cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
PENGARUH MATERIAL BANGUNAN RUMAH TRADISIONAL MADURA TERHADAP KENYAMANAN SUHU Alfiah Zakiah Aastutik; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah tradisional mMadura disebut juga Tanean Lajhang memiliki arti halaman panjang. Rumah tradisional madura memiliki beberapa tipe salah satunya rumah Bangsal. Tipe Bangsal adalah bangunan rumah tinggal yang membutuhkan kenyamanan suhu yang ideal. Salah satu upaya untuk mencapai kenyamanan suhu pada bangunan adalah mempertimbangkan bentuk, dimensi orientasi dan material pada bangunan dan bukaan. Metode yang digunakan pada penelitian berupa deskriptif, kuantitatif dan eksperimental dengan menggunakan sofware Ecotect Analysis 2011 untuk mengetahui data pengukuran lapangan valid atau tidaknya serta mengetahui kinerja kenyamanan suhu udara bangunan melalui rekayasa bentuk, dimensi, bukaan, dan material. Selanjutnya ada rekomendasi desain yang banyak menggunakan alternatif yang mengacu pada standar yang digunakan. Berdasarkan hasil penelitian rumah asli dibandingkan dengan rekomendasi menghasilkan data berupa output dari simulasi ecotect yaitu grafik suhu udara ratarata 24 jam dalam 30 hari sebagai acuan penentu kesimpulan.Kata kunci: Kenyamanan Suhu Udara, Material Bangunan, Batu Kapur dan Kayu, Tradisional Madura,ABSTRACTMadura traditional house also called Tanean Lajhang it’s means long yard. Madura traditional house has several types, one of them is Bangsal house. Bangsal type is a residential building that requires an ideal temperature comfort. One effort to achieve temperature comfort in buildings is to consider the shape, dimension’s orientation and material of the building and ventilation. The method used in this research is descriptive, quantitative and experimental using the Ecotect Analysis 2011 software to find out whether the field measurement data is valid or not and to know the thermal performance of buildings through the engineering of shapes, dimensions, ventilation, and materials. Furthermore, there are many design recommendations that use alternatives that refer to the standards used. From the results of the original home study compared with the recommendation to produce data in the form of output in ecotect simulations, namely the 24-hour average temperature graph in 30 days as a reference for determining conclusions.
Lanskap Budaya Kawasan Wisata Candi Singosari Elan Gajmar; Lisa Dwi Wulandari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Candi Singosari merupakan suatu tatanan lanskap budaya yang menyimpan nilai – nilai sejarah di dalamnya. Keberadaan situs purbakala, yaitu Candi Singosari dan Arca Dwarapala yang berada di tengah – tengah pertumbuhan masyarakat yang semakin tinggi diiringi dengan pembangunan, hal ini bisa mengancam tatanan lanskap budaya. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui 13 elemen karakteristik lanskap budaya yang terbentuk pada kawasan Candi Singosari, yaitu: sistem dan ciri alam, topografi, organisasi keruangan, tata guna lahan, tradisi budaya, penataan cluster, bangunan dan struktur, tata sirkulasi, ruang terbuka, view dan vista, fitur – fitur air buatan, berskala kecil, dan kawasan arkeologis , dengan metode kualitatif deskriptif. Diharapkan melalui penelitian ini dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan karakteristik lanskap budaya kawasan Candi Singosari yang tentunya perlu kerjasama antara pemerintah yang berwenang dengan masyarakat.   Kata kunci: lanskap budaya, karakteristik, kawasan candi singosariSingosari Temple area is a cultural landscape that stores historical values ​​in it. The existence of ancient sites, namely Singosari Temple and Dwarapala Statues which are in the midst of community growth that is increasingly high accompanied by development, this could threaten the order of the cultural landscape. The purpose of this study aims to identify and find out the 13 elements of cultural landscape characteristics formed in the Singosari Temple area, namely: natural systems and features, topography, spatial organization, land use, cultural traditions, structuring clusters, buildings and structures, circulation systems, open spaces , view and vista, artificial water features, small scale, and archaeological areas, with descriptive qualitative methods. It is hoped that this research can contribute to the improvement of the characteristics of the cultural landscape of the Singosari Temple area, which of course requires collaboration between the government authorities and the citizens. Keywords: cultural landscape, summary, characteristics, singosari temple area
Konsep Catuspatha Pada Tatanan Ruang Desa Pakraman Baler Bale Agung Kabupaten Jembrana I Putu Widwan Artha; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Pakraman Baler Bale Agung merupakan sebuah desa yang terletak pada sisi barat Provinsi Bali di Kabupaten Jembrana yang dulunya merupakan salah satu pusat pemerintahan jaman kerajaan di Bali. Desa Pakraman Baler Bale Agung memiliki warisan Catuspatha bawahan dari Catuspatha pusat kerajaan Jembrana di Kota Negara. Catuspatha atau yang lebih dikenal dengan Pempatan Agung merupakan sebuah simpang empat yang memiliki nilai sakral dan makna tersendiri dalam penataaan ruang luar di Bali. Konsep Catuspatha adalah salah satu konsep ruang tradisional masyarakat Bali sebagai dasar penyusunan tatanan ruang baik secara fisik (Sekala) dan nonfisik (Niskala) yang berhubungan dengan letak geografis (Andabhuwana) dan kualitas ruang (Tri Mandala). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis dengan cara mendeskripsikan peranan konsep Catuspatha terhadap pembentukan pola ruang luar pada Desa Pakraman Baler Bale Agung. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah tatanan ruang luar Desa Pakraman Baler Bale Agung yang mendapat pengaruh dari konsepsi Catuspatha tanpa adanya perubahan letak dan fungsi dari setiap elemen pendukung Catuspatha.
Kampung Akuarium: Keterkaitan antara Partisipasi Warga dengan Pembentukan Ruang Sosial pada Kampung Abidzar Al Ghifari; Jenny Ernawati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses terbentuknya ruang sosial di Kampung Akuarium oleh partisipasi warga dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk menelusuri proses partisipasi yang terjadi sejak sebelum kampung ini digusur pada tahun 2016. Partisipasi warga terwujud dalam bentuk aktivitas sosial yang dilakukan oleh subjek. Aktivitas ini dilakukan sebagai bentuk keikutsertaan warga dalam membentuk ruang sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa partisipasi yang terjadi di Kampung Akuarium adalah partisipasi yang sifatnya kontinu. Artinya, aktivitas yang dilakukan oleh warga ikut membentuk struktur ruang kampung secara keseluruhan. Temuan ini juga menunjukkan bahwa struktur ruang kampung terbentuk secara organik sebagai manifestasi dari aktivitas warganya. Kemudian, korelasi antara partisipasi dengan ruang sosial adalah korelasi timbal-balik yang melibatkan unsur subjek, aktivitas, dan ruang. Ketiga unsur ini saling mempengaruhi satu sama lain sehingga tanpa adanya salah satu unsur maka struktur ruang kampung tidak akan terbentuk. Partisipasi yang terjadi terbagi menjadi dua jenis: Partisipasi Pembangunan dan Partisipasi Pemanfaatan. Artinya, aktivitas warga dapat membentuk struktur ruang yang baru atau dapat memanfaatkan ruang yang telah ada. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan penataan pada Kampung Akuarium tidak dapat dilakukan secara top-down mengingat sifat organik dari struktur ruang Kampung Akuarium.   Kata kunci: partisipasi, aktivitas, ruang sosial, warga,
Kinerja Living Wall sebagai Pendinginan Pasif pada Koridor Rumah Turi Surakarta Astari Hapsari Putri; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan suhu di Kota Surakarta sebesar 1.60C sejak tahun 2012-2016 (BPS Kota Surakarta), tentunya mempengaruhi suhu iklim mikro pada bangunan. Strategi pendinginan pasif berupa penerapan living wall dapat diaplikasikan guna menurunkan suhu iklim mikro pada bangunan sehingga tercipta kenyamanan termal. Rumah Turi Surakarta merupakan salah satu hotel yang mengaplikasikan living wall pada koridor bangunan, untuk menciptakan suhu iklim mikro yang lebih sejuk sebagai tanggapan adanya peningkatan suhu di Kota Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja living wall sebagai pendinginan pasif, yaitu dengan cara mengkomparasi suhu yang dapat tereduksi oleh living wall dan elemen sun shading kayu yang terdapat pada koridor-koridor Rumah Turi Surakarta. Dilakukan observasi lapangan untuk mengambil data visual dan pengukuran, lalu data diolah menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan analisis komparatif. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja living wall sebagai pendinginan pasif, yaitu orientasi, jarak living wall terhadap koridor, jarak antar tanaman, dan jenis tanaman. Krokot Merah dan Sirih Gading, yang berdaun lebih rimbun dan memiliki warna daun lebih gelap, dapat menurunkan suhu iklim mikro sebesar 0.90C, sedangkan Lili Paris yang berdaun jarang dan berwarna lebih terang, yang hanya mampu menurunkan suhu sebesar 0.20C.
Pengaruh Penggunaan Material Alami terhadap Kenyamanan Termal Alfa Omega School, Tangerang. Putri Nawang Wulan; Wasiska Iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Tangerang memiliki temperatur udara rata-rata tahunan sebesar 31,35°C (2018), dan selalu megalami kenaikan di tiap tahunnya. Kondisi ini membuat Kota Tangerang berada di ambang batas atas kategori kenyamanan termal. Kenyamanan termal sendiri sangat sensitif apabila dihubungkan dengan kenyamanan termal di sekolah karena berefek pada kinerja siswa dalam proses belajar belajar siswa. Alfa Omega School merupakan sekolah non-formal yang menggunakan material alami yang ber-thermal mass besar yang merupakan konsep desain bangunan Arsitektur Tropis Nusantara untuk menurunkan temperatur udara lingkungan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif-kuantitatif dengan melakukan pengukuran kondisi termal lingkungan dan penyebaran kuesioner di tiga ruang kelas Alfa Omega School. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan material alami dalam perubahan temperatur udara dan mengetahui persepsi kenyamanan termal pengguna tiga ruang kelas SMP dan SMA Alfa Omega School. Hasil penelitian menunjukkan temperatur udara ketiga ruang kelas tidak mengalami penurunan melainkan kenaikan temperatur udara luar (rata-rata temperatur udara ruang dalam ketiga kelas 32,96°C dengan rata-rata temperatur udara luar 32,70°C) tetapi dengan penggunaan material alami dapat membuat selisih temperatur udara ruang kelas tidak begitu jauh dengan temperatur udara luar (koridor). Untuk kenyamanan termal pengguna, hasil perhitungan nilai PMV (Predicted Mean Vote) dan PPD (Predicted Percentage Dissatisfed) menunjukkan 85% pengguna ketiga ruang kelas merasa tidak nyaman dengan kondisi termal ruang kelasnya.
Pengaruh Penerapan Material Alami sebagai Elemen Bangunan terhadap Kelembapan Udara Ruang Dalam Saraswati Putri Ayu Dewita Hapsari; Wasiska Iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi sebagai salah satu kriterianya sebagai negara tropis lembab. Tingginya kelembapan udara dapat mempengaruhi baik secara fisik, berupa tumbuhnya jamur dan pelapukan pada bangunan maupun terhadap Kesehatan pengguna ruang yang dapat meningkatkan resiko masalah Kesehatan khususnya pernafasan, penyakit kulit dan kekebalan tubuh. Kondisi bangunan ini umumnya ditemukan pada bangunan dengan material masif dengan kandungan air yang rendah sehingga kurang mampu menyerap kelembapan. Material alami pada penelitian terdahulu dikatakan memiliki potensi dalam menyerap kelembapan. Pada penelitian ini material alami dikaji lebih lanjut terkait penerapan dan kinerjanya sebagai elemen bangunan pada rumah tinggal tropis lembab. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif komparatif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode eksperimental dengan model fisik dan observasi secara langsung. Hasil penelitian menunjukan bahwa material gambas bekerja optimal sebagai dinding penyerap kelembapan udara dengan rata – rata penurunan kelembapan sebesar 9,07%. Pada penerapannya, material alami sebagai dinding arsitektural dapat diaplikasikan pada bagian bawah dinding untuk lantai dasar dan pada bagian tengah dinding sejajar dengan tinggi manusia pada lantai atas bangunan tinggi.Kata kunci: Material alami, higroskopis, kelembapan udara, dinding bangunan ABSTRACTIndonesia has a high humidity as one of its criteria as a humid tropical country. High humidity can affect both physically, in the form of mold growth and weathering in buildings and also increase the risk of health problem especially breathing, skin diseases and immunity of the users. This condition generally found in buildings with massive material with low water content, therefore it less capable to absorb moisture. In previous research, natural materials are said to have the potential to absorb moisture. in this research, natural materials are studied further about the application and performance as building elements. This is a comparative descriptive research with a quantitative approach using experimental methods with physical models and direct observation. The results showed that the luffa material worked optimally as a humidity absorber wall with an average 9,07% decrease in humidity. In its application, natural material as an architectural wall can be applied on the lower part of the wall for the ground floor and in the middle of the wall parallel to human height on the upper floors of high buildings.Keywords: Natural material, hygroscopic, air humidity, building walls
Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen di Sentra Kopi Sudimoro Malang Valentina Yuniasri Vania; Rinawati Pudji Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan bisnis kafe di Kota Malang yang semakin pesat dan pertumbuhan jumlah target konsumen kafe yang semakin tinggi memicu pertumbuhan pusat-pusat kafe di Kota Malang, salah satunya Sentra Kopi Sudimoro. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh store atmosphere terhadap keputusan pembelian konsumen di Sentra Kopi Sudimoro Malang, serta mengetahui kriteria elemen store atmosphere yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif dan deskriptif. Metode pemilihan sampel kafe menggunakan pendekatan ruang pandang binokular. Metode analisis data dilakukan dengan analisis kondisi eksisting secara deskriptif, analisis mean score, dan analisis regresi linier berganda. Hasil dari penelitian ini yaitu store atmosphere yang terdiri dari storefront, lantai, warna, pencahayaan, tekstur dinding, perabot dan kebersihan memiliki pengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen sebesar 26,6%. Secara parsial, hanya elemen pencahayaan yang memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen sebesar 99,3%. Sehingga kriteria elemen store atmosphere yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen dilihat berdasarkan hasil sintesis analisis pada elemen pencahayaan.
Pengaruh Selubung Bangunan Terhadap Pendinginan Alami (Studi Kasus Masjid Wapauwe, Negeri Kaitetu, Leihitu, Kab.Maluku Tengah) Mirza Nabila Rabul; Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Wapauwe merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih terpelihara keasliannya hingga kini, dibangun pada tahun 1414 Masehi. Masjid ini menggunakan material alam kinerjanya mengutamakan sistem pendinginan alami. Kualitas lingkungan termal yang mempengaruhi akan kenyamanan termal manusia dapat dicapai dengan pengolahan fasad dan material selubung bangunan terutama pada daerah beriklim tropis dan lembab. Penelitian ini terkait kenyamanan termal dan kinerja pendinginan alami pada masjid Wapauwe yang berlokasi di Negeri Kaitetu, Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah dengan pengukuran lapangan selama 31 hari x 24 jam melalui metode deskriptif untuk mengumpulkan data dan menjelaskan tentang kondisi eksisting objek di lapangan, kemudian metode evaluatif untuk mengevaluasi data dari hasil pengukuran di lapangan dan quasi eksperimental menggunakan simulasi digital. Hasil penelitian menunjukkan suhu udara pada ruang masjid menjelang siang hari melebihi batas maksimal suhu netral kemudian suhu menurun secara bertahap menjelang sore hingga malam hari, memasuki waktu pagi dini hari suhu berada pada minimal suhu netral. Kenyamanan kelembaban udara pada siang hari dan malam hari belum sesuai dengan standar agar kinerja pendinginan alami lebih maksimal dibutuhkan strategi pendinginan alami pada masjid ini dengan dibuatnya rekomendasi desain mampu menurunkan suhu sebesar 0,2°C-1,7°C.
Kenyamanan Spasial Ruang Pejalan Kaki di Koridor Jalan Kawi Atas Kota Malang Menurut Persepsi Masyarakat Vanbalden Halasson Sihaloho; Jenny Ernawati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koridor Jalan Kawi Atas merupakan salah satu koridor komersial yang terletak di Kota Malang dengan peruntukan sebagai kawasan perdagangan dan jasa sehingga koridortersebut merupakan koridor komersial memiliki tingkat mobilitas cukup pesat, baik pada siang maupun malam hari. Dengan tingginya mobilitas pejalan kaki makadiperlukan penelitian untuk meningkatkan kenyamanan spasial ruang pejalan kaki. Tentunya keragaman aktivitas yang terjadi pada koridor tersebut tidak lepas darifungsi bangunan yang berada pada koridor jalan tersebut, sehingga untuk mendukung kegitan tersebut dibutuhkan kenyaman spasial yang baik. Tujuan dilakukan penelitianini adalah untuk mengetahui kenyamanan spasial yang berada di Jalan Kawi Atas KotaMalang.mengambil 150 responden sebagai sampel. Sehingga didapatkan persepsi masyarakat mengenai kenyamanan spasial yang akan dijadikan sebagai analisis terhadap lokasipenelitian yang terdapat di Jalan Kawi Atas Kota Malang. Hasil penelitian yang didapatkan dari penelitian ini ialah persepsi masyarakat mengenai kenyamanan spasialdi koridor Jalan Kawi Atas yang cukup beragam, mulai dari nilai negatif hingga positif. Nilai tersebut tersebar di beberapa titik dari lokasi penelitian. Dimana nilai secarakeseluruhan yang di dapat ialah 4,76 yaitu diantara netral dan agak nyaman. PenelitianinimenggunakanmetodekualitatifdankuantitatifdenganKata kunci: Koridor jalan, Kenyamanan spasial, persepsi ABSTRACT Kawi Atas Street is one of the commercial streets in Malang City. It is functioning as a trade and service area. With the high mobility of pedestrians, research is needed toimprove the side walk's spatial comfort. Of course, the diversity of activities that occur in the street can not be separated from the function of the building on the street. Thoseactivities require excellent spatial comfort. Therefore, the purpose of this research is to discover people's perception of the spatial comfort of Kawi Atas Street in Malang. Thisstudy uses qualitative and quantitative methods by taking 150 respondents as research participants. The qualitative method is carried out by making direct observations of theplace while the quantitative method employed questionnaires to collect the data from participants. Pedestrians' comfort was measured on seven-point multiple rating scalescontaining the level of pedestrian comfort. The research results indicated that overall, people felt that spatial comfort is somehow comfortable (M=4.76).  However, the findingsshow that people's perceptions of spatial comfort in Kawi Atas Street are quite diverse, ranging from negative to positive values. These values are scattered at several pointsalong the street.Keywords: Commercial street, spatial comfort, perception

Page 76 of 150 | Total Record : 1492