cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA Plutella xylostella DENGAN INSEKTISIDA DAN AGENSIA HAYATI PADA KUBIS DI KABUPATEN KARO Loso Winarto; Darmawati Nazir
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

Plutella xylostella is the main pest of cabbage crops and it could cause harvest loss around 50 to 100 percentif no pesticides application. Most farmers in Karo District control the pest using various pesticides with highconcentration rates and short control interval that leads to high pesticide residual in cabbage crops and lowering exportcompetitiveness. The study was conducted in Karo District in 2001. P. xylostella was controlled using biologicalagents, namely Bacillus thuringiensis, Beauveria bassiana, farmers’ practice (using pesticides), control (no treatment).The assessment was carried out using demonstration plots. There were 18 participating farmers divided into 3 groups.Each group comprised 4,000 m2 of land including border plants and each group functioned as replication. Areas oftreatment plots were 650 m2 each, but those of control were 250 m2 each. Distance among treatment plots was 1.5meters, and distance between border and treatment plants was 1.5 meters. The results showed that B. thuringiensis, B.bassiana, and farmers’ practice could contain P. xylostella’s attack. Before treatments were carried out the populationof P. xylostella were 0.6, 0.8, and 0.6 larva per plant, and after treatments the population became 0 larva/plant.Population at control plots after treatment was 21.7 larva/plant. Leaves damage on 64 days after treatments was 0percent, while that of control was 74.35 percent. Yield of B. thuringiensis treatment was the highest (67,250 kg/ha),while those of B. bassiana and control were 66,000 kg/ha and 6,000 kg/ha, respectively. B. thuringiensis treatmentgained highest income of Rp 33,052,200 with B/C ratio of 2.36, followed by B. bassiana treatment (Rp 32.,128,800,and B/C ratio of 2.28), insecticides treatment (Rp 24,095.700, and B/C ratio of 1.39), and control (Rp 5,964,000, andB/C ratio of -0.59).Key words: cabbage, Plutella xylostella, Bacillis thuringiensis, Beauveria bassiana Dalam usahatani kubis masalah utama yang dihadapi petani adalah serangan hama. Salah satu hama utamakubis adalah Plutella xylostella. Serangan hama ini dapat mengakibatkan kehilangan hasil 50–100 persen apabila tidakdikendalikan. Pada umumnya petani Kabupaten Karo mengendalikan hama tersebut dengan menggunakan pestisidayang beraneka ragam dengan konsentrasi tinggi dan interval penyemprotan yang terlalu dekat, sehingga dapatmenimbulkan efek residu serta mengurangi harga saing ekspor. Untuk mengurangi adanya efek residu insektisida,maka BPTP Sumatra Utara telah melakukan pengkajian di Kabupaten Karo pada tahun 2001, mengenai pengendalianhama P. xylostella dengan agensia hayati menggunakan bakteri Bacillis thuringiensis, Beauveria bassiana, perlakuanpetani (insektisida ) dan kontrol (tanpa perlakuan). Pengkajian dilakukan dengan sistem demplot di lahan petani yangdiikuti 18 koperator, yang dibagi menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok seluas 4.000 m2 termasuk tanamanpinggiran, tiap kelompok sebagai ulangan. Luas petak tiap perlakuan 650 m2 , kecuali kontrol 250 m2 , jarak antarperlakuan 1,5 m, jarak tanaman pinggiran dengan perlakuan 1,5 m. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlakuanB. thuringiensis, B. bassiana dan perlakuan petani dapat menekan P. xylostella, sebelum aplikasi populasi larvamasing-masing mencapai 0,6 ; 0,8 ; dan 0,6 . Tetapi setelah aplikasi perlakuan yang ke 4 populasi larva P .xylostellamenjadi 0 larva/tanaman, perlakuan kontrol masih mencapai 21,7 larva/tanaman. Intensitas kerusakan daun saat 64hari setelah tanam (hst) masing–masing perlakuan 0 persen, kecuali perlakuan kontrol mencapai 74,35 persen.Produksi tertinggi terdapat pada perlakuan B. thuringiensis (67.250 kg/ha), B.bassiana (66.000 kg/ha), sedangkanperlakuan kontrol hanya mencapai 6.000 kg/ha. Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa pendapatan tertinggiadalah B.thuringiensis Rp 33.052.200 dengan B/C ratio 2,36 diikuti oleh B.bassiana Rp 32.128.800 dengan B/C ratio2,28; Insektisida Rp 24.095.70 dengan B/C 1,39 dan kontrol (tanpa perlakuan) Rp 5.964.000 dengan B/C ratio –0,59.Kata kunci : kubis, Plutella xylotella, Bacillus thuringiensis, Beauveria bassiana
KAJIAN KELAYAKAN EKONOMI RAKITAN TEKNOLOGI USAHATANI JAGUNG DI LAHAN GAMBUT Ishak Manti; Rachmat Hendayana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

