Articles
302 Documents
Prospek kacang hijau pada musim kemarau di Jawa Tengah
Budhi Santoso Radjit;
Nila P Sari
Buletin Palawija No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n24.2012.p57-68
Mungbean (Vigna radiata) are resistant to drought and the price relatively high and stable compared than other legumes. In Demak district, mungbeans grown in the dry season after rice in heavy soil (Vertisol), without tillage, wihtout weeding and irrigation. The main problem on mungbean cultivation are drought and pest attacks.The intensity of pest attacks can be suppressed by pesticides. While drought can be avoided by planting 3–5 days after the rice harvested. Planting intimely way, the use of early maturity varieties and uniform maturity of pod (Vima 1) accompanied by an intensive pest control in the Tempuran and Megonten village Demak district can provide high yields, ranging from 1.72 to 1.92 t/ ha. The cost of production is needed between Rp 2.926.000 – Rp3.167.000/ha, can provide benefits ranging between Rp 7.669.000 million – Rp 8.594.000/ha and B/C ratio from 2.42 to 2.90. The application of introduction technology using Vima 1 variety that farmers do a positive impact on benefits which reached Rp 12.210.814,- (B/C ratio3,22), so its worth in the region has developed just as in the areas of agroecology Demak. The use of variety Vima 1 for 2 years after the technology display has covering 2000 ha in the Demak district, in order to accelerate the adoption of the technology it need to be disseminated effectively assembled this technology through the display of this technology insome areas that has the same condition. Local Government and relevant agencies should be involvedso that effective dissemination of technology.
STRATEGI OPTIMALISASI PENGENDALIAN PENYAKIT BERCAK DAUN DAN KARAT PADA KACANG TANAH
Nasir Saleh
Buletin Palawija No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n3.2002.p37-47
Kacang tanah merupakan sumber lemak dan protein nabati yang penting bagi sebaian besar penduduk Indonesia. Meskipun demikian komoditas ini belum banyak disentuh oleh program-program pembangunan pertanian yang dilakukan oleh pemerintah sehingga produktivitasnya masih rendahyaitu 1,1 t/ha. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tersebut adalah akibat serangan penyakit karat oleh Puccinia arachidas. Pola perkembangan epidemi, penyakit bercak daun dan karat mengikuti penyakit pola bunga maremuk. Strategi pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan perkembangan epidemi penyakit di lapang adalah dengan cara menekan proporsi tanaman sakit pada saat awal, memperkecil laju inflasi dan mempersingkat waktu terjadinya epidemi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penerapan pengendalian penyakit secara terpadu (PPT) yang meliputi pengaturan pola tanam, rotasi tanam, saat tanam, menanam varietas tahan, sanitasi lingkungan, eradikasi tanaman sakit dan menyemprot fungisida apabila diperlukan. Optimalisasi hasil pengendalian dapat dilakukan melalui pendekatan kelompok-kelompok tani mencakup hamparan-hamparan luas.
Potensi Ekstrak Biji Mimba Sebagai Insektisida Nabati
S. W. Indiati;
Marwoto Marwoto
Buletin Palawija No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n15.2008.p9-14
Resistensi hama terhadap insektisida merupakan fenomena global yang dirasakan oleh semua pemangku kepentingan (Stakeholders) terutama petani baik di negara maju maupun di negara berkembang seperti Indonesia. Mimba, Azadirachta indica merupakan salah satu insektisida nabati yang efektif dan relatif aman terhadap lingkungan. Tanaman mimba mengandung senyawa azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin, dan nimbidin yang dapat mempengaruhi aktivitas biologi serangga hama. Azadirachtin dapat mengganggu pertumbuhan serangga, bertindak sebagai penurun nafsu makan dan pemandul. Salanin bekerja sebagai zat penurun nafsu makan hama dan meliantriol sebagai penghalau hama (repellent). Serbuk biji mimba berpotensi cukup efektif untuk mengendalikan hama kutu kebul (Bemisia tabaci), ulat grayak (Spodoptera litura), dan hama penggerek polong, Maruca testulalis pada tanaman kacang-kacangan.
EFIKASI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Lecanicillium lecanii (Zare & Gams) UNTUK PENGENDALIAN HAMA KEPIK COKLAT PADA KEDELAI
Yusmani Prayogo
Buletin Palawija No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n20.2010.p%p
Kepik coklat (Riptortus linearis) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai yang sangat penting karena mampu menyebabkan kehilangan hasil hingga mencapai 80%. Lebih dari 95% petani kedelai dalam mengendalikan hama tersebut hanya mengandalkan keampuhan dari insektisida kimia. Lecanicillium lecanii merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama kepik coklat. Cendawan ini bersifat kosmopolit sehingga mudah ditemukan di daerah tropis maupun subtropis dan mempunyai inang meliputi; ordo Orthoptera, Hemiptera, Homoptera, Thysanoptera, Hymenoptera, Coleoptera, dan Lepidoptera. Cendawan tumbuh pada suhu 15–30 oC namun suhu optimum terjadi pada suhu 25 oC. Kelebihan cendawan tersebut mampu menginfeksi semua stadia kepik coklat, baik stadia nimfa, imago maupun stadia telur. Efikasi cendawan L. lecanii terhadap kepik coklat nimfa instar I dan II lebih tinggi dibandingkan terhadap imago. Meskipun stadia nimfa dan imago juga dapat terinfeksi oleh cendawan namun mobilitas kedua stadia serangga tersebut cukup tinggi sehingga suspensi konidia cendawan yang diaplikasikan kurang infektif. Aplikasi cendawan L. lecanii pada stadia telur lebih efektif dan mampu menekan perkembangan populasi kepik coklat hingga di bawah ambang kendali karena hama sudah ditekan lebih awal sebelum terjadi peledakan. Stadia telur belum mampu merusak polong kedelai, dan stadia telur tidak dapat dikendalikan menggunakan insektisida kimia. Pengendalian telur kepik coklat menggunakan cendawan L. lecanii dianjurkan pada telur yang baru diletakkan oleh imago (0–1 hari) atau pertama kali R. linearis datang di pertanaman kedelai varietas Wilis yaitu terjadi pada umur 35 hari setelah tanam (HST). Ditinjau dari beberapa efikasi L. lecanii maka cendawan tersebut sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai bioinsektisida dalam program pengelolaan hama terpadu kepik coklat.
PENAMBAHAN SENYAWA KITIN UNTUK PENINGKATAN VIRULENSI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana
Yusmani Prayogo;
Aminudin Afandi2;
Retno Puspitarini2;
Rima Rachmawati3
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p31-43
Beauveria bassiana merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang memiliki kisaran inang cukup luas dan mudah dikembangbiakkan sebagai agens untuk pengendalian berbagai jenis hama.Perbanyakan cendawan entomopatogen di media alami terus menerus menyebabkan penurunan viabilitas sehingga berpengaruh langsung terhadap virulensi cendawan.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari virulensi cendawan B. bassiana yang dikulturkan pada media tumbuh mengandung kitin.Perlakuan adalah jenis kitin yang diperoleh dari seranggaGryllus assimilis, Perna viridis, dan Scylla serrata.Masing-masing serangga sebagai sumber kitin dikeringkan menggunakan sinar matahariselanjutnya digiling hingga berbentuk tepung, setelah itu ditambahkan pada media tumbuh dari agar kentang dektrose.Cendawan B. bassiana dikulturkan pada media tumbuh di dalam cawan Petri berdiameter 9 cm kemudian diamati produksi konidia, viabilitas dan virulensi cendawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kitin dari serangga G. assimilis, P. viridis, dan S. serratatidak mampu meningkatkan produksi konidia,tetapi mampu meningkatkan viabiitas dan virulensi cendawan. Kitin dari seragga P. viridis konsentarsi 0,5% mampu memproduksi konidia terbanyak mencapai 20,5 x 107/ml dibandingkan kitin dari serangga G. assimilis maupun S. serrata. Selain itu, kitin dari P. viridis 0,5% juga mampu menyebabkan mortalitas tertinggi pada Spodoptera litura mencapai 60%.Kitin dalam bentuk tepung yang ditambahkan ke agar kentang dektrose menyebabkan peningkatan kepadatan media tumbuh sehingga memicu pertumbuhan dan perkembangan cendawan B. bassiana lebih lambat dibandingkan kontrol sebab kitin sulit larut dalam air.Oleh karena itu, untuk memperoleh jenis kitin dan konsentrasi yang tepat dalam meningkatkan virulensi cendawan B. bassiana masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
PENGARUH KEKERINGAN PADA BERBAGAI FASE TUMBUH KACANG TANAH
Herdina Pratiwi
Buletin Palawija No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v0n22.2011.p71-78
Di Indonesia kacang tanah umumnya ditanam di lahan kering (64%) dan selebihnya ditanam di lahan sawah irigasi setelah padi (36%). Kondisi tersebut menyebabkan kacang tanah berpeluang besar mengalami kekeringan pada sebagian maupun keseluruhan fase pertumbuhannya. Kekeringan pada fase vegetatif berpengaruh terhadap morfologi batang, daun, dan akar, tetapi tidak berpengaruh terhadap hasil. Kekeringan pada fase pembungaan hingga fase perkembangan biji (R1–R7) menurunkan jumlah bunga, menghambat pembuahan, perkembangan polong, dan biji sehingga menurunkan hasil 70–80%. Fase pertumbuhan R1–R7 merupakan fase kritis tanaman kacang tanah terhadap kekeringan. Penanaman varietas toleran kekeringan dapat mengurangi penurunan hasil. Varietas-varietas yang diketahui toleran kekeringan adalah Singa, Jerapah, Bison, Zebra, Sima, dan Talam 1.
Lalat Kacang, Ophiomyia phaseoli Tryon (Diptera: Agromyzidae) pada Tanaman Kedelai dan Cara Pengendaliannya
Wedanimbi Tengkano
Buletin Palawija No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n5-6.2003.p43-56
Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli Tr.), berstatus hama penting pada tanaman kedelai di Indonesia. Serangan yang berlangsung sejak 4–10 hari setelah tanam (HST) mengakibatkan kematian tanaman, dan serangan setelah 10 HST menyebabkan tanaman kerdil dan polong yang terbentuk hanya sedikit. Lalat kacang tersebar di berbagai negara di dunia termasuk di berbagai daerah di Indonesia, dengan tingkat populasi dan serangan yang tinggi pada musim kemarau. Untuk dapat mengendalikan populasi dan serangan lalat kacang secara tepat, efektif, dan efisien, penelitian berbagai aspek ekobiologi lalat kacang dan cara pengendaliannya telah banyak dilakukan baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Faktor dominan yang menunjang pertumbuhan populasi lalat kacang di alam bebas adalah tersedianya tanaman inang sepanjang tahun secara berlimpah. Di lain pihak, faktor yang berperan dalam menekan populasi lalat kacang adalah musuh alami yaitu parasitoid dan predator. Periode kritis tanaman kedelai terhadap serangan lalat kacang adalah sejak tumbuh sampai tanaman berumur 10 HST. Puncak populasi imago terjadi pada saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST dan terdapat preferensi imago terhadap umur tanaman untuk meletakkan telurnya. Imago lebih menyukai tanaman umur 5 HST sebagai tempat untuk meletakkan telur. Telur diletakkan di permukaan atas kotiledon sebesar 98,16%. Pemantauan populasi imago dapatdilakukan pada pukul 06.00–08.00 saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST, dan pengamatan tanaman terserang dilakukan pada 7 HST atau 8 HST. Cara penentuan tanaman contoh yang akan diamati menggunakan metode diagonal. Keputusan pengendalian didasarkan pada ambang kendali yaitu populasi imago 14ekor/500 tanaman (=1,4 ekor/50 tanaman) pada saat tanaman berumur 5 HST atau 6 HST. Ambang kendali berdasarkan tanaman terserang saat tanaman berumur 7 HST atau 8 HST adalah sebesar 2,5%. Waktu aplikasi insektisida yang tepat adalah pada saat tanaman kedelai berumur 8 HST (= 4 hari setelah tumbuh), pada pukul 06.00–08.00. Berbagai teknologi pengendalian lalat kacang yang secara parsial efektif mengendalikan populasi dan serangan lalat kacang, ternyata di antara berbagai teknologi pengendalian tersebut terdapat perbedaan efektivitas dalam mengendalikan lalat kacang. Selain itu juga terdapat perbedaan efisiensi dalam mempertahankan kapasitas hasil kedelai Wilis. Teknologi pengendalian lalat kacang yang efektif dan efisien adalah cara kimiawi dengan menggunakan insektisida yang bersifat sistemik (monokrotofos), diaplikasikan pada pagi hari saat tanaman berumur 8 HST (= 4 hari setelah tumbuh), dan berdasarkan pemantauan populasi atau tanaman terserang. Usaha untuk mendapatkan varietas kedelai tahan lalat kacang dengan metode seleksi berdasarkan persen kematian tanaman, penting untuk dilanjutkan.
INOVASI REKAYASA TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU KEDELAI
Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n13.2007.p16-28
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) kedelai memiliki makna filosofis sebagai suatu pendekatan dalam budidaya tanaman kedelai yang menekankan pada pengelolaan tanaman, lahan, air, organisme pengganggu tanaman (OPT), sosial ekonomi, dan kelembagaan wilayah secara terpadu. Inovasi rekayasa teknologi PTT kedelai mengandung empat pengertian, yaitu (1) perbaikan, (2) pembaharuan (innovation), (3) kreasi rancangan teknologi, dan (4) pengaturan kombinasi komponen teknologi untuk budidaya tanaman kedelai agar lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dikerjakan dapat dirumuskan teknologi budidaya tanaman kedelai untuk agroekologi sawah irigasi teknis, sawah tadah hujan, lahan kering, lahan rawa lebak maupun lahan rawa pasang surut yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai di masing-masing agroekologi tersebut. Penerapan PTT pada skala yang lebih luas pada daerah-daerah sentra produksi kedelai di lahan sawah dan lahan kering masam akan berhasil meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani kedelai, dan diharapkan pada gilirannya apabila diterapkan pada skala nasional akan mampu meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri. Gairah petani kedelai akan meningkat bilamana didukung kebijakan dan sistem kelembagaan yang kondusif terhadap serapan kedelai produk petani dalam negeri. Alih teknologi sekaligus sosialisasi teknologi di tingkat petani dapat dirancang dan dilaksanakan di setiap agroekologi.
STRATEGI PEMBENTUKAN VARIETAS UNGGUL KEDELAI ADAPTIF LAHAN PASANG SURUT
Heru Kuswantoro
Buletin Palawija No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bul palawija.v0n19.2010.p38-46
Ekstensifikasi ke luar pulau Jawa merupakan salah satu cara dalam usaha peningkatan produksi kedelai di Indonesia, karena masih terdapat banyak lahan yang belum termanfaatkan secara optimal. Salah satu lahan tersebut adalah lahan pasang surut yang mencapai 20,192 juta hektar. Dalam pengembangan kedelai di wilayah ini, diperlukan suatu varietas adaptif lahan pasang surut karena habitat kedelai sebenarnya adalah di lahan yang bebas dari genangan air. Strategi pembentukan kedelai adaptif lahan pasang surut mengacu pada pemecahan masalah utama, yaitu genangan diikuti dengan pemecahan masalah lainnya seperti kemasaman tanah serta defisiensi unsur hara makro dan toksisitas unsur hara mikro. Oleh karena itu lingkungan seleksi memegang peranan utama dalam pembentukan varietas adaptif ini. Selain itu, kriteria seleksi juga sangat penting karena menentukan pemilihan galur-galur adaptif. Metode identifikasi juga penting karena menentukan mekanisme ketahanan yang dimiliki oleh genotipe terpilih, dan dapat dilakukan berdasarkan pada karakter fisiologis, morfologis, dan agronomis. Pada dasarnya arah pengembangan merupakan faktor utama strategi pembentukan varietas adaptif ditetapkan.
Penampilan Galur-galur Kedelai Toleran Naungan di Dua Lingkungan
Sundari, Titik
Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21082/bulpa.v14n2.2016.p63-70
Penelitian bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kedelai toleran naungan yang mampu berproduksi tinggi pada lingkungan naungan maupun tanpa naungan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Kendalpayak, Malang, dengan menguji 146 galur dan 5 varietaspembanding pada lingkungan tanpa naungan dan naungan 50%. Lingkungan naungan diperoleh dari naungan buatan menggunakan paranet hitam. Penempatan perlakuan pada masing-masing lingkungan didasarkanpada rancangan acak kelompok diulang tiga kali. Pada setiap unit percobaan, benih kedelai ditanam dua baris dengan panjang 3 m, jarak tanam 40 cm x 15 cm, dua tanaman per rumpun. Pemupukan dilakukan pada saat tanam dengan Urea 50 kg, SP36 100 kg dan KCl 75 kg/ha. Pengukuran tingkat naungan dilakukan setiap hari dengan pembandingkan antara intensitas di bawah naungan dengan luar naungan. Pengamatan intensitas cahaya dilakukan setiap hari pada pukul 12.00â13.00 WIB menggunakan Lux meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan naungan menyebabkan cekaman kekurangan cahaya, masing-masing galur menunjukkan respons berbeda. Terdapat 48 galur dengan nilai ITCsetara atau lebih tinggi dari nilai ITC varietas Dena 1 (0,89) yang tergolong toleran naungan. Galur-galur terpilih tersebut teridentifikasi sebagai galur yang adaptif pada dua lingkungan (tanpa naungan dan naungan). Bobot biji memberikan kontribusi terbesar terhadap tingginya nilai ITC (r=0,83**). Jumlah polong per tanaman merupakan karakter yang mempunyai kontribusi terbesar terhadap bobot biji (r=0,77**), sedangkan jumlah polong per tanaman ditentukan oleh jumlah buku per tanaman(r=0,54**).