cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,496 Documents
Estetika Visual Pada Gaya Arsitektur Istana Siak Sri Indrapura Kabupaten Siak Setiawan, Wahyu Bagus; Prof. Ir. ANTARIKSA M.Eng., Ph.D.
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 4 (2026): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Estetika visual merupakan aspek penting dalam arsitektur karena berperan dalam membentuk persepsi, identitas, dan makna sebuah bangunan. Istana Siak Sri Indrapura Kabupaten Siak merupakan bangunan bersejarah yang menampilkan perpaduan gaya arsitektur Melayu, Arab, dan Eropa, sehingga memiliki nilai estetika visual yang khas dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis estetika visual pada gaya arsitektur Istana Siak Sri Indrapura berdasarkan elemen-elemen pembentuk visual bangunan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis visual terhadap kondisi eksisting bangunan. Data diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, serta studi literatur yang relevan. Analisis dilakukan terhadap komponen estetika visual meliputi keterpaduan, proporsi, skala, keseimbangan, irama, ritme, warna, simetri, dinamika linear, keragaman, bentuk, dan geometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika visual Istana Siak Sri Indrapura terbentuk melalui keterpaduan elemen-elemen arsitektur yang diterapkan secara konsisten dan harmonis, serta mencerminkan identitas budaya dan nilai historis Kesultanan Siak. Perpaduan gaya arsitektur tidak menimbulkan konflik visual, melainkan memperkuat karakter bangunan sebagai simbol kekuasaan, religiusitas, dan keterbukaan budaya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam kajian estetika visual arsitektur bangunan bersejarah serta sebagai dasar pertimbangan dalam upaya pelestarian dan pengembangan desain arsitektur berbasis nilai lokal. Kata kunci: estetika visual, gaya arsitektur, bangunan bersejarah, Istana Siak Sri Indrapura.
Narasi Ganda Pada Perancangan Cultural Center di Kecamatan Cisolok Muhammad Zulhan Adinegoro; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 4 (2026): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark di Kabupaten Sukabumi memiliki kekayaan geologi, lanskap alam, serta keberadaan Masyarakat Adat Pancer-Pangawinan sebagai warisan budaya hidup yang masih dipraktikkan hingga saat ini. Namun, hingga kini belum tersedia wadah arsitektural yang secara khusus mampu mewadahi kegiatan pelestarian, edukasi, dan representasi budaya masyarakat adat secara terpadu dan kontekstual. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan Cultural Center di Kecamatan Cisolok yang mampu menjembatani kepentingan masyarakat adat sebagai subjek budaya dan wisatawan sebagai pengguna ruang. Pendekatan yang digunakan adalah narasi ganda, dengan paradigma intuitif sebagai metode perancangan. Narasi budaya lokal sakuren dan pola spasial paparakoan dijadikan dasar dalam pengolahan tata massa, sirkulasi, hirarki ruang, serta pengalaman arsitektural. Metode intuitif diterapkan untuk menangkap fenomena non fisik tapak yang tidak sepenuhnya dapat dipahami melalui pendekatan rasional. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan narasi ganda mampu menghasilkan ruang budaya yang berfungsi sebagai fasilitas pelestarian sekaligus medium arsitektural yang menyampaikan identitas lokal dan dialog antara tradisi dan konteks kontemporer.   Kata kunci: Cultural Center, Narasi Ganda, Intuitif, Masyarakat Adat Pancer-Pangawinan
KRITERIA MODEL RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI COMMUNAL PLACE PADA KAWASAN PERUMAHAN DI KOTA MALANG HALIM, ADISTY; Wulandari, Lisa Dwi
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam perspektif perencanaan kota berkelanjutan memiliki peran yang melampaui fungsi ekologis, yaitu menuju fungsi sosial dan komunal. RTH pada kawasan perumahan perlu bertransformasi menjadi communal place yang secara efektif memfasilitasi interaksi sosial, membangun modal sosial, dan memperkuat sense of community di antara penghuni. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya variasi signifikan kualitas RTH di perumahan elit dan menengah ke atas di Kota Malang, di mana pemenuhan standar kuantitas menurut regulasi tidak selalu sejalan dengan kualitas fungsional, pemanfaatan, dan persepsinya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan merumuskan kriteria model RTH ideal yang bersifat adaptif, yang tidak hanya memenuhi standar desain arsitektur-lanskap, tetapi juga selaras dengan kebutuhan aktivitas sosial-behavioral spesifik penghuni. Studi ini menggunakan pendekatan analisis komparatif yang kaya (rich comparative analysis) pada tiga studi kasus representatif dengan tipologi RTH dominan yang berbeda, yaitu Perumahan Araya dengan fokus pada jalur hijau tepi jalan, Perumahan Permata Jingga dengan fokus pada taman lingkungan, dan Perumahan Ijen Nirwana dengan fokus pada hutan kawasan atau hutan kota. Metode pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan instrumen Place  Centered Mapping, Person-Centered Mapping, serta Urban Landscape Approach. Metode ini mengevaluasi tiga fungsi utama, yakni fungsi sosial, fungsi estetika, dan fungsi ekologis. Pengamatan pemetaan perilaku (behavioral mapping) dilakukan secara menyeluruh pada hari kerja (weekday) dan akhir pekan (weekend) dalam empat pembagian waktu dari pagi hingga malam hari. Hasil analisis dan sintesis data menghasilkan pemodelan kriteria RTH berdasarkan tipologinya serta generalisasi kriteria yang memadukan variabel kenyamanan suhu lingkungan dengan interaksi warga secara bersamaan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan sebagai panduan berbasis bukti (evidence-based) bagi perencana kawasan, pengembang properti, dan pemerintah dalam perancangan dan pengelolaan RTH di kawasan perumahan agar dapat berfungsi efektif sebagai paru-paru kota sekaligus ruang kumpul bersama. Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau, Communal Place,Perumahan, Kota Malang
Between Life and Urban Systems: A Regenerative Design Approach to Homeless Facility in Malang Zalfa Zahirah; Bayu Arief Firsandy
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Tunawisma merupakan permasalahan sosial perkotaan yang belum terselesaikan secara efektif di Indonesia, termasuk di Kota Malang. Penanganan yang ada cenderung bersifat represif dan penampungan sementara tanpa jalur pemulihan yang berkelanjutan. Artikel ini membahas pendekatan desain arsitektur sebagai respons terhadap permasalahan tersebut melalui perancangan Regenerative Homeless Center—sebuah fasilitas transisional yang manusiawi, inklusif, dan adaptif. Menggunakan paradigma empirisme dan pendekatan arsitektur regeneratif, perancangan dilakukan berdasarkan observasi lapangan, wawancara dengan Dinas Sosial Kota Malang, serta studi preseden fasilitas sejenis. Hasilnya adalah konsep fasilitas yang tidak sekadar menyediakan tempat tinggal sementara, melainkan menjadi jembatan antara kehidupan jalanan dan sistem sosial-ekonomi kota melalui program shelter, pelatihan keterampilan, pemulihan psikososial, dan ruang komunitas yang terintegrasi.   Kata kunci: tunawisma, arsitektur regeneratif, fasilitas transisional, pemberdayaan sosial, Kota Malang ABSTRACT   Homelessness remains an unresolved urban social problem in Indonesia, including in Malang City. Existing approaches tend to be repressive and temporary without sustainable recovery pathways. This article discusses an architectural design approach in response to this issue through the design of a Regenerative Homeless Center—a humane, inclusive, and adaptive transitional facility. Using an empiricism paradigm and regenerative architecture approach, the design is grounded in field observations, interviews with the Malang City Social Service Office, and precedent studies of similar facilities. The result is a facility concept that goes beyond providing temporary shelter, serving instead as a bridge between street life and the city's socioeconomic system through an integrated program of shelter, skills training, psychosocial recovery, and community spaces.   Keywords: homelessness, regenerative architecture, transitional facility, social empowerment, Malang City  
Kinerja Desain Pasif Rumah Gadang Dalam Menciptakan Kenyamanan Higrotermal Alami di Iklim Tropis Lembap Hasbiah, Sarah Sri; Nugroho, Agung Murti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iklim tropis lembap dengan suhu dan kelembapan yang tinggi menuntut bangunan untuk mampu beradaptasi melalui penerapan desain pasif. Rumah Gadang sebagai arsitektur vernakular Minangkabau memiliki berbagai elemen desain pasif yang berkembang sesuai kondisi lingkungan setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh topografi terhadap kinerja desain pasif pada Rumah Gadang Sawah Laman dan Rumah Gadang Sumpur. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-komparatif melalui analisis kualitatif elemen desain pasif dan analisis kuantitatif berdasarkan pengukuran suhu serta kelembapan udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Rumah Gadang mampu menciptakan kondisi higrotermal yang relatif nyaman melalui penerapan rumah panggung, ventilasi alami, atap gonjong, dan material kayu. Rumah Gadang Sawah Laman yang berada pada kawasan persawahan menunjukkan kestabilan suhu dan kemampuan pengendalian kelembapan yang lebih baik, sedangkan Rumah Gadang Sumpur yang berada pada kawasan perbukitan memiliki kemampuan menunda perpindahan panas yang lebih tinggi dengan nilai time lag mencapai 3 jam. Secara keseluruhan, topografi berpengaruh terhadap kinerja desain pasif bangunan, sementara elemen desain pasif Rumah Gadang terbukti efektif dalam mendukung kenyamanan higrotermal pada iklim tropis lembap.   Kata kunci: Desain Pasif, Rumah Gadang, Kenyamanan Higrotermal, Iklim Tropis Lembap
Tingkat Kenyamanan Termal Berdasarkan Thermal Humidity Index pada Koridor Jalan Basuki Rahmat Kota Malang Mawaddah, Husni Fadia; Wibisono, Iwan
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan ketidaknyamanan termal di koridor Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang, yang merupakan kawasan bersejarah dan destinasi wisata urban populer.  Peningkatan aktivitas wisata dan pejalan kaki tidak didukung oleh desain jalur pejalan kaki yang responsif terhadap iklim tropis. Kurangnya elemen peneduh, dominasi material keras yang menyerap panas, serta emisi kendaraan memicu paparan panas berlebih yang menurunkan kualitas lingkungan fisik serta kenyamanan pengunjung. Melalui pendekatan Thermal Humidity Index (THI), penelitian ini mengkaji dan menilai tingkat kenyamanan termal di Koridor Jalan Basuki Rahmat. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui pengukuran langsung kelembapan dan suhu udara pada delapan titik pengukuran di tiga waktu berbeda dalam sehari. Nilai Thermal Humidity Index di Koridor Jalan Basuki Rahmat secara keseluruhan dikategorikan tidak nyaman. Nilai rata-rata THI tercatat sebesar 27,3 pada pagi hari, meningkat signifikan menjadi 29,8 pada siang hari, dan berada di angka 28,0 pada sore hari. Ketidaknyamanan ini dipicu oleh tingginya radiasi matahari langsung dan orientasi jalan memanjang utara-selatan yang menyebabkan elemen shading tidak berfungsi optimal. Sebaliknya, area dengan vegetasi bertajuk lebar terbukti lebih efektif dalam menurunkan suhu melalui proses evapotranspirasi. Kata kunci: kenyamanan termal, thermal humidity index, koridor jalan.