Articles
6 Documents
Search results for
, issue
"1991: HARIAN SUARA KARYA"
:
6 Documents
clear
PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (55.738 KB)
          Perkelahian pelajar kambuh lagi! Itulah komentar pendek yang melukiskan betapa masalah kenakalan remaja, khususnya pelajar sekolah, memang sulit dituntaskan. Bagaikan sebuah "mode" yang pernah dilupakan orang tetapi sewaktu-waktu dapat kambuh kembali.            Meskipun perkelahian pelajar sebagai ekspresi dari fenomena kenakalan remaja dapat diibaratkan mode yang lagi "ngetrend" kembali; akan tetapi pemunculan-ulangnya kali benar-benar agak kelewatan. Betapa tidak; puluhan    bahkan ratusan pelajar terlibat dalam suatu  perkelahian membabi-buta. Polisi yang akan menetralisasikan suasana pun tak luput dari amukannya. Kasus di Jakarta belum selesai muncul kasus serupa di Gresik, dan entah menyusul di mana lagi. Bukan main; peristiwa seperti ini memang tidak biasa terjadi pada sekelompok manusia berbudaya.            Menghadapi kenyataan pahit tersebut memang sangat wajar kalau kemudian Presiden Soeharto secara khusus menyampaikan keprihatinannya. Sebagai Bapak Negara barangkali beliau sangat sedih melihat perilaku nirbudaya dari putra-putra bangsa yang konon di masa mendatang akan memegang kepemimpinan dan kendali negara tercinta ini.
TAHUN KETIDAKBERUNTUNGAN IKIP
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (43.697 KB)
          Perjalanan pendidikan di Indonesia untuk periode tahun 1991 ini nampaknya memang sangat menarik dicermati dan dievaluasi, dikarenakan relatif banyaknya isu serta kebijakan pendidikan yang bermunculan. Tidak seluruh isu serta kebijakan disambut "welcome" oleh masyarakat kita, karena ada sebagian di antaranya yang dipandang masih harus memerlukan diskusi panjang.        Tiga tahun yang lalu dalam menganalisis-evaluatif pendidikan akhir tahun 1988, di harian ini saya menulis mengenai kurang cerahnya IKIP dalam menapaki perjalanan pendidikannya; hal ini diindikatori oleh ditutupnya sebanyak 209 program studi pada lingkungan IKIP (dan FKIP) Negeri di seluruh Indonesia (Supriyoko, "Dinasti IKIP pun Mulai Berguguran", SK: 29/12/1988). Kalau dalam tulisan ini saya kembali menyajikan romantika akademis yang dila lui IKIP selama tahun 1991 maka akan ada kesamaan makna; yaitu mengenai kurang cerahnya perjalanan pendidikan ba-gi lembaga IKIP itu sendiri.        Memang, sebagaimana yang terjadi pada tiga tahun yang silam maka tahun 1991 ini nampaknya merupakan tahun ketidak-beruntungan IKIP. Tiga tahun yang lalu lembaga IKIP harus merelakan kehilangan ratusan program studinya karena terkena facing out; lebih dari itu berbagai kritik tajam (cemoohan?) pun bermunculan di sana-sini. Kali ini kritik tajam tersebut kembali menusuk dada; bahkan lebih dari itu ada sementara kalangan tertentu yang meng gugat eksistensi IKIP itu sendiri.
MENGHITUNG NASIB LULUSAN PGSD
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.277 KB)
Rencana dilaksanakannya rasionalisasi di beberapa bank pemerintah dalam bentuk mem-phk (putus hubungan kerja) sebagian karyawannya sungguh menarik untuk disimak; karena hal ini rasanya merupakan fenomena yang sangat tidak biasa (langka) dalam sistem perbankan pada khusus-nya dan dalam sistem kepegawaian pemerintah pada umumnya dalam jaman pembangunan ini.
Kemenarikan tersebut di atas bertambah sempurna karena setelah rencana rasionalisasi dipublikasikan maka istilah rasionalisasi itu sendiri menjadi sangat populer dan lebih menggejala. Ingin bukti? Baik! Setelah rencana tersebut "memasyarakat" kini terdengar khabar dari Jawa Timur; konon Perumtel III yang berkantor pusat di Sura-baya akan mengurangi ratusan karyawannya secara bertahap. Dari Jawa Timur juga diperoleh berita bahwa Perusahaan Daerah (PD) pada daerah ini konon juga sedang memikirkan diaplikasikannya rasionalisasi karyawan demi pencapaian efektivitas dan efisiensi kerja yang optimal.
Di lingkungan sekolah ternyata juga telah terjadi proses dan mekanisme rasionalisasi; meskipun dalam skala yang berbeda. Beberapa sekolah swasta dari berbagai jen-jang pendidikan yang mengalami kekurangan siswa ternyata terpaksa mem-phk-kan sebagian para gurunya. Alasannya? Apalagi kalau tidak efektivitas dan efisiensi. Alur lo-gikanya pun cukup jelas: kebanyakan, atau bahkan hampir seluruh, sekolah swasta di negeri tercinta ini kan hidup dan berkembang dari siswa; kalau jumlah siswanya menipis maka daya hidupnya kan menurun, dan untuk mempertahankan hidup maka rasionalisasi menjadi pilihan.
GOSIP PEMBUBARAN IKIP
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (56.645 KB)
      Membaca berita bahwa sebanyak 10 IKIP Negeri akan segera "dibubarkan" dengan cara diubah statusnya menjadi universitas, kalangan IKIP ada yang menanggapinya dengan agak surprise; tetapi banyak pula yang menanggapinya secara dingin-dingin saja. Meskipun berita tersebut konon bersumber dari Direktur Jenderal Dikti Depdikbud, Soekadji Ranoewihardjo, tetapi berita semacam itu sepertinya sudah menjadi santapan sehari-hari bagi warga IKIP.        Sebelum berita tersebut muncul di permukaan maka gosip bahwa IKIP akan segera di-KO memang sudah beredar secara terbatas; ada yang menyebutkan IKIP akan digabung ke universitas sebagai FKIP, ada yang menyebutkan IKIP akan dikurangi populasinya, bahkan ada yang menyebutkan IKIP akan ditutup sama sekali. Jadi, mendengar berita bahwa IKIP akan diubah statusnya menjadi universitas maka berita tersebut dianggap biasa-biasa saja; yang agak tidak biasa ialah berita tersebut -konon- sumbernya lang sung dari seorang birokrat yang memang mempunyai "power" dan otorita untuk menentukan masa depan IKIP. Kalau yang biasa didengar selama ini sekedar gosip yang tidak jelas jluntrung-nya, maka berita pengubahan status ini mungkin sedikit agak lain.        Entahlah; tetapi justru yang kemudian "mengaget-kan" ialah adanya statement Pak Soekadji yang menyatakan tidak benar bahwa 10 IKIP Negeri akan diubah statusnya menjadi universitas, yang benar adalah akan segera dibe-nahinya lagi kurikulum IKIP. Sebagaimana dengan berita terdahulu yang dipublikasikan oleh berbagai media lokal dan ibu kota, maka berita "pembatalan" pengubahan status IKIP pun juga dipublikasi secara massa.
FENOMENA POSITIF PENELITIAN SDSB
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.83 KB)
      Penelitian mengenai SDSB! Inilah salah satu topik pembicaraan yang paling aktual di tengah-tengah masyarakat kita kali ini, baik bagi masyarakat awam maupun bagi masyarakat ilmiah. Indikatornya relatif gampang; dalam berbagai kesempatan maka pembicaraan mengenai penelitian SDSB selalu diikuti secara antusiasme. Di jalan, di pasar, di kampung, di koran-koran dan bahkan di kampus pun topik yang satu ini rasanya memang lagi "ngetrend".        Topik tersebut menjadi sangat aktual setelah Menko Polkam, Sudomo, baru-baru ini menginformasikan bahwa Biro Pusat Statistik (BPS) akan diserahi tugas untuk melaksanakan penelitian mengenai SDSB dengan anggaran yang direncanakan sekitar 500 juta rupiah. Waktu penelitian diperkirakan empat bulanan, dan akan segera dilaksanakan secepat mungkin. Persiapan penelitian sudah sampai pada tahap pembuatan term of reference, dan salah satu alasan penunjukan BPS sebagai peneliti ialah karena lembaga ini memiliki jaringan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air (SK, 13/12/91).        Hasil penelitian tersebut di atas diharapkan bisa memberikan gambaran objektif mengenai permasalahan SDSB itu sendiri yang akhir-akhir ini banyak "diributkan" ma-syarakat. Seperti kita ketahui di berbagai tempat telah terjadi reaksi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah mengenai peredaran SDSB; meskipun reaksi tersebut nampak nya tidak mengurangi omzet SDSB itu sendiri.
MUTU ORGANISASI PROFESI KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (216.403 KB)
Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim, dalam presentasinya di hadapan peserta kongres dan pekan ilmiah Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (ISPsI) baru-baru ini di Semarang sempat mengkomunikasi "uneg-uneg" yang telah lama dipendam. Menurutnya, selama lebih dari 25 tahun mengabdikan diri pada pemerintah Pak Emil belum pernah melihat secara nyata adanya peran psikologi dalam membuat kebijakan pemerintah. Karena itulah Pak Emil menyarankan agar peran ke arah itu harus makin diperbesar; karena pembuatan tiap kebijakan harus selalu dilihat dampaknya pada perilaku manusia. Penyampaian "uneg-uneg" Pak Emil tersebut apabila diterima mentah-mentah oleh kalangan psikologi memang cu kup pahit; akan tetapi apabila diterima secara bijaksana kiranya justru dapat dijadikan cambuk untuk meningkatkan prestasi bagi ISPsI dengan segenap anggotanya. Lebih dari itu, pernyataan "uneg-uneg" Pak Emil tersebut sesungguhnya sekaligus merupakan "warning" bagi semua organisasi profesi di negara kita; sejauh mana or-ganisasi profesi telah berupaya meningkatkan mutu serta memainkan peran dalam kehidupan nyata.