cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 34 Documents
Search results for , issue " 2003" : 34 Documents clear
MEMULAI BISNIS DENGAN KEAHLIAN Mohammad Suyanto
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anda dapat memulai bisnis dengan keahlian yang Anda miliki, seperti halnya Soichiro Honda. Berawal dari keahliannya sebagai mekanik, akhirnya Soichiro Honda meraih sukses. Soichiro Honda mendapatkan pekerjaan pertama di bengkel mobil Tokyo pada 1922 setelah keluar dari sekolah. Ia hanya mengenyam pendidikan selama delapan tahun. Anak yang baru berusia 15 tahun dari kota kecil, merasa bangga dengan memperbaiki 10 mobil pada saat ramai. Ia diangkat sebagai asisten mekanik, tetapi pekerjaannya kadang-kadang sebagai "baby-sitter" anak laki-laki pemilik bengkel tersebut. Honda bermimpi untuk menjadi ahli mekanik mobil dan ia tidak pernah mendapat kesempatan itu..  Ia frustasi, kemudian mengemasi tasnya dan keluar dari pekerjaannya dan meninggalkan kota besar. Enam bulan kemudian, bengkelnya membutuhkannya, ia dipanggil untuk membantu memperbaiki mobil, akhirnya tebuka peluang baginya untuk meraih mimpinya. Seperti halnya negara lain, Jepang dihantam depresi besar pada 1930-an. Pada 1938, Soichiro Honda masih sekolah, ketika memulai membuka bengkel dan mengembangkan konsep piston berbentuk cincin. Ia berencana untuk menawarkan idenya kepada Toyota   Ia bekerja siang dan malam, bahkan sering tidur di bengkel. Ia selalu percaya bahwa ia dapat menyempurnakan rancangan dan memproduksi suatu produk yang bermanfaat. Untuk memulai bisnis menggunakan modal berupa perhiasan dari istrinya. Ketika rancangan tersebut dibuat sempel dan ditawarkan kepada Toyota, piston tersebut tidak memenuhi standar. Para teknisi mentertawakan rancangannya. Meskipun gagal, ia tetap kukuh pada pendiriannya. Setelah dua tahun lebih bertahan dan merancang ulang, akhirnya memenangkan kontrak dari Toyota. Kemudian Soichiro Honda membangun pabrik untuk memenuhi permintaan Toyota. Tetapi pabriknya di bom dua kali semasa perang sehingga menjadi berantakan. Ia tetap gigih untuk mewujudkan impiannya untuk mendirikan pabrik, tetapi sekali lagi pabriknya dihancurkan oleh gempa bumi yang dahsyat. Setelah selesai perang, terjadi kekurangan bahan bakar , memaksa orang-orang untuk berjalan atau menggunakan sepeda. Honda membuat mesin kecil dan dapat dipasang di sepeda, tetapi kesulitan material, sehingga tidak memenuhi permintaan. Honda menulis surat kepada 18.000 pemilik toko sepeda, tetapi hasilnya hanya memperoleh uang yang sedikit. Meskipun demikian, dengan uang seadanya tersebut, ia membuat mesin kecil untuk sepeda. Pada model pertama, memakan tempat agar dapat bekerja secara baik, maka ia mengembangkan dan mengadaptasi terus-menerus sampai alhirnya menghasilkan mesin yang kecil. ‘The Super Cub” menjadi kenyataan dan meraih sukses. Sukses di Jepang, Honda mulai mengekspor ke Eropa dan Amerika     Pada 1970-an terjadi kelangkaan bahan bakar, maka di Amerika berpindah dari kendaraan besar ke kendaraan yang lebih kecil. Honda dengan cepat menangkap tren ini. Sekarang, Honda Corporation mempunyai karyawan lebih dari 100,000 orang di Amerika dan Jepang, membawahi 43 perbisnisan di 28 negara, yang merupakan salah satu perbisnisan kendaraan terbesar di dunia dan menjadi perbisnisan peringkat 26 yang paling mengagumkan dunia pada 2003.
MEMULAI BISNIS DARI HOBI Mohammad Suyanto
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hobi merupakan sesuatu yang disenangi. Anda dapat memulai usaha dari hobi. Banyak pengusaha sukses memulai dari hobi. Dalam ilmu psychology of success, dari 2000 orang sukses yang diteliti, ternyata 80 persennya adalah orang yang menyukai apa yang dia lakukan. Faktor menyukai menghadirkan energi sukses yang punya daya dorong luar biasa. Seperti Bill Gates;sewaktu masih muda mempunyai hobi komputer dan melakukannya dengan tekun, sehingga menjadi usaha yang sukses dan terkaya di dunia. Mooryati Soedibyo memulai usaha dari hobi. “Sebagai Putri Keraton sejak dulu saya akrab dengan jamu dan suka membuat  jamu. Saya membuat jamu perawatan kesehatan untuk diri sendiri dan keluarga. Saya juga biasa menolong teman-teman membuatkan jamu untuk kebutuhan menjelang hari perkawinan, jamu untuk sebelum dan sesudah melahirkan, dan sebagainya. Ini semua saya lakukan secara kekeluargaan atau sosial saja. Setelah pindah ke Jakarta, ternyata masih banyak teman-teman yang suka memesan jamu saya, dan mereka memberikan biaya pengganti bahan-bahan jamu tersebut. “ kata Ibu Mooryati Soedibyo, Pendiri dan Pemilik PT. Mustika Ratu. Pada awalnya ia membuat jamu untuk perawatan kesehatan dalam bentuk minuman segar, seperti beras kencur, kunyit asam, dan sebagainya. Baru kemudian ia membuat jamu lainnya sesuai kebutuhan dan permintaan. Sekarang PT.Mustika Ratu telah membantu mengurangi pengangguran, dengan merekrut sekitar 3000 tenaga kerja. Bisnis ini juga turut menjadi kebanggaan Indonesia sebagai salah satu produk bermutu yang berbahan dasar, dibuat, dan dihasilkan dari sumber daya Indonesia, yang disukai di mancanegara. Demikian halnya, Martha Tilaar memulai usaha juga dari hobi. Martha Tilaar menyukai anak kecil, karena sampai usia 40 tahun belum punya anak. Didorong pula karena beasiswa 250 dolar per bulan untuk kuliah di Indiana University, tidak cukup untuk hidup berdua. Maka Martha Tilaar membuka usaha tempat penitipan anak. Pemasarannya dilakukan dngan menempel pengumuman di kampus Indiana University yang isinya “Saya adalah Baby Sitter, bersedia menampung bayi dan anak-anak”.  Hasilnya datang 13 anak asuh, mulai dari bayi sampai yang sudah duduk di sekolah dasar. Mereka menitipkan anaknya, karena mengikuti kuliah. Dari usaha penitipan anak ini, Martha Tilaar memperoleh pendapatan melebihi beasiswa suaminya.   Dari hasil usaha ini, digunakan untuk masuk ke Academy of Beauty Culture di Bloomington, Indiana. Setelah lulus dari sekolah kecantikan, Martha Tilaar mengumumkan di kampus bukan lagi sebagai baby sitter, tetapi sebagai ahli kecantikan yang siap dipanggil untuk melayani kecantikan. Panggilan membanjiri bisnis baru Martha Tilaar. Pada 1972, setelah pulang dari Amerika, garasi orang tuanya yang sempit, diubah menjadi salon kecantikan dengan nama Martha’s Salon. Martha Tilaar memperkenalkan jamu tradisional yang diramu sendiri dalam salonnya dan ia sebagai kelinci percobaan. Ternyata membuahkan hasil. Ketika ia menunggu kelahiran bayinya, mitra kerjanya mendadak membatalkan kerjasama, menyatakan keluar untuk mendirikan usaha sendiri. Kenangan pahit ini, membuat ia bersyukur “Tuhan Maha Besar. Saya memperoleh bayi, tetapi usaha saya gagal”. Tetapi dari kegagalan ini, Martha mengubahmya menjadi kesuksesan seperti sekarang ini. Bahkan Matha Tilaar merupakan satu-satunya wanita Indonesia yang masuk dalam bukunya John Naisbitt “Megatrends Asia”.
MEMBANGUN KEMBALI KARAKTER BANGSA (1) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.21 KB)

Abstract

         Ada kata-kata bijak yang datang dari manca negara,  "When wealth is lost,  nothing is lost;  when health is lost,  something is lost; (but) when character is lost everything is lost". Terjemahan bebas dari kata-kata bijak ini ialah, "Ketika kekayaan hilang, tidak ada yang hilang; ketika kesehatan hilang,ada sesuatu yang hilang; (namun) ketika karakter hilang, segalanya telah hilang. Kata-kata bijak lainnya menyatakan,  "Knowledge is power,  but character is more";  terjemahan bebasnya adalah, "Pengetahuan adalah kekuatan tetapi karakter memiliki nilai lebih daripada itu".          Kata-kata bijak tersebut di atas  menggambarkan pentingnya karakter, baik bagi manusia selaku pribadi maupun manusia sebagai bagian dari kesatuan bangsa.  Kekayaan tentu saja sangat penting, kesehatan pun tidak kalah pentingnya bagi kehidupan manusia, de-mikian pula dengan pengetahuan yang diyakini bisa dijadikan seba-gai kekuatan hidup; akan tetapi itu semua tidak akan berarti kalau kita telah kehilangan karakter.          Karakter bukanlah sekedar identitas yang cenderung menam-pilkan fisik-lahiriah;  akan tetapi karakter merupakan watak yang cenderung menampilkan pengembangan jati diri.          Bagi bangsa Indonesia, pembicaraan karakter menjadi sangat penting dikarenakan akhir-akhir ini  muncul penampilan-penampilan dari sebagian anggota masyarakat  yang sama sekali  tidak mencerminkan karakter bangsa yang kita perjuangkan bertahun-tahun dan bahkan berabad-abad lamanya.
Memulai Usaha dari Bepergian Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DI antara pengusaha-pengusaha sukses, mendapatkan peluang usaha ketika bepergian. Raymond Kroc, pendiri dan pembangun McDonald’s Corporation merupakan salah seorang pengusaha yang mendapatkan peluang, ketika dia pergi dari rumahnya di dekat Chicago ke California selatan menemui dua kliennya terbesar pembeli Prince Castle Multimixer (alat pengocok susu). Kliennya bercerita bahwa di San Bernardino, ada restoran yang menggunakan mesin untuk mencampur empat puluh gelas susu secara bersamaan. Pada hal, restoran lain hanya mampu untuk mencampur lima gelas susu. Kemudian Kroc pergi ke San Bernardino untuk melihat restoran tersebut. Sesampainya di dua gerbang lengkung keemasan restoran yang gemerlapan, yang menerangi langit di senjakala, dan melihat antrian orang-orang yang berkelok-kelok seperti ular di luar restoran yang berbentuk segi delapan. Melalui dinding bangunan yang seluruhnya terbuat dari kaca, Kroc melihat para karyawan pria yang memakai topi kertas dan seragam putih, sibuk di restoran yang sangat bersih, menyajikan burger dalam piring, kentang goreng dan susu kocok kepada keluarga-keluarga kelas pekerja yang berdatangan dengan mobil. “Sesuatu pasti terjadi di sini. Ini pasti operasi bisnis paling menakjubkan yang pernah saya lihat,” kata Kroc dalam hati. Restoran tersebut milik Maurice dan Richard McDonald, yang menawarkan menu sembilan jenis makanan, antara lain burger, kentang goreng, susu kocok, dan pai dengan menyingkirkan tempat duduk dan menggunakan alat makan kertas, bukannya kaca kaca atau porselin. Restoran ini merancang pelayanan yang andal, mampu melayani pesanan kurang dari satu menit. “Ini masa depan saya. Saya merasa seperti Newton zaman modern” katanya dalam hati. Kroc merasa yakin bahwa operasi kakak-beradik McDonald bisa sukses sekali kalau diperluas. Maka pada hari berikutnya, dia mengajukan usul kepada McDonald bersaudara. Kakak-beradik ini berkeberatan, karena sudah menjual waralaba di Phoenix dan Sacramento dengan harga murah dan tidak mendapat keuntungan besar. Tetapi Kroc adalah penjual veteran dengan pengalaman tiga puluh tahun, maka Kroc akhirnya mampu meyakinkan McDonald bersaudara untuk menjual waralabanya dengan harga rendah, yaitu 950 dolar. Sebagai imbalan, McDonald bersaudara akan mendapatkan 1,4 % dari semua penjualan dan mengembalikan 0,5 %. Dengan persetujuan di tangan, Kroc mulai memenuhi mimpinya tentang restoran McDonald yang meledak dari pantai ke pantai. Dia memulai dengan membangun mata rantai pertama kerjasama restoran ini dengan membuah sebuah model di Des Plaines, Illinois, di luar kota Chicago, yang menggunakan strategi harga rendah yang sama, menu terbatas dan pelayanan cepat seperti restoran di San Bernardino. Ini merupakan tonggak awal kesuksesan McDonald Corporation, yang idenya diperoleh ketika Raymond Kroc bepergian.
PENDANAAN PENDIDIKAN DALAM RUU SISDIKNAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.428 KB)

Abstract

       Kiranya siapa pun dapat memaklumi  kalau kita ingin segera memiliki undang-undang pendidikan yang baru sebagai penyempurna undang-undang pendidikan yang sekarang masih dipakai, yaitu UU No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tentunya yang diinginkan undang-undang yang baru lebih berkualitas, dalam hal ini lebih substantif dan antisipatif,  kalau dibandingkan dengan undang-undang yang ada sekarang ini.          Akan sangat "lucu" apabila undang-undang pendidikan yang baru nantinya tidak memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan undang-undang yang ada sekarang ini.  Untuk mengetahui apakah undang-undang yang baru memiliki kualitas yang lebih baik kita dapat mengkritisi RUU Sisdiknas  yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu.          Direncanakan,  pada tanggal 2 Mei 2003  bertepatan  dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) nanti RUU Sisdik-nas yang mutakhir  (sekarang edisi 3 Februari 2003)  sudah dapat disahkan menjadi undang-undang. Dengan demikian diharapkan pa-da tanggal 2 Mei 2003 nanti kita telah memiliki undang-undang pen-didikan yang baru sebagai penyempurna undang-undang pendidikan yang ada  untuk dijadikan pedoman  dalam penyelenggaraan pendi-dikan di masa-masa yang akan datang.          Masalahnya sekarang ialah,  apakah RUU Sisdiknas yang ada sekarang ini memang sudah layak disahkan menjadi undang-undang? Apakah RUU Sisdiknas  yang ada sekarang sudah bebas dari segala kelemahan atau bahkan kekeliruan?  Masalah inilah yang perlu men-dapat klarifikasi secara objektif.
PENDIDIKAN NONFORMAL TERABAIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.266 KB)

Abstract

Dalam tahap wacana, terminologi globalisasi dan industrialisasi sering dibawa keluar masuk ruangan yang sejuk dan ber-ac untuk didiskusi atau diseminarkan para pakar; meskipun demikian dalam realita ternyata masih sangat banyak anggota masyarakat kita yang belum mampu masuk di pasar global dan sektor industri.           Data dari Depnakertrans yang dikutip oleh Bambang Ismawan (2003) menyatakan sebanyak 44 persen penduduk kita bekerja di sektor pertanian, 13 persen penduduk bekerja di sektor industri, 19 persen penduduk bekerja di sektor jasa dan perdagangan, dan selebihnya di sektor lain. Kalau kita mengacu pada tulisan Daniel Bell dalam ‘The Coming of Post Industrial Society’ (1986) ternyata mayoritas masyarakat kita masih berada pada tingkat masyarakat praindustri (preindustrial society). Seperti kita ketahui di dalam bukunya tersebut Bell membagi masyarakat dunia ini menjadi tiga kelompok; masing-masing ialah masyarakat praindustri, masyarakat indus-tri, dan masyarakat pasca industri.          Selanjutnya hasil survei yang telah dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) (2001) menyatakan bahwa sebanyak 42 persen pekerja kita hanya berpendidikan  SD ke bawah, 17 persen berpendidikan SLTP, 30 persen berpendidikan SM, 5 persen berpendidikan diploma, dan hanya sebanyak 6 persen yang berpendidikan sarjana. Ini berarti bahwa profil pekerja kita masih menyedihkan karena mayoritas pekerja kita hanyalah berpendidikan dasar, termasuk tak berpendidikan sama sekali. 
PELANGGARAN AWAL UU SISDIKNAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.64 KB)

Abstract

Anggaran pendidikan nasional kita pada tahun 2004 mendatang belum menunjukkan tanda-tanda yang memuaskan. Hal ini dapat disimak dari pidato kenegaraan Presiden Megawati Soekarnoputri di depan sidang DPR RI pada tanggal 15 Agustus 2003 yang lalu. Dalam pidato yang sekaligus penyampaian nota keuangan pemerintah itu Ibu Mega menyatakan bahwa sektor pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olah raga dalam RAPBN Tahun 2004 mendapatkan alokasi anggaran sebesar 15,2 trilyun rupiah.           Secara lebih rinci presiden menjelaskan bahwa anggaran pendapatan negara pada tahun 2004 nanti direncanakan sebesar 343,9 triliun rupiah; sedangkan anggaran belanjanya mencapai 368,8 triliun rupiah. Selanjutnya anggaran pengeluaran pembangunan sebesar 68,1 triliun rupiah yang ber-sumber dari pembiayaan rupiah serta dari pinjaman proyek dan hibah.          Kalau kita lakukan persentase, anggaran pendidikan yang besarnya 15,2 trilyun tersebut memang mencapai 22,4 persen terhadap anggaran pembangunan; akan tetapi kalau dipersentase terhadap RAPBN besarnya hanya 4,12 persen. Angka ini relatif kecil bila dibanding dengan “bilangan ideal” di dalam UUD 1945 yang mengamanatkan besarnya anggaran pen-didikan sekurang-kurangnya 20 persen dari nilai APBN. 
MEMBANGUN MEREK Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar orang beranggapan, bahwa membangun merek yang pertama kali menggunakan iklan besar-besaran. Fakta membuktikan ternyata perusahaan-perusahaan yang telah melenggenda dunia membangun merek untuk pertama kali menggunakan public relations (hubungan masyarakat). Public relations melibatkan berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan / atau menjaga citra perusahaan atau produknya. Periklanan memang dibutuhkan untuk mempertahankan merek untuk tidak mati, tetapi tidak untuk membangun merek untuk pertama kali.             Microsoft menggunakan Public Relations  ketika meluncurkan sistem operasi barunya Windows 95. Sebenarnya Windows 95 bukanlan produk yang sepenuhnya baru, tetapi menjadikan Windows 95 sangat mudah digunakan seperti halnya Macintosh. Pemunculnnya tanggal 24 Agustus 1995 merupakan hari yang menggemparkan bagi Windows 95. The Wall Street Journal memperkirakan 3.000 berita utama, 6852 cerita dan lebih dari 3.000.000 kata dikhususkan bagi Windows 95 dari 1 Juli hingga 24 Agustus.  Tim Microsoft di seluruh dunia untuk melakukan publikasi yang menarik perhatian. Mengibarkan spanduk Windows 95 sebesar 600 kaki dari menara CN Toronto. Menaburi warna merah, kuning dan hijau dari logo Windows 95 pada The Empire State Building di New York. Membayar The London Time’s untuk mendistribusikan secara gratis seluruh terbitan harian itu sebanyak 1,5 juta eksemplar kepada masyarakat. Saat Windows 95 dijual dengan harga 90 dolar, ribuan orang antri untuk membelinya. Pada akhir minggu pertama, penjualan di Amerika Serikat saja mencapai 108 juta dolar.  Microsoft mengeluarkan biaya 220 juta dolar untuk Public Relations tersebut. Mengapa Bill Gates membelanjakan dana begitu besar untuk Public Relations?. Ada dua alasan yang mungkin. Pertama, khawatir tentang cacat yang terdapat pada versi-versi awal dari sistem operasi itu, pemakai komputer mungkin enggan untuk membelinya. Microsoft ingin mengatasi keengganan ini. Kedua, Apple Computer secara cepat menutunkan harga komputernya dengan harapan dapat menjual lebih banyak komputer Macintosh sebelum Windows 95 yang mirip dengan sistem operasi Macintosh dijual di pasaran. Microsoft ingin membendung arus penjualan Macintosh dengan menjual sebanyak mungkin paket Windows 95 dalam waktu yang sesingkat mungkin.             Anita Roddick membangun The Body Shop menjadi merek dunia tanpa melakukan pengiklanan, tetapi melakukan Public Relations keseluruh dunia tanpa kenal lelah untuk memperkenalkan produknya. Walmart sebagai perusahaan yang paling mengagumkan dunia, hanya sedikit mengeluarkan iklan. Demikian juga Intel, Dell, Compaq, Gateway, Oracle, Cisco, SAP, Sun microsystem pertama kali diciptakan di halaman-halaman Wall Street Journal, Business Week, Forbes, dan Fortune, yaitu dengan publisitas, bukan denga iklan. Kami juga memulai Primagama, IMKI, STMIK AMIKOM,  PT Time Excellindo, PT. Mataram Surya Visi, PT Radio MQ FM, PT. GITS, AMIKOM.NET, AMIKOM Traning Center, dan  dengan menggunakan Public Relations.
REFORMASI PENDIDIKAN DASAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.03 KB)

Abstract

       Reformasi pendidikan dasar di Indonesia segera akan dimulai  dengan ditentukannya persyaratan minimum terhadap  para guru di satuan pendidikan dasar itu sendiri,  yang dalam hal ini adalah SD dan SLTP. Bagi guru dan calon guru yang tidak memenuhi kualifikasi atau persyaratan minimum yang telah ditentukan  nantinya tak mungkin lagi dapat mengajar dan mendidik di sekolah.          Dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUUSPN) edisi yang paling akhir untuk saat ini,  3 Oktober 2002, pada Pasal 36 Ayat (2) disebutkan bahwa kualifikasi minimum untuk pendidik di tingkat pendidikan prasekolah  adalah lulusan D2, dan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah adalah lulusan sarjana kependidikan  atau lulusan sarjana nonkependidikan ditambah serti-fikat akta mengajar dari perguruan tinggi yang terakreditasi.         Perlu diketahui bahwa tahun 2003, diharapkan RUUSPN sudah dapat diundangkan.  Itu berarti bahwa mulai tahun 2003 ketentuan mengenai kualifikasi minimum pendidik sudah diberlakukan. Apabila  ketentuan ini diberlakukan dengan apa adanya  maka bagi pendidik yang tidak memenuhi kualifikasi minimum  tersebut tidak dapat lagi melanjutkan karir dan profesinya sebagai guru SD dan SLTP.          Disitulah reformasi pendidikan dasar akan berjalan.  Apabila  guru SD dan SLTP dipegang oleh tangan-tangan profesional, dalam hal ini  ialah guru yang memenuhi kualifikasi minimal yang standar, kiranya dapat diharapkan mutu pendidikan dasar kita akan meningkat secara signifikan.  Selanjutnya,  apabila mutu pendidikan dasar meningkat  maka  mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi baru dapat ditingkatkan. 
MEMBANGUN KEMBALI KARAKTER BANGSA (2) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.244 KB)

Abstract

       Adanya keinginan  untuk membangun karakter baru  bangsa Indonesia sebenarnya sudah menjadi obsesi kita. Beberapa dokumen resmi pemerintah  telah menunjukkan karakter baru bangsa Indonesia sebagaimana yang diinginkan.          Tap MPR RI No.IV/MPR/1999 tentang GBHN Tahun 1999-2004  merumuskan Masyarakat Baru Indonesia  yang mempunyai karakter sbb: damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju, dan se-jahtera dalam wadah Negera Kesatuan Republik Indonesia. Sementa-ra itu dalam  Tap MPR RI No.VII/MPR/2001  tentang Visi Indonesia Masa Depan tercermin keinginan untuk membangun masyarakat yang mempunyai karakter sbb: religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri,  serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara.         Task Force (TF) Philosophy of Education versi Bappenas dan Depdiknas dalam dokumen "Filosofi, Kebijakan, dan Strategi Pendidikan Nasional" (1999)  juga telah merumuskan karakter masyarakat (bangsa) Indonesia masa depan, yang disebutnya sebagai Masyarakat Madani Indonesia.  Adapun ciri-ciri atau karakter masyarakat madani yang dimaksudkan adalah sbb:  masyarakat yang dimokratis (democratization),  melakukan penegakan hukum (law enforcement), memiliki martabat yang memadai (human dignity),  sanggup mengakomodasi perbedaan-perbedaan (multicultural), serta memiliki kadar keberagamaan yang cukup (religionism).         Kombinasi dari sifat-sifat positif yang tereksplitisasi di dalam kedua ketetapan MPR tersebut  sesungguhnya  merupakan karakter baru bangsa Indonesia sebagaimana yang kita inginkan.

Page 2 of 4 | Total Record : 34


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue