cover
Contact Name
Dr. Wening Udasmoro, M.Hum, DEA
Contact Email
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Editorial Address
Post-graduate program of literature of the Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Poetika: Jurnal Ilmu Sastra
Core Subject : Humanities, Art,
POETIKA: Jurnal Ilmu Sastra publishes academic articles within the scope of literary criticism (limited to poem, prose, drama, oral tradition, and philology). The articles cover the form of a result on specific analysis; academic reports; closed reading; and the application of certain theories to enrich literary study.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2020): Issue 1" : 8 Documents clear
Dampak dan Fungsi Mite Semar Bagi Kehidupan Masyarakat Lereng Gunung Arjuna Muhammad Faisal Aristama; Eggy Fajar Andalas; Sugiarti Sugiarti
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.55300

Abstract

Mite Semar hidup di masyarakat lereng Gunung Arjuna. Mite Semar dianggap sebagai cerita suci yang dipercaya kebenarannya oleh masyarakat lereng gunung Arjuna. Keberadaan mite dalam kehidupan masyarakat kolektif ini memiliki dampak dan fungsi terhadap kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak dan fungsi mite Semar bagi kehidupan masyarakat lereng gunung Arjuna. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi. Penelitian dilakukan selama tiga bulan di dusun Tambakwatu desa Tambaksari Kecamatan Pasuruan Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mite Semar memiliki dampak terhadap tradisi yang hidup di masyarakat. Hal ini berkaitan dengan integrasi nilai-nilai spiritual dan sosial yang ada pada tokoh Semar ke dalam tradisi yang ada. Selain itu, mite semar memiliki fungsi sebagai alat pendidikan generasi muda, perekat ikatan sosial, dan alat kontrol sosial masyarakat.  
Hasrat Pengarang dalam Novel Gentayangan Karya Intan Paramaditha: Kajian Psikoanalisis Jacques Lacan Laras Puspa Arum; Pujiharto Pujiharto
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.56469

Abstract

Novel Gentayangan merupakan novel karya Intan Paramaditha yang menggambarkan kehidupan warga negara ketiga yang bepergian dan hidup di negara pertama. Intan Paramaditha merupakan seorang warga negara ketiga yang telah lebih dari satu dekade hidup berpindah tempat dari satu kota dan negara. Makalah ini meneliti tentang hasrat Intan Paramaditha yang termanifestasikan dalam novel Gentayangan. Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan teori dan metode psikoanalisis Lacan. Psikoanalisis Lacan membahas hasrat manusia yang diungkapkan melalui bahasa atau penanda melalui mekanisme metafora dan metonimia. Hasil penelitian membuktikan bahwa novel Gentayangan adalah manifestasi hasrat dan kekurangan Intan sebagai pengarang melalui hasrat untuk menjadi (narsistik) dan hasrat untuk memiliki (anaklitik) demi mencapai keutuhan diri. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa sebagai subjek berhasrat dan berkekurangan, Intan melakukan perlawanan terhadap Yang Simbolik (hukum) melalui novel Gentayangan, dengan demikian dalam teori psikoanalisis Lacan, Intan Paramaditha adalah subjek maskulin yang mengalami pengebirian oleh adanya hukum atas nama ayah (ayah simbolik).
Dekonstruksi Novel Olenka Karya Budi Darma Muhammad Nur Hanif
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.56473

Abstract

Penelitian-penelitian terdahulu terhadap novel Olenka menyatakan bahwa tokoh-tokoh dalam novel tersebut tidak memiliki eksistensi; tidak hadir. Dari sudut pandang semacam itu, narator kemudian tampak seolah noneksistensialis dan antilogosentris. Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut mengimplikasikan idealisasi atas eksistensi itu sendiri. Dengan menggunakan perspektif Jacques Derrida, penelitian ini berupaya menggugat kembali temuan-temuan tersebut melalui analisis konstruksi struktur dan dekonstruksi struktur novel Olenka. Sebab, bagi Derrida, implikasi idealisasi eksistensialisme seperti identitas (tokoh) yang tetap, stabil, tunggal, serta murni mengindikasikan logosentrisme. Penelitian ini menemukan logosentrisme yang beroperasi dalam konstruksi jaringan oposisi hierarkis. Konstruksi itu sering kali tersembunyi dan terepresi. Penyembunyian atau represi tersebut dilakukan melalui eksklusi dan inklusi. Struktur novel Olenka dikonstruksi secara logosentris dengan pemosisian seorang tokoh bernama Wayne Danton sebagai prototipe logos (senter atau pusat). Setelah prosedur dekonstruktif diterapkan, dapat diamati bahwa Wayne Danton ternyata tidak pernah ada atau hadir secara murni dan penuh sebab identitasnya selalu bergerak, berubah, serta terus-menerus mengacu dan bergantung pada identitas (tokoh) lain sehingga tidak pernah mencapai final. Dengan kata lain, penelitian ini mengungkap intensi narator novel Olenka terhadap logosentrisme.Kata kunci: logosentrisme, dekonstruksi, identitas, eksklusi, inklusi Previous studies of Olenka's novels state that the characters in the novel lacked existence; not present. From such a perspective, the narrator then appears to be a non-existentialist and anti-logocentric. However, these studies imply idealization of existence itself. By using the perspective of Jacques Derrida, this study seeks to recriticize these findings through an analysis of the construction and deconstruction of Olenka’s novel structure. Because, for Derrida, the implication of existentialism idealization such as identity (character) which is permanent, stable, single, and pure indicates logocentrism. This study found logocentrism which operates in the construction of hierarchical opposition networks. The construction is often hidden and repressed. The concealment or repression is carried out through exclusion and inclusion. The structure of Olenka's novel is constructed logocentrically by positioning a character named Wayne Danton as the prototype of the logos (central or center). After the deconstructive procedure is implemented, it can be observed that Wayne Danton apparently never existed or was present purely and fully. Because, his identity is always moving, changing, and constantly referring to and dependent on the identity of other (figures) so that it never reaches the final. In other words, this study reveals the intention of Olenka's narrator novel towards logocentrism.Keywords: logocentrism, deconstruction, identity, exclusion, inclusion
Desakralisasi dan Delegitimasi Konsep Kepemimpinan Jawa dalam Novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Karya Yusi Avianto Pareanom Nafisah Nafisah
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.56501

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap ideologeme yang terdapat di dalam novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi. Analisis ideologeme novel ini menggunakan teori intertekstual Julia Kristeva. Kristeva mengungkap dua metode untuk melihat ideologeme, yakni menggunakan analisis suprasegmental dan analisis intertekstual. Analisis suprasegmental berfokus kepada teks (kata, frasa, dan kalimat) di dalam novel, sedangkan analisis intertekstual digunakan untuk melihat hubungan novel tersebut dengan teks-teks historisnya. Penemuan ideologeme dengan memanfaatkan teks-teks historis, kemudian digunakan untuk membantu memproduksi makna novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi. Novel ini memanfaatkan teks historis Babad Tanah Jawa. Dengan menggunakan cara pandang oposisi, transformasi, dan transposisi, maka ditemukan bahwa novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi merupakan usaha Pareanom untuk mendesakralisasi dan mendelegitimasi konsep kepemimpinan Jawa. 
Lacan dan Cermin Hasrat 'Aku' Lirik dalam Kumpulan Sajak Aku Ini Binatang Jalang Karya Chairil Anwar Lastry Monika
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.56534

Abstract

Pembahasan dalam tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan cermin hasrat “aku” lirik yang terdapat dalam kumpulan sajak Aku Ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar. Pembahasan dalam hal ini mengacu pada mekanisme pembentukan subjek “aku” lirik, ketaksadaran, dan cermin hasrat “aku” lirik yang terdapat dalam beberapa puisi. Penelitian ini menggunakan perspektif dan metode psikoanalisis yang dikemukakan oleh Lacan. Analisis dalam hal ini dilakukan berdasarkan data-data yang diperoleh melalui kata, frasa, bait, dan larik yang terdapat dalam puisi untuk menemukan subjek, ketaksadaran, dan cermin hasrat “aku” lirik sebagai upaya menemukan keutuhan diri melalui mekanisme metafora dan metonimia. Hasil dari pembahasan ini menunjukkan bahwa “aku” lirik memiliki kecendrungan hasrat yang bertumpu pada kebebasan dan individualitas. Ketika “aku” lirik menyadari diri berada pada tatanan yang tidak sesuai dengan yang ia kehendaki, “aku” cenderung merasakan ketidakpuasan, ketakutan, dan kesepian sehingga “aku” lirik mengkonstruksi diri menjadi individu yang bebas, mandiri, dan tidak terikat dalam membangun identifikasi tentang dirinya sendiri. Kata kunci: Lacan, cermin hasrat, puisi
Dekonstruksi Girl Power dalam Novel The Devil Wears Prada Karya Lauren Weisberger Rizqi Auliawati Putri
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.56540

Abstract

Penelitian ini menganalisis novel berjudul The Devil Wears Prada karya Lauren Weisberger dengan menggunakan dekonstruksi Jacques Derrida. Melalui perspektif Derrida, penelitian ini berusaha untuk menjelaskan representasi girl power dan feminisme dalam novel. Penelitian ini menggunakan metode wacana kritis. Adapun hasil yang didapat pada penelitian ini adalah gambaran girl power seperti perempuan powerful yang dapat bebas bekerja di ranah publik, berintelektual, dan mandiri diposisikan sebagai logos sehingga menempatkan perempuan yang gigih namun tidak memiliki power sebagai pihak yang inferior. Melalui pembacaan ulang, ketergantungan Miranda kepada orang lain menggeser status powerfulnya menjadi seorang yang powerless. Karena ketergantungan tersebut, eksistensi Andrea yang semula anonim dan powerless  berubah  menjadi seorang yang powerful. Adapun aturan-aturan yang dibuat oleh Miranda dalam perusahaan bukan untuk membebaskan perempuan dari jerat patriarki namun hal tersebut semakin mengukuhkan intervensi patriarki.Kata kunci: Dekonstruksi, girl power, The Devil Wears PradaThis study analyzes a novel entitled The Devil Wears Prada by Lauren Weisberger using deconstruction by Jacques Derrida. Through Derrida's perspective, this study aims to reread and explain the representation of girl power and feminism in the novel. This research uses a critical discourse method. The result shows that strong women who work, are intellectual, independent, and active in public areas and place women who are persistent but do not have power as a lower party. Through Derrida's perspective, Miranda's dependence on others shifts her powerful status to a powerless person. Because of this dependency, Andrea's existence which was originally anonymous and powerless turned into a powerful person. The rules made by Miranda in the company are not to free women from the trappings of patriarchy but this will further strengthen patriarchal intervention.Keywords: Deconstruction, girl power, The Devil Wears Prada
Wacana TKI dalam Novel Jatisaba Karya Ramayda Akmal Muchlas Abror
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.56541

Abstract

Penelitian ini menggunakan novel Jatisaba karya Ramayda Akmal sebagai objekmaterial. Novel tersebut menceritakan tentang kisah TKI ilegal yang pulang ke kampunghalaman di Jatisaba untuk merekrut teman-teman sepermainannya sebagai TKI ilegal.Permasalahan yang ingin di jawab dalam penelitian ini yaitu bagaimana wacana TKIilegal digambarkan dalam novel tersebut dan bagaimana posisi novel Jatisaba dalamwacana TKI Indonesia serta komentar Ramayda sebagai seorang penulis. Teori yangdigunakan dalam penelitian ini yaitu teori wacana Michel Foucault yang lebih spesifikpada eksklusi dan inklusi. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahuibagaimana wacana TKI dimaknai dalam novel Jatisaba dan untuk mengetahui posisinovel tersebut dalam wacana TKI Indonesia serta komentar yang dilakukan oleh penulisberkaitan dengan wacana TKI Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa a)kejahatan kemanusiaan sering menimpa TKI ilegal, b) istilah TKI muncul pertama kali diera kepemimpinan Soeharto mengeksklusi istilah buruh yang digunakan Soekarno yangdianggap memiliki kaitan dengan ideologi komunis, pergerakan buruh, dan revolusi, c)posisi novel Jatisaba berada pada wacana TKI di luar pemerintah, d) Ramayda sebagaipenulis menyetujui wacana TKI dari pemerintah, namun menganggap praktik percaloanTKI ilegal tidak mudah diselesaikan.Kata kunci: wacana, ekslusi, inklusi, TKI, komentar This research uses the novel Jatisaba by Ramayda Akmal as a material object. This noveltells the story of Indonesian migrant workers who break the law returning to their villagesin Jatisaba to recruit their friends to become migrant workers. The question that must beanswered in this research is how the discourse of Indonesian Migrant Workers is displayedin the novel and how the position of the novel Jatisaba in the discourse of Migrant Workersin Indonesia. The theory that used in this research is discourse theory of Michel Foucaultwhich spesific in eksklusi and inklusi. The purpose of this study is to find out how thediscourse of Indonesian migrant workers is interpreted in the novel and to find out theposition of the novel in the discourse of Indonesian migrant workers and the commentsmade by the author relating to the discourse of Indonesian migrant workers. The results ofthis study indicate that a) crimes against humanity often afflict Indonesian migrants whobreak the law, b) the term TKI first appeared in the Soeharto era to exclude the labor termused by Sukarno because the term was considered to have links to communist ideology, thelabor movement and the revolution, c) Jatisaba's novel position depends on the discourse ofmigrant workers outside the government, d) Ramayda as a writer, agrees with migrantworkers from the government, but considers the practice of brokering illegal migrantworkers is not easy to handle.Keywords: discourse, eksklusi, inklusi, TKI, comment
Konstruksi Kegilaan dalam Novel Lady Audley's Secret Karya Mary Elizabeth Braddon Zietha Arlamanda Asri
POETIKA Vol 8, No 1 (2020): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v8i1.56544

Abstract

Permasalahan mengenai kegilaan sering menjadi tema para penulis sastra. Tema ini juga banyak hadir di karya sastra pada era Victoria. Para penulis besar menghadirkan narasi mengenai para perempuan yang berstrategi untuk menghindari budaya patriarki, namun tidak ingin dijebloskan ke dalam suaka. Hal ini juga terjadi pada karakter utama dalam novel Lady Audley’s Secret (1862) karya Mary Elizabeth Braddon. Lucy Graham tumbuh dalam kemiskinan, ia sangat peduli dengan peningkatan status sosial dan keuangannya. Fakta bahwa ibunya dilembagakan karena kegilaan juga telah menghantui Lucy sepanjang waktu. Dia menikahi orang-orang kaya seperti George Talboys dan Robert Audley, namun berakhir dengan budaya patriarki yang sangat keras yang membawanya pada kegilaan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tokoh Lucy dikonstruksi menjadi “orang gila” dalam pandangan masyarakat Victoria. Untuk menjawab permasalahan penelitian, penulis menggunakan analisis tekstual sebagai metode penelitiannya. Teori yang digunakan untuk membantu analisis yakni perspektif yang diusulkan oleh Foucault mengenai konstruksi kegilaanyang terjadi pada subjek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan yang manipulatif serta culas yang dilakukan oleh Lucy dinilai sebagai suatu kegilaan dan tidak sesuai dengan norma serta nilai pada era tersebut. Pada akhirnya ia pun dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa dan meninggal di dalamnya.Kata Kunci: Kegilaan, Foucault, Lady Audley’s Secret, Mary Elizabeth Braddon The issue of madness is often the main focus of the writers. The theme of madness is also present in many literary works in the Victorian era. Major writers present narratives about women who have a strategy to avoid patriotic culture, but do not want to be thrown into asylum. Those also happened to the main character in the novel Lady Audley’s Secret (1862) by Mary Elizabeth Braddon. Lucy Graham grew up in poverty; she was very concerned with improving her social and financial status. The fact that his mother was institutionalized by insanity had haunted Lucy all the time. She married wealthy people such George Talboys and Robert Audley, but ended up with a very strict patriarchal culture which brought her to madness. Thus, this study aims to find out how Lucy's character is constructed to become a "crazy person" in the view of Victorian society. To answer the research problem, this study uses textual analysis as its research method. The theory used to help the analysis is the perspective proposed by Foucault regarding the construction of madness that occurs on the subject. The results show that manipulative and nasty actions committed by Lucy were considered as insanity and not in accordance with the norms and values of the era. In the end she was put into asylum and died in it.Keywords: Madness, Foucault, Lady Audley’s Secret, Mary Elizabeth Braddon

Page 1 of 1 | Total Record : 8