cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Perbaikan Perbenihan Guna Mendukung Peningkatan Produksi Ubi Jalar Yudi Widodo; St. A. Rahayuningsih; Nasir Saleh
Buletin Palawija No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n18.2009.p48-57

Abstract

Perbaikan perbenihan guna mendukung peningkaan produksi ubi jalar. Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan dan bahan baku industri. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat sebagai alternatif selain beras, perkembangan industri kimia berbasis ubi jalar, dan berkembangnya industri pakan ternak, kebutuhan ubi jalar dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanaman komoditas tersebut. Teknologi budidaya untuk peningkatan produktivitas maupun lahan untuk pengembangan ubi jalar telah tersedia. Namun masih diperlukan sistem perbenihan yang mampu menjamin tersedianya benih bermutu secara memadai dan berkesinambungan. Sistem perbenihan ubi jalar yang perbanyakannya menggunakan bagian vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk dan secara genetis tidak berbeda dengan induknya perlu diatur tersendiri agak berbeda dengan tanaman yang diperbanyak melalui biji. Hubungan, keterkaitan dan koordinasi antara produsen benih/benih terutama penyedia benih sumber, penangkar benih, distributor/penyalur benih yang selama ini masih dirasa kurang harmonis masih perlu ditingkatkan. Untuk mencapai pertumbuhan industri benihan yang berkelanjutan, diperlukan peran sinergi sektor swasta, institusi riset pemerintah dan institusi yang menangani regulasi serta fasilitasi perbenihan.
Hubungan Antarkomponen Morfologi dengan Karakter Hasil Biji Kedelai Krisnawati, Ayda; Adie, M.Muchlish
Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v14n2.2016.p49-54

Abstract

Hubungan antarkomponen morfologi dengan karakter hasil biji kedelai. Perakitan varietas kedelai berdaya hasil tinggi dapat dilakukan melalui seleksi secara langsung terhadap daya hasil atau tidak langsung melaluibeberapa karakter lain yang terkait dengan daya hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antarkomponen morfologi dengan karakter hasil biji kedelai. Penelitian dilaksanakan di Probolinggo, Jawa Timur, pada MK1 (Februari–Mei) 2014. Bahan penelitian adalah 147 galur kedelai dan tiga varietas pembanding (Argomulyo, Anjasmoro, dan Grobogan). Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah buku per tanaman, jumlah polong isi per tanaman,jumlah polong hampa per tanaman, umur berbunga (lama fase vegetatif), umur masak (lama fase generatif), nisbah fase vegetatif dan generatif (V/G), bobot 100 biji, dan hasil biji. Hasil sidik ragam menunjukkan perbedaan yang nyata antargenotipe untuk karakter umur berbunga, umurmasak, fase generatif, nisbah vegetatif generatif, bobot 100 biji, dan hasil biji. Kajian terhadap tatahubungan antarkarakter agronomi dengan karakter hasil biji menunjukkan hasil biji nyata ditentukan oleh empat karakter,yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah buku, dan jumlah polong. Karakter tinggi tanaman memiliki hubungan positif nyata dengan hasil (r = 0,315**), sedangkan tiga karakter lainya memiliki korelasi negatif nyata, yakni jumlah cabang per tanaman (r = -0,278**), jumlah buku per tanaman (r = -0,168*), dan jumlah polong isi per tanaman (r = -0,162*). Pengaruh langsung tinggi tanaman terhadap hasil biji sebesar 0,312; sepadan dengan nilai koefisien korelasinya dengan hasil sebesar r = 0,315.Dapat disimpulkan bahwa seleksi langsung dengan menggunakan karakter tinggi tanaman dinilai efektif untuk mendapatkan hasil biji tinggi pada kedelai.
PENULARAN VIRUS MOSAIK KEDELAI (SMV) DAN VIRUS KERDIL KEDELAI (SSV) LEWAT BENIH, DAN UPAYA MEMPRODUKSI BENIH KEDELAI BEBAS SMV DAN SSV Nasir Saleh
Buletin Palawija No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n9.2005.p11-20

Abstract

Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman kedelai di Indonesia adalah karena serangan penyakit virus dan penggunaan benih yang kualitasnya tidak terjamin. Di antara lebih dari 10 jenis penyakit virus yang menyerang tanaman kedelai di Indonesia, dua diantaranya yaitu virus mosaik kedelai (Soybean mosaic virus= SMV ) dan virus kerdil kedelai ( Soybean stunt virus =SSV) ditularkanmelalui benih kedelai. Di dalam biji kedelai yang terinfeksi, virus SMV dan SSV terdapat di dalam jaringan kulit biji atau embrio (kotiledon dan lembaga). Penularan SMV and SSV melalui benih kedelai memegang peranan penting dalam penyebarluasan dan perkembangan epidemi penyakit virus di lapang. Untuk mendeteksi SMV dan SSV dalam biji kedelai dapat dilakukan cara sederhana dengan mengamati langsung secara visual, uji ditumbuhkan (growing-on test), uji infektivitas (invectivity test) atau menggunakan teknik serologi (uji presipitasi, uji aglutinasi, immunoelectron microscopy (IEM), enzyme linked immunosorbent assay (ELISA), radio immunosorbent assay (RISA), dan hibridisasi asam nukleat. Benih kedelai yang bebas virus SMV dan SSV dapat diproduksi dengan cara: (1) menghindari sumber infeksi awal, yaitu dengan menggunakan stok benih sehat, menghilangkan tanaman kedelai terinfeksi dan sumber infeksi lain di lapang, (2) mencegah masuk dan tersebarnya virus SMV dan SSV ke pertanaman kedelai dengan isolasi tempat dan waktu, pengendalian vektor, serta (3) menanam varietas tahan atau yang tidak menularkan virus lewat biji
ENDEMIK KEPIK HIJAU PUCAT, Piezodorus hybneri Gmelin (HEMIPTERA: PENTATOMIDAE) DAN PENGENDALIANNYA Marida Santi Yudha Ika Bayu; Wedanimbi Tengkano
Buletin Palawija No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n28.2014.p73-83

Abstract

Kepik hijau pucat, P. hybneri Gmelin (Hemiptera: Pentatomidae) merupakan hama penting pada tanaman kedelai. Hama ini mulai menyerang kedelai sejak tanaman berumur 35 hari setelah tanam (HST). Imago dan nimfa merusak dengan cara menusukkan stiletnya ke kulit polong langsung ke biji untuk mengisap cairan makanan. Akibat serangan yang ditimbulkan tergantung pada fase pertumbuhan polong dan biji waktu terjadi serangan, serta banyak dan letak tusukan pada biji. Tanda kerusakan akibat serangan P. hybneri adalah bintik coklat pada biji atau kulit polong bagian dalam. Serangan pengisap polong ini menyebabkan kualitas dan hasil panen berkurang dan mengakibatkan daya kecambah biji menurun. Peningkatan serangan P. hybneri diduga berkaitan dengan makin luasnya pertanaman kedelai dan tersedianya tanaman inang (pakan) secara terus menerus sepanjang tahun. Upaya pengendalian P. hybneri yang selama ini dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida, kultur teknik, dan penggunaan musuh alami. Pengendalian secara kultur teknik dapat dilakukan dengan tanam serempak, penggunaan varietas tahan, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang, sanitasi selektif terhadap tanaman inang, dan penanaman tanaman perangkap. Selain itu, menggunakan pestisida secara bijaksana agar dapat meningkatkan peran musuh alami seperti laba-laba (Araneidae) dan semut (Formicidae) dalam menekan populasi P. hybneri di pertanaman.
Pengaruh Jarak Tanam Jagung Manis dan Varietas Kedelai terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedua Tanaman dalam Sistem Tanam Tumpangsari Ninuk Herlina; Yarda Aisyah
Buletin Palawija Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v16n1.2018.p9-16

Abstract

Tumpangsari tanaman jagung manis dan kedelai memiliki beberapa keuntungan, yaitu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, mengurangi serangan OPT, menambah kesuburan tanah terutama unsur Nitrogen dan mendapatkan hasil panen dari beragam komoditas. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari pengaruh jarak tanam tanaman jagung manis dan varietas tanaman kedelai terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dan kedelai, serta mengetahui Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) pada sistem tanam tumpangsari. Penelitian dilaksanakan di KP Muneng, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo pada bulan Januari hingga April 2016. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial diulang tiga kali. Faktor ke-1 adalah jarak tanam jagung (80 cm× 20 cm, 100 cm × 20 cm, dan 120 cm × 20 cm), dan faktor ke-2 adalah varietas kedelai (Dena 1, Dena 2 dan Burangrang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari jagung manis dengan kedelai pada jarak tanam jagung yang diuji tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kedua tanaman. Hasil jagung manis tertinggi diperoleh pada jarak tanam 80 cm × 20 cm. Hasil biji kedelai varietas Dena 1, Dena 2 ,dan Burangrang pada sistem tanam tumpangsari dengan jagung manis dengan jarak tanam antar baris jagung 80-120 cm tidak berbeda. Efisiensi penggunaan lahan tertinggi diperoleh pada tumpangsari jagung manis dengan jarak tanam 80 cm × 20 cm dan varietas kedelai Dena 2, tetapi yang mempunyai kelayakan ekonomi tertinggi adalah dengan kedelai varietas Burangrang.
Bioekologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun Pada Kacang Tanah Sumartini Sumartini
Buletin Palawija No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n16.2008.p18-26

Abstract

Penyakit bercak daun merupakan penyakit utama pada kacang tanah di negara-negara penghasil kacang tanah di dunia. Di Indonesia, kehilangan hasil dapat mencapai 50% dan 12–22% masing-masing pada varietas lokal dan varietas unggul. Gejala bercak muncul pada daun-daun bagian bawah dengan bercak kecil berwarna coklat. Bercak yang disebabkan oleh Cercospora arachidicola dicirikan dengan bercak yang berwarna coklat muda dengan cincin kuning di sekitar bercak sedangkan bercak yang disebabkan oleh Phaeoisariopsis personata berwarna coklat gelap hampir hitam tanpa cincin kuning.Perkembangan penyakit bercak daun sangat didukung oleh kelembaban udara yang tinggi 95%, dengan kisaran suhu 12–33 oC. Beberapa varietas kacang tanah yang sampai saat ini tahan adalah varietas Panter dan Domba. Jenis fungisida yang masih dapat dianjurkan untuk pengendalian penyakit bercak daun adalah fungisida dengan bahan aktif tiofanat metil, binomil, bitertanol, mancozeb, atau carbendazim
RESPONS GENOTIPE KACANG TANAH TERHADAP HAMA KUTU KEBUL Astanto Kasno; Suharsono Suharsono; Trustinah Trustinah
Buletin Palawija Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v13n1.2015.p64-73

Abstract

Kutu kebul (Bemisia tabaci Genn.) termasuk salah satu hama penting pada kedelai dan kacang tanah yang dapat menyebabkan kehilangan hasilhingga gagal panen. Potensi hasil dari tiga puluh genotipe kacang tanah diuji di Kebun Percobaan Jambegede dan Muneng dan responsnya terhadapkutu kebul dilakukan di rumah kaca pada musim kemarau II 2014 menggunakan rancangan acak kelompok, diulang tiga kali. Respons genotipe terhadap kutu kebul dinilai menggunakan metode Teuber et al. 2002. Terdapat interaksi antara genotipe dan lingkungan untuk peubah hasil, sehingga seleksi dilakukan di setiap lokasi. Diperoleh 10 genotipeyang terpilih di kedua lokasi dengan potensi hasil di atas 3,5 t/ha. Kacang tanah memberikan respons beragam terhadap kutu kebul dari rentanhingga tahan. Terdapat empat genotipe kacang tanah yaitu: ICGV 87868-21 (G 13), ICGV 87868-21 (G 14), (ICGV 87868-26 (G 7) dan GH 116-26 (G 9) yang terindikasi tahan terhadap hama kutu kebul. Berdasarkan hasil polong, persentase kehilangan hasil, dan skor embun jelaga, 10 genotipe yang terpilih tersebar dalam tiga kelompok, yaitu:(1) tiga genotipe dengan hasil tinggi, kehilangan hasil tinggi, dan rentan kutu kebul, yaitu: Takar 1 (G 1), J/91283-99-C-192-17-12 (G 4), dan G/92088//92088-02-B-2-9-29 (G 25), (2) empat genotipe memilikihasil tinggi, kehilangan hasil tinggi, dan agak tahan kutu kebul, terdiri dari genotipe G/92088//92088-02-B-2-9-14 (G 15), J/91283-99-C-192-17-23 (G20), ICGV 93171-28 (G 24), dan G/92088//92088-02-B-2-8-1-27 (G 28), dan (3) tiga genotipe memiliki hasil tinggi, bersifat toleran dan agak tahan terhadap kutu kebul yaitu genotype GH 116-21 (G2), ICGV 87868-21 (G 13), dan ICGV 91230-24 (G 14). Genotipe terpilih ini disarankan untuk diujimultilokasi.
KERAGAAN POPULASI FAMILI HALFSIB HASIL PERSILANGAN UBIJALAR UNTUK PENGKAYAAN MIKRONUTRIEN Sri Umi Lestari
Buletin Palawija Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v15n2.2017.p78-86

Abstract

Hidden Hunger is a major health problem for the world populations, especially in developing countries. Sweet potato is one of the main staple crops to be enriched with micro nutrient content through biofortification program, to overcome the Hidden Hunger. The study aim was evaluated the offspring performance of the controlled crosses between the parent for the enrichment of micro nutrient content with other high yielding clones. A number of hybrid genotypes (297) scattered in 8 families of half sibs were evaluated by weight of storage root and vines, estimated of storage root and vines yields per hectare, and its micronutrient content (Fe and Zn). Augmented Randomized Block Design with 8 replicate blocks was applied for this trial. In each block is also planted parent clones as control cultivars. The results showed that cultivar test performance on all observed parameters was different to control cultivars, as well as among the cultivars test were also statistically different. This allows obtaining the selection of genotype based on storage root weight/plant and its micronutrient content. Among the 297 genotypes evaluated available of 140 genotypes had storage root yields ≥ 0.5 kg/plant and 6 of them had storage root weight of ≥ 1.5 kg/plant. Based on storage root weight and micro nutrient content selected 6 genotypes with the storage root weight range between 0.598 - 1.631 kg/plant and Fe and Zn content respectively ranged from 95 to 618 mg Fe/kg and 10-12 mg Zn/kg based on dry weight basis.
PENINGKATAN EFEKTIVITAS Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) DENGAN BEBERAPA BAHAN PEMBAWA UNTUK MENGENDALIKAN HAMA POLONG KEDELAI Helicoverpa armigera Bedjo Bedjo
Buletin Palawija No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v0n23.2012.p38-43

Abstract

Ulat perusak polong, Helicoverpa armigera merupakan salah satu hama penting pada tanaman kedelai, dapat menurunkan stabilitas produksi kedelai. Kehilangan hasil akibat serangan hama tersebut dapat mencapai 90%. Sampai saat ini cara pengendalian terhadap hama tersebut masih mengandalkan insektisida kimia. Disamping biayanya lebih mahal, pengendalian secara kimiawi dapat mengganggu populasi parasitoid dan predator. Pemanfaatan NPV untuk pengendalian hama H. armigera di Balitkabi, menunjukkan bahwa NPV mempunyai prospek yang baik untuk mengendalikan H. armigera. Mortalitas ulat akibat terinfeksi HaNPV di laboratorium sangat tinggi bahkan hampir 100%. Di rumah kaca mortalitas mengalami penurunan yang cukup rendah, dan penurunan mortalitas lebih besar terjadi pada saataplikasi HaNPV di lapangan. Hal ini disebabkan karena HaNPV sangat peka terhadap sinar matahari khususnya sinar ultarviolet. Oleh karena itu diperlukan rekayasa formulasi untuk mengurangi tingkat penurunan mortalitas tersebut dengan suatu bahan pembawa yang diformulasikan dengan HaNPV. Di lapangan formulasi HaNPV dengan konsentrasi 15 x 1011 PIBs/ha dengan bahan pembawa Tween 80 sebanyak 40% dari volume semprot mampu mematikan ulat sampai 70%, dengan penurunan daya bunuh dari rumah kaca ke lapang sebesar 22%. Sedangkan waktu aplikasi yang dilakukan lebih sore dari biasanya mortalitas ulat dapat meningkat mencapai 86%.
BERTANAM KEDELAI DI TANAH JENUH AIR: OPSI INOVATIF PENGELOLAAN AIR UNTUK KEDELAI DI LAHAN SAWAH IRIGASI T. Adisarwanto
Buletin Palawija No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bul palawija.v0n1.2001.p24-32

Abstract

Tanaman kedelai masih dominan ditanam di lahan sawah dalam pola tanam padi-padi-kedelai atau padi-kedelai-kedelai. Selama dasawarsa terakhir ini telah dirasakan adanya kondisi iklim khususnya curah uhujan yang tidak menentu dalam arti saat, jumlah dan distribusi dan ditambah dengan adanya angin siklon El Nino basah sehingga tanah sawah mengalami kondisi jenuh . Di lapang menunjukkan bahwa pertanaman kedelai pada awal musim kemarau sering mengalami kondisi jenuh air pada awal pertumbuhan . untuk itu diperlukan upaya agar cekaman jenuh air tersebut tidak banyak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Dari serangkaian penelitian di luar negeri memperlihatkan bahwa budidaya kedelai di tanah jenuh air memberikan peluang untuk meningkatkan produksi kedelai. Di Australia, budidaya tanah jenuh air dapat meningkatkan hasil kedelai sebesar 25%, sedangkan di daerah Thailand bagian tengah teknologi ini telah diterapkan oleh petani pada areal yang cukup luas dan hasil kedelai naik dari 2,0 menjadi 4 t/ha. Dari hasil penelitian di indonesia juga memberikan peluang.cekaman kondisi jenuh air ini pada umumnya terjadi pada fase vegetatif. Hasil penelitian komponen teknologi kedelai pada kondisi tanah jenuh air diperoleh bahwa tinggi permukaan air dalam saluran draenase 15cm dari permukaan tanah tidak menurunkan hasil kedelai,varietas unggul kedelai berbiji kecil(kawi)dan sedang(wilis)lebih toleran,cekaman tanah jenuh air meningkatkan jumlah bintil akar. Lebar bedengan yang optimal adalah < 2,00 m dengan cara tanam 4 baris beranjak 40cm antar baris dan 10cm dalam baris,sedangkan takaran , jenis dan saat pemberian pupuk anorganik belum menunjukkan hasil yang positif walaupun penambahan pupu Urea dapat meningkatkan hasil kedelai jenuh air ditanah oxisol.Bertanam kedelai di tanah jenuh air merupakan salah satu teknologi opsi inovatif untuk meningkatkan hasil kedelai walaupun di tanah kondisi jenuh air .walaupun begitu masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa teknologi ini layak dikembangkan di lahan petani karena masih memerlukan klarifikasi komponen teknologi pada beberapa jenis tanah yang berbeda khususnya di lahan sawah.

Page 9 of 31 | Total Record : 302


Filter by Year

2001 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021 Vol 19, No 1 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 1, 2021 Vol 18, No 2 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 2, 2020 Vol 18, No 1 (2020): Buletin Palawija Vol 18 No 1, 2020 Vol 17, No 2 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 2, 2019 Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019 Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 26 (2013) No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 24 (2012) No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 18 (2009) No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001 More Issue