cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018" : 5 Documents clear
Efisiensi Penggunaan Mulsa Plastik dalam Pengendalian Uret (Lepidiota stigma Fabricius) pada Tanaman Tebu Dwi Adi Sunarto; Subiyakto Subiyakto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.55-63

Abstract

Uret Lepidiota stigma FABRICIUS merupakan hama penting pada tanaman tebu yang ditanam di lahan kering. Penggunaan mulsa plastik adalah teknologi pengendalian uret yang paling efektif untuk daerah endemik. Pengendalian menggunakan mulsa plastik termasuk teknologi yang cukup mahal, sehingga perlu dikaji tingkat efisiensi dalam penerapannya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi penerapan teknologi pengendalian hama uret tebu dengan teknologi mulsa plastik pada tanaman tebu.  Penelitian dilaksanakan di lahan petani di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo pada bulan Nopember 2015–Desember 2016.  Perlakuan disusun menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) tiga perlakuan dengan jumlah ulangan sebanyak delapan kali.  Perlakuan pengendalian uret menggunakan mulsa plastik yang dicoba adalah (1) Penutupan mulsa plastik 100%, (2) Penutupan mulsa plastik 50%, dan (3) Kontrol (tanpa penutupan mulsa plastik.  Pemasangan mulsa plastik dilakukan sehari setelah hujan sebesar > 4 mm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi kumbang tertinggi terjadi pada akhir bulan Nopember – awal Desember 2015, sedangkan populasi larva mencapai puncaknya pada bulan Maret dengan komposisi larva instar ke-3 sebesar 51%.  Penutupan mulsa plastik 100% paling efektif menekan populasi larva dibanding perlakuan penutupan mulsa plastik 50% dan kontrol. Teknologi pengendalian uret pada tanaman tebu dengan menggunakan mulsa plastik yang paling efisien adalah penutupan 100% pada permukaan lahan.  Batas ambang ekonomi sebagai dasar kelayakan penerapan penggunaan mulsa plastik untuk pengendalian uret pada tanaman tebu adalah 27% kerusakan tanaman. Application of Plastic Mulch to Control White Grubs (Lepidiota stigma Fabricius) in Sugar CaneWhite grub Lepidiota stigma FABRICIUS is an important pest in sugar cane planted on dry land. The use of plastic mulch is the most effective white grub control technology for endemic areas. Control using plastic mulch is a fairly expensive technology, so the level of efficiency in its application needs to be assessed. This study aims to evaluate the efficiency of the application of sugar cane pest control technology with plastic mulch technology in sugar cane. The research was carried out on the farmer's land in Banyuputih Subdistrict, Situbondo Regency in November 2015 –December 2016. The treatments were arranged using a randomized block design (RBD) of three treatments with eight replications. The treatment of white grub control using plastic mulch were (1) 100% plastic mulch closure, (2) 50% plastic mulch closure, and (3) Control (without plastic mulch closure). Installation of plastic mulch was carried out one day after rainfall> 4 mm. The results showed that the highest beetle population occurred at the end of November – early December 2015, while the larval population reached its peak in March with the composition of 3 by 51%. Treatment 100% plastic mulch closure was the most effective methode in suppressing larval populations than 50% plastic mulch closure and control. The most efficient plastic mulch technology to control white grub in sugar cane plants was 100% closure the land surface. The basis of the feasibility of applying the use of plastic mulch for white grub control in sugar cane was 27% of crop damage.
Yield Components of Some Sesame Mutant Populations Induced by Gamma Irradiation Vina Eka Aristya; Taryono Taryono; Rani Agustina Wulandari
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.64-71

Abstract

Sesame is an producing seed whose oil is commercially needed. Breeding attempts to improve the productivity of sesame and yield components are induction of gamma ray irradiation mutations (Co-60). This study was aimed to identify effects of induced mutation by gamma rays irradiation in quantitative characteristics and yield of sesame in M4 generation originated from local cultivars. Two types of sesame (black and white) are irradiated with eight doses (100-800 Gy) of Co-60. The result showed a high variation in almost all morphological characters and modified the character of stem height from base to first branch, number of capsules per plant, biomass yield per plant, and seed yield per plant. Sesame irradiated with 600 Gy Co-60 doses has a beneficial effect on the number of capsules (black:120.23; white: 255.23, respectively) and the weight of 1000 seeds (black:3.63 g; white: 4.55 g, respectively). Genotypic Coefficient of Variation in M4 generation were recorded for high value for characters number of primary branches (30.16%), stem height from base to the first branch (30.96%), stem height from base to first capsule (14.82%), number of secondary branches (53.64%), number of nodes to first flower (72.66%), number of capsules/plant (44.90%), biomass yield/plant (28.37%), and seed yield/plant (36.68%). Genetic variability of plant population is very important for plant breeding program and to sustain level of high productivity.Komponen Hasil Beberapa Populasi Mutan Wijen yang Diinduksi oleh Iradiasi GammaWijen adalah tanaman penghasil biji yang minyaknya dibutuhkan secara komersial. Upaya pemuliaan untuk meningkatkan produktivitas wijen dan komponen hasil adalah dengan induksi mutasi iradiasi sinar gamma (Co-60). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh induksi mutasi iradiasi sinar gamma pada karakter kuantitatif dan hasil pada generasi M4 wijen yang berasal dari kultivar lokal. Dua jenis wijen (hitam dan putih) diiradiasi dengan delapan dosis (100-800 Gy) Co-60. Sejumlah pengaruh mutasi wijen berhasil menunjukkan variasi yang tinggi pada hampir semua ciri morfologi dan memodifikasi karakter tinggi batang dari pangkal ke cabang pertama, jumlah kapsul/tanaman, hasil biomassa/tanaman dan hasil biji/tanaman. Wijen yang diiradiasi dengan dosis 600 Gy Co-60 memiliki efek menguntungkan pada jumlah kapsul (hitam:120,23; putih: 255,23) dan berat karakter 1000 biji (hitam:3,63 g; putih: 4,55 g). Koefisien Keragaman Genotipik pada generasi M4 dicatat nilai tertinggi pada karakter jumlah cabang primer (30,16%), tinggi batang dari pangkal ke cabang pertama (30,96%), tinggi batang ke kapsul pertama (14,82%), jumlah cabang sekunder (53,64%), jumlah ruas ke bunga pertama (72,66%), jumlah kapsul/tanaman (44,90%), hasil biomassa/tanaman (28,37%), dan hasil biji/tanaman (36,68%). Keragaman genetik dari populasi tanaman sangat penting untuk program pemuliaan tanaman dan mempertahankan produktivitas yang tinggi.
Teknik Pematahan Dormansi Dua Aksesi Benih Kenaf ( Hibiscus cannabinus L.) Untuk Meningkatkan Daya Berkecambah Benih Taufiq Hidayat RS; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.72-81

Abstract

Kenaf termasuk tanaman semusim yang memiliki struktur benih yang relatif keras dan sangat berpengaruh terhadap viabilitas benih. Viabilitas benih dapat dihambat oleh adanya kemampuan benih untuk menunda perkecambahan, yaitu mempunyai sifat dormansi. Beberapa teknik pematahan dormansi dapat dilakukan untuk membantu perkecambahan benih yang disebabkan oleh kondisi fisik maupun fisiologis benih. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji pengaruh antara teknik pematahan dormansi pada dua aksesi benih terhadap peningkatan daya berkecambah benih kenaf. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2017. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktorial. Faktor pertama adalah aksesi benih yang terdiri dari dua aksesi yaitu ACC 322 dan ACC 1301, sedangkan faktor kedua adalah teknik pematahan dormansi yang terdiri atas 10 perlakuan yaitu perendaman air suhu 90ºC selama 3 menit, perendaman air suhu 90ºC selama 5 menit, perendaman air suhu 27ºC selama 12 jam, perendaman air suhu 27ºC selama 16 jam, pemotongan pada salah satu sisi benih, pemanasan benih dalam oven 80ºC selama 10 menit, pemanasan benih dalam oven 80ºC selama 20 menit, perendaman 98% H2SO4 selama 10 menit, perendaman 98% H2SO4 selama 15 menit dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemotongan pada salah satu sisi benih dapat meningkatkan persentase daya berkecambah hingga >90% dan merupakan teknik pematahan dormansi yang mampu meningkatkan daya berkecambah pada dua aksesi benih kenaf. Techniques of Dormancy Breaking in Two Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Accessions t o Increase Seed Germination ABSTRACTKenaf is a seasonal plant that has a relatively hard seed structure and greatly affects the viability of the seed. The viability of seeds can be inhibited by the ability of seeds to delay germination, which has dormancy character.  Some dormancy breaking techniques can be done to help seed germination caused by physical and physiological conditions of the seed. The purpose of this study is to examine the effect of dormancy breaking techniques on some seed accessions on increasing the germination of kenaf seeds. This study was conducted from March to May 2017. This research method used a factorial completely randomized block design. The first factor was the accession of seeds consisting of two accessions ie ACC 322 and ACC 1301, while the second factor was dormancy breaking technique consisting of 10 treatments ie. soaking in 90ºC water for 3 minutes, in 90ºC water for 5 minutes, soaking in 27ºC water for 12 hours, soaking in water 27ºC for 16 hours, seed cutting, seed heating in oven 80ºC for 10 minutes, seed heating in oven 80ºC for 20 minutes, soaking in 98% H2SO4 for 10 minutes, soaking in 98% H2SO4 for 15 minutes and control. The results showed that the cutting treatment on one side of the seed can increase the percentage of germination power up to >90% and is a dormancy breaking technique that can increase germination on two accessions of kenaf seeds.  
Efektivitas Retting Embun Batang Kenaf oleh Jamur Pelapuk Putih Trametes versicolor (L.) Lloyd Arini Hidayati Jamil; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.82-89

Abstract

Retting embun kenaf menggunakan jamur pada kondisi aerob menjadi alternatif yang murah, mudah, dan lebih ramah lingkungan untuk menggantikan retting basah yang membutuhkan banyak air. Pada beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa spesies jamur pelapuk putih dan Rhizopus sp dapat digunakan untuk membantu proses retting pada tanaman serat batang. Penelitian ini bertujuan mengukur efektivitas retting embun batang kenaf oleh jamur pelapuk putih Trametes versicolor (L.) Lloyd melalui perbandingan efektivitas retting embun oleh Rhizopus spp. dan retting basah, serta pengukuran karakter serat yang dihasilkan. Retting embun dilakukan dengan menginokulasikan biakan jamur pada 500 g batang kenaf berukuran panjang 25 cm yang telah dibasahi dan diinkubasikan selama 4 minggu. Parameter yang diamati meliputi rendemen serat, efektivitas retting, warna, kehalusan, kebersihan, dan kadar selulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara perlakuan retting embun, jamur pelapuk putih menghasilkan rendemen tertinggi (4,77%), efektivitas tertinggi (77,68%), kehalusan serat sedang, dan serat terbersih. Konsorsium jamur T. versicolor dan inokulum jamur tempe hijau kehitaman menghasilkan serat dengan kadar selulosa tertinggi yaitu sebesar 57,97% dengan warna serat paling cerah. Seluruh serat yang dihasilkan mempunyai tingkat dan kisaran warna kekuningan dan kemerahan yang bervariasi. Perlakuan retting embun kenaf dengan inokulasi T. versicolor tanpa konsorsium merupakan perlakuan dengan efektivitas retting terbaik dengan kualitas serat mendekati hasil retting basah. Effectivity of Dew Retting of Kenaf Stem by White Rot Fungus  Trametes versicolor (L.) Lloyd  Aerobic dew retting of kenaf using fungal becomes a cheap alternative, easy and has a less environmental impact to replace water retting method. In several studies that have been carried out, it has been shown that white rot fungus species can be used to assist the retting process of bast fiber plants. This study aimed to measure the effectiveness of dew retting of kenaf stem by white rot fungus Trametes versicolor (L.) Lloyd by comparing it with the effectiveness of dew retting by Rhizopus spp. and wet retting, as well as measuring the character of the fiber produced. Dew retting was conducted by inoculating fungi cultures on moistened 500 g of 25 cm length kenaf stems and incubating them for 4 weeks. Fiber yield, retting efficiency, color, smoothness, cleanliness, and cellulose content were observed. The result shows that white rot fungus T.versicolor produced the highest fiber yield (4.77%), the highest effectivity (77.68%), medium fiber smoothness, and the cleanest fiber among dew retting treatments. Consortium of T. versicolor and blackish green tempeh inoculum produced fiber with the highest cellulose content (57.97%) and the brightest fiber color. All fiber produced has a yellowish and reddish color with varying levels and ranges. Kenaf dew retting treatment with T. versicolorinoculation without a consortium was the most effective dew retting treatment with fibers quality verge to the water retting yield.   
Pemanfaatan Rhizobakteria untuk Mengendalikan Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) pada Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Kristiana Sri Wijayanti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 10, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v10n2.2018.90-99

Abstract

Penyakit puru akar yang disebabkan oleh nematoda Meloidogyne spp merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.). Infeksi yang parah dapat mengakibatkan gagal panen dan memicu terjadinya infeksi oleh patogen lain. Pada kenaf, infeksi nematoda yang parah dapat menimbulkan kematian dan penurunan produktifitas tanaman.  Aplikasi berlebihan bahan kimia dalam pengendalian penyakit puru akar dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengganggu ekosistem, karena residu kimia yang dihasilkan dapat mempengaruhi populasi mikroba lain.  Salah satu metode pengendalian yang dapat diaplikasikan adalah pemanfaatan rhizobakteria yang secara umum banyak terdapat pada rizosfer tanaman kenaf. Rhizobacteria memiliki kemampuan sebagai pengendali hayati. Beberapa mekanisme yang diterjadi dalam aplikasi rhizobakteria adalah mekanisme antagonisme dan ketahanan terimbas. Alternatif pengendalian yang dapat  dilakukan yaitu dengan cara pola tanam polikultur, pemanfaatan tanaman antagonis, teknik biofumigan, penggunaan ekstrak nabati serta aplikasi metabolit sekunder dari mikroba.Teknik pengendalian yang ramah lingkungan sangat perlu dilakukan dalam rangka mewujudkan pertanian berkelanjutan.  Dalam tinjauan ini dibahas peran rhizobakteria dalam pengendalian nematoda Utilization of Rhizobacteria for Controlling Root-Knot Nematodes (Meloidogyne spp.) in Kenaf (Hibiscus cannabinus L.)Root-knot nematode caused by Meloidogyne spp. is one of important diseases in kenaf (Hibiscus cannabinus L.). Severe infection resulting crop loss and causing synergy with other pathogens. In kenaf, severe nemathode infections can cause death and decrease the productivity of the plant. Nematicide applications caused environmental damage.   Negative impact of chemical nematicide can be reduced by using rhizobacteria. Application of nematicidal causing environmental damage and disrupt the ecosystem, effected microbial population and sustainable agriculture.  Environmentally-friendly-control methods are needed to secure of environment, so the negative impact of using mematicides can be suppressed by Rhizobateria.  Some mechanisme of rhizobacteria application are antagonism and resistance induction. Alternative control methodes can be done by polyculture planting system, utilization of antagonistic plant, biofumigan, using vegetable extracts and aplication of secondary metabolites  from microbes.  Environmentally friendly control techniques really need to be done in order to manifest sustainable agriculture. In this review we discuss the role of rhizobacteria to control  nematodes. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5