This paper aims to assess feasibility of maize farming system on peat soil agroecosystem using hybrid maizeseed, spesific fertilizer application, and drainage. Assesment was conducted in 2002 in Sukasari village, Sukarajadistrict, South Bengkulu Province. Data were collected through a Participation Rural Appraisal (PRA) approach. Datawere analyzed using a partial budget analysis and the parameters were R/C, MBCR, BEP , and sensitivity analysis.The results indicated that (a) performance of maize farming system introduction in peat soil was better off than that ofexisting farmer technology, (b) introduced technology was able to increase maize yield by 2.5 point, i.e., 5.46 tons/hacompared with 2 tons/ha, (c) introduced technology could improve profit value added by Rp 1,598,000 per ha withMBCR of 3.1, (d) introduced technology had BEP less than 15 percent (of input price) and 25 percent (of outputprice), respectively, compared to existing technlogy. To accelerate technology innovation, it needs supply ofaffordable inputs close to the farm areas, direct supervision, and periodic monitoring.Key words: peat soil, zea mays, specific fertilizer application, economic feasibililityMakalah ini bertujuan membahas kelayakan ekonomi usahatani jagung di lahan gambut dengan inovasipenggunaan benih jagung hibrida, pemupukan khusus, dan pengaturan drainase. Pengkajian dilaksanakan pada tahun2002 di Desa Sukasari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bengkulu Selatan. Sumber data menggunakan data primeryang dikumpulkan dengan pendekatan PRA. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatifmenggunakan analisis anggaran parsial, dengan parameter ekonomi R/C, MBCR, TIP, TIH dilanjutkan dengananalisis sensitivitas. Hasil pengkajian menunjukkan : (a) Tampilan komponen hasil jagung pada introduksi teknologirelatif lebih baik dari pada pola petani, (b) Introduksi teknologi menghasilkan produktivitas jagung 2,5 kali lipat dariproduktivitas pola petani yakni 5,46 ton berbanding 2 ton/ha, (c) Penerapan paket teknologi usahatani jagung di lahangambut mampu meningkatkan tambahan keuntungan usahatani sebesar Rp 1598000/ha dengan nilai MBCR 3,1, (d)Survival technology usahatani jagung masih mampu bertahan dalam kondisi peningkatan harga input dan penurunanharga produk jagung dalam batas peningkatan harga input tidak lebih dari 15 persen dan penurunan harga produktidak lebih dari 25 persen. Untuk kelancaran penerapan inovasi teknologi, diperlukan dukungan sarana produksi dekatlokasi usahatani dengan harga yang terjangkau disertai pendampingan dan monitoring secara periodik.Kata kunci : lahan gambut, jagung, pemupukan spesifik, kelayakan ekonomi
ANALISIS NERACA KELEMBABAN TANAH AKIBAT PERUBAHAN LANDUSE DI SUB-DAERAH ALIRAN SUNGAI MASIEN KALIMANTAN TENGAH M. Anang Firmansyah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 3 (2010): November 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n3.2010.p%p

Abstract

Soil Moisture Balance Analysis Due to Land Use Change in Masien Sub –Wathershed, CentralKalimantan. Water availability is very important during dry months, because of low precipitation andevapotranspiration processes from soil surface and plants. The aim of this research was to predict the changeof soil moisture deficit and evapotranspiration, due to forest change to grass land use in Masien Sub-Watershedof Central Kalimantan. Analysis was based on monthly average precipitation and precipitation > 50% based ongamma distribution probability. Result of this study indicated that higher forest land had soil moisture deficit andactual evapotranspiration than after change to grass land use. The use of average precipitation is resulting lowsoil moisture deficit and evapotranspiration than precipitation > 50% based on gamma distribution probability.Keys words: Evapotranspiration, forest, Imperata cylindrica, Central Kalimantan. Ketersediaan air sangat penting terutama di musim kemarau, sebab pada musim tersebut curah hujan rendahdan juga terjadi proses evapotranspirasi dari permukaan tanah dan tanaman. Tujuan penelitian ini untuk memprediksiperubahan besarnya defisit air tanah dan evapotanspirasi akibat perubahan landuse, yaitu dari hutan menjadi lahan alangalang(Imperata cylindrica) di Sub-DAS (Daerah Aliran Sungai) Masien Kalimantan Tengah. Analisis didasarkanpada curah hujan rata-rata dan curah hujan berpeluang melampaui 50% berdasarkan peluang sebaran gamma. Hasilnyamenunjukkan bahwa landuse hutan mengalami defisit air tanah dan evapotranspirasi aktual lebih tinggi dibandingkansetelah landuse berubah menjadi alang-alang. Penggunaan curah hujan rata-rata menunjukkan defisit air tanahjauh lebih rendah dibandingkan penggunaan curah hujan melampaui 50% berdasarkan peluang distribusi gamma.Kata kunci: Evapotranspirasi, hutan, Imperata cylindrica, Kalimantan Tengah
APLIKASI QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DI INDUSTRI TEH HITAM ORTHODOX INDONESIA Rohayati Suprihatini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

Indonesian tea market share decreased from 10.3 percents of world tea export in 1993 to 6.4% in 2003 due tothe quality of Indonesian tea. The purposes of this study were understanding the quality position of Indonesianorthodox black tea, as well as, identifying the main efforts to increase the satisfaction level of Indonesian tea buyers.Quality Function Deployment (QFD) and Eickenrode weighting method were applied to analyze the evidents. Theresults show that quality position of Indonesian tea is less than the quality of Sri Lanka tea. However, two actionsshould be improved to increase the tea quality (beginning from first priority) namely (1) improvement of quality teashoot; and (2) improvement of rolling process.Key words : tea industry, quality, marketing techniques, processing, Indonesia Pangsa pasar teh Indonesia menurun dari 10,3 persen pada tahun 1993 menjadi hanya 6,4 persen dari totalekspor teh dunia pada tahun 2003 karena masalah mutu. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui posisi mutu teh hitamorthodox Indonesia dan mendapatkan strategi operasional untuk meningkatkan tingkat kepuasan para pembeli tehIndonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah Quality Function Deployment (QFD) dan PembobotanEickenrode. Hasil kajian menunjukkan bahwa posisi kualitas teh Indonesia ternyata masih lebih rendah dibandingkandengan kualitas teh Sri Lanka. Dua upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas teh Indonesia mulai dariprioritas utama adalah (1) peningkatkan kualitas pucuk daun teh, dan (2) perbaikan proses penggilingan.Kata kunci : industri teh, kualitas, teknik pemasaran, pengolahan, Indonesia
ANALISIS USAHATANI SISTEM TANAM DOUBLE ROW PADA TANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta) DI LAMPUNG Robet Asnawi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n1.2007.p%p

Abstract

The assessment of double row planting system of cassava was aimed at solving the low productivity of cassava due to the decrease of planting area in Lampung which was changed to palm oil, rubber, and cocoa as well as to fulfill the need of tapioca/cassava flour and bio-ethanol gas. The experiment was conducted at Natar Experimental Garden in South Lampung and on farmers' land in North Lampung from November 2004 to October 2005. The double row planting system treatment was a packet of technology that uses double row planting system with a distant between rows is 80 cm and 60 cm and a space within a row is 80 cm. The experiment used a UJ-5 variety in addition to the use of 200 kg of Urea, about 150 kg of SP-36 and around 100 kg of KCl with a 5 ton cattle-manure per ha. As a comparison, an observation was carried out on conventional technology where the planting is 70 x 80 cm in addition to the use of 75 kg Urea, 50 kg SP-36, 50 kg KCl and a UJ-5 variety. The results showed that the productivity of double row planting system produces as twice many as the traditional method, as shown by 60.24 ton/ha at Natar and 53.25 ton/ha in North Lampung compared to 28.45 ton/ha and 17.56 ton/ha respectively. It is increased more than 100% compared to farmers conventional planting system. In short, the• double row planting system is more feasible and profitable at R/C of 2.55 as compared to R/C of 1.65 in farmers' conventional planting system. Although with a decrease of price up to 20% occurs it would likely to proof that the double row planting system is still feasible and profitable. Key word: double row, farming system, produktivity, Manihot esculenta   Kajian sistem tanam double row pada tanaman ubikayu bertujuan untuk mengatasi rendahnya produktivitas ubikayu di Lampung, sebagai akibat dari menurunnya luas areal ubikayu menjadi kelapa sawit, karet, dan kakao serta untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tapioka dan bio-etanol. Kajian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan. Natar, Lampung Selatan dan lahan petani di Kecamatan Abung Semuli, Lampung Utara, mulai bulan Nopember 2004 sampai Oktober 2005. Penerapan paket teknologi sistem tanam double row yakni jarak antar barisan 80 cm dan 160 cm dengan jarak dalam barisan sama yakni 80 cm. Paket ini menggunakan varietas UJ-5 dan pemupukan 200 kg Urea/ha + 150 kg SP36/ha + 100 kg KCl/ha + 5 ton pupuk kandang/ha. Sebagai pembanding dilakukan pengamatan terhadap ubikayu yang umum dilakukan petani yakni jarak tanam 70 x 80 cm, pupuk 75 kg Urea/ha + 50 kg SP36 + 50 kg KCl serta varietas UJ-5. Hasil kajian menunjukkan bahwa produktivitas ubikayu dengan teknologi petani menghasilkan 28,45 ton/ha di KP Natar dan 17,56 ton/ha di Lampung Utara, sedangkan sistem tanam double row adalah 60,24 ton/ha di KP Natar dan 53,52 ton/ha pada lahan petani di Lampung Utara atau terjadi peningkatan produktivitas lebih dari 100%. Usahatani ubikayu dengan sistem tanam double row kompetitif dan layak diusahakan dengan nilai R/C 2,55, sedangkan pada cara petani memiliki nilai R/C 1,65. Walaupun terjadi penurunan harga jual ubikayu sampai 20%, sistem tanam double row masih layak dan menguntungkan. Kata Rand: double row, usahatani, produktivitas, Manihot esculenta
PEMBERDAYAAN PETANI LAHAN SAWAH MELALUI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI DALAM PERSPEKTIF CORPORATE FARMING DI JAWA TIMUR F. Kasijadi; A. Suryadi; Suwono ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n2.2003.p%p

Abstract

Most of lowland rice farms in East Java are small scales and managed individually. It leads to diverseproductivity, economically inefficient, and less competitive. An assessment was conducted in wet season2000/2001 with its objective of finding farmers empowerment model through the “Corporate Farming” model in aspecific location in accordance with the agreement of farmers’ groups. The study involved two farmers’ groups ofSido Mukti and Sido Makmur in Bintoyo village, Padas sub district, Ngawi district, in an irrigated land area of 100hectares. The control was Marsudi Tani farmers’ group in the same district. Results showed the farmers could notaccept “Corporate Farming” model, especially in centralized land management and land consolidation. Around 60percent of the farmers rejected the centralized land management even though they were the share holders.Appropriate farmers empowerment was the “Cooperative Farming” model in which farm inputs management andproduct marketing were handled through corporation pattern. The “Cooperative Farming” was able to lessen inputprice, decrease minimal productivity to reach break even point between 5 to 15 percent. Rice competitivenessimproved due to productivity increase by 5 to 37 percent, net profit rise by 14 to 64 percent, and highercompetitive advantage of 7 to 22 percent.Key words: farmers empowerment, cooperative farming, lowland rice farmingKegiatan pertanian lahan sawah di Jawa Timur didominasi oleh usaha skala sempit dan dikelola secaraperorangan. Hal ini menyebabkan produktivitas beragam dan secara ekonomis kurang efisien, sehingga daya sainghasil rendah. Oleh karena itu pada musim hujan 2000/2001dilakukan pengkajian dengan tujuan memperolehmodel pemberdayaan petani melalui “Corporate Farming” spesifik lokasi sesuai kesepakatan kelompok tani.Pengkajian dilaksanakan pada kelompok tani Sido Mukti dan Sido Makmur desa Bintoyo, Kecamatan Padas,Kabupaten Ngawi dengan hamparan sawah irigasi seluas 100 ha. Sebagai pembanding digunakan kelompok taniMarsudi Tani pada kecamatan yang sama. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pemberdayaan petani melaluimodel “Corporate Farming” belum dapat diterima petani, terutama penyerahan pengelolaan lahan dan konsolidasilahan. Sekitar 60 persen petani tidak bersedia lahan usahanya dikelola dalam satu manajemen dan petani sebagaipemegang saham. Pemberdayaan petani yang sesuai dan dapat diterima petani adalah model “CooperativeFarming”, yaitu pengelolaan sarana produksi dan pemasaran secara korporasi. Penerapan model “CooperativeFarming” mampu menekan harga sarana produksi, menurunkan produktivitas minimal untuk mencapai titik impas5–15 persen, dan dapat meningkatkan daya saing hasil padi, karena dapat meningkatkan produktivitas 5 – 37persen, meningkatkan keuntungan bersih 14 – 64 persen dan keunggulan kompetitif lebih tinggi 7 – 22 persen.Kata kunci : pemberdayaan petani, usahatani kooperatif, usahatani padi sawah
KAJIAN KUALITAS DADIH SUSU KERBAU DI DALAM TABUNG BAMBU DAN TABUNG PLASTIK Dwi Sisriyenni; Yayu Zurriyati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

Assessment on fermented buffalo’s milk (dadih) was conducted in Muaro Jalai Village, Kampar Regency in2001. Objective of the study is to assess influence of storage time period to the dadih quality processed and stored inbamboo and propylene tubes. Completely Randomized Design with 10 replications and two treatments were used inthis assessment: (A) processed in bamboo tube, and (B) processed in propylene tube. Each treatment was stored for 3,6, 9 and 12 days. Data collected through organoleptic test consisting of 10 sample panelists. Data collected were taste,aroma, color, preference and thickness of the dadih. Results showed that the dadih quality processed in the propylenetube is relatively better than that in the bamboo tube. Storage period for the still palatable dadih was 9 daysprocessed and stored in propylene tube and 6 days processed and stored in the bamboo tube. Protein and fat contentsof the dadih were decreasing along with length of storage time period. On the other hand, total of bacteria colony andacidity of the dadih were increasing.Key words : storage, quality, fermented milk, tubeDadih merupakan produk susu fermentasi yang cukup digemari di wilayah Sumatera Barat dan Riau.Pengkajian ini dilaksanakan di Desa Muaro Jalai, Kabupaten Kampar, Riau pada tahun 2001. Tujuan pengkajianadalah untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan dari dadih dalam tabung bambu dan tabung plastik terhadapkualitas dan daya simpannya yang masih layak dikonsumsi. Pengkajian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap(RAL) 2 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah (A) pembuatan dadih dalam tabung bambu dan(B) pembuatan dadih dalam tabung plastik, masing-masing dengan masa simpan 3, 6, 9 dan 12 hari. Parameter yangdiamati melalui uji organoleptik terhadap 10 orang panelis meliputi rasa, aroma, warna, kesukaan dan kekentalan.Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kualitas dadih susu kerbau dalam tabung plastik relatif lebih baik dibandingkandadih dalam tabung bambu. Daya simpan dadih dalam tabung plastik yang masih layak dikonsumsi adalah 9 hari,sedangkan dadih dalam tabung bambu hanya 6 hari. Kadar protein dan lemak dari dadih akan menurun sejalandengan lamanya waktu penyimpanan. Sedangkan total koloni bakteri dan tingkat keasaman dari dadih justrumeningkat dengan lamanya waktu penyimpanan.Kata kunci : penyimpanan, kualitas, dadih susu, tabung bambu/plastik 
ANALISIS PROSPEK BISNIS PENANGKARAN BENIH KENTANG DI KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT Buharman B; Harnel ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n2.2010.p%p

Abstract

Analysis of Seed Potato Breeding Prospect in Solok District, West Sumatra. Horticulture agriculturevision of Solok District become potato seedling producer has not appears. Developing of seedling institution,guidance seed producer, and subsidies input have note optimal condition. Analysis of prospect seedling wasconducted identification seedling producer, the farmers whose produce potato seed, the farmer activities,problems, and marketing aspect. The data collected include input, output from potato farm so secondarydata from Agricultural Extension Solok District. The result form BBI high elevation horticulture centre canproduce 9-12 t/yearG3potato seed. However this seed was sold to other province. On other hand local seedlingproducer have to byG3seed from out side region with more expensive. ProduceG3seed is profitable business.Baringin Mudo farmers group produce 9,722 kg potato for consumption and can used for seed about 4,489 kg/ha. However only 75 percent becomeG4about 3,823.2 kg,G4seed consumption is about 1,023-1,535 t/year.On other hand five seed producer can produce only 16 t/year. Potato is more profitable than cabbage but undershallot. If the farmers use good potato seed potato farm can more profitable than others crops. Potato pricemore stable than other horticultural farm gate price with coefficient variation in 2006 and 2007 are 16.5 and15.6 percent. On other hand coefficient variation cabbage, chilly, shallot, and tomato about 17.2-63.9 percent.Optimum and improve function of seed institution can accelerate self sufficient potato seed in Solok District.Key words: Seedling institute, seed potato, produce potato seedVisi pertanian hortikultura Kabupaten Solok menjadi penghasil bibit kentang selama ini belum terwujud.Pembangunan balai benih, pembinaan penangkar, dan bantuan sarana produksi belum optimal. Analisis prospekbisnis penangkaran benih kentang Kabupaten Solok, dilakukan dengan cakupan identifikasi keberadaan balaibenih dan penangkar, upaya yang dilakukan, permasalahan, dan aspek pasar. Data yang dianalisis berupamasukan-hasil usahatani sayuran kegiatan Prima Tani Kabupaten Solok dan data sekunder dari Dinas Pertaniandan Perikanan Kabupaten Solok. Data primer didapatkan dari unit usaha penangkar benih kentang di sentraproduksi utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa BBI Hortikultura Dataran Tinggi dengan lahan kebun 6ha yang ditanami secara bergilir mampu menghasilkan 9-12 t benihG3per-tahun, tetapi sebagian besar dijualkeluar daerah. Sebaliknya, penangkar benih lokal cenderung menggunakan benihG3asal luar daerah yanglebih mahal. Usaha penangkaran benih kentangG3merupakan bisnis yang menguntungkan. Kelompok TaniBaringin Mudo sebagai penangkar benih menghasilkan kentang konsumsi 9.772 kg dan kentang calon benihG4sebanyak 4.489 kg/ha. Dengan rendemen pengolahan benih 75%, harga pokok benihG4Rp.3.823,2/kg. Potensi pasar benihG4sebanyak 1.023-1.535 t/th, sementara produksi oleh lima penangkar benih sekitar16 t/th. Daya saing kentang terhadap kubis lebih tinggi, dan berada dibawah bawang merah. Peluang untukAnalisis Prospek Bisnis Penangkaran Benih Kentang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Buharman B. dan Harnel)149meningkatkan daya saing kentang terhadap bawang merah dan tomat sangat besar, terutama dalam penggunaanbenih bermutu. Di tingkat produsen, harga kentang relatif stabil, dengan nilai koefisien variasi harga tahun 2006dan 2007 berturut-turut 16,5% dan 15,6%, sementara kubis, cabe merah, bawang merah, dan tomat berkisar17,2-63,9%. Penataan sistem dan fungsionalisasi fasilitas Balai Benih dan penguatan kelembagaan penangkarbenih merupakan faktor pendorong mempercepat terwujudnya swasembada benih kentang di Kabupaten Solok.Kata kunci: Balai benih, penangkar, benih kentang
KERAGAAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PENYULUH DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN Fawzia Sulaiman; I Wayan Rusastra; Ahmad Subaidi
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

Information of research results is an output and the main asset of the Assessment Institute of AgriculturalTechnology (AIAT). This information of research result needs to be formulated into easily understood information,using the most suitable media before being disseminated to various prospective users. In this respect, professionalswho deal with innovation transfer need to possess adequate knowledge and skills to ensure an efficient and effectiveflow of information from its source to intended audiences. The effort to increase the efficiency and effectiveness ofthe information flow of agricultural research result was the justification to merge the Institute for AgriculturalInformation (IAI) and AIAT. This institutional integration also brought the consequence of the involvement ofextentionists, who were the main professional staff of IAI, into the AIAT working system. After 10 years ofintegration, the increase of efficiency and effectiveness of innovation transfer at AIAT has not resulted as expected.This poor performance of innovation transfer is among others resulted from the unfavourable working condition ofextentionists in fulfilling their role and function within the AIAT working system. The objective of this study was toidentify constraints being faced by AIAT extentionists in fulfilling their role and function at AIAT. Results of thestudy indicated that the capacity of AIAT extentionists was a resultant or a product of existing policies and workingcondition within the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) and AIAT, and at otherrelated agricultural institutions outside the IAARD. In this respect, AIAT extentionists were in agreement with almostall constraints being stated as hypotheses in this study. The AIAT extentionists indicated that their performance was aresultant of internal and external constraints within their working system as follows: (a) professional capacity of AIATextentionists, (b) professional performance of AIAT extentionists, (c) structural problems, (d) working facilities andsupporting administration, (e) external factors. Thus, efforts to increase the performance of AIAT extentionists shouldstart from implementing policies and various activities being needed to alleviate those five constraints mentionedabove.Key words: extentionist, innovation transfer, perceptionInformasi hasil penelitian dan pengkajian merupakan aset intelektual dan keluaran utama dari BPTP (BalaiPengkajian Teknologi Pertanian) yang perlu dikemas ke dalam “bahasa” yang mudah dimengerti sebelumdisampaikan kepada beerbagai khalayak penggunanya. Penyelenggara proses alih teknologi membutuhkanpengetahuan dan keterampilan yang memadai, agar alur teknologi ini dapat mengalir dengan efisien dan efektif darisumbernya kepada berbagai khalayak penggunanya. Hal ini melatarbelakangi pengintegrsian Bali Informasi Pertanianke dalam BPTP, yang juga menbawa konsekuensi masuknya penyuluh, yang merupakan staf fungsional utama di unitkerja eks BIP ke dalam sistem kerja BPTP. Setelah 10 tahun pengintegrasian BIP ke dalam BPTP, ternyatapeningkatan efisiensi dan efektivitas sistem alih inovasi pertanian belum seperti yang diharapkan. Penyebabnya antaralain kurang kondusifnya pelaksanaan tugas pokok dan fungsi penyuluh BPTP. Dengan demikian, perlu adanyaidentifikasi kendala yang dihadapi penyuluh BPTP dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Tujuan pengkajianini adalah untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi penyuluh BPTP dalam melaksanakan tugas pokok danfungsinya di BPTP. Hasil kajian mendapatkan bahwa potensi/kapasitas penyuluh BPTP merupakan produk atau luarandari kondisi kerja dan kebijakan yang ada, baik kebijakan internal Badan Penelitian dan PengembanganPertanian/BPTP maupun kebijakan instutusi pertanian terkait di luar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.334Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.3, Nopember 2005 : 333-351Penyuluh mempunyai persepsi setuju dengan hampir semua hipotesis yang merupakan kendala dalam pelaksanaantugas pokok dan fungsinya. Hal ini mengindikasikan bahwa penyuluh mempunyai persepsi bahwa potensi/kapasitasnya merupakan resultante dari kendala eksternal dan internal di lingkugan kerjanya, yaitu: (a) potensi/kapasitas penyuluh, (b) permasalahan struktural, (c) kinerja fungsional penyuluh, (d) fasilitas kerja dan dukunganadministrasi, dan (e) faktor-faktor eksternal di luar Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian/BPTP. Dengandemikian, upaya peningkatan kinerja penyuluh BPTP perlu didahului dengan implementasi kebijakan dan berbagaikegiatan yang diperlukan dan berkaitan dengan kelima kendala internal dan eksternal tersebut.Kata kunci: penyuluh, alih inovasi, persepsi
PENINGKATAN MUTU DAN DAYA SIMPAN PASTA TOMAT DENGAN CARA BLANSING Wanti Dewayani; Andi Darmawidah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

The Increasing the Quality and Storage Period of Tomato Paste with Blanching Method. Up to the moment, the need of food industry for tomato paste is fulfilled by imported products. Processing raw tomato into tomato paste is one technique that will decrease the import dependency and increase the value added of the tomatoes. The aim of this research was to identify the quality of tomato paste by blanching treatments and the length of storage period. The experiment was arranged in randomized complete block design with two factors. The first factor was blanching treatments before the tomato is processed into tomato paste through four treatments; a) without blanching b) blanching within10 minutes, c) blanching within 20 minutes, and d) blanching within 30 minutes. The second factor was storage period which is divided into four periods i.e. 0, 1, 2 and 3 months. Parameter of quality which was observed was chemical quality (Vitamin C, sugar content, TPT and total acid) and organoleptic characteristics (color, texture, flavor and fondness). The result showed that oval variety can be processed into tomato paste and can be kept for a long time as recommended. However, the best tomato paste was obtained when blanched for 20 minutes and can be stored for 3 months. This tomato paste contained vitamin C 6.075 mg/100 g, sugar level 0.0085% and total acid 0.55%, total soluble solution 27°Brix, in red bright color 80%, aromatic and normal taste and be fond of. Based on fmancial analysis it was known that the farmers can process 200 kg fresh tomatoes into 100 kg tomato paste with profit rate amounting to Rp.1,860,000 with an R/C2.6. Key words: Blanching, processing, storage, tomato paste Selama ini kebutuhan industri pangan di Indonesia akan pasta tomat dipenuhi dari impor. Pengolahan tomat menjadi pasta akan memberi nilai tambah dan mengurangi ketergantungan impor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu pasta tomat yang dihasilkan dan perlakuan blansing dan lama simpan. Percobaan ini dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah perlakuan blansing sebelum diolah menjadi saus tomat (4 taraf) yaitu tanpa blansing, blansing selama 10 menit, blansing 20 menit dan blansing 30 menit. Faktor kedua adalah perlakuan lama penyimpanan (4 taraf) yaitu 0, 1, 2 dan 3 bulan. Parameter mutu yang diamati adalah mutu kimia (vitamin C, kadar gula, TPT dan total asam) dan organoleptik (warna, tekstur, aroma, rasa dan kegemaran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Oval dapat dibuat pasta dengan perlakuan blansing dan dapat disimpan lama sesuai dengan spesifikasi produk pasta tomat yang dipersyaratkan. Pasta tomat yang terbaik adalah yang diblansing 20 menit dan dapat disimpan 3 bulan. Pasta tomat tersebut mempunyai kandungan vitamin C 6,075 mg/100 g contoh, kadar gula 0,0085 %, total asam 0,55%, TPT 27 °Brix, wawa merah cerah 80%, aroma dan rasa normal serta digemari. Berdasarkan hasil analisis fmansial diketahui bahwa kelompok wanita tani dapat mengolah 200 kg tomat segar menjadi 100 kg pasta tomat dengan keuntungan sebesar Rp.1.860.000 dengan nilai R/C 2,6. Kata kunci : Blansing, penyimpanan, pasta tomat, pengolahan

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue