cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
Penyakit Embun Tepung Dan Cara Pengendaliannya Pada Tanaman Kedelai Dan Kacang Hijau Sumartini Sumartini; Mudji Rahayu
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v36n2.2017.p59-66

Abstract

Powdery mildew disease is caused by Erysiphae diffusa (Cook and Peck) fungi on soybeans and E. polygoni (DC Sawada) on mungbean. Both diseases are an important disease because of their widely spread and high yield loss, reaching 35% in soybeans and 26% in mungbean. In Indonesia, the disease occurs in central areas of soybean production and mungbean. The spread of the disease includes Asia, the United States of America , and Brazil. The symptoms of powdery mildew are easily recognizable in the presence of white flour on the top surface of the leaves. The intensity of powdery mildew is usually high in the dry season, when the temperature is cold in the morning and much mildew conditions around the plant. This situation will interfere with the process of photosynthesis and transpiration. In addition, Erysiphe’s haustorium absorbs plant nutrients that will interfere with some metabolic functions and processes. Control of powdery mildew will suppress the loss of grain bean and results nationally supports the availability of soybean and mungbean. Recommended control measures are spraying with plant materials (extracts of neem seeds, tea compost, cow´s whole milk, essential oil of citronella, lemongrass, eucalyptus, cinnamon, and tea tree) on the incidence of powdery mildew disease on soybean and the use of Vima1 varieties for control of powdery mildew disease on mungbean.Keywords: Soybean, mungbean, powdery mildew, control AbstrakPenyakit embun tepung disebabkan oleh cendawan Erysiphae diffusa (Cook and Peck) pada tanaman kedelai dan E. polygoni (DC Sawada) pada kacang hijau. Penyebaran penyakit penting ini menyebabkan kehilangan hasil mencapai 35% pada kedelai dan 26% pada kacang hijau. Di Indonesia, penyakit ini terjadi di sentra produksi kedelai dan kacang hijau. Di luar negeri, penyebaran penyakit embun tepung meliputi Asia, Amerika Serikat, dan Brazil. Intensitas penyakit biasanya tinggi pada musim kemarau, pada saat suhu dingin di pagi hari dan kondisi berembun di sekitar pertanaman. Gejala penyakit embun tepung mudah dikenali dengan ciri seperti tepung di permukaan atas daun. Hal ini dapat mengganggu proses fotosintesis dan transpirasi. Selain itu, haustorium Erysiphe menyerap nutrisi tanaman sehingga mengganggu beberapa fungsi dan proses metabolisme. Penyakit embun tepung perlu dikendalikan untuk menekan kehilangan hasil kedelai dan kacang hijau. Cara pengendalian yang disarankan adalah penyemprotan dengan bahan nabati (ekstrak biji mimba, kompos teh, susu sapi, minyak dari citronella, lemongrass, eucalyptus, cinnamon, dan tanaman teh) pada kedelai dan penggunaan varietas tahan Vima-1 pada kacang hijau.Kata Kunci: Kedelai, kacang hijau, penyakit embun tepung, pengendalian 
Peran Konservasi Dan Karakterisasi Plasma Nutfah Padi Beras Merah Dalam Pemuliaan Tanaman Higa Afza
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n3.2016.p143-153

Abstract

ABSTRACTThe long duration of cultivation of local red rice (more than 134 days) and its tall stem (average above 164 cm) led to a decline of farmers' preferences to grow red rice. In fact, based on research, red rice demonstrated anti-oxidants higher than that of white rice and good for glucose dietary. Currently only a small portion of red rice are grown extensively to meet the consumption needs of the community that increasingly aware the superiority of red rice. While the majority of red rice varieties which are not constantly planted would be threatened by genetic erosion. Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development has mandate for ex situ preservation of food crops, including red rice. Until now, a total of 54 varieties have been collected through exploration in almost all regions in Indonesia.Broad plant genetic diversity conserved will contribute to plant breeding program.Keywords: Red rice, conservation, characterization, plant breeding, genetic resourceAbstrakKarakteristik padi beras merah yang memiliki umur dalam (lebih dari 134 hari) dan postur tanaman yang tinggi (rata-rata 164 cm) menyebabkan preferensi petani untuk membudidayakan padi beras merah cenderung menurun. Menurut hasil penelitian, beras merah mengandung antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beras putih serta dianjurkan untuk diet gula. Saat ini hanya sebagian kecil plasma nutfah padi beras merah yang ditanam secara luas untuk memenuhi kebutuhan, khususnya kalangan masyarakat yang makin menyadari keutamaan kandungan gizi beras merah. Sementara sebagian besar plasma nutfah padi beras merah tidak ditanam secara terus-menerus sehingga akan mengalami erosi genetik. Oleh karena itu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian sebagai lembaga yang memiliki mandat pelestarian tanaman pangan, terus mela-kukan konservasi ex-situ. Hingga kini 54 varietas/galur padi beras merah telah dikumpulkan melalui eksplorasi dari hampir seluruh daerah di Indonesia dan telah dikarakterisasi. Dengan adanya keragaman genetik padi beras merah yang berasal dari berbagai daerah di tanah air, diharapkan program pemuliaan tanaman dapat berjalan sesuai dengan tujuan.
Pengembangan Varietas Unggul Lada Tahan Penyakit Busuk Pangkal Batang yang di sebabkan oleh Phytophthora capsici Dono Wahyuno; Dyah Manohara; Susilowati D. Ningsih; R. T. Setijono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n3.2010.p86-95

Abstract

Lada (Piper nigrum) merupakan tanaman rempah yang dibudidayakan banyak petani di Indonesia. Produktivitas lada Indonesia relatif rendah, selain karena fluktuasi harga sehingga petani kesulitan memelihara kebun dengan baik, juga akibat serangan penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici. Untuk mengurangi kerugian hasil akibat serangan BPB, perlu dilakukan pengembangan tanaman lada tahan BPB berdaya hasil tinggi disertai dengan sistem budi daya yang efisien. Namun, pengembangan varietas lada tahan BPB menghadapi masalah sempitnya keragaman genetik lada dan adanya variasi virulensi P. capsici. Upaya mendapatkan lada tahan BPB telah dilakukan melalui persilangan intraspesies maupun antarspesies Piper spp., tetapi masih perlu dilanjutkan untuk mendapatkan varietas lada tahan BPB dan berdaya hasil tinggi. Sebaran geografis P. capsici yang luas dan adanya variasi virulensi pada populasi P. capsici menyebabkan komponen pengendalian BPB yang lain perlu terus diperbaiki. Upaya ini penting untuk mendukung budi daya lada tahan BPB dan kelangsungan produksi lada nasional.
PENGEMBANGAN POTENSI AYAM LOKAL UNTUK MENUNJANG PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Achmad Gozali Nataamijaya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n4.2010.p131-138

Abstract

Native chickens potential development for supporting farmers' welfare improvementIndonesian native chickens have very good potential to be developed to create a commercial strain for supporting food security and to improve farmers' welfare. So far, at least 32 ecotypes of native chickens were documented. Each of them has special characteristics, e.g. pelung, sentul, kedu, merawang, gaok, and nusa penida. Most of the local chickens were resulted from domestication of Gallus gallus since hundred years ago. The birds could be classified into several types, i.e. meat, egg layer, dual purpose, and fancy. Government attention for developing these native chickens is limited, even though native chicken keeping activity involves most of the farmers in the villages. Native chicken diseases are commonly caused by infections of viruses, bacteria, protozoa, and parasites, however native chickens have better resistance to diseases especially avian influenza ( AI ) because its body contains higher percentage of Mx+ gene compared with the imported hybrid chicken. Selection for resistance toward AI and newcastle disease should be implemented and supported with disease control program.Keywords: Native chickens, reproductive performance, crossbreeding, poultry farming, farmers' welfare
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI BIODIESEL BERBASIS KELAPA DI MALUKU Sjahrul Bustaman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v28n2.2009.p46 -53

Abstract

Strategy of biodiesel development base on coconut in MoluccasBiodiesel is an alternative fuel that can be produced from coconut oil through transesterification process using methanol and sodium hydroxide (NaOH) as catalyst. Nowadays, the development of biodiesel is urgently required to reduce people burden due to the price and the uncertain supply of diesel fuel in small and remote islands. This paper gives the prospect of biodiesel development in Moluccas. The SWOT analysis results in the present study gave strategy for the development of coconut plantations in the Southeast and West of Southeast Moluccas Districts. Other strategy is for the development of biodiesel, that is useful especially for the people who live faraway from Ambon. The utilization of coconut is recommended not only for biodiesel, but also for product diversification. Alternative models/patterns of biodiesel development include a household, a small-micro, a commercial, or a nucleus-plasma pattern. Some steps are required to be carried out by the Government of Moluccas, namely: 1) establish a safe situation in Moluccas as some investors still hesitate to come there, 2) revitalize the existing coconut plantations, 3) establish integrated coconut agribusiness, starting from cultivation aspect, processing, up to marketing in various scales with corporate community orientation, 4) facilitate invest development and strengthening of local institutions, 5) push increase of biodiesel utilization as diesel fuel substitute, and 6) conduct technology transfer, training, and use unemployment people who graduated from the university as partner in business of biodiesel industry.
BIOFORTIFIKASI MINERAL FE DAN ZN PADA BERAS: PERBAIKAN MUTU GIZI BAHAN PANGAN MELALUI PEMULIAAN TANAMAN Siti Dewi Indrasari; Kristamtini Kristamtini
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n1.2018.p9-16

Abstract

ABSTRACTRice is the staple food of most people in Indonesia and some countries in Asia. As the main food, rice is known to have inadequate micro nutrition so that it is potential to cause malnutrition for consumers. Biofortification is one of the innovations in improving the nutritional quality of rice. The benefits of biofortification include: (1) can be developed in basic foodcrops, (2) cheaper and beneficial in terms of cultivation because the seeds that have been fortified are only needed once in the first use, then the seed of the next crop can be further developed by other farmers, (3) beneficial to nutritious consumer communities, and (4) high production and environmentally friendly. Important minerals such as Fe (iron) and Zn (zinc) in rice can be increased through biofortification programs into Fe and Zn dense rice. Highly nutritious rice derived from local rice and superior varieties needs to be developed after going through the process of release varieties. Prior to that, the variety also needs to be registered to competent parties to be protected as asset and intellectual property rights (IPR) of researchers from theft and illegal acknowledgment by others for personal gain. In addition, it is needed certification of rice labelled assurance of rice varieties produced through plant breeding to increase economic added value and protect consumer rights.Keywords: Rice, biofortification, nutrition quality, plant breeding ABSTRAKBeras adalah makanan pokok sebagian besar penduduk di Indonesia dan beberapa negara di Asia. Sebagai pangan utama, beras diketahui memiliki gizi mikro yang tidak memadai sehingga berpotensi menimbulkan kekurangan gizi bagi konsumen. Biofortifikasi merupakan salah satu inovasi dalam meningkatkan mutu gizi beras. Keuntungan biofortifikasi antara lain: (1) dapat dikembangkan pada bahan makanan pokok, (2) lebih murah dan menguntungkan dari segi budi daya karena benih yang telah terfortifikasi hanya diperlukan sekali di awal penggunaan, selanjutnya benih dari pertanaman berikutnya dapat dikembangkan lebih lanjut oleh petani lain, (3) bermanfaat bagi masyarakat konsumen rawan gizi, dan (4)produksi tinggi dan ramah lingkungan. Kadar mineral penting seperti Fe (besi) dan Zn (seng) pada beras dapat ditingkatkan melalui program biofortifikasi menjadi beras kaya Fe dan Zn. Beras bergizitinggi yang berasal dari padi lokal maupun varietas unggul perlusegera dikembangkan setelah melalui proses pelepasan varietas. Sebelum itu, varietas tersebut juga perlu didaftarkan kepada pihak kompeten untuk dilindungi sebagai aset dan hak kekayaan intelektual (HKI) para peneliti dari pencurian dan pengakuan illegal oleh pihak lain untuk kepentingan pribadi. Selain itu diperlukan pula sertifikasi beras berlabel jaminan varietas dari varietas padi yang dihasilkan melalui pemuliaan tanaman guna meningkatkan nilai tambah ekonomi dan melindungi hak konsumen.Kata kunci: Padi, biofortifikasi, mutu gizi, pemuliaan tanaman
Sistem Usaha Tani Kakao Berbasis Bioindustri Pada Sentra Pengembangan Di Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan Basir Nappu; Muh. Taufik; Muh Topik
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n4.2016.p187-196

Abstract

ABSTRACTCocoa (Theobroma cacao L.) is an important estate crop commodity which plays a role in national economy for creating jobs, farmers income, stock-exchange sources, and agro-industry development. This article discusses cacao farming bioindustry in Luwu Regency, South Sulawesi, as eco-friendly, efficient, value added, and competitive farming system. The main benefit is derived from plants as a source of livestock feed and increasing plantproduction due to utilization of compost as fertilizer. While the benefit from livestock can be generated from livestock waste as organic fertilizer and a source of energy. Implementation of the model increased farming revenues by 45.9%. Cattle business efficiency can be obtained from utilization of cocoa pods and legume forage as feed sources which save labor allocation up to 50%. Cocoa farming efficiency that is obtained through the use of manure as organic fertilizer reached 40%. Financial analysis showed that  integrated cocoa and livestock was more profitable than non-integrated model. Within one year, the integration pattern provided profits of Rp13.03 million/ha/2 cattle, whereas nonintegration pattern only provided net profit of 7.84 million/ha/year. Thus the integration pattern gave added value of Rp5.1 million or 66% with an incremental benefit cost ratio (IBCR) of 1.08. The system is potential to be developed in other cocoa development areas in Indonesia, as well as to support the increasing cow population program.Keywords: Bioindustries, farming system, integration, cocoa, cow livestock AbstrakKakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan cukup penting dalam perekonomian nasional, sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan petani dan devisa negara, dan pengembangan agroindustri. Tulisan ini membahas sistem usaha tani kakao berbasis bioindustri di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sebagai usaha tani ramah lingkungan yang efisien, bernilai tambah, dan berdaya saing tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan sistem ini melalui integrasi kakao-sapi dapat mendorong peningkatan produktivitas tanaman kakao dan pengembangan sapi melalui pemanfaatan limbah kakao sebagai sumber pakan ternak serta limbah ternak sebagai sumber pupuk organik dan energi. Penerapan model integrasi kakao-sapi dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 45,9%. Efisiensi usaha ternak sapi pada pola integrasi kakao-sapi terjadi melalui pemanfaatan kulit kakao dan tanaman pelindung (leguminosa) sebagai bahan pakan yang menghemat tenaga kerja dalam penyediaan pakan hingga 50%. Efisiensi pengelolaan kebun kakao terjadi melalui penghematan biaya penggunaan pupuk kandang yang mencapai 40%. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usaha tani integrasi kakao-sapi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan nonintegrasi. Pola integrasi mampu memberikan keuntungan Rp13,03 juta/ha/2 ekor/tahun, sedangkan keuntungan pada pola nonintegrasi hanya Rp7,84 juta/ha/tahun. Pola integrasi memberikan nilai tambah Rp5,1 juta atau 66% dengan incremental benefit cost ratio (IBCR) 1,08. Sistem ini berpotensi untuk diimplementasikan di berbagai wilayah pengembangan kakao di Indonesia, sekaligus untuk mendukung program peningkatan populasi sapi. 
Peranan Sifat Fisikokimia Sorgum Dalam Diversifikasi Pangan Dan Industri Serta Prospek Pengembangannya Suarni Suarni
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n3.2016.p99-110

Abstract

ABSTRACTSorghum utilization for foods and industries from semi-finished materials (milled grains, flour, starch) should be based on the character of physicochemical properties. This is supported by results of research that each sorghum variety has physicochemical properties and different functional bioactive compounds. This is a first step for selecting sorghum varieties appropriate with desired products. There are many technology innovations of industry and food products, including liquid sugar and bioethanol from sweet sorghum stem. To promote sorghum as prospective food and industry diversification materials, research support, science and technology, and policy are required. The availability of superior sorghum varieties supported by technological innovation of food processing industry makes it potential commodity to be developed.Keywords: Sorghum, physicochemical properties, food diversification, industryabstrakPemanfaatan sorgum untuk pangan dan industri dari bahan setengah jadi (sorgum sosoh, tepung, dan pati) sebaiknya berlandaskan pada karakter sifat fisikokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap varietas sorgum memiliki sifat fisikokimia dan komponen bioaktif fungsional yang berbeda. Informasi ini dapat menjadi pertimbangan awal dalam memilih varietas sorgum sesuai dengan produk yang diinginkan. Berbagai inovasi teknologi produk pangan dan industri berbasis sorgum, termasuk gula cair dan bioetanol dari batang sorgum manis telah dihasilkan. Untuk mempromosikan sorgum sebagai bahan diversifikasi pangan dan industri yang prospektif, diperlukan dukungan riset, iptek, dan kebijakan. Tersedianya varietas unggul sorgum, yang didukung dengan inovasi teknologi pengolahan pangan dan industri yang memadai, menjadikan komoditas ini potensial untuk dikembangkan. 
Pemanfaatan Sari Kedelai Sebagai Bahan Pengencer Pengganti Kuning Telur Untuk Kriopreservasi Spermatozoa Hewan Fitra Aji Pamungkas; Rantan Krisnan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v36n1.2017.p21-27

Abstract

The extenders commonly used for cryopreservation of spermatozoa are based on animal products such as egg yolk. Egg yolk contains cholesterol, phospholipid and low density protein which prevent the formation of ice crystals and protect the integrity of plasma membrane during cryopreservation process. Furthermore, egg yolk increased the risk of microbial contamination and related to the possible transmission of zoonotic agents. Soybeans are the products of vegetable protein is often used as an emulsifier in the production of food for humans and serves as a protection from the cold shock as well as low density protein in egg yolk. Several studies reported that soybean extenders for cryopreservation of spermatozoa produce the same quality or even better than the egg yolk based extenders and the optimal concentration of soy bean in the extenders forcryopreservation of spermatozoa at 0.8-1.5%.Key words : Soy bean, egg yolk, extender, cryopreservation, spermatozoaABSTRAKBahan pengencer yang biasa digunakan untuk kriopreservasispermatozoa didasarkan pada produk hewani seperti kuning telur. Kuning telur mengandung kolesterol, fosfolipid dan low density proteinyang dapat mencegah pembentukan kristal es sehingga melindungi integritas membran plasma terhadap kejutan dingin selama proses kriopreservasi. Namun penggunaan kuning telur menimbulkan kekhawatiran terutamapotensi peningkatan kontaminasi mikroba dan agen penularan zoonosis. Kacang kedelai merupakan produk protein nabati yang sering digunakan sebagai pengemulsi dalam produksi makanan untuk manusia dan berfungsi sebagai pelindung dari kejutan dingin sama halnya low density lipoproteinpada kuning telur. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa bahan pengencer kacang kedelaiuntuk kriopreservasi spermatozoa menghasilkan kualitas yang sama atau bahkan lebih bagus dibandingkan dengan bahan pengencer berbasis kuning telur dan konsentrasi kacang kedelai yang optimal pada bahan pengencer untuk kriopreservasispermatozoa sebesar 0,8-1,5%.Kata kunci: Kacang kedelai, kuning telur, pengencer, kriopreservasi, spermatozoa
KEANEKARAGAMAN ILES-ILES (Amorphophallus spp.) DAN POTENSINYA UNTUK INDUSTRI PANGAN FUNGSIONAL, KOSMETIK, DAN BIOETANOL Yati Supriati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n2.2016.p69-80

Abstract

Iles-iles (Amorphophallus spp.) memiliki keanekaragaman yang tinggi, tercatat ada 200 spesies di dunia,  menyebar terutama di Asia, yakni di Tiongkok, Vietnam, Indonesia, dan Thailand masing-masing 15, 21, 24, dan 53 spesies. Namun, hingga saat ini baru tiga spesies yang sudah diusahakan di Indonesia, yaitu Amorphophallus companulatus (Roxb.), A. variabilis Blume, dan  A. oncophyllus Prain ex Hook.f.  synonym A. moelleri  Blume. Iles-iles mempunyai nilai ekonomi karena umbinya mengandung glukomanan, suatu senyawa polisakarida jenis hemiselulosa yang bersifat hidrokoloid, larut dalam air, jernih, rendah kalori, dan bebas dari gluten. Kandungan glukomanan pada iles-iles, A. konjac, A. oncophyllus, dan A. variabilis masing-masing 64, 55, dan 44%. Dalam industri pangan, glukomanan digunakan sebagai bahan pengental, pem-bentuk gel, pengemulsi, dan penstabil. Sebagai sumber pangan fungsional, glukomanan berperan antara lain dapat mengontrol kadar lipida dan gula darah pada penderita diabetes melitus tipe 2, mengurangi obesitas, mencegah dan menghambat kanker, serta menurunkan gejala klinis divertikulosis. Pada industri kosmetik, tepung konjak digunakan untuk membuat spon pembersih wajah dan kulit yang sangat halus dan bersifat agak alkali untuk membersihkan noda dan debu berminyak. Manfaat lain dari glukomanan ialah dalam pembuatan bioetanol. Kadar etanol tertinggi yang dapat dihasilkan dari umbi iles-iles adalah 79,94 g/l  pada suhu fermentasi 30° C dengan pemberian ragi 15 g. Hasil panen umbi iles-iles di wilayah subtropis berkisar 11-30 t/ha, sedangkan di Indonesia hanya 10-12 t/ha. Sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, dan bioetanol, tantangan dalam pengembangan iles-iles di Indonesia ialah bagaimana mendapatkan dan merakit varietas unggul dengan kadar glukomanan tinggi dan teknologi pengolahan sampai menjadi produk siap pakai.

Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue