cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 4 (2013)" : 22 Documents clear
Efek Blok Refugia (Ageratum conyzoides L., Ageratum houstonianum L., Commelina diffusa L.) Terhadap Pola Kunjungan Arthropoda di Perkebunan Apel Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang wardani, fevilia suksma; Leksono, Amin Setyo; Yanuwiadi, Bagyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.507 KB)

Abstract

ABSTRAK Ekosistem yang terganggu dan aplikasi pestisida menyebabkan penurunan diversitas Arthropoda. Keberadaan Arthropoda dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan refugia di sekitar perkebunan apel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan, struktur komunitas, diversitas dan komposisi Arthropoda, efek blok refugia terhadap pola kunjungan Arthropoda, pengaruh faktor abiotik dan status fungsional Arthropoda. Pengamatan Arthropoda dilakukan secara visual control.  Pengukuran faktor abiotik meliputi suhu udara dan intensitas cahaya. Pengambilan data dilakukan empat kali pada musim buah dan empat kali sehari di setiap kombinasi refugia selama 15 menit setiap periode. Analisis struktur komunitas Arthropoda didapat dari nilai penting dan diversitas (Indeks Shannon-Wienner). Pola kunjungan dan komposisi Arthropoda (IBC) dibandingkan antar blok. Kelimpahan Arthropoda berjumlah 1424 individu terdiri dari 8 ordo dengan 28 famili, 5 famili tertinggi yaitu Aleyrodidae, Syrphidae, Pieridae, Tabanidae  1 dan Formicidae 2 dengan INP tertinggi yaitu Aleyrodidae (33.95 %). Diversitas Arthropoda tinggi dengan nilai 2-3. Rata-rata kesamaan komposisi Arthropoda menunjukkan tingkat kesamaan yang sedang. Blok refugia yang digunakan memiliki pengaruh terhadap kunjungan Arhropoda. Blok 1, 2 dan 4 menunjukkan tingkat daya tarik yang tinggi untuk menarik Arthropoda sehingga dapat direkomendasikan antara blok 1 dan 2. Status fungsional Arthropoda terdiri dari herbivor (54.14 %), polinator (28.72 %) dan predator (17.13 %). Suhu dan intensitas cahaya berpengaruh pada kelimpahan Arthropoda.   Kata kunci: Arthropoda, refugia, musim buah, visual control
Peta dan Struktur Vegetasi Naungan Porang (Amorphophallus muelleri Blume) di Wilayah Malang Raya Wahyuningtyas, Rosyta Dwi; Rahardi, Brian
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.079 KB)

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) adalah salah satu jenis tanaman terna dalam famili Araceae yang dapat tumbuh dengan baik di bawah naungan, seperti di bawah naungan pohon jati, mahoni, sonokeling, rumpun bambu, atau di antara semak belukar. Vegetasi naungan tersebut dapat dijadikan sebagai preferensi habitat porang di suatu wilayah, sehingga lebih mudah mengetahui populasi porang terbanyak di bawah vegetasi naungan tertentu. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis vegetasi yang menjadi naungan porang di berbagai wilayah Malang Raya. Selain itu, bertujuan pula untuk membuat peta vegetasi naungan porang agar diketahui habitat porang di berbagai wilayah Malang Raya. Penelitian dilakukan dengan mencari informasi mengenai keberadaan porang di wilayah Malang Raya kepada key person sehingga nantinya dapat dilakukan pengambilan data vegetasi naungan porang dengan menggunakan metode kuadran. Selain itu, dilakukan pembuatan peta vegetasi naungan porang dengan menggunakan software Quantum GIS. Berdasarkan hasil analisis vegetasi naungan diketahui bahwa porang banyak ditemukan di bawah naungan bambu (Gigantochloa atter), sehingga bambu memiliki INP tertinggi diantara spesies lainnya pada sebagian besar wilayah eksplorasi porang. Selain bambu, pohon jati (Tectona grandis) dan mahoni (Swietenia mahagoni) juga merupakan vegetasi naungan yang dominan pada beberapa wilayah. Dengan demikian, preferensi naungan porang dapat diketahui dari jenis vegetasi naungannya sehingga dengan adanya peta vegetasi naungan di setiap wilayah dapat mempermudah masyarakat untuk mengetahui jenis vegetasi naungan porang yang dominan di wilayah Malang Raya. Kata kunci: Bambu (Gigantochloa atter), Porang (Amorphophallus muelleri Blume), Quantum GIS, dan vegetasi naungan porang.
Peta dan Pola Persebaran Porang (Amorphophallus muelleri Blume) Pada Beberapa Area di Kabupaten Jember Sari, Ratna Wulan; Azrianingsih, Rodliyati; Rahardi, Brian
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.646 KB)

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan jenis tanaman umbi-umbian yang mengandung glukomanan. Di Jepang, tepung umbi Porang sudah dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri. Di Indonesia sendiri selain masyarakatnya yang belum mengerti cara memanfaatkan porang, mereka juga belum mengerti lokasi keberadaan porang. Penelitian ini bertujuan untuk membuat peta persebaran Porang serta untuk mengetahui pola persebarannya di Kabupaten Jember. Penelitian awal dilakukan dengan mencari informasi mengenai keberadaan tanaman Porang. Lokasi koordinat porang yang ditemukan ditandai dengan GPS. Lokasi koordinat Porang yang telah didapatkan ditampilkan dalam bentuk peta persebaran menggunakan program Quantum GIS 1.7.4. Pola persebaran Porang dianalisis menggunakan Indeks Morisita. Porang di Kabupaten Jember terbagi menjadi dua jenis yaitu Porang yang tumbuh liar dan Porang budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Porang budidaya memiliki pola persebaran seragam dan random, sedangkan Porang yang tumbuh liar memiliki pola persebaran mengelompok dan random. Pada umumnya Porang yang ditanam dapat membentuk pola persebaran yang seragam, mengelompok maupun random, ini dikarenakan adanya campur tangan dari penanamnya. Sedangkan Porang yang tumbuh liar akan membentuk pola persebaran mengelompok maupun random, hal ini disebabkan Porang tumbuh secara alami. Kata kunci: Porang, Pemetaan, pola persebaran, Kabupaten Jember
Profil Protein Spermatozoa Setelah Pembekuan Susan, Mochammad Dwi; Rahayu, Sri
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.238 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil protein spermatozoa sebelum dan setelah pembekuan. Protein spermatozoa diisolasi dari 10 sampel sapi Friesian holstein dengan pemisahan fraksi atas dan bawah hasil sentrifugasi. Profil protein kemudian dianalisis menggunakan SDS PAGE dengan konsentrasi separating gel 12,5%. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan profil protein spermatozoa sebelum dan setelah pembekuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada fraksi atas semen segar ditemukan 12 pita protein spermatozoa dengan berat molekul 144, 128, 99, 90, 83, 59, 31, 20, 14, 12, 10 dan 9 kDa, dan pada semen beku ditemukan 8 pita protein spermatozoa dengan berat molekul 144, 128, 99, 90, 83, 59, 31, 14 dan 12 kDa. Sementara itu pada fraksi bawah semen segar ditemukan 16 pita protein dengan berat molekul 128, 116, 103, 90, 75, 69, 48, 40, 31, 26, 20, 14, 10, 9, 7 dan 6 kDa, dan 11 pita protein dengan berat molekul 128, 116, 103, 90, 75, 69, 48, 40, 31, 20 dan 14 kDa pada semen beku. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulka bahwa terdapat perbedaan profil protein spermatozoa sebelum dan setelah pembekuan yang dilihat dari variasi berat molekul protein pada masing – masing perlakuan. kata kunci        : pembekuan, protein, SDS PAGE, spermatozoa.
Peningkatan Kualitas Air Irigasi Akibat Penanaman Vegetasi Riparian dari Hidromakrofita Lokal selama 50 Hari Prasetyo, Hamdani Dwi; Retnaningdyah, Catur
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.77 KB)

Abstract

Air irigasi berperan penting dalam pengairan sawah. Air irigasi sering tercemari oleh limbah hasil aktivitas antropogenik. Hidromakrofita telah diketahui mampu berperan sebagai agen fitoremediasi kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi beberapa hidromakrofita lokal yang ditanam di tepi saluran irigasi selama 50 hari sebagai vegetasi riparian dalam peningkatan kualitas air irigasi. Hidromakrofita lokal yang digunakan adalah Limnocharis flava, Ipomoea aquatica, Fimbristylis globulosa, Vetiveria zizanoides, Equisetum ramosissium, Typha angustifolia, Sesbania grandiflora dan Scirpus grossus. Vegetasi riparian ditanam sepanjang 275 m di saluran irigasi Desa Kedung Pedaringan Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Kualitas fisikokimia air meliputi TDS, Nilai KMnO4, Ortofosfat, dan Amonium diamati setelah penanaman selama 50 hari. Pemantauan dilakukan pada lokasi sebelum penanaman (hulu), setelah penanaman sepanjang 125 m (tengah) dan setelah penanaman sepanjang 275 m (hilir). Perbedaan nilai tiap parameter antar lokasi diketahui dari uji Anova, analisis Cluster dan analisis Biplot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya penanaman delapan jenis tanaman vegetasi riparian di sepanjang tepi saluran irigasi tersier mampu meningkatkan kualitas air irigasi. Penananaman tersebut mampu menurunkan kadar Nilai KMnO4, TDS, ortofosfat, dan ammonium secara signifikan. Penanaman vegetasi riparian sepanjang 275 m lebih efektif meningkatkan kualitas air dibandingkan penanaman sepanjang 125 m. Kata kunci:  Air irigasi, kualitas air, vegetasi riparian
Perbandingan Kualitas Air Irigasi di Pertanian Organik dan Anorganik Berdasarkan Sifat Fisiko-kimia dan Makroinvertebrata Bentos (Studi Kasus di Desa Sumber Ngepoh, Lawang Kabupaten Malang) Furaidah, Zidny; Retnaningdyah, Catur
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.363 KB)

Abstract

Perbaikan kualitas air irigasi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas padi (Oryza sativa).  Kualitas air irigasi dapat diketahui melalui pengukuran parameter fisiko-kimia air maupun struktur komunitas makroinvertebrata bentos yang berperan sebagai bioindikator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil struktur komunitas makroinvertebrata bentos dan kualitas fisiko-kimia air  irigasi pada pertanian organik dan anorganik Desa Sumber Ngepoh Lawang. Makroinvertebrata bentos dan kualitas fisiko-kimia air diambil pada stasiun hulu dan hilir saluran irigasi yang melewati pertanian organik dan anorganik. Sampel air diambil sebanyak 500 ml, dan sampel makroinvertebrata bentos diambil sebanyak  ±100 individu/stasiun dengan Jaring Surber. Profil kualitas fisiko-kimia air dan makroinvertebrata bentos dianalisis secara deskriptif. Tingkat pencemaran perairan berdasarkan makroinvertebrata bentos diketahui dari nilai Hi dan FBI. Hasil penelitian menunjukkan kualitas fisiko-kimia air irigasi pertanian organik lebih baik dibandingkan pertanian anorganik yang tercermin dari lebih rendahnya nilai TDS, TSS, konduktivitas dan bikarbonat. Komunitas makroinvertebrata bentos air irigasi pertanian organik lebih beragam dibandingkan anorganik. Taksa-taksa yang mendominasi di air saluran irigasi pertanian organik meliputi Melanoides tuberculata (Thiaridae), Parathelpusa sp. (Decapoda), Acentrella sp. (Baetidae), Caenis sp. (Caenidae) dan Cheumatopsyche sp. (Hydropsychidae). Sedangkan taksa-taksa yang mendominasi di air saluran irigasi pertanian anorganik meliputi Melanoides tuberculata (Thiaridae), Tarebia granifera (Thiaridae), Parathelpusa sp. (Decapoda) dan Corbicula javaniva (Corbiculidae). Berdasarkan nilai Hi dan FBI dari makroinvertebrata bentos, pencemaran bahan organik di air irigasi pertanian anorganik lebih tinggi dibandingkan pertanian organik. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kualitas air irigasi pertanian organik lebih baik dibandingkan air irigasi pertanian anorganik.   Kata kunci: Kualitas air irigasi, makroinvertebrata bentos, pertanian organik dan anorganik.
Struktur Komunitas Vertebrata dan Invertebrata Air pada Petak Sawah Organik di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Kartini, Herlin Aprilia; Kurniawan, Nia
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.277 KB)

Abstract

Sistem pertanian organik diharapkan tidak hanya menghasilkan produk pertanian yang baik namun juga tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan organisme yang hidup disekitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui diversitas dan struktur komunitas vertebrata dan invertebrata air pada petak sawah organik di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dengan pengambilan data yang dilakukan sejumlah 5 kali. Metode pengambilan sampel vertebrata yang digunakan adalah ‘visual encounters surveys’, sedangkan hewan invertebrata diamati dengan membuat plot ukuran 1m2 pada petak sawah. Petak sawah yang diamati adalah sejumlah empat titik, dengan waktu pengamatan pada pagi hari sekitar pukul 06.00-11.00 WIB. Hasil pengamatan vertebrata air diperoleh 4 spesies meliputi 3 jenis ikan dan 1 jenis amfibi. Vertebrata perairan yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah katak sawah Fejervarya spp.. yaitu sebesar 109,9. Sedangkan invertebrata yang ditemukan antara lain berbagai jenis siput, arthropoda dan kerang. Invertebrata yang memiliki INP tertinggi adalah  siput Lymnaea truncatula dengan INP sebesar 59,98. Nilai indeks diversitas Shannon-Wienner (Hi) hewan air pada lokasi penelitian memiliki nilai yang sedang ( 1 - 3) yaitu vertebrata air sebesar 1,37 dan invertebrata air sebesar 2,38.   Kata Kunci: invertebrata sawah organik, struktur komunitas, vertebrata
Uji Toksisitas Bacillus thuringiensis Asal Kota Nganjuk Terhadap Larva Aedes aegypti Pratiwi, Erma Kusuma; Samino, Setijono; Gama, Zulfaidah Penata
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.688 KB)

Abstract

ABSTRAK   Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia dan menyebabkan banyak kematian penduduk, khususnya di Provinsi Jawa Timur. Kota Nganjuk memiliki tingkat kelimpahan larva Aedes aegypti tertinggi di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2008-2010. Kota Nganjuk merupakan daerah fokus utama untuk penanganan penyakit endemik DBD di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan isolat Bacillus thuringiensis asal Kota Nganjuk yang paling efektif dalam membunuh larva Aedes aegypti. Sampel sedimen dan air diambil dari 10 lokasi di Kecamatan Nganjuk. Bakteri diisolasi menggunakan media selektif B. thuringiensis kemudian dilakukan karakterisasi fenotip (Profil Matching Method), seleksi isolat yang patogen dan uji toksisitas (LC50) pada larva nyamuk Aedes aegypti instar III. Persentase mortalitas larva dianalisis probit (LC50) dan ragam (ANOVA). Hasil isolasi mendapatkan dua isolat B. thuringiensis yaitu K.K1.S.K2 dan W.Swh.S.K2 dari 26 isolat bakteri yang mampu membunuh larva Aedes aegypti instar III lebih dari 50 %. Isolat  K.K1.S.K2 serta W.Swh.S.K2 dengan umur biakan 48 jam pada waktu pendedahan 72 jam efektif membunuh larva Aedes aegypti instar III secara berurutan yaitu 83,3 % dan 76,67 %. Isolat W.Swh.S.K2 hasil isolasi dari sampel sedimen memiliki toksisitas tertinggi dengan nilai LC50 48 jam sebesar 3,53x107 sel/ml.   Kata Kunci : Aedes aegypti, Bacillus thuringiensis, Demam Berdarah Dengue, Uji Toksisitas
POTENSI Trichoderma sp. SEBAGAI AGEN PENGENDALI Fusarium sp. PATOGEN TANAMAN STRAWBERRY (Fragaria sp.) Fajrin, Melysa Nur; Suharjono, Suharjono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.856 KB)

Abstract

ABSTRAK Fusarium sp. merupakan salah satu patogen tanaman strawberry yang dapat menurunkan hasil panen tanaman inang sekitar 40 %.  Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi Genus Trichoderma dalam mengendalikan Fusarium sp. Trichoderma diisolasi dari tanah rhizosfer tanaman strawberry, sedangkan Fusarium sp. diisolasi dari tanaman strawberry yang mengalami layu Fusarium. Isolat kapang dimurnikan, dikarakterisasi dan dibandingkan dengan isolat kapang acuan. Uji Antagonis dilakukan secara in vitro dan in vivo. Uji in vitro dilakukan dengan metode dual culture dan slide culture. Hasil penelitian didapatkan dua jenis kapang antagonis yang mirip dengan Genus Trichoderma dan dua jenis kapang patogen yang mirip dengan Genus Fusarium. Isolat antagonis yang diperoleh adalah Trichoderma sp.1 dan Trichoderma sp. 2, serta isolat patogen Fusarium sp. 1 dan Fusarium sp. 2. Isolat Trichoderma sp. 1 memiliki kemampuan antagonisme lebih tinggi dibandingkan dengan isolat Trichoderma sp. 2. Isolat Trichoderma sp. 1 mampu menghambat pertumbuhan Fusarium sp. 1 dan Fusarium sp. 2 secara berturut-turut 49,7 % dan 49,6 %. Isolat Trichoderma sp. 2 mampu menghambat pertumbuhan Fusarium sp. 1 dan Fusarium sp. 2 secara berturut-turut 45,8 % dan 43,4 %. Mekanisme antagonis yang terjadi antara kapang antagonis dan patogen pada uji in vitro yaitu pembelitan dan intervensi hifa. Perlakuan paling optimal pada uji in vivo adalah Trichoderma yang diinokulasi terlebih dahulu yang dilanjutkan dengan penginokulasian Fusarium dengan nilai intensitas serangan sebesar 41,72 % pada varietas Santung sedangkan varietas California yang relatif lebih rentan terhadap serangan patogen.   Kata Kunci : antagonisme, Fusarium sp., strawberry, dan Trichoderma sp.
Analisis Single Nucleotide Polymorphism (SNP) -217 Gen Human Angiotensinogen (hAGT) pada Penderita Hipertensi di Rumah Sakit Syaiful Anwar secara PCR-Sekuensing Rahmah, Siti Fatiyatur; Widodo, Nashi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.559 KB)

Abstract

ABSTRAK Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Polimorfisme RAS (Renin Angiotensin System) dikatakan sebagai penentu hipertensi dan beberapa kerusakan organ target. Angiotensinogen merupakan protein awal dalam RAS yang memicu timbulnya hipertensi. Diketahui bahwa populasi skala besar ras Amerika dan Afrika yang terkena hipertensi, terjadi polimorfisme pada daerah 5’untranslated region di titik -217 A/G. Variasi basa pada titik -217 guanine atau adenine meningkatkan laju ekspresi gen angiotensinogen. Peningkatan ini terjadi akibat dari interaksi kuat antara faktor transkripsi GR dan C/EBP-β yang berikatan dengan daerah enhanser kemudian mempengaruhi laju transkripsi RNA polimerase III di daerah promoter gen angiotensinogen. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui adanya single nucleotide polymorphism (SNP) -217 gen human Angiotensinogen (hAGT) pada penderita hipertensi di Rumah Sakit Syaiful Anwar secara PCR-Sekuensing. Metode yang digunakan yaitu isolasi whole genome (QIAamp DNA Blood Mini Kit) dari 14 sampel darah pasien hipertensi, gen hAGT di amplifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan disekuensing untuk mengetahui adanya SNP        -217. Analisis yang dilakukan yaitu menggunakan software AB sequence Scanner, Bioedit dan BLAST NCBI. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya SNP -217 gen hAGT pada sampel pasien. Namun terdapat varian -6A pada gen tersebut yang juga mampu memicu terjadinya hipertensi. Kata Kunci : angiotensinogen, gen hAGT, hipertensi, SNP -217 A/G

Page 1 of 3 | Total Record : 22