Articles
18 Documents
Search results for
, issue
"1991: HARIAN BALI POS"
:
18 Documents
clear
PERAN PGRI BAGI ANGGOTANYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.897 KB)
"Pada bulan Februari 1991 oleh pejabat yang berwenang saya diusulkan naik pangkat ke golongan II/d per 1 April 1991 dengan dasar angka kredit yang telah dicapai sampai dengan Desember 1990, serta telah memenuhi syarat (fotocopy surat terlampir); .... apakah kenaikan pangkat saya berdasarkan angka kredit tersebut dapat ditetapkan SK-nya? Kalau dapat, mengapa sampai kini SK-nya belum juga turun?" Demikian kutipan pertanyaan dan keluhan guru yang dimuat oleh sebuah harian ibu kota baru-baru ini. Kutipan tersebut di atas hanya merupakan sedikit dari banyak keluhan yang senada; keluhan guru yang berka itan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan profesi yang ditekuninya. Bila kita cukup concern terha-dap masalah-masalah yang bergaung di lapangan maka saat ini di kalangan guru yang terhimpun di dalam keanggotaan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tengah muncul fenomena pendidikan yang sangat menyita perhatian dan e-nergi; yaitu menyangkut sistem angka kredit yang berkait langsung dengan pengurusan kenaikan jabatannya. Sistem angka kredit yang digaungkan sejak bebera-pa waktu yang lalu sekarang ini benar-benar populer bagi kalangan guru. Apakah hal itu dikarenakan para guru sa-ngat familiar terhadap sistem "baru" ini? Tidak! Apabila kita mau bicara jujur justru saat ini masih banyak guru yang belum memahami sistem tersebut, baik dalam kerangka konseptual maupun operasionalnya; padahal, mau tak mau, para guru harus pandai mengadaptasi sistem tersebut.
PTN SEGERA DIAKREDITASI, BENARKAH?
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (53.073 KB)
Bahwa perguruan tinggi negeri, PTN, akan dikenai sistem akreditasi sebagaimana yang selama ini dikenakan pada perguruan tinggi swasta, PTS, kiranya tidak banyak yang memperdebatkannya. Hal ini secara eksplisit maupun implisit memang telah dijamin oleh PP No:30/1990 tentang Pendidikan Tinggi. Namun demikian apakah pelaksanaan akreditasi terhadap PTN benar-benar akan dilakukan dengan segera, dalam arti tidak dalam waktu yang lama, kiranya memang masih menjadi tanda tanya yang besar. Tanda tanya tersebut berkaitan dengan akumulasi berbagai problematika, antara lain menyangkut siapa atau badan mana yang akan diberi tugas untuk mengakreditasi perguruan tinggi "anak pemerintah" tersebut. Siapa yang berani mengakreditasi PTN? Pertanyaan tersebut memang sekedar "joke", tetapi dibalik pertanyaan tersebut terkandung adanya semacam protes dari pihak non-PTN terhadap kebijakan pemerintah, yang dalam hal ini Depdikbud, mengenai tidak segera dia-kreditasinya PTN.
KORELASI AIDS DENGAN PROSTITUSI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.107 KB)
Baru-baru ini salah satu kompleks prostitusi di Surabaya "geger" karena ada di antara para WTS-nya yang diserang AIDS. Orang pun lalu mulai menghubung-hubungkan antara prostitusi dengan AIDS. Memang antara prostitusi dengan AIDS makin lama semakin signifikan korelasinya. Melalui berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli medik ditemukan bahwa prostitusi merupakan kegiatan yang sangat menyokong tersebarnya AIDS. Mungkin kita tidak begitu heran mendengar khabar bahwa "Departemen Kesehatan"-nya Korea Selatan pernah mengadakan pemeriksaan darah secara intensif terhadap puluhan ribu pelacur serta gadis bar sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah mengganasnya AIDS di negara tersebut. Lalu ..., bagaimana dengan informasi yang menyatakan bahwa AIDS lebih disebabkan karena hubungan seksual dengan kawan sejenis; bukan hubungan heteroseksual seperti kebanyakan yang terjadi di kompleks prostitusi? Berdasarkan sejarahnya bahwa asal mula AIDS ialah "melanda" kaum homoseksual di New York dan San Fransisco maka kegiatan-kegiatan penelitian tentang AIDS pada mu-lanya lebih terfokus pada kaum homoseksual ini. Kegiatan homoseks, atau mengadakan kegiatan hubungan seksual de-ngan pasangan yang sama jenisnya, pada mulanya dicurigai sebagai satu-satunya penyebab menularnya penyakit AIDS. Namun hasil penelitian ternyata homoseks bukan satu-satunya penyebab menularnya AIDS.
