cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
ISU GLOBAL KEAMANAN PANGAN KACANG TANAH II: PROTEIN ARA H SEBAGAI ALERGEN Eriyanto Yusnawan; C.P. Marquis; N.A. Lee
Buletin Palawija No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n25.2013.p11-17

Abstract

Konsumsi kacang tanah dapat menimbulkan alergi dengan gejala ringan hingga berat, bahkan dapat menimbulkan kematian bagi pasien yang hipersensitif. Peristiwa ini umum terjadi di negara-negara barat, sehingga menjadi salah satu isu global keamanan pangan kacang tanah. Konsumsi kacang tanah dalam jumlah yang sedikit, mulai dari 100 µg mampu memicu terjadinya alergi. Hingga saat ini terdapat 13 protein kacang tanah, yaitu Ara h1 hingga Ara h13 yang sudah diidentifikasi dan dikarakterisasi. Mayoritas sumber alergen tersebut termasuk dalam seed storage protein. Di antara ke-13 protein Ara h tersebut, Ara h1, Ara h2 dan Ara h3 dikategorikan sebagai alergen utama karena dapat dikenali oleh > 50% serum IgE pasien. Ara h1 dan Ara h2 bersifat tahan terhadap perlakuan suhu dan enzim pencernaan. Tulisan ini mengulas secara komprehensif isu alergen yang disebabkan oleh protein Ara h dan beberapa pendekatan yang sudah dilakukan untuk mengurangi terjadinya alergi ditinjau dari aspek penurunan kandungan Ara h. Beberapa pendekatan untuk mengeliminasi Ara h pada kacang tanah antara lain pengolahan, rekayasa genetika, pemuliaan konvensional selektif dan perlakuan menggunakan enzim. Kombinasi dari beberapa perlakuan akan memberikan hasil yang lebih baik untuk menurunkan kandungan Ara h.  
Teknologi Penanganan Pascapanen dan Pengolahan Ubikayu Menjadi Produk Antara untuk Mendukung Agroindustri Erliana Ginting
Buletin Palawija No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n4.2002.p67-83

Abstract

Ubikayu setelah dipanen, mudah rusak baik secara fisiologis maupun mikrobiologis sehingga tidak tahan lama disimpan. Hal ini menimbulkan masalah dalam pemasaran dan pemanfaatannya karena dapat menyebabkan penurunan mutu sekaligus kehilangan hasil sampai 25%. Kerugian akibat kehilangan hasil dan jatuhnya harga seringkali dialami petani, terutama pada saat panen raya. Pembuatan gaplek yang umum dilakukan petani untuk pengawetan ubikayu, relatif belum memadai mutunya akibat kurang sempurnanya proses pengolahan. Untuk itu, diperlukan teknik penanganan pasca panen dan pengolahan yang tepat guna menekan kehilangan hasil, memperpanjang daya simpan sekaligus memperluas pemanfaatan ubikayu. Pemanenan ubikayu sebaiknya dilakukan pada saat umur optimal, tergantung varietas dan tujuan penggunaannya. Upaya mempertahankan mutu ubikayu segar dalam skala kecil dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk gergaji basah dan sekam lembab yang terbukti efektif 1-3 bulan penyimpanan. Ubikayu segar juga dapat diolah menjadi produk antara yang relatif lebih awet disimpan, seperti gaplek/chips, pati, tepung dan serbuk ubikayu yang dapat dikendalikan mutunya melalui teknik pengolahan yang tepat dan pemilihan jenis/varietas yang sesuai. Produk antara ini lebih kecil volumenya dan fleksibel untuk digunakan sebagai bahan baku beragam produk pangan dan industri nonpangan. Hal ini akanberdampak pada peningkatan nilai tambah dan permintaan terhadap ubikayu sekaligus memacu usaha agroindustri berbasis ubikayu. Sebagai contoh, pengolahan tepung ubikayu memberi nilai tambah sebesar Rp 189/ kg pada tingkat harga ubi segar Rp 200/kg. Namun, untuk pengembangannya, diperlukan dukungan kebijakan dan strategi yang tepat dengan mempertimbangkan peran aktif petani, pengolah dan konsumen serta promosi dan penyuluhan yang intensif untuk memperbaiki citra produk pangan dari ubikayu.
Inovasi Rekayasa Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n14.2007.p47-59

Abstract

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) kedelai memiliki makna filosofis sebagai suatu pendekatan dalam budidaya tanaman kedelai yang menekankan pada pengelolaan tanaman, lahan, air, organisme pengganggu tanaman (OPT), sosial ekonomi, dan kelembagaan wilayah secara terpadu. Inovasi rekayasa teknologi PTT kedelai mengandung empat pengertian, yaitu (1) perbaikan, (2) pembaharuan (innovation), (3) kreasi rancangan teknologi, dan (4) pengaturan kombinasi komponen teknologi untuk budidaya tanaman kedelai agar lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dikerjakan dapat dirumuskan teknologi budidaya tanaman kedelai untuk agroekologi sawah irigasi teknis, sawah tadah hujan, lahan kering, lahan rawa lebak maupun lahan rawa pasang surut yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai di masing-masing agroekologi tersebut. Penerapan PTT pada skala yang lebih luas pada daerah-daerah sentra produksi kedelai di lahan sawah dan lahan kering masam akan berhasil meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani kedelai, dan diharapkan pada gilirannya apabila diterapkan pada skala nasional akan mampu meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri. Gairah petani kedelai akan meningkat bilamana didukung kebijakan dan sistem kelembagaan yang kondusif terhadap serapan kedelai produk petani dalam negeri. Alih teknologi sekaligus sosialisasi teknologi di tingkat petani dapat dirancang dan dilaksanakan di setiap agroekologi.
DERAAN KEKERINGAN PADA TANAMAN UBIJALAR St. A. Rahayuningsih
Buletin Palawija No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n20.2010.p%p

Abstract

Isu perubahan iklim secara global merupakan salah satu tantangan bagi para ahli di bidang masing-masing yang berkaitan dengan iklim. Bidang pertanian menerima dampak yang banyak meresahkan petani. Kekeringan yang berkepanjangan mengakibatkan turunnya produksi pangan lebih dari 22%, bahkan di Papua penurunan produksi pangan lebih dari 50%. Sejak terjadi bencana kekeringan pada tahun 1997 yang berkelanjutan mengakibatkan, kematian yang tinggi pada pertanaman ubijalar (Ipomoea batatas (L.) Lam). Namun masih terdapat kultivar yang tersisa yang diharapkan merupakan kultivar yang secara genetis toleran terhadap deraan kekeringan. Sebagai reaksi terhadap bencana kekeringan telah dilakukan pengujian ketahanan ubijalar terhadap deraan kekeringan dan hasilnya sangat beragam antarkultivar. Hasil evaluasi ketahanan plasma nutfah ubijalar asal Papua yang telah dilakukan tahun 1998 telah diperoleh 14 kultivar yang toleran terhadap kekeringan dan mampu menghasilkan umbi pada perlakuan kekeringan. Penelitian ketahanan terhadap kekeringan di Balitkabi terus berlanjut hingga sekarang, namun indikator morfologis dan fisiologis belum dapat diketahui secara pasti. Pada kultivar ubijalar tertentu kelayuan tajuk dapat digunakan sebagai indikator peka terhadap kekeringan, pada kultivar lain indikator ketahanan ditunjukkan dengan sifat perakaran. Kandungan prolin kultivar ubijalar yang meningkat pada kondisi terdera kekeringan belum dapat digunakan sebagai indikator toleransinya terhadap deraan kekeringan walaupun pada jenis tanaman tertentu peningkatan kadar prolin dapat digunakan sebagai ketahanan terhadap kekeringan. Pada kultivar ubijalar yang peka terhadap kekeringan produksi umbi dapat turun lebih dari 50–70 % terhadap kondisi normal, sedang kultivar yang toleran penurunan produksi di bawah 20%. Dengan menanam kultivar yang toleran terhadap deraan kekeringan kerugian petani dapat ditekan.
PENGARUH PEMBENAH TANAH DAN INOKULAN RHIZOBIUM PADA KEDELAI DI TANAH MASAM ULTISOL Sri Ayu Dwi Lestari; Arief Harsono
Buletin Palawija Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v15n1.2017.p8-14

Abstract

Upaya peningkatan produksi kedelai untuk mencapai swasembada akan dilakukan pada tanah masam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembenah tanah Bio Soil Neutralizer (BSN) dan Inokulan Rhizobium Elang Biru (IRE) terhadap sifat fisik tanah, perubahan pH tanah, dan hasil kedelai di tanah masam Ultisol. Penelitian pada tanah masam dilaksanakan di rumah kaca Balitkabi menggunakan tanah Ultisol asal Lampung Timur. Penelitian di rumah kaca menggunakan rancangan acak kelompok 3 ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri atas: 1) Kontrol; 2) BSN; 3) BSN + IRE; 4) BSN + IRE + dolomit + pupuk PK; 5) BSN + IRE + dolomit + pupuk PK + pupuk kandang sapi (pukan); 6) Agrisoy-2 + dolomit + pukan + pupuk PK; 7) Dolomit + pukan + NPK; dan 8) IRE + dolomit + pupuk PK. Varietas kedelai yang digunakan adalah Burangrang. Dosis BSN = 3 liter/350 liter air/ha, IRE = 0,3 kg/ha, Pukan = 3 t/ha, Agrisoy-2 = 0,3 kg/ha, N = 25 kg N/ha, P = 50 kg P2O5/ha, dan K = 75 kg K2O/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BSN bersifat alkalis dengan pH 12,8, setelah diencerkan sesuai dengan dosis anjuran (3 liter/350 liter air/ha), pH turun menjadi 6,5. Di tanah Ultisol (percobaan pot) pemberian BSN dapat meningkatkan pH tanah dari 4,3 menjadi 5,5 dan mampu meningkatkan hasil kedelai 45% apabila disertai penggunaan IRE. Perlakuan ini dapat meningkatkan hasil lebih tinggi bila kejenuhan Al diturunkan hingga mencapai sekitar 20% dengan dolomit dan ditambah pupuk P dan K. Penggunaan IRE dapat meningkatkan pembentukan bintil akar efektif kedelai dari 1,5 bintil menjadi 8,5 bintil/tanaman. 
KARAKTERISTIK KEDELAI TOLERAN LAHAN KERING MASAM Heru Kuswantoro; Darman M. Arsyad; Purwantoro .
Buletin Palawija No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n25.2013.p1-10

Abstract

Banyaknya kendala yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti kemasaman tanah, keracunan unsur mikro dan kahat unsur makro mengakibatkan hasil biji di lahan kering masam tidak setinggi di lahan optimal. Oleh karena itu awal dari perakitan kedelai untuk lahan kering masam terutama diarahkan untuk perbaikan hasil biji. Secara genetik perbaikan hasil biji menghadapi kendala berupa rendahnya keragaman genetik dan heritabilitas yang tergolong sedang. Genotipe kedelai toleran lahan kering masam biasanya memiliki ukuran biji yang tergolong kecil. Di lain pihak, petani dan industri berbahan baku kedelai lebih senang menggunakan kedelai berbiji besar daripada kedelai berbiji kecil, sehingga selain perbaikan hasil biji juga diperlukan perbaikan ukuran biji. Kendala yang juga dihadapi dalam perbaikan ukuran biji adalah heritabilitas tergolong sedang, namun keragaman genetiknya tergolong luas. Kemajuan yang dicapai dalam perakitan varietas kedelai toleran lahan kering masam saat ini berpeluang untuk diperolehnya kedelai berdaya hasil tinggi dan berbiji lebih besar daripada varietas yang sudah dilepas
Pengelolaan Kesuburan Lahan Kering Masam Untuk Tanaman Kedelai Andy Wijanarko; Abdullah Taufiq
Buletin Palawija No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n7-8.2004.p39-50

Abstract

Pengembangan kedelai, karena luasan lahan ini hampir 29% dari total luas Indonesia. Kendala utama yang terdapat di lahan ini adalah tingkat kesuburan yang rendah, meliputi pH rendah, bahan organik rendah, kahat P, K, Ca dan Mg serta Al-dd, Fe dan Mn yang tinggi yang berpotensi meracuni tanaman. Peningkatan produktivitas lahan kering masam dapat dilakukan dengan (1) mencukupi kebutuhan hara yang berada pada status kahat dengan cara menambahkan masukan pupuk, (2) mengurangi pengaruh negatif dari sifat fisik dan kimia tanah dengan cara menambahkan bahan amelioran atau agen hayati, (3) mengembangkan varietas yang adaptif pada lingkungan masam, dan (4) kombinasi pendekatan 1, 2 dan 3 tersebut di atas. Secara umum, peningkatan produksi pertanian dapat dicapai melalui dua cara, yaitu: (1) memperluas areal pertanian (ekstensifikasi), dengan membuka daerah-daerah baru dan mengusahakan sebagai daerah pertanian, dan (2) meningkatkan produktivitas lahan (intensifikasi) melalui penerapan teknologi inovatif.
UPAYA PENYEDIAAN VIRUS MURNI UNTUK PEMBUATAN ANTISERUM Soybean Mosaic Virus Wuye Ria Andayanie
Buletin Palawija No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n28.2014.p84-92

Abstract

SMV merupakan salah satu penyebab penyakit mosaik penting pada kedelai (Glycine max L. Merr.) karena dapat mengakibatkan penurunan hasil hingga 57%. Hingga saat ini SMV masih merupakan salah satu kendala bagi peningkatan produksi kedelai. Hingga saat ini, pemuliaan tanaman kedelai lebih diarahkan untuk hasil tinggi, belum ada program pemuliaan untuk ketahanan terhadap penyakit soybean mosaic virus. Pemurnian virus merupakan salah satu langkah penting untuk kajian suatu virus dan pengelolaan penyakit virus tersebut. Virus murni dapat diisolasi dari satu luka lokal (local lesion) pada Chenopodium amaranticolor yang diinokulasi SMV. Tanaman untuk perbanyakan virus (propagative plants) kebanyakan berbeda dengan tanaman inangnya. Pada SMV hanya diperbanyak pada tanaman kedelai. Salah satu faktor untuk keberhasilan pemurnian virus adalah perbanyakan virus pada tanaman inang yang tepat. Metode pemurnian sangat ditentukan oleh karakter virus. Sifat-sifat kimia fisika protein dan asam nukleat yang berbeda antara virus atau strain virus akan menyebabkan metode pemurnian virus sangat bervariasi. Virus murni ini digunakan untuk karakterisasi virus dan pembuatan antiserum. Identifikasi SMV dengan memanfaatkan reaksi antara antigen dan antibodi telah banyak diaplikasikan sebagai alat deteksi keberadaan virus pada tanaman dan evaluasi genotipe sebagai sumber gen dalam program pemuliaan untuk ketahanan terhadap SMV berdaya hasil tinggi.
Prospek Kedelai Hitam Varietas Detam-1 dan Detam-2 M. Muchlish Adie; Suharsono Suharsono; Sudaryono Sudaryono
Buletin Palawija No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n18.2009.p66-72

Abstract

Jawa Timur merupakan provinsi terbesar penghasil kedelai Glycine soya Merr. di Indonesia, karena memiliki luas tanam relatif tinggi sehingga menjadi penyumbang terbesar kebutuhan kedelai nasional. Dengan makin pentingnya posisi kedelai sebagai pangan fungsional, maka varietas kedelai unggul tidak semata-mata berdaya hasil tinggi, namun juga harus memenuhi pra-syarat kedelai sebagai pangan sehat dan menyehatkan, sesuai dengan kebutuhan pengguna serta berdaya saing tinggi.Selama 89 tahun (1918–2007) pemerintah Indonesia baru berhasil melepas lima varietas kedelai hitam dan pada umumnya merupakan hasil seleksi terhadap varietas lokal dan galur introduksi, kecuali Cikuray diperoleh dari seleksi terhadap persilangan antara galur No 630 dan Orba. Varietas kedelai hitam Detam-1 dan Detam-2 dilepas tahun 2008, hasil persilangan antara kedelai introduksi dengan varietas Wilis dan Kawi. Keunggulan Detam-l adalah berdaya hasil 2,51 t/ha, berukuran biji besar (14,84 g/100 biji), dan merupakan kedelai hitam pertama yang berukuran biji besar. Detam-2, berdaya hasil 2,46 t/ha dan menjadi varietas kedelai berkandungan protein paling tinggi di Indonesia (45,58 % berat kering) dan tergolong toleran kekeringan pada fase reproduktif.
Formulasi Bahan Pembawa Pupuk Hayati Pelarut Fosfat untuk Kedelai di Tanah Masam Suryantini Suryantini
Buletin Palawija Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v14n1.2016.p28-35

Abstract

Formula carrier (bahan pembawa) pupuk hayati merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan penggunaan pupuk hayati karena berperan penting dalam menjaga viabilitas dan efektivitas mikroba yang terkandung di dalamnya. Penelitian bertujuan untukmendapatkan satu formula bahan pembawa pupuk hayati bakteri pelarut fosfat yang mampu meningkatkan produktivitas kedelai dan menghemat penggunaan pupuk kimia di lahan masam. Penelitian dilaksanakan di laboratorium, rumah kaca dan lapangan (lahan kering masam Lampung Timur) pada MH 2012. Formula pupuk hayati yang diuji merupakan multi isolat bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas sp.) yang dikombinasi dengan beberapabahan pembawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula dengan viabilitas bakteri dari yang tertinggi berturut-turut, yaitu gambut + dolomit + arang> bokashi + dolomit> bokashi + dolomit + arang> gambut + dolomit> bokashi>gambut. Di lapangan, formula gambut + dolomit + arang memberikan peningkatan hasil kedelai setara dengan perlakuan amelioran dolomit 800 kg/ha dan bila dikombinasi dengan amelioran dolomit pada dosis yang sama maka diperoleh peningkatan hasil 64% (0,39 t/ha) dibanding hasil pada perlakuan tanpa dolomit. Formula tersebut bila dikombinasi dengan pemupukan100 kg SP36/ha memberikan hasil setara dengan pemupukan 200 kg SP36/ha, sedangkan kombinasinya dengan pemupukan 200 kg SP36/ha mampu meningkatkan hasil 163% (0,7 t/ha) dibanding hasil perlakuan kontrol (tanpa pupuk P).

Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue