cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Forum Penelitian Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164361     EISSN : 25802674     DOI : -
Forum penelitian Agro Ekonomi (FAE) adalah media ilmiah komunikasi penelitian yang berisi review, gagasan, dan konsepsi orisinal bidang sosial ekonomi pertanian, mencakup sumber daya, agribisnis, ketahanan pangan, sosiologi, kelembagaan, perdagangan, dan ekonomi makro.
Arjuna Subject : -
Articles 395 Documents
Dukungan dan Penguatan Peternak dalam Usaha Ternak Kerbau di Provinsi Banten S. Rusdiana; C. Talib; A Anggraini
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v37n2.2019.95-114

Abstract

Banten Province is characterized by local potentials of buffalo farming, e.g. breeding, rearing and fattening. It is promising to develop traditional buffalo farming into commercial one. This paper theoretically describes existing buffalo farming in Banten Province and how to develop it. Buffalo farming in Banten Province is relatively traditional, i.e. secondary business, livestock mainly for savings, small scales, inefficient production cost, and less profitable. Supporting facilities needed for improving the buffalo farming from traditional to commercial business are mutual cooperation among members in the farmers’ group, upgrading farmers’ knowledge on cow breeding, feed, farm business, applied technology, and natural resource use. The farmers require guidance and supervision, financial support, feed and calves assistance, and water supply for the livestock all year around. The government needs to set policy on marketing, e.g. selling price and requirements of bodyweight and health of the livestock. Eventually, the buffalo farmers in this province will be encouraged to conduct more profitable buffalo farming. AbstrakProvinsi Banten memiliki potensi yang cukup banyak untuk pengembangan ternak kerbau, pembibitan, serta pembesaran dan penggemukan dari tradisional menjadi komersial. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara teoritis mengenai potensi kerbau di Provinsi Banten dan pengembangannya. Peternak kerbau di Banten dicirikan dengan usaha sampingan, beternak untuk tabungan, skala pemilikan kecil, biaya produksi tinggi, dan kurang menguntungkan. Faktor pendukung untuk mengarahkan usaha ternak tradisional menjadi komersial adalah penguatan pengetahuan dan kinerja SDM peternak dalam hal kelembagaan, kerja sama antaranggota kelompok, peningkatan pengetahuan terkait bibit, pakan dan bisnis, serta teknologi terapan dan mengoptimalkan pemanfaatan SDA sekitarnya. Untuk kemajuan usaha komersial dibutuhkan pendampingan, dana, bibit ternak, pakan dan air minum untuk ternak sepanjang tahun. Kebijakan pemasaran seperti harga jual ternak bibit dan daging perlu dibuat agar ternak yang masuk dari luar provinsi memenuhi persyaratan ukuran tubuh, bobot, dan kesehatan supaya peternak lokal terpacu untuk menghasilkan ternak yang lebih baik dengan harga jual yang lebih menguntungkan.
OPERASIONALISASI SPEKTRUM DISEMINASI MULTI CHANNEL TEKNOLOGI PERTANIAN UNTUK DISEMINASI YANG EFEKTIF Enti Sirnawati; Muhammad Taufiq Ratule
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Forum penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v38n2.2020.119-135

Abstract

Downstreaming information of Indonesian Agency for Agricultural Research and Technology (IAARD) technology is carried out, among others, through the Multi Channel Dissemination Spectrum (MCDS). The SDMC employs various dissemination channels and actors to accelerate technology dissemination. MCDS discussions at the operating level are limited especially on how it contributes to more technology adoption. Referring to the Agricultural Innovation System, an innovation arises due to support of various subsystems ranging from technology providers, carriers, users, markets, policies, and interactions among subsystems. Likewise, the MCDS should be supported by its subsystems for an effective dissemination. This paper aims to contribute ideas on subsystems requirements in the implementation of the MCDS and how these subsystems can drive the delivered technology information to be adopted by users. The supporting subsystems (planning, approaches in the implementation process, policies, infrastructure) for technology implementation are essential in dissemination activities. As a system, MCDS does not only focus on delivering IAARD’s technology information, but the success of technological innovation must be supported by dissemination planning and its subsystems, technology application ecosystem, and interaction between potential users and technology producers.
The Determinants of Sustainable Agricultural Technology Adoption nFN Ashari; Handewi Purwati Saliem; Mohammad Maulana; Ening Ariningsih; Kartika Sari Septanti
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v38n1.2020.1-11

Abstract

Pertanian memiliki peran penting karena lebih dari 60% populasi dunia bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian. Salah satu faktor penyumbang  besar terhadap pertumbuhan produktivitas pertanian adalah penerapan teknologi baru.  Teknologi baru pertanian diharapkan berperan sebagai jalan penting untuk keluar dari kemiskinan di sebagian besar negara berkembang. Namun, realita menunjukkan tingkat adopsi teknologi pertanian dianggap masih relatif rendah. Makalah ini merupakan scientific review yang merangkum dan menganalisis hasil-hasil penelitian tentang adopsi teknologi pertanian. Tujuan makalah adalah untuk mengamati pengalaman di sejumlah negara terkait adopsi teknologi pertanian dan menentukan faktor-faktor yang memengaruhi adopsi serta keberlanjutan suatu adopsi teknologi. Hasil studi mengungkapkan bahwa keputusan petani untuk mengadopsi teknologi baru bergantung pada interaksi dinamis antara karakteristik teknologi dan kondisi lingkungannya. Beberapa aspek yang memengaruhi adopsi teknologi pertanian antara lain aspek teknologi, ekonomi dan keuangan, sosial dan kelembagaan, serta usaha pertanian dan karakteristik rumah tangga petani. Namun, penentu adopsi teknologi pertanian tidak selalu tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa faktor sehingga untuk memacu adopsi teknologi harus memperhitungkan semua faktor penentunya. Pendekatan yang komprehensif menjadi pilihan terbaik untuk menyebarluaskan teknologi baru pertanian. Pemerintah dapat menjadi fasilitator untuk adopsi teknologi dan memastikan teknologi yang disebarkan bermanfaat bagi petani.
Green Revolution’s Role and Impact: Organic Farming Potential for Indonesian Sustainable Agriculture nFN Ashari; Juwaidah Sharifuddin; Zainal Abidin Mohammed; Nurul Nadia Ramli; Yong Farmata
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v37n2.2019.115-125

Abstract

In 1960s, Indonesia experienced serious rice insufficiency and was one of the largest rice importing countries. The government was encouraged to achieve rice self-sufficiency, i.e. implementing the green revolution (GR) technology through promoting modern agricultural inputs adoption. GR had helped Indonesia to achieve rice self- sufficiency in 1984. However, such technology deals with some problems, e.g. environmental destruction and farmers’ dependence on agrochemical industry.  Many consider organic farming system is the solution to address this issue as its practice offers the best way toward sustainable food production and resources use. Demand for organic rice is expected to increase in the future along with the population and income growth. However, prospect of organic rice farming is still uncertain as its adoption is very low. The main challenge is farmers’ unease on yield reduction. Other crucial problems are lack of technical know-how and government supports as well as increase in costs of land conversion and chemical contaminations from conventional farming. It is necessary to conduct more in-depth studies on the factors influencing farmers’ willingness to adopt organic farming. It will be useful for the government to design appropriate strategies and policies to accelerate organic rice farming adoption. AbstrakPada 1960-an, Indonesia mengalami kekurangan beras dan termasuk salah satu pengimpor beras terbesar di dunia. Pemerintah saat itu memprioritaskan pemenuhan beras dengan target swasembada dengan berbagai upaya, seperti penerapan teknologi revolusi hijau (RH) melalui penggunaan input pertanian modern. RH terbukti membuat Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Namun, teknologi tersebut juga telah menyebabkan dampak negatif, terutama kerusakan lingkungan dan petani sangat bergantung pada industri agro- kimia. Beberapa kalangan menganggap sistem pertanian organik adalah solusi untuk mengatasi masalah ini. Pertanian organik menawarkan cara terbaik untuk produksi pangan dan penggunaan sumber daya secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Permintaan beras organik diperkirakan akan meningkat di masa mendatang seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pendapatan. Adopsi pertanian organik masih sangat lambat. Tantangan utama pertanian padi organik adalah kekhawatiran anjloknya hasil panen ketika melakukan konversi. Permasalahan  lainnya  adalah  kurangnya  pengetahuan  teknis  dan  dukungan  pemerintah,  mahalnya  biaya konversi dan kontaminasi bahan kimia dari pertanian konvensional. Diperlukan penelitian yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi petani untuk mengadopsi pertanian organik. Dengan demikian pemerintah dapat merancang strategi dan kebijakan yang tepat untuk mempercepat adopsi pertanian padi organik.
SMART FARMING 4.0 UNTUK MEWUJUDKAN PERTANIAN INDONESIA MAJU, MANDIRI, DAN MODERN Rika Reviza Rachmawati
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Forum penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v38n2.2020.137-154

Abstract

Smart farming 4.0 based on artificial intelligence is a flagship launched by the Ministry of Agriculture. Smart farming 4.0 encourages the farmers to work more efficient, measurable, and integrated. Through technology, farmers are able to carry out farm practice by relying on mechanization, not on the planting season, from planting to harvesting accurately. Several smart farming technologies such as blockchain for modern off farm agriculture, agri drone sprayer, drone surveillance (drone for land mapping), soil and weather sensors, intelligent irrigation systems, Agriculture War Room (AWR), siscrop (information systems) 1.0 have been implemented in some areas. However, farmers deal with various educational backgrounds, aging farmers phenomenon, and high cost of smart farming technology tools to implement smart farming. This paper aims to analyze the huge opportunities of smart farming by utilizing the potential of millennial farmers as actors and analyzing various government policies to support smart farming 4.0. The Ministry of PDTT has carried out pilot projects to implement smart farming in several locations. The Ministry of Agriculture also needs to play a role by creating a smart farming roadmap. The Government's Strategic Project 2020–2024 through food estate based on farmer corporations may support massive smart farming applications.
THE PERFORMANCE OF THE UPSUS PROGRAM IMPLEMENTATION ON RICE PRODUCTION AND FARMERS’ INCOME Adi Setiyanto
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 39, No 1 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v39n1.2021.27-47

Abstract

Padi merupakan komoditas pangan utama penduduk dan memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2015 dilaksanakan Program Upsus oleh Kementerian Pertanian di 16 provinsi dan diperluas di 33 dari 34 provinsi di Indonesia pada 2016. Program Upsus telah dilaksanakan selama 5 tahun, namun demikian penelitian-penelitian mengenai kinerja pelaksanaan Program Upsus dari aspek peningkatan produksi dan pendapatan petani padi penerima program tidak banyak dilakukan.  Naskah ini bertujuan untuk menganalisis kinerja Program Upsus terhadap pencapaian target peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani padi menggunakan metode analisis deskriptif dan difokuskan pada Provinsi Jawa Barat untuk mendapatkan gambaran implementasi secara nyata di lapangan. Program Upsus telah berhasil mempertahankan luas tanam padi dan mendorong peningkatan luas areal panen padi, tetapi tidak berhasil dalam mendorong pertumbuhan produktivitas dan peningkatan pendapatan petani padi. Dalam implementasi Program Upsus yang akan datang perlu diupayakan (1) mengembangkan perencanaan yang sistematis dan rinci berdasarkan evaluasi yang spesifik, komprehensif, dan terinci guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan Program Upsus, (2) penguatan sistem penyuluhan pertanian dan peningkatan bantuan teknis untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas padi dan beras yang dihasilkan, (3) melakukan perbaikan dan penguatan penyelenggaraan organisasi pelaksanaan Program Upsus mulai dari pusat hingga lokasi kegiatan, (4) menempatkan implementasi strategi pada fokus yang lebih besar untuk peningkatan produktivitas, baik melalui peningkatan penerapan paket teknologi budi daya pada usaha tani padi, maupun penurunan tingkat kehilangan hasil pada saat panen dan penanganan pascapanen, serta saat distribusi dan pemasaran, dan (5) mendorong peningkatan pendapatan petani dari usaha tani padi dan aktivitas penanganan panen dan pascapanen mereka.
KINERJA AGRIBISNIS MANGGA GEDONG GINCU DAN POTENSINYA SEBAGAI PRODUK EKSPOR PERTANIAN UNGGULAN Ening Ariningsih; nFn Ashari; Handewi P. Saliem; Mohamad Maulana; Kartika Sari Septanti
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 39, No 1 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v39n1.2021.49-71

Abstract

Gedong gincu mango is a specific mango variety in West Java Province, which has a high economic value and the prospect of being a superior export commodity of Indonesia. Despite its increasing production and high market prospect, gedong gincu mango agribusiness still faces various problems, both in on-farm and off-farm aspects. This paper aims to study the agribusiness of gedong gincu mango, covering both on-farm and off-farm aspects and export prospects. In general, gedong gincu mango farmers are small-scale farmers who practice traditional cultivation, harvest, and post-harvest management; are not yet market-oriented; practicing conventional marketing that relies on collecting traders, and have weak institutional. These conditions cause low productivity and diverse quality of gedong mango and are not continuously available throughout the year, which hinder the potential for wide-open exports from being appropriately utilized. It needs improvement in both on-farm and off-farm to improve the production and marketing of gedong gincu mango. At the on-farm level, efforts to increase competitiveness can be made by improving fruit production, productivity, quality, and continuity, by applying good agricultural practices. At the off-farm level, this can be done through improving facilities and infrastructures, institutions, and regulations. These efforts should involve all parties, including farmers (producers), marketing agents (collectors, traders, exporters), and policymakers.
KINERJA, KENDALA, DAN STRATEGI PROGRAM KREDIT USAHA RAKYAT SEKTOR PERTANIAN MASA DEPAN Rusli Burhansyah
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 39, No 1 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v39n1.2021.73-87

Abstract

Agricultural funding institutions need capital business. The challenge of the Agriculture Sector Public Credit Program is to increase reach program, institutional regulations, empowerment, and synergy. Some of the problems of the Agriculture Sector Public Program include low absorption rates, schemes, program coverage, assistance, and institutions. Policy recommendations among others; increase people business credit proposals agricultural, provide the people business credit scheme with a base and groups like the farmer's group, involving Agribusiness Micro Finance Institution and cooperatives, extending branch of the bank and the of a companion. Recommendations empowerment and synergies between other; addition and strengthening the role of Independent Smallholder Financing Facilitator, special programs the agricultural sector (people plantation and holder livestock) with the ceiling adjusted to the proposal, joint responsibility, business partner, Independent Smallholder Financing Facilitator in Sector Public Credit Program special enough important. Cooperation with the Field Agriculture Extension necessary for the socialization is at the farmer's group and gapoktan. The technical team's provincial and district role is to performance monitoring Independent Smallholder Financing Facilitator.
Kinerja Ekonomi Karet dan Strategi Pengembangan Hilirisasinya di Indonesia Resty Puspa Perdana
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v37n1.2019.25-39

Abstract

Rubber as an export commodity plays an important role in the national economy. Rubber prices fluctuate and tend to decline leading to lower national as rubber areas converted to other more prospective commodities. Downstream rubber industry enhancement is crucial for improving domestic rubber consumption and price stabilization in Indonesia. Export reduction policy carried out by the government for price stabilization is effective but only in the short term. Therefore, downstream rubber industry development is essential to deal with global rubber price fluctuation. Continuous supply and quality maintenance are crucial. Replanting should be implemented such that yield increases and its quality may compete with that imported. AbstrakKaret sebagai komoditas ekspor memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Harga karet yang fluktuatif dan menurun dapat memengaruhi produksi karet nasional karena alih fungsi lahan perkebunan karet ke komoditas lain yang lebih prospektif. Hal tersebut akan berdampak pada menurunnya devisa negara dan kesejahteraan petani. Pengembangan hilirisasi karet merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan serapan karet dalam negeri guna mengurangi pengaruh fluktuasi harga karet. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya pengembangan hilirisasi karet dalam mencapai kestabilan harga karet di Indonesia. Kebijakan pengurangan ekspor yang dilakukan pemerintah dalam rangka stabilisasi harga karet cukup efektif, namun hanya berpengaruh dalam jangka pendek. Oleh karena itu pengembangan hilirisasi karet diperlukan untuk mengurangi pengaruh fluktuasi harga karet internasional. Pengembangan hilirisasi karet memerlukan dukungan pemerintah dalam berbagai aspek. Untuk menjaga kontinuitas dan kualitas karet untuk bahan baku industri hilir maka upaya peremajaan karet harus dilakukan agar produktivitas karet meningkat serta kualitasnya dapat bersaing dengan karet impor
PERAN DAN TANTANGAN E-COMMERCE SEBAGAI MEDIA AKSELERASI MANAJEMEN RANTAI NILAI PRODUK PERTANIAN Eka Nurjati
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 39, No 2 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi : In Press
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v39n2.2021.115-133

Abstract

E-commerce is growing rapidly along with the increasing use of the internet, particularly in the Covid-19 pandemic. However, the adoption of e-commerce has obstacles, namely the low capability of human resources and infrastructure readiness. This writing aims to identify the roles and challenges of e-commerce agricultural products, review the management aspects of e-commerce agricultural products, and formulate recommendations for e-commerce development in Indonesia. The method is a literature review. E-commerce is a technology that cuts the agricultural value chain. However, it has challenges in implementation, namely no durable, perishable, human resources are not yet compatible, tax regulations, and the quality of the internet. The establishment of e-commerce has a social mission, namely increasing the farmers’ welfare. It aims to overcome the farmer's problems, namely limited access to market and finance. Recommendations for optimizing the value chain by using e-commerce should be carried out through a dimensional approach, namely human resources, natural resources, technology, markets, and finance. The implementation increases the capability of human resources, optimizing the use of natural resources, and developing science and technology.

Filter by Year

1982 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi : In Press Vol 39, No 1 (2021): Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 18, No 1-2 (2000): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1999): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1999): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 16, No 2 (1998): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 16, No 1 (1998): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 15, No 1-2 (1997): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1996): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1996): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1995): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1995): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1994): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1994): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 10, No 2-1 (1993): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1993): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 9, No 2-1 (1992): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1991): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 8, No 1-2 (1990): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1989): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1989): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 6, No 2 (1988): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 6, No 1 (1988): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 5, No 1-2 (1987): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1986): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1984): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 2, No 2 (1983): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1983): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1983): Forum Penelitian Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1982): Forum Penelitian Agro Ekonomi More Issue