cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN RUMAH TANGGA TERHADAP PROGRAM GERAKAN TANAM CABAI Rima Setiani; Rizka Amalia Nugrahapsari; Sulusi Prabawati; Dewa K.S. Swastika
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n1.2019.p85-110

Abstract

Analysis of Household Customer Satisfaction Level on Chilli Planting Program. Chili is one of the important food commodities which are consumed by almost all of Indonesian people. In some situations, the availability of chili is limited, so that its price is increasing significantly. This situation has encouraged the Government of Indonesia (GoI) to launch the Chili Planting Program. The purpose of this study was to analyze the level of household satisfaction to Chili Planting Program. The study was done in Bogor and Jakarta in February until December 2017. The method used was an interview based on quesionaire distributed to 95 women involved in PKK (family welfare development program). Data collected was analysed using Customer Satisfaction Index (CSI), furthermore to know some attributes which affected respondents satisfaction, the data was analyzed using Importance Performance Analysis (IPA). The results were said that CSI of household in Bogor was 53.18% and in Jakarta was 49.89%, which were in the range of 40.01% - 60.01%. That is meant the level of household satisfaction on two locations of the study was not satisfied yet. Therefore it is necessary to improve the performance of attributes i.e. explaining how to plant chili, assisting and providing planting media, fertilizers and pesticides with the aim that the chili cultivation program will successful, or achieving a satisfaction level of 80.01% - 100%.Keywords: chilli, planting program, level of satisfaction, householdABSTRAK Cabai merupakan salah satu komoditas pangan yang penting, karena dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Pada saat-saat tertentu (seperti hari raya) ketersediaan cabai sangat terbatas, sehingga harga melonjak dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Fenomena tersebut mendorong pemerintah untuk melakukan penanaman cabai secara masal melalui Program Gerakan Tanam (Gertam) Cabai. Tujuan kajian adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan responden terhadap program Gertam Cabai. Penelitian dilakukan di Bogor dan Jakarta pada bulan Februari sampai Desember 2017. Metode penelitian adalah wawancara berdasarkan kuesioner kepada 95 ibu rumah tangga dalam kelompok PKK. Data yang terkumpul dianalisa menggunakan metode Customer Satisfaction Index (CSI), yang dilanjutkan dengan Importance Performance Analysis (IPA) untuk mengetahui atribut-atribut yang mempengaruhi tingkat kepuasan responden. Tingkat kepuasan ibu rumah tangga terhadap program gertam cabai untuk lokasi Bogor adalah 53,18% dan Jakarta adalah 49,89%. Di kedua lokasi tingkat kepuasan berada pada rentang 40,01 – 60,01%, yang artinya tingkat kepuasan responden biasa atau posisi sedang atau dikatakan belum berhasil. Oleh karena itu diperlukan peningkatan kinerja atribut penjelasan cara menanam cabai, pendampingan dan penyediaan media tanam, pupuk dan pestisida dengan tujuan agar program Gertam Cabai berhasil, atau mencapai tingkat kepuasan 80,01 – 100%.Kata kunci: cabai, gerakan tanam, tingkat kepuasan, rumah tangga 
TEKNOLOGI PENINGKATAN INTENSITAS PERTANAMAN SAWAH TADAH HUJAN DI SULAWESI TENGAH Syamsul Bakhri; Hartono ;; Zaenaty Sannang; Heny Purwaningsih
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n1.2003.p%p

Abstract

The assessment was aimed at obtaining the technology packages of cropping patterns in the specificlocation of rainfed lowland using soybean, mung bean, rice ratooning of the first planting season. Theassessment was conducted in Wanagading village, Moutong subdistrict, Donggala, Central Sulawesi from Marchto December 2001. The assessment was done using randomized block design with four replications. Thetechnology packages of cropping patterns assessed were (1) rice-soybean with minimal inputs, (2) rice-soybeanwith optimal inputs, (3) rice-mungbean with low inputs, (4) rice-mungbean with optimal inputs, (5) rice-ricerationing, and (6) farmers’ cropping pattern as the control. Rice crops in the first planting season used Digulvariety with fertilizers dosage of 200 kg of Urea, 100 kg of SP36, and 50 kg of KCl per hectare. In the secondplanting season, soybean and mungbean with optimal input were treated with Urea of 100 kg per hectare,respectively, and those with low input were treated with Rhizobium for soybean and no fertilizer for mungbean.The cropping patterns of rice-soybean and rice-rice ratooning could increase cropping intensity up to 134.6 and96.8 percent, respectively, and R/C ratio of farmers income to 2.24 and 2.34, respectively.Key words : technology packages, cropping patern, rice, soybean, mungbean, ratooningPengkajian bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi pola tanam spesifik lokasi denganmemanfaatkan tanaman kedelai, kacang hijau dan pemeliharaan ratun tanaman padi pertama. Kegiatan perakitanpaket teknologi dilaksanakan di Desa Wanagading Kecamatan Moutong Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengahdari bulan Maret sampai Desember 2001. Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi pola tanamspesifik lokasi dengan memanfaatkan tanaman kedelai, kacang dan hijau dan pemeliharaan ratun tanaman padipertama. Pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Paket teknologi yangdikaji adalah : (1) pola tanam padi-kedelai dengan masukan minimal, (2) pola tanam padi-kedelai denganmasukan optimal, (3) pola tanam padi-kacang hijau dengan masukan rendah, (4) pola tanam padi-kacang hijaudengan masukan optimal, (5) pola tanam padi-pemeliharaan ratun, (6) pola petani (kontrol). Tanaman padi padamusim pertama mengunakan varietas Digul dengan pemupukan 200 kg urea, 100 kg SP36 dan 50 kg KCL perha. Pada musim kedua, tanaman kedelai dan kacang hijau pada masukan optimal dipupuk dengan Urea sebanyak100 kg/ha sedangkan untuk masukan rendah hanya diberi Rhizobium sebagai seed treatment untuk tanamankedelai, sedangkan untuk tanaman kacang hijau tidak dipupuk. Hasil pengkajian menunjukkan bahwapemupukan NPK pada tanaman padi pada musim pertama cenderung meningkatkan hasil panen padi, demikianpula terhadap tanaman kedelai dan kacang hijau yang dipupuk dengan urea. Pola tanam padi-kedelai denganmasukan rendah dan padi-pemeliharaan ratun dapat meningkatkan intensitas pertanaman, panen dan pendapatanusahatani lahan sawah tadah hujan masing-masing sebesar 134,6 dan 96,8 persen dengan nilai R/C masingmasing2,24 dan 2,34.Kata kunci : paket teknologi, pola tanaman, padi, kedelai, kacang hijau, ratun.
KAJIAN ADOPSI PENERAPAN TEKNOLOGI PUPUK ORGANIK KASCING DI DAERAH SENTRA PRODUKSI SAYURAN KABUPATEN TABANAN Suharyanto .; I Ketut Kariada
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v14n1.2011.p%p

Abstract

Adoption Analysis on The Application of Organic Casting Fertilizer at Area of Vegetables Production Centre in Tabanan District. Adoption of organic casting fertilizer technology applied at upland vegetables centre in Baturiti District of Tabanan Bali has been evaluated. The aim was to reduce the intensive use of chemical fertilizers where research on integration of crops and livestock farming systems was implemented since 2002 until 2005. Data was collected by survey in March to June 2004 whereas 35 farmer cooperators were involved. Types of data collected were characteristics of farmers, farmers intends to adoption, technology application, and crops production. This research was purposed to gain information on the adoption of organic casting technology and the impact of research activities on vegetables production.The data was analyzed using descriptive analysis in the form of quatitative and qualitative data by scoring techniques. Research result showed that average knowledge of farmers on innovation of organic casting fertilizer was very high (86.64%), and farmers attitude to technology innovation was classified agree with percentage score of 82.44%. Productivity of vegetables increases compared to manure application. For the sustainability adoption of organic casting fertilizer, therefore required: (1) increasing the ownership of cattle, (2) continued guidance by extension workers since preparation, harvest until products marketing, (3) existing guaranty, stable and good price due to organic products, (4) the existing of awareness and participation of farmers or farmers group, and (5) supporting from local Government.Kajian adopsi penerapan teknologi pupuk organik kascing di daerah sentra produksi sayuran ini merupakan evaluasi dari kegiatan pengkajian sistem usahatani integrasi ternak sapi potong pada usahatani sayuran di lahan kering dataran tinggi beriklim basah Kabupaten Tabanan tahun 2001-2003.Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei pada bulan Maret-Juni 2004 terhadap 35 petani responden. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik petani, perilaku petani terhadap adopsi, penerapan teknologi, serta produktivitas tanaman. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh informasi: tingkat adopsi teknologi pupuk organik kascing dan dampak kegiatan pengkajian integrasi ternak sapi potong pada usahatani sayuran terhadap produktivitas sayuran. Data dianalisis secara deskriptif baik kualitatif maupun kuantitatif dengan teknik skoring. Hasil kajian menunjukan bahwa rata-rata tingkat pengetahuan petani tentang inovasi pupuk organik kascing termasuk dalam kategori sangat tinggi 86,64%, sedangkan sikap petani terhadap inovasi teknologi pupuk organik kascing termasuk dalam kategori setuju, dengan persentase pencapaian skor 82,44%. Produktivitas beberapa komoditas sayuran juga meningkat dibandingkan dengan pupuk kandang biasa. Agar adopsi teknologi pupuk organik kascing dapat berlanjut, maka diperlukan : (1) meningkatkan jumlah kepemilikan ternak sapi, (2) bimbingan oleh petugas terus-menerus, sejak persiapan, panen hingga pemasaran hasil, (3) adanya jaminan harga yang layak dan stabil mengingat produk yang dihasilkan petani dilokasi pengkajian sudah mengarah pada produk pertanian organik, (4) kesadaran dan partisipasi petani sendiri, serta (5) dukungan pemerintah daerah.
PENINGKATAN NILAI TAMBAH AGRIBISNIS MELALUI PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI USAHATANI PADI : STUDI KASUS KEGIATAN PRIMA TANI KABUPATEN MUSI RAWAS, SUMATERA SELATAN Yanter Hutapea; Pandu AP Hutabarat; Tumarlan Thamrin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n1.2010.p%p

Abstract

Increasing of Agribusiness Value Added through Aplication of Rice Farming System TechnolgyInnovation: A Case Study of Prima Tani Activity In Musi Rawas District, South Sumatera. The application oftechnology innovation was conducted to overcome productivity disparity, to increase farmer income and to improvefarmer prosperity. Technology innovation on rice farming has been applied at “Prima Tani” activities on intensiveirrigation land since 2005 in South Sumatera Province. The aim of this study was to compare the application oftechnology innovation, cost production and rice farming income between participant and non participant farmers. Dataof rice farming activity during wet season in 2006/2007 was collected in Mei until September 2007 by interviewingparticipant farmer of Prima Tani in Kertosari Village and compared the result to the non participant in PurwakaryaVillage, Purwodadi Sub-district, Musi Rawas Regency. Samples was taken by Disproportionate Stratified RandomSampling. Result showed that the scores of technology application from participant and non participant farmerswere 6.38 and 4.37 respectively. However, there was no statistically difference between two farmers groups andincluded as medium category of technology application. The productivity of harvested dried rice of participantfarmers was 7. 8 kg/ha and 7.2 5 kg/ha for non participant farmers. Total cost of rice farming for participant andnon participant farmers were Rp.5,786,035/ha and Rp.6,663,875/ha respectively. Rice farming income of participantfarmer (Rp.8,228,9 5/ha) was significantly different from those in non-participant farmer (Rp.7,235,435/ha).Key words: Paddy, farming system, innovation, income. Penerapan teknologi inovasi dilakukan untuk mengatasi masalah senjang produktivitas, meningkatkanpendapatan usahatani dan kesejahteraan petani. Inovasi teknologi pada usahatani padi dilakukan melaluikegiatan Prima Tani lahan irigasi intensif Provinsi Sumatera Selatan sejak tahun 2005. Kegiatan ini bertujuanuntuk membandingkan penerapan teknologi usahatani padi, biaya yang dikeluarkan dan pendapatan usahatanipadi yang diperoleh oleh petani peserta dan bukan peserta Prima Tani. Pengumpulan data untuk meliput aktivitasusahatani dari musim hujan 2006/2007 dilakukan melalui wawancara pada bulan Mei-September 2007 padapetani peserta Prima Tani di Desa Kertosari dibandingkan dengan petani bukan peserta di Desa Purwakarya padakecamatan yang sama yaitu Kecamatan Purwodadi. Pengambilan sampel petani pemilik-penggarap secara AcakBerlapis Tak Berimbang. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa skor penerapan teknologi pada petani pesertadan bukan peserta masing-masing 6,38 dan 4,37, tetapi secara statistik tidak berbeda nyata dan termasukdalam kategori penerapan teknologi pada tingkat sedang. Produksi gabah kering panen yang diperoleh petanipeserta dan bukan peserta sebanyak 7. 8 kg/ha dan 7.2 5 kg/ha. Biaya total yang dikeluarkan oleh petani pesertaPeningkatan Nilai Tambah Agribisnis melalui Penerapan Inovasi Teknologi Usahatani Padi :Studi Kasus Kegiatan Prima TaniKabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan (Yanter Hutapea, Pandu AP Hutabarat dan Tumarlan Thamrin)53sebesar Rp.5.786.035/ha, sedangkan petani bukan peserta sebesar Rp.6.663.875/ha. Pendapatan usahatani padiyang diperoleh petani peserta (Rp.8.228.9 5/ha) secara nyata dibanding petani bukan peserta (Rp.7.235.435/ha).Kata kunci: Padi,usahatani, inovasi, pendapatan.
PENGARUH SUMBER BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KENTANG DI KABUPATEN KERINCI, JAMBI Syafri Edi; Yardha ;; Mildaerizanti ;; Mugiyanto ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

Quality seed supply is the main problem in potato farming. The assessment was aimed at analyzing sourcesof potato seeds’effect on yields and farmers’income. The study was conducted in Baru Pulau Sangkar Village,Batang Merangin District, Kerinci Regency on May to December 2003. Sources of seeds were (i) improved seeds ofBBU Pangalengan, West Java, and (ii) farmers’local seed of Kayu Aro, Kerinci Regency. The treatment was fertilizerrates, namely of Urea (150 kg/ha), SP-36 (450 kg/ha), KCl (300 kg/ha), ZA (150 kg/ha), and organic fertilizer (6,000kg/ha). Highest yield was achieved through application of improved seeds, namely 15,850 kg/ha with income of Rp29,030,000/ha, production cost of Rp 13,291,000/ha, and profit of Rp 15,739,000 or B/C ratio of 1.18. The localseeds’yield was 13,750 kg/ha with income of Rp 17,287,500, total cost of Rp 13,291,00, and profit of Rp3,996,500/ha or B/C ratio of 0.30. yield break event point of both seeds was 8,935.13 kg/ha and price break evenpoints of improved and local seeds were Rp 838.55/kg and Rp 966.62/kg, respectively.Key words: Solanum hybrid seed, indegenous seed, farm analysisPermasalahan dalam melakukan budidaya kentang selalu dihadapkan pada ketersediaan bibit bermutu, sehinggausaha pengembangan kentang sering tidak optimal. Permasalahan ini tidak saja berlaku untuk Provinsi Jambi, akantetapi secara umum dirasakan oleh petani kentang di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruhsumber bibit terhadap pertumbuhan dan hasil usahatani kentang; dan mendapatkan informasi tentang kelayakanusahatani tanaman kentang dalam rangka meningkatkan produksi serta penerimaan petani. Penelitian dilaksanakan diDesa Baru Pulau Sangkar, Kecamatan Batang Merangin Kabupaten Kerinci pada ketinggian 800 m dari permukaanlaut dengan jenis tanah Andisol pada bulan Mei sampai Desember 2003. Sumber bibit yang diuji berasal dari (1) bibitunggul BBU Pengalengan Jawa Barat; dan (2) bibit lokal petani Kayu Aro Kabupaten Kerinci. Pemupukanmenggunakan dosis anjuran BPTP Jambi yaitu urea 150 kg, SP-36 450 kg, KCl 300 kg, ZA 150 kg dan pupuk organik6.000 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan produksi tertinggi diperoleh pada sumber bibit unggul 15.850 kg/ha,jumlah penerimaan Rp. 29.030.000,- dengan biaya produksi Rp. 13.291.000,- dan keuntungan bersih Rp. 15.739.000,-serta B/C ratio 1.18, sedangkan untuk sumber bibit lokal hasil 13.750 kg/ha, jumlah penerimaan Rp. 17.287.500,-biaya produksi Rp. 13.291.000,- dan keuntungan bersih Rp. 3.996.500,- serta B/C ratio 0,30. Titik Impas Produksiuntuk kedua sumber bibit tercapai pada hasil 8935,13 kg/ha, sedangkan Titik Impas Harga untuk bibit unggul telahtercapai pada harga Rp. 838,55/kg dan untuk sumber bibit lokal Rp. 966,62/kg.Kata kunci : bibit kentang unggul, bibit kentang lokal, analisis usahatani
KELEMBAGAAN PEMASARAN TERNAK SAPI POTONG DI TIMOR BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR Yusuf ;; J. Nulik
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n2.2008.p%p

Abstract

Cattle Marketing Institutions in West Timor, East Nusa Tenggara. The cattle marketing in East Nusa Tenggara (NTT) has not yet been conducted through a careful planning, but it is more influenced by cash needs. Besides that there were so many marketing channels before reaching the end consumers, thus the margins received were relatively variable. The aims of this research, were: (1) to find out the marketing channels of beef, (2) to find out the margin of each channel, (3) to find out various problems faced in beef marketing, and (4) to formulate recommended policies for the local government related to beef cattle development. Trader samplings were conducted by purposive samplings, i.e. by following the market channels, i.e. from: producers, village traders, livestock market traders, to the inter island traders (end consumers). Data collected in the research consisted of primary and secondary data. The results indicate that there are three market channels, i.e.: (1) Producers- village traders — livestock market traders — inter island traders, (2) Producers — livestock market traders — inter island traders, and (3) Producers — inter island traders. The highest marketing margin was obtained from the first marketing channel (Rp.1,062,500,- per head) and the lowest was from the third marketing channel (Rp.637,500,- per head). The main problem in the cattle marketing in NTT was the high cost of marketing caused by the execution of the local government regulations related to taxes, retributions and many other cost components that are difficult to avoid during the marketing process. Therefore there should be deregulation by the local government in relation to the provision of infrastructures and supporting facilities for marketing and the control on double tax payments, though they may have legal supports. Key words: Marketing, beef cattle, East Nusa Tenggara Pemasaran ternak sapi potong di NTT belum dilakukan dengan perencanaan yang matang, tetapi lebih dipengaruhi oleh adanya kebutuhan uang tunai. Selain itu masih banyaknya saluran pemasaran sampai ke konsumen akhir sehingga margin yang diterima petani relatif bervariasi. Tujuan penelitian: (1) mengetahui saluran pemasaran temak potong, (2) mengetahui margin dari setiap saluran pemasaran, (3) mengetahui berbagai masalah yang dihadapi dalam pemasaran temak potong, dan (4) merumuskan rekomendasi kebijakan kepada Pemda berkaitan dengan pengembangan ternak potong. Pengambilan sampel pedagang dilakukan secara purposive sampling, yaitu dengan mengikuti saluran pemasaran yang dilalui oleh temak sapi, yakni dari Produsen, Blantik Desa, Blantik Pasar Hewan sampai ke Pedagang Antar Pulau (konsumen akhir). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga bentuk saluran pemasaran, yaitu : (1) Produsen - blantik desa - blantik pasar hewan - pedagang antar pulau, (2) Produsen - blantik pasar hewan - pedagang antar pulau, (3) Produsen - pedagang antar pulau. Margin pemasaran yang paling besar adalah pada saluran I yakni Rp.1.062.500/ekor dan yang terkecil pada saluran HI yakni Rp.637.500/ekor. Masalah utama dalam pemasaran ternak adalah tingginya biaya pemasaran akibat diperlakukannya berbagai Perda terkait dengan pajak, retribusi serta banyaknya komponen biaya pemasaran yang sulit dihindari selama proses pemasaran. Perlunya deregulasi Pemda terkait sarana dan prasarana pemasaran dan menertibkan pungutan—pungutan ganda sekalipun mempunyai kekuatan hukum. Kata kunci : Pemasaran, ternak potong, Nusa Tenggara Timur
ANALISIS EFISIENSI USAHATANI SAYURAN DAN JARINGAN TATANIAGANYA DI KABUPATEN ENREKANG SULAWESI SELATAN Sunanto ;; Yusmasari ;; Sahardi ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2007): November 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n3.2007.p%p

Abstract

Analysis on the Efficiency of Vegetable Farm Enterprise and Business Network in Enrekang Regency South Sulawesi. This research aims to: 1) analyze the combination use of optimal resources to provide maximum income taking into account the land, labor, technology, and capital constrains owned by farmers, 2) analyze the optimal plant combination providing maximum income, and 3) analyze vegetable distribution. This research was conducted in Enrekang Regency South Sulawesi Province from January to December 2006. The analysis method used was Linier Programming approach. Enrekang Regency has the potency for vegetable development and goat husbandry. The development system for these two commodities was an integration one. To obtain optimum farming, farmers were suggested to allocate 0.75 ha land, 888 kg of potato seeds, 330 kg of shallot seeds, 4.4 kg carrot seeds, 14.11 packs cabbage seeds, 213.94 kg Urea, 150.25 kg SP36, 48.60 kg KCI, 105.70 kg ZA, 1.49 liters PPC, 1,027.14 kg organic manure, 4.05 liters pesticide, and 75.15 labor working days, and have 3 goats/HH. The resource allocation is capable of providing a net income of Rp.11, 267,910/year with inter cropping potato - shallot — cabbage for 0.60 ha, and inters cropping cabbage — potato — potato for 0.07 ha and inters cropping carrot — cabbage — cabbage for 0.08 ha. Marketing chain from farmers to consumers should not be a long one. This is caused by the vegetable characteristic that is easily damaged, so marketed vegetables must reach the consumers quickly. Key words: Efficiency, vegetable farm, marketing chain   Penelitian ini bertujuan; 1) menganalisis kombinasi penggunaan sumberdaya yang optimal dapat memberikan pendapatan maksimal dengan kendala lahan, tenaga kerja, teknologi, dan modal yang dimiliki petani, 2) menganalisis kombinasi jenis tanaman yang optimal dapat memberikan pendapatan maksimal, dan 3) menganalisis distribusi sayuran. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi Selatan, pada bulan Januari hingga Desember 2006. Metode analisis yang digunakan dengan pendekatan linier programming. Kabupaten Enrekang mempunyai potensi untuk pengembangan sayuran dan ternak kambing. Sistem pengembangan kedua komoditas tersebut dilakukan secara integrasi. Untuk memperoleh usahatani yang optimal, maka petani disarankan mengalokasikan sumberdaya lahan 0,75 ha; 888 kg bibit kentang, 330 kg bibit bawang merah, 4,4 kg benih wortel, 14,11 bungkus benih kubis, 213,94 kg Urea, 150,25 kg SP36, 48,60 kg KCL, 105,70 kg ZA, 1,49 It PPC, 1.027,14 kg pupuk kandang, 4,05 It pestisida, dan penggunaan tenaga kerja sewa 75,15 HOK, serta memelihara ternak kambing 3 ekor/KK. Alokasi sumberdaya tersebut mampu memberikan pendapatan bersih sebesar Rp.11.267.910/tahun dengan pola tanam kentang — bawang merah ­kubis seluas 0,60 ha, dan pola tanam kubis — kentang — kentang seluas 0,07 ha serta pola tanam wortel — kubis ­kubis seluas 0,08 ha. Urutan jaringan tata niaga dart produsen (petani) ke konsumen melewati jaringan yang tidak panjang. Hal ini dikarenakan sifat komoditas sayuran itu sendiri yang mudah rusak, maka sayuran yang dipasarkan harus cepat sampai kepada konsumen. Kata kunci : Efisiensi, usahatani sayuran, lataniaga
PERAN TAMBAHAN MODAL TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KABUPATEN BLITAR DAN NGAWI, JAWA TIMUR Hari Hermawan; Harmi Andrianyta
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v16n2.2013.p%p

Abstract

ABSTRACTRole of Capital Increase Against Rice Farming Income in Blitar and Ngawi Regency, East Java. The assessment aims to analyze the role of additional capital to income derived from rice farming PUAP done in Blitar and Ngawi in 2010. Assessment involves 12 Gapoktan deliberately chosen based ranking of member Gapoktan and farmers as the unit of analysis. Primary data were collected by interviews with 32 respondents representing Gapoktan equipped with focus group discussions on each of the key figures who are competent. Primary data collected consisted of the use of capital farmers, farm land size, the amount of financial aid received, productivity and farm income. Results of data analysis using quantitative and qualitative descriptive approach shows the following matters namely farmers utilize additional capital for the purchase of PUAP components of fertilizers and pesticides that are considered important to increase farm productivity. Where the revenue increase is a reflection of increased farm productivity that occurs as the optimal use of technology. But the success of the use of BLM PUAP boost farmers' income, irrespective of the good control by Gapoktan. Key words: Rice, additional fund, rural business development agribusiness, farm income ABSTRAK Pengkajian yang bertujuan untuk menganalisis peran tambahan modal yang bersumber dari PUAP terhadap pendapatan usahatani padi dilakukan di Kabupaten Blitar dan Ngawi akir tahun 2010. Pengkajian melibatkan 12 Gapoktan yang dipilih secara sengaja berdasarkan pemeringkatan Gapoktan dan petani anggota Gapoktan sebagai unit analisis. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara terhadap 32 orang responden mewakili Gapoktan dilengkapi dengan  diskusi kelompok terfokus terhadap tokoh kunci yang kompeten. Data primer yang dikumpulkan terdiri dari penggunaan modal petani, luas garapan usahatani, besarnya bantuan modal yang diterima, produktivitas dan pendapatan usahatani. Hasil analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif menunjukkan sebagai berikut yakni petani memanfaatkan tambahan modal dari PUAP untuk pembelian komponen-komponen pupuk dan pestisida yang dianggap penting untuk peningkatan produktifitas usahatani. Dimana peningkatan pendapatan ini merupakan refleksi peningkatan produktifitas usahatani yang terjadi karena penggunaan teknologi yang optimal. Namun keberhasilan pemanfaatan BLM PUAP dalam mendorong peningkatan pendapatan petani, tidak tergantung dari pengendalian yang baik oleh pengurus Gapoktan. Kata kunci: Padi, tambahan modal, PUAP, pendapatan usahatani
KOMPOSISI DAN PENYEBARAN PATOTIPE Xanthomonas oryzae pv. oryzae, PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI PADI DI JAWA TIMUR Sudir .; Handoko .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v15n1.2012.p%p

Abstract

The pathotype composition and distribution of Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) in central of rice production in East Java. An experiment to study the pathotype composition and distribution of Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) in central of rice production in East Java was conducted at the planting season of 2010. Three steps trial was conducted such as removed of leaves infected by bacterial leaf blight (BLB, isolation of Xoo in a laboratory, and tested pathotype in screen house.  Rice leaves showing typical bacterial leaf blight symptom were collected from various farmers rice field. The samples were detached and put into the paper envelope, and then it taken in the laboratory for isolation process of  Xoo.  Isolation of Xoo was done in the Laboratory of Pythopathology, Indonesian Centre for Rice Research, Sukamandi.  Pathotype identifications were done by inoculating the isolates of Xoo on differential varieties in the screen field ICRR in Sukamandi at wet season (WS) 2010. Resistance reaction was identified using the criteria of the disease severity. Disease severity ≥ 11% was considered resistant (R) and it >12% was considered susceptible (S). The result showed that leaves infected by BLB were obtained among 131 and it were collected 126 isolates of Xoo. Identification of pathotype indicated that in East Java, it were obtained 30 isolates (23.8% pathotype III), 43 isolates (34.1% ) pathotype IV, and 53 isolates (42.1%) pathotype VIII. Penelitian untuk mengetahui komposisi dan sebaran kelompok patotipe bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) penyebab penyakit hawar daun bakteri (HDB) di beberapa daerah produksi padi di Jawa Timur telah dilaksanakan pada musim tanam 2010. Penelitian meliputi tiga tahap kegiatan, yaitu pengambilan sampel daun sakit HDB dilaksanakan dengan metode survei, isolasi bakteri Xoo di laboratorium, dan pengujian patotipe bakteri Xoo di rumah kaca.  Daun padi bergejala HDB yang dikoleksi dari lapangan dimasukkan ke dalam amplop kertas kemudian dibawa ke laboratorium untuk keperluan isolasi bakteri Xoo. Isolasi bakteri Xoo dilakukan di laboratorium dan  inokulasi bakteri Xoo pada tanaman padi diferensial dilakukan di screen field BB Padi. Isolasi bakteri Xoo menggunakan metode pencucian. Pengujian patotipe dilaksanakan dengan menginokulasikan isolat Xoo pada 5 varietas diferensial di rumah kaca dengan metode gunting. Reaksi ketahanan varietas diferensial dikelompokkan berdasarkan keparahan penyakit. Varietas tergolong tahan (T) bila keparahan penyakit kurang atau sama dengan 11%, tergolong rentan (R) bila keparahan lebih dari 12%. Pengelompokan patotipe berdasar pada nilai interaksi antara varietas diferensial dengan virulensi bakteri Xoo. Hasil pengumpulan daun sakit HDB diperoleh sebanyak 131 sampel. Hasil isolasi bakteri Xoo dari sampel tersebut diperoleh sebanyak 126 isolat bakteri Xoo.  Hasil pengujian patotipe terhadap varietas diferensial  dari isolat bakteri Xoo yang diperoleh menunjukkan sebanyak 30 isolat (23,8%) tergolong patotipe III, 43 isolat (34,1%) patotipe IV, dan 53 isolat (42,1%) patotipe VIII.
PENGARUH PENGGUNAAN KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP MUTU BUAH SALAK BALI W. Trisnawati; Rubiyo ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

Bali Salacca (snake’s skin fruit) (Salacca edulis Reinw) is one of the exotic fruits. The fruit is easilydamaged if it is not properly handled since harvesting up to marketing. It is possible to lengthen its shelf-life throughappropriately post harvest and packaging handling. The research was carried out in Telaga village, Sibetan Subdistrict,Karangasem District on August 2001. The fruits, either detached from or still attached with their bunch, were packedinside wrapping-paper and bamboo boxes (besek). Fruits storage lasted for 15 days and observations were conductedon 3rd , 6th , 9th , 12th , and 15th days. Results of analysis of variance showed that contents of vitamin C, total acid, pH andtotal soluble solid (TSS) were significantly different (P<0.1). The longer the storage the less the contents of vitamin Cand total acid, and the greater the contents of water and starch would be. Organoleptic tests on aroma and sweetnesswere weak to fairly strong up to 6th day. Texture and taste preference tests were dislike to common. Bamboo box gavethe best result in which it can maintain fruits freshness until 12th day and scoring showed from dislike to common.Key words : snake’s skin fruit, packaging, storage, organoleptic test Buah salak (Salaca edulis Reinw) termasuk salah satu jenis buah-buahan tropis yang merupakan komoditasyang mudah rusak bila tidak ditangani secara hati-hati mulai dari saat panen sampai buah tersebut siap dipasarkan.Untuk menghindari kerusakan ini dapat diupayakan dengan cara penanganan pasca panen dan pengemasan yang dapatmemperpanjang masa simpan buah. Penelitian ini dilakukan di Dusun Telaga Kecamatan Sibetan KabupatenKarangasem pada bulan Agustus 2001. Pengemasan buah dengan menggunakan karton ataupun besek dalam bentuksalak pipil atau tandan diharapkan dapat memperpanjang masa simpan buah. Penyimpanan dilakukan selama 15 haridengan pengamatan pada hari ke-3, 6, 9, 12 dan 15. Hasil sidik ragam kadar vitamin C, total asam, pH dan TPT (totalpadatan terlarut) menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,1). Semakin lama penyimpanan terjadi penurunan kadarvitamin C, total asam sedangkan kadar air semakin meningkat dan kadar pati turun. Penilaian organoleptik terhadaparoma, rasa manis adalah lemah sampai agak kuat pada penyimpanan selama 6 hari. Penilaian tekstur dan kesukaanrasa dari tidak suka sampai biasa. Penggunaan wadah besek dalam bentuk tandan memberikan hasil yang terbaikdimana mampu mempertahankan kesegaran buah selama 12 hari dan penilaian panelis dari tidak suka sampai biasa.Kata kunci : salak, kemasan, penyimpanan, uji organoleptik

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue