cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
PENGENDALIAN TERPADU PENYAKIT KUDIS (Sphaceloma batatasSaw.) PADA UBIJALAR Saleh, Nasir; Rahayuningsih, St. A
Buletin Palawija No 25 (2013)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kudis yang disebabkan oleh Sphaceloma batatas merupakan penyakit penting dan banyak menimbulkan kerugian hasil yang cukup besar di negara-negara produsen ubijalar (Ipomoea batatas)di Asia, Australia, negara-negara Caribia, kepulauan Pacific dan Amerika latin. Di Indonesia penyakit kudis telah tersebar di sentra produksi ubijalar di Jawa,Bali, Sumatera dan Papua. Kehilangan hasil ubijalar akibat serangan penyakit kudis dapat mencapai 30%, tergantung varietas, umur tanaman pada saat terinfeksi dan kondisi lingkungan. Umumnya penyakit kudis berkembang  didataran tinggi dan terutama pada musim hujan. Pengendalian terpadu penyakit kudis dapat dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa cara pengendalian yang saling kompatibel dalam satu paket pengendalian yaitu: menanam varietas yang tahan (Muaratakus, Cangkuang, Sewu, Sari, Sukuh, Kidal, Papua Salosa dan Sawentar), menggunakan bibit sehat atau mencelup bibit dalam larutan fungisida  Benomyl atau Mankozeb selama 15 menit, rotasi tanam dengan tanaman yang bukan inang jamur seperti tanaman kacang tanah, kedelai, jagung atau padi, sanitasi lahan dengan memusnahkan bekas tanaman yang terinfeksi dan menyemprot fungisida Benomyl (400 g ba/ha), Chlorotalonil 1300 g ba/ha, Captafol 1520 g ba/ha, fentin hidraxide 300 g ba/ha, tembaga oxiklorida 1500 g ba/ha dan Mankozeb 1500 g ba/ha, atau pestisida nabati (4 g/100 ekstrak bawang merah) apabila diperlukan.
STATUS DAN PROSPEK PENERAPAN ALAT PENGERING DI TINGKAT PENANGKAR BENIH KEDELAI Patriyawaty, N.R.; Tastra, I.K.
Buletin Palawija No 22 (2011)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penangkar benih mempunyai nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan benih kedelai nasional (33.000– 64.000 ton/tahun) guna mendukung sasaran program swasembada kedelai tahun 2014. Upaya pengadaan benih yang dilakukan penangkar benih adalah dengan cara membeli dari petani kooperator yang menjadi kelompok dari penangkar benih kedelai sistem Jabalsim (Jalur benih antar lapang dan musim). Salah satu kendala penangkar benih kedelai yang aktif dalam sistem Jabalsim adalah adanya sebagian panen kedelai (29,9%) jatuh pada musim hujan, sehingga mutu benihnya rendah akibat keterlambatan pengeringan. Saat ini sistem penjualan jasa pengeringan belum berkembang dibandingkan penjualan jasa perontokan, karena harga mesinnya relatif mahal dibandingkan dengan mesin perontok. Untuk itu perlu inovasi pengeringan yang semakin terjangkau penjual alsintan atau penangkar benih kedelai dan petani koperatornya. Dalam kondisi kecilnya akses teknologi pengeringan bagi petani kedelai skala kecil (pemilikan lahan 0,25–0,5 ha), pengeringan kedelai brangkasan tipe rak yang disinergikan dengan ataupun tanpa unit penjualan jasa energi pengering mempunyai prospek diterapkan di tingkat petani koperator penangkar benih hingga kadar air siap rontok (18–20 % bb). Berdasarkan beberapa pilihan alat pengering yang ada saat ini, alat pengering tipe bak model Balitkabi dengan sumber energi gas LPG lebih prospektif diterapkan di tingkat penangkar benih kedelai. Untuk dapat mengeringkan biji/benih kedelai dari petani koperator dari kadar air 18–20 % bb hingga 11% bb mutu benih yang dihasilkan masih memenuhi standar benih sebar (daya tumbuh minimum 70% bb).
STATUS HAMA PENGISAP POLONG PADA KEDELAI, DAERAH PENYEBARANNYA DAN CARA PENGENDALIAN Sari, Kurnia Paramita; ., Suharsono
Buletin Palawija No 22 (2011)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hama polong pada kedelai, Riptortus linearis (Hemiptera: Alydidae) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai . Tanaman inang R. linearis yaitu kacang hijau, buncis, kacang panjang, Tephrosia spp, Acacia pilosa, dadap, Desmodium, Solanaceae, Convolvulaceae, dan Mimosa pigra. R. linearis tersebar di sentra produksi kedelai di Indonesia yaitu pulau Jawa, Lampung, Sumatera dan Kalimantan serta di negara beriklim tropis, antara lain Amerika Utara, India, Brazilia, dan Jepang. Potensi R. linearis sebagai hama perlu diwaspadai karena berstatus sebagai hama penting, yang dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 79%. Kerusakan akibat serangan R. linearis menyebabkan biji kempis, keriput dan terdapat bekas lubang tusukan sehingga biji tidak dapat dikonsumsi. Pengendalian R. Linearis dilakukan dengan teknik budidaya, pengendalian hayati, penggunaan insektisida nabati dan juga penggunaan insektisida kimia secara bijaksana.
KARAKTERISTIK KEDELAI TOLERAN LAHAN KERING MASAM Kuswantoro, Heru; Arsyad, Darman M.; ., Purwantoro
Buletin Palawija No 25 (2013)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya kendala yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti kemasaman tanah, keracunan unsur mikro dan kahat unsur makro mengakibatkan hasil biji di lahan kering masam tidak setinggi di lahan optimal. Oleh karena itu awal dari perakitan kedelai untuk lahan kering masam terutama diarahkan untuk perbaikan hasil biji. Secara genetik perbaikan hasil biji menghadapi kendala berupa rendahnya keragaman genetik dan heritabilitas yang tergolong sedang. Genotipe kedelai toleran lahan kering masam biasanya memiliki ukuran biji yang tergolong kecil. Di lain pihak, petani dan industri berbahan baku kedelai lebih senang menggunakan kedelai berbiji besar daripada kedelai berbiji kecil, sehingga selain perbaikan hasil biji juga diperlukan perbaikan ukuran biji. Kendala yang juga dihadapi dalam perbaikan ukuran biji adalah heritabilitas tergolong sedang, namun keragaman genetiknya tergolong luas. Kemajuan yang dicapai dalam perakitan varietas kedelai toleran lahan kering masam saat ini berpeluang untuk diperolehnya kedelai berdaya hasil tinggi dan berbiji lebih besar daripada varietas yang sudah dilepas
PENGARUH KEKERINGAN PADA BERBAGAI FASE TUMBUH KACANG TANAH Pratiwi, Herdina
Buletin Palawija No 22 (2011)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia kacang tanah umumnya ditanam di lahan kering (64%) dan selebihnya ditanam di lahan sawah irigasi setelah padi (36%). Kondisi tersebut menyebabkan kacang tanah berpeluang besar mengalami kekeringan pada sebagian maupun keseluruhan fase pertumbuhannya. Kekeringan pada fase vegetatif berpengaruh terhadap morfologi batang, daun, dan akar, tetapi tidak berpengaruh terhadap hasil. Kekeringan pada fase pembungaan hingga fase perkembangan biji (R1–R7) menurunkan jumlah bunga, menghambat pembuahan, perkembangan polong, dan biji sehingga menurunkan hasil 70–80%. Fase pertumbuhan R1–R7 merupakan fase kritis tanaman kacang tanah terhadap kekeringan. Penanaman varietas toleran kekeringan dapat mengurangi penurunan hasil. Varietas-varietas yang diketahui toleran kekeringan adalah Singa, Jerapah, Bison, Zebra, Sima, dan Talam 1.
RESPONS TANAMAN KEDELAI TERHADAP LINGKUNGAN TUMBUH Taufiq, Abdullah; Sundari, Titik
Buletin Palawija No 23 (2012)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kedelai (Glycine max L.) dapat memberikan respon positif dan negatif terhadap perubahan lingkungan tumbuh di atas tanah maupun di dalam tanah. Respon tersebut dapat diketahui dari perubahan perubahan fenotipik dan fisiologis tanaman. Lingkungan di atas tanah yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman kedelai terutama adalah lama dan intensitas penyinaran, suhu udara dan kandungan CO2 di atmosfer. Lama penyinaran yang optimal adalah 10-12 jam. Berkurangnya intensitas cahaya matahari menyebabkan tanaman tumbuh lebih tinggi, ruas antar buku lebih panjang, jumlah daun dan jumlah polong lebih sedikit, dan ukuran biji semakin kecil. Respon kedelai terhadap perubahan suhu tergantung pada fase pertumbuhan. Suhu yang sesuai pada fase perkecambahan adalah 15-22oC, fase pembungaan 20-25oC, dan pada fase pemasakan 15-22oC. Peningkatan CO2 atmosfer dari 349 µL menjadi 700 µL meningkatkan laju pertukaran karbon (C), menurunkan laju transpirasi, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Kondisi lingkungan di dalam tanah yang berperan terhadap pertumbuhan kedelai terutama adalah tekstur tanah, kadar air tanah dan unsur hara, unsur-unsur toksik, kemasaman tanah, suhu tanah, dan salinitas. Kedelai tumbuh baik pada tanah bertekstur ringan hingga berat, namun tanah yang padat (BI >1,38 kg/m3) tidak sesuai untuk kedelai. Kebutuhan air tanaman kedelai pada fase generatif lebih tinggi dibandingkan pada fase vegetatif, sehingga pada fase generatif lebih peka terhadap kekeringan terutama pada fase pembungaan hingga pengisian polong. Kandungan air optimal adalah 70-85% dari kapasitas lapangan. Kandungan unsur hara tanah harus di atas batas kekahatan agar tanaman tumbuh optimal. Nilai kritis suatu unsur hara dalam tanah beragam tergantung jenis tanah dan metode analisis yang digunakan. Pengaruh suhu tanah terutama pada fase perkecambahan, dan suhu tanah optimal adalah 24,2-32,8°C. Kedelai agak sensitif terhadap kemasaman tanah, unsur-unsur toksik, dan salinitas. Nilai kritis pH, Al, Mn, dan salinitas berturut-turut adalah pH 5,5, Al-dd 1,33 me/100 g, Mn 3,3 ppm, dan 1,3 dS/m. Rhizobium berperan dalam memasok kebutuhan N tanaman kedelai, namun inokulasi tidak efektif pada tanah yang sering ditanami kedelai.
ULAT JENGKAL PADA KEDELAI DAN CARA PENGENDALIANNYA Inayati, Alfi; ., Marwoto
Buletin Palawija No 22 (2011)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulat jengkal (looper) pada tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) terdiri dari tiga jenis, yaitu Plusia chalcites (Esper) (=Chrysoideixis chalcites), Pseudoplusia includens (Walker), dan Thysanoplusia oricachlea. Pada tanaman kedelai di Indonesia ulat jengkal tergolong hama utama yang memakan daun. Kerusakan daun yang disebabkan oleh ulat jengkal dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai dengan 18%. Pengendalian ulat jengkal harus dilakukan dengan cermat dengan memperhatikan ambang kendali agar tindakan pengendalian yang diambil tepat, hemat secara ekonomi dan aman bagi lingkungan, sesuai dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Komponen PHT ulat jengkal pada kedelai terdiri dari pengaturan pola tanam, penggunaan varietas tahan, pemanfaatan musuh alami dan penggunaan insektisida yang efektif.
PENINGKATAN EFEKTIVITAS Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) DENGAN BEBERAPA BAHAN PEMBAWA UNTUK MENGENDALIKAN HAMA POLONG KEDELAI Helicoverpa armigera ., Bedjo
Buletin Palawija No 23 (2012)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulat perusak polong, Helicoverpa armigera merupakan salah satu hama penting pada tanaman kedelai, dapat menurunkan stabilitas produksi kedelai. Kehilangan hasil akibat serangan hama tersebut dapat mencapai 90%. Sampai saat ini cara pengendalian terhadap hama tersebut masih mengandalkan insektisida kimia. Disamping biayanya lebih mahal, pengendalian secara kimiawi dapat mengganggu populasi parasitoid dan predator. Pemanfaatan NPV untuk pengendalian hama H. armigera di Balitkabi, menunjukkan bahwa NPV mempunyai prospek yang baik untuk mengendalikan H. armigera. Mortalitas ulat akibat terinfeksi HaNPV di laboratorium sangat tinggi bahkan hampir 100%. Di rumah kaca mortalitas mengalami penurunan yang cukup rendah, dan penurunan mortalitas lebih besar terjadi pada saat aplikasi HaNPV di lapangan. Hal ini disebabkan karena HaNPV sangat peka terhadap sinar matahari khususnya sinar ultarviolet. Oleh karena itu diperlukan rekayasa formulasi untuk mengurangi tingkat penurunan mortalitas tersebut dengan suatu bahan pembawa yang diformulasikan dengan HaNPV. Di lapangan formulasi HaNPV dengan konsentrasi 15 x 1011 PIBs/ha dengan bahan pembawa Tween 80 sebanyak 40% dari volume semprot mampu mematikan ulat sampai 70%, dengan penurunan daya bunuh dari rumah kaca ke lapang sebesar 22%. Sedangkan waktu aplikasi yang dilakukan lebih sore dari biasanya mortalitas ulat dapat meningkat mencapai 86%.
EFEKTIVITAS DIFUSI TEKNOLOGI VARIETAS KEDELAI DI TINGKAT PETANI Rozi, F.
Buletin Palawija No 24 (2012)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu inovasi teknologi yang mampumeningkatkan produktivitas kedelai adalah varietasunggul. Sejak tahun 1918 sampai 2009, setidaknyaada 72 varietas kedelai yang telah dilepas dan disebarkankepada petani. Bermacam-macam mekanismedifusi telah diterapkan kepada petani, tetapitingkat keberhasilannya masih rendah, sehinggabanyak teknologi kedelai yang dihasilkan tidak terpakaioleh petani alias mubazir. Dominasi penggunaankedelai varietas Wilis sampai saat ini oleh petanisudah berlangsung selama 28 tahun sejak dilepasvarietas tersebut. Setelah berjalan 10 tahun varietasAnjasmoro dikeluarkan yakni tahun 2001, nampakmulai ada kecenderungan varietas tersebut untukmenggeser varietas Wilis di petani. Melihat perkembangnanproses difusi teknologi kedelai VUB belumberjalan efektif tersebut betapa cukup lama waktuyang dibutuhkan teknologi tersebut sampai digunakanpetani. Suatu keberhasilan difusi teknologi tidakhanya diperoleh dari satu kegiatan diseminasi, tetapidari berbagai kegiatan yang saling mendukung(penelitian, perbenihan, promosi) dan memerlukanwaktu untuk memperolehnya. Perlu perubahan paradigmadiseminasi yang tidak hanya bersifat seremonialseperti kunjungan dalam panen raya, pameran/temu lapang dengan menyebarkan brosur/leaflet,memutar film (video) tetapi disertai informasi cukupdalam akses kehadiran fisik atau penyediaan barang/benih yang nyata di tingkat pengguna (petani)
PROSPEK PEMULIAAN KEDELAI TAHAN HAMA LALAT KACANG (Ophiomyia phaseoli Tryon) DAN BERDAYA HASIL TINGGI Susanto, Gatut Wahyu Anggoro
Buletin Palawija No 23 (2012)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar pertanaman kedelai berada pada musim musim kering (MK), namun justru tingkat serangan hama paling tinggi terjadi pada waktu itu. Salah satu hama penting yang menyerang tanaman kedelai adalah lalat kacang (O phaseoli ). Serangan hama lalat kacang pada tanaman kedelai dapat mengakibatkan kerusakan hingga mencapai 90 %, tergantung tingkat serangannya dan sebagian besar tanaman mengalami kematian. Kedelai yang toleran terhadap lalat kacang diidentifikasi memiliki karakter diameter batang kecil. Varietas unggul tahan hama lalat kacang merupakan cara yang efektif dan efisien untuk dapat menekan serangannya. Untuk merancang varietas kedelai unggul toleran lalat kacang memiliki peluang besar dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber-sumber gen tahan pada tanaman serta memilih metode pemuliaan yang efektif dan efisien.

Page 2 of 31 | Total Record : 302


Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue