cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2020)" : 54 Documents clear
ANALISA KERUNTUHAN BENDUNGAN DAWUHAN MADIUN DENGAN PROGRAM ZHONG XING HY21 Rachmanda, Valdi Cahya; Juwono, Pitojo Tri; Suprijanto, Heri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan Dawuhan yang terdapat di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, merupakan bendungan yang dibangun pada tahun 1958 – 1962. Setiap bendungan memiliki potensi keruntuhan, begitu juga dengan Bendungan Dawuhan. Keruntuhan Bendungan Dawuhan dapat disebabkan karena overtopping dan piping. Berdasarkan hasil dari aplikasi Zhong Xing HY21, dampak keruntuhan Bendungan Dawuhan yang paling parah disebabkan karena overtopping. Simulasi keruntuhan Bendungan Dawuhan akibat  overtopping dilakukan dengan menggunakan QInflow banjir desain PMF sebesar 486,018 m³/det dan menghasikan luas genangan sebesar 12,768 km2 dengan tinggi genangan maksimum 2,89 m. Terdapat 16 desa yang terdampak akibat keruntuhan Bendungan Dawuhan dengan jumlah penduduk terkena risiko sebanyak 12.724 jiwa. Banjir yang dihasilkan menyebabkan genangan terjauh 9,41 km dari lokasi bendungan yaitu, pada skenario piping atas dan piping tengah. Dawuhan Dam located in Madiun Regency, East Java, is a dam that was built in 1958 – 1962. Each dam has the potential to collapse, as well as the Dawuhan Dam. Dawuhan Dam break can be caused by overtopping and piping. Based on the results of the application Zhong Xing HY21, the impact of the Dawuhan Dam break is themost severe due to overtopping. Dawuhan Dam break simulation due to overtopping was carried out using the PMF flood design QInflow of 486,018 m3/sec and produced the inundation area of 12,768 km2 with the maximum height inundation of 2,89 m. There were 16 villages affected by the collapse of the Dawuhan Dam with 12.724 people at risk. Floods caused inundation farthest 9,41 km from the location of the dam that is, scenario top piping and middle piping.
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH CAIR TAMBANG BATUBARA DENGAN TEKNOLOGI SETTLING POND PT. BAHARI CAKRAWALA SEBUKU DI KABUPATEN KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Awfiyaa, Husna Nadhira; Haribowo, Riyanto; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air limbah tambang batubara di inlet dan outlet lokasi lubang tambang dan stockpile PT. BCS serta mengevaluasi kondisi dimensi eksisting settling pond. Penelitian menggunakan metode survei dengan mengumpulkan data primer dan sekunder.  Baku mutu air limbah batubara dinilai berdasarkan Pergub Kalsel No.36 Tahun 2008. Kualitas air limbah pada outlet settling pond lubang tambang untuk parameter TSS, Fe, Mn, Cd dan pH secara berurutan adalah 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l dan 2,76 sedangkan pada outlet settling pond stockpile adalah 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l dan 6,11. Hasil perhitungan waktu pengendapan pada kondisi eksisting settling pond lubang tambang adalah 13 menit dan waktu tinggal untuk kolam 1-5 adalah 8,2 menit; 8,6 menit; 12,4 menit; 11,7 menit dan 24,2 menit. Sedangkan pada kondisi eksisting settling pond stockpile waktu pengendapan adalah 3,3 menit dan waktu tinggal kolam 1-3 adalah 6 menit; 11,9 menit dan 8,7 menit. Hasil perhitungan perluasan settling pond lubang tambang hingga tahun 2028 menjadi (2 m x 47 m x 70 m) untuk kolam 1-5 sehingga waktu pengendapannya menjadi 13,4 menit dengan waktu tinggalnya menjadi 1,1 jam. Dosis kapur yang dibutuhkan untuk settling pond lubang tambang adalah 0,038 kg/m3.This study aimed to determine the quality of coal mine wastewater in the inlet and outlet locations of the mining pit and stockpile of PT. BCS and evaluate the dimensions of the existing settling pond. The study used survey methods by collecting primary and secondary data. Coal mine wastewater quality standard was assessed based on the Regulation of the Governor of South Kalimantan No.36 Year 2008. The quality of wastewater at the outlet of mine pit settling pond for TSS, Fe, Mn, Cd and pH parameters respectively was 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l and 2,76 while at the outlet of stockpile settling pond is 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l and 6,11. The results of the calculation of settling time in the existing condition of the mine pit settling pond are 13 minutes and the retention time for ponds 1 to 5 is 8,2 minutes; 8,6 minutes; 12,4 minutes; 11,7 minutes and 24,2 minutes. Whereas in the existing condition of stockpile settling pond the settling time is 3,3 minutes and the retention time for ponds 1 to 3 is 6 minutes; 11,9 minutes and 8,7 minutes. The results of the calculation of the expansion of mine pit settling pond until 2028 is (2 m x 47 m x 70 m) for ponds 1 to 5 so that the settling time is 13,4 minutes with the retention time is 1,1 hours. The dosage of lime needed for mine pit settling pond is 0,038 kg/m3.