KASUS "BABY-BOOM" DAN DAMPAKNYA BAGI DUNIA PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.484 KB)
"Baby-boom"; itulah istilah klasik yang beberapa tahun lalu sempat populer di Amerika Serikat (AS). Istilah itu sendiri mengandung arti terjadinya peledakan kelahiran (bayi) di dalam kurun waktu tertentu pada suatu tempat tertentu. Istilah klasik tersebut sempat populer di AS oleh karena negara tersebut secara empirik memang pernah mengalaminya. Terjadinya "baby-boom" di AS pada tahun 40-an se-telah usai Perang Dunia ke-2 serta tahun 1960-an setelah selesai Perang Vietnam. Peristiwanya sederhana: sekemba-linya para tentara dari medan perang yang nota bene lama berpisah dengan isteri segera memulai (kembali) kegiatan "reproduksi"-nya. Akibatnya: beberapa bulan kemudian ter jadi kelahiran (bayi) dalam jumlah yang relatif tinggi; hal ini disebabkan karena aktivitas reproduksi tersebut terjadi pada kurun waktu yang sama atau bersamaan. Apakah peristiwa "baby-boom" tersebut ada hubung-annya dengan gejala pendidikan? Atau, apakah "baby-boom" memberikan dampak tertentu bagi dunia pendidikan? Mari-lah kita bersama-sama mencoba menganalisisnya. Secara langsung ataupun tidak langsung peristiwa "baby-boom" tersebut berkaitan dengan dunia pendidikan. Peledakan kelahiran, apalagi di negara maju, pada saat-nya menuntut sarana dan fasilitas pendidikan. Pada waktu bayi-bayi tersebut tumbuh menjadi anak-anak usia sekolah maka mau tak mau pemerintah harus menyediakan sarana dan fasilitas pendidikan baginya; kelas-kelas baru dibuka, guru ditambah, buku dilengkapi, dsb. Hal inipun terjadi ketika bayi-bayi tersebut menginjak usia universitas.
MANAJEMEN BARU KEUANGAN PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.361 KB)
Otonomisasi keuangan pada perguruan tinggi negeri (PTN) sedang menjadi topik pembicaraan yang cukup aktual di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan. Masalah ini menjadi semakin meningkat aktualitasnya manakala mulai tahun ini secara bersama-sama hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan "pungutan"nya dari mahasiswa (baru) sampai batas yang sangat berarti. Seperti kita ketahui bersama pada tahun akademik 1991/1992 ini hampir seluruh PTN di negeri ini menaikkan tarifnya. Memang, kenaikan tarif PTN tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan beaya pendidikan pada PTS umum-nya, akan tetapi menjadi sangat berarti kalau dibanding-kan dengan beaya pendidikan pada PTN di tahun-tahun yang sebelumya. Dan yang perlu diperhatikan, nampaknya PTN mulai bersaing dengan PTS dalam soal "pungut-memungut" dana pendidikan dari masyarakat. Dari kenyataan tersebut maka isu otonomisasi keu-angan pada PTN menjadi berkembang dengan suburnya; dalam era mendatang, konon, PTN akan mengembangan manajemen keuangannya secara lebih "bebas" sebagai manifestasi a-tas otonomi yang dimilikinya.
DIMULAI LAHIRNYA BAYI "PREMATUR" TPI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.574 KB)
Sebagaimana yang pernah terjadi pada tahun-tahun yang sebelumnya maka perjalanan pendidikan tahun 1991 ini sangat menarik untuk direview dan dicermati kembali. Pada dasarnya pendidikan itu sendiri merupakan fenomena universal yang oleh birokrasi manusia senantiasa dicoba disistematisasi pengembangannya; maka berbagai kompleksitas problematika menjadi eksist karenanya. Upaya untuk mensolusi kompleksitas problematika inilah yang kemudian menimbulkan kemenarikan-kemenarikan tertentu. Kalau perjalanan pendidikan kita pada tahun 1989 dan 1990 yang lalu diwarnai dengan bermunculnya berbagai produk hukum tertentu, khususnya munculnya UU No:2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, SK Menpan No:26/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru, PP No:27/1990 tentang pendidikan prasekolah, PP No:28/1990 tentang pen didikan dasar, PP No:29/1990 tentang pendidikan menengah serta PP No:30/1990 tentang pendidikan tinggi; maka pada tahun 1991 ditandai dengan munculnya "lembaga pendidikan" yang baru dan nonkonvensional. Seperti yang telah kita ketahui bersama pada awal tahun 1991, tepatnya pada tanggal 23 Januari 1991, maka Presiden Soeharto telah berkenan meresmikan berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Lembaga pertelevi-sian ini memiliki orientasi yang agak spesifik dibanding dengan lembaga pertelevisian yang sudah ada (TVRI, RCTI, dan SCTV); yaitu lebih menitik-beratkan siarannya pada program-program pendidikan.
BANYAK GURU SD MENGELUH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (214.199 KB)
Baru-baru ini di Jawa Tengah dilakukan penelitian mengenai perikehidupan guru Sekolah Dasar (SD). Hasilnya menyatakan bahwa banyak para guru SD di Jawa Tengah yang terkena stress. Hasil penelitian tersebut mungkin saja juga berlaku bagi guru-guru SD di daerah lain, termasuk Bali; meskipun banyak kalangan -termasuk saya sendiri- mempertanyakan validitas hasil penelitian tersebut. Tetapi ..., lupakanlah hal tersebut; karena saat ini justru sedang ada fenomena baru yang sungguh penting dicermati berkaitan dengan mutu pendidikan nasional kita, yaitu terdapatnya keluhan dari para guru (khususnya guru SD) berkaitan dengan pengurusan kenaikan jabatannya. Para guru SD mengeluh; kesempatan yang diberikan oleh pemerintah untuk "memperpendek" masa tenggang kena-ikan jabatan, dari empat tahun menjadi dua tahun, hampir tak dapat dimanfaatkan sama sekali karena beratnya meme-nuhi persyaratan dalam pengurusannya. Seperti diketahui untuk naik jabatan maka dengan sistem yang lama diperlu-kan waktu minimal empat tahun, sedangkan dengan sistem yang baru dimungkinkan seorang guru naik jabatan hanya dalam waktu dua tahun saja.
KUD DAN KELUARGA BERENCANA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (247.43 KB)
Sekitar satu tahun yang lalu saya pernah "dibawa" ke suatu desa di Kabupaten Jembrana, Bali. Adapun maksud "pembawaan" saya ini -bersama dengan teman-teman dari BKKBN Pusat, USAID, dan World Bank- adalah untuk ditunjukkan bahwa di tempat ini pelayanan Keluarga Berencana (KB) sudah sampai di tingkat bawah; desa dan dusun. Keadaan tersebut di atas sebenarnya bukan barang baru bagi saya sebab di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saya juga melaksanakan eksperimentasi tentang pendekatan pelayanan KB pada kelompok masyarakat yang berada pada lapisan yang paling bawah, baik dalam artian fisik-geo- grafis maupun sosial. Benar atau salah mungkin apa yang terjadi di Bali dan DIY telah memberikan kontribusi inspirasi mengenai ide pemanfaatan Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai pusat pelayanan KB bagi masyarakat pedesaan. Baru-baru ini Presiden Soeharto telah memberikan "lampu hijau" atas keterlibatan KUD dalam upaya memberi-kan pelayanan KB kepada masyarakat pedesaan; demikianlah informasi kebijakan di bidang per-KB-an yang dikomunika-sikan oleh Kepala BKKBN, Haryono Suyono, sesaat setelah menghadap Presiden Soeharto di Istana Merdeka Jakarta..lh8