cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020" : 5 Documents clear
Penyakit Zebra Pada Sisal (Agave spp.): Tantangan Bagi Pengembangan Sisal di Indonesia dan Managemen Pengendaliannya Titiek Yulianti; Kristiana Sri Wijayanti; Untung Setyobudi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.12-21

Abstract

ABSTRAKPenyakit Zebra merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman sisal. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora nicotianae Breda de Haan. Ada tiga fase infeksi jamur ini pada tanaman sisal, yaitu fase bercak daun zebra, busuk batang (bole rot), dan busuk ujung daun (spike rot). Infeksi pada daun akan menurunkan mutu serat, bahkan pada tingkat kejadian yang parah dapat menyebabkan lembaran daun tidak dapat dipanen dan kematian tanaman. Pengembangan tanaman sisal di Indonesia bagian Timur dengan menggunakan varietas introduksi H11648 yang rentan terhadap penyakit ini perlu diwaspadai dan diantisipasi kejadian dan penyebarannya. Makalah ini mengulas tentang penyakit zebra dan manajemen pengendaliannya secara terpadu, mulai dari upaya pemuliaan, pengendalian hayati, penggunaan ekstrak nabati dan fungisida sintetis. Untuk mendukung pengembangan sisal di NTB dan NTT yang baru dimulai, diperlukan penelitian terutama yang berkaitan dengan pengendalian penyakit ini.  Zebra  Zebra Disease of Sisal: Challenge for Sisal Development in Indonesia and Its Control ManagementABSTRACTZebra disease is one of important diseases of Sisal (Agave spp.), which is caused by a fungus Phytophthora nicotianae Breda de Haan. There are three stadia of the disease, ie: zebra leaf spot, bole rot, and spike rot. Infection on lamina would decrease fibre quality, and severe infection would caused yield loss and death of the plant. The development sisal plant using the new variety H11648, which is susceptible to the disease should be anticipated its outbreak and spread. This paper reviews the zebra disease and its integrated control management including breeding program, biological control, the use of botanical and synthetic fungicides. The development program in NTB and NTT should be supported with adequate research program, especially in controlling the disease.
Pemetaan Tipologi Lahan dan Kesesuaian Tipe Kemasakan Varietas Tanaman Tebu di Jatiroto Lumajang; Basuki Basuki
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.34-44

Abstract

Tebu merupakan tanaman industri penting di Indonesia. Produktivitas tanaman tebu menurun dari tahun ke tahun. Fakta menunjukkan bahwa varietas yang ditanam belum disesuaikan dengan tipologi lahan, sehingga diperlukan pemetaan tipologi lahan dan penataan varietas tanaman tebu yang disesuaikan dengan sinergi kesesuaian dengan tipologi wilayah.  Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pemetaan tipologi lahan dan penataan varietas tanaman tebu berdasarkan tipe kemasakan varietas di Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 sampai dengan Januari 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah survei secara eksplorasi lapang dengan 3 tahap kegiatan yaitu pra survei, survei, dan pasca survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Jatiroto terbagi atas 5 tipologi lahan yaitu BPJ (3.153,444 ha), BPL (546,377 ha), RPL (660,550 ha), RHJ (143,094 ha), RHL (1.455,456 ha). Varietas VMC 76-16 dan CMG Agribun, 90% sesuai dengan tipol ogi lahan di Kecamatan Jatiroto, sedangkan varietas Kidang Kencana, PS 881, Cenning, Kentung, PSDK 923, PS 882, PS 865, TLH 1, GMP 1, X 03, PSMLG 1 Agribun, dan NXI 4T membutuhkan lahan yang spesifik di Kecamatan Jatiroto, sehingga  penanaman varietas tersebut untuk memperoleh hasil yang optimal perlu memperhatikan kondisi lahan yang sesuai dengan varietas tersebut. Land Typology Mapping and Suitable Maturity Stage of Sugarcane Varieties in Jatiroto LumajangSugar cane is an important industrial plant in Indonesia. Sugarcane productivity decreases from year to year. The facts show that the planted varieties have not been adapted to the typology of the land, so it is necessary to map the typology of land and the arrangement of sugarcane varieties that are adjusted to the synergy of confirmed typology of the area. The purpose of this study is to map the typology of land and the arrangement of sugarcane varieties according to the type of sugarcane varieties in Jatiroto District, Lumajang Regency, East Java. The study was conducted in November 2019 to January 2020. The research method used was a field survey in exploration with 3 stages pre survey, survey and post survey. The results showed that Jatiroto District was divided into 5 land typologies, namely BPJ (3.153.444 ha), BPL (546.377 ha), RPL (660.550 ha), RHJ (143.094 ha), RHL (1455.456 ha). Sugarcane VMC 76-16 and Agribun CMG varieties have 90% suitability to land typology in Jatiroto District, while Kidang Kencana, PS 881, Cenning, Kentung, PSDK 923, PS 882, PS 865, TLH 1, GMP 1, X 03, PSMLG 1 Agribun, and NXI 4T varieties require specific land in Jatiroto District, so planted these varieties, it is necessary to pay attention to the conditions of the land to obtain optimal production.
Resistensi Galur-galur Tembakau Kasturi Terhadap Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum dan Cucumber Mosaic Virus Cece Suhara; Nurul Hidayah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.22-33

Abstract

Penyakit utama tembakau disebabkan oleh Phytophthora nicotianae vßdH var. nicotianae Waterhouse, Ralstonia solanacearum dan Cucumber Mosaic Virus (CMV).  Sampai saat ini belum diperoleh varietas tembakau kasturi yang tahan terhadap penyakit utama tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketahanan galur-galur unggul tembakau kasturi terhadap penyakit utama. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok diulang tiga kali. Galur yang dievaluasi sebanyak 10 galur dengan kontrol varietas tahan dan rentan sebagai pembanding. Masing-masing unit ditanam 10 tanaman. Benih tumbuh ditanam pada polybag dengan 10 L tanah steril. Inokulum P. nicotianae, R. solanacearum dan CMV diambil dari tanaman sakit yang diperoleh dari lokasi tanaman tembakau di Jember. Isolasi jamur P. nicotianae menggunakan metode baiting pada buah apel dan perbanyakannya menggunakan media CMA.  Inokulasi P. nicotianae melalui akar yang dilukai pada umur 2 minggu setelah pindah tanam di polybag, dengan menuangkan suspensi jamur 10 mL per tanaman (kepadatan spora 106/mL).  Isolasi dan perbanyakan bakteri R. solanacearum pada media buatan CPG (Casein Pepton Glucose) dan inokulasi melalui akar tanaman dengan menuangkan suspensi bakteri sebanyak 10 mL per tanaman (kerapatan bakteri 106cfu/mL).  Pemurnian inokulum CMV secara berantai dan inokulasinya secara mekanis pada umur dua minggu setelah tanam.  Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terdapat 4 galur tahan terhadap P. nicotianae (Dark A, Dark B, Jepon Pote dan Marakot); 8 galur tahan terhadap R. solanacearum (Dark A, Dark B, Penang pendek, Jepon Pote, Marakot, Kasturi 1, Kasturi 2, dan Asal Petani), dan tidak ada galur yang tahan terhadap CMV. Resistance Level of Kasturi Tobacco Lines to Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum, and Cucumber Mosaic VirusABSTRACT The main tobacco diseases are caused by Phytophthora nicotianae vßdH var. nicotianae Waterhouse, Ralstonia solanacearum and Cucumber Mosaic Virus (CMV). There has not been any variety of kasturi tobacco which is resistant to those major diseases. The purpose of this study was to evaluate the resistance level of kasturi tobacco lines to the main tobacco diseases. The study was arranged in a Randomized Group Design with three replicates. Ten lines were evaluated with control of resistant and susceptible varieties as a comparison. Each unit is planted with 10 plants. Growing seeds were planted in polybags with 10 L of sterile soil. Inoculum of P. nicotianae, R. solanacearum and CMV were taken from infected plants obtained from tobacco plant in Jember. Isolation of P. nicotianae using the baiting method on apples and propagation using CMA media. Inoculation of P. nicotianae through injured roots at 2 weeks after transplanting in polybags, by pouring the inoculum suspension of 10 mL per plant (spore density 106/mL). Isolation and propagation of R. solanacearum were on CPG (Casein Pepton Glucose) media and inoculation through plant roots by pouring bacterial suspension as much as 10 mL per plant (bacterial density 106 cfu/mL).  Purification of the CMV inoculum was in chain and mechanical inoculation was done at two weeks after planting. The evaluation results showed that there were 4 lines resistant to P. nicotianae (Dark A, Dark B, Jepon Pote and Marakot); 8 lines are resistant to R. solanacearum (Dark A, Dark B, Short Penang, Jepon Pote, Marakot, Kasturi 1, Kasturi 2, and Farmer Origins), and no lines are resistant to CMV. 
Uji Ketahanan Klon-klon Harapan Tebu terhadap Kekeringan Prima Diarini Riajaya; Djumali Djumali; Bambang Heliyanto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.1-11

Abstract

Pengembangan tebu di lahan kering harus didukung oleh ketersediaan varietas tebu tahan kering dan mempunyai rendemen yang tinggi. Penelitian rumah kaca bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan klon-klon harapan tebu terhadap cekaman kekeringan.  Sebanyak 13 klon-klon harapan tebu masak awal sampai awal tengah dan satu varietas pembanding ditanam di dalam pot mulai Juni sampai Desember 2018 menggunakan benih budchip.  Rancangan perlakuan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan, petak utama terdiri dari tiga perlakuan kekeringan yaitu (A) kadar air tanah tersedia (KAT) dipertahankan suboptimal 40% (kisaran 38-43%) dan (B) KAT dipertahankan 70% (68-73%) dan (C) KAT dipertahankan optimal 100% (95-100%) saat tanaman berumur setelah satu bulan sampai empat bulan setelah tanam (fase pembentukan anakan).  Anak petak teridiri dari 14 klon/varietas pembanding (PS 881).  Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketahanan klon-klon unggul tebu terhadap kekeringan bervariasi dari sangat rentan sampai sangat toleran, yaitu sembilan klon ungggul dengan ketahanan kekeringan yang lebih baik dibanding varietas pembanding (rentan) yaitu MLG 26, MLG 12, MLG 55, dan MLG 11 (moderat), MLG 24 (toleran), MLG 9, MLG 14, MLG 4,  dan MLG 49 (sangat toleran).  Terdapat tiga klon unggul dengan ketahanan yang sama dengan varietas pembanding yaitu MLG 38, MLG 5, dan MLG 52 (rentan), serta satu klon dengan ketahanan tidak lebih baik dibanding varietas pembanding yaitu MLG 56 (sangat rentan).            Drought Resistance Test of Sugarcane Promising ClonesABSTRACT             The development of sugarcane in dry land must be supported by the availability of sugarcane dry-resistant varieties and high yield. A greenhouse research was done to determine the level of resistance of sugarcane clones to drought stress using bud chips planted in plastic pots from June to December 2018. The experiment was arranged in a Split Plot Design with three replicates. The main plots consisted of three moisture availability to provide the available soil water (ASW) content maintained at 40% (range 38-43%), 70% (68- 73%) and 100% (95-100%) at the age 1-4 months after planting. Sub plots consisted of 13 clones and one check variety (PS 881). The results showed the level of drought resistance of sugarcane clones varied from very vulnerable to very tolerant,  nine clones with better drought resistance compared to check variety (susceptible) namely MLG 26, MLG 12, MLG 55, and MLG 11 (moderate), MLG 24 (tolerant), MLG 9, MLG 14, MLG 4, and MLG 49 (very tolerant). There are three clones with the same level of drought resistance with check variety namely MLG 38, MLG 5, and MLG 52 (susceptible), and one clone namely MLG 56 is very susceptible.
Mikropropagasi Pada Tanaman Stevia rebaudiana (Bertoni) Parnidi Parnidi; Aprilia Ridhawati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 12, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v12n1.2020.45-53

Abstract

Stevia merupakan salah satu tanaman penghasil pemanis alami. Mikropropagasi stevia melalui kultur jaringan dapat menyediakan bahan tanaman secara massal dan cepat yang diperlukan untuk pengembangan stevia. Pada mikropopagasi melalui kultur jaringan diperlukan komposisi media yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji komposisi media yang sesuai untuk mikropropagasi  tanaman stevia. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada Februari - Juni 2016. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) setiap perlakuan diulang tiga kali. Induksi tunas stevia menggunakan media dasar Murashige and Skoog (MS) dengan penambahan Benzil Amino Purin (BAP) dengan konsentrasi 0; 0,25; 0,5; 0,75 dan 1 mg/L. Induksi perakaran stevia menggunakan media dasar MS dengan dengan penambahan 1; 1,5; 2 dan 2,5 mg/L IAA, IBA dan NAA dan media MS tanpa penambahan ZPT sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MS + BAP 0,5 mg/L menunjukkan pertumbuhan terbaik dengan rerata jumlah tunas 17,80 dan rerata panjang tunas 3,25 cm. Media perakaran terbaik terdapat pada perlakuan media MS + IAA 1mg/L yang menghasilkan jumlah akar dengan rerata 4,60 dan panjang akar 2,27 cm.ABSTRACTMicropropagation of Stevia rebaudiana (Bertoni)Stevia is one of the plants that produces natural sweeteners. Stevia micropropagation through tissue culture can provide a large of amount and fast plant material needed for stevia plantation. Micropropagation through tissue culture requires a proper media composition. This study aims to examine the composition of media suitable for stevia micropropagation. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Indonesian Sweeteners and Fiber Crops Research Institute in February - June 2016; using a completely randomized design (CRD) with three replicates. The treatment for shoot induction using Murashige and Skoog (MS) basic medium plus Benzyl Amino Purin (BAP) with concentrations: 0; 0.25; 0.5; 0.75 and 1 mg/L.  The treatment for root induction using MS basic medium with the addition of 1; 1,5; 2 and 2,5 mg/L IAA, IBA and NAA and for control using MS basic medium without the addition of plant growth regulators. The results showed that the best growth of stevia shoots with mean of shoots number 17.80 and mean of shoots length 3.25 cm was found in MS basic medium + BAP 0.5 mg/L. The best stevia root growth with mean of root number 4.60 and mean of root length 2.27 cm was found in MS basic medium + IAA 1 mg/L.

Page 1 of 1 | Total Record : 5