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH CAIR TAMBANG BATUBARA DENGAN TEKNOLOGI SETTLING POND PT. BAHARI CAKRAWALA SEBUKU DI KABUPATEN KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Awfiyaa, Husna Nadhira; Haribowo, Riyanto; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air limbah tambang batubara di inlet dan outlet lokasi lubang tambang dan stockpile PT. BCS serta mengevaluasi kondisi dimensi eksisting settling pond. Penelitian menggunakan metode survei dengan mengumpulkan data primer dan sekunder.  Baku mutu air limbah batubara dinilai berdasarkan Pergub Kalsel No.36 Tahun 2008. Kualitas air limbah pada outlet settling pond lubang tambang untuk parameter TSS, Fe, Mn, Cd dan pH secara berurutan adalah 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l dan 2,76 sedangkan pada outlet settling pond stockpile adalah 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l dan 6,11. Hasil perhitungan waktu pengendapan pada kondisi eksisting settling pond lubang tambang adalah 13 menit dan waktu tinggal untuk kolam 1-5 adalah 8,2 menit; 8,6 menit; 12,4 menit; 11,7 menit dan 24,2 menit. Sedangkan pada kondisi eksisting settling pond stockpile waktu pengendapan adalah 3,3 menit dan waktu tinggal kolam 1-3 adalah 6 menit; 11,9 menit dan 8,7 menit. Hasil perhitungan perluasan settling pond lubang tambang hingga tahun 2028 menjadi (2 m x 47 m x 70 m) untuk kolam 1-5 sehingga waktu pengendapannya menjadi 13,4 menit dengan waktu tinggalnya menjadi 1,1 jam. Dosis kapur yang dibutuhkan untuk settling pond lubang tambang adalah 0,038 kg/m3.This study aimed to determine the quality of coal mine wastewater in the inlet and outlet locations of the mining pit and stockpile of PT. BCS and evaluate the dimensions of the existing settling pond. The study used survey methods by collecting primary and secondary data. Coal mine wastewater quality standard was assessed based on the Regulation of the Governor of South Kalimantan No.36 Year 2008. The quality of wastewater at the outlet of mine pit settling pond for TSS, Fe, Mn, Cd and pH parameters respectively was 14 mg/l; 0,238 mg/l; 2,960 mg/l; 0,005 mg/l and 2,76 while at the outlet of stockpile settling pond is 11 mg/l; 0,112 mg/l; 1,220 mg/l; 0,004 mg/l and 6,11. The results of the calculation of settling time in the existing condition of the mine pit settling pond are 13 minutes and the retention time for ponds 1 to 5 is 8,2 minutes; 8,6 minutes; 12,4 minutes; 11,7 minutes and 24,2 minutes. Whereas in the existing condition of stockpile settling pond the settling time is 3,3 minutes and the retention time for ponds 1 to 3 is 6 minutes; 11,9 minutes and 8,7 minutes. The results of the calculation of the expansion of mine pit settling pond until 2028 is (2 m x 47 m x 70 m) for ponds 1 to 5 so that the settling time is 13,4 minutes with the retention time is 1,1 hours. The dosage of lime needed for mine pit settling pond is 0,038 kg/m3.
PENERAPAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN EFFECTIVE DROUGHT INDEX (EDI) UNTUK MENGESTIMASI KEKERINGAN DI DAS REJOSO KABUPATEN PASURUAN Khairani, Dwi; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat 19 desa di 5 (lima) kecamatan yang termasuk daerah rawan kekeringan di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2018. Perlu adanya pemetaan sebaran kekeringan guna mengetahui wilayah mana saja yang menjadi prioritas dalam penanganan mitigasi dan adaptasi bencana kekeringan untuk instansi terkait. Kekeringan dianalisis dengan indeks kekeringan meteorologi metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan Effective Drought Index (EDI). Hasil indeks kekeringan meteorologi dibandingkan dengan indeks kekeringan hidrologi utuk mengatahui hubungan kesesuaian terkuat di antara indeks SPI dan EDI. Kejadian kering terparah menggunakan metode SPI terjadi sebanyak 141 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan April. Kejadian kering terparah menggunakan metode EDI terjadi sebanyak 237 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan Februari.  Setelah dilakukan analisis hubungan kesesuaian indeks SPI dan EDI terhadap indeks kekeringan hidrologi, ditemukan korelasi negatif dan persentase kesesuaian bersifat lemah. Kemudian, diambil opsi membandingkan indeks SPI dan EDI terhadap data curah hujan bulanan. Indeks EDI memiliki hubungan terkuat terhadap data curah hujannya, yaitu sebesar 65,69%. Hasil sebaran kekeringan di DAS Rejoso Kabupaten Pasuruan menggunakan metode interpolasi spasial IDW dengan kategori Amat Sangat Kering terjadi di 30 desa.There are 19 villages in 5 (five) sub districts that are classified as drought prone areas at Pasuruan Regency in 2018. A drought mapping is needed to understand which areas are priority in handling drought mitigation and adaptation for related institution. Drought is analyzed by the meteorological drought index methods which are Standardized Precipitation Index (SPI) and Effective Drought Index (EDI). The results of the meteorological drought indexes are compared with the hydrological drought indexes to find out the strongest correspondence relationship between the SPI and EDI. A total of 141 cases of worst drought using SPI were occurred and the worst drought cases were happened in January and April. A total of 237 cases of worst drought using EDI were occurred and the worst drought cases were happened in January and Februari. After analyzing the relationship between the suitability of the SPI index and EDI to the hydrological drought indexes, it was found a negative correlation and the percentage of suitability was weak. And then, it is needed to take another option for comparing the SPI and EDI by using monthly rainfall data. The EDI index has the strongest correspondence relationship with rainfall data which is 65.69%. The result of the spatial drought distribution in the Rejoso Watershed Pasuruan Regency using IDW interpolation method with Extremly Dry category is occurred in 30 villages.
PENERAPAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN EFFECTIVE DROUGHT INDEX (EDI) UNTUK MENGESTIMASI KEKERINGAN DI DAS REJOSO KABUPATEN PASURUAN Khairani, Dwi; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat 19 desa di 5 (lima) kecamatan yang termasuk daerah rawan kekeringan di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2018. Perlu adanya pemetaan sebaran kekeringan guna mengetahui wilayah mana saja yang menjadi prioritas dalam penanganan mitigasi dan adaptasi bencana kekeringan untuk instansi terkait. Kekeringan dianalisis dengan indeks kekeringan meteorologi metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan Effective Drought Index (EDI). Hasil indeks kekeringan meteorologi dibandingkan dengan indeks kekeringan hidrologi utuk mengatahui hubungan kesesuaian terkuat di antara indeks SPI dan EDI. Kejadian kering terparah menggunakan metode SPI terjadi sebanyak 141 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan April. Kejadian kering terparah menggunakan metode EDI terjadi sebanyak 237 kejadian dan bulan terjadinya kekeringan terparah adalah bulan Januari dan Februari.  Setelah dilakukan analisis hubungan kesesuaian indeks SPI dan EDI terhadap indeks kekeringan hidrologi, ditemukan korelasi negatif dan persentase kesesuaian bersifat lemah. Kemudian, diambil opsi membandingkan indeks SPI dan EDI terhadap data curah hujan bulanan. Indeks EDI memiliki hubungan terkuat terhadap data curah hujannya, yaitu sebesar 65,69%. Hasil sebaran kekeringan di DAS Rejoso Kabupaten Pasuruan menggunakan metode interpolasi spasial IDW dengan kategori Amat Sangat Kering terjadi di 30 desa.There are 19 villages in 5 (five) sub districts that are classified as drought prone areas at Pasuruan Regency in 2018. A drought mapping is needed to understand which areas are priority in handling drought mitigation and adaptation for related institution. Drought is analyzed by the meteorological drought index methods which are Standardized Precipitation Index (SPI) and Effective Drought Index (EDI). The results of the meteorological drought indexes are compared with the hydrological drought indexes to find out the strongest correspondence relationship between the SPI and EDI. A total of 141 cases of worst drought using SPI were occurred and the worst drought cases were happened in January and April. A total of 237 cases of worst drought using EDI were occurred and the worst drought cases were happened in January and Februari. After analyzing the relationship between the suitability of the SPI index and EDI to the hydrological drought indexes, it was found a negative correlation and the percentage of suitability was weak. And then, it is needed to take another option for comparing the SPI and EDI by using monthly rainfall data. The EDI index has the strongest correspondence relationship with rainfall data which is 65.69%. The result of the spatial drought distribution in the Rejoso Watershed Pasuruan Regency using IDW interpolation method with Extremly Dry category is occurred in 30 villages.
ANALISA KEKERINGAN METEOROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN EFFECTIVE DROUGHT INDEX (EDI) DI DAS NGROWO Herdita, Chintya Ayu Permata; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekeringan sering terjadi di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek. Analisis kekeringan dilakukan guna mengetahui tingkat kekeringan serta sebarannya. Metode yang digunakan adalah Standardized Precipitation Index (SPI) dan Effective Drought Index (EDI). Kemudian indeks kekeringan dibandingkan dengan dengan fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation) menggunakan pola data Indeks Osilasi Selatan (SOI). Hasil perhitungan kekeringan yang paling sesuai dengan pola data SOI kemudian dibuat peta sebaran kekeringan menggunakan interpolasi Kriging dengan Program ArcGIS 10.5. Metode SPI menghasilkan indeks kekeringan terparah pada tahun 2000 periode defisit 3 bulanan sebesar (-5.14). Metode EDI menghasilkan indeks kekeringan terparah pada tahun 2001 periode defisit 12 bulanan sebesar (-2.91). Analisis kesesuaian menunjukkan pola pembacaan kekeringan metode EDI lebih menunjukkan kemiripan secara visual grafik surplus dan defisit terhadap nilai SOI. Secara kuantitatif nilai persen kesesuaian serta nilai korelasi dan determinasi EDI juga memberikan nilai yang lebih besar terhadap kejadian ENSO dibandingkan metode SPI. Peta sebaran kekeringan digambarkan bedasarkan trend tahun-tahun kejadian kekeringan terparah. Hasil interpolasi pada peta menunjukkan kesesuaian hasil analisa dengan wilayah desa yang sering terdampak kekeringan di DAS Ngrowo.Drought is a condition that is common in Tulungagung and Trenggalek regency. Drought analysis is performed in order to have information about level of drought and its distribution. Drought analysis method will be used are Standardized Precipitation Index (SPI) and Effective Drought Index (EDI). Then the drought index compared to the ENSO (El Nino Southern Oscillation) phenomenon using the South Oscillation Index (SOI) data pattern. The results of the drought calculations are most in line with the SOI data pattern will be drawn on the drought distribution map using Kriging interpolation with the ArcGIS 10.5 Program. The SPI method produced the most severe drought in 2000 on a 3 month deficit period (-5.14). The EDI method produced the most severe drought in 2001 on a 12 month deficit period (-2.91). Conformity analysis shows the drought pattern of the EDI method is better at showing a visual similarity of the surplus and deficit graphs to the SOI value. Quantitatively based on the value of percent suitability and the value of correlation and determination of EDI also gives a greater value to the ENSO event than the SPI method. The drought distribution map is drawn based on the trend of the worst drought years. The interpolation results on the map show the suitability of the analysis results with the village areas that are often affected by drought in the Ngrowo watershed.
ANALISA KEKERINGAN METEOROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN EFFECTIVE DROUGHT INDEX (EDI) DI DAS NGROWO Herdita, Chintya Ayu Permata; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekeringan sering terjadi di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek. Analisis kekeringan dilakukan guna mengetahui tingkat kekeringan serta sebarannya. Metode yang digunakan adalah Standardized Precipitation Index (SPI) dan Effective Drought Index (EDI). Kemudian indeks kekeringan dibandingkan dengan dengan fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation) menggunakan pola data Indeks Osilasi Selatan (SOI). Hasil perhitungan kekeringan yang paling sesuai dengan pola data SOI kemudian dibuat peta sebaran kekeringan menggunakan interpolasi Kriging dengan Program ArcGIS 10.5. Metode SPI menghasilkan indeks kekeringan terparah pada tahun 2000 periode defisit 3 bulanan sebesar (-5.14). Metode EDI menghasilkan indeks kekeringan terparah pada tahun 2001 periode defisit 12 bulanan sebesar (-2.91). Analisis kesesuaian menunjukkan pola pembacaan kekeringan metode EDI lebih menunjukkan kemiripan secara visual grafik surplus dan defisit terhadap nilai SOI. Secara kuantitatif nilai persen kesesuaian serta nilai korelasi dan determinasi EDI juga memberikan nilai yang lebih besar terhadap kejadian ENSO dibandingkan metode SPI. Peta sebaran kekeringan digambarkan bedasarkan trend tahun-tahun kejadian kekeringan terparah. Hasil interpolasi pada peta menunjukkan kesesuaian hasil analisa dengan wilayah desa yang sering terdampak kekeringan di DAS Ngrowo.Drought is a condition that is common in Tulungagung and Trenggalek regency. Drought analysis is performed in order to have information about level of drought and its distribution. Drought analysis method will be used are Standardized Precipitation Index (SPI) and Effective Drought Index (EDI). Then the drought index compared to the ENSO (El Nino Southern Oscillation) phenomenon using the South Oscillation Index (SOI) data pattern. The results of the drought calculations are most in line with the SOI data pattern will be drawn on the drought distribution map using Kriging interpolation with the ArcGIS 10.5 Program. The SPI method produced the most severe drought in 2000 on a 3 month deficit period (-5.14). The EDI method produced the most severe drought in 2001 on a 12 month deficit period (-2.91). Conformity analysis shows the drought pattern of the EDI method is better at showing a visual similarity of the surplus and deficit graphs to the SOI value. Quantitatively based on the value of percent suitability and the value of correlation and determination of EDI also gives a greater value to the ENSO event than the SPI method. The drought distribution map is drawn based on the trend of the worst drought years. The interpolation results on the map show the suitability of the analysis results with the village areas that are often affected by drought in the Ngrowo watershed.
STUDI PERENCANAAN KONSTRUKSI BENDUNGAN BETON GRAVITASI KUALU DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATRA UTARA Saputra, Yayang; Marsudi, Suwanto; Wicaksono, Prima Hadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan Kualu merupakan bendungan beton gravitasi yang direncanakan di sungai Aek Kualu. Bendungan ini dibangun untuk meninggikan muka air sungai Aek Kualu agar memenuhi tinggi jatuh dari PLTA Kualu.  Tujuan dari studi ini adalah merencakan bendungan beton gravitasi yang sesuai dengan kriteria pedoman desain dengan pertimbangan aspek hidrolika, topografi, dan geologi. Langkah pertama dalam studi ini adalah analisis hidrolika pelimpah, hal ini bertujuan untuk merencakan dimensi pelimpah dan juga dimensi peredam energi. Kemudian dilanjutkan dengan perencanaan dimensi bendungan dan dinding penahan. Analisis daya dukung tanah atau batuan dilakukan untuk mengetahui berapakah tegangan ijin maksimal yang bisa dikerjakan di daerah studi ini. Selanjutnya dilakukan analisis stabilitas yang mencakup stabilitas geser, stabilitas guling, dan daya dukung. Analisis stabilitas  bendungan dilakukan dengan perhitungan manual sedangkan untuk analisis stabilitas dinding penahan dihitung dengan bantuan paket program GEO5. Dalam analisis stabilitas bendungan digunakan tujuh jenis kombinasi pembebanan. Perencanaan strukur bangunan dilakukan dengan menggunakan paket program STAAD.Pro V8i SS6 untuk mengetahui momen yang akan digunakan dalam tahap penulangan. Grouting juga dilakukan dalam studi ini, jenis grouting yang digunakan adalah grouting tirai dan grouting konsolidasi. Hasil dari studi ini adalah pelimpah yang direncanakan berjenis overflow dengan lebar  33 meter dan tingginya dari bendungan adalah 37 meter. Peredam energi yang digunakan adalah sloted roller bucket dan tipe dinding penahan yang direncanakan adalah jenis kantilever. Tegangan ijin maskimal yang dapat dikerjakan adalah 345,683 ton/m2. Untuk hasil analisis stabilitas didapatkan hasil bahwa bangunan aman terhadap geser, guling, dan daya dukungnya masih kuat. Dari hasil perhitungan momen didapatkan daerah kritis berada di hulu pelimpah. Pada konstruksi bendungan dan dinding penahan direncanakan menggunakan beton f’c = 25 Mpa dan baja tulangan dengan fy = 400 Mpa. Rencana kedalaman grouting tirai adalah 23  meter dengan jarak 2 meter sedangkan untuk grouting konsolidasi direncakanan dengan kedalaman 10 meter dengan jarak primer 5 meter.Kualu dam is a concrete gravity dam in the Aek Kualu River. This dam was built to raise the water level of the Aek Kualu river to reach the high fall of the Kualu Hydroelectric Power Plant. The purpose of this study is to plan the concrete gravity dam by considering the aspect of hydraulics, topography, and geology. Step in this study begins with spillway hydraulics analysis, it is meant to planning the spillway dimensions and also the energy dissipators dimensions. The next step is planning the dam dimension and retaining wall dimensions. After planning all the dimensions, the next step is stability analysis which includes sliding stability analysis, overturning stability analysis, and soil bearing capacity analysis. The dam stability analysis calculated by manual, while the retaining wall calculated by the GEO5 application. Stability analysis calculates with seven load combinations. Structure planning will be done using the package of STAAD.PRO V8I SS6 program in which the result will be used in the reinforcement step. The Type of grouting in this study is curtain grouting and consolidation grouting. Based on the result of the study, the spillway wide is 33 meters while the high is 37 meters from the dam. The result of the stability analysis shows that the sliding, bolster, and soil bearing capacity is still strong. Depend on the moment calculation, conclude that the critical area located upstream of the spillway. The dam and retaining wall construction are planned to use concrete with f'c=25 MPa and steel reinforcement with fy=400 Mpa. The depth of curtain grouting is 23 meters with distance=2 meters, while the depth of consolidated grouting is 10 meters with primary distance=5 meters.
STUDI PERENCANAAN KONSTRUKSI BENDUNGAN BETON GRAVITASI KUALU DI KABUPATEN TOBA SAMOSIR PROVINSI SUMATRA UTARA Saputra, Yayang; Marsudi, Suwanto; Wicaksono, Prima Hadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bendungan Kualu merupakan bendungan beton gravitasi yang direncanakan di sungai Aek Kualu. Bendungan ini dibangun untuk meninggikan muka air sungai Aek Kualu agar memenuhi tinggi jatuh dari PLTA Kualu.  Tujuan dari studi ini adalah merencakan bendungan beton gravitasi yang sesuai dengan kriteria pedoman desain dengan pertimbangan aspek hidrolika, topografi, dan geologi. Langkah pertama dalam studi ini adalah analisis hidrolika pelimpah, hal ini bertujuan untuk merencakan dimensi pelimpah dan juga dimensi peredam energi. Kemudian dilanjutkan dengan perencanaan dimensi bendungan dan dinding penahan. Analisis daya dukung tanah atau batuan dilakukan untuk mengetahui berapakah tegangan ijin maksimal yang bisa dikerjakan di daerah studi ini. Selanjutnya dilakukan analisis stabilitas yang mencakup stabilitas geser, stabilitas guling, dan daya dukung. Analisis stabilitas  bendungan dilakukan dengan perhitungan manual sedangkan untuk analisis stabilitas dinding penahan dihitung dengan bantuan paket program GEO5. Dalam analisis stabilitas bendungan digunakan tujuh jenis kombinasi pembebanan. Perencanaan strukur bangunan dilakukan dengan menggunakan paket program STAAD.Pro V8i SS6 untuk mengetahui momen yang akan digunakan dalam tahap penulangan. Grouting juga dilakukan dalam studi ini, jenis grouting yang digunakan adalah grouting tirai dan grouting konsolidasi. Hasil dari studi ini adalah pelimpah yang direncanakan berjenis overflow dengan lebar  33 meter dan tingginya dari bendungan adalah 37 meter. Peredam energi yang digunakan adalah sloted roller bucket dan tipe dinding penahan yang direncanakan adalah jenis kantilever. Tegangan ijin maskimal yang dapat dikerjakan adalah 345,683 ton/m2. Untuk hasil analisis stabilitas didapatkan hasil bahwa bangunan aman terhadap geser, guling, dan daya dukungnya masih kuat. Dari hasil perhitungan momen didapatkan daerah kritis berada di hulu pelimpah. Pada konstruksi bendungan dan dinding penahan direncanakan menggunakan beton f’c = 25 Mpa dan baja tulangan dengan fy = 400 Mpa. Rencana kedalaman grouting tirai adalah 23  meter dengan jarak 2 meter sedangkan untuk grouting konsolidasi direncakanan dengan kedalaman 10 meter dengan jarak primer 5 meter.Kualu dam is a concrete gravity dam in the Aek Kualu River. This dam was built to raise the water level of the Aek Kualu river to reach the high fall of the Kualu Hydroelectric Power Plant. The purpose of this study is to plan the concrete gravity dam by considering the aspect of hydraulics, topography, and geology. Step in this study begins with spillway hydraulics analysis, it is meant to planning the spillway dimensions and also the energy dissipators dimensions. The next step is planning the dam dimension and retaining wall dimensions. After planning all the dimensions, the next step is stability analysis which includes sliding stability analysis, overturning stability analysis, and soil bearing capacity analysis. The dam stability analysis calculated by manual, while the retaining wall calculated by the GEO5 application. Stability analysis calculates with seven load combinations. Structure planning will be done using the package of STAAD.PRO V8I SS6 program in which the result will be used in the reinforcement step. The Type of grouting in this study is curtain grouting and consolidation grouting. Based on the result of the study, the spillway wide is 33 meters while the high is 37 meters from the dam. The result of the stability analysis shows that the sliding, bolster, and soil bearing capacity is still strong. Depend on the moment calculation, conclude that the critical area located upstream of the spillway. The dam and retaining wall construction are planned to use concrete with f'c=25 MPa and steel reinforcement with fy=400 Mpa. The depth of curtain grouting is 23 meters with distance=2 meters, while the depth of consolidated grouting is 10 meters with primary distance=5 meters.
STUDI KEKERINGAN METEOROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DAN DECILE INDEX (DI) DI DAS REJOSO, KABUPATEN PASURUAN, JAWA TIMUR Putri, Rully Eka; Harisuseno, Donny; Suhartanto, Ery
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Pasuruan merupakan satu dari sekian banyak daerah di Pulau Jawa yang mengalami kekeringan berat, terdapat 19 desa di 5 kecamatan yang mengalami kekeringan di Kabupaten Pasuruan. Diperlukan studi kekeringan guna mengetahui tingkat kekeringan dan peta sebarannya. Dalam studi ini menggunakan metode Standardized Precipitaion Index (SPI) dan metode Decile Index (DI) dengan skala waktu 1, 3, 6, dan 12 bulanan yang kemudian akan dibandingkan dengan indeks kekeringan hidrologi berdasarkan data debit yang dihitung menggunakan metode Z-Index guna mengetahui metode yang lebih sesuai digunakan di DAS Rejoso. Hasil studi menunjukkan bahwa berdasarkan metode SPI, DAS Rejoso mengalami tahun terkering pada tahun 2007 dan 2015, sedangkan berdasarkan metode DI, tahun terkering terjadi pada tahun 2015, 2006, 2007, dan 2014. Setelah dibandingkan dengan debit yang dihitung menggunakan metode Z-Index, didapatkan bahwa metode yang lebih sesuai digunakan di DAS Rejoso adalah metode DI dengan persentase kesesuaian sebesar 64,22%. Indeks dari metode DI digambarkan peta sebarannya menggunakan metode IDW dan hasil peta sebaran menunjukkan bahwa kekeringan terparah terjadi di bagian tengah dan hilir DAS Rejoso.   Pasuruan Regency is one of the several drought areas, there are 19 villages in 5 districts categorized as drought area in Pasuruan Regency. Drought studies are needed to determine the level of drought and its drought distribution map. In this study using the Standardized Precipitation Index (SPI) and Decile Index (DI) methods with 1, 3, 6, and 12 months time scale which will be compared with hydrological drought index based on the discharge data calculated using Z-Index method to find out the most appropriate method used in Rejoso Watershed. The result of the study based on the SPI method shows that Rejoso Watershed experienced the driest years in 2007 and 2015, while according to the DI method, the driest years occurred in 2015, 2006, 2007, and 2014. After compared to the discharge calculated by Z-Index method, it shows that the most appropriate method in Rejoso Watershed is DI method with 64,22% suitability percentage. The index of the DI method illustrated in the drought distribution map with IDW method. The results of the drought distribution map show that the worst drought occurred in the middle and downstream of the Rejoso Watershed.