cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Mahsiswa Fakultas Ilmu Budaya.
Arjuna Subject : -
Articles 975 Documents
A STUDY OF SEMIOTICS ON CONNOTATIVE MEANING IN THE WORLD WIDE FUND FOR NATURE (WWF) ADVERTISING CAMPAIGN ON CLIMATE CHANGES PUSPITA, AJENG RATNA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.864 KB)

Abstract

Keywords: Semiotics, Connotative Meaning, WWF, Advertising, Climate Changes. World Wide Fund for Nature (WWF) is one of the world's largest conservation  organizations established in more than 100 countries. WWF has more than 100 advertisements that aim to invite the community in protecting and preserving the environment and habitat. One themes from the advertisements is about climate change. Their advertisement usually uses an interesting images and utterances that have meanings inside it. In this study, the researcher analyzed these images and utterances based on the theory that it used. Furthermore, the researcher proposed two problems of the study, (1) What the signifier and signified found in the WWF advertisement campaign published under climate changes are (2) What the connotation meaning found in the WWF advertisement campaign published under climate changes is. This study uses a qualitative approach to uncover the occurrence in document analysis. The researcher applies the theory of Ferdinand de Saussure (quoted fromChandler, 2007, p.14) which divides the model of the sign into signifier and signified. The researcher also uses the theory of Roland Barthes (quoted in Chandler, 2007, p.137) which describe that in semiotics, denotation and connotation are terms that describe the relationship between the signified and the signifier.The study results shows that advertisement from the World Wide Fund for Nature(WWF) has signifier and signified differently in each advertisement. However, WWF has the same goal in making these advertisements that persuade people to concerned more about environmental issues and their habitats such as over fishing, global warming, illegal logging, and save animals from extinction.The researcher suggests the next researchers who want to do the same research andtheory use a different research subject participant. In the next studies, other researchers may be able to use movie, novels, brand products, or television advertising as the subject.
KEMAMPUAN MEMAHAMI LAMBANG BUNYI ONOMATOPE PLOSSIVE PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG PESERTA BENKYŌKAI JLPT LEVEL N2 TAHUN 2013 ANGRENI, WIRASTI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.083 KB)

Abstract

Kata kunci: Onomatope, Lambang bunyi, Plossive, Voiceless sound, Voiced sound Lambang bunyi bahasa Jepang memiliki sebuah perbedaan image bunyi besarkecil yang ditimbulkan oleh perbedaan pasangan hurufnya. Pasangan huruf yang diteliti disini adalah plossive (破裂音/haretsuon). Dalam bahasa Jepang lambangbunyi pada plossive dibedakan menjadi voiceless sound ( 無声音/musei-on) danvoiced sound (有声音/yūsei-on). Huruf /p/, /t/, /k/ termasuk dalam voiceless sound sedangkan huruf /b/, /d/, /k/ termasuk dalam dan voiced sound. Image bunyi yangditimbulkan oleh voiceless sound terdengar lebih ringan dari voiced sound. Olehkarena itu, penulis mengadakan penelitian mengenai kemampuan memahamilambang bunyi pada plossive dengan menggunakan pasangan onomatope. Dalampenelitian ini, penulis menjawab dua rumusan masalah yaitu, (1) Apakah pembelajarbahasa Jepang mampu menangkap perbedaan pasangan onomatope jenis plossivebahasa Jepang yang memiliki kemiripan dalam lambang bunyi sistem klasifikasiplossive dalam bahasa ibu. (2) Apakah pembelajar bahasa Jepang dapat menangkapmakna suara besar atau kecil dari onomatope bahasa Jepang jika dilihat dari lambangbunyinya.Penelitian ini berupa penelitian kuantitatif deskriptif yang menggunakan tes. Data yang digunakan merupakan hasil dari soal-soal tes. Analisis dilakukan dengan cara memuat data dalam tabel, membuat grafik dan mendeskripsikan hasil berdasarkan grafik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, responden cukup mampu dalam memahami lambang bunyi dan menangkap makna suara besar atau kecil dari onomatope jika dilihat dari lambang bunyinya. Namun jika dilihat secara detail ada beberapa pasangan onomatope yang responden kurang mampu memahami dikarenakan persentase yang dipilih responden untuk jawaban benarlebih sedikit dibandingkan jawaban lainya. Sehingga hal ini membuktikan bahwa onomatope jikadilihat dari lambang bunyinya memiliki bagian yang bersifat universal dan bagianyang individual.Penulis menyarankan kepada Program Studi Sastra Jepang sebaiknya memberikan pengetahuan mengenai onomatope jika ditilik dari segi lambang bunyi dan pengaruh kesan/image yang ditimbulkan pada pasangan lambang bunyi tersebut kepada mahasiswa. Agar penelitian mengenai lambang bunyi yang masih sedikit dapat dikembangkan lebih.
KESANTUNAN UNGKAPAN PERMINTAAN MAAF BAHASA JEPANG (Studi Kasus Mahasiswa Jepang Peserta Tabunka Kouryuu in Malang) LINDIASARI, IRLYANA SEFTYA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.546 KB)

Abstract

Kata Kunci: Kesantunan, Tingkatan Sosial, Ungkapan Maaf, Tabunka Kouryuu inMalang.Manusia yang sangat beragam menyebabkan bahasa yang digunakan manusia juga beragam. Tingkatan sosial yang ada dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap beragamnya bahasa. Hal itu juga menyebabkan kesantunan bahasa yang digunakan manusia akan berbeda jika lawan tutur berbeda. Sebagai contoh yaitu penggunaan ungkapan maaf  bahasa Jepang yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Tingkatan sosial lawan tutur akan mempengaruhi tingkat kesantunan dari kata ungkapan maaf yang dipilih masyarakat Jepang. Melihat beragamnya ungkapan maaf bahasa Jepang tersebut, maka penulis memilih mahasiswa peserta tabunka kouryuu in Malang sebagai responden karena ingin mengetahui ungkapan maaf yang mereka gunakan. Dalam penelitian ini penulis menjawab 2 rumusan masalah yaitu, (1) Ungkapan maaf dalam bahasa Jepang apa saja yang sering digunakan oleh mahasiswa peserta Tabunka Kouryuu in Malang dalam berkomunikasi (2) bagaimana pengaruh tingkat sosial masyarakat Jepang terhadap tingkat kesantunan penggunaan ungkapan maaf bahasa Jepang yang digunakan oleh mahasiswa peserta Tabunka Kouryuu in Malang.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian  ini  adalah  kualitatif deskriptif. Sumber data adalah kuisioner yang dibagikan kepada responden yaitu mahasiswa peserta tabunka kouryuu in Malang sebanyak 24 responden. Analisis yang dilakukan adalah dengan  mengklasifikasikan data dari jawaban pada kuisioner menggunakan angka dan grafik.Pada  hasil  penelitian,  ditemukan penggunaan ungkapan permintaan maaf bahasa Jepang oleh mahasiswa peserta tabunka kouryuu in Malang cenderung sering yaitu sebanyak 4-10 kali dalam sehari. Terdapat 13 ragam ungkapan permintaan maaf bahasa Jepang yang sering digunakan yaitu “gomen”,” gomen ne”, “gomennasai”, “sumimasen”, “suman”, “suimasen”, “moushiwake arimasen”, “moushiwake nai”, “moushiwake gozaimasen”, “warui”, “warui ne”, “otesuu wo okakemasu”, serta “osore irimasu”. Ditemukan juga bahwa tingkat sosial lawan tutur sangat berpengaruh  terhadap pilihan kata serta tingkat kesantunan ungkapan maaf yang digunakan.
KEIGO DALAM DRAMA NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO EPISODE 1-3 GUNAWAN, ANIKA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.601 KB)

Abstract

Kata Kunci : keigo, drama Di Jepang selain hanya menggunakan satu bahasa, memiliki keunikan lain dalam bahasanya tersebut, yaitu adanya ragam bahasa hormat ( keigo ). Bahasahormat merupakan ungkapan untuk menghormati lawan tutur tergantung padasituasi apa dan siapa lawan tuturnya. Di dalam keigo itu sendiri terdapat sonkeigo,kenjougo, teineigo, dan bikago sebagai pilihan bahasa tergantung kepada siapalawan tuturnya. Sonkeigo digunakan untuk meninggikan lawan tutur, kenjougo digunakan untuk merendahkan diri penutur dihadapan lawan tuturnya, teineigo hanya digunakan untuk meninggikan lawan tutur, sedangkan bikago selain digunakan untuk meninggikan lawan tutur juga untuk memperindah bahasa sipenutur. Selain digunakan untuk menghormati lawan tutur, tergantung padasituasinya, keigo ini juga memiliki peranan lain, seperti menyindir lawan tuturUntuk itu peneliti melakukan penelitian mengenai peranan lain tersebut denganmemakai sumber data drama berjudul Nihonjin no Shiranai Nihongo episode 1-3.Tujuan dari penelitian ini (1) untuk mengetahui keigo apa saja yang terdapadalam drama Nihonjin no Shiranai Nihongo episode 1-3 (2) untuk mengetahui peran keigo apa yang muncul dalam drama Nihonjin no Shiranai Nihongo episode1-3. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ditemukan 149 keigo, 27 dari jenis sonkeigo, 5 dari jenikenjougo, 113 dari jenis teineigo, dan 4 dari jenis bikago dalam drama Nihonjinno Shiranai Nihongo episode 1-3. Sedangkan peran yang muncul dari keigo tersebut adalah menyatakan penghomatan, menjaga jarak, menyatakan kasih sayang guru kepada murid, dan menyatakan sindiran terhadap lawan bicaranamun tidak ditemukan peran yang menyatakan perasaan formal dan menjagamartabat penutur. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat menemukan peranan lain keigo yang tidak ditemukan dalam penelitian ini dengan menggunakan sumbedata lain seperti dokumenter, buku maupun langsung kepada pembicara bahasa Jepang.
PENGGUNAAN REFERENSI PRONOMINA DEMONSTRATIFPADA CERITA RAKYAT MAHOU HAKUSHI DAN HASHIRE MEROSU MAIMUNAH, AFIFAH
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.557 KB)

Abstract

Kata Kunci : Referensi, Anafora, Katafora, Pronomina demonstratif, Shijishi Sebuah teks ataupun percakapan sering digunakan penunjukan suatu haldengan menggunakan kata ganti tunjuk atau pronomina demonstratif. Penggunaan pronomina demonstratif tersebut mempunyai rujukan atau referensi tehadap hal yang ditunjuk. Penunjukkannya bisa secara anafora (menunjuk pada hal yang muncul sebelumnya) maupun katafora (menunjuk pada hal yang muncul setelahnya). Bahasa Jepang memiliki istilah penunjukan terhadap suatu hal atau bendayang disebut dengan shijishi. Penggunaan shijishi memiliki beberapa fungsi sesuai dengan masing-masing sistem yang dimiliki, yaitu 2 fungsi sistem “Ko”, 2 fungsi sistem “So”¸ dan 2 fungsi sistem “A”. Tujuan dari penelitiana ini adalah untuk mengetahui penggunaan dari referensi pronomina demonstratif pada cerita rakyat Mahou Hakushi dan Hashire Merosu. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menganalisis fungsi perujukan dari pronomina demonstratif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat jenis pronomina demonstratif pada Mahou Hakushi berupa daimeshi sebanyak 77, fukushi sebanyak 39, rentaishi sebanyak 86. Sedangkan, pada Hashire Merosu, daimeishi sebanyak 47, fukushi sebanyak 22, rentaishi sebanyak 48. Dan ditemukan 159 data bunmyakushiji dari cerita Mahou Hakushi dan 93 data dari cerita Hashire Merosu. Dari 159 data terdapat 4 pronomina demonstratif yang merujuk secara katafora. Sedangkan, dari 93 data terdapat 3 pronomina demonstratif yang merujuk secara katafora. Selebihnya merujuk secara anafora. Pronomina demonstratif dalam Mahou Hakushi yang memenuhi fungsi sistem “Ko” sejumlah 56, fungsi sistem “So” sejumlah 99, dan fungsi sistem “A” sejumlah 4. Sedangkan, dalam Hashire Merosu fungsi sistem Ko sejumlah 25, fungsi sistem “So” sejumlah 56, dan fungsi sistem “A” sejumlah 12. Kesimpulan dari penelitian ini sebagian besar pronomina demonstratif pada dua cerita rakyat yang digunakan merujuk secara anafora, dan hanya sebagian kecil yang merujuk secara katafora. Perujukan tersebut dapat dilihat dari jumlah data yang besar pada fungsi sistem “So”, karena ada salah satu fungsi, yaitu mengulang sesuatu yang muncul pada percakapan atau kalimat sebelumnya. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan agar dapat meneliti lebih dalam mengenai referensi pronomina demonstratif dengan sumber data yang berbeda, misalnya film dan komik. Dan juga penelitian mengenai referensi tetapi dengan fokus referensi komparatif dalam bahasa Jepang misalnya, no youna, yori, houga.
REPRESENTASI SOUSHOKUKEI DANSHI YANG TERCERMIN PADA TOKOH MASAMUNE ASUKA DALAM DRAMA OTOMEN KARYA MASAKI TANIMURA WIJAYA, MASRONI ARI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 9 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.535 KB)

Abstract

Kata Kunci : Drama, Representasi, Soushokukei Danshi, Masyarakat Jepang.Skripsi ini membahas tentang representasi Soushokukei Danshi yang tercermin pada tokoh Masamune Asuka dalam drama Otomen. Representasi merupakan hubungan antara konsep dan bahasa yang menggambarkan objek (orang) atau perbuatan yang mewakili secara nyata maupun fiksi ke dalam objek (orang). Drama Otomen menceritakan tentang kelompok pria yang memiliki perilaku feminin.Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan fokus kajian, penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra dari Ian Watt, yaitu sastra sebagai cerminan masyarakat. Pendekatan ini untuk menganalisis representasi SoushokukeiDanshi dalam drama Otomen, serta menggunakan teori mise en scene untuk membantu penulis dalam melakukan penelitian. Analisis dilakukan dengan tahapangambaran tokoh Masamune Asuka yang berupa dialog dan cuplikan adegan dari drama.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada dua karakteristik Soushokukei Danshi yang dibahas di dalam skripsi ini, yaitu karakteristik fisik dan karakteristik non fisik.Penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya, dapat mengunakan teori alih wahana yang membandingkan antara cerita dari komik Otomen dengan cerita dari drama. Bagi pembelajar kebudayaan dan sastra Jepang agar lebih kritis dalam menikmati karya sastra Jepang, karena dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan tentang budaya dan fenomena sosial yang ada di Jepang.
GRAMMATICAL AND CONTEXTUAL CLASSIFICATIONS OF CODE SWITCHING USED BY AGNES MONICA IN “OBAMA DAN INDONESIA EKSKLUSIF” TALK SHOW EFFENDY, ELLA HESTY
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 10 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.505 KB)

Abstract

Keywords: Code Switching, Bilingualism, Obama dan Indonesia Eksklusif Talk Show,Agnes monica, Grammatical Classification, Contextual Classification.To deliver their ideas, people use certain languages to communicate with others. It is not rarely found that people can speak more than one languages. Bilingual and Multilingual tend to use certain codes that they are able by inserting different language when they speak. They switched since they have certain intention, purpose or reason.This study was conducted to find out the using of code switching based on position, to identify the reasons and the factors affecting the using of code switching by Agnes Monica in Obama dan Indonesia Eksklusif talk show. The writer chose Agnes Monica as her object study because as public figure she often uses code switching.This study used qualitative approach and document analysis since the data were collected and analyzed in sentence form. The data were the transcription of Obama dan Indonesia Eksklusif talk show. In this study the writer used Blom & Gumperz (1971) and Holmes (2001) theories to analyze the data.The writer found the type of code switching used by Agnes Monica based on position; 1 inter-sentential code switching and 7 intra-sentential code switching, 3 combination of intra-sentential code switching and inter-sentential code switching, 2 combinations both of intra-sentential code switching and tag code-switching, while for code switching based on motivation that divided into 2 parts, are 4 Situational switching and 7 Metaphorical switching. 2 combinations of Metaphorical and Situational code switching. While for influential factors are Ends, Act Sequence and Key.The writer suggests the next researcher to analyze the use of code switching in real life such as in campaigns or social media.
LEMUEL GULLIVER’S SOCIAL CRITICISMS ON LILIPUT COUNTRY AS THE PORTRAYAL OF ENGLAND IN GULLIVER’S TRAVELS MOVIE LARASMAWATI, LULUK
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 10 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.656 KB)

Abstract

Keyword: criticism, sociology, cultural relativism, ethnocentrismIn the society, there are a lot of different cultures that exist. To say that a culture is correct or incorrect would imply that someone can judge the culture by their own standard of right and wrong. In cultural relativism, all points of view about the standard of culture are equal, and the truth is relative. In Gulliver’s Travels (2010) movie, Gulliver breaks the term of cultural relativism. The Liliputian’s values are not the same with Gulliver’s values as an American. Gulliver thinks that his culture is better than Liliputians, so he gives criticism on the people of Liliput country. The criticism of Lemuel Gulliver does as an American toward the life of people in Liliput country which is portrayal of England, will be main problem in this study.Sociological approach is applied in conducting this study since it focusses on Lemuel Gulliver’s social criticism on Liliput Country as the portrayal of England. To get a wider knowledge about Lemuel Gulliver’s social criticism on England the writer includes some information about American and British society at glance.This study finds that there are some criticisms that Lemuel Gulliver gives on the people of Liliputians: (1)Criticism on Liliputians’s Social Status, (2) Criticism on Liliputians’s custom marriage, (3) Criticism on Liliputians’s rigidity, and (4) Criticism on Liliputians’s architecture. The writer suggests English Department students who want to take the same material object to use other literary theory, such as feminism.
WAKAMONO KOTOBA DALAM DRAMA MY BOSS MY HERO SASMITO, AGENG GINANJAR
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 10 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.001 KB)

Abstract

Kata Kunci: Morfologi, Wakamono Kotoba, Drama Bahasa merupakan alat komunikasi dengan sesama manusia. Salah satu jenis ragam bahasa adalah Wakamono Kotoba. Wakamono kotoba adalah ungkapan yang digunakan oleh pria dan wanita pada usia sekitar akhir 10 tahun sampai 30 tahun di dalam lingkup pertemanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Wakamono Kotoba jenis apa saja yang ada dalam drama My Boss My Hero (2) Bagaimanakah proses pembentukan Wakamono Kotoba yang terdapat dalam drama My Boss My Hero. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diteliti adalah drama My Boss My Hero. Analisis yang digunakan adalah dengan melakukan identifikasi wakamono kotoba, mendeskripsikan sesuai proses pembentukannya dan membuat kesimpulan dari hasil analisa. Dari hasil analisis pada penelitian ini telah ditemukan 26 Wakamono Kotoba 22 data termasuk proses pembentukan Ryakugo atau singkatan, 1 data termasuk dalam pross pembentukan sufiks "ru", 2 data termasuk dalam proses pembentukan Kyouchougo atau penekanan, 1 data yang termasuk dalam Tengi atau penggunaan kata kiasan. Untuk penelitian selanjutnya penulis menyarankan untuk meneliti pembentukan wakamono kotoba pemberian sufiks “raa”, disarankan pula untuk menggunakan penutur asli bahasa Jepang melalui kuisoner.
PERJUANGAN TOKOH HIRAI TAKAKO SEBAGAI SINGLE MOTHER DALAM FILM GIRL KARYA SUTRADARA FUKAGAWA EIYOU WIDITA, GELORA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB Vol 5, No 10 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.658 KB)

Abstract

Kata Kunci : Film, Perjuangan, Single Mother, Sosiologi Sastra Film Girl ini menceritakan tentang empat tokoh wanita. Masing-masing tokoh mempunyai masalah dan perjuangan untuk hidup. Namun penulis mengangkat satu tokoh dari keempat tokoh tersebut, yaitu tentang perjuangan single mother dengan satu orang anak tanpa adanya seorang suami karena perceraian. Perjuangan merupakan sebuah usaha atau upaya yang dilakukan seseorang atau kelompok orang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan melalui proses dan rintangan yang dihadapi yang ada pada lingkungan masyarakat tersebut. Skripsi ini menggunakan teori sosiologi sastra dengan teori pendukung yaitu teori penokohan yang digunakan untuk membahas tokoh Hirai Takako sebagai single mother, serta teori mise en scene yang digunakan untuk menganalisis film. Skripsi ini membahas dua perjuangan yang dilakukan oleh Hirai Takako sebagai single mother, yaitu perjuangan mendidik dan membesarkan anak, serta perjuangan memenuhi kebutuhan ekonomi. Penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan film Girl dengan pendekatan yang berbeda, salah satunya dengan menggunakan teori feminisme untuk menganalisis tokoh-tokoh wanita yang ada dalam film Girl dengan tujuan memperkaya apresiasi dalam karya sastra.

Filter by Year

2013 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 1, No 1 (2017) Vol 2, No 10 (2015) Vol 1, No 10 (2015) Vol 3, No 6 (2015) Vol 3, No 5 (2015) Vol 3, No 4 (2015) Vol 3, No 3 (2015) Vol 3, No 2 (2015) Vol 3, No 1 (2015) Vol 2, No 9 (2015) Vol 2, No 8 (2015) Vol 2, No 7 (2015) Vol 2, No 6 (2015) Vol 2, No 5 (2015) Vol 2, No 4 (2015) Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 9 (2015) Vol 1, No 8 (2015) Vol 1, No 7 (2015) Vol 1, No 6 (2015) Vol 1, No 5 (2015) Vol 1, No 4 (2015) Vol 1, No 3 (2015) Vol 1, No 2 (2015) Vol 1, No 1 (2015) Vol 6, No 10 (2014) Vol 5, No 10 (2014) Vol 4, No 10 (2014) Vol 4, No 10 (2014) Vol 3, No 10 (2014) Vol 7, No 8 (2014) Vol 7, No 7 (2014) Vol 7, No 6 (2014) Vol 7, No 5 (2014) Vol 7, No 4 (2014) Vol 7, No 3 (2014) Vol 7, No 3 (2014) Vol 7, No 2 (2014) Vol 7, No 1 (2014) Vol 6, No 9 (2014) Vol 6, No 8 (2014) Vol 6, No 7 (2014) Vol 6, No 6 (2014) Vol 6, No 5 (2014) Vol 6, No 4 (2014) Vol 6, No 3 (2014) Vol 6, No 2 (2014) Vol 6, No 1 (2014) Vol 5, No 9 (2014) Vol 5, No 8 (2014) Vol 5, No 7 (2014) Vol 5, No 6 (2014) Vol 5, No 5 (2014) Vol 5, No 5 (2014) Vol 5, No 4 (2014) Vol 5, No 3 (2014) Vol 5, No 2 (2014) Vol 5, No 1 (2014) Vol 4, No 9 (2014) Vol 4, No 8 (2014) Vol 4, No 7 (2014) Vol 4, No 6 (2014) Vol 4, No 5 (2014) Vol 4, No 4 (2014) Vol 4, No 3 (2014) Vol 4, No 2 (2014) Vol 4, No 1 (2014) Vol 3, No 9 (2014) Vol 3, No 8 (2014) Vol 3, No 7 (2014) Vol 3, No 6 (2014) Vol 3, No 5 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 2, No 10 (2013) Vol 1, No 10 (2013) Vol 3, No 1 (2013) Vol 2, No 9 (2013) Vol 2, No 8 (2013) Vol 2, No 7 (2013) Vol 2, No 6 (2013) Vol 2, No 5 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 9 (2013) Vol 1, No 8 (2013) Vol 1, No 7 (2013) Vol 1, No 6 (2013) Vol 1, No 5 (2013) Vol 1, No 4 (2013) Vol 1, No 3 (2013) Vol 1, No 2 (2013) Vol 1, No 1 (2013) More Issue