Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"1990: HARIAN WAWASAN"
:
16 Documents
clear
SLTP MENGAPA MASIH DIBERLAKUKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.589 KB)
      Setelah Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional berhasil diundangkan maka pemerintah kembali berkiprah merumuskan dan memberlakukan beberapa peraturan pemerintah sebagai penjabaran operasional dari undang-undang tersebut; salah satu di antaranya adalah Peraturan Pemerintah Nomer 28 Tahun 1990, selanjutnya disebut PP 28/1990, tentang pendidikan dasar.      Apabila dibuat diferensiasinya maka undang-undang mengatur pokok-pokok pengaturan dalam sistem pendidikan nasional kita; sementara itu aturan pelaksanaannya yang lebih operasional terdapat dalam peraturan pemerintah.      Dengan diberlakukannya PP 28/1990 tentang pendidikan dasar tentunya merupakan langkah maju dalam sistem pendidikan kita; karena hal ini mengandung makna bahwa rambu-rambu lalu lintas pendidikan dasar telah ditancapkan. Siapa yang akan berkiprah dalam pendidikan dasar di negara kita harus memperhatikan dan mematuhi rambu-rambu lalu lintasnya. Barang siapa yang secara sengaja maupun tidak sengaja melanggar rambu-rambu tersebut pasti akan kena "semprit" dari yang berkompeten; dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud).
PMDK MASIH DIPERTAHANKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.376 KB)
      Sistem penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri, PTN, melalui program tanpa testing ternyata sampai saat ini tetap dipertahankan; bahkan, berbagai PTN yang cukup "elite" di negara kita justru menjadi semacam "pelopor" di depan. Benarkah ....? Yah, sebut saja UGM Yogyakarta, ITB Bandung, UNDIP Semarang, UNS Surakarta, IKIP Negeri Yogyakarta, IKIP Padang, dan sebagainya.      Saat ini UNDIP Semarang sudah mengirimkan formulir penyaringan "anak berbakat" ke berbagai SMTA dengan tujuan untuk memberi kesempatan kepada kandidat lulusan SMTA yang berpotensi masuk perguruan tinggi, yang dalam hal ini adalah UNDIP.      Para siswa SMTA yang mempunyai prestasi akademik yang "layak" dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan diberi kesempatan untuk "mengklaim" kursi belajar di UNDIP tanpa melalui testing tertulis.
KELUARGA SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.693 KB)
      Pemerintah dan masyarakat boleh saja membangun gedung-gedung sekolah yang megah, boleh saja mengisinya dengan peralatan yang serba sophisticated, boleh saja membuat sistem pendidikan yang serba canggih; akan tetapi tidak boleh melupakan bahwa pusat pendidikan yang paling utama bagi sang anak adalah keluarga. Oleh karena demikian pentingnya pendidikan keluarga bagi sang anak maka seharusnya pendidikan keluarga dapat dilaksanakan seefektif mungkin.      Konsep keluarga sebagai pusat pendidikan yang pernah "disodorkan" oleh tokoh pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara, terlahir 101 tahun yang silam, telah diakui oleh para pakar pendidikan kita; bahkan oleh para pakar pendidikan dari berbagai manca negara.      Interaksi antar personal di dalam sebuah keluarga memang bersifat spesifik: bersifat emosional (dalam konotasi positif), akrab, tidak formal, tidak birokratis, namun penuh harapan. Situasi yang demikian telah memikat sekaligus mengikat sang anak untuk mengembangkan potensi dan kepribadiannya.
POTENSI PENDIDIKAN MANUSIA INDONESIA (2)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.687 KB)
      Kompleksitas utama yang menyangkut pembangunan pendidikan menengah atas berkaitan dengan belum idealnya perbandingan antara pembangunan sekolah umum (SMA) dengan sekolah kejuruan; dengan titik berat masih terfokus pada sekolah umum.      Secara konseptual lulusan SMA dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja profesional melalui pendidikan lanjutan di perguruan tinggi, sementara itu lulusan sekolah kejuruan dipersiapkan untuk terjun langsung ke lapangan kerja sebagai tenaga kerja menengah. Oleh karena jumlah kebutuhan tenaga kerja menengah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja profesional maka seha-rusnya siswa sekolah kejuruan lebih tinggi jumlahnya dibanding siswa SMA.      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) pernah membuat taksiran ideal perbandingan antara siswa SMA dengan siswa SMTA Kejuruan sebagai 3:7. Realita yang ada sekarang ini justru siswa SMA sangat mendominasi dalam hal kuantitas. Berdasarkan data statistik 1988/89 dari 4.040.327 siswa SMTA maka sebanyak 2.600.053 (64,35%) di antaranya merupakan siswa SMA. Sedangkan selebihnya, 1.318.867 (35,65%) siswa, merupakan siswa sekolah kejuruan dengan berbagai jenis, jurusan, dan spesifikasi-nya.Â
HINDARI AMBIVALENSI KURIKULUM 1994
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (66.731 KB)
      Berita tentang akan dileburnya program studi pada SMA makin hari makin hangat saja. Bermula dari pandangan dan penjelasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Fuad Hassan, di sela-sela acara rapat kerja nasional (rakernas) Depdikbud baru-baru ini maka berita tentang akan dileburnya program studi pada SMA segera ditangkap secara responsif dan penuh antusias oleh masyarakat.      Baru-baru ini Mendikbud memberi penjelasan bahwa terdapat kemungkinan sistem penjurusan program studi di SMTA Umum (=SMA) akan segera diakhiri. Selanjutnya pada tahun-tahun yang akan datang maka kurikulum SMA akan dibuat yang benar-benar bersifat umum.      Sejalan dengan penjelasan Mendikbud tersebut maka Kepala Balitbang Dikbud, Prof. DR. Harsja W. Bachtiar, mengemukakan bahwa penggantian kurikulum SMA 1984 akan dilaksanakan tahun 1994. Adapun Kurikulum 1994 nantinya bersifat umum, dalam arti kata tidak ada lagi penjurusan program studi sebagaimana yang sekarang masih berjalan.
PELAJAR KITA TIDAK BERPRESTASI?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.354 KB)
      Indonesia gagal lagi! Itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh pelajar kita sebagai utusan bangsa dalam forum olimpiade Matematika tingkat dunia, International Mathematics Olympics (IMO), di Beijing, China pada pertengahan bulan Juli 1990 yang lalu.      Dalam forum ilmiah yang diikuti oleh para pelajar yang berasal dari 50-an negara tersebut utusan Indonesia belum mampu menunjukkan prestasi yang memuaskan. Pelajar Indonesia yang dikirim ke forum ilmiah tingkat dunia itu harus mau berlapang dada untuk mengakui keunggulan dari teman-temannya yang berasal dari berbagai negara manca.      Apabila dibandingkan dengan prestasi yang dicapai oleh pelajar Indonesia yang dikirim pada forum serupa di Canbera, Australia, dua tahun yang lalu sebenarnya secara kualitatif pelajar Indonesia yang dikirim ke Beijing, China, menunjukkan kenaikan prestasi. Kalau di Australia pelajar kita hanya mampu meraih nilai total 21, maka di China sanggup mencapai nilai total 40. Meskipun demikian secara kompetitif prestasi pelajar kita memang relatif belum memuaskan; di China tahun ini pelajar Indonesia hanya sanggup menduduki ranking yang kedua, akan tetapi dari urutan paling bawah.
MENUNGGU PERAN NYATA BPPN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.558 KB)
      Ketika Presiden RI Soeharto melantik para anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, BPPN, pada bulan Desember 1989 yang lalu maka masyarakat menaruh harapan terhadap para anggota BPPN tersebut untuk dapat menjalankan fungsinya memberikan saran, nasihat serta pemikiran-pemikiran lain sebagai bahan pertimbangan bagi penentuan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.      Sesuai amanat Undang-Undang RI Nomer 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang tertuang pada Pasal 48 maka BPPN memang berhak memberikan saran, nasehat, dan pemikiran-pemikiran lain kepada Mendikbud.       Pada penjelasan Pasal 48 bahkan secara tegas disebutkan bahwa BPPN diharapkan mampu menyalurkan aspirasi masyarakat umum serta kepentingan bangsa dan negara berkenaan dengan masalah-masalah pendidikan kepada pengelola sistem pendidikan nasional. Oleh karenanya anggota BPPN bersifat heterogen: wakil-wakil golongan, pakar-pakar pendidikan, serta pejabat yang mewakili pemerintah.
SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.825 KB)
      Hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) Tahun 1990 diumumkan secara serentak melalui seluruh PTN yang tersebar di seluruh wilayah Nusantasa; itu berarti bahwa sekarang ini masing-masing kandidat mahasiswa baru PTN sudah mengetahui hasil akhir dari sebuah perjuangan yang penuh romantika, berhasil atau gagal.       Apabila kita membuat semacam peraturan tak tertulis (unwrited regulation) yang mewajibkan bagi kandidat yang berhasil untuk tertawa sekeras-kerasnya dan bagi kandidat yang gagal untuk menangis sejadi-jadinya, maka dapat dipastikan bahwa ke- rasnya tawa dari para kandidat yang berhasil akan tertutup oleh kerasnya tangis dari para kandidat yang gagal. Mengapa? Karena setiap ditemui satu orang yang tertawa maka di sekitarnya akan dijumpai lima orang yang menangis.      "Upacara" akademis UMPTN 1990 kali ini diikuti oleh 450.000-an kandidat, sedangkan yang diterima melalui jalur ujian tertulis UMPTN hanya sekitar 75.000 kandidat (angka ini tidak termasuk kandidat yang diterima melalui jalur "PMDK", politeknik, PGSD, dsb); jadi untuk dapat berhasil menundukkan UMPTN 1990 ini maka setiap kandidat harus dapat "mengalahkan" lima kandidat yang lainnya.
DISTRIBUSI ALAT KONTRASEPSI: SEBUAH MASALAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.275 KB)
Kenakalan remaja (dan orang tua) yang akhir-akhir ini makin banyak mewarnai kehidupan kita, khususnya kehidupan masyarakat kota, seringkali dihubung-hubungkan dengan sistem distribusi alat kontrasepsi sebagai bagian dari pemasyarakatan gerakan Keluarga Berencana (KB).      Akhir-akhir ini memang banyak orang yang mengeluh bahwa distribusi alat kontrasepsi, antara lain kondom, pil, obat vagina atau tissu KB, obat suntik, dsb, telah banyak yang disalahgunakan. Orang-orang yang semestinya tidak berhak mendapatkan alat kontrasepsi ternyata dapat menikmatinya secara "bebas"; sehingga mereka cenderung memakainya untuk kepentingan-kepentingan yang "salah".      Ironis lagi, konon, kurang terkontrolnya distribusi alat kontrasepsi tersebut oleh sementara anak-anak sekolah dimanfaatkan untuk "mencoba" dengan pasangannya, atau dengan orang lain yang dipaksanya.Â
MENGEMBANGKAN SMP TERBUKA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.746 KB)
      Secara teoretis untuk meningkatkan daya tampung SMTP di Jawa Tengah dapat direalisasikan melalui empat alternatif pendekatan; masing-masing adalah refunction approach, building aprroach, shifting approach, dan open school approach. Persoalannya kini ialah pendekatan mana saja yang relevan dengan kondisi dan karakteristik Jawa Tengah itu sendiri.      Dari keempat pendekatan tersebut di atas kiranya semua relevan untuk diaplikasikan di di Jawa Tengah saat ini, setidak-tidaknya sangat mungkin dan feasibel untuk diujicobakan.      Sekarang ini relatif banyak ditemui SD yang mengalami kekurangan murid, bahkan ada yang sudah "ditutup" karenanya. Melalui pendekatan refunction approach maka gedung SD yang sudah ditutup ini bisa dimanfaatkan untuk SMTP, sedangkan bagi SD yang mengalami kekurangan murid dan belum ditutup maka bisa dilakukan "merger" dengan SD yang lain untuk selanjutnya sarana gedung dan fasilitasnya dapat digunakan untuk SMTP.