cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
KERAGAAN KESESUAIAN LAHAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PLASMA BERKELANJUTAN I Gusti Putu Wigena; Djadja Subardjal; Andriati ;; Wayan Sudana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n2.2008.p%p

Abstract

Land Suitability Performance and Sustainable Management Strategic of Public Oil Palm Plantation. The great quantities of stakeholders involved and their different conflict of interests in the oil palm management is unfavorable, as characterized by the decrease of land productivity and the high-polluted environment. This condition led to create a holistic solution in order to achieve sustainable oil palm management. For this reason, researches on land suitability and public oil palm plantation strategy have been done from January to December 2007. The experimental site was public oil palm plantation of PTP Nusantara V Sei Pagar, Perhentian Raja Sub District Kampar Districts, Riau Province. Land suitability method was developed by Djaenudin et all. (2003) in which the public oil palm plantation strategy is analyzed by using Prospective Analysis. The research showed that land suitability in the majority of land experiment (75%) can be grouped into S2-f that is moderately suitable with nutrients retention as main limiting factor due to the lower pH of the soil. The land suitability in the remaining areas (about 25%) can be classified into S2-f,n that is moderately suitable with nutrients retention and nutrients supply as limiting factors due to the lower of pH and caption exchange capacity (CEC) values. Productivity level of the land by average was 23.04 tons fruit bunches/ha/year or equal to 91% of potential yield. There were 7 key factors that should be considered in order to achieve the sustainable management of public oil palm plantation, namely land occupation status, land suitability, land size, human resources, working capital, institution and government policies. Based on the probability of occurrence, a medium setting management becomes as a promotion strategy to achieve sustainable condition of public oil palm management. The condition of this situation was land occupation status should be guaranteed (certificated), land suitability and land size remain the same as the current condition, the availability of working capital provided by government, qualified human resources in managing oil palm (educational level and skill improved), linkage institution was actively seeking solution and government policies should be supportive in implementing the selected state. Key words: Public oilp palm plantation, sustainability, suitability, strategic managemen Banyaknya pihak yang terlibat dan terjadinya benturan kepentingan menyebabkan pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma kurang tepat yang dicirikan oleh semakin menurunnya produktivitas lahan dan pencemaran terhadap lingkungan. Untuk itu, telah dilakukan penelitian tingkat kesesuaian lahan dan strategi pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma berkelanjutan dari bulan Januari sampai Desember 2007. Lokasi penelitian di perkebunan kelapa sawit plasma PT. Perkebunan Nusantara V Sei Pagar, Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Tingkat kesesuaian lahan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Djaenudin et al., strategi pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma dianalisis dengan menggunakan Analisis Prospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian lahan di lokasi penelitian sebagian besar (75%) termasuk S2-f yaitu cukup sesuai dengan faktor pembatas retensi unsur hara berkaitan dengan pH tanah. Sekitar 25% tingkat kesesuaiannya termasuk S2-f,n yaitu kelas cukup sesuai dengan faktor pembatasketersediaan hara rendah dan retensi hara tinggi berkaitan dengan KTK tanah masam dan pH tanah rendah. Rata-rata produktivitas kelapa sawit pada lahan ini 23,04 t TBS/ha/tahun atau setinggi 91% dari produktivitas potensialnya. Terdapat tujuh faktor kunci yang hams dipertimbangkan untuk mencapai kondisi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yaitu status penguasaan lahan, kesesuaian lahan, luas lahan, sumberdaya manusia, modal, kelembagaan dan kebijakan pemerintah. Berdasarkan urutan peluang kejadiannya, skenario pengelolaan medium merupakan strategi yang paling memungkinkan untuk mencapai kondisi pengelolaan perkebunan kelapa sawit plasma berkelanjutan. Salah satu kondisi yang mewakili skenario ini adalah luas lahan tetap, status penguasaan lahan terjamin (bersertifikat), kesesuaian lahan tetapi (karena teknologi), modal kerja cukup tersedia, kualitas SDM cukup memadai (pendidikan dan keterampilan petani membaik), instansi terkait cukup aktif (kelembagaan agak kuat) dan kebijakan pemerintah agak mendukung. Kata kunci Kelapa sawit plasma, berkelanjutan, kesesuaian lahan, analisis prospektif, skenario strategis
PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BATANG (Zeuzera coffeae Neitner) PADA TANAMAN KELENGKENG (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) Yulianto ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n3.2007.p%p

Abstract

Control of Stem Borer (Zeuzera coffeae Neitner) on Longan Plants (Dimocarpus longan (Lour) Steud.). Stem borer (Zezcera coffeae Neitner) is one of major pests having an economic importance on longan (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) in Temanggung Regency of Central Java Province. The larvae bore into the cambium then girdle the stem or branch of longan causing death to the plants starting from the girdled parts. The assessment was designed using Factorial Design with two replicates. The first factor was the severity levels of the attacked plants attacked by the pest, i.e.: a. light, b. medium, c. severe. The second factor was the controlling techniques, i.e.: a. applied with carbofuran G, b. applied with fipronil EC, c. applied with the combination of carbofuran G and fipronil EC, d. without insecticide application as the control. Each severity level consists of 5 plants. The objective of this assessment was to obtain the controlling technique for stem borers on longan. The assessment results show that carbofuran G was more effective in controlling the pest than fipronil EC. Plants attacked with light and medium severity levels which were treated with carbofuran G or carbofuran G + fipronil EC could completely recover and yielded normally. By the controlling method, the plants attacked severely could be 67% and 73% recovered. Key words: Stem borer, longan, carbofuran, fipronil Penggerek batang (Zeu:era coffeae Neitner) adalah salah satu hama utama yang mempunyai arti ekonomi penting pada tanaman kelengkeng (Dimocarpus longan (Lour) Steud.) di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Larva penggerek batang membuat lubang hingga mencapai kambium kemudian menggerek kayu batang atau dahan melingkar hingga dapat menyebabkan mati ujung tanaman mulai dari bagian yang digerek. Pengkajian ini disusun menggunakan rancangan Faktorial, dengan dua ulangan. Faktor pertama adalah tingkat keparahan tanaman yang diserang penggerek batang, yaitu: a. ringan, b. sedang, c. berat. Faktor kedua adalah teknik pengendalian, yaitu: a. diaplikasi dengan karbofuran G, b. diaplikasi dengan fipronil EC, c. diaplikasi dengan kombinasi karbofuran G dan Fipronil EC, d. tanpa aplikasi insektisida sebagai kontrol. Setiap tingkat keparahan terdiri atas 5 pohon. Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk mendapatkan teknik pengendalian penggerek batang pada tanaman kelengkeng. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa insektisida karbofuran G lebih efektif untuk pengendalian hama tersebut daripada fipronil EC. Tanaman yang terserang dengan tingkat keparahan ringan dan sedang yang diaplikasi karbofuran G atau karbofuran G + fipronil EC dapat pulih kembali dan berproduksi normal. Melalui cara pengendalian tersebut, tanaman yang terserang dengan tingkat keparahan berat dapat pulih kembali masing-masing sebanyak 67% dan 73%. Kata kunci: Penggerek batang, kelengkeng, karbofuran, fipronil
DAMPAK PRIMA TANI TERHADAP PEMANFAATAN DAN PRODUKTIVITAS SUMBERDAYA LAHAN DAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI Kasdi Subagyono; Ketut Kariyasa
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v15n1.2012.p%p

Abstract

Impact of Prima Tani on Land Resources Utilization and Productivity and Farmer Household Income. In efforts to accelerate technology adoption and innovation at farmer level, Department of Agriculture through IAARD since 2005 has developed Prima Tani Program that spread over in 25 provinces and at 33 villages. In 2008, it covered 201 villages and 200 districts in all provinces of Indonesia. The aim of this study at assessing the impact of Prima Tani focused on land resources utilization and farmer household income. Study was conducted in West Java (Karawang and Garut districts), as one of province for Prima Tani development. The study results indicate that the Prima Tani had a positive impact on the utilization of land resources. This was evident in the increasing use of land resources for farming activities (13.72%) and cropping intensity index (50-100%). Furthermore, it was also able to significantly improve the land resources productivity (>40%) and enhance the role and contribution of agriculture to farmer household income (33% to 38%). Thus, Prima Tani Program has shown good performance and it it was be in line with government's program in reduction of poverty and unemployment problems in rural areas. Therefore,  the success of this program in the future will be determined by the support of various parties and related agencies in encouraging the acceleration of its adoption in broader areas. Dalam upaya mempercepat adopsi dan teknologi inovasi di tingkat petani, Departemen Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian sejak 2005 mengembangan Program Prima Tani yang tersebar di 25 provinsi dan 33 desa. Pada 2008, program ini telah tersebar di 201 desa dan 200 kabupaten di seluruh provinsi di Indonesia. Tujuan studi ini adalah mengkaji dampak Prima Tani yang difokuskan pada pemanfaatan sumberdaya lahan dan pendapatan rumah tangga petani. Kajian telah dilakukan di Jawa Barat (Kabupaten Karawang dan Garut), sebagai salah satu provinsi pengembangan Prima Tani. Hasil kajian menunjukkan bahwa Prima Tani mempunyai dampak positif terhadap pemanfaatan sumberdaya lahan. Hal ini dibuktikan semakin meningkatnya penggunaan sumberdaya lahan untuk kegiatan usahatani (13,72%) dan intensitas pertanaman (50-100%). Lebih lanjut, program ini juga secara nyata mampu memperbaiki produktivitas sumberdaya lahan (>40%) dan meningkatkan peranan serta kontribusi usaha pertanian terhadap pendapatan keluarga petani (33% menjadi 38%). Dengan demikian, program yang berawal dari desa ini telah menunjukkan kinerja secara baik dan sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan. Oleh karena itu, kesuksesan program ini ke depan sangat ditentukan adanya dukungan berbagai pihak dan instansi terkait dalam mendorong percepatan adopsinya dalam skala yang lebih luas.
EFISIENSI PENGGUNAAN PUPUK NITROGEN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK PADA TANAMAN PADI SAWAH Endrizal ;; Julistia Bobihoe
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n2.2004.p%p

Abstract

The study aims at assessing efficiency nitrogen ferilizer and organic fertilizers. The experiment wasconducted on September 1999 – March 2000 in Kambaniru, East Sumba district, East Nusa Tenggara district usingRandomized Completely Block Design consisting of 6 treatments and 4 replications. The treatments are as follows:(A) recommended rate (Urea-SP36-KCl: 150-100-50 kg/ha), (B) standard rate (Urea-SP36-KCl: 50-50-50 kg/ha), (C)standard rate + rice straw 10t/ha + EM-4 (D) standard rate + rice straw 5 t/ha + EM-4 (E) standard rate + Guano 300kg/ha and (F) NPK Plus (Beringin Brand) 300 kg/ha. Recommended rate showed better growth rate than those treatedwith organic fertilizers. Productivity of Memberamo variety treated with recommended rate was the highest (5,25ton/ha), and the lowest productivity (3,75 ton/ha) was that with the standard recommended rate + 50 kg/ha of nitrogen.Nevertheless, productivity of rice treated with standard rate + rice straw 10 ton/ha was not significantly different withthat treated with recommended rate. Costs and benefit analysis revealed that recommended rate got highest profit ofRp 2.525.000 and B/C ratio of 1,93.Key words : nitrogen use efficiency, organic fertizer, guano fertilizerPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan pupuk nitrogen dan pupuk organik.Pengkajian dilaksanakan pada bulan September 1999 – Maret 2000 di daerah irigasi Kambaniru, Kabupaten SumbaTimur, Nusa Tenggara Timur. Metoda yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan,masing- masing ulangan. Perlakuan yang diberikan, yaitu (A) dosis rekomendasi Urea-SP36-KCl : 150-100-50 kg/ha;(B) dosis standar: Urea-SP36-KCl: 50-50-50 kg/ha; (C) dosis standar + jerami 10 ton/ha + EM-4; (D) dosis standar+ jerami 5 ton/ha + EM-4, dan (E) dosis standar + pupuk alam Guano 300 kg/ha. (F) NPK plus Cap Beringin 300kg/ha. Pada pemberian pupuk dengan dosis rekomendasi semua parameter pengamatan memperlihatkan pertumbuhanyang lebih baik dari pupuk organik lainnya. Produktivitas padi dengan dosis rekomendasi merupakan yang tertinggi,yaitu 5,25 ton/ha. Sementara hasil terendah (3,75 ton/ha) adalah dengan menggunakan dosis standar + 50 kg Urea/ha.Produktivitas dengan perlakuan dosis standar + jerami 10 ton/ha tidak berbeda nyata dengan dosis rekomendasi.Demikian pula, penggunaan pupuk organik (Guano 300 kg/ha dan jerami padi 10 ton/ha) + pupuk anorganik dosisrendah (Urea-SP36 dan KCl: 50-50-50 kg/ha) tetapi tidak berbeda nyata. Dari analisis biaya dan keuntungandiperoleh keuntungan tertinggi pada perlakuan dosis rekomendasi, yaitu Rp 2.525.000/ha dengan B/C ratio 1,93.Kata kunci : efisiensi pupuk nitrogen, pupuk organik, pupuk Guano
KAJIAN TEKNOLOGI BUDIDAYA DAN KELAYAKAN EKONOMI USAHATANI KEDELAI DENGAN PENDEKATAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI LAHAN PASANG SURUT JAMBI Jumakir ;; Abdullah Taufiq
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n1.2010.p%p

Abstract

Assesement of Cultivation Technology and Economic Feasibility of Soybean Farming Systemwith Integrated Crop Management Approach in Tidal Land at Jambi Province. This assessment aims todetermine the performance of cultivation technology and the economic feasibility of soybean farming systemthrough integrated plant control on tidal swamp land. Assesment was conducted on dry season 2007 in BandarJaya village, Rantau Rasau sub District, Tanjung Jabung Timur District, Jambi Province, on tidal land withacid soils and sulfate land type C. Technology packed involved: seed quality, varieties, manure and dolomiteapplication, fertilizer dosage, water management, and pest diseases control. Data were collected through directobservation in the field with Participation Rural Appraisal (PRA) approach. Descriptive data were analyzedqualitatively and quantitatively using partial budget analysis with the economic parameters of R/C, MBCR,PBE, and TIH. The assessment indicated that the PTT technology is able to increase productivity .6 fold, andit was economically improve the profitability of farming for Rp.2,528,720/ha with MBCR score of 3.68, so thatthe PTT technology was feasible to be implemented. In order for PTT technology development to continue, itneeds supply of inputs, alternative fertilizer, seed multiplication by farmer, and direct supervision. Disseminationefforts need to be done both through technology and communication, and through direct propagation.Key words: Tidal swamp land, economic feasibility Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui keragaan teknologi budidaya, dan kelayakan ekonomiusahatani kedelai dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu di lahan pasang surut. Pengkajian inidilaksanakan pada MK 2007 di desa Bandar Jaya Kecamatan Rantau Rasau Kabupaten Tanjung Jabung TimurProvinsi Jambi dilahan pasang surut dengan tipologi lahan sulfat masam dan tipe genangan air C. Paketteknologi PTT kedelai meliputi benih bermutu, varietas, penggunaan pupuk kandang dan dolomit, dosis dan carapemupukan, pengaturan tata air dan pengendalian OPT. Sebanyak enam petani kooperator yang menggunakanpaket teknologi PTT dilibatkan dalam pengkajian ini. Data diperoleh dengan pengamatan langsung dilapangan,data primer dikumpulkan dengan pendekatan PRA. Analisis data dilakukan secara deskripif kualitatif dankuantitatif menggunakan analisis anggaran parsial dengan parameter ekonomi R/C, MBCR, TIP dan TIH.Hasil pengkajian menunjukkan bahwa teknologi PTT mampu meningkatkan produktivitas ,6 kali lipat,Kajian Teknologi Budidaya dan Kelayakan Ekonomi Usahatani Kedelai Dengan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu diLahan Pasang Surut Jambi (Jumakir dan Abdullah Taufiq)2dan secara ekonomis meningkatkan keuntungan usahatani sebesar Rp.2.528.720/ha dengan nilai MBCR 3,68sehingga teknologi PTT layak untuk diterapkan. Agar pengembangan teknologi PTT berlanjut, diperlukandukungan saprodi dan harga terjangkau, penggunaan pupuk alternatif dan pemanfaatan agen hayati sertapenangkaran benih oleh petani. Disamping itu masih perlu pembinaan dan pendampingan oleh petugas. Upayadiseminasi perlu dilakukan baik melalui teknologi informasi dan komunikasi maupun diseminasi langsung.Kata Kunci : Lahan pasang surut, PTT kedelai dan Kelayakan ekonomi
PENGKAJIAN INTENSIFIKASI PADI SAWAH BERDASAR PENGELOLAAN TANAMAN DAN SUMBERDAYA TERPADU DI KABUPATEN PINRANG, SULAWESI SELATAN Arafah ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

Assessment of lowland rice intensification based on integrated crop and resources management was aimed atidentifying the components required to achieve high yield and income. The study site was purposively chosen on thelowland-rice producing center in Pinrang Regency conducted for two seasons, namely dry season and wet seasons.The observations consisted of cooperating and non-cooperating farmers. Lowland area cultivated by the cooperatingfarmers was 3.0 hectares for each season. The dry and wet seasons lasted from July 17 to November 22, 2001 andFebruary 10 to June 15, 2002. Ciliwung rice variety was transplanted when the seedlings were15 days old. Cropspractice included one seedling per hill, planting space of 25 x 25 cm2 , organic fertilizer made of decomposed straw (2tons/ha), Urea based on leaf color chart (155 kg/ha), SP-36 and KCl based on soil analysis each of 75 kgs/ha,intermitted irrigation, and integrated pests management. On the dry season, cooperating farmers’ income and yieldwere Rp 1,066,504/ha (20.72%) and 1,451 kg/ha (22.25%), respectively, greater than those of non-cooperatingfarmers. On the wet season, the cooperating farmers achieved Rp 1,904,692/ha (51.62%) higher than that of noncooperatingfarmers with yield difference of yields by 2,175 kg/ha (45.35%).Key words : intensification, integrated crop management, Oryza sativa Intensifikasi padi sawah dengan metode pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu ini memperhitungkanketerkaitan dan keterpaduan antara tanaman dan sumberdaya yang ada. Teknik-teknik produksi yang diterapkanmempertimbangkan sinergisme yang ada antara teknik tersebut agar mampu memberikan hasil yang tinggi. Tujuanpengkajian adalah untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang diperlukan bagi metode pengelolaan tanamansecara terpadu agar dapat memberikan hasil dan pendapatan yang tinggi dalam intensifikasi padi. Lokasi pengkajianditentukan secara sengaja (Purposive Sampling) pada daerah sawah beririgasi di sentra produksi padi yang merupakandaerah primer dalam pengembangan usahatani padi yaitu, Kabupaten Pinrang yang dilaksanakan pada dua musimtanam yaitu MK dan MH, dengan luas 3,0 ha pada setiap musim. Pengkajian ini melibatkan petani sebagaipelaksana (petani koperator), dan petani nonkoperator yang jumlahnya sama dengan petani koperator. Pengambilansampel ditentukan secara acak sederhana (simple random sampling). Petani nonkoperator ini memiliki lahan sawahyang berada di sekitar pengkajian. Pada musim kering tanam tanggal 17 Juli dan panen tanggal 22 November 2001,sedangkan pada musim hujan tanam tanggal 10 Februari dan panen tanggal 15 Juni 2002. Varietas yang digunakanadalah Ciliwung yang ditanam dengan umur bibit 15 hari, satu batang/rumpun dengan jarak tanam 25 x 25 cm.Pemupukan dengan menggunakan kompos jerami sebanyak 2 t/ha, urea sebanyak 155 kg/ha (berdasar LCC/BWD),SP-36 dan KCl masing-masing 75 kg/ha (berdasar analisis tanah). Pengelolaan air dilakukan secara Intermitten danpengendalian hama dengan metode PHT. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pendapatanyang diperoleh petani koperator dibanding nonkoperator sebesar Rp 1.066.504/ha (20,72 %), dengan selisihpeningkatan produktivitas sebesar 1.451 kg/ha GKP (22,25 %) pada MK dan pada MH peningkatan pendapatansebesar Rp. 1.904.692/ha (51,62 %), dengan selisih peningkatan produktivitas sebesar 2.175 kg/ha GKP (45,35 %).Kata kunci: intensifikasi, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), Oriza sativa
PENGELOLAAN HARA TANAMAN JAGUNG (Zea mays) SPESIFIK LOKASI PADA LAHAN KERING DI LAMPUNG Andarias Makka Murni; Yunita Barus
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n1.2008.p%p

Abstract

Site Specific Nutrients Management for Maize (Zea mays) on Dryland Lampung. Lampung is one of the maize growing province in Indonesia that largely grown as a comercial crop mainly for animal feed. The average of maize productivity in Lampung is 3.4 t/ha. However the actual yield is ranges from 1.6 - 7.4 t/ha. To obtained the yield optimal and to decrease existing yield gab of maize production in Lampung, the three crops simultaneous experiment of Site Specific Nutrients Management (SSNM) for maize was conducted in five sites i.e. four sites located in Central Lampung (Sidowaras, Binjai Ngagung, Watu Agung and Balai Rejo) and one site in South Lampung (Trimulyo district) during the rainy season of 2004/2005-2006/2007. The experiment was designed in Omission Plot, NPK, SSNM and farmers' fertilizer practice (FFP). In additional, each of the treatments were paralleled with the same plot treatments with improve crop management (ICM). The complete treatments were : PK, PK+(ICM), NK, NK+ICM, NP, NP+ICM, NPK, NPK+ICM, SSNM, SSNM+ICM, FFP and FFP+ICM. Those were conducted in each site for replication. The results showed that the minus N (PK) treatments significantly reduced the yield of maize. NPK and NPK+ICM treatments resulted in higher yield compared with other treatments. SSNM (with or without 1CM) resulted in higher yield compared with the farmers fertilizer practice (FFP). Agronomc Efisiencies of nutrients were N = 11-21 kg/kg, P = 14-57 kg/kg and K = 4-24 kg/kg respectively. Agronomic Performance of the SSNM (with or without 1CM) was greater which indicated by the total dry matter (grain+stover+cob) and grain yield more than FFP attainable. Key words:. SSW, omission plot, nutrient management, fertili=er Zea mays Lampung merupakan salah satu daerah penghasil jagung di Indonesia yang dibudidayakan sebagai komoditas komersial terutama untuk bahan baku pakan ternak. Saat ini rata-rata produktivitas jagung di Lampung mencapai 3,4 t/ha, dengan hasil aktual di lapangan berkisar dari 1,6-7,4 t/ha. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dan menekan senjang hasil aktual dengan potensi hasil jagung yang sesungguhnya di Lampung, penelitian model pengelolaan hara tanaman jagung spesifik lokasi (Site Specific Nutrient Management for maize = SSNM) dilaksanakan selama tiga musim tanam yaitu musim hujan (MH) 2004/2005, 2005/2006 dan 2006/2007 di lima lokasi, masing-masing di desa Sidowaras, Binjai Ngagung, Watu Agung, dan Balai rejo Lampung Tengah, dan desa Trimulyo, Lampung Selatan. Percobaan disusun dengan perlakuan Petak Omisi, NPK, SSNM dan praktek pemupukan petani (farmers' fertilizer practice = FFP). Setiap perlakuan tersebut di atas diparalel dengan plot perlakuan yang sama, tetapi diberi perlakuan tambahan berupa upaya perbaikan pengelolaan tanaman (improve crop management = 1CM). Dengan demikian perlakuan lengkapnya adalah Petak Omisi (PK, PK+ICM, NK, NK+ICM, NP, NP+ICM), NPK, NPK+ICM, SSNM, SSNM+ICM, FFP, dan FFP+ICM. Perlakuan disusun menurut rancangan acak kelompok dengan lokasi ditempatkan sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tanpa N (PK) hasil pipilan kering jagung menurun secara nyata. Perlakuan NPK dan NPK+ICM menghasilkan pipilan kering tertinggi dibanding perlakuan lainnya. Perlakuan SSNM maupun SSNM+ICM menghasilkan pipilan kering nyata lebih tinggi dibanding dengan praktek pemupukan petani (FFP). Efisiensi agronomi pupuk N = 11-21 kg/kg, P = 14-57 kg/kg dan K = 4-24 kg/kg. Keragaan agronomi jagung pada perlakuan SSNM nyata lebih baik dibanding dengan FFP, yang ditunjukkan oleh tingginya total bobot bahan kering (biji+brangkasan+janggel) dan basil pipilan kering yang dihasilkan oleh SSNM. Kata kunci: SSNM, petak omisi, pengelolaan hara, pemupukan, Zea mays.
PENGKAJIAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN CIREBON Yati Haryati; Agus Nurawan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 3 (2009): November 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n3.2009.p%p

Abstract

Assessment on Shallot Farm Operations in Cirebon Regency. Shallot is the most important commodity that can be relied on as it contributes most to the farmer household income and agricultural development in Playangan Village. The assessment was conducted in Playangan village, Gebang Sub district, Cirebon Regency from May to June 2008 in the land owned by farmers. The assessment method used two comparable treatments namely the implementation of recommended farm operation system (cooperator farmers) and the not n suggested one (non cooperator farmers). Each treatment was replicated for 20 cooperator farmers in the same group. The land area covered 10 hectares. The assessment was carried out by performing preliminary survey covering the characterization of and the implementation of the fertilizing technology package recommendation, i.e. the use of 200kg/ha Urea, 200 kg/ha SP-36, 200 kg/ha ZA and 100 kg/ha KCl and the control of shallot pest using sex pheromone. The data analysis was performed on the shallot agronomy, the intensity of shallot pest (Spodoptera exigua) attacks and the farm operation income using t-test, B/C and descriptive statistics. The results show that the implementation of recommended technology used by cooperator farmers reached 20 t/ha with B/C 2.08, while that of non cooperator farmers was 18 t/ha with B/C 1.50.Key words : Shallot, farming, technology adoptionABSTRAKBawang merah merupakan komoditas terpenting yang dapat diandalkan, karena sebagai kontribusi terbesar dalam pendapatan rumah tangga petani maupun pembangunan pertanian di Desa Playangan. Pengkajian dilaksanakan di Desa Playangan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon pada Bulan Juni sampai dengan Agustus 2008 pada lahan milik petani. Metode pengkajian menggunakan 2 perlakuan yang dibandingkan yaitu penerapan sistem usahatani anjuran (petani koperator) dan non anjuran (petani non koperator). Masing-masing perlakuan diulang pada 20 petani koperator dalam kelompok yang sama. Luas lahan mencakup 10 ha. Pengkajian dilakukan dengan diawali survey pendahuluan meliputi karakterisasi dan penerapan paket teknologi pemupukan sesuai rekomendasi Urea 200 kg/ha, SP-36 200 kg/ha, ZA 200 kg/ha dan KCl 100 kg/ha serta pengendalian hama ulat bawang dengan menggunakan feromon seks. Analisis data dilakukan terhadap keragaan agronomis bawang merah, intensitas serangan hama ulat bawang (Spodoptera exigua) dan pendapatan usahatani dengan menggunakan uji t, B/C dan statistik deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penerapan teknologi anjuran yang digunakan petani koperator mencapai 20 t/ha dengan B/C 2,08 dan petani non koperator 18 t/ha dengan B/C 1,50.Kata kunci : Bawang merah, usahatani, adopsi teknologi
PENGARUH SL-PHT TERHADAP KINERJA USAHATANI KOPI RAKYAT (Study Kasus di Kabupaten Malang dan Jombang, Jawa Timur) Ade Supriatna
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

In facing the globalization era, Indonesia as a coffee producer country took effort to increase the performance of coffee farm through the program of Integrated Pest Management-Farmer Field School (IPM-FFS). This study was conducted for five months from July throughout November 2004 in Tirtoyudo, Malang District and Wonosalam, Jombang District, East Java. The objectives of research were to evaluate the impact of IPM-Farmer Field School for coffee farms performance in aspects: of (a) the adoption of 1PM technology by farmers, (b) the farms economic visibility and (c) the farms technical efficiency. This research used the survey method and the data were analyzed by using before and after project. Primary data where collected from 80 farmers consisting of 40 IPM-Farmer Field School (alumni) and 40 non-alumni while secondary data were collected from the Office of Estate Crops, the Office of IPM Project, the Central Agency of Statistics and the Research Institutions. The results showed that after IPM-FFS, the percentage of farmers adopting IPM technology has increased as shown by the alumni (78%) and non-alumni (23%). Regular practiced field observations were able to distinguish the predators and did those who did not harm them. Most farmers applied a preventive method in controlling pest while the an-organic pesticide applied when the pests' attack reached the economic threshold. The productivity of alumni increased by 46% (1.128 to 1.641) kg/ha/year compared to that of non-alumni increased by 25% (872 to 1.087) kg/ha/year. The net income of alumni increased by 41% i.e. Rp.3.700.000,- to Rp5.200.000,- /hectare/year. Through the application of IPM technology, the farms technical efficiencies of alumni increased by 29% (0.63 to 0.81) and that of non-alumni increased by 5% (0.63 to 0.66). The program of IPM-FFS increased the performance of coffee farm, both in adoption of IPM technology, economical visibility and technical efficiency. The success of IPM-FFS program should be disseminated to other locations with some adjustments according to condition of new area. Key words: IPM-FFS, farmer, performance, coffee. Dalam menyongsong pasar bebas, Indonesia sebagai negara produsen kopi berusaha meningkatkan kinerja usahatani kopi agar mampu bersaing dengan kopi negara lain, yaitu melalui program sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SL-PHT). Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan mulai bulan Juli sampai dengan Nopember 2004 di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang dan Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pengaruh program SL-PHT terhadap kinerja usahatani kopi dalam aspek: (a) penerapan teknologi PHT oleh petani, (b) kelayakan ekonomi usahatani dan (c) efisiensi teknis usahatani Penelitian menggunakan metoda survei, data dianalisis secara deskriptif (sebelum dan sesudah projek). Data primer dikumpulkan dari 80 petani terdiri atas 40 petani alumni SL-PHT dan 40 petani non-alumni, sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Perkebunan, Kantor Projek PHT, Badan Pusat Statistik, dan Lembaga Penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah SL-PHT, persentase petani yang mengadopsi teknologi PHT meningkat, petani alumni (78%) dan non-alumni (23%) sudah menerapkan pengamatan agro-ekosistem kebun secara berkala, memahami keberadaan musuh alami dan melestarikannya. Dalam mengendalikan hama, sebagian besar petani menerapkan cara pencegahan (preventive controls), Pestisida an-organik akan diaplikasikan apabila gangguan hama sudah mencapai tingkat ambang ekonomi. Produktivitas kopi petani alumni meningkat 46% (1.128 menjadi 1.641) dan non-alumni meningkat 25% (872 menjadi 1.087) kg/ha/tahun. Pendapatan bersih petani alumni meningkat 41% (Rp.3,7 menjadi Rp.5,2) juta/ha/tahun. Efisiensi teknis usahatani petani alumni meningkat 29% (0,63 menjadi 0,81) dan non-alumni meningkat 5% (0,63 menjadi 0,66). Program SL-PHT dapat meningkatkan kinerja usahatani kopi, baik aspek penerapan teknologi PHT, kelayakan usahatani maupun efisiensi teknis. Keberhasilan program SL-PHT dapat didesiminasikan ke lokasi-lokasi lain dengan penyesuaian berdasarkan kondisi lokasi baru.Kata kunci: SL-PHT, petani, kinerja, kopi.
PROSPEK USAHATANI TANAMAN SAYURAN DI KABUPATEN BREBES Abdul Choliq; Indrie Ambarsari
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n2.2009.p%p

Abstract

Prospek Usahatani Tanaman Sayuran di Kabupaten Brebes. District of Brebes is more known as the centre of onion productions.  Beside that this area is also potential to vegetables farming development, whereas the vegetables farming already bunch with local society especially high land farmers.  Although it just resemble at small scale, but this farming activity attach a significant contribution in farmer income.  Vegetables that common are potato, carrot, cabbage.  The aim of this study is to see how much the contribution of vegetables cultivation to the farmer incomes.  This study was doing on early 2005 in sub district of Sirampog, district of Brebes.  Collection data do by RRA (Rapid Rural Appraisal) method through field observation and interview with key informant.  Observation of primary data including cost production, price product, and market system.  Secondary data was obtained from related institution.  Data analyzed by financial and descriptive methods.  The result shows that if cost pay cash, benefit of farming reach from Rp.8.610,- to Rp.1.747.517,- per season.  With vary asset and comprehensive land scale, the high benefit of farming was scallion, follows with potato, carrot, cabbage, and mustard green with each R/C were 1,70; 1,54; 1,25; 1,19; and 1,01. Kabupaten Brebes selama ini lebih dikenal sebagai sentra bawang merah.  Namun sebenarnya di daerah tersebut juga memiliki potensi untuk pengembangan berbagai jenis usahatani tanaman sayuran lainnya, mengingat usahatani tanaman sayuran telah menyatu dengan masyarakat setempat khususnya petani dataran tinggi.  Meski diusahakan dalam skala yang relatif kecil, namun kegiatan usahatani tersebut memberikan andil yang cukup berarti bagi pendapatan rumah tangga tani.  Tanaman sayuran yang umum diusahakan adalah kentang, wortel, kubis, bawang daun, dan sawi.  Untuk melihat seberapa besar kontribusi usahatani tanaman sayuran tersebut terhadap pendapatan petani, maka dilakukan kegiatan kajian di Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes pada tahun 2005.  Pengumpulan data dilakukan dengan metode RRA (Rapid Rural Appraisal) melalui observasi lapang dan wawancara dengan informan kunci.  Data primer yang diamati antara lain meliputi biaya input produksi, harga output, dan sistem pemasaran.  Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait.  Data dianalisis secara finansial dan deskriptif.  Hasil kajian menunjukkan bahwa dengan asumsi semua biaya dikeluarkan secara tunai, keuntungan usaha yang diperoleh berkisar antara Rp.8.610 sampai dengan Rp.2.783.400,- per musim.  Dengan jumlah modal dan luas lahan garapan yang berbeda, keuntungan per musim tertinggi diperoleh dari usahatani bawang daun, kemudian diikuti oleh kentang, wortel, kubis, dan sawi dengan perbandingan output input masing-masing sebesar 1,70 ; 1,54 ; 1,25; 1,19 ; dan 1,01.

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue