Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"1992: HARIAN SUARA KARYA"
:
8 Documents
clear
MBA : ANTARA KETERTIBAN DAN KREATIVITAS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (210.925 KB)
      Munculnya berbagai lembaga penyelenggara program MBA, Master of Business Administration, akhir-akhir ini seperti tak terkendalikan lagi. Pada berbagai kota besar program ini menunjukkan eksistensinya; namun bersamaan dengan itu "saling-silang" mengenai program ini pun menjadi tak terhindarkan lagi.        Diakui atau tidak dewasa ini penilaian masyarakat mengenai penyelenggaraan program MBA sedang "terbagi"; ada yang menyatakan kehadiran program MBA secara eksistensional merupakan ekspresi kreativitas masyarakat yang dapat melengkapi program-program pendidikan yang ada dan secara material lulusannya diperlukan oleh industri dan perusahaan. Sementara itu di pihak lain ada yang menyatakan bahwa lulusan MBA sudah tidak diperlukan lagi oleh karena mutunya yang makin lama semakin menurun, peserta didiknya tidak lagi berorientasi pada keterampilan namun lebih pada gelar, sedangkan penyelenggaraannya makin tak beraturan sehingga perlu segera ditertibkan.        Mengenai pendapat yang terakhir, yaitu penertiban lembaga MBA, rasanya memang ada benarnya. Disadari atau tidak pemerintah pun saat ini sedang dalam proses mener-tibkan lembaga MBA dan sejenisnya. Kalau beberapa waktu yang lalu koordinator Kopertis di berbagai wilayah telah mengundang para penyelenggara program MBA untuk diajak dialog mengenai eksistensi lembaga berkaitan dengan pe-ran sertanya di masyarakat; hal ini kiranya merupakan bagian dari upaya penertiban tersebut. Memang, istilah penertiban ini tidaklah relevan dengan pelarangan, seti-dak-tidaknya untuk saat ini.
LIMA "WARNING" BAGI TPI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.344 KB)
      Pada tanggal 23 Januari 1991 satu tahun yang lalu Presiden Soeharto berkenan meresmikan lahirnya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI); itu berarti bahwa hari ini TPI telah genap berusia satu tahun. Satu tahun yang lalu pula di harian ini saya menulis tentang kerinduan bangsa kita untuk mempunyai program pengajaran nonkonvensional melalui televisi guna memperluas jangkauan pelayanan pendidikan bagi rakyat banyak (Supriyoko, "Selamat Datang Televisi Pendidikan", Suara Karya: 23/01/91).        Dalam usianya yang baru setahun ini ternyata TPI begitu banyak mendapatkan kritik, saran, bahkan sinisme dari masyarakat. Apabila teman-teman TPI sempat mengiden tifikasi maka akan menemukan berbagai kritik yang sangat konstruktif, akan tetapi tentu banyak pula kritik yang destruktif. Tidak apa-apa; berbagai kritik, saran, serta sinisme itu justru menunjukkan begitu besarnya kecintaan dan harapan masyarakat yang ditujukan pada TPI. Hal ini sekaligus membuktikan pula bahwa kerinduan atas hadirnya TPI di tengah-tengah masyarakat memang benar-benar telah diendapkan sejak lama; paling tidak semenjak akhir tahun 60-an ketika Depdikbud mulai aktif mengadakan penelitian atau studi kelayakan tentang kemungkinan dikembangkannya sistem pengajaran bermedia (mediated instruction).        Mengapa masyarakat kita cukup gencar melayangkan kritik dan saran terhadap TPI? Banyak hal yang menyebabkannya; antara lain adanya keinginan masyarakat agar TPI dapat meningkatkan profesionalitas segenap jajarannya.
MEREALISASI ASEAN UNIVERSITY
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.133 KB)
      Bagus! Inilah komentar pertama ketika ide tentang pembentukan ASEAN University terkomunikasikan kepada masyarakat, terutama masyarakat akademik. Sesungguhnya ide pembentukan ASEAN University ini memang bukan merupakan hal yang baru, setidak-tidaknya ketika berlangsung KTT ke-4 ASEAN di Singapura beberapa waktu yang lalu gagasan tersebut telah diformulasi.        Bukan itu saja; ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproklamasikan perguruan tinggi tanpa mahasiswa, "United Nation (UN) University",beberapa tahun yang lalu maka ide pembentukan ASEAN University pun segera muncul. Kerangka berfikirnya cukup simpel dan bersifat analogis; apabila di tingkat internasional telah berhasil dibentuk UN University maka di tingkat regional ASEAN pun kiranya perlu didirikan "ASEAN University" untuk menghimpun "ke-kuatan" pendidikan (tinggi) bangsa-bangsa ASEAN.       Meskipun ide pembentukan ASEAN University tersebut bukan merupakan barang baru akan tetapi belakangan ini sempat teraktualisasi kembali; hal ini berkaitan dengan diselenggarakannya pertemuan ASEAN Sub Committee on Education (SCOE) di Jakarta baru-baru ini.
"BABY-BOOM" DALAM PENDIDIKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (210.283 KB)
      Dalam suatu seminar pendidikan pada sebuah kampus beberapa waktu lalu, seorang pemrasaran mencoba mengaktu alisasi istilah klasik yang beberapa tahun silam sempat populer di Amerika Serikat (AS), yaitu baby boom. Adapun pengertian istilah ini adalah terjadinya peledakan kelahiran (bayi) di dalam kurun waktu tertentu.        Di AS peristiwa baby boom tersebut pernah terjadi pada tahun 40-an setelah usai Perang Dunia II dan tahun 1960-an setelah usai Perang Vietnam. Kisahnya sederhana,sekembalinya para tentara dari medan perang yang nota bene lama berpisah dengan isteri atau keluarganya mereka segera memulai (kembali) aktivitas "reproduksi"-nya. A-kibatnya dapat dibayangkan secara mudah: beberapa bulan kemudian terjadi kelahiran bayi yang cukup tinggi kuan-titasnya; hal ini disebabkan karena aktivitas reproduksi tersebut dilaksanakan pada kurun waktu yang sama. Itulah kira-kira logika simpelnya.        Apakah peristiwa "baby-boom" tersebut ada hubung-annya dengan fenomena pendidikan? Disinilah permasalahan yang perlu diklarifikasi!
PENA EMAS KI HADJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.084 KB)
      Kiranya sudah menjadi semacam tradisi nasional kita, bahwa setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia dengan segala kekhidmatannya memperingati hari pendidikan nasional, "hardiknas"; suatu moment yang mengingatkan bangsa Indonesia terhadap perjuangan pendidikan yang dilakukan oleh para pendahulunya. Dan .., setiap kita memperingati hari pendidikan nasional maka nama Ki Hadjar Dewantara senantiasa melekat di dalamnya. Memang demikianlah keadaannya! Kiranya memang tidak ada yang tidak sependapat bahwasanya pengukuhan tanggal 2 Mei oleh pemerintah RI sebagai hari pendidikan nasional dimaksudkan agar supaya kita selalu ingat serta hormat atas jasa-jasa Ki Hadjar yang telah berhasil mengembangkan konsep-konsep pendidikan untuk kemajuan bangsa; sekaligus mengimplementasi konsep-konsep tersebut secara kritis.        Pemerintah kita melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomer:316/1959 tertanggal 16 Desember 1959 menetapkan tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara, yaitu 2 Mei, sebagai hari pendidikan nasional sebagaimana yang senantiasa diperingati pada setiap tahunnya itu.        Siapapun mengenal, bahwa Ki Hadjar Dewantara ada-lah Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia; bahkan mantan Presiden RI Soekarno pernah menyebut beliau dengan tiga sebutan sekaligus; Tokoh Nasional, Tokoh Kemerdekaan dan Tokoh Pendidikan Nasional.
DELINKUENSI REMAJA DALAM SISTEM PENDIDIKAN KITA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.355 KB)
Ibarat buah durian yang lagi musim maka sekarang ini perkelahian sebagai ekspresi dari kenakalan atau delinkuensi remaja tengah memasuki masa musim kembali. Di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dsb, akhir-akhir ini lagi-lagi terjadi perkelahian antar pelajar atau antara pelajar dengan pihak lain.Di Jakarta bahkan terjadi perkelahian antara pelajar dengan mahasiswa yang melibatkan puluhan remaja. Ironis memang; pelajar dan mahasiswa yang di dalam sistem pendidikan kita merupakan putra bangsa yang secara sistematis disiapkan untuk menjadi pemimpin bangsa di masa depan justru melakukan hal-hal yang sangat mempri-hatinkan, bahkan cenderung memalukan. Peristiwa yang sempat mengundang rasa keprihatinan Bapak Presiden Soeharto serta beberapa menteri tersebut makin hari tidak terasa semakin menyurut, akan tetapi ada pratanda justru makin meningkat kualitasnya. Delinkuensi remaja kita saat ini tidak sebatas perkelahian lagi namun sudah menjalar ke pengrusakan; akhirnya korban pun berjatuhan, dari bus yang ringsek sampai nyawa melayang.
KERUGIAN GURU DAN KEBERANIAN MENUNTUT MELALUI PTUN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.812 KB)
Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan untuk menuntut oknum-oknum atau siapa saja yang terlibat di dalam kasus pemotongan gaji guru, pemotongan dana pemeliharaan sekolah, dsb, melalui Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) sedikit membuat kita lega. Di samping itu pernyataan Pak Menteri bahwa masalah-masalah yang berlarut-larut di lingkungan Depdikbud seyogyanya segera dilimpahkan ke PTUN juga sedikit membawa lega. Mengapa pernyataan tersebut membuat sedikit lega? Oleh karena di lapangan memang masih sangat sering terjadi berbagai kasus yang merugikan aparat Depdikbud, terutama para guru. Kita ambil contoh,meskipun di mana-mana sangat sering kita dengar keluhan mengenai kasus potong-memotong gaji guru, khususnya guru SD, dan di mana-mana pula banyak pejabat yang menyatakan bahwa kasus tersebut kurang dapat dibenarkan, akan tetapi perihal potong-memotong tersebut masih saja sering berlangsung. Bukan itu saja, masalah-masalah yang berlarut-la-rut di lingkungan Depdikbud, misalnya tentang kekeliruan atau kelambatan dalam proses kenaikan jabatan dosen dan/ atau guru, rasanya juga belum terhindarkan.
"MISTERI" KURSI KOSONG PTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.289 KB)
Untuk memulai tulisan ini pembaca akan saya ajak membuka lembaran sejarah pendidikan tinggi kita beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 1985 ketika Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di negara kita mengaplikasi Pola Sipenmaru dalam sistem seleksi masuk perguruan tinggi bagi kandidat mahasiswa barunya maka terjadilah peristiwa akademik yang hampir tidak diperhitungkan sebelumnya; yaitu terjadinya "misteri" kursi kosong yang tidak berpenghuni. Sipenmaru 1985 diikuti oleh sebanyak 512.050 calon mahasiswa untuk berkompetisi saling memperebutkan 71.280 kursi kuliah yang disediakan PTN; tiap kursi kuliah ra-ta-rata diperebutkan oleh tujuh atau delapan calon. Dari deretan angka ini tergambarkan ketatnya kompetisi untuk memasuki PTN saat itu; meskipun demikian ternyata tidak seluruh calon mau menggunakan haknya untuk belajar pada PTN. Klarifikasinya sbb: setelah PTN menseleksi dan meng umumkan para calon yang dinyatakan diterima ternyata tak semua calon yang "beruntung" ini mau mendaftarkan ulang (her-registrasi) sehingga haknya untuk menjadi mahasiswa PTN terpaksa dibatalkan. Rasanya memang aneh; untuk bisa memasuki PTN harus melewati kompetisi yang ketat, tetapi setelah diterima tidak mau mendaftar ulang. Akibat peristiwa tersebut di atas maka terjadilah kursi kosong yang waktu itu menjadi semacam misteri; dan jumlahnya pun relatif tidak sedikit, 2.128 kursi kosong. Untuk mengisi kekosongan ini terpaksa diselenggarakanlah seleksi mahasiswa baru gelombang ke-2 khusus bagi IKIP, karena kursi kosong ini terjadi di lingkungan IKIP; hal yang sebelumnya hampir tak pernah terjadi pada PTN.