental conservation. The assessment of ICM application on paddy was conducted at 2 places i.e. Cibeureum Wetan and Cibeureum Kulon villages, Cimalaka Sub District, Sumedang District during dry season 2007. In each village there were 20 farmers covering 7.5 ha areas of land. The ICM components consists of: 1) the use of modem and high yielding varieties, 2) the use of certified seeds, 3) the use of balanced nutrient on specific site, 4) the use of organic fertilization, 5) the arrangement of Legowo or Tegel planting system, 6) the planting of young seed (10-17 das) with 1-3 seedlings per hill, 7) the water management, 8) the integrated pest management, and 9) the use of thresher machine. The objectives of this assessment were to study the performance of ICM components, the improvement chance in the field level, the adoption level of users, and the development of strategy. The results showed that: 1) some farmers have not fully implemented the ICM components due to the uncertainty of new ICM technology components, especially the legowo planting system, 2) the implementation of ICM was able to increase yield to15% and production input efficiency by 35­45% (using of seedling) and by 30-66% (using of fertilizer), 3) the implementation chance of ICM at farmer level can be increased through the improvement of water adoption, efficiency Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) padi sawah merupakan strategi pengelolaan tanaman padi yang mensinergiskan berbagai komponen teknologi yang dapat meningkatkan hasil dan efisiensi masukan produksi serta menjaga kelestarian lingkungan. Pengkajian penerapan model PTT padi sawah telah dilaksanakan di tiga kelompoktani masing-masing di Desa Cibeureum Wetan dan Cibeureum Kulon, Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang, pada MK I dan MK II tahun 2007 dengan jumlah petani peserta masing­masing 20 orang dengan luas areal penanaman 7,5 ha. Komponen PTT yang dikaji mencakup: 1) penggunaan varietas unggul barn berdaya hasil tinggi, 2) penggunaan benih bersertifikat, 3) penggunaan pupuk berimbang spesifik lokasi, 4) penggunaan bahan organik, 5) pengaturan tanam legowo atau tegel, 6) penanaman bibit muda (10-17 hss) dengan 1-3 bibit per lubang, 7) pengaturan pengairan, 8) pengendalian OPT secara terpadu, dan 9) penggunaan alat perontok gabah mekanis (mesin). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui kinerja komponen teknologi, peluang perbaikan penerapan ditingkat lapangan, tingkat adopsi oleh pengguna serta strategi pengembangannya. Hasil yang dicapai adalah: 1) sebagian petani belum sepenuhnya melaksanakan PTT sesuai dengan anjuran yang disebabkan petani masih ragu untuk menerima teknologi barn, terutama dalam cara tanam legowo, 2) penerapan PTT yang dilakukan sesuai anjuran dapat meningkatkan hasil panen (GKP) 15 % dan efisiensi masukan produksi terutama dalam penggunaan benih dan pupuk masing-masing 35-40% dan 30­66% bila dibandingkan dengan teknologi petani, 3) peluang penerapan ditingkat pengguna dapat ditingkatkan melalui perbaikan aspek teknologi pengaturan air, penggunaan jerami padi atau bahan organik lain dan penggunaan alat perontok gabah, dan 4) strategi pengembangan atau pemasyarakatan model PTT tersebut adalah dengan melaksanakan unit-unit percontohan di wilayah kerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Kata kunci: Pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu, adopsi, dan efisiensi
KAJIAN RAKITAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BAWANG DAUN (Allium fistulosum L) PADA LAHAN DATARAN TINGGI DI BANDUNG, JAWA BARAT Nana Sutrisna; Iskandar Ishaq; S. Suwalan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n1.2003.p%p

Abstract

Welsh onion is prosperous to grow intensively to its increasing demand for either domestic or exportmarkets. Productivity at farm level, however, is still low due to unavailable appropriate cultural practice. Thisstudy aimed to know the technical and finacila performances of application of improved cultural practice ofwelsh onion carried in Alamendah village, Rancabali subdistrict, Bandung district with elevation of 1,400 mabove sea level on 2001 dry season (April-June 2001). The method used was “On-Farm Client OrientedAdaptive Research” (OFCOAR). Experimental plots were divide into two treatments, i.e., improved culturalpractice of welsh onion (T1) and local cultural practice (T2) with replications of 8 farmers. The results showedthat improved cultural practice significantly affected crops’ height, total shoots, and yields. The yield increasedby 6.6 tons/ha or 78.6 percents, and net profits increased by Rp 3,865,525 or more than 129 percents withparticipating farmers’ B/C ratio of 1.34 and that of non participating farmers of 0.80. The value of IBCR of 2.73indicated that addition of one unit of input could increase wells onion farm business by 2.73 times.Key words : cultural practice, welsh onion, highland farmingBawang daun memiliki prospek yang cukup baik seiring dengan peningkatan kebutuhan permintaankonsumen domestik maupun untuk tujuan ekspor. Namun demikian, pada saat ini produktivitas rata-rata ditingkat petani masih relatif rendah akibat belum tersedianya rakitan budidaya yang optimal. Pengkajian inibertujuan mengetahui keragaan teknis dan finansial penerapan perbaikan rakitan teknologi budidaya bawangdaun yang dilaksanakan di desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, dengan tinggi tempat1.400 m dari permukaan laut (dpl) pada MK 2001 (April-Juni 2001). Pendekatan dilakukan berdasarkan “On-Farm Client Oriented Adaptive Research” (OFCOAR). Rancangan percobaan petak dibagi menjadi duaperlakuan, yaitu (T1) perbaikan rakitan teknologi budidaya bawang daun dan (T2) teknologi petani setempatyang diulang pada 8 orang petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan perbaikan teknologibudidaya memperlihatkan perbedaan yang sangat nyata pada tinggi tanaman, jumlah tunas, dan hasil bawangdaun. Hasil panen meningkat 6,6 ton/ha atau 78,6 persen dan pendapatan bersih meningkat sebesar Rp.3.865.525,00 atau lebih dari 129 persen dengan BC ratio 1,34 pada petani kooperator dan 0,80 pada petani nonkooperator.Nilai IBCR 2,73 berarti bahwa penambahan satu satuan input dapat meningkatkan pendapatanusahatani bawang daun sebesar 2,73 kali.Kata kunci : teknologi budidaya, bawang daun, usahatani dataran tinggi
KAJIAN DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA Zulkifli Mantau
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n1.2011.p%p

Abstract

Study of Income Distribution of Corn Farmers in Bolaang Mongondow District, North Sulawesi. The objectives of the study were: 1). To study the income distribution pattern in Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolayan and Lolak Districts of Bolaang Mongondow regency, and 2). To obtain the Gini ratio database of household incomes in those five districts. The study was conducted at five districts of Bolaang Mongondow Rregency, Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolak and Lolayan District. The study used Gini Ratio analysis (Gini Coefficient) and Lorenz curve to measure the equality income (income distribution) among farmers and villages in district. It also used the financial analysis of maize farming to gain the net income and eligibility of the effort. The education level of respondent was 49% passing elementary school, influencing their farming to support the prosperity of farmer’s household. This correlated with income level and its distribution among farmers in the district. By the Gini Ratio Analysis it showed that Evenness lower income levels had occurred in three districts namely East Bolaang, Lolayan and Lolak with the value of the Gini Ratio between 0.4 – 0.5 (> 0.3). While in two other districts (Poigar and Bolaang) indicated the level of evenness was high enough, which income 0.252 and 0.266 (<0.3), respectively. Based on the financial analysis, it was found that net profit was Rp.1,692,554/ year with R/C was 1.23 (considerably feasible).Key words : Gini ratio, income distribution, financial analysis, maize farmingTujuan pengkajian ini adalah untuk: 1) Mengetahui pola distribusi pendapatan di Kecamatan Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolayan dan Lolak  Kab. Bolaang Mongondow, dan 2). Memperoleh basis data Indeks Gini pendapatan rumah tangga tani pada lima kecamatan tersebut. Pengkajian ini mengambil lokasi pada lima kecamatan di Kab. Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara, yaitu Kecamatan Poigar, Bolaang, Bolaang Timur, Lolak dan Lolayan. Untuk mengukur tingkat pemerataan pendapatan (distribusi pendapatan) antar individu dan antar desa per kecamatan, menggunakan analisis Gini Ratio (koefisien Gini) dan Kurva Lorenz. Selain itu dilakukan pula analisis finansial usahatani jagung untuk mengetahui pendapatan usahatani jagung serta kelayakan usahataninya. Tingkat pendidikan responden yang sebagian besar hanya lulus SD (49%) mempengaruhi pemilihan alternatif usaha untuk menunjang tingkat kesejahteraan rumah tangga tani. Hal ini berhubungan erat dengan tingkat pendapatan dan distribusi pendapatan antar individu per kecamatan. Dari hasil perhitungan Gini Ratio diperoleh tingkat kemerataan pendapatan yang rendah terjadi di tiga kecamatan yaitu Bolaang Timur, Lolayan dan Lolak dengan nilai Gini Ratio antara 0,4–0,5 (> 0,3). Sedangkan pada dua kecamatan lainnya (Poigar dan Bolaang) diindikasikan tingkat kemerataan pendapatan yang cukup tinggi yaitu masing-masing 0,252 dan 0,266 (< 0,3). Dari hasil analisis finansial usahatani jagung diperoleh pendapatan bersih (net profit) per tahunnya sebesar Rp.1.692.554 dengan nilai R/C sebesar 1,23 (dikategorikan layak).
PENGKAJIAN PEMANFAATAN MESIN PERONTOK GABAH (THRESHER) DAN MESIN PENGERING GABAH (DRYER) PADI SAWAH DI JAWA BARAT Agus Ruswandi; Trisna Subarna; Saeful Bachrein
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n2.2010.p%p

Abstract

Assessment on Utilization of Grain Threshers and Dryer Machine for Lowland Rice in WestJava. The main problem in rice production is high loss (more than 20%) due to limited implementation ofpost harvest technology, especially during rice trashing. The objectives of study are to evaluate the existingperformance and feasibility of thresher and dryer utilization in lowland rice farming system Assessment onthresher and dryer utilization in lowland rice in West Java. The study was conducted from January to December,2008 in the districts of Karawang, Indramayu, Bandung, Cianjur, Ciamis and Garut. The study was conductedthrough two approaches, namely: Participatery Rural Appraisal and survey. Results of the study showedthat: (1) Rental business of thresher and dryer were relatively profitable as indicated by the value of R/Cof greater than one (1.52 for thresher and 1.9 for dryer), pay back period of 2.42 years for thresher and 5,84years for dryer (less than its economic value of 5 years and 7 years, respectively), and break event point of122,2t/year for thresher and 261,52 t/years (less than its capacity of 50 and 300 t/year, respectively); (2) Thekind of thresher which suitable to be developed in West Java was characterized by not heavy so its very easyto operate under various lowland rice conditions, easily maintenance as well as produced by local industry.Key words: Thresher, dryer, performance, feasibility Salah satu masalah penting dalam produksi padi adalah tingkat kehilangan hasil panen yang masih tinggi, sekitar20%, yang salah satunya disebabkan oleh masih terbatasnya penerapan teknologi pada pascapanen, terutama padaperontokan padi. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa penggunaan pedal thresher dan power thresherdapat menekan kehilangan hasil dan dapat memperbaiki kualitas gabah. Tujuan pengkajian adalah mengevaluasikeragaan dan kelayakan penggunaan thresher dan dryer pada padi sawah di Jawa Barat. Pengkajian dilaksanakanpada Januari sampai Desember 2008 di enam kabupaten, yaitu: Karawang, Indramayu, Bandung, Cianjur, Ciamis,dan Garut, dilaksanakan dengan dua pendekatan, yaitu Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif dan wawancara.Data dianalisis secara deskriptif dan analisa finansial berupa Net Revenue Cost ratio (Net R/C), Titik Impas, dan PayBack Period (PBP). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa usaha jasa power thresher dan dryer layak diusahakankarena masing-masing memberikan nilai Revenue-Cost Rasio (R/C) 1,52 dan 1,88; nilai Pay Back Period (PBP)2,42 tahun dan 5,84 tahun (lebih rendah dari nilai ekonomisnya yaitu 5 tahun dan 7 tahun), dan Titik Impas 122,2dan 261,5 t/th (lebih rendah dari kapasitasnya yaitu 50 t/th dan 300 t/th). Jenis thresher yang sesuai dikembangkandi Jawa Barat adalah dengan karakteristik yang relatif ringan sehingga mudah melintasi berbagai medan sepertipematang sawah dan petakan kecil, perbaikan dan perawatan mudah, serta mudah diproduksi oleh pengrajin.Kata kunci: Thresher, dryer, keragaan, kelayakan usaha
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI KAPAS TRANSGENIK DI SULAWESI SELATAN Amiruddin Syam
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

This study aimed at assessing financial feasibility of transgenic (Bollgard) and non-transgenic cotton farmingsystems in south Sulawesi in 2001. Survey method was used in this study through interview of 75 farmers consistingof 25 transgenic and 10 non-transgenic cotton farmers in Bulukumba Regency (dry land), 30 transgenic farmers inBantaeng Regency (dry land), and 10 transgenic cotton farmers in Gowa Regency (rain fed lowland). Both transgenicand non-transgenic cotton farming systems were feasible financially. However, profits of transgenic farming systemwas higher than that of non transgenic. Gross B/C ratios of transgenic and non-transgenic cotton farming systems inBulukumba Regency were each of 2.93 and 1.39. Meanwhile, gross B/C ratios of transgenic cotton farming systemsin Bantaeng and Gowa Regencies were 2.69 and 3.67, respectively.Key words: farming system, transgenic, financial analysis, South Sulawesi.Untuk melihat kelayakan finansial usahatani kapas transgenik (Bollgard) dan kapas nontransgenik diSulawesi Selatan telah dilakukan penelitian di Kabupaten Bulukumba, Bantaeng, dan Gowa pada musim tanam 2001.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan finansial usahatani kapas transgenik dannontransgenik. Metode yang digunakan adalah metode survai dan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) denganwawancara petani responden sebanyak 75 orang, terdiri atas petani kapas transgenik 25 orang dan 10 petani kapasnontransgenik (Kabupaten Bulukumba) yang diusahakan di lahan kering, 30 petani kapas transgenik (KabupatenBantaeng) yang diusahakan di lahan kering, dan 10 petani kapas transgenik (Kabupaten Gowa) yang diusahakan dilahan sawah tadah hujan. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani kapas transgenik dan nontransgenik di tigakabupaten contoh layak secara finansial. Akan tetapi keuntungan dari usahatani kapas transgenik lebih besar daripadausahatani kapas nontransgenik. Tingkat keuntungan yang dicapai petani kapas ditandai dengan nilai Gross B/C Ratioyaitu sebesar 2,93 petani kapas transgenik dan 1,39 petani kapas nontransgenik (Kabupaten Bulukumba). Sedangkannilai Gross B/C Ratio petani kapas transgenik di Kabupaten Bantaeng dan Gowa masing-masing sebesar 2,69 dan3,67.Kata kunci : sistem usahatani, transgenik, analisis finansial, Bollgard, Sulawesi Selatan

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue