cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020" : 6 Documents clear
PROSES DAN PENDEKATAN REGENERASI PETANI MELALUI MULTISTRATEGI DI INDONESIA / Process and Approach to Farmer Regeneration Through Multi-strategy in Indonesia Oeng Anwarudin; Sumardjo Sumardjo; Arif Satria; Anna Fatchiya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p73-85

Abstract

The low share of young farmers in Indonesia must be a serious concern of the government in the future agricultural development program. The results of the agricultural census in 2013 showed that the portion of young farmers (<35 years) was 12.87%, far lower than the middle age (35-54 years) 54.37%, and the elderly (> 54 years) 32.76%. This situation encourages the importance of finding solutions to realize farmers’ regeneration. This paper describes the regeneration of farmers (processes, approaches, and strategies) through increasing the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. Regeneration has the same terms as the succession and inheritance of agricultural business, which is the process of presenting new actors in agricultural business. Farmer regeneration can be in the family environment which means that the management of agricultural businesses is inherited from parents to their children, and non-family regeneration, namely inheritance of agricultural businesses, is shifted to newcomers who have no family relations. The regeneration process can be planned that is driven by outsiders and without a plan that is driven by the community itself. Approaches and strategies for farmers’ regeneration processes can be through strengthening the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. The role of the family can be increased through the cultivation of respect, socialization, and inheritance of agricultural businesses. The role of agricultural extension workers as facilitators, communicators, motivators, consultants, and institutional development of young farmers can be strengthened. The role of the community through outreach, information transfer, and consultation can be intensified. Modernization of agriculture can be through the application of agricultural mechanization technology and smart farming or digital farming. Farmer corporations can be developed to attract the interest of the younger generation because they open opportunities for the availability of economically viable land, based on the specialization of expertise, the use of agricultural machinery, and improving the bargaining position of farmers.Keywords: Farmers, regeneration, corporation, agriculture, modernization AbstrakPorsi petani muda yang rendah di Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam program pembangunan pertanian ke depan. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan porsi petani muda (<35 tahun) 12,87%, jauh lebih rendah dibanding usia menengah (35-54 tahun) 54,37% dan usia lanjut (>54 tahun) 32,76%. Keadaan ini mendorong pentingnya mencari solusi mewujudkan regenersi petani. Tulisan ini memaparkan regenerasi petani (proses, pendekatan dan strategi) melalui peningkatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Regenerasi memiliki istilah yang sama dengan suksesi dan pewarisan usaha pertanian, yaitu proses menghadirkan pelaku baru dalam usaha pertanian. Regenerasi petani dapat di lingkungan keluarga yang berarti pengelolaan usaha pertanian diwariskan dari orang tua kepada anaknya, dan regenerasi nonkeluarga yaitu pewarisan usaha pertanian beralih kepada pendatang baru yang tidak memiliki hubungan keluarga. Proses regenerasi dapat terencana yang digerakkan pihak luar dan tanpa rencana yang digerakkan masyarakat sendiri. Pendekatan dan strategi proses regenerasi petani dapat melalui penguatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Peranan keluarga dapat ditingkatkan melalui penanaman sikap respek, sosialisasi, dan pewarisan usaha pertanian. Peranan penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan, dan penumbuhkembangan kelembagaan petani muda dapat dikuatkan. Peranan komunitas melalui sosialisasi, transfer informasi, dan konsultasi dapat diintensifkan. Modernisasi pertanian dapat melalui penerapan teknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digital farming. Korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawar petani.Kata kunci: Petani, regenerasi, korporasi, pertanian, modernisasi 
PENERAPAN TEKNIK INVIGORASI DALAM MENINGKATKAN VIGOR BENIH PADI / Application of Invigoration Technique in Order to Improve Seed Mira Landep Widiastuti; Sri Wahyuni
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p96-104

Abstract

Seed is a component of production that contributes to increasing the national rice production. The use of low-quality seeds compared with production costs, non-uniform plant growth, yield reduction, and yield quality. One effort to improve the quality of seed vigor is through invigoration treatment. Invigoration technique among other hydration, thermal treatment, and coating. The hydration method is a water absorption system in seeds. Uncontrolled absorption (hydro-priming), by soaking and drying the seeds, hardening, on-farm priming, soaking for a certain period. The controlled system (osmo-priming) by immersing in osmotic solution, osmo-hardening (integration of hardening and osmo-priming), matri-priming with moist solid media, humidifications (with high humidity), and hormonal priming (with hormones. The second method is by temperature treatment, including by cooling and heating. The third technique is the coating treatment, namely coating the seeds. Hydration system hydro-priming for 30 hours can break seed dormancy with normal germination capacity of 91.3-99.3% in Memberamo, Cipunagara, and Maros varieties. The hardening technique is effective in increasing the germination of hybrid rice seeds for 12 hours with 2 cycles and for 24 hours with one cycle. The osmo-priming technique of soaking seeds in a 10 ppm GA3 solution or a mixture of 10 ppm GA3 + 15 ppm kinetin was effective in increasing the vigor of hybrid rice seeds. The matri-priming technique with rubbing ash as a medium plus the addition of 50 µ m GA3 was effective in breaking dormancy of the Membramo, Cipunagara, and Maros varieties of rice. It is can be applied, especially by small farmers.Keywords: Rice, seed, invigoration, quality AbstrakBenih merupakan komponen budi daya yang berkontribusi dalam meningkatkan produksi padi nasional. Penggunaan benih bermutu rendah berpengaruh terhadap penambahan biaya produksi, pertumbuhan tanaman tidak seragam, dan penurunan hasil dan mutu hasil. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu benih dari aspek vigor yang rendah adalah melalui perlakuan invigorasi. Teknik invigorasi dibagi menjadi tiga metode, yaitu hidrasi, perlakuan suhu, dan pelapisan (coating). Metode hidrasi merupakan sistem penyerapan air yang dapat terjadi pada benih. Penyerapan tidak terkontrol (hydro-priming) yaitu dengan merendam dan mengeringkan benih, pengerasan (hardening), on-farm priming yaitu merendam dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan terkontrol (osmo-priming) dengan merendam pada larutan osmotik, osmo-hardening (integrasi hardening dan osmo-priming), matripriming dengan media padat lembab, humidifications (dengan kelembaban tinggi), dan hormonal priming (dengan hormon). Metode kedua adalah dengan perlakuan suhu, diantaranya dengan pendinginan dan pemanasan. Teknik ketiga adalah dengan perlakuan coating yaitu melapisi benih. Sistem hidrasi hydropriming selama 30 jam dapat mematahkan dormansi benih dengan daya kecambah normal 91,3-99,3% pada varietas Memberamo, Cipunagara, dan Maros. Teknik hardening efektif meningkatkan daya berkecambah benih padi hibrida selama 12 jam dengan dua siklus dan selama 24 jam dengan satu siklus. Teknik osmo-priming perendaman benih dalam larutan GA3 10 ppm atau larutan campuran GA3 10 ppm + kinetin 15 ppm efektif meningkatkan vigor benih padi hibrida. Teknik matri-priming dengan abu gosok sebagai media plus penambahan GA3 50 µm efektif mematahkan dormansi padi varietas Membramo, Cipunagara, dan Maros. Teknik invigorasi tersebut dapat diterapkan, khususnya oleh petani dengan skala produksi kecil.Kata kunci: Padi, benih, invigorasi, mutu
PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (P.cichorii) (Swingle 1925) (STAPP 1928) PADA TANAMAN KRISAN (D.grandiflora Tzvelev) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI INDONESIA/Bacterial Leaf Blight Disease (Swingle 1925) (STAPP 1928) in Chrysanthemum and Its Control in Indonesia Hanudin, Hanudin; Sanjaya, Lia; Marwoto, Budi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p105-116

Abstract

Bacterial leaf blight caused by Pseudomonas cichorii is a major disease in chrysanthemum plants almost all over the world. In Indonesia, this pathogen can cause damage to chrysanthemum 10- 60%. Bacteria spread from one plant to another through water droplets from modern irrigation networks as well as conventional irrigation. P. cichorii is a polyphagic pathogen, which infects succulents and others across continents with varying incidence. Symptoms of transmission of this pathogen in each type of plant are always different, and effective control methods have not been found. This article discusses the virulence of pathogens, the incidence of transmission, and recommendations for controlling bacterial leaf blight on chrysanthemums in Indonesia. A search of various references from within and outside the country shows that P. cichorii can be controlled by combining several methods, namely (a) the use of tolerant varieties (Puspita Nusantara, Puspa Kania, Dwina Kencana, Dwina Pelangi, Pasopati, Paras Ratu, and Wastu Kania), (b) technical culture (extracting infected leaves and watering in the morning), and (c) application of synthetic chemical bactericides with active ingredients of hydrogen peroxide and peroxyacetic acid, or biopesticides with active bacterial isolates of the antagonistic bacteria Bacillus subtilis MI600, and B. amyloliquefaciens IN937, and combination of P. fluorescens Pf Irana with Pf Slada-2.Keywords: Chrysanthemum, P. chicorii, bacterial leaf blight disease, epidemiology, control AbstrakHawar daun bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas cichorii merupakan penyakit utama pada tanaman krisan hampir di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, patogen ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman krisan 10-60%. Bakteri menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain melalui tetesan air dari jaringan irigasi modern maupun penyiraman konvensional. P. cichorii merupakan patogen yang bersifat polifag, yang menginfeksi tanaman sukulen dan lainnya di seluruh benua dengan insidensi bervariasi. Gejala penularan patogen ini pada setiap jenis tanaman selalu berbeda, dan belum ditemukan metode pengendalian yang efektif. Artikel ini membahas virulenitas patogen, insidensi penularan, dan rekomendasi pengendalian hawar daun bakteri pada tanaman krisan di Indonesia. Penelusuran dari berbagai referensi dari dalam dan luar negeri menunjukkan P. cichorii dapat dikendalikan dengan memadukan beberapa metode, yaitu (a) penggunaan varietas toleran (Puspita Nusantara, Puspa Kania, Dwina Kencana, Dwina Pelangi, Pasopati, Paras Ratu, dan Wastu Kania), (b) kultur teknis (perompesan daun terinfeksi dan penyiraman pada pagi hari), serta (c) aplikasi bakterisida kimia sintetik berbahan aktif hydrogen peroxide dan peroxyacetic acid, atau biopestisida berbahan aktif isolat bakteri antagonis Bacillus subtilis MI600, dan B. amyloliquefaciens IN937, serta kombinasi P. fluorescens Pf Irana dengan Pf Slada-2.Kata kunci: Krisan, P. chicorii, bakteri hawar daun, epidemiologi, pengendalian.
PROSPEK PENGEMBANGAN KOMODITAS SUMBER KARBOHIDRAT KAYA ANTOSIANIN MENDUKUNG DIVERSIFIKASI PANGAN FUNGSIONAL / Prospects of Anthocyanin-Rich Carbohydrates Sources Commodity Development to Support Functional Food Diversification Suarni suarni; Muh. Aqil; Muh. Azrai
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p117-128

Abstract

One of the sources of functional foodstuff is carbohydrate-based commodities which contain anthocyanin. These commodities include black rice, purple corn, and purple sweet potato. The anthocyanin compound is a pigment which is responsible for the purple color to the produced commodities. This compound possesses antioxidative activities which are able to bind with free radical compounds and protect human body against various diseases.Physiological function of the anthocyanin in foodstuff has attract particular interest for further exploration, particularly on its bioavailability nature, functional food ingredients, and its product’s appearances. Several anthocyanin-rich varieties such as Jeliteng black rice, Srikandi Ungu corn, and Antin purple sweet potato has been released by Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD). In the future, development of processed functional food product is expected to raise in line with the increase in the public’s interest on the important of the health. The specific function of antioxidant derived from the anthocyanin compound enable human immunity increase which is recently getting popular, particularly during Covid-19 pandemic. Potential development of the foodstuffs associated with anthocyanin involves various research from upstream to downstream, starting from superior varieties development which contain higher anthocyanin content, by product creation with higher functional values and preferred by the consumers.Keywords: Carbohydrates, anthocyanin, functional food, diversification. AbstrakSalah satu sumber bahan pangan fungsional adalah komoditas berbasis karbohidrat dan mengandung antosianin. Komoditas tersebut antara lain padi beras hitam, jagung ungu, dan ubi jalar ungu. Senyawa antosianin merupakan pigmen yang memberikan warna ungu pada produk yang dihasilkan. Antosianin memiliki aktivitas antioksidan, yang mampu mengikat senyawa radikal dan melindungi tubuh dari penyakit. Fungsi fisiologis dari antosianin dalam bahan pangan telah menarik perhatian untuk dilakukan eksplorasi sifat bioavailability, fungsi pangan fungsional, dan tampilan produknya. Beberapa varietas unggul komoditas sumber karbohidrat kaya antosianin seperti padi hitam Jeliteng, jagung Srikandi Ungu, dan ubi jalar ungu Antin telah dilepas oleh Balitbangtan. Ke depan, pengembangan produk olahan pangan fungsional diharapkan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat akan pentingnya kesehatan. Fungsi khusus antioksidan dari senyawa antosianin dapat menaikkan imun tubuh yang sangat dibutuhkan masyarakat, apalagi dalam masa pandemi Covid-19. Potensi pengembangan bahan pangan berantosianin memerlukan penelitian dari hulu hingga hilir, mulai dari perakitan varietas unggul mengandung antosianin lebih tinggi sampai teknologi pengolahan untuk menghasilkan produk olahan yang lebih berkualitas, dengan sifat fungsional yang lebih tinggi, dan disenangi oleh konsumen.Kata kunci: Karbohidrat, antosianin, pangan fungsional, diversifikasi.
PEMANFAATAN MEDIA INTERNET OLEH PENYULUH DALAM UPAYA PERCEPATAN DISEMINASI INFORMASI PERTANIAN / The Utilization of Internet By Extension Specialist in Efforts to Accelerate Agriculture Information Disemination Eni Kustanti; Agus Rusmana; Purwanti Hadisiwi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p129-139

Abstract

One of the internet utilization inagricultural developmentby the Ministry Agriculture is to disseminate information of technology innovations to the agricultural extension specialist as intermediary users. This paper discusses the use of the internet by agricultural extension specialist in an effort to accelerate the dissemination of agricultural information. Several internet application used in the dissemination of agricultural information such as the IAARD(Indonesia Agency of Agricultural Research dan Development) website, cyber extension, agricultural digital libraries and social media.The intensity of using the internet by agricultural extension specialist for dissemination of agricultural informastion is still low with the frequency of 2-3 times a day and the duration of 1-2 hours a day because the task of agricultural extension in the field. The used of the internet by agricultural extension are depend on individual characteristic (age, length of work, media ownershipand education), perception on the internet, information needs, motivation and support of agencies. The agricultural extension used the internet for reports, content creation, and extension methods designed. Low internet acces capability and limited access facilities become obstacles on using the internet to obtain the necessary information. The ability of extension specialist to access the internet can meet the needs of agricultural information users and improve the competence of extension specialist themselves.Keyword: Internet, dissemination, agricultural technology, extension. AbstrakSalah satu pemanfaatan internet di Kementerian Pertanian adalah untuk diseminasi informasi teknologi pertanian kepada penyuluh sebagai pengguna perantara sebelum disampaikan ke petani dengan bahasa yang mudah dicerna. Tulisan ini membahas pemanfaatan internet oleh penyuluh dalam upaya percepatan diseminasi informasi pertanian. Beberapa aplikasi internet untuk diseminasi informasi pertanian diantaranya web Balitbangtan, cyber extension, perpustakaan digital pertanian, dan media sosial. Intensitas penggunaan internet oleh penyuluh untuk diseminasi informasi pertanian masih rendah dengan frekuensi 2-3 kali sehari dan durasi 1-2 jam sehari karena mereka lebih banyak berada di lapangan untuk tugas penyuluhan kepada petani. Penggunaan internet oleh penyuluh antara lain dipengaruhi oleh karakteristik individu (usia, lama bekerja, kepemilikan media, dan pendidikan), persepsi terhadap internet, kebutuhan informasi, motivasi dan dukungan lingkungan. Bagi penyuluh, internet digunakan untuk penyusunan laporan, pembuatan materi, program, dan mendesain metode penyuluhan. Kemampuan akses yang rendah dan keterbatasan sarana parasarana menjadi hambatan dalam pemanfaatan internet untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Kemampuan penyuluh mengakses internet berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pengguna informasi pertanian dan meningkatkan kompetensi penyuluh itu sendiri.Kata kunci: Internet, diseminasi, teknologi pertanian, penyuluh.
PERAN TEKNOLOGI BUDI DAYA DAN POLA TANAM PILIHAN PETANI DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARET RAKYAT / Role of Cultivation Technology and Planting Patterns of Farmer Choice for Improving Smallholding Rubber Productivity Junaidi Junaidi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p86-95

Abstract

Smallholding rubber productivity in Indonesia is still relatively low due to low cultivation technology adoption. The characteristics of smallholder plantations, with limited land tenure and capital, require a specific approach compared to large plantations. This article is aimed to inform rubber cultivation innovations to improve smallholder rubber productivity. Land conservation can increase the opportunity for developing rubber in sub-optimal environments such as peatlands, tides and high-elevated areas. Plant breeding activities in Indonesia have resulted IRR superior clones series with high yield potential (more than 1,500 kg/ha/yr), vigorous growth, and resistance to main diseases. Modification of planting space can increase land productivity and alternative income for farmers during immature period. To obtain the high yield, the clonal typology harvesting system supported by latex diagnosis can optimize the potential of clones and prevent tapping panel dryness (TPD). To increase technology adoption at the farm level, the role of extension workers, farmer groups, and support from the government is required.Keywords: Rubber, farmers, technology, productivity AbstrakProduktivitas tanaman karet rakyat di Indonesia masih tergolong rendah, terutama disebabkan oleh adopsi teknologi budi daya belum optimal. Karakteristik perkebunan karet rakyat, terutama penguasaan lahan dan modal yang terbatas, memerlukan pendekatan spesifik dibanding perkebunan besar. Tulisan ini menginformasikan inovasi teknologi budidaya karet yang dapat meningkatkan produktivitas karet rakyat. Konservasi lahan dapat meningkatkan potensi pengembangan tanaman karet di lahan suboptimal seperti lahan gambut, pasang surut, dan daerah berelevasi tinggi. Pemuliaan tanaman di Indonesia telah menghasilkan klonklon unggul seri IRR dengan potensi hasil tinggi (rata-rata di atas 1.500 kg/ha/th), pertumbuhan jagur, dan tahan terhadap penyakit. Modifikasi pola tanam dapat meningkatkan produktivitas lahan dan sumber pendapatan petani selama tanaman belum menghasilkan (TBM). Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan berkelanjutan, sistem pemanenan lateks tipologi klon yang didukung oleh diagnosis lateks dapat mengoptimalkan potensi klon dan mencegah kering alur sadap (KAS). Untuk meningkatkan adopsi teknologi di tingkat petani diperlukan dukungan penyuluh, kelompok tani, dan pemerintah.Kata kunci: Karet, petani, teknologi, produktivitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue