cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
PENGKAJIAN SISTEM USAHATANI TERPADU PADI-KEDELAI/ SAYURAN-TERNAK DI LAHAN PASANG SURUT Susilawati ;; M. Sabran; Rahmadi Ramli; Deddy Djauhari; Rukayah ;; Koesrini ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n2.2005.p%p

Abstract

The assessment was designed to help farmers to cultivate their land optimally. This assessment on integratedrice-soybean/vegetables-livestock farming system in tidal swamp land with B-C type flooding was the on-goingproject conducted in Bungai Jaya Village, Basarang District, Kapuas Regency covering an area of 13 hectaresmanaged by 20 cooperating farmers. Aims of the assessment were: (i) to conduct characterization of the region,farmers, and farming systems, (ii) to analyze farming system performance, (iii) to analyze farm business income, (iv)to study income structure of integrated farming system, and (v) to analyze adoption of introduced technology.Assessment approach was based on farm research by comparing farmers using introduced technology and those whodid not. B-C type tidal swamp land was suitable for integrated farming system applying surjan (sunk an d risen beds)system with a cropping pattern of rice - secondary crops on wet season and soybean – vegetables on dry season, andlivestock on home yards. Introduced technology was able to improve farming system performance and to increasefarmers’ incomes of Rp 9,873,500 on the dry season and Rp 8,887,000 on the wet season or higher than those of noncooperatingfarmers. Average R/C ratios of all crops grown were more than 2.5 implying that the technology wasfeasible to disseminate.Key words : integrated farming system, tidal swamp land, technology adoption, rice, soybeanDalam rangka mendukung program pembangunan pertanian di Kabupaten Kapuas yaitu programpengembangan kawasan pertanian terpadu melalui pemberdayaan lahan dan petani serta menumbuhkan pasar rakyatuntuk meningkatkan pendapatan petani, maka perlu dilakukan suatu pengkajian yang dapat membantu petani dalammengelola lahannya sehingga sesuai dengan potensi lahan yang ada dan sumberdaya yang tersedia. Pengkajianusahatani terpadu padi-kedelai/sayuran-ternak di lahan pasang surut tipe luapan B-C merupakan kegiatan lanjutan,yang dilaksanakan di Desa Bungai Jaya, Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas, dengan luas areal 13 ha danmelibatkan 20 orang petani koperator. Tujuan pengkajian adalah (1) melakukan karakterisasi wilayah, petani dansistem usahatani, (2) melakukan analisis terhadap kinerja teknologi usahatani, (3) melakukan analisis usahatani, (4)mempelajari struktur pendapatan usahatani terpadu, dan (5) melakukan analisis adopsi teknologi introduksi.Pendekatan pengkajian dilakukan secara on-farm research, dengan metode perbandingan berpasangan (pairlycomparison) yaitu membandingkan model usahatani introduksi dengan model usahatani ditingkat petani. Hasilpengkajian menunjukkan bahwa sesuai dengan karakteristik lahan dan petaninya, lahan pasang surut tipe B-Csebaiknya diusahakan secara terpadu dengan sistem surjan dengan pola tanam padi-palawija pada MH dan kedelaisayuranpada MK serta ternak di pekarangan. Secara fisik input teknologi yang diintroduksikan, dapat meningkatkankinerja usahatani dan memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp 9.873.500 pada MK dan Rp 8.887.000 pada MH,lebih besar dari pendapatan petani nonkoperator. Rata-rata R/C semua komoditas yang diusahakan > 2,5, sehinggateknologi ini layak dikembangkan.Kata kunci : usahatani terpadu, lahan pasang surut, adopsi teknologi, padi, kedelai
ANALISIS PENDAPATAN DAN PEMASARAN PADI ORGANIK METODE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) (Kasus di Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya) Farid Fitriadi; Rita Nurmalina
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n1.2008.p%p

Abstract

Income and Marketing Analyze for Organic Rice with System of Rice Intensification (SRI) Methode (a Case Study at Sukagalih Village, Sukaratu Sub-district, Tasikmalaya Regency. This research was aimed to analyze income and marketing of rice farming organic in Sukagalih Village, Sukaratu Sub Distric, Tasikmalaya. Qualitative and quantitative analyses were used as analytical methods. Qualitative analysis was done to discuss the structure and marketing chanel. Quantitative analyses were consists of farming profitability and R/C. Results of this research indicated that R/C to total costs of farming using System of Rice Intensification (SRI) method were higer than that of conventional rice farming, and R/C of farming operated by land owners were higer than that of tennant farmers. Result of marketing channels and market structure analyses showed that the marketing channel 4 (farmer, PPTD, PBLD, retailer and consumer) was the one that were more practiced compare to the other channels. Key words: Income analysis, marketing chanel, rice farming organic, SRI method.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani dan pemasaran padi organik di Desa Sukagalih, Kecamatan Sukaratu, Tasikmalaya. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui struktur pasar dan saluran pemasaran padi organik metode System of Rice Intensification (SRI). Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani dan analisis R/C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis R/C atas biaya total pada usahatani padi organik memiliki rasio lebih besar dibandingkan dengan R/C pada usahatani konvensional, dan R/C usahatani padi yang dilaksanakan petani pemilik penggarap lebih besar dibandingkan dengan rasio tersebut bagi petani penyakap. Berdasarkan analisis saluran dan struktur pasar, dapat disimpulkan bahwa saluran IV (Petani, Pedagang Pengumpul Tingkat Daerah, Pedagang Besar Luar Daerah, Pedagang Pengecer dan konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling banyak dilakukan dibandingkan saluran pemasaran yang lainnya. Kata kunci: Analisis pendapatan, saluran pemasaran, usahatani padi organik, metoda SRI.
ANALISIS PERILAKU EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI USAHA TERNAK SAPI-KELAPA DALAM MENGHADAPI BIAYA TRANSAKSI DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Femi Hadidjah Elly
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 3 (2009): November 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n3.2009.p%p

Abstract

Analysis of The Economic Behavior of Coconut-Cattle Farmer Households in Facing The Transaction Cost in Bolaang Mongondow. A number of households in Bolaang Mongondow raise cattle integrated in their coconut plants. A farmer household farmer as an analysis unit plays the roles of a producer, a consumer and a labor provider. The phenomenon faced is the existence of transaction costs during the trades of cattle and copra. The objective of the study was to analyze the factors influencing the input, output, farmer household income and expenditures in Bolaang Mongondow related to the transaction cost. The research method carried out was the survey method. The 233 household respondents were determined by using simple random sampling. The analysis method used simultaneous equations model with two SLS. The results show that higher transactions costs cause the decrease on the household economic activities especially in the production side and labor allocation for the cattle and coconut farm operations. The intermediary cost as a cost component in cattle transaction is influenced by the cattle price, cattle selling and the distance to the market. The transportation cost as a cost component in copra selling is affected by the copra price, the use of cattle labors to carry copra.Key words : Transaction cost, household economics, coconut-cattle farming systemABSTRAKSebagian rumahtangga di Bolaang Mongondow memelihara ternak sapi diintegrasikan dengan tanaman kelapa. Rumahtangga petani peternak sapi sebagai suatu unit analisis selain berperan sebagai produsen, konsumen juga sangat berperan sebagai penyedia tenaga kerja. Fenomena yang dihadapi adalah adanya biaya transaksi dalam penjualan ternak sapi dan penjualan kopra. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan input, produksi, pendapatan dan pengeluaran rumahtangga petani peternak sapi di Bolaang Mongondow berkaitan dengan biaya transaksi. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode survai. Jumlah responden 233 rumahtangga yang ditentukan secara simple random sampling. Metode analisis menggunakan 2SLS. Hasil penelitian menunjukkan biaya transaksi yang semakin tinggi mengakibatkan penurunan aktivitas ekonomi rumahtangga terutama sisi produksi dan alokasi tenaga kerja pada usahaternak sapi maupun usahakebun kelapa. Biaya perantara sebagai komponen biaya transaksi penjualan sapi dipengaruhi harga ternak sapi, penjualan sapi dan jarak pasar. Biaya transpor sebagai komponen biaya transaksi penjualan kopra dipengaruhi harga kopra dan penggunaan tenaga kerja ternak sapi untuk angkut kopra.Kata kunci : Rumahtangga, biaya transaksi, ternak sapi, kelapa
KAJIAN STRUKTUR BIAYA DAN ALOKASI CURAHAN TENAGA KERJA PADA SISTEM USAHATANI PADI SAWAH (Studi Kasus di Kabupaten Konawe) Dewi Sahara; Idris ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

The purpose of this research was to know the cost structure and labor distribution on rice farming system between farmer's technology and repaired technology, and was carried out in Langgomea Village, Uepai Sub District, Konawe District, South east Sulawesi from January to July 2006. The repaired technology included the use of fertilizers, qualified seed, and planting time at once. The results showed that farmer's technology produced 4.650 kg/ha yield which equivalent to an income of Rp.3.684.500,- while the repaired technology produced 5.500 kg/ha yield with an income of Rp.4.479.300.- The extra cost needed on repaired technology was Rp.395.200,- which in turn gives the farmer an extra income of Rp.794.800 with MBCR 2.01. The result regression analysis of labor distribution on both technologies was significant on 99%. Labor distribution on repaired technology was greater 15.51 manpower than farmer's technology. The farmer will of course need extra labors if they widen the area use more seeds fertilizers and pesticides. Key words: rice farming system, cost structure, labor distribution   Pengkajian struktur biaya dan alokasi curahan tenaga kerja pada sistem usahatani padi sawah dilakukan dengan memperbaiki teknologi petani yang mencakup teknologi pemupukan dan penggunaan benih bermutu telah dilaksanakan di lahan petani di Desa Langgomea, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe dari bulan Januari — Juli 2006 (MH 2006). Pengkajian bertujuan untuk mengetahui struktur pembiayaan dan alokasi curahan tenaga kerja pada usahatani padi sawah antara pola teknologi petani dengan pola perbaikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi pola petani memberikan produksi gabah kering panen (GKP) sebanyak 4.650 kg/ha dengan pendapatan Rp.3.684.500 dan produksi pada pola perbaikan sebanyak 5.500 kg/ha dengan pendapatan Rp.4.479.300. Perubahan teknologi dari teknologi petani ke teknologi perbaikan memerlukan tambahan biaya sebesar Rp.395.200, namun dengan tambahan biaya tersebut petani memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp.794.800 sehingga nilai MBCR yang diperoleh 2,01 artinya setiap penambahan biaya sebesar Rp.1.000 petani akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp.2.010. Hasil analisis regresi curahan tenaga pada kedua teknologi berbeda sangat nyata pada tingkat kepercayaan 99% dimana alokasi curahan tenaga kerja pola perbaikan lebih banyak 15,51 HKP daripada teknologi petani. Petani akan memerlukan tambahan tenaga kerja apabila memperluas lahan garapan, meningkatkan jumlah benih, pupuk dan pestisida. Kata kunci: usahatani padi sawah, struktur biaya, curahan tenaga kerja
KAJIAN WAKTU STRANGULASI TERHADAP PEMBUNGAAN JERUK PAMELO ‘CIKONENG’ (Citrus grandis (L.) Osbeck) Muhammad Thamrin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v12n2.2009.p%p

Abstract

An Assessment Time of Strangulation on Flowering Induction of Pummelo ‘Cikoneng’ (Citrus grandis (L.) Osbeck). Field assessment was conducted at Farmer’s Field Bantarmara Village, Cisarua, Sumedang region, West Java from August 2007 to May 2008, to determine the effect of different strangulation times on flowering induction of Pummelo during flowering-off season. Three strangulation times (1,2 and 3 months after harvest, MAH) were arranged in randomized complete block design with 6 (six) replications. An assessment results showed that strangulation at 3 MAH effectively induced flowering appearance (83%) and increased numbers of generative shoots, flowering cluster, bud, blooming, fruit formation and fruit setting. On the other hand, all treated plants had higher C/N ration than control. Kajian lapang dilaksanakan di Tanah Petani (TP) Bantarmara, kecamatan Cisarua, kabupaten Sumedang, Jawa Barat dari bulan Agustus 2007 sampai Mei 2008, untuk melihat waktu strangulasi yang tepat untuk menginduksi bunga diluar musim. Tiga waktu strangulasi (1, 2 dan 3 bulan setelah panen, BSP) disusun menurut rancangan acak kelompok dan 6 (enam) ulangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa waktu strangulasi 3 BSP cukup efektif menginduksi jumlah muncul bunga (83%), tetapi mempengaruhi jumlah tunas generative, kluster bunga, kuncup bunga, bunga mekar, buah terbentuk dan fruit set masing-masing 32,67; 28,17; 220,00; 143.33; 61,17 dan 39,02%. Di samping itu, rasio C/N daun pada semua perlakuan lebih tinggi dari control.
ANALISIS EFISIENSI EKONOMIS USAHATANI KENTANG DI KAYU ARO KABUPATEN KERINCI, JAMBI Edison ;; Suharyon ;; Rachmat Hendayana
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v7n1.2004.p%p

Abstract

One of the factors determining agricultural development achievement is abilities of farmers in allocating theirproduction inputs efficiently. This study was carried out in Kayu Aro, Subdistrict, Kerinci District, Jambi Province,with collaboration with Jambi University. Data were analyzed using Cobb-Douglass production function. The resultsshowed that farmers practiced their best as indicated by high yields of potato. However, inputs utilization was notapplied efficiently shown by relatively high index of efficiency, namely more than one, for almost all variables.Economic efficiency of land was 2.96 ha, and those of labor, seed, and pesticides were 247.36 man working days,834.62 kgs, and 35.84 liters, respectively, with average yield of 14.608 tons/ha.Key words: potato, production inputs, efficiency, Kayu Aro Keberhasilan program pembangunan sector pertanian antara lain ditentukan oleh keberhasilan masyarakattani dalam mengalokasikan faktor-faktor produksi sedemikian rupa sehingga diperoleh produksi dan pendapatan yangtinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci Jambi, Tahun 2002. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi ekonomis penggunaan faktor-faktor produksi pada tingkat produksikentang dengan keuntungan maksimum. Penelitian ini merupakan kerjasama Universitas Jambi dengan BPTP.Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan fungsi produksi Cobb Douglas. Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa umumnya petani contoh telah berusaha bekerja secara maksimal yang ditunjukkan dengantingginya produksi kentang. Tetapi secara statistik ternyata penggunaan faktor produksi tidak semuanya dilakukansecara efisien, ini ditunjukkan dengan relatif tingginya indeks efisiensi (lebih besar dari satu) untuk hampir semuavariabel. Efisiensi ekonomis dari lahan dicapai pada luas 2,96 ha, tenaga kerja 247,36 HKSP, penggunaan bibitsebanyak 834,62 kg, penggunaan obat-obatan sebanyak 35,84 liter dengan produksi 14,608 ton per hektar.Kata kunci : kentang, faktor produksi, efisiensi, Kayu Aro
ANALISIS KEUNGGULAN KOMPETITIF BEBERAPA TANAMAN PALAWIJA DI LAHAN PASANG SURUT KALIMANTAN TENGAH Rachmadi Ramli; Dewa K S. Swastika
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n1.2005.p%p

Abstract

Palawija crops are the second important crops after rice. Tidal swamp areas are the potential land in CentralKalimantan where farmers are growing palawija, in addition to rice. This analysis of competitive advantage onpalawija crops is carried out to identify: (1) competitive advantage of palawija crops on tidal swamp, and (2)supporting factors for development of palawija farming system. Uisnga purposive smapling method, the assessmentwas conducted through a farm survey in four villages, namely Lamunti and Dadahup resettlements in Kapuas Murungdistrict, Talio Hulu in Pandih Batu district, and Kanamit in Maliku district, Kapuas regency. A number of 15 farmersper village were randomly selected. Results of the assessment showed that: (1) soybean, corn, groundnut and sweetpotatoes farmings were financially profitable in all of the villages study area; (2) soybean, corn, groundnut and sweetpotatoes farmings would still be profitable even if their yields were below the current yields, (3) in Dadahup andLamunti, corn farming was competitive over soybean and groundnut if its yields were more than 1.033 kg/ha and1.362 kg/ha, respectively; while in Talio Hulu and Kanamit the minimum yield for corn to be competitive oversoybean was 1.081 kg/ha and over groundnut was 1.552 kg/ha. The main problems faced by the farmers in these areaswere transportation and credit facilities. Therefore, roads development and agricultural credit with low interest rate areurgently required.Key words: competitive advantage, palawija, tidal swamp, Central Kalimantan.Di Kalimantan Tengah, palawija merupakan komoditas terpenting kedua setelah padi. Lahan pasang surutyang luas merupakan potensi yang besar bagi pengembangan tanaman palawija di provinsi ini. Analisis keunggulankompetitif beberapa tanaman palawija di Kalimantan Tengah, bertujuan untuk; (i) mengetahui tingkat keunggulankompetitif dari usahatani beberapa tanaman palawija (kedelai, jagung, kacang tanah dan ubi jalar) di lahan pasangsurut, (ii) mengetahui faktor-faktor pendukung yang diperlukan untuk mengembangkan usahatani komoditas ini.Kegiatan pengkajian dilaksanakan dengan metode survai. Daerah pengkajian ditentukan secara purposive, di empatdesa yaitu Lamunti dan Dadahup (Kecamatan Kapuas Murung), Talio Hulu (Kecamatan Pandih Batu) dan Kanamit(Kecamatan Maliku), semuanya di Kabupaten Kapuas. Dari masing-masing desa dipilih secara acak 15 petani yangmengusahakan palawija. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa; (1) usahatani kedelai, jagung, kacang tanah dan ubijalar pada tingkat produksi aktual secara finansial menguntungkan di semua daerah pengkajian: (2) usahatani kedelai,jagung, kacang tanah dan ubi jalar masih menguntungkan bila produktivitas pada tingkat minimal, walaupun di bawahproduktivitas aktual; (3) usahatani jagung di Desa Lamunti dan Dadahup kompetitif terhadap usahatani kedelai dankacang tanah bila produktivitas mencapai minimal 1.033 kg/ha (terhadap kedelai) dan 1.362 kg/ha (terhadap kacangtanah). Sedangkan di Desa Talio Hulu dan Kanamit produksi jagung minimal 1.081 kg/ha kompetitif terhadap kedelaidan 1.552 kg/ha kompetitif terhadap kacang tanah. Terbatasnya sarana transportasi dan rendahnya akses petaniterhadap sumber modal merupakan masalah yang memerlukan pemecahan. Implikasinya ialah bahwa pembangunanjaringan transportasi dan penyediaan kredit murah untuk meningkatkan kemampuan petani dalam menerapkanteknologi baru perlu mendapat prioritas.Kata kunci : keunggulan kompetitif, palawija, pasang surut, Kalimantan Tengah.
PERBAIKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI PADA LAHAN SAWAH BERKADAR BESI TINGGI Ismon L; Azwir ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 13, No 3 (2010): November 2010
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v13n3.2010.p%p

Abstract

Improvement of Paddy Cultural Practices in High Iron Soil. Productivity of rice on the high iron soilremain low at about 2,5 t GKP/ha. It is caused by inapproriate management, limited tolerant varieties, and lessoptimal planting system and fertilizing. The objective of the experiment were to observe the performances of somevarieties by using technology of Lado-21 pakage and to analyze financial feasibility on irigated rice field withhigh iron content, and to determine of planting system for each varieties that more applicable for high iron soilwith LADO-21 technology. The experiment was conducted in the farmer field at Sitiung II block D Koto SalakVillage, Koto Baru Sub-District, Dharmasraya Regency, West Sumatera on irigated land with high iron contentfrom Januari to Mei 2007. Six varieties were evaluated for their performance in to planting system (directseedingbroadcat and direct seeding using seeder). In each planting system the varieties (Ciujung, Ciherang, IR 66, BatangPiaman, and Batang Lembang) were arranged in Randomized Completely Block Design with four replications. Theso called Lado-21 water management was imposed on planting system and varieties. With this water management,the land was maintained in aerobic condition for 21 days after palnting, and was kept at field capacity conditionin two weeks with the interval of two weeks. The conventional cultural practice was used as control. The resultsshowed that application of Lado-21 increased production of rice from 44,5 to 121%, depend on varieties andaplicable planting system. Batang Piaman gave the higt yield (7,2 t roughrice/ha) with the direct planting system(broadcast). The system also gave the benefit of Rp.14,477,675/ha with R/C 3,73. Batang Lembang using directseeder system gave the yield 7,1 t roughrice /ha and the income of Rp.14,496,225 /ha. Ciherang using direct seedersystem gave the yield of 6,9 t roughrice /ha and the income of Rp.14,075,475/ha with R/C 3,90. The farmersystem with local variety only gave the yield at 3256 kg GKP/ha and income Rp.3,339,000/ha with R/C 1,59.Key words : rice varieties, planting system, iron toxicity, economic analysis. Produktivitas padi sawah pada lahan-lahan sawah berkadar besi tinggi sangat rendah dengan rata-ratahasil hanya 2,5 t GKP/ha, disebabkan cara pengelolaan lahan yang kurang tepat, terbatasnya pilihan varietasyang toleran, cara tanam dan pemupukan yang belum tepat. Tujuan penelitian adalah untuk : 1) Melihatkeragaan masing-masing varietas melalui penerapan teknologi Lado-21 serta kelayakan ekonomis pada lahansawah berkadar besi; 2) Menentukan cara tanam yang cocok untuk masing-masing varietas pada lahan sawahberkadar besi dengan penerapan teknologi introduksi Lado-21. Penelitian dilaksanakan pada lahan petani SitiungII Blok D Desa Koto Salak, Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat pada lahan irigasiberkadar besi tinggi dari bulan Januari sampai Mei 2007. Penelitian terdiri dari dua cara tanam yaitu sebarPerbaikan Teknologi Budidaya Padi Pada Lahan Sawah Berkadar Besi Tinggi (Ismon L dan Azwir)223benih langsung (SBL) dan tanam benih langsung menggunakan alat tanam (Atabela). Pada masing-masing caratanam diuji enam varietas yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok 4 ulangan. Varietas yang diuji yaituCiujung, Ciherang, IR 66, Batang Piaman dan Batang Lembang dengan menerapkan paket teknologi Lado-21(Lingkungan Akar Dioksidasi selama 21 hari). Penerapan teknologi lado-21 yaitu tanah diolah sempurna dapatsecara kering atau basah, saat tanam dalam keadaan lembab (aerobic moisture rezyme) digenangi paling cepatsetelah tanaman berumur 21 hari, dan dipertahankan dalam kapasitas lapang selama dua minggu dengan intervaldua minggu. Sebagai pembanding adalah paket teknologi dan varietas yang biasa digunakan petani (paket petani)dengan cara tanam sebar langsung (Tabela). Hasil peneltian menunjukkan bahwa penerapan teknologi Lado-21meningkatkan hasil pada sawah berkadar besi tinggi sebesar 44,5 sampai 121% tergantung varietas dan caratanam yang digunakan. Batang Piaman memberikan hasil tertinggi (7,2 t GKP/ha) dengan cara tanam sebarlangsung dengan tingkat keuntungan Rp.14.477.675 /ha dengan R/C 3,73. Batang lembang memberikan hasilyang lebih tinggi dengan cara tanam menggunakan alat tanam benih langsung (Atabela) yaitu 7,1 t GKP/hadengan tingkat keuntungan Rp.14.496.225 /ha. Hasil varietas Ciherang lebih tinggi dengan Atabela (6,9 t GKP/ha)dengan tingkat keuntungan Rp.14.075.475 /ha dengan R/C 3,90. Hasil yang diperoleh dengan teknologi petanimenggunakan varietas lokal hanya 3,3 t GKP/ha dengan tingkat keuntungan Rp.3.339.000 /ha dengan R/C 1,59.Kata kunci : Varietas padi, cara tanam, keracunan besi, analisis ekonomi
KERAGAAN BUAH DUKU DAN PEMASARANNYA DI SUMATERA SELATAN Suparwoto ;; Yanter Hutapea
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

This study aimed to know the performance, productivity and duku (Lansium domesticum Corr) marketingfrom South Sumatra to Jakarta. The study conducted from February to Juni 2003 at Tanjung Alai Village, Sirah PulauPadang Sub District, OKI District, Gunung Batu Village, Cempaka Sub District and Rasuan Village, OKU Districtand Ujan Mas Village, Ujan Mas Sub District, Muara Enim District. Each village consisted of 20 duku trees and 30fruits of each location for phisical performance analysis. Marketing survey was implemented to collect informationfrom farmer, local assembler at each location, agents at Kramat Jati Central Market and retailers at Jakarta. The resultshowed that the productivity was highest on duku trees from Rasuan Village (208,6 kg/tree) and the lowest fromTanjung Alai Village (97,25 kg/tree). Number of seed was least on duku fruits from Gunung Batu Village whereas themost from Ujan Mas Village. The local assembler profit in duku marketing from Muara Enim District was higher thanduku marketing from OKI and OKU District with magnitude of Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg and Rp 66,55/kg,respectively. The agents profit at Kramat Jati Central Market in duku marketing from Muara Enim was higher thanfrom OKU and OKI District with magnitude of Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg and Rp 919,33/kg, respectively. Theretailers profit in duku marketing from OKI District was higher than from OKU and Muara Enim District withmagnitude of Rp 825,55; Rp 775,55/kg and Rp 675,55/kg, respectivelyKey words: Lansium domesticum Corr, fruits performance, marketing,South SumateraPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan dan produktivitas serta pemasaran buah duku dariSumatera Selatan ke Jakarta. Dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2003. Observasi dilaksanakandi Desa Tanjung Alai Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten OKI; Desa Gunung Batu dan Rasuan, KabupatenOKU; dan Desa Ujan Mas, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muara Enim masing-masing sebanyak 20 pohonsampel, dan untuk analisis keragaan fisik buah duku masing-masing 30 buah. Survai pemasaran duku mulai daripetani, pemborong dari masing-masing kabupaten dan agen di Pasar Induk Kramat Jati serta pengecer di Jakarta. Hasilkajian menunjukkan bahwa produktivitas duku yang tertinggi diperoleh dari Desa Rasuan sebesar 208,6 kg/pohon danterendah sebesar 97,25 kg/pohon dari Desa Tanjung Alai. Jumlah biji yang paling sedikit adalah dari duku asal DesaGunung Batu sedangkan terbanyak dari Desa Ujan Mas. Keuntungan pemborong yang membawa buah duku ke PasarInduk Kramat Jati Jakarta dari Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding dari Kabupaten OKI dan KabupatenOKU, yang masing-masing sebesar Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg dan Rp 66,55/kg. Keuntungan agen di Pasar IndukKramat Jati yang memasarkan duku asal Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding duku asal Kabupaten OKUdan Kabupaten OKI, yang masing-masing sebesar Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg dan Rp 919,33/kg. Keuntungan yangdiperoleh pengecer di Jakarta yang memasarkan duku asal Kabupaten OKI lebih tinggi dibanding duku asalKabupaten OKU dan Muara Enim yang masing-masing sebesar Rp 825,55; Rp 775,55/kg dan Rp 675,55/kg.Kata kunci: duku, keragaan buah, pemasaran, Sumatera Selatan
KAJIAN PEMBERIAN PUPUK NPK PADA BEBERAPA VARIETAS UNGGUL PADI SAWAH DI SERAM UTARA M. P. Sirappa; A.J. Rieuwpassa; Edwen D. Waas
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n1.2007.p%p

Abstract

The assessment was conducted to 4 newly pre-eminent varieties of rice that aimed at knowing t performance of growth and potential yields on lowland rice irrigation at North Seram. The treatment w conducted on a 4—ha of farmer's land by involving 8 cooperator farmers and 7 non cooperator farmers as comparison. The dosage of fertilizer used by cooperator farmers consists of 300 kg NPK Pelangi and 11 kg Urea/ha. The research was done from June 2006 until October 2006. The results indicate that the fo varieties of pre-eminent that were assessed, they are Fatmawati, Way Apo Buru, Gilirang and Ciherang I using NPK Pelangi, gives a higher average results of the growth and yields. The average yield of grains obtained was 6.44 ton — 8.20 ton GKP / ha which was higher 21 - 54% compared to the average yield grain obtained from farmers outside the assessment (non cooperator farmers) which was 5.30 ton GKP/ h The NPK Pelangi Fertilizer can be used to replace the single fertilizer in case the scarcity of fertiliz occurs since it provides high enough yields. From the four varieties assessed, for further development rice in North Seram it is recommended to employ Ciherang and Way Apo Buru varieties. Key words: NPK Fertilizer, pre-eminent variety newly, lowland rice, North Seram   Telah dilakukan kajian terhadap 4 varietas unggul baru padi sawah yang bertujuan untuk mengetahui keragaz pertumbuhan dan potensi hasilnya pada lahan sawah irigasi di Seram Utara. Kajian dilakukan pada lahan milik petal seluas 4 ha dengan melibatkan 8 petani kooperator, dan sebagai pembanding adalah 7 petani non kooperator. Takan pupuk yang digunakan petani kooperator adalah 300 kg NPK Pelangi dan 100 kg urea/ha. Kajian berlangsung da bulan Juni sampai Oktober 2006. Hasil kajian menunjukkan bahwa keempat varietas unggul yang dikaji, yail Fatmawati, Way Apo Buru, Gilirang dan Ciherang dengan menggunakan pupuk NPK Pelangi, rata-rata memberik pertumbuhan dan hasil yang cukup tinggi. Rata-rata hasil ubinan yang diperoleh 6,44 ton — 8,20 ton GKP/ha, leb tinggi sekitar 21 — 54% dibandingkan dengan hasil gabah yang diperoleh petani di luar kajian (petani non kooperator yaitu 5,30 ton GKP/ha. Pupuk NPK Pelangi dapat digunakan sebagai pengganti pupuk tunggal jika terjadi kelangkaz pupuk karena dapat memberikan hasil yang cukup tinggi. Dari keempat varietas yang dikaji, untuk pengembangz lebih lanjut di wilayah Seram Utara disarankan menggunakan Ciherang dan Way Apo Buru. Kata kunci: pupuk NPK, varietas unggul baru, padi sawah, Seram Utara

Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue