Articles
6 Documents
Search results for
, issue
" 1994: HARIAN SUARA KARYA"
:
6 Documents
clear
KENDALA LIMA HARI SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (180.803 KB)
      Kebijakan lima hari kerja yang (sudah dan) segera akan dimulai di berbagai kantor dan instansi pemerintah kiranya sudah merupakan keputusan politik (political de-cision) yang harus dijalani; dengan demikian respon atau tanggapan masyarakat rasanya tidak mungkin akan mengubah keputusan tersebut, setidak-tidaknya dalam waktu dekat ini. Tentunya hal ini bukan berarti tanggapan masyarakat tidak penting karena sebenarnya tanggapan masyarakat itu, baik yang positif maupun yang kurang positif, tetaplah penting dan significant untuk membuat rambu-rambu sukses dalam melaksanakan keputusan politik tersebut.        Belajar pengalaman dari negara-negara maju yang lebih dulu melakukan sistem lima hari kerja, kita memang dapat melihat berbagai nilai positif yang didapatkannya; khususnya yang menyangkut efisiensi serta produktivitas kerja. Di antara perusahaan ataupun pemakai tenaga kerja dengan pekerja pun terjadi simbiose mutualistik; semacam kerja sama yang saling menguntungkan.        Memang, kesuksesan tersebut tak dapat dilepaskan dari dua aspek yang dominan; yaitu aspek etos kerja dan sistem manajerial. Masyarakat di negara maju umumnya me-miliki etos kerja yang tinggi; dengan lima hari kerja mereka terbiasa bekerja dari pagi sampai sore, terkadang sampai malam hari, secara efektif. Mereka telah memiliki "work habit" yang efisien. Di sisi yang lain sistem mana jerial di negara-negara maju umumnya dilaksanakan secara efektif pula; seorang manajer mengerti benar kapan harus mengefektifkan waktu kerja dan kapan harus mengefektif-kan waktu rekreasi bagi pekerja atau karyawannya.
IHWAL PENGANGKATAN REKTOR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.488 KB)
      Era keterbukaan yang telah berkembang akhir-akhir ini ternyata telah membawa berbagai dampak, baik dampak positif maupun negatif. Perguruan tinggi sebagai bagian dari institusi masyarakat kiranya tak luput dari dampak keterbukaan. Apabila ada sementara orang yang menyatakan bahwa perguruan tinggi merupakan institusi penggerak a-wal (prime mover) keterbukaan, ternyata perguruan tinggi pun tidak sanggup membendung dampak dari semangat keterbukaan yang digerakkannya.        Buktinya? Akhir-akhir ini dunia perguruan tinggi sering diributkan dengan kasus yang menyangkut pengang-katan pucuk pimpinan lembaganya.Akhir-akhir ini berbagai perguruan tinggi telah mencuat namanya disebabkan adanya "keributan" kampus di dalam kasus pengangkatan rektornya; katakanlah misalnya di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan Universitas Trisakti (Usakti) Jakar-ta untuk PTS serta Universitas Pattimura (Unpatti) untuk PTN. Didalam hal ini tidak hanya perguruan tinggi swasta yang nota bene diselenggarakan oleh masyarakat saja yang terkena dampak keterbukaan, akan tetapi perguruan tinggi negeri yang nota bene diselenggarakan pemerintah juga tak dapat berkelit dari dampak keterbukaan.        Apakah benar bahwa "keributan" dalam pengangkatan rektor tersebut merupakan dampak semangat keterbukaan? Kiranya memang iya! Mekanisme pemilihan rektor perguruan tinggi yang makin transparan sebagai indikasi berkembang nya keterbukaan, ternyata telah menimbulkan multiinter-pretasi bagi civitas akademika. Multiinterpretasi inilah yang menjadi salah satu potensi "keributan" kampus.
PROBLEMATIK TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.82 KB)
      Orang Cina memiliki pepatah yang khas, "jamu yang manjur pahit rasanya". Pepatah ini bisa diaplikasi untuk melukiskan betapa sulitnya membuat kemasan audio-visual bagi program-program pengajaran yang berisi dan mendidik (manjur) sekaligus tak menjemukan (pahit). Mengaudiovi-sualkan program yang berisi tidak mudah, membuat program yang tidak menjemukan juga tidak gampang; tetapi lebih tidak gampang lagi mengaudiovisualkan program pengajaran yang berisi sekaligus tidak menjemukan.        Kenyataannya problematika itulah yang sampai kini dihadapi oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI); yaitu membuat program-program pengajaran yang secara material berisi dan secara medional menarik pirsawan untuk mengi-kutinya. Ini tidak gampang! Sudah berulang kali TPI (via Pustekkom Depdikbud) memproduksi paket "Pendidikan Mate-matika" (misalnya), tetapi berulang kali pula hasilnya tidak optimal. Yang terjadi: "ilmu" Matematikanya cukup padat tetapi penyajiannya terkesan hambar sehingga pir-sawan menjadi enggan mengikutinya. Artinya, benar bahwa paket Matematika ini sarat ilmu (manjur) akan tetapi ti-dak menarik ditonton atau diikuti (pahit).        Dalam kapasitasnya sebagai lembaga pertelevisian yang mengemban misi utama pendidikan, termasuk di dalam-nya pengajaran, maka TPI mau tidak mau harus dapat menya jikan program-program pendidikan, khususnya pengajaran, yang materinya memang padat berisi serta dari sisi media memang menarik minat pemirsanya (interestable).
SETELAH BENDERA WAJAR DIKDAS DIKIBARKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.606 KB)
      Ada kritik baik bagi kita bangsa Indonesia, konon kita ini adalah orang yang dapat membangun tetapi tidak dapat memelihara; konon kita ini adalah orang yang suka mencanangkan tetapi tidak dapat menjalankan. Lepas dari sejauh mana kebenarannya, yang jelas kritik ini akan sa-ngat bermanfaat kalau kita dapat memandangnya dari sisi yang positif; setidak-tidaknya kritik ini dapat memberi motivasi untuk memelihara barang yang sudah kita bangun atau menjalankan program yang sudah kita canangkan.        Implikasi positifnya sbb: kalau Presiden Soeharto atas nama bangsa Indonesia pada tanggal 2 Mei 1994 yang lalu telah mencanangkan wajib belajar (wajar) pendidikan dasar maka kewajiban bagi kita sekarang adalah bagaimana upaya yang harus ditempuh untuk menjalankan program ter-sebut agar dapat diraih kesuksesan.        Ibarat dalam pertandingan lari maka bendera starttelah dikibarkan maka tantangan bagi kita bersama adalah bagaimana dapat menempuh jarak yang telah ditentukan de-ngan sukses. Adapun kriteria kesuksesan di sini tidaklah sekedar bisa mencapai garis finish, namun dapat mencapai garis finish secara tepat waktu.
MEMBANGUN KEBANGGAAN UNIVERSITAS TERBUKA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.751 KB)
      Hari ini sepuluh tahun yang lalu, atau tepatnya pada 4 September 1984, telah lahir "bayi" mungil di bumi pertiwi ini yang selanjutnya dinamakan dengan Universitas Terbuka (UT). Kelahiran "bayi" yang mungil ini memang sudah lama kita rindukan, setidak-tidaknya sejak awal tahun 70-an pada saat UNESCO memberi rekomendasi akademik tentang kemungkinan dikembangkannya sistem pendidikan "berjarak" (distance learning) atau banyak yang menyebutnya sebagai pendidikan jarak jauh untuk menjawab tantangan pendidikan di negara kita.        Dalam acara pembukaan UT waktu itu secara resmi Presiden RI Soeharto menegaskan bahwa Universitas Terbuka merupakan jawaban yang tepat untuk meratakan kesempatan mendapatkan pelayanan pen-didikan tinggi dalam kondisi dan situasi kehidupan masyarakat yang senantiasa berkembang terus. Di samping itu beliau juga menyatakan bahwa UT juga merupakan jawaban tepat untuk memberi pelayanan pendidikan tinggi di tengah-tengah masyarakat kita yang berdomisili di negara kepulauan yang sangat luas.        Apa yang ditegaskan oleh Presiden RI Soeharto saat itu kiranya sangat tepat dan relevan mengingat salah satu tujuan utama didirikan-nya UT ialah meningkatkan daya tampung pendidikan tinggi. Dengan meningkatnya daya tampung ini maka kebutuhan lulusan pendidikan tinggi untuk pembangunan bangsa dan negara dapat dipenuhi; setidak-tidaknya meningkat baik jumlah maupun mutunya. Seperti kita ketahui latar belakang didirikannya UT adalah ditemuinya kenyataan bahwa setiap tahun jumlah permintaan masyarakat untuk menjadi mahasiswa selalu lebih besar dari peningkatan daya tampung perguruan tinggi, sekalipun pemerintah bersama-sama dengan masyarakat (swasta) telah berusaha keras untuk meningkatkan daya tampung.
WAJIB BELAJAR DAN KURIKULUM 1994
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (412.213 KB)
      Bila kita ikuti secara cermat perjalanan pendidikan selama tahun 1994 maka akan kita dapati dua momentum yang sangat penting dan memorial; masing-masing adalah momentum dicanangkannya program atau gerakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (WBPD) serta momentum dimulainya aplikasi Kurikulum 1994 di sekolah-sekolah. Kedua momentum pendidikan ini terletak dalam kerangka yang sama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.        Pencanangan wajib belajar dilakukan oleh Presiden RI Soeharto tanggal 2 Mei 1994; saat mana bangsa Indonesia secara bersama-sama memperingati hari pendidikan nasional (hardiknas). Momentum ini sudah lama dinanti-nantikan oleh segenap bangsa Indonesia karena wajib belajar diyakini dapat membawa bangsa kita kepada kemajuan yang didambakan. Belajar dari negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang, yang mewajib-belajarkan rakyatnya sampai jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata kemajuan pun dapat dicapai. Juga belajar dari pengalaman kita sendiri dengan program Wajib Belajar Sekolah Dasar (WBSD) ternyata gairah pendidikan dan nuansa kemajuan mulai dapat kita rasakan.        Pada tahun yang sama pemerintah kita pun mengimplementasi program yang tidak kalah pentingnya; yaitu mulai mengaplikasi kuri-kulum baru di sekolah-sekolah. Kurikulum baru yang lazim disebut dengan Kurikulum 1944 ini mulai diaplikasi di SD, SLTP dan sekolah menengah baik SMU (umum) maupun SMK (kejuruan). Penyiapan dan penyusunan Kurikulum 1994 dengan seluruh perangkatnya (antara lain Buku Pedoman, GBPP, dsb) sebenarnya sudah dilaksanakan jauh hari sebelumnya; tetapi "nampaknya" baru tahun 1994 dapat dilaksanakan operasionalisasinya.