Articles
19 Documents
Search results for
, issue
"1990: HARIAN YOGYA POS"
:
19 Documents
clear
UNIVERSITAS YANG TAK TERTINGGAL KERETA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (105.498 KB)
Ada sepotong pertanyaan "urgent" yang akhir-akhir ini berkembang secara meluas di kalangan kaum akademisi pada khususnya dan di kalangan masyarakat ilmiah pada umumnya; yaitu universitas atau perguruan tinggi yang bagaimanakah yang sanggup mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi yang teramat dahsyat dalam dua atau tiga dasa warsa terakhir ini? Pertanyaan tersebut muncul karena akhir-akhir ini terdapat fenomena akademis yang sangat gampang dicermati tentang betapa tertinggalnya ilmu dan teknologi perguruan tinggi dibandingkan dengan ilmu dan teknologi yang berkembang di lapangan. Ilmu dan teknologi komputer kiranya sangat tepat untuk diangkat sebagai ilustrasi. Kalau pengajaran ilmu dan teknologi komputer di perguruan tinggi pada umumnya masih dilaksanakan secara "amatiran", bahkan di berbagai perguruan tinggi tertentu sama sekali tidak dilaksanakan pengajaran ilmu dan teknologi komputer, maka perkembangan ilmu dan teknologi komputer di lapangan sudah begitu dahsyatnya.
TENTANG PROFIL AKADEMIS PTS DI YOGYAKARTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.605 KB)
Predikat yang disandang oleh Yogyakarta sebagai "kota pendidikan" kiranya masih melekat sampai sekarang ini; hal ini terindikatori dengan makin banyaknya "kaum pendatang" yang senantiasa siap memadati kota Yogyakarta untuk mencari ilmu dan pengetahuan pada berbagai lembaga pendidikan yang tersedia. Keadaan tersebut tidaklah mengherankan karena di kota yang relatif "mungil" ini tersedia ribuan lembaga pendidikan yang siap menampung peserta didik dari segala penjuru tanah air. Apabila rincian jumlah lembaga pendidikan tersebut perlu dikomunikasikan maka di Yogyakarta terdapat 1500-an taman kanak-kanak (TK), 2300-an sekolah dasar (SD), 500-an sekolah menengah tingkat pertama (SMTP), 350-an sekolah menengah tingkat atas (SMTA), dan 60-an perguruan tinggi (PT). Meskipun demikian banyaknya "kaum pendatang" yang ingin mencari ilmu di Yogyakarta lebih terlihat pada jenjang perguruan tinggi; dalam arti kata mereka yang ingin melanjutkan studinya di perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).
TENTANG ROYALTY DAN KEMITRAAN PTN-PTS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.097 KB)
Universitas-universitas negeri pada saatnya nanti mungkin saja memungut semacam royalty kepada perguruan tinggi swasta ataupun lembaga nonpemerintah lainnya atas pengkaryaan tenaga edukatif dari universitas negeri pada lembaga tersebut. Inilah inti masalah yang dikemukakan oleh salah seorang dari unsur birokrasi Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini (Yogya Post, 1/5/90). Wajarkah lembaga pendidikan tinggi pemerintah di negara kita, PTN, menarik royalty kepada lembaga pendidikan tinggi nonpemerintah, PTS, yang pernah dipublikasikan sebagai mitranya itu? Menurut Prof. DR. Bambang Riyanto, sang "pencetus" gagasan tersebut di atas maka pemungutan royalty semacam itu sesungguhnya sangat wajar, karena PTN-lah yang telah bersusah-payah menyekolahkan dosen-dosen tersebut, baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan demikian, menurutnya, kurang adil bila PTS begitu saja menikmati hasilnya.
DOSEN-DOSEN KITA YANG TIDAK PRODUKTIF
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.649 KB)
Seandainya perguruan tinggi itu dapat diibaratkan sebagai sebuah kereta maka para dosen adalah sebagai me-sin penggeraknya. Betapapun panjangnya kereta itu maka jalannya tetap saja tergantung pada mesin penggeraknya. Hal ini melukiskan bahwa betapapun besarnya sebuah per-guruan tinggi maka tetap saja para dosen memegang peran yang dominan; dengan kata lain tanpa adanya aktivitas akademik dari para dosen maka akan "mandeg"-lah perguruan tinggi yang bersangkutan. Pengibaratan tersebut di atas melukiskan betapa dominannya peran dosen dalam kehidupan kampus; meski bu-kan berarti dengan mengecilkan peran civitas kampus yang lainnya. Memang berat tugas seorang dosen; karena di sam ping mereka diharapkan dapat menjadi motor penggerak di kampusnya masing-masing maka masyarakat sekitar pun juga mengharapkan "kelebihan" yang dimilikinya. Di negara manapun di dunia ini maka seorang dosen hampir senantiasa dianggap sebagai sosok manusia yang memiliki potensi intelektual berlebih, tentu saja kalau dibandingkan dengan rata-rata potensi intelektual manu-sia di sekelilingnya. Di Indonesia pun begitu pula.
MENGGALI POTENSI WANITA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.089 KB)
Ketika dahulu Ibu Kartini ingin mulai menjalankan roda-roda emansipasinya barangkali menemukan pertanyaan klasik yang cukup menggelitik: "Benarkah kaum wanita itu tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan kaum pria?". Atau bahkan justru berangkat dari pertanyaan inilah roda emansipasi tersebut mulai diputar. Roda emansipasi pun akhirnya berjalan beriringan dengan adanya keinginan untuk membuktikan bahwa wanita memiliki berbagai kelebihan tertentu dibandingkan pria. Dan benar ..., ketika emansipasi tengah berjalan seperti sekarang ini maka pertanyaan tersebut di atas justru berobah konotasinya menjadi: "Benarkah kaum wanita itu banyak kelebihannya dibanding pria?". Jawabnya yang paling tepat adalah sepotong kata "ya", meskipun disertai dengan catatan di sana-sini. Itu berarti bahwa kaum wanita memang mempunyai berbagai kelebihan dibanding kaum pria.
DENGAN PR 4 UGM MELAKUKAN TEROBOSAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (66.099 KB)
Beberapa hari yang lalu, atau tepatnya tanggal 21 Agustus 1990, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menyelenggarakan acara pelantikan Pembantu Rektor (PR). Acara ini barangkali tidak begitu menarik perhatian para pengamat kalau di dalamnya tidak terdapat "sesuatu" yang baru. Tetapi pada kenyataannya acara tersebut sangatlah menarik perhatian para pengamat pendidikan dan juga kaum akademisi karena di dalamnya terdapat "sesuatu" yang tidak biasa terjadi; yaitu dilantiknya lebih dari tiga PR. Seperti diketahui selama ini perguruan tinggi di Indonesia, yang berbentuk universitas atau institut, hanya memiliki tiga PR saja; masing-masing ialah PR-1 yang membidangi masalah akademik, PR-2 yang membidangi masalah administrasi umum, dan PR-3 yang membidangi masalah kemahasiswaan. Ketentuan seperti tersebut di atas lebih "afdhal" setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No:30 Tahun 1990 tentang pendidikan tinggi. Pada Pasal 29 ayat (3) dan ayat (4) secara eksplisit diatur tentang jumlah PR serta masalah-masalah yang harus dibidanginya. Dalam ayat (3) disebutkan bahwa pada pimpinan perguruan tinggi berbentuk universitas/institut terdiri dari Rektor dan 3 PR. Sedangkan ayat (4) menunjukkan pembidangannya.
KONTRASEPSI DAN DELINQUENSI REMAJA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.136 KB)
Seorang Bapak Kost suatu hari diprotes oleh para anak asuhnya mengenai fasilitas kamar mandi yang sangat kotor dan tidak sehat; saluran air buangan pada kamar mandi tersebut macet menyebabkan air limbah tidak dapat terbuang sebagaimana mestinya. Sebagai Bapak Kost yang bijak maka dengan cepat dipanggillah tukang untuk membe-tulkan ketidakberesan pada saluran air tersebut. Apa yang terjadi setelah saluran air tersebut di-bongkar oleh Pak Tukang? Semua yang menyaksikan pada ge-leng-geleng kepala karena ternyata saluran air tersebut tersumbat oleh alat-alat kontrasepsi habis pakai! Bagai-mana mungkin dapat terjadi; semua yang kost di tempat itu masih remaja dan belum menikah, tetapi bukti menun-jukkan adanya penyumbatan saluran air oleh alat-alat kon trasepsi habis pakai. Akhir-akhir ini masalah delinquensi atau kenakal-an remaja (juvenile delinquency) terasa lebih "semarak" lagi; ibarat penyakit lama yang kambuh kembali. Dan ..., delinquensi remaja tersebut seringkali dihubung-hubung-kan dengan sistem distribusi kontrasepsi sebagai bagian dari pemasyarakatan gerakan Keluarga Berencana (KB).
TENTANG SINDROMA INDEKS PRESTASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.718 KB)
Pada akhir-akhir ini kita mendapatkan suatu topik pembica-raan baru yang cukup menarik, yang telah berhasil mengundang minat kalangan akademikus dan aplikator, serta yang telah mendatangkan pendapat pro dan kontra dalam dimensi aplikasinya; yaitu masalah Indeks Prestasi (IP). Persoalan utama yang terdapat pada permasalahan IP adalah tentang pemakaiannya dalam berbagai kepentingan, baik kepentingan yang bersifat akademik maupun yang bersifat nonakademik. Di satu pihak ada yang sangat menganjurkan pemakaian IP tersebut sebagai tolok ukur kemampuan seseorang mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi, tetapi di pihak yang lain dengan tegas menolaknya. Sebagai contoh; untuk menerima kandidat peserta mahasiswa pasca sarjana (S2/S3) digunakan IP sebagai semacam alat saring pertama. Bagi yang IP-nya memenuhi persyaratan, misalnya 2,50, boleh terus "maju"; akan tetapi yang IP-nya tidak memenuhi persyaratan harus "mundur".
MEMBAHAS AKREDITASI PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.341 KB)
Baru-baru ini muncul polemik kecil tentang sistem akreditasi perguruan tinggi; PTS dan PTN. Pendapat yang pertama mengusulkan agar sistem akreditasi yang diaplikasikan pada PTS di Indonesia segera diakhiri karena dalam "perjalanannya" banyak dijumpai hal-hal yang subyektif. Sebagai dampak negatif dari sistem akreditasi PTS adalah dapat dijualbelikannya status oleh "orang-orang" yang tidak bertanggung jawab; dalam artian bahwa dengan uang maka status akreditasi PTS dapat diatur. Keadaan semacam ini dapat mengakibatkan kendornya semangat "kejuangan" para pengelola PTS yang secara sungguh-sungguh ingin membenahi lembaganya. Pada sisi yang lainnya ada pendapat yang bertolak belakang, yaitu mempertahankan sistem akreditasi yang selama ini diaplikasikan oleh Depdikbud terhadap PTS dengan segala risiko-nya. Masih ada pendapat lain lagi: sistem akreditasi yang hanya diaplikasikan untuk PTS dirasa kurang "adil", oleh sebab itu sistem akreditasi harus diberlakukan sama baik bagi PTS maupun bagi PTN.