Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"1987: HARIAN SUARA KARYA"
:
9 Documents
clear
ANALISIS KOMPARATIF KURIKULUM 1984 SEKOLAH MENENGAH ATAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.183 KB)
Pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawabkan semenjak diaplikasikannya kurikulum baru di sekolah menengah umum tingkat atas (SMA), Kurikulum 1984 SMA, adalah benarkah kurikulum baru lebih bersifat kualitatif dibanding dengan kurikulum lama; dalam artian bahwa struktur dan materi kurikulum baru lebih menunjang proses belajar mengajar di perguruan tinggi.      Apabila dibandingkan terhadap struktur kurikulum lama (1975) maka kurikulum baru (1984) memang mempunyai karakteristik yang spesifik; ialah terletak pada adanya pengelompokan antara kelompok mata pelajaran inti dengan kelompok mata pelajaran pilihan pada struktur kurikulum baru.      Kelompok mata pelajaran inti wajib diikuti oleh seluruh siswa dari semua program (A1, A2, A3 SERTA A4); sedangkan kelompok mata pelajaran pilihan hanya diikuti oleh siswa dari setiap program, artinya untuk program yang berbeda maka kelompok mata pelajaran pilihannya ber beda pula.      Dari sisi lain, yang kemudian menimbulkan semacam "keasingan" adalah materi kurikulum itu sendiri. Pada prinsipnya kalau diamati secara cermat materi kurikulum baru tidak menunjukkan perbedaan yang menyolok dari ku-rikulum lama. Disini kemudian menimbulkan "keasingan" tentang kualitas kurikulum baru; benarkah kurikulum baru atau kurikulum 1984 SMA lebih menunjang proses belajar mengajar di perguruan tinggi?
SEKOLAH DASAR IDEAL: DELAPAN TAHUN !
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.33 KB)
      Meskipun masih merupakan rencana jangka panjang, akan tetapi gagasan penggabungan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMTP) dalam sebuah pa-ket program pendidikan merupakan gagasan yang cukup me-narik diikuti sejak dini.      Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hassan, baru-baru ini mengkomunikasikan bahwa nantinya SD dan SMTP akan digabung dalam sebuah paket yang merupakan manifestasi dari pelayanan pendidikan dasar (basic education) di negara kita. Hal ini merupakan rencana jangka panjang dari Depdibud.Garis logika yang ditarik untuk membangun gagasan tersebut adalah berangkat dari "titik usia" yang dikait-kan dengan kesempatan kerja.      Bila SD (enam tahun) dan SMTP (tiga tahun) diada-kan penggabungan maka lama pendidikan dasar menjadi sembilan tahun, sedangkan usia masuk pendidikan dasar ialah enam tahun; maka lulusan SD (pendidikan dasar sembilan tahun) nantinya adalah 15 tahun. Kiranya perlu dicatat bahwa angka "15" merupakan "usia kerja minimal" yang ditetapkan oleh Departemen Tenaga Kerja (Depnaker); yang dalam artian bahwa komposisi tenaga kerja di negara kita secara formal diperhitungkan pada mereka yang usianya telah mencapai 15 tahun.
MELIBATKAN "EMPU" DALAM MUATAN LOKAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (65.927 KB)
      Adu argumentasi atau semacam polemik yang pernah terjadi tentang sudah perlu atau belumnya kurikulum SD diberi muatan lokal segera berakhir, karena nampaknya muatan lokal benar-benar akan segera direalisasikan dan diintegrasikan kedalam kurikulum.        Pada saat memberikan sambutan pengarahannya dalam pembukaan rapat kerja nasional (Rakernas) Depdikbud tgl 12 Juli 1987 yang lalu Mendikbud, Prof. Fuad Hassan mengemukakan bahwa di dalam perjalanan Pelita V nantinya pelaksanaan kurikulum "Muatan Lokal" pada jenjang SD sudah mendapatkan polanya yang lebih mantap dan efektif untuk mencapai tujuannya.        Lebih lanjut Mendikbud mengemukakan bahwa pendidikan hendaknya jangan sampai membuat si anak didik terasing dari lingkungannya. Oleh karena itu sejak anak memasuki pendidikan dasar perlu dikenalkan dengan berbagai hal khas atau karakteristik daerahnya. Hal ini bukan saja terdiri dari berbagai keterampilan dan kerajinan tradisional, tetapi juga berbagai manifestasi kebudayaan daerah; seperti bahasa, tulisan daerah, legenda dan adat istiadat. Untuk kepentingan inilah amaka muatan lokal perlu dimasukkan dalam kurikulum.        Sebaliknya apabila daerah memiliki karakteristik atau kekhasan daerah yang sangat "padat", maka bisa saja beban muatan lokal dibuat lebih dari 20% terhadap beban kurikulum; hanya saja kelebihannya ini hendaknya bersifat ekstra-kurikuler.
UJIAN CICILAN : KEPUTUSAN SIMPATIK MENDIKBUD
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.003 KB)
      Dewasa ini di negara kita terdapat sekitar 550 perguruan tinggi swasta (PTS) yang terdistribusi di seluruh tanah air; suatu jumlah yang relatif besar bila dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri yang banyaknya "hanya" 44 lembaga, termasuk di dalamnya Universitas Terbuka (UT).      Daya tampung PTS pun dapat dikatakan sebagai cukup tinggi. Dari sekitar 1,1 juta mahasiswa di negeri ini maka sekitar 650 ribu diantaranya adalah merupakan mahasiswa PTS; sedangkan sisanya yang 300 ribu adalah mahasiswa PTN reguler, serta yang sekitar 150 ribu adalah tercatat sebagai mahasiswa UT.      Salah satu problema utama yang dihadapi oleh para mahasiswa PTS dalam menyelesaikan studinya adalah masalah ujian negara; sebuah mekanisme akademik yang harus ditempuh untuk meraih ijazah negara.      Bagi civitas akademika PTS pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya masalah ujian negara ini tidak saja merupakan "trouble" klasik yang harus dilewati, tetapi lebih dari itu ujian negara ini sering dipandang sebagai "momok" yang sangat menakutkan.
MERINTIS BANK KARYA ILMIAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.237 KB)
          Kasus jual beli skripsi, tesis, disertasi serta berbagai karya ilmiah lainnya melalui pedagang kaki lima yang banyak terungkap di "kota pelajar" Yogyakarta pada akhir-akhir ini; yang kemungkinan juga terjadi di kota-kota lain, kini mulai ramai menjadi bahan pembicaraan yang cukup aktual.          Tidak kurang dari para birokrat akademik sendiri, seperti Dirjen Dikti Soekadji Ranoewihardjo; Kepala Balitbang Dikbud Harsja W. Bachtiar; sampai Mendikbud Fuad Hassan sendiri ikut terlibat didalamnya. Dengan adanya keterlibatan dari para "tokoh" dengan berbagai ragam pendapatnya telah menjadikan masalah ini sebagai sebuah "polemik kecil".          Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jual beli karya ilmiah melalui pedagang kaki lima memang tidak membawa masalah, justru hal ini merupakan media pemerataan penyebaran informasi ilmiah; meski Mendikbud Fuad Hassan sendiri masih mempertanyakan apakah cara ini merupakan cara yang terbaik dalam penyebaran informasi.          Sementara itu pendapat yang lain mengatakan bahwa jual beli skripsi, tesis, dsb di sembarang tempat adalah kurang pada tempatnya; hal ini mengingat bahwa skripsi, tesis, dsb bersifat unpublished (tidak dipublikasikan).
PENELITIAN KITA MASIH MEMPRIHATINKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.239 KB)
      Kiranya tak ada yang tidak sependapat bahwa salah satu komponen yang paling dominan untuk dapat mengangkat citra sebuah lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan tinggi, adalah kegiatan penelitian yang dilakukan oleh civitas akademikanya.      Pada perguruan tinggi hal ini sangat jelas adanya karena secara eksplisit telah tersebutkan dalam wilayah pengabdiannya yang tertuang pada tridharma perguruan tinggi; masing-masing adalah pelayanan pendidikan, penelitian serta pengabdian masyarakat.      Itulah sebabnya maka perguruan tinggi dapat dii-baratkan sebagai kursi yang "berkaki tiga". Perguruan tinggi yang tidak mampu melaksanakan kegiatan penelitian secara memadai ibarat kehilangan fungsi dari salah satu "kaki"-nya. Akibatnya kursi tersebut tidak akan mampu berdiri dengan kokoh tanpa beban sekalipun, apalagi bila harus digunakan untuk menyangga beban; ....."ambruk"!
SIKLUS PENERIMAAN MAHASISWA BARU PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.694 KB)
Sistem penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri, PTN, dalam beberapa tahun yang terakhir ini menggunakan dua jalur; masing-masing adalah jalur Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru) dan jalur PMDK (penelusuran minat dan kemampuan). Pada jalur yang pertama --Sipenmaru-- maka setiap calon diwajibkan untuk menempuh ujian tertulis yang kriteria evaluasinya telah ditentukan secara seragam untuk seluruh PTN di negara kita. Bagi yang hasil ujiannya berhasil melampaui kriteria evaluasi yang telah ditentukan maka dipersilakan untuk menempati sebuah "kursi emas" di PTN sesuai dengan pilihannya semula. Sementara itu bagi yang hasil ujiannya tidak berhasil melampaui kriteria evaluasi maka cita-cita untuk dapat melanjutkan belajar di PTN terpaksa harus disandarkan. Sementara itu jalur PMDK menggunakan prestasi akademik yang dicapai oleh siswa ketika di SMTA sebagai kriterianya. Bagi para siswa yang prestasinya menonjol bisa diterima sebagai mahasiswa baru PTN tanpa harus dikenai ujian tertulis, sementara yang prestasinya "biasa-biasa saja" tentu tak akan berhasil melewati jalur ini. Dari rapat kerja nasional (rakernas) Depdikbud yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu yang lalu di dapat khabar bahwa sistem penerimaan mahasiswa baru yang selama ini menggunakan sistem seleksi, baik yang berupa ujian tulis (Sipenmaru) maupun non-tulis (PMDK) secara bertahap akan digantikan dengan sistem ujian masuk secara bertahap akan digantikan dengan sistem ujian masuk yang kreterianya ditentukan oleh masing-masing lembaga pendidikan penerima calon yang bersangkutan.
PENGARUH MEDIA MASSA PADA REMAJA KOTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (130.954 KB)
Ada sebuah masalah yang nampaknya masih belum memperoleh jawaban yang tegas dalam artikel Mendikbud, Prof. Dr. Fuad Hassan, yang dipresentasikan secara audio-visual pada seminar Pulsa Remaja di Jakarta serta dimuat oleh 'Suara Karya' dibawah titel "Beberapa Catatan Tentang Remaja Kota" (SK, 27 Jan '87). Masalah tersebut adalah apakah benar bahwa remaja kita dewasa ini, khususnya remaja yang bertempat tinggal di kota besar, bersifat konsumtif. Kepekaan kaum remaja sendiri terhadap apa yang sedang "on" dan "in" dalam dunia remaja ikut memudahkan berjangkitnya infeksi mental (istilah yang dipimjam dari albun Gustov Le Bon). Disinyalir keadaan ini memudahkan timbulnya kesan bahwa kaum remaja memiliki kecenderungan konsumtif yang tinggi. Pendapat yang mengatakan bahwa remaja kita sudah mempunyai kecenderungan konsumtif yang tinggi memang ti-dak ditolak, meskipun demikian masih perlu adanya studi khusus apakah pendapat tersebut dapat digeneralisasikan secara makro bagi seluruh remaja di negara kita, ataukah hanya dapat diberlakukan bagi kelompok minoritas remaja tertentu. Disinilah letak permasalahan yang belum mendapat kan jawaban yang tegas, sebab pada kenyataannya berbagai fakta dan data pendukung diperlukan untuk kepentingan tersebut.
MENYAMAKAN PTS BERSTATUS "DISAMAKAN"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.043 KB)
Didalam beberapa tahun terakhir ini pembangunan pendidikan di negara kita, khususnya untuk tingkat pendidikan tinggi terasa semakin meningkat; bukan untuk pendidikan tinggi negeri saja, akan tetapi pendidikan tinggi swasta pun mendapat perhatian yang semakin besar. Sebagai ilustrasi dapat diangkat. Sejak beberapa tahun yang lalu Depdikbud menerapkan pola pengembangan dan pembinaan PTS, perguruan tinggi swasta, dalam sebuah "fase fisik". Hal ini dimaksudkan oleh pemerintah supaya PTS segera membenahi kebutuhan fisiknya (ruang pustaka, ruang kuliah, sarana mobilitas, dsb) untuk mendukung terciptanya proses belajar mengajar yang lebih intensif. Seperti diketahui sarana fisik merupakan kebutuhan dasar untuk kepentingan tersebut. Sekarang ini pola pengembangan dan pembinaan PTS sudah meningkat pada "fase akademis"; hal mana dimaksudkan oleh pemerintah supaya PTS segera membenahi masalah-masalah akademisnya (ratio dosen-mahasiswa, sistem perkuliahan, sistem ujian, dsb) agar lulusan yang dihasilkan benar-benar mempunyai kualifikasi akademis yang dapat dipertangggung-jawabkan. Ilustrasi tersebut diatas hanya merupakan contoh dari berbagai kebijakan pemerintah, melalui Depdikbud, sebagai manifestasi dari besarnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan pendidikan tinggi swasta.