cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
TANGGAP TANAMAN UBIKAYU TERHADAP PUPUK FORMULA A DAN B Sudaryono Sudaryono; Agus Supeno
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p15-23

Abstract

Ubikayu memiliki prospek bagus di masa depan karena  empat hal, yaitu peningkatan kebutuhan bahan baku untuk(1)  pangan, (2)pakan,  (3) industri, dan (4) farmasi. Penelitian bertujuan meramu formula pupuk lengkap spesifik untuk ubikayu. Percobaan lapangandilaksanakan di dua lokasi, yaitu Desa Krebet, Kecamatan Masaran dan Kebun Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Sragen. Rancangan percobaanadalah acak kelompok (RAK), dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah macam pupuk, ada lima macam, yaitu : Formula A, Formula B, NPK Holland 15-15-15, Phonska 15-15-15, dan Formula B+pupuk organik. Faktor kedua adalah takaran pupukterdiri atasempat level, yaitu   0,  0,5, 1, dan 1,5 kali rekomendasi. Takaran rekomendasi 400 kg/ha.Pupuk Formula A pupuk  NPK  15-6-18, dan Formula B adalah NPKCaMg 15-10-18-5-5.Percobaan menggunakan varietas unggulUJ 5 untuk desa Krebet dan Kaspro untuk kebun BPP Sragen.Percobaandilaksanakan pada Desember 2011 hingga Setember 2012.Data yang diamati adalah tinggi tanaman, hasil ubi, dan kadar pati ubi, analisis kimia tanah dan pupuk, serapan hara N,P,K. Hasil penelitian menunjukkanpupuk Formula A dan Formula B meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil ubikayu seperti  pupuk pembanding Holland  ataupun Phonska. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk Formula A dan Formula B memiliki kelayakan teknis sama seperti Holland maupun Phonska.Takaran pupuk dari masing-masing formula meningkatkan pertumbuhan dan hasil ubikayu. Hasil ubikayu  berkisar antara  13– 32  t/ha untuk Desa Krebet dan antara  16 - 40 t/ha untuk kebun Balai Penyuluhan Pertanian Kabupaten Sragen. Hasil ubikayu tertinggiyang dapat dicapai 32,14  t/ha di desa Krebet dengan pemupukan  400kg/ha pupuk NPK Phonska  dan  40,81 t/ha di kebun BPP Sragen dengan pemupukan 400 kg/ha Formula B dikombinasi dengan 5 t/ha pupuk organik. Rendemen pati ubikayu berkisar antara 20 - 29%untuk desa Krebet dan antara 23 -29% untuk ubikayu di kebun BPP Sragen. Peningkatan takaran pupuk  mampu meningkatkan rendemen pati ubikayu. Rendemen tertinggi dicapai pada takaran 600 kg/ha dengan pupuk Formula A.Kesimpulan menunjukkan bahwa pupuk Formula A maupun Formula B memiliki kelayakan teknis dan cocok untuk tanaman ubikayu serta memiliki nilai kompetitif yang sebanding dengan pupuk Holland maupun Phonska.Untuk mempercepat penyebaran dan adopsi penggunaan pupuk Formula A dan Formula B disarankan perlunya sosialisasi dengan mengadakan demplot pupuk di tingkat kelompok tani di daerah-daerah sentra produksi ubikayu.
PENGELOLAAN HARA KALIUM UNTUK UBIKAYU PADA LAHAN KERING MASAM Subandi Subandi
Buletin Palawija No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n22.2011.p86-95

Abstract

Produktivitas ubikayu (Manihot esculenta Crantz). nasional tergolong rendah (18,24 t/ha ubi segar), salah satu penyebab pentingnya adalah ketersediaan hara yang rendah dalam tanah, di antaranya K. Kecukupan hara K sangat menentukan pertumbuhan tanaman serta kuantitas dan kualitas hasil ubikayu, sebab K terlibat dalam berbagai proses fisiologi, di antaranya pertumbuhan sel, pembukaan stomata, pembentukan dan translokasi karbohidrat, pembentukan protein, dan senyawa fenol yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Pengelolaan hara K pada ubikayu di lahan kering masam perlu mendapat perhatian besar, sebab: (a) areal ubikayu telah dan terus berkembang ke lahan kering masam yang tersedia luas, khususnya di Sumatera dan Kalimantan yang antara tahun 2005 dan 2009 tumbuh secara signifikan, berturut-turut 17,6% dan 6,5%, dan (b) ubikayu relatif banyak membutuhkan hara K jika dibandingan dengan tanaman pangan yang lain (padi, jagung, kedelai, kacang tanah). Ketersediaan K (K-dd) pada lahan kering masam umumnya kurang dari 0,10 me/100 g tanah, padahal untuk ubikayu batas kritis K-dd adalah 0,15 me/100 g tanah; sehingga tambahan K melalui pemupukan mutlak diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan K dalam tanah. Berdasarkan pola pertumbuhan biomas dan perakaran ubikayu, serta potensi erosi dan pelindian hara K yang tinggi pada lahan kering masam, maka pupuk K dianjurkan diberikan dua kali, masing-masing 50% pada umur satu dan tiga bulan Pupuk diaplikasi secara dibenamkan/ ditugal di samping tanaman pada kedalaman 5–10 cm. Selain melakukan pemupukan, upaya lain yang harus dilakukan untuk mengurangi kehilangan serta meningkatkan ketersediaan dan penyerapan hara K dalam tanah adalah: (a) menerapkan sistem pertanaman lorong dengan menanam pagar hidup untuk mengurangi erosi dan pelindian, dan (b) meningkatkan kandungan bahan organik tanah, sebagai sumber K dan agar tanah lebih banyak mengikat/menyediakan air/lengas untuk memperlancar pergerakan K ke permukaan akar melalui proses aliran masa dan difusi. Kadar kritis bahan organik dalam tanah untuk ubikayu adalah 3,2%.
Strategi Pengembangan dan Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah pada Lahan Kering Masam di Kalimantan Selatan Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n5-6.2003.p13-25

Abstract

ngkat petani adalah sekitar 1 t/ha, sedang di tingkat penelitian dapat mencapai lebih dari 2 t/ha. Dengan demikian terdapat senjang hasil dan peluang peningkatan produktivitas kacang tanah yang besar. Swasembada kacang tanah untuk Indonesia sebenarnya dapat dicapai dengan beban teknis yang sangat ringan. Komponen teknologi inovatif dan berdaya saing hasil penelitian pada lahan kering yang dicirikan oleh jenis tanah Inceptisol-Entisol (Latosol, Regosol), Podsolik Merah Kuning (Ultisol) dan Oxisol (Latosol) dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Tanah diolah sampai gembur, bersih dari gulma. (2) Penggunaan kapur pertanian atau Dolomit 500–1.000 kg/ha dan pupuk kandang/organik 5 t/ha. (3) Drainase/parit pematusan dibuat dengan jarak antara 4–5 m. (4) Kacang tanah varietas unggul adaptif (Badak, Trenggiling, Simpai) maupun lokal diberi perlakuan Marshal 25 ST dengan takaran 20 g/kg benih. (5) Sistem tanam baris tunggal dengan jarak tanam 40 cm x 10–15cm atau baris ganda 50 cm x 30 cm x 15 cm satu biji/lubang. (6) Pupuk diberikan pada saat tanam memakai 50 kg Urea + 50 kg P-alam + (50–75) kg pupuk KCl atau ZK Plus/ha. (7) Pengendalian hama dengan insektisida (Marshal 200 EC atau Curacron 500 EC dengan takaran 2–3 cc/l) pada umur 25, 35, dan 45 hst. (8) Pengendalian penyakit dengan fungisida (Topsin cair 1–2 cc/l atau Topsin padat 1– 2 g/l) pada umur 35, 45, dan 60 hst. (9) Pengendalian gulma secara mekanis, kultur teknis, biologis, atau kimiawi. (10) Pupuk daun pemacu pertumbuhan (Ogata D dan B, Gandasil D dan B) pada umur 15, 25, 35, 50, dan 65 hst. (11) Memakai ajuvan Alkyl aril alkoksilat dengan konsentrasi 0,04–0,06% bersamaan kegiatan pengendalian OPT dan aplikasi pupuk daun. (12) Penanganan panen dan pasca panen secara tepat. Kalimantan memiliki potensi lahan kering yang luas untuk pengembangan sistem produksi kacang tanah. Sebelum dilakukan pengembangan sistem produksi perlu dilakukan evaluasi kelayakan teknologi budidaya kacang tanah melalui program pengelolaan tanaman terpadu kacang tanah (PTT kacang tanah). Pengembangan kacang tanah pada skala agribisnis dan agroindustri harus dilaksanakan dengan pendekatan holistik mulai dari hulu sampai ke hilir.
POTENSI NEMATODA ENTOMOPATOGEN UNTUK MENGENDALIKAN ULAT GRAYAK PADA TANAMAN KEDELAI Yuliantoro Baliadi
Buletin Palawija No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n13.2007.p29-36

Abstract

Hama merupakan salah satu kendala mempertahankan dan meningkatkan produksi kedelai, khususnya di daerah beriklim tropis. Ulat grayak (Spodoptera litura F.) adalah hama penting pada tanaman kedelai. Strategi pengendalian ulat grayak menggunakan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) yang ramah lingkungan. PHT menekankan penggunaan agens hayati dengan tujuan menyeimbangkan antara populasi hama dengan musuh alaminya. Oleh karena itu, musuh alami adalah komponen penting dalam PHT. Nematoda entomopatogen (NEP) dari genus Steinernema dan Heterorhabditis dengan bakteri simbionnya memiliki potensi besar sebagai agens hayati untuk mengendalikan ulat grayak. Dari semua stadia kehidupan NEP, hanya juvenil infektif stadia-3 (IJs) yang mampu bertahan hidup di luar tubuh inang dan membawa bakteri simbion (Xenorhabdus sp. untuk Steinernema dan Photorhabdus sp. untuk Heterorhabditis). Saat berada di bagian hemokul inang, bakteri dilepaskan, bakteri dengan cepat memperbanyak diri, dan 2–3 hari kemudian serangga inang mati. Mortalitas inang bergantung pada spesies NEP. Mortalitas sebesar 94,6, 90,4, 86,6, dan 58,6%, disebabkan oleh S. carpocapsae, S. glaseri, H. bacteriophora, dan H. indica 72 jam setelah inokulasi. Untuk keperluan uji laboratorium dan lapang skala kecil, NEP dibiakkan pada ulat Galleria mellonella. Pada satu ekor ulat G. mellonella dihasilkan H. bacteriophora, S. carpocapsae, dan S. glaseri masing-masing sebanyak 135.000, 128.000, dan 133.000 IJs.
VARIETAS SPESIFIK LOKASI UNTUK MAKSIMALISASI PRODUKTIVITAS KACANG TANAH Astanto Kasno
Buletin Palawija No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n18.2009.p41-47

Abstract

Varietas spesifik lokasi merupakan salah satu aspek dalam memanfaatkan adanya interaksi genotipe kacang tanah dengan lingkungan untuk maksimasi hasil, karena varietas yang ditanam akan berinteraksi positif dengan lingkungan yang sesuai. Varietas dibedakan menjadi varietas spesifik lokasi dan varietas stabil dinamis. Varietas spesifik lokasi hanya produktif pada lingkungan yang mampu berinteraksi positif dengan lingkungan dan varietas stabil dinamis memberikan tingkat hasil sesuai dengan tingkat produktivitas lingkungan. Lingkungan yang mempengaruhi hasil kacang tanah dibedakan ke dalam lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Sebanyak 31 varietas kacang tanah yang telah dilepas, 21 varietas mempunyai hubungan dengan faktor lingkungan biotik, berupa ketahanan terhadap penyakit layu bakteri, penyakit karat, dan bercak daun. Sisanya berhubungan dengan faktor lingkungan abiotik berupa toleransi kekeringan, naungan, toleran klorosis, dan toleran pH masam. Varietas kacang tanah yang memiliki toleransi terhadap cekaman lingkungan abiotik dianggap sebagi variets spesifik. Varietas Tuban, Bison, dan Kancil dianggap spesifik untuk Alfisol alkalis; varietas Singa dan Jerapah dianggap spesifik untuk lahan kering masam, dan kacang tanah varietas Bison dianggap spesifik untuk toleransi terhadap naungan 30%. Peningkatan hasil yang dicapai dengan menggunakan varietas spesifik berkisar 52–121%. Dengan demikian perluasan penanaman kacang tanah dengan karakteristik lingkungan demikian dapat menggunakan varietas yang sesuai/adaptif.
Pengaruh Pupuk Kandang dan Pupuk Anorganik terhadap Berbagai Varietas Kacang Hijau di Tanah Masam Lestari*, S. Ayu Dwi; Kuntyastuti, Henny
Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v14n2.2016.p55-62

Abstract

Kacang hijau merupakan komoditas alternatif untuk dikembangkan pada tanah masam. Identifikasi teknologi budidaya yang sesuai perlu dilakukan guna meningkatkan produksi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan kombinasi varietas dan pupuk yang efektif guna meningkatkan produktivitas kacang hijau pada tanah masam.Penelitian dilaksanakan di rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Malang, Jawa Timur mulai bulan November 2014 hingga Januari 2015. Penelitian terdiri atas dua faktor yang disusun dalam Rancangan petak terpisah, diulang tiga kali. Petak utama adalah empat macam varietas kacang hijau, yaitu: Kenari (V1), Murai (V2), Kutilang (V3), dan Vima 1 (V4). Anak petak adalah lima macam pemupukan, yaitu: tanpa pemupukan (P0), Phonska 300 kg/ha (P1), pupuk kandang sapi 1,5 t/ha (P2), pupuk kandang sapi 3 t/ha (P3), dan pupuk kandang sapi 5 t/ha (P4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas Kenari, Murai, Kutilang dan Vima-1 mempunyai daya adaptasi yang sama pada tanah masam asal Banten. Hasil biji varietas-varietas tersebut dapat ditingkatkan dengan pemupukan 300 kg/ha Phonska atau dengan pupuk kandang sapi dosis 3 t/ha.
PROFIL AGRIBISNIS DAN DUKUNGAN TEKNOLOGI DALAM AGRIBISNIS KACANG TANAH DI INDONESIA Astanto Kasno
Buletin Palawija No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n9.2005.p21-32

Abstract

Tanaman kacang tanah pada lahan kering memberikan kontribusi pendapatan yang signifikan (60%) bagi petani, sehingga terus ditanam petani meskipun kurang mendapat perhatian yang memadai dari para pihak yang berkepentingan dalam agribusnis kacang tanah. Daya tampung tenaga kerja pada agribisnis kacang tanah untuk sektor industri primer relatif terbatas dengan laju pertambahan luas panen 1,3%. Akses terhadap teknologi belum tampak menggeliat dalam lima tahun terakhir ini. Kenaikan harga input dan upah tenaga kerja yang sangat tajam pada tahun 2005 dapat memperlemah akses terhadap teknologi. Kinerja teknologi petani memberikan hasil sekitar 1,5-1,7 t/ha polong kering yang dapat ditingkatkan menjadi 2,4-3,0 t/ha atau meningkat 30%-80% dengan perbaikan teknologi, namun teknologi inovatif tersebut masih tergolong padat karya dan padat modal bagi petani kacang tanah berskala kecil. Efisiensi usahatani kacang tanah dalam jangka pendek yang paling mungkin dapat dilakukan adalah melakukan penghematan penggunaan benih dari 100-150 kg/ha dengan tanam sebar pada alur bajak berjarak 20 cm antar alur, atau sebar acak menjadi 80-90 kg/ha dengan sebar pada alur bajak berjarak 40 cm antar alur bajak. Kegiatan panen dan pasca panen yang menyerap 20% tenaga kerja dapat diserahkan kepada penebas, mengingat terbatasnya tenaga dan tiadanya lantai jemur yang memadai di tingkat petani. Pengembangan kacang tanah dengan teknologi inovatif dalam jangka pendek perlu diutamakan pada daerah pemasuk industri pengolahan skala besar di Jawa Tengah dan skala menengah di Sumatera Utara. Guna mengendalikan mutu produk perlu sosialisasi standarisasi mutu kepada para pihak terkait sehingga produk olahannya dapat bersaing di pasar internasional.
PEMULIAAN TANAMAN KEDELAI TAHAN KUTU KEBUL (Bemisia tabaci Genn.) Apri Sulistyo
Buletin Palawija No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n28.2014.p65-72

Abstract

Kutu kebulmerupakan hama pengisap daun yang umumnyamenyerang tanaman kedelai (Glycine max Merr.)di musim kemarau. Kehilangan hasil akibatserangan hama ini dapat mencapai 80% bahkangagal panen. Pencegahan dan pengendalian kutukebul dapat dilakukan dengan prinsip PengendalianHama Terpadu (PHT). Salah satu kunci keberhasilannyaadalah penggunaan varietas tahan. DiIndonesia, hanya varietas Tengger yang dideskripsikancukup tahan kutu kebul. Masih sedikitnyavarietas kedelai yang tahan serangan kutu kebulmembuka peluang bagi pemulia tanaman kedelaiuntuk merakit varietas kedelai tahan kutu kebul. Informasi mengenai genotipe-genotipe kedelai yang tahan kutu kebul di Indonesia, memberi peluang lebih besar bagi keberhasilan program pemuliaan kedelai tahan kutu kebul. Keberhasilan perakitan varietas kedelai tahan kutu kebul di Turki dan diketahuinya mekanisme ketahanan serta kriteria seleksinya dapat dijadikan acuan bagi pemulia kedelai di Indonesia. Metode pemuliaan single seeddescent (SSD) dikombinasikan dengan metode bulk dapat digunakan pada pemuliaan kedelai tahan kutu kebul. Jumlah nimfa per daun atau jumlah infestasi kutu kebul per luasan daun dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi.  
Sifat Fisik dan Kimia Ubijalar pada Berbagai Pemupukan N di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan Erliana Ginting; Rahmi Yulifianti; Dian Adi Anggraeni Elisabeth
Buletin Palawija Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v16n1.2018.p36-45

Abstract

Lahan pasang surut di Kalimantan Selatan memiliki potensi untuk usahatani ubi jalar (Ipomoea batatas L.). Namun kondisi lahan yang masam, tingkat kejenuhan Al dan Fe yang tinggi, serta rendahnya kesuburan tanah memerlukan teknologi budidaya yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sifat fisik, kimia, dan sensori ubi jalar yang dibudidayakan di lahan pasang surut tipe C dengan pemupukan N yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala pada bulan Februari hingga Juni 2016 menggunakan rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan.Varietas ubi jalar (Beta 3 dan lokal) digunakan sebagai petak utama dan sumber pupuk N (pupuk kandang 5 t/ha, Phonska 300 kg/ha, KNO3 2.000 L/ha dan kombinasi ketiganya) sebagai anak petak. Untuk ameliorasi digunakan dolomit 1 t/ha. Pengamatan, meliputi sifat fisik, kimia, dan sensori umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Beta 3 (daging umbi oranye) memiliki warna umbi (L*) paling tua pada pemupukan KNO3 dengan kadar beta karoten tertinggi (7.003 µg/100 g bb). Namun sumber pupuk N tidak berpengaruh terhadap intensitas warna umbi varietas lokal (daging umbi putih sembur ungu). Interaksi varietas dan pemupukan N berpengaruh nyata terhadap kadar abu dan pati umbi, sedangkan faktor genetik (varietas) tampak dominan pada kadar air, gula reduksi, dan amilosa. Pemupukan dengan pupuk kandang, Phonska dan KNO3 tidak berpengaruh terhadap kadar nitrat umbi segar, namun kombinasi ketiganya memberikan kadar nitrat yang lebih rendah. Kadar nitrat umbi (2,82-4,69 mg/kg bb) masih dalam batas aman untuk konsumsi. Bentuk, warna kulit dan daging umbi serta warna, rasa, dan tekstur umbi kukus varietas Beta 3 lebih disukai daripada varietas lokal sehingga berpeluang untuk dikembangkan di lahan pasang surut.
Teknologi Produksi Ubi Kayu Mendukung Industri Bioetanol Budi Santoso Radjit; Nasir Saleh; Subandi Subandi; Erliana Ginting
Buletin Palawija No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n16.2008.p27-36

Abstract

Penggunaan sumber energi alternatif yang berasal dari hasil pertanian seperti biodiesel dan bioetanol menjadi isu penting akhir-akhir ini seiring dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) di pasaran dunia dan menipisnya cadangan fosil sebagai bahan baku minyak. Sesuai dengan Peraturan Presiden No.5 tahun 2006, ubi kayu berpotensi dikembangkan sebagai bahan bakar nabati (biofuel) dalam bentuk bioetanol sebagai campuran premium dengan proporsi 10% (Gasohol-E10). Pada tahun 2008, kebutuhan premium untuk transportasi nasional mencapai 19,66 juta KL dan akan terus meningkat dengan laju pertumbuhan 7,07% per tahun. Kondisi tersebut mengindikasikan perlu-nya pengembangan ubi kayu untuk memenuhi permintaan industri bioetanol, dan industri lainnya. Untuk mendukung industri pengolahan bioetanol dari bahan ubi kayu telah tersedia teknologi berupa varietas ubi kayu yang sesuai seperti Adira-4, MLG-6, dan UJ-5, teknologi budidaya yang produktif dan efisien yang mampu menghasilkan umbi 35–45 t/ha serta teknologi pengelolaan waktu tanam dan panen yang menjamin pasokan bahan ubi kayu secara lebih merata sepanjang tahun.

Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue