cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Optimalisasi Penggunaan Lahan Rawa Pasang Surut Mendukung Swasembada Pangan Nasional Ani Susilawati; Dedi Nursyamsi; Muhammad Syakir
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Lahan rawa pasang surut merupakan sumberdaya lahan yang dapat menjadi sumber pertumbuhan produksi baru produksi pertanian. Namun perlu didukung oleh teknologi budidaya yang handal karena umumnya lahan rawa pasang surut memiliki beberapa kendala meliputi aspek teknis, infrastruktur, dan aspek sosial ekonomi serta kelembagaan. Optimalisasi penggunaan lahan rawa pasang surut sangat strategis dan berpeluang besar untuk meningkatkan produksi padi di lahan rawa pasang surut sehingga berkontribusi signifikan terhadap produksi padi nasional. Optimalisasi tersebut dapat melalui (1) perluasan areal, (2) peningkatan Indeks Pertanaman (IP) (pengelolaan air dan penggunaan varietas unggul), dan (3) peningkatan produktivitas (penataan lahan, pengolahan tanah, ameliorasi dan pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit serta penguatan kelembagaan). Apabila dilakukan optimalisasi lahan rawa pasang surut dengan dukungan inovasi teknologi pengelolaan dan budidaya yang baik dan peningkatan indeks pertanaman (IP 200), maka dapat diperoleh tambahan produksi sebesar 2,44 juta ton gabah per tahun. Pencapaian optimalisasi di atas dapat dilakukan secara bertahap dengan penerapan asas prioritas, berkesinambungan, sistematis, dan fokus. Sehubungan dengan keterkaitan yang kuat baik antar sektor maupun antara subsektor pada bidang pertanian sendiri, maka koordinasi, integrasi, sinkronisasi menjadi kunci keberhasilan.Abstract. Tidal swamp land resources can be a source of new production growth of agricultural production. However, it should be supported by reliable cultivation technology due to tidal swamp land generally have some constraints including technical aspects, infrastructure,socio-economics and institution.. Optimization usage of a tidal swamp land is very strategic and has a great opportunity to increase rice production in the tidal wetlands that may contribute significantly to the national rice production. The optimization can be via (1) area expansion, (2) increase the cropping index (IP) (water management and the use of high yielding varieties), and (3) increased productivity (land arrangement, soil tillage, amelioration and fertilization, weed control, pest and disease as well as institutional strengthening). If optimization usage of tidal swamp land is carried out and supported by technological innovation, good cultivation management, and improved cropping indices (IP 200), it is expected to obtain additional production of 3.5 million tons of rice grain per year. This achievement target can be done gradually by implementiing the priority principle, continuity, systematics, and focusing. In the connection of strong linkages among development sectors and sub-sectors in agriculture itself, the koordination, integration, and synchronization are the key of success.
Cover JSL Vol.10(2) 2016 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Cover JSL Vol.10(2)2016
Opportunity for the Implementation of Conservation Farming for Cropping Gambier in West Sumatra . WINARDI
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v5n2.2011.%p

Abstract

Gambier is one of the leading commodity from West Sumatra of plantation subsector. Total area gambier cultivation in West Sumatra, currently covers 18,204 ha with a production of 10,114 tons/year. Gambier planting areas are concentrated in two regions, namely District of Limapuluh Kota and District of Pesisir Selatan. Gambier is generally cultivated by traditional farmers in the forest, both protected forest and community forest. Areas with steep slopes are usually not intended as an area of cultivation. Classes of land capability in this area range from Class V to Class VIII. The low ability of farmers, whether in farming or the economic causing of gambier cultivation technology will be potluck. Such circumstances likely causing land degradation on gambier plantation. Conservation farming with agroforestry practices have an opportunity to be developped because of low cost potentially increase income and welfare. The conservation farming has been practiced by some gambier farmer
Dinamika Besi pada Tanah Sulfat Masam yang Ditanami Padi Ani Susilawati; Arifin Fahmi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Tanah sulfat masam mempunyai potensi dan berpeluang besar bagi pengembangan usaha tani padi. Sebagian besar tanah sulfat masam terletak pada daerah rawa yang mendapat pengaruh langsung ataupun tidak langsung dari pasang surutnya air laut sehingga kondisi basah dan kering tanah dapat menyebabkan perubahan sifat kimia tanah seperti kondisi redoks tanah, konsentrasi besi (Fe) dan pH tanah serta terakumulasinya asam-asam organik. Aktivitas budidaya padi sawah menunjukkan suatu pola dinamika Fe yang berubah-ubah sebagai akibat dari interaksi faktor-faktor lingkungan (pH tanah, kondisi redoks, jenis mineral, bahan organik) dan mikroorganisme tanah.Abstract. Acid sulphate soil has a potential and great opportunity for the development of rice farming. Most acid sulphate soils are located in swampy areas that receive direct or indirect influence of the flow of sea water, so that the wetting and drying soil condition can cause chemical changes in soil properties such as soil redox conditions, the iron (Fe) concentration, pH and the accumulation of organic acids. Rice farming practice showed a changing pattern of Fe dynamics as a result of the interaction between environmental factors (soil pH, redox conditions, types of minerals, organic matter), and soil microorganisms.
Peranan Bahan Organik dalam Sistem Integrasi Sawit-Sapi Husnain Husnain; Dedi Nursyamsi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Sistem integrasi sawit-sapi merupakan salah satu program diversitas usaha tani. Dengan total luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 10,46 juta ha, sistem integrasi sawit-sapi merupakan alternatif terbaik untuk mencapai target swasembaga pangan terutama daging sapi melalui optimalisasi penggunaan lahan dengan memanfaatkan limbah tanaman sawit dan industri sebagai sumber pakan ternak. Sumber pakan ternak untuk usaha penggemukan, pembibitan dan sapi potong dapat berasal dari cover crop bila tersedia, sekitar 30-65% dari pelepah sawit, 10-70% bungkil inti sawit, dan 20-35% bahan non sawit. Sementara itu limbah ternak sapi, biogas, limbah tanaman kelapa sawit (pelepah, daun sawit, dan sisa pohon) dan limbah industri kelapa sawit (tandan buah kosong, dried decanted sludge, palm oil mill effluent dan fly ash) dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik yang dapat meningkatkan kesuburan dan kualitas tanah. Bahan organik sangat diperlukan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Disamping itu sistem integrasi sawit-sapi merupakan teknologi adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim dengan aplikasi sistem biogas maka diperoleh energi gas untuk keperluan rumah tangga dan industri sekaligus mampu menurunkan emisi gas methane. Paper ini merupakan review hasil-hasil penelitian integrasi tanaman-ternak berbasis kelapa sawit terutama informasi potensi sumber bahan organik yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.Abstract. Integrated crop-livestock based oil palm is an example of diversity in agricultural system. With a total area of oil palm plantations reached 10.46 million ha, very potential to support integrated crop-livestock farming systems. The main target in developing this systems is to achieved food i.e beef self sufficiency through land optimalization and by using plant residue and oil palm industry waste for cattle feed. The cattle feed sources for beef meat production and breeding could be from cover crop if available, 30-65% fronds, 10-70% palm kernel cake and 20-35% non palm sources. In other side, various waste material such as manure, biogas sludge, plant residue (fronds, palm leaves and trunk) and industrial waste (empty fruit bunches, solid waste, dried decanted sludge, palm oil mill effluent and fly ash) are potential source of organic matter. Organic matter is important in improving soil fertility and quality. Besides, integrated crop-livestock based oil palm farming system is also found as an adaptive technology to cope climate change. Biogas installation as a component in this systems able to reduce methane emission. The energy produce through biogas installation in this system can be used for household and industry and able to reduce methane emissions. This paper reviews the results of research of integration crop-livestock based oil palm aims to provide information focused on potential sources of organic matter produced which useful to improve the biological, physical and chemical properties of soil. 
Pengelolaan Lahan Gambut Untuk Pengembangan Kelapa Sawit Di Indonesia Supiandi Sabiham; Sukarman Sukarman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n2.2012.%p

Abstract

Abstrak.Lahan gambut yang mempunyai sifat mudah rusak, pemanfaatannya harus berpedoman pada upaya pengembangan lahan berkelanjutan dengan konsep pembangunan yang “konstruktif-adaptif”. Pengalihan fungsi lahan gambut untuk keperluan lain berdasarkan kesesuaian dan kemampuan lahan serta penggunaan teknologi yang sesuai harus menjadi dasar dalam pengembangan lahan gambut ke depan. Dengan demikian, pemilihan teknologi dan komoditas yang tepat dan adanya upaya untuk menekan kerusakan lahan hingga sekecil mungkin menjadi sangat penting. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis lahan, termasuk lahan gambut. Dengan teknologi pengelolaan air yang tepat, disertai peningkatan stabilitas bahan gambut dan serapan CO2 oleh tanaman pada kawasan pengembangan kelapa sawit, maka pemanfaatan lahan gambut akan memberikan faedah yang besar, tidak hanya untuk masa kini tetapi juga untuk masa mendatangAbstract.Peatlands with fragile properties should be used by following the guidance of sustainable land development with land usages concept of “constructive-adaptive” development. Conversion of peatlands for other land usages based on land capability and land suitability as well as the appropriate use of technology should be the basis for their future development. Thus, the selection of suitable technologies and commodities with the attempts to reduce the land damage to the lowest level is very important. Oil palm is one of the agricultural commodities that are able to adapt different types of land, including peatlands. With proper water management and the efforts to increase peat stability and CO2 sequestration in the area of oil palm development, the use of peatlands will provide a great benefit, not only for today but also for the future.
Pola Konversi Lahan dan Strategi Perlindungan Lahan Sawah di Kota Sukabumi Yuda Hidayat Mansur; Endriatmo Soetarto; Komarsa Gandasasmita
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n2.2014.%p

Abstract

Abstrak. Kajian pola konversi lahan dan strategi perlindungan lahan sawah di daerah Sukabumi secara kualitatif dan kuantitatif diindikasikan bahwa lahan sawah mengalami penyusutan sebesar 2,23% sedangkan lahan berkembang telah meningkat sebesar 3,35% dalam waktu 10 tahun (2002-2012). Perubahan penggunaan lahan dipengaruhi oleh tenaga kerja, petani regenerasi, dan fragmentasi kepemilikan lahan. Secara fisik, konversi lahan dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, panjang jalan dan lereng. Strategi yang dapat diimplementasikan untuk melindungi sawah di Sukabumi, antara lain: (1) peningkatan kapasitas agribisnis petani, (2) merumuskan rencana aksi untuk regenerasi petani muda, (3) mengendalikan perizinan penggunaan lahan, dan (4) pemerintah Kota Sukabumi membeli sawah produktif. Upaya lebih lanjut dilakukan kajian tentang Agropolis dan Agroedutourism di Sukabumi.Abstract. The assessment for protecting paddy fields by identifying land coversion pattern in Sukabumi city by qualitative and quantitative approach, it is indicated that paddy fields has decreased by 2.23 percent while developed-land has increased by 3.35 percent within 10 years (from 2002 to 2012). The landuse change was influenced by labor, farmers regeneration, and land tenure fragmentation. Physically, it was influenced by population density, the length of the road and slope. The strategies can be implemented to protect paddy fields in Sukabumi, namely: (1) by increasing the farmer’s agribusiness capacity, (2) formulating the action plan for regenerating young farmers, (3) by controlling the permission regarded to land coversion, and (4) Sukabumi municipal city should buys the productive paddy fields. For further, it seems that municipal city government should conduct an assessment on studying the agropolis and agroedutourism concept in Sukabumi.
Perencanaan Penggunaan Lahan di Daerah Tangkapan Air (DTA) Waduk Batutegi untuk Mengurangi Sedimentasi Nani Heryani; Nono Sutrisno
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Waduk memiliki berbagai fungsi diantaranya sebagai sumber air untuk irigasi dan domestik, sebagai pembangkit tenaga listrik dan sebagai tempat wisata. Mengingat pentingnya fungsi waduk, pengelolaan terhadap daerah tangkapan air dari waduk tersebut harus dilakukan dengan tepat. Perubahan penggunaan lahan akan sangat berpengaruh terhadap kondisi waduk. Hal umum yang sering terjadi pada saat pengelolaan lahan tidak sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian lahan, dan tidak terdapat upaya konservasi tanah dan air, maka erosi permukaan meningkat dan berdampak terhadap tingginya sedimentasi di waduk. Tulisan ini menyajikan tinjauan tentang perencanaan penggunaan lahan di Sub DAS Way Jantan yang merupakan salah satu daerah tangkapan air (DTA) waduk Batutegi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan merupakan faktor utama yang dapat menentukan sedimen yang terangkut sungai dan masuk kedalam waduk. Peningkatan curah hujan dan erosivitas hujan (EI30) dapat meningkatkan besarnya aliran permukaan (runoff) dan sedimen di waduk Batutegi. Sedangkan perubahan penggunaan lahan dari semak belukar, kebun campuran, dan kebun kopi menjadi hutan dapat menurunkan sedimen waduk. Untuk mengurangi sedimentasi waduk Batutegi, perencanaan penggunaan lahan yang diusulkan yaitu 13-16% dari total luas Sub DAS Way Jantan berupa 79% tanaman tahunan (kopi), 5% sawah, 8% semak belukar, masing-masing 4% pemukiman dan hutan. Model prediksi untuk mengetahui perubahan aliran permukaan, sedimen, dan erosi akibat perubahan penggunaan lahan dapat dijadikan dasar dalam perencanaan penggunaan lahan di DTA waduk.ABSTRACT. Reservoir has various functions such as water sources for irrigation and domestic, hydro electrical power plant and a tourism. Given the importance of reservoir function, management of catchment areas of reservoirs should be done properly. Land use changes will greatly affect the condition of the reservoir. Common problems that often occur when land use is not based on land capability and suitability, and there is no soil and water conservation efforts, were increased surface erosion resulting the high sedimentation in the reservoir. This paper presented an overview of land use planning in Way Jantan Sub Watershed as a reservoir Batutegi catchment area.The results showed that land use is a major factor that determine the transported sediment into rivers and reservoirs. The increase of precipitation and rainfall erosivity (EI30) can increase the amount of runoff and sediment in the Batutegi reservoir. While the land use change of shrubs, mix garden, and coffee plantations into forests can reduce sediment in reservoirs. To reduce reservoir sedimentation of Batutegi, the proposed land use planning that is 13-16% of the total area of Way Jantan sub watershed such as 79% of annual crops (coffee), 5% of rice field, 8% of shrubs, 4% of forest and settlements respectively. Prediction models to assess surface runoff, sediment, and erosion attributed by land use changes can be used as basis for land use planning in the catchment area of reservoir.
Kejadian Iklim Ekstrem dan Dampaknya Terhadap Pertanian Tanaman Pangan di Indonesia Elza Surmaini; Akhmad Faqih
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim telah menganggu sistem iklim global dan menyebabkan meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrem. Tulisan ini merupakan tinjauan mengenai proyeksi skenario iklim, faktor pengendali kejadian iklim ekstrem, serta dampaknya terhadap sektor pertanian di Indonesia. Dampak kejadian iklim ekstrim yang dominan pada sektor pertanian adalah kerusakan tanaman akibat kekeringan dan banjir. Akibat perubahan iklim, kekeringan dan banjir diproyeksikan akan meningkat frekuensi dan intensitasnya di masa akan datang. Informasi prediksi musim dapat digunakan untuk mengetahui intensitas dan wilayah yang terdampak dalam 1-2 musim ke depan. Sedangkan dampak jangka panjang 2-3 dekade ke depan dapat diketahui berdasarkan skenario proyeksi iklim. Prediksi musim telah banyak di manfaatkan untuk menyusun strategi dan kebijakan operasional seperti menyesuaikan waktu tanam, pemilihan komoditas, dan distribusi peralatan pertanian. Namun, kajian proyeksi iklim dan dampaknya terhadap produksi pangan masih sangat terbatas. Informasi tersebut diperlukan dalam perencanaan arah dan pembangunan pertanian ke depan. Oleh karena itu, kajian proyeksi iklim dan dampaknya terhadap produksi pangan perlu menjadi prioritas penelitian pertanian di Indonesia.Abstract. Climate change has disrupted the global climate system and lead to increase frequency and intensity of extreme climate events. This paper is an overview of future climate scenarios, driving force of extreme climate events, and its impacts on the agricultural sector in Indonesia. The common impacts of extreme climate events in Indonesia’s agriculture are crop damaged due to drought and flood. Due to climate change, drought and flood events is projected to intensify in the future. Seasonal prediction have been widely used to formulate operational strategies and policies such as planting time, commodity choice, and distribution of agricultural equipment. While, the climate projections are required for the forthcoming decades. However, the study of climate projections and their impact on food production for the next decades is still very limited. The information are required for planning and direction of future agricultural development. Therefore, the study of climate projections and their impact on food crop should be a priority of agricultural research in Indonesia.
Karakteristik Fisik Tanah Kawasan Budidaya Sayuran Dataran Tinggi, Hubungannya dengan Strategi Pengelolaan Lahan Umi Haryati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n2.2014.%p

Abstract

Abstrak. Lahan kering di kawasan lahan budidaya hortikultura sayuran di dataran tinggi semakin intensif dikelola oleh petani dan mempunyai peluang pengembangan yang strategis. Lahan di kawasan ini mempunyai karakteristik yang spesifik, sehingga perlu pengenalan sifat lahannya agar dapat mengelolanya secara baik dan benar. Kawasan budidaya hortikultura sayuran dataran tinggi umumnya terletak pada ketinggian di atas 700 m dpl dengan curah hujan rata-rata 2800 – 3300 mm tahun-1, suhu udara rata-rata 16 - 22oC serta topografi lahan berombak sampai berbukit (9 - >45 %). Tanah-tanah di kawasan budidaya sayuran dataran tinggi didominasi oleh ordo Andisol dengan kandungan C-organik yang tinggi, BD yang rendah, porositas tinggi, distribusi pori drainase cepat serta permeabilitas tanah tinggi. Terdapat beberapa kendala baik dari segi agroekosistemnya maupun kendala sifat fisik tanahnya yang berakibat terhadap implikasi teknis yang memerlukan strategi pengelolaan lahan spesifik yang dihadapkan pada kendala implementasi yang spesifik pula. Strategi pengelolaan lahan di lahan kering berlereng kawasan budidaya sayuran di dataran tinggi diarahkan kepada sistem usahatani yang berwawasan konservasi tanah dan air (SUTK) yang dapat mengendalikan erosi sampai mendekati nilai besaran erosi yang diperbolehkan (tolerable soil loss- TSL), pengelolaan bahan organik in situ, usahatani efisien karbon (carbon efficient farming-CEF) dan usahatani nir limbah (zero waste).Abstract. Upland in vegetable horticulture farming area in highland is more and more intensively cultivated by farmer and has strategic development opportunity. Land in this area has specific characteristic, so it needs to be known its properties in order to be able to manage well and properly. Vegetable horticulture farming area in highland is generally located at the region of upper 700 m asl with average rainfall of 2800 – 3300 mm annually, average air temperature 16 - 22oC and rolling to hilly (9 - >45 %) terrain. Soil in vegetable horticulture farming area in highland is dominated by Andisols ordo with the high organic-C content, low bulk density (BD), high porosity, high rapid drainage pore distribution, and high soil permeability. Base on the agroecosystem point of view, there are many constraints as well as soil physics characteristic which due to technically implication and need specific land management strategy that to be faced on several implementation constraints too. Land management strategy in highland vegetable horticulture farming area is directed to conservation farming systems/CFS which can controll soil erosion reached to below tolerable soil loss, in situ organic matter management, carbon efficient farming/CEF as well as zero waste farming systems/ZWFS.

Page 6 of 22 | Total Record : 212