cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Mahsiswa Fakultas Ilmu Budaya.
Arjuna Subject : -
Articles 975 Documents
PERGESERAN PENERJEMAHAN BAHASA JEPANG KE DALAM BAHASA INDONESIA DALAM KOMIK FULLMETAL ALCHEMIST JILID 26-27 KARYA HIROMU ARAKAWA WIDYATMOKO, FEBI RANGGA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 8 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.316 KB)

Abstract

Kata Kunci: Penerjemahan, Pergeseran Penerjemahan, Komik Terdapat banyak sekali bahasa yang berbeda-beda di dunia yang menyebabkan sulitnya orang-orang berkomunikasi dengan orang yang berbeda bahasa atau berkomunikasi dengan orang yang berbeda negara. Oleh karena itu perlu sekali adanya penerjemahan bahasa guna untuk membantu orang-orang berkomunikasi antar negara agar dapat mempermudah tanpa mempelajari bahasa lain. Walaupun begitu, karena bahasa di setiap negara memiliki aturannya sendiri-sendiri terkadang dalam penerjemahan masih terdapat kesulitan untuk menyesuaikan dengan kebiasaan berbahasa orang-orang bahasa sasaran. Dalam hal ini pergeserean penerjemahan sangat diperlukan dalam penerjemahan guna menyesuaikan denganaturan-aturan bahasa sasaran. Dalam penelitian ini, dilakukan penelitian pergeseranpenerjemahan dengan sumber data komik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk menganalisis adanya pergeseran penerjemahan dari bahasa Jepang menjadi bahasa Indonesia dalam komik Fullmetal Alchemist jilid 26-27 karya Hiromu Arakawa.Hasil penelitian ini ditemukan adanya 47 data pergeseran penerjemahan. Diantaranya terdapat 16 data pergeseran kelas kata, 21 data pergeseran satuan sintaksis, 8 data pergeseran makna bernuansa umum menjadi makna bernuansa khusus atau sebaliknya, dan 2 data pergeseran dengan membelah struktur subjek atau sebaliknya.
MAKNA SIMBOL PATUNG ANJING DALAM FILM HIGH SCHOOL DEBUT KARYA SUTRADARA TSUTOMU HANABUSA KHOLILA, FITRIYA HARISA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 8 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.983 KB)

Abstract

Kata Kunci: Film, Semiotik, Ikon, Indeks, Simbol Penelitian yang berjudul Analisis Simbol Patung Anjing Dalam Film High School Debut Karya Sutradara Tsutomo Hanabusa bertujuan untuk menganalisis makna dari simbol patung anjing yang digunakan sebagai latar dalam film tersebut. Berdasarkan alasan tersebut, maka dalam penelitian ini ditentukan beberapa rumusan masalah yaitu apa saja ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam film High School Debut dan apa makna dari simbol patung anjing dalam film tersebut. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini menggunakan teori Semiotik Charles Sanders Pierce.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ikon, indeks, dan simbol serta mengetahui makna simbol patung anjing dalan film High School Debut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa simbol patung anjing berwajah manusia menginterpretasikan sosok Haruna. Haruna yang mempunyai sifat gigih dalam menanti seorang kekasih disimbolkan kepada patung anjing Hachiko. Hachiko sendiri terkenal dengan kesetiaanya kepada majikan. Persamaan antara karakter Haruna, Hachiko, dan isi dari cerita yang memberikan pesan kesetiaan membuat ketiga aspek saling berkaitan. Ikon dalam film ini adalah sosok Haruna, Yoh, dan patung anjing Hachiko berwajah manusia. Keberadaan Haruna dan patung anjing Hachiko berwajah manusia yang sering terlihat di setiap adegan menjadi indeks bahwa adanya suatu kemiripan antara Haruna dan  patung anjing. Setiap adegan penantian Haruna yang begitu panjang untuk mendapatkan kekasih menjadi simbol dari kesetiaan seorang wanita.Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti film ini dengan teori yang berbeda, misalnya menggunakan teori psikologi. Penelitian ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan teori semiotik dari Roland Barthes atau Ferdinand de Saussure.  
PRODUSER SEBAGAI PEMILIK KEKUASAAN DALAM INDUSTRI MUSIK PADA ANIME BECK KARYA SUTRADARA OSAMU KOBAYASHI PERMANA, GIRINDRA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.987 KB)

Abstract

Kata Kunci: Anime, Beck, Marxisme, Produser, Kekuasaan, Industri MusikMusik adalah salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Saat ini banyak pekerjaan yang ada di bidang musik salah satunya adalah produser musik. Produser adalah orang yang mempunyai visi kemana musisi akan diarahkan. Produser musik berperan penting dalam berkembangnya atau jatuhnya karir musisi.Dalam penelitian ini penulis menggunakan anime Beck sebagai sumber data. Fokus peneleitian kali ini ialah menganalisa gambaran produser sebagai pemilik kekuasaan dalam industri musik. Produser memiliki hal yang mendukung mereka untuk menjadi pemilik kekuasaan dalam industri musik seperti dana, nama label besar, dan relasi–relasi dalam industri musik.Hasil dari penelitian ini mendapatkan gambaran produser sebagai pemilik kekuasaan dalam industri musik pada anime Beck karya sutradara Osamu Kobayashi. Gambaran produser sebagai pemilik kekuasaan ada pada tahapan tahapan pengangkatan musisi menjadi artis label, pengarahan dan pembangunan popularitas artis. Tidak hanya itu, kekuasaan produser juga tergambar pada saat produser menjadi pengorganisir festival musik. Selain itu produser menerapkan kekuasaannya untuk mengalienasi musisi yang menjadi saingan dari artis yang dibesutnya.Anime Beck tidak hanya dapat dianalisa dari sudut pandang produser sebagai pemilik kekuasaan saja. Anime ini juga dapat dianalisa melalui pendekatan sosiologi sastra. Fokus penelitian selanjutnya dapat menekankan pada perkembangan musik Jepang yang ada di anime ini.
PEMBENTUKAN GAIRAIGO DALAM MAJALAH HIRAGANA TIMES NO. 298 TAHUN 2011 ANDOKO, LINGGA SURYA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.546 KB)

Abstract

Kata Kunci : Gairaigo, Majalah, Hiragana Times Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi antar individu maupun kelompok. Bahasa terus berkembang dari zaman ke zaman, sehingga dimanapun dan kapanpun selalu ditemukan kosakata baru di dalam suatu bahasa. Dalam penelitian ini penulis menjawab dua rumusan masalah yaitu  (1) Apa saja jenis pembentukan gairaigo yang ada dalam majalah Hiragana Times Edisi No. 298 Tahun 2011 ? (2) Bagaimanakah frekuensi kemunculan jenis pembentukan gairaigo dalam majalah Hiragana Times Edisi No. 298 Tahun 2011 ?Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah kata serapan yang terdapat dalam majalah Hiragana Times Edisi No. 298 Tahun 2011. Analisis yang dilakukan adalah dengan melakukan klasifikasi terhadap kosakata, tabulasi, dan analisis data.Di dalam sumber majalah Hiragana Times Edisi No. 298 Tahun 2011 ditemukan 87 kata serapan yang terdiri dari 4 kata yang termasuk dalam pembentukan kata secara afiksasi, 2 kata yang temasuk dalam pembentukan dengan cara penyingkatan, dan yang terakhir adalah 63 kata dengan pembentukan kata dengan tanpa penyingkatan. Dari 4 kata yang termasuk dalam jenis pembentukan kata dengan penambahan afiksasi yaitu 3 kata yang termasuk dalam penambahan sufiks 〜する(~suru) dan 1 kata yang termasuk dalam pembentukan kata dengan penambahan sufiks (〜な)(~na). Lalu dari 20 kata yang termasuk dalam proses penyingkatan kata, terdapat 14 kata yang termasuk dalam penyingkatan morfem fungsi, 5 kata yang termasuk dalam penyingkatan sebagian, dan 1 kata yang termasuk dalam penyingkatan majemuk. Dari hasil analisis, bentuk gairaigo yang paling sering muncul adalah bentuk gairaigo tanpa penyingkatan yaitu sebanyak 63 kata serapan.Penelitian serupa dapat dilakukan dengan cara ditemukannya lebih banyak lagi pembentukan kata dengan cara wasei gairaigo dan pencampuran. Selain itu juga ditemukannya pembentukan kata gairaigo yang berasal dari bahasa lain selain bahasa Inggris.
WAKAMONO KOTOBA DALAM KOMIK ORESAMA TEACHER VOL.1 KARYA TSUBAKI IZUMI ROSYIDAH, NADHIFATUR
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.957 KB)

Abstract

Kata Kunci: Wakamono Kotoba, Komik, Morfologi. Wakamono kotoba adalah bahasa yang dipakai oleh anak muda Jepang dalam lingkungannya. Dengan adanya kata-kata baru yang merupakan bentukan dari wakamono kotoba, maka dengan membaginya kedalam pembagian jenis kata akan lebih memudahkan untuk memahami wakamono kotoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) termasuk dalam jenis kata apakah wakamono kotoba yang terdapat dalam komik Oresama Teacher Vol. 1 (2) bagaimana proses pembentukan wakamono kotoba yang terdapat dalam komik Oresama Teacher Vol.1.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang diteliti adalah komik Oresama Teacher vol. 1 yang berisi tentang wakamono kotoba. Analisa dilakukan dengan mengidentifikasi kosakata wakamono kotoba, tabulasi sesuai dengan pembagian jenis kata dan deskripsi hasil.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dari 37 wakamono kotoba yang berhasil ditemukan, wakamono kotoba yang terdiri atas doushi sebanyak 7 kata, keiyoushi sebanyak 6 kata, keiyoudoushi sebanyak 1 kata, meishi sebanyak 14 kata, fukushi sebanyak 4 kata, kandoushi sebanyak 3 kata dan setsuzokushi sebanyak 2 kata. (2) Dalam wakamono kotoba yang sudah ditemukan, diketahui bahwa wakamono kotoba tersebut mengalami pemendekan, (3) perubahan bunyi pada akhir kata, (4) wakamono kotoba yang mengalami pergeseran makna.Untuk penelitian selanjutnya, penulis menyarankan untuk menggunakan media selain komik sebagai misalnya penutur asli Jepang agar wakamono kotoba yang diteliti lebih sesuai dengan perkembangan wakamono kotoba saat ini.
PENGGUNAAN NINSHOU DAIMESHI OLEH TOKOH PRIA DALAM SERIAL ANIME NURARIHYON NO MAGO EPISODE 6-10 PUTRI, DYAH AYU RAHMATIKA MAYOGYA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.555 KB)

Abstract

Kata Kunci : masyarakat, ninshou daimeishi, tokoh pria, anime.Penggunaan Bahasa Jepang dalam ragam lisan bisa didasari oleh hubungan bermasyarakat masyarakat Jepang yaitu antara lain hubungan pria dan wanita, hubungan uchi dan soto serta hubungan vertikal dan horizontal. Ninshou daimeishi adalah kata-kata yang menyatakan persona. Ninshou daimeishi terdiri dari tiga jenis, yaitu jishou, taishou dan tashou. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu, (1) Ninshou daimeshi apa saja yang digunakan oleh tokoh pria dalam serial anime Nurarihyon no Mago episode 6-10, (2) Bagaimana penggunaan ninshou daimeishi yang digunakan oleh tokoh pria dalam serial anime Nurarihyon no Mago episode 6-10 dilihat dari konsep masyarakat Jepang?Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Adapun teknik yang digunakan adalah teknik simak yang menghasilkan data sebanyak 170 kalimat.Berdasarkan hasil penelitian, ninshou daimeishi yang ditemukan adalah jenis jishou sebanyak 96 kalimat, taishou 54 kalimat, dan tashou 20 kalimat. Adapun fungsi penggunaannya bermacam-macam, contohnya sebagai bentuk penghormatan atau merendahkan, menyatakan penegasan, menunjukkan kesan akrab, maskulin, kasar, tidak sopan, atau sombong atau menyatakan kekesalan.Penulis beharap agar penelitian selanjutnya mengenai ninshou daimeishi menggunakan objek bahasa lisan langsung dari native karena penggunaan ninshoudaimeishi yang beragam.
KESALAHAN PENGGUNAAN KEIGO PADA MAHASISWA SASTRA JEPANG ANGKATAN 2010 UNIVERSITAS BRAWIJAYA ANESTYA, AULIA ALFARABI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.613 KB)

Abstract

Kata Kunci: Bahasa, Keigo, Analisis Kesalahan. Keigo merupakan karakteristik bahasa Jepang yang tidak ditemukan padanan maknanya dalam bahasa Indonesia. Penggunaan keigo yang harus memperhatikan uchi-soto terlebih dahulu dengan lawan bicara menyebabkan banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar bahasa Jepang. Penulis selanjutnya melakukan analisis kesalahan dengan tujuan mengetahui jenis dan penyebab kesalahan yang sering terjadi dalam penggunaan keigo oleh mahasiswa Sastra Jepang angkatan 2010 Universitas Brawijaya.Penelitian ini merupakan bentuk penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan instrumen penelitian berupa tes dan angket. Sumber data penelitian ini berupa hasil tes dan angket yang dikerjakan oleh sampel yang berjumlah 30 orang. Analisis data menggunakan tabulasi lalu menetapkan jenis dan penyebab kesalahan.Pada hasil penelitian ditemukan jenis kesalahan yang terjadi adalah kesalahan penerimaan, kesalahan perorangan, kesalahan kelompok, kesalahan sosial, kesalahan menganalogi, dan kesalahan lokal. Sedangkan penyebab kesalahan yang terjadi adalah pendapat populer, bahasa ibu, lingkungan, kebiasaan, dan interferensi. Pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan teori jenis dan penyebab kesalahan, juga cara pengukuran validitas dan realibilitas yang berbeda.
UNGKAPAN PENOLAKAN DALAM SERIAL DRAMA “ITAZURA NA KISS LOVE IN TOKYO” KARYA TADA KAORU MAKNUNAH, DURROTUL
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.069 KB)

Abstract

Kata Kunci : penolakan, maksim, maksim kearifan. Bahasa adalah sarana komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Penggunaan bahasa yang baik dapat memudahkan seseorang untuk menyampaikan maksud yang dapat dimengerti oleh lawan bicara. Contohnya ketika berinteraksi dengan orang lain, pasti sering mengekspresikannya dengan terkejut, marah, gembira ataupun menolak tawaran dari lawan bicara. Terdapat dua macam ungkapan penolakan dalam bahasa Jepang yaitu ungkapan langsung dan tidak langsung. Salah satu contoh bentuk ungkapan penolakan bahasa Jepang dapat dilihat dalam serial drama “Itazura Na Kiss Love in Tokyo”.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui level ungkapan penolakan menurut Akiko dan apa makna yang ditimbulkan ungkapan penolakan dilihat dari maksim kearifan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.Hasil penelitian ditemukan 36 data yaitu ungkapan penolakan dalam bentuk penolakan langsung 20 data dan bentuk penolakan tidak langsung 16 data dalam bentuk kalimat yang berbeda-beda seperti kalimat berita, kalimat negatif, kalimat perintah, ungkapan penyesalan, ungkapan keinginan, ungkapan terima kasih, dan dalam bentuk alasan dan pujian. Juga terdapat penolakan sopan berjumlah 18 data dan makna penolakan tidak sopan 18 data.Peneliti selanjutnya diharapkan menggali lagi ungkapan selain ungkapan penolakan seperti ungkapan terimakasih dan ungkapan persetujuan. Objek kajian selain drama juga bisa dilakukan.
STUDI KOMPARATIF UNSUR PEMBENTUK DRAMA TRADISIONAL JEPANG NOH DAN WAYANG TOPENG MALANGAN INDONESIA BHERTI, CHAULA IMANITA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.365 KB)

Abstract

Kata kunci : Studi Komparasi, Drama, Wayang Topeng Malangan, Noh. Kebudayaan menghasilkan berbagai macam gagasan yang terimplementasikankedalam kehidupan bermasyarakat, salah satunya adalah sastra. Dalam sastra, drama merupakan produk yang paling kompleks karena terdapat berbagai macam unsur pembentuk di dalamnya. Seiring berkembangnya zaman, drama bertransformasi menjadi berbagai macam bentuk di seluruh dunia. Salah satunya Noh di Jepang dan Wayang Topeng Malangan di Indonesia. Kedua drama ini jika dilihat secara sekilas memiliki persamaan yang cukup mencolok meskipun berkembang di negara yang berbeda.Pada penelitian kali ini, penulis menggunakan metode Studi Komparatif yang akan membandingkan unsur pembentuk yang ada dalam kedua drama ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan serta perbedaan di dalam kedua drama iniserta mengetahui apakah terdapat keterkaitan di antaranya.Hasil penelitian kali ini menunjukkan persamaan dan perbedaan dalam Wayang Topeng Malangan dan Noh. Serta adanya keterkaitan dalam pengaruh ajaran Hindu-Budha yang berpusat di India pada keberadaan kedua bentuk drama ini.  
KEADVERSATIFAN KALIMAT PASIF DALAM NOVEL KAMISAMA NO MEMOCHOU VOLUME 1 KARYA SUGII HIKARU ROZANI, DANANG FADIAN
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.465 KB)

Abstract

Kata kunci: Kalimat Pasif Adversatif, Keadversatifan. Dalam kehidupan sosial masyarakat, manusia memerlukan bahasa untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa jugaberperan sebagai alat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Salah satu bahasa yang saat ini cukup diminati di Indonesia adalah bahasa Jepang yang dilatarbelakangi banyaknya perusahaan Jepang yang memerlukan tenaga kerja di Indonesia. Banyak hal yang harus dipelajari dalam bahasa Jepang, mulai dari segi kebahasaan sampai budaya Jepang. Bahasa yang dipelajari melalui linguistik memiliki beberapa kajian, salah satunya adalah sintaksis yang mempelajari tentang kata dan kalimat. Dalam bahasa Jepang terdapat keunikan pada kalimat pasif yang menyatakan keadversatifan (meiwaku) sehingga juga disebut kalimat pasif adversatif, dimana di dalam kalimat tersebut dapat dianalisis peran-peran yang terlibat di dalam keadversatifan kalimat pasif. Dalam penelitian ini, penulis menganalisis 2 rumusan masalah yaitu, (1) Bagaimana peran keadversatifan kalimat pasif dalam novel Kamisama No Memochou Volume 1 karya Sugii Hikaru? (2) Bagaimana peran pendamping kalimat pasif yang muncul dalam novel Kamisama No Memochou Volume 1 karya Sugii Hikaru? Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan berupa kalimat pasif tidak langsung (kalimat pasif adversatif) yang terdapat dalam novel berbahasa Jepang yang berjudul Kamisama no Memochou Volume 1 karya Sugii Hikaru. Prosedur analisis yang dilakukan adalah dengan melakukan klasifikasi terhadap seluruh kalimat pasif dan diperoleh data berupa kalimat pasif tidak langsung (kalimat pasif adversatif) untuk dianalisis peran keadversatifan dan peran pendampingnya. Hasil analisis terhadap data diperoleh kalimat pasif tak langsung (kalimat pasif adversatif) sejumlah 20 kalimat yang terdiri dari 6 kalimat pasif adversatif dari verba transitif dan 14 kalimat adversatif dari verba intransitif. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa di dalam keadversatifan kalimat pasif selalu melibatkan peran keadversatifan (benefaktif, agentif dan pasif). Dari hasil penelitian juga ditemukan 18 data yang melibatkan peran pendamping sebagai pelengkap keadversatifan kalimat pasif dan 2 data yang tidak melibatkan peran pendamping keadversatifan.Penelitian serupa dapat dilakukan dengan menganalisis juga bagaimana struktur fungsi dan kategori kalimat pasif adversatif tersebut sehingga seluruh tataran sintaksis dalam kalimat pasif adversatif dapat diidentifikasi.

Filter by Year

2013 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 1, No 1 (2017) Vol 2, No 10 (2015) Vol 1, No 10 (2015) Vol 3, No 6 (2015) Vol 3, No 5 (2015) Vol 3, No 4 (2015) Vol 3, No 3 (2015) Vol 3, No 2 (2015) Vol 3, No 1 (2015) Vol 2, No 9 (2015) Vol 2, No 8 (2015) Vol 2, No 7 (2015) Vol 2, No 6 (2015) Vol 2, No 5 (2015) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 9 (2015) Vol 1, No 8 (2015) Vol 1, No 7 (2015) Vol 1, No 6 (2015) Vol 1, No 5 (2015) Vol 1, No 4 (2015) Vol 1, No 3 (2015) Vol 1, No 2 (2015) Vol 1, No 1 (2015) Vol 6, No 10 (2014) Vol 5, No 10 (2014) Vol 4, No 10 (2014) Vol 4, No 10 (2014) Vol 3, No 10 (2014) Vol 7, No 8 (2014) Vol 7, No 7 (2014) Vol 7, No 6 (2014) Vol 7, No 5 (2014) Vol 7, No 4 (2014) Vol 7, No 3 (2014) Vol 7, No 3 (2014) Vol 7, No 2 (2014) Vol 7, No 1 (2014) Vol 6, No 9 (2014) Vol 6, No 8 (2014) Vol 6, No 7 (2014) Vol 6, No 6 (2014) Vol 6, No 5 (2014) Vol 6, No 4 (2014) Vol 6, No 3 (2014) Vol 6, No 2 (2014) Vol 6, No 1 (2014) Vol 5, No 9 (2014) Vol 5, No 8 (2014) Vol 5, No 7 (2014) Vol 5, No 6 (2014) Vol 5, No 5 (2014) Vol 5, No 5 (2014) Vol 5, No 4 (2014) Vol 5, No 3 (2014) Vol 5, No 2 (2014) Vol 5, No 1 (2014) Vol 4, No 9 (2014) Vol 4, No 8 (2014) Vol 4, No 7 (2014) Vol 4, No 6 (2014) Vol 4, No 5 (2014) Vol 4, No 4 (2014) Vol 4, No 3 (2014) Vol 4, No 2 (2014) Vol 4, No 1 (2014) Vol 3, No 9 (2014) Vol 3, No 8 (2014) Vol 3, No 7 (2014) Vol 3, No 6 (2014) Vol 3, No 5 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 2, No 10 (2013) Vol 1, No 10 (2013) Vol 3, No 1 (2013) Vol 2, No 9 (2013) Vol 2, No 8 (2013) Vol 2, No 7 (2013) Vol 2, No 6 (2013) Vol 2, No 5 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 9 (2013) Vol 1, No 8 (2013) Vol 1, No 7 (2013) Vol 1, No 6 (2013) Vol 1, No 5 (2013) Vol 1, No 4 (2013) Vol 1, No 3 (2013) Vol 1, No 2 (2013) Vol 1, No 1 (2013) More Issue