cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
EVALUASI POLA PEMANFAATAN SUMBERDAYA LAHAN DI ANTARA KELAPA DENGAN TANAMAN SELA BERDASARKAN KAJIAN ASPEK SOSIAL EKONOMI DAN KONSERVASI LAHAN Husen Hasni
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Intercropping between coconut trees with other crops has been implemented for a long time. These croppingpatterns do not produce maximal yields due to sosio-economic and land conservation aspects. Evaluating thoseaspects will lead to specific patterns and sustainable farm practices. The study aimed (1) to evaluate intercroppingpatterns between cooconut and other crops based on social-economic and land conservation aspect; (2) to get thespecific intercropping patterns which result in maximal income and minimal environmental degradation. The studywas carried out in Minahasa Regency, North Sulawesi Province, using a survey method with a purposive sampling of120 respondents from two districts, namely Tombatu and Wori. Based on social economic and land conservationaspects analysis, coconut + vanili in Tombatu is the best pattern with Compatible Comparative Value (NKK) of 92.10percent, and the best intercropping pattern in Wori District was coconut + banana with NKK of 92.90 percent. Thosetwo intercropping patterns (vanili and banana) had no limited factors because of god social response, more benefits,and less ecological destruction. The other intercropping patterns with NKK of more than 60 percent had limitedfactors in terms of social economic and land conservation aspects.Key words : land resource conservation, coconut, economic social, North SulawesiProgram pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela di Sulawesi Utara sudahberlangsung lama, namun hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Faktor yang diduga menjadi hambatan adalah aspeksosial ekonomi dan konservasi lahan. Dengan evaluasi kedua aspek ini diharapkan ditemukan pola pemanfaatansumberdaya lahan di antara kelapa dengan tanaman sela yang spesifik lokasi dan berkelanjutan. Tujuan penelitianadalah (1) Mengevaluasi pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela berdasarkan kajianaspek sosial ekonomi dan konservasi lahan, (2) Mendapatkan pola pemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapadengan tanaman sela yang memberikan nilai tambah pendapatan yang maksimal dengan kerugian ekologis yangminimal. Penelitian dilakukan di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan metode survai.Pengambilan sampel dilakukan secara tertuju (purposive sampling) sebanyak 120 sampel di dua kecamatan yaituKecamatan Tombatu dan Kecamatan Wori, masing-masing 60 petani disesuaikan dengan banyaknya polapemanfaatan sumberdaya lahan diantara kelapa dengan tanaman sela yang diusahakan petani. Data primer yangdikumpulkan adalah data sosial ekonomi petani dan konservasi lahan berupa pengukuran tingkat erosi sertapengambilan sampel tanah untuk mengetahui ketersediaan hara dari masing –masing pola usahatani tanaman seladiantara kelapa. Berdasarkan kajian aspek sosial ekonomi dan konservasi lahan diperoleh bahwa pola kelapa + vanilidi Kecamatan Tombatu merupakan pola yang yang terbaik untuk diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif(NKK) sebesar 92,10 persen. Untuk Kecamatan Wori, pola kelapa + pisang adalah pola yang terbaik untukdiusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif sebesar 92,90 persen. Kedua jenis tanaman sela ini adalah tanamansela yang hampir tidak mempunyai faktor pembatas karena secara sosial mendapat respon yang tinggi, secara ekonomilebih menguntungkan dengan kerugian ekologis terkecil. Pola kelapa + cengkeh, kelapa + tomat, kelapa + jagung, dankelapa + padi ladang, walaupun layak diusahakan dengan nilai kesesuaian komparatif lebih besar dari 60 persennamun masih mempunyai faktor pembatas baik dari aspek sosial ekonomi maupun konservasi lahan.Kata kunci : konservasi sumberdaya lahan, kelapa, sosial ekonomi, Sulawesi Utara
SISTEM USAHA TANI TERPADU DI LAHAN LEBAK KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN, KALIMANTAN SELATAN Retna Qomariah; Noor Amalie; Yanti Rina
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n1.2008.p%p

Abstract

Integrated Farming System on Fresh Water Swampy Land in Hulu Sungai Selatan Regency, South Kalimantan. The utilization of fresh water swampy land has not been optimal due to some land bio-physical and socio-economical constraints so that the production and income of the farmers are still low. In order to increase the farmers, an integrated farming system of specific location suitable with the bio-physical and socio­economical conditions of farmers is needed. Research on Farming System in Fresh Swampy Land in Hulu Sungai Selatan Regency is aimed to obtain a model of integrated farming system which can be adopted by the farmers, give benefits and increase the farmer income continually. The farming system models consisted of three models (MI, M2, and M3) conducted by 25 cooperator farmers with the total area of ± 10 ha and seven cooperators were chosen to carry out duck husbandry (feed fermentation technology) at their yards. One hundred and seventy five (175) ducks were used in the research. For the standard of comparison/ non-cooperator, fifteen farmers were selected from around the research area (Hamayung Utara Village). The data were collected by using farm record keeping method (FRK) and survey. The collected data were analyzed by using ratio of revenue and cost (R/C) and MBCR approaches. The research results show that integrated farming models could be adopted by farmers, were beneficial and increased farmer incomes and were feasible to be developed with a pattern of rice + corn + chili in the rice field and duck husbandry in the yard with MBCR value of 9.69, a net income of Rp 6,307,097 per 0.334 ha, 37.7% higher than the net income of model farmers which was Rp.4,586,893. The net income of the introduced model in 2005 compared to that model farmers increased 144%, i.e. from Rp.1,.740,476 to Rp.4,246,946 per 0.97 ha. Key words: Farming system, fresh water swampy landPemanfaatan lahan lebak masih belum optimal karena berbagai kendala biofisik lahan dan sosial ekonomi sehingga produksi dan pendapatan petani rendah. Untuk meningkatkan pendapatan petani diperlukan model sistem usahatani terpadu yang spesifik lokasi sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi petani. Pengkajian Sistem Usahatani di Lahan Lebak Kabupaten Hulu Sungai Selatan bertujuan untuk mendapatkan model usahatani terpadu yang dapat diadopsi petani, menguntungkan dan meningkatkan pendapatan petani secara berkelanjutan. Model sistem usahatani yang dikaji terdiri dari tiga model sistem usahatani (Ml, M2, dan M3) yang dilakukan oleh 25 orang petani kooperator dengan luas areal ± 10 ha dan dipilih 7 orang kooperator untuk melaksanakan usahatani itik (teknologi pakan fermentasi) di lahan pekarangan. Jumlah itik yang digunakan dalam pengkajian sebanyak 175 ekor. Sebagai pembanding/non kooperator dipilih 15 orang petani yang ada di sekitar wilayah pengkajian (Desa Hamayung Utara) secara acak. Data dikumpulkan melalui farm record keeping dan survei. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan imbangan biaya dan pendapatan (R/C) dan MBCR. Hasil pengkajian menunjukkan model usahatani terpadu dapat diadopsi petani, menguntungkan dan meningkatkan pendapatan serta layak untuk dikembangkan dengan pola usahatani padi + jagung + cabai di lahan sawah dan ternak itik di lahan pekarangan, dengan nilai MBCR = 0,69, pendapatan bersih sebesar Rp.6.307.097 per 0,334 ha, lebih tinggi sebesar 37,5% dibanding pendapatan bersih model petani sebesar Rp.4.586.893.Pendapatan bersih model introduksi tahun 2005 dibanding dengan pendapatan bersih model petani meningkat sebesar 144% yaitu dari Rp.1.740.476 menjadi Rp.4.246.946 per luas 0,397 ha.Kata kunci: Sistem usahatani terpadu, lahan lebak,Kalimantan Selatan
PENINGKATAN KEUNTUNGAN USAHATANI PADI MELALUI PENDEKATAN PTT DI LOKASI PRIMA TANI PROVINSI BANTEN Mewa Ariani; Andy Saryoko; Syahrial Muttakin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 3 (2009): November 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n3.2009.p%p

Abstract

The Profit Increase for Rice Farming Implementing Integrated Crop Management Approachat Prima Tani Locations in Banten Province. One of the technological implementation approaches closelyguided in PRIMA TANI program related to rice farm operations is the Integrated Crop management (ICM). Thisapproach is expected to be capable of increasing the rice productivity and farming efficiency that will have animpact on the farmer’s welfare. The objective of this study was to investigate how far the impact of ICM on thefeasibility and profitability of rice farming. The study was conducted in Prima Tani locations in Serang, Lebakand Pandeglang Regencies in Banten Province from August to October 2008. Data and information were collectedfrom interviewing ICM cooperator and non-cooperator paddy farmers (90 respondents) by using a structuredquestioner. The study results show that the rice farm operations implementing ICM approach is more profitable(R/C = 2.4) and more efficient (1.74) compared to that without ICM technology assistance. It can therefore beconcluded that ICM assistance has positive impacts on the efficiency or feasibility of paddy farm operations and iscapable of increasing the profit of paddy farm operations.Key words : ICM, Prima Tani, paddy farming, BantenABSTRAKSalah satu pendekatan penerapan teknologi yang dikawal atau didampingi dalam program Prima Taniberkaitan dengan usahatani padi sawah adalah Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Pendekatan PTT diharapkanmampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani padi yang selanjutnya akan memberi dampak padapeningkatan dan kesejahteraan petani. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana dampak dari PTTterhadap kelayakan dan keuntungan usahatani padi. Penelitian dilakukan di lokasi Prima Tani Kab. Serang,Lebak dan Pandeglang pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2008. Data dan informasi dikumpulkan dariresponden koperator dan non koperator Prima Tani melalui wawancara (90 responden) dengan menggunakankuesioner terstruktur. Hasil analisis menunjukkan bahwa usahatani padi dengan pendekatan PTT lebihmenguntungkan (R/C = 2.4) dan lebih efisien dengan nilai NKB 1,74 dibandingkan dengan usahatani padi yangdilakukan tanpa pendampingan teknologi PTT. Dapat disimpulkan bahwa pendampingan atau pengawalan PTTberdampak positip pada efisiensi atau kelayakan usahatani dan mampu meningkatkan keuntungan usahatani padi.Kata kunci : PTT, Prima Tani, Usahatani Padi, Banten
KAJIAN TEKNOLOGI USAHATANI PADI DI LAHAN KERING KALIMANTAN TENGAH Amik Krismawati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

Central Kalimantan is an Indonesian province that very potential to create paddy production due to its huge area (it has 14.63 million ha up land). BPTP Central Kalimantan has conducted a technological study based on paddy farming during rainy season. The study was conducted on a dry land at Rodok Village, Dusun Tengah District, Barito Timur Residency from September 2003 until January 2004. The purpose of this study was: 1). to find out the information on characteristic location, 2). to identify the right paddy variety which has a high yield and adaptive on dry land, 3). to find out the technological component of paddy system in dry land. The model used on this study is an `on farm research activity'. The preliminary activity was to identify the characteristics of the specific location by using Participatory Rural Appraisal (PRA). The assessment was set in Randomized Block Design with twelve treatments and four replications. The treatments were: adaptive technology test of paddy VI = Towuti, V2 = Situbagendit, V3 = Situpatenggang. The dosages of fertilizing patterns were P1 = 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCI + 2.000 kg compost, P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP- 36 + 50 kg KC1 + 1.000 compost, P3 = 250 kg Urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KCI. The results showed that the best paddy variety and adaptive one was Situpatenggang and the best fertilizer pattern was P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP 36 + 50 kg KCI + 1.000 kg compost. The data were analyzed using ANOVA and BNJ 5%. The results showed that those combination mentioned above, produced paddy seed yields as many as 4.65 ton/ha with R/C 2.12, providing a net income of Rp.3.180.000,-. Key words: variety, fertilizer, paddy, dry land farming, Central Kalimantan   Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yang berpotensi cukup besar dalam upaya peningkatan produksi padi nasional, karena memiliki lahan kering seluas 14,63 juta hektar. Salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP Kalimantan Tengah dalam peningkatan produksi padi adalah melaksanakan Pengkajian Sistem Usahatani Padi di Lahan Kering. Pengkajian dilaksanakan pada musim hujan dengan luas hamparan 5,3 hektar yang melibatkan 12 petani kooperator. Tujuan kegiatan adalah (1) mendapatkan informasi karakteristik lokasi pengkajian, (2) mengetahui varietas padi yang unggul dan adaptif untuk lahan kering dan (3) mendapatkan komponen teknologi usahatani padi di lahan kering. Kegiatan dilakukan secara on farm research dan diawali dengan karakterisasi lokasi pengkajian dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Pengkajian dilaksanakan di Desa Rodok, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Pengkajian berlangsung mulai bulan September 2003 sampai dengan Januari 2004. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua betas perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan berupa varietas unggul padi yaitu VI = Towuti, V2 = Situbagendit, dan V3 = Situpatenggang. Perlakuan pemupukan terdiri dari PI = 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KC1 + 2.000 kg kompos, P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCI + 1.000 kg kompos, P3 = 250 kg Urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KCI. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA dilanjutkan uji BNJ 5 %. Hasil pengkajian menunjukkan varietas padi yang adaptif adalah Situpatenggang dengan dosis P2 = 200 kg urea + 50 kg SP 36 + 50 kg KCI + 1.000 kg kompos. Kombinasi perlakuan tersebut memberikan hasil 4,65 ton/ha gabah kering dengan R/C 2,12 dengan keuntungan sebesar Rp.3.180.000,-. Kata kunci: varietas, pupuk, padi, usahatani lahan kering„ Kalimantan Tengah
POTENSI PENINGKATAN PRODUKSI PADI MELALUI PENGEMBANGAN PADI GOGO DI JAWA BARAT SELATAN : Studi Kasus di Lokasi Prima Tani Kabupaten Garut Agus Ruswandi Ruswandi; Bambang Susanto; Yayat .
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n2.2009.p%p

Abstract

 Potensi Peningkatan Produksi Padi Melalui Pengembangan Padi Gogo Di Jawa Barat Selatan : Studi Kasus Di Lokasi Prima Tani  Kabupaten Garut. West Java rice production has been decreasing, 10.820.862 t in 1993 and 9,602,302 t in 2004/2005, decrease 11,26%. One of potentions to increase rice production is trough gogo rice development. West Java have wide dry land mainly in South West Java that potential to development gogo rice. The research aimed to describe of potention to increase rice production trough development gogo rice. Research was conducted in 2006 at Jatiwangi Village, Garut District. The research conducted at farmer land by participative approach. Technology was introduced consist off  new advantage variety and improvement fertilization. The data was analized descriptively. Amount of land potential for gogo rice development, account from land evaluation for gogo rice data. The result off this research, gogo rice productivity with introduction technology higher depend on farmer technology, that are 1.44 t/ha with farmer technology and 3,59 t/ha with introduction technology. In three districts area (Pakenjeng, Bungbulang, dan Cikelet) there were 15,205 hectares dry land potential that suitable for gogo rice, consist off suitability class S1, S2, S3. Area S1 and S2 class amount 2,841 ha . If land potential  2,841 ha used gogo rice plantation with introduction technology, will be increasing gogo rice production from 4,091.04 t/season to 10,199.19 t/season (increasing 6,108.15 ts/season). That increasing, will be increase income from Rp.459,466,407/season to Rp.8,108,978,229/season. VUB introduction has been triggering to gogo rice extensification, and will be influence to West Java rice production Produksi padi Jawa Barat cenderung terjadi penurunan. Pada tahun 1993  produksi 10.820.862 t dan tahun 2004/2005 menjadi 9.602.302 t. Terjadi penurunan  11,26%.  Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh konversi lahan sawah. Salah  satu potensi untuk meningkatkan produksi padi Jawa Barat antara lain melalui pengembangan padi gogo. Lahan kering Jawa Barat cukup luas terutama di bagian Selatan dan potensial untuk pengembangan padi gogo. Tujuan penelitian memberikan gambaran peluang peningkatan produksi padi Jawa Barat melalui pengembangan padi gogo. Penelitian dilakukan di Desa Jatiwangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut tahun 2006. Introduksi teknologi dilaksanakan secara partisipatif di lahan petani meliputi penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) dan perbaikan pemupukan. Data diolah secara deskriptif. Luas potensi lahan pengembangan, dihitung dari data hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk padi gogo. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa produktivitas padi gogo dengan teknologi introduksi lebih tinggi dibanding teknologi petani yaitu 1,44 t/ha dengan teknologi petani, dan 3,59 t/ha dengan teknologi introduksi. Di tiga kecamatan (Pakenjeng, Bungbulang, dan Cikelet) terdapat potensi lahan kering yang cocok untuk padi gogo seluas 15.205 ha meliputi kelas kesesuaian S1, S2, S3. Kelas kesesuaian S1 dan S2 seluas 2.841 ha. Jika lahan 2.841 ha di tanami padi gogo dengan teknologi introduksi, maka akan meningkatkan produksi padi gogo dari 4.091,04 t/musim menjadi 10.199,19 t/musim (tambahan produksi 6.108,15 t/musim). Peningkatan produksi tersebut akan meningkatkan pendapatan wilayah dari Rp.459.466.407/musim menjadi Rp.8.108.978.229/ musim. Dengan demikian, Introduksi VUB padi gogo dapat menambah perluasan areal tanam padi yang sangat berarti terhadap pertambahan produksi padi di Jawa Barat.
KAJIAN ADAPTASI UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN SISTEM MINA PADI JAJAR LEGOWO DI LAHAN SAWAH IRIGASI Abd. Gaffar Tahir; Ali Musa Pasaribu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v6n2.2003.p%p

Abstract

In order to increase farmers’ incomes optimizing use of lowland was carried by applying rice-fishintegrated practice using row planting system of rice with freshwater shrimp and common carp. This assessmentwas aimed at determining optimal number of planting rows in lowland rice-fish integrated practice which wascarried out using a participatory approach on farmers’ low land. The lowland consisted of 12 units with total areaof 1.70 hectares. Densities of freshwater shrimp and common carp were each of 2 and 0.5 ind/m2 . Farm practiceswere carried for 14 weeks with treatments of planting rows of 2:2, 4:2, and 5:2, and the control was commonfarmers’ practice. Results showed that the highest weights of freshwater shrimp and common carp were each of19.53 grams and 195.69 grams, respectively, in treatment of planting row of 2:2 (A). Highest survival rates werefound in treatment 4:2 (B), namely 38.33 and 51.70 percent for freshwater shrimp and common carp, respectively.The costs and return analysis revealed that treatment B got highest profit of Rp 2,229,000 with R/C ratio of 1.3.On the other hand, treatment C (planting-row of 5:2) and treatment D (common farmers’ practice) obtainednegative profits. Productivity of lowland planted with rice only was 5.2 tons/hectare, but it increased to 13.25tons/ha if integrated with freshwater shrimp and common carp.Key words: adaptive research, rice-fish integrated farm, irrigated lowlandOptimalisasi pemanfaatan lahan sawah dilaksanakan dengan menerapkan sistem mina padi jajar legowodengan menggunakan komoditas udang galah dan ikan mas, agar pendapatan petani meningkat. Kajian inibertujuan untuk memperoleh jumlah baris tanam dengan sistem minapadi jajar legowo yang optimal di dalambudidaya udang galah dan ikan mas pada lahan sawah irigasi. Kajian adaptasi udang galah dan ikan mas dilakukansecara partisipatif di lahan petani, pada 12 unit petakan sawah dengan total luas lahan 1,70 hektar. Padatpenebaran untuk udang galah dan ikan mas, yaitu masing-masing adalah 2 ekor/m2 dan 0,5 ekor/m2 . Pemeliharaandilakukan selama 14 minggu, dengan perlakuan yang dicobakan adalah baris tanam jajar legowo 2:2, 4:2, dan 5:2,sedangkan sebagai kontrol adalah cara petani (tanam biasa). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa berat rataratatertinggi diperoleh pada perlakuan jajar legowo 2:2 (A), yaitu udang galah 19,53 gram dan ikan mas 195,69gram. Sedangkan sintasan tertinggi diperoleh pada perlakuan jajar legowo 4:2 (B), yaitu udang galah 38,33 persendan ikan mas 51,7 persen. Hasil analisis usahatani diperoleh keuntungan tertinggi pada perlakuan (B) sebesar Rp.2.229.000,- dengan RC ratio 1,3 sedangkan pada perlakuan C (jajar legowo 5:2) dan perlakuan D (tanam biasa)mengalami kerugian. Tingkat produktivitas lahan jika padi saja diperoleh sebesar 5,2 ton/ha (B), namun jikaditambah udang galah dan ikan mas, produktivitas lahan meningkat menjadi 13,25 ton/ha.Kata kunci : studi adaptasi, sistem mina padi, lahan sawah irigasi
AKUNTABILITAS DISEMINASI TEKNOLOGI HASIL PENELITIAN DAN PENGKAJIAN OLEH BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN Rachmat Hendayana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Dissemination is an important step of agricultural technology distribution. This paper aimed to investigateaccountability of agricultural technology dissemination carried out by the Assessment Institutes for AgriculturalTechnology (AIAT) during three years (1998 –2000), based on case studies in 12 provinces of ParticipatoryAssessment of Agricultural Technology Project (PAATP). Data collection was conducted through direct interview andfield observation using questionnaires and the respondents were researchers and agricultural extension workers. Datawere analyzed using qualitative and quantitative approaches. The results showed: (a) technology dissemination carriedout by the AIATs was relatively limited and it depended on appreciation of AIATs’top management, (b) continuedand new technology disseminations were relatively the same with moderate value of 285,2 to 292,9, and (c) toimprove dissemination accountability the AIATs need to focus on indicators of inputs, outputs, benefits, outcomes andimpacts.Key words: Assessment Institutes for Agricultural Technology, dissemination accountability; specific location Diseminasi merupakan tahapan penting dalam upaya menyebarluaskan teknologi hasil penelitian danpengkajian pertanian Makalah ini bertujuan membahas akuntabilitas diseminasi teknologi hasil penelitian danpengkajian oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dalam kurun waktu tiga tahun (1998 –2000), kasus di12 provinsi PAATP. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung di lapanganmenggunakan panduan pertanyaan. Informasi dikumpulkan dari peneliti dan penyuluh pertanian di tiap BPTP contoh.Melalui pembahasan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif diperoleh gambaran berikut: (a) Kegiatan diseminasioleh BPTP masih relatif rendah. Hal ini erat kaitannya dengan apresiasi pimpinan BPTP terhadap kegiatandiseminasi, (b). Keragaan diseminasi yang baru dan lanjutan relatif sama yaitu termasuk dalam kategori nilai cukupdengan kisaran nilai rata-rata 285,2 –292,9, (c) Untuk meningkatkan akuntabilitas diseminasi ini sebaiknyapembinaan difokuskan pada aspek-aspek yang ada dalam masing-masing indikatornya meliputi unsur masukan,keluaran, keuntungan, manfaat dan dampak.Kata kunci : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, akuntabilitas diseminasi, lokasi spesifik
CUBES AND PELLETS OF LEGUME TREE LEAVES FOR DRY SEASON FEED IN SEMI-ARID REGION OF INDONESIA Debora Kana Hau
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 3 (2010): November 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n3.2010.p%p

Abstract

Cubes dan Pellet Daun Leguminosa Pohon untuk Pakan Ternak di Daerah Semi-Arid, Indonesia.Ternak, khususnya sapi merupakan komoditas penting sebagai sumber pendapatan bagi petani di NusaTenggara Timur (NTT), Indonesia. Namun demikian, produktivitas ternak sapi di daerah ini masih rendahdisebabkan karena kurangnya pengetahuan petani dalam usahatani ternak dan terbatasnya ketersediaan pakanterutama selama musim kemarau (8-9 bulan per tahun). Di lain pihak, ketersediaan pakan berlimpah di musimhujan. Beberapa leguminosa pohon sudah lama digunakan sebagai sumber pakan di daerah ini, namun karenapanjangnya musim kemarau menyebabkan terjadinya gugur daun pada tanaman ini. Karena itu penting untukmelakukan teknologi pengawetan pakan yang dapat diadopsi oleh petani. Suatu seri penelitian dan pengkajiantelah dilakukan di Timor pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP NTT) untuk meneliti dan mengkajitentang pembuatan cubes dan pellet dari daun leguminosa pohon, seperti Leucaena leucocephala, Glirisidiasepium, dan Sesbania grandiflora, menggunakan tepung ubi kayu sebagai perekat atau pengikat sekaligussebagai sumber energi. Pengkajian ini telah menemukan formulasi yang sesuai untuk pembuatan cubes danpellet, informasi nilai nutrisinya, peralatan pembuat cubes dan pellet, pertambahan berat badan ternak jikadiberikan cubes dan pellet sebagai pakan suplemen, dan pengalaman dalam melakukan kajian diseminasiteknologi pembuatan cubes dan pellet kepada petani di Timor. Kajian ini juga menguraikan lebih lanjut tentangbeberapa implikasi praktis yang dapat dilakukan untuk mendorong penggunaan cubes dan pellet di NTT.Kata kunci: Cubes, pellet, leguminosa pohon, tepung daun, pengawetan pakan Livestock (especially cattle) is an important income generating source for farmers in the semi-arid regionin East Nusa Tenggara Province, Indonesia. Cattle production in the region, however is still low, lack of farmersknowledge in animal husbandry, and the lack of year round feed supply especially during dry periods (8-9 month dryseason in a year). Fodder availability, however, in fact is usually abundant during the wet season. Some tree legumeshave long been important sources of fodder in the region, however, owing to the long dry period considerable lossof leaf occurs. Thus there is an urgent need to encourage the application of feed preservation technologies adoptableby farmers. A series of experiments and assessments were conducted at the East Nusa Tenggara Assessment Institutefor Agriculture technology (BPTP NTT) to investigate the making of cubes from the leaves of legume trees suchas Leucaena leucocephala, Glirisidia sepium, and Sesbania grandiflora. Cassava meal was used as the bindingagent as well as the source energy. The experiments and assessments have obtained a proper formula for makingcubes, information on the nutritive values, equipments to produce cubes and pellets. Beside, information on thepreferences of cattle to the cubes and pellets, live weight gain when fed as supplement, and some experiencesin the dissemination of cubes and pellets making to the farmers was also obtained. The paper also elaboratedfurther into explaining some practical implications of ways to encourage cubes usages in East Nusa Tenggara.Key words: cubes, pellets, legume trees, leaf meals, feed preservation, semi-arid
UJI MULTI LOKASI GALUR HARAPAN DAN VARIETAS PADI TERPILIH DI LAHAN PASANG SURUT Susilawati ;; M. Sabran; Rukayah ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

Multi location test of seven inbreds and variety have been conducted at tidal swampland area in Kapuasregency during wet season 1998 and 1999, such as in sulfit acid (unit Tatas and Basarang) and potential area (HandilGabin and Lamunti A-2). The purpose of this research are (1) to provide adaptive rice varieties, specifically at tidalswamp land and likely for farmers, (2) to provide seed rice that high quality and specific of location. Using RCBDwith seven treatment that are varieties and inbred, with three replication. The result of multilocation test that showntwo inbreds expectancies i.e KAL-9420 d-Bj-276-3 and KAL-9414 d-Bj-63-1 as adaptive in tidal swampland, withmean productivity 3,8 and 3,6 t/ha yield. Farmers very like this with this varieties because have characteristic whichare small shape of yield and clean of yield.Key words: pure lines, wetland, Oryza sativa, Central KalimantanUji multi lokasi tujuh galur harapan dan varietas padi telah dilaksanakan di lahan pasang surut KabupatenKapuas pada musim hujan 1998 dan musim hujan 1999. Kegiatan dilaksanakan di dua tipologi lahan yaitu lahan sulfatmasam (di unit Tatas dan Basarang), dan lahan potensial (di Handil Gabin dan Lamunti A-2). Tujuan dari kegiatan iniadalah: (1) mendapatkan galur dan varietas padi yang adaptif, spesifik lahan pasang surut dan disukai petani; (2)menyediakan benih padi yang bermutu dan spesifik lokasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalahrancangan petak terbagi dengan 7 (tujuh) perlakuan yaitu varietas dan galur padi dan tiga ulangan. Hasil pengujianmenunjukkan terdapat dua galur harapan yaitu KAL-9420 d-Bj-276-3 dan KAL-9414 d-Bj-63-1 yang diminati petanikarena sangat sesuai dengan selera petani yang umumnya Masyarakat Banjar dan Dayak, yaitu bentuk gabah ramping,rasa nasi pera, dan warnanya bersih serta adaptif di lahan pasang surut Kabupaten Kapuas, dengan rata-rata produksi3,8 t/ha dan 3,6 t/ha gabah kering giling.Kata kunci : galur harapan, lahan pasang surut, padi, Kalimantan Tengah
KAJIAN PENGENDALIAN TERPADU LALAT BUAH, Bactrocera dorsalis, PADA TANAMAN MANGGA: Studi Kasus di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Muh. Asaad; Warda ;; Gusti Aidar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n1.2007.p%p

Abstract

South Sulawesi is one of the mango development areas, however its productivity is still 38.26 kg/tree. One cause of this low productivity is due to the high damage of fruit fly. By applying a control method it is hoped that the intensity damage caused by fruit fly can be decreased by integrating several available control methods through integrated pest management (IPM) approach. The assessment of fruit fly was conducted at Pattopakang and Cikoang Village, Takalar district from July to December 2004 by applying two treatments i.e. (1) IPM approach and (2) non IPM approach (controlling method used by farmers. The results indicated that the number of adult fruit flies that captured by attractant trap from August to November 2004 were 480 adults, 216 adults, 178 adults and 1001 adults per month, respectively. The damage percentage of fruit (drop fruits) on IPM and non-IPM approach was 0.59% and 9.34% respectively. The yield on IPM and non-IPM approach was 16.98 kg/tree and 12.12 kg/tree, respectively. The income obtained on IPM approach amounted to Rp.2.550.000,- per ha (R/C 4.48), while that on non-IPM approach amounted to Rp.1.820.000,- per ha (R/C 4.36). The majority of farmers•(90%) had recognized well fruit flies and the damage they caused on mangoes. However, some of the farmers (60%) faced difficulty in obtaining methyl-eugenol. In brief, the IPM treatment approach can decrease the damage percentage of mangoes caused by fruit fly Key words: control, fruit fly, integrated, mango Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah pengembangan mangga, namun tingkat produktivitasnya baru mencapai 38,26 kg/pohon. Salah satu penyebabnya adalah tingginya kerusakan lalat buah. Metode pengendalian diharapkan dapat mengurangi intensitas serangan akibat lalat buah adalah penggabungan beberapa metode pengendalian yang tersedia melalui pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT). Kajian pengendalian lalat buah dilakukan di Desa Pattopakang dan Cikoang, kabupaten Takalar dari bulan Juli sampai Desember 2004 dengan menggunakan dua perlakuan yaitu 1) Pengendalian terpadu dan (2) Pengendalian cara petani. Hasil menunjukkan bahwa jumlah lalat buah dewasa yang tertangkap dengan perangkap atraktan dari bulan Agustus sampai November masing-masing 480 ekor, 216 ekor, 178 ekor dan 1001 ekor. Persentase kerusakan buah mangga pada perlakuan PHT dan non-PHT masing-masing 0,59% dan 9,34%. Hasil mangga pada perlakuan PHT dan non-PHT masing-masing 16,98 kg/phn dan 12,12 kg/phn. Pendapatan yang diterima petani dengan perlakuan PHT sebesar Rp. 2,550,000 per ha (R/C 4,48), sementara pada perlakuan non-PHT sebesar Rp.1,820,000 per ha (R/C 4,36). Umumnya petani (90%) telah mengenal cukup baik hama lalat buah dan kerusakan yang ditimbulkannya. Namun sebagian besar petani (60%) mengalami kesulitan dalam memperoleh metyl-eugenol. Pengendalian dengan metode PHT menekan tingkat kerusakan buah mangga akibat serangan lalat buah. Kata kunci: pengendalian, lalat buah, terpadu, mangga

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue