Articles
22 Documents
Search results for
, issue
"1994: HARIAN BALI POS"
:
22 Documents
clear
"MUSIBAH" SANG PROFESOR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (179.369 KB)
Sang guru besar alias profesor pun ternyata dapat pula kena "musibah"; demikian pula dengan sebagian dari para dosen senior di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hal ini terjadi pada para profesor dan dosen senior yang sa-at ini masih menjadi pejabat struktural dan yang mantan atau pernah menjabat. Bahkan juga terjadi pada profesor yang sudah memasuki masa pensiun. Barangkali "musibah" tersebut baru pertama kali terjadi di dalam sejarah kepegawaian kita, terutama yang menyangkut para guru besar serta dosen senior yang nota bene telah lama mengabdikan dirinya pada dunia keilmuan di perguruan tinggi. Jelasnya,sekarang ini sebagian dari profesor dan dosen senior pada PTN sedang kena "musibah" karena dikenai aturan yang mengharuskan dirinya berurus-an dengan persoalan jabatan struktural dan tunjangannya. Bagi mereka yang sekarang usianya melebihi 60 tahun tak akan mendapat tunjangan struktural, meskipun masih aktif memangku jabatan. Ternyata bukan itu saja, mereka masih juga diminta mengembalikan tunjangan struktural yang per nah diterimanya setelah usia 60 tahun. Keadaan tersebut bukan saja berlaku bagi yang ma-sih aktif bekerja, tetapi juga berlaku bagi mereka yang sudah menikmati hari tua dimasa pensiun. Dalam kasus ini seorang profesor ataupun dosen senior tersebut ada yang terkena kewajiban ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Se-orang profesor di UGM Yogyakarta konon ada yang terkena kewajiban hampir sepuluh juta rupiah, di UNS Surakarta konon ada yang mencapai hampir 21 juta rupiah, demikian pula dengan PTN-PTN yang lainnya.
49 TAHUN PGRI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (183.015 KB)
Pada hari ini, 25 November 1994, usia Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) genap 49 tahun; satu usia yang dapat menunjukkan "kedewasaan" sebuah organisasi profesi, setidak-tidaknya dari rentang atau lamanya pengabdian. Di Indonesia ini sangat jarang ditemui satu organisasi profesi yang usianya setua PGRI; organisasi profesi lainnya seperti Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), dsb, pada umumnya bermasa-pengabdian lebih pendek. Hari ulang tahun PGRI kali ini rencananya dirayakan di istana negara bersama Presiden Soeharto dan para pejabat tinggi pemerintah; konon perayaan kali ini dapat diibaratkan sebagai mendayung dua pulau, yaitu memperingati "Hari Guru Nasional" yang jatuh tepat pada tanggal 25 November dan 'Hari Guru Internasional' yang jatuh pada tanggal 5 Oktober yang lalu. Barangkali kita masih ingat dengan suatu tradisi anyar yang baru saja ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dalam hal ini adalah UNESCO; yaitu mulai tahun ini tanggal 5 Oktober telah ditetapkan menjadi 'Hari Guru Internasional', dan setiap bangsa yang utamanya para guru dianjurkan untuk dapat memperingatinya. Oleh karena bangsa Indonesia sudah mempunyai "hari guru" tersendiri, yaitu tanggal 25 November, demi pertimbangan efisiensi dan efektivitas maka peringatannya dibersamakan saja.
TPP DAN ETOS DIDIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (178.172 KB)
Sebagaimana yang telah direncanakan secara matang jauh hari sebelumnya maka hari ini, 2 Mei 1994, Presiden Soeharto mencanangkan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (WBPD) atau wajib belajar sembilan tahun, sebuah program "besar" pendidikan yang kita yakini secara sis-tematis dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Momentum pencanangan WBPD kali ini bagi bangsa Indonesia merupakan pengalaman yang kedua kalinya. Kalau kita ingat kembali sepuluh tahun yang lalu, tepatnya tgl 2 Mei 1984, Presiden Soeharto telah berkenan pula menca-nangkan program Wajib Belajar Sekolah Dasar (WBSD), atau wajib belajar enam tahun. Dalam perjalanan WBSD di akhir tahun yang kesepuluh ini nampaknya banyak keberhasilan yang telah diraih; jumlah anak usia SD (7-12 tahun) yang tidak sekolah dari tahun ke tahun dapat ditekan, di sisi yang lain kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak-nya paling tidak sampai tamat SD juga makin nyata. Berbeda dengan WBSD yang sasarannya anak usia SD maka WBPD sasarannya ialah anak usia SLTP (13-15 tahun). Jadi esensi WBPD ialah "mewajibkan" (baca: menganjurkan) anak-anak usia SLTP untuk segera "belajar" menuntut ilmu (baca: bersekolah). Adapun konotasi "belajar" dalam hal ini tidaklah terbatas pada pengertian bersekolah secara konvensional, namun boleh juga mengikuti program-program ekuivalensinya; misalnya mengikuti Kejar Paket B, pesan-tren "modern", SMP Terbuka, dan sebagainya.
NAMA SEKOLAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.663 KB)
Di Yogyakarta baru saja terjadi kasus unjuk rasa yang agak tidak biasa; sejumlah siswa sekolah menengah kejuruan melakukan "protes" atas penggantian nama sekolahnya. Pada kasus ini para siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) menyatakan amat berkeberatan dengan digantinya nama sekolah menjadi Sekolah Menengah Seni dan Keju- ruan (SMSK). Menurutnya SMSR memiliki kekhasan tersendiri kalau dibandingkan dengan SMSK; pada sisi yang lain dengan SMSR maka masa depannya lebih jelas, utamanya masa depan yang berhubungan dengan bidang seni rupa yang ditekuninya. Unjuk rasa tersebut memang tidak biasa dikarenakan para siswa sekolah menengah sudah mampu mengantisipasi masa depan dengan mengaitkan kekhasan dan nama sekolahnya. Lepas dari tepat dan tidak tepatnya metode unjuk rasa tersebut maka kasus tersebut juga dapat menandakan adanya kepedulian para siswa terhadap sekolah, sehingga "hanya" masalah nama saja menjadi bahan unjuk rasa. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa masalah nama sekolah kejuruan tersebut akhirnya sampai kepada anggota DPR pada propinsi setempat. Lebih daripada itu kasus tersebut juga makin hangat dengan adanya aksi solidaritas dari para mahasiswa seni; mereka berpendapat bahwa apa yang diperjuangkan oleh siswa SMSR tersebut memang benar adanya, dalam arti nama SMSR hendaknya tetap dipertahankan tanpa harus menggantikannya dengan SMSK. Kalau berbagai media massa, lokal dan nasional, memberitakan secara luas hal itu menandakan adanya unsur ketidak-biasaan dalam kasus tersebut.
SEB BAGI PARA GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.651 KB)
Untuk menandai terjadinya proses pergantian tahun 1993 menuju tahun 1994 nampaknya Depdikbud berusaha me-narik simpati para guru di lapangan sebagai ujung tombak pengemban misi pendidikannya; yaitu dengan memberikan berbagai kemudahan dalam pengurusan kenaikan jabatan dan /atau pangkatnya. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 24 Desember 1993, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI bersama Kepala Biro Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) telah mengadakan "penyempurnaan" kerja sama dalam bentuk penandatanganan Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Tata Cara Pelaksanaan Angka Kredit Guru. Surat Edaran Bersama ini merupakan penjabaran dari SK Menpan No.26/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru di Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang telah disempurnakan. Maksud kerja sama tersebut sangatlah konstruktif; yaitu memberikan berbagai kemudahan agar supaya guru di lapangan lebih gampang dalam mengurus kenaikan jabatan dan/atau pangkatnya.
EBTANAS SMA RAWAN A2
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (178.814 KB)
Pelaksanaan program akademik rutin tahunan di SMA yang berupa Ebtanas sudah dilangsungkan sejak 3 Mei 1994 s/d 6 Mei 1994. Bagi para pelajar SMA hari-hari itu barangkali menjadi hari yang cukup bersejarah oleh karena secara langsung maupun tak langsung ikut menentukan masa depannya di kemudian hari. Hubungan antara Ebtanas dengan masa depan pelajar dapat diklasifikasi sebagai "asymmetrical relationship"; yaitu hubungan yang menunjukkan terpengaruhnya suatu va-riabel oleh variabel yang lainnya. Dalam kasus ini hasil Ebtanas, sebagai "independent variable",secara hipotetik berpengaruh pada masa depan pelajar, sebagai "dependent variable". Memang, keterpengaruhan masa depan atas hasil Ebtanasnya ini tidak dapat kita amati dalam kurun waktu yang relatif pendek. Ebtanas memang tidak hanya diberlakukan bagi SMA, akan tetapi juga diberlakukan bagi sekolah-sekolah yang lain yaitu SD, SLTP dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK); namun demikian pelaksanaan Ebtanas di SMA selalu menarik untuk diamati. Mengapa demikian? Banyak faktor yang me-nyebabkan; salah satunya adalah menyangkut hasil Ebtanas itu sendiri yang konon lebih rendah dibandingkan dengan hasil Ebtanas SD dan SLTP.Pencapaian Nilai Ebtanas Murni (NEM) SMA banyak dikomentari sebagai lebih "jelek" dari-pada NEM SD dan NEM SLTP pada umumnya.
EBTANAS SLTP "SULIT"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.418 KB)
Sebagaimana telah dijadualkan semula maka setelah Ebtanas di sekolah menengah, baik di SMA sebagai sekolah umum maupun SMK sebagai sekolah kejuruan, selesai pelaksanaannya, kegiatan Ebtanas pun dilanjutkan pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Dasar (SD). Ebtanas SLTP telah dilaksanakan serentak dari tanggal 9 s/d 11 Mei, sedangkan Ebtanas SD telah dilaksanakan pada tanggal 16 s/d 18 Mei 1994 yang lalu. Seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya maka pelaksanaan Ebtanas SLTP berada di tengah-tengah di antara Ebtanas SMA/SMK dengan Ebtanas SD. Ternyata tahun ini pun kebiasaan itu tidak berubah; urutan pelaksanaan dari sekolah menengah (SMA/SMK), SLTP dan SD sampai kinimasih tetap dipertahankan. Apabila kita cermati jadual lengkap pelaksanaan Ebtanas tahun ini adalah sbb: Ebtanas SMA (dan SMK) di-langsungkan pada tanggal 3 s/d 6 Mei yang hasilnya akan diumumkan 26 Mei, Ebtanas SLTP dilaksanakan 9 s/d 11 Mei yang hasilnya akan diumumkan 30 Mei, sedangkan Ebtanas SD dilaksanakan 16 s/d 18 Mei yang hasilnya akan diumum-kan 10 Juni 1994. Melihat agenda akademik yang relatif padat ini kiranya wajar kalau kemudian ada yang menyebut bulan Mei sebagai 'Bulan Ebtanas'.
KETERSETUJUAN SEKS REMAJA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (178.84 KB)
Ada lagi hasil penelitian ilmiah yang benar-benar menarik untuk diikuti. Penelitian ini dilaksanakan oleh sebuah tim kolektif dari institusi pendidikan, yaitu Tim Presidium SMA Kolese De Britto Yogyakarta, dan baru saja diseminarkan secara terbuka di Yogyakarta. Penelitiannya ditujukan kepada kaum pelajar SMA yang nota bene adalah para remaja dan materinya menyangkut hal-hal yang berka-it dengan dunia remaja, termasuk di dalamnya pendapatnya mengenai masalah-masalah seks. Ratusan pelajar dari belasan SMA di Yogyakarta, baik SMA Negeri maupun SMA Swasta, telah dilibatkan se-cara langsung dalam penelitian tersebut. Dari 700 angket yang disebarkan kepada responden, yang dalam hal ini res pondennya adalah para pelajar SMA itu sendiri, ternyata sebanyak 493 telah diisi dan dikembalikan kepada tim pe-neliti untuk dianalisis lebih lanjut. Kesimpulan penelitian? Ya ...., ternyata sebanyak 22 persen remaja pelajar tersebut menyatakan ketersetuju annya atas hubungan seks di luar nikah atau seks secara ilegal, sebanyak 44 persen remaja pelajar tersebut menya takan pernah menonton film biru (blue film) yang sarat dengan adegan seks,dan sebanyak 76 persen remaja pelajar lainnya menyatakan pernah membaca majalah-majalah yang menonjolkan masalah seks.
EBTANAS SD "GAMPANG"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (411.067 KB)
Apabila secara nasional Ebtanas SLTP diikuti oleh sekitar dua juta siswa maka Ebtanas SD tahun ini secara nasional diikuti oleh sekitar 4,5 juta siswa,sekitar 90% di antaranya adalah siswa SD Negeri dan selebihnya siswa SD Swasta. Memang, kecenderungannya pada setiap propinsi jumlah siswa sekolah negeri lebih dominan dibandingkan jumlah siswa sekolah swasta. Peserta Ebtanas SD dari sekolah-sekolah di Pulau Jawa saja mencapai 2,4 juta siswa, atau sekitar 53% dari keseluruhan peserta Ebtanas SD secara nasional. Peserta Ebtanas SD di DKI Jakarta sekitar 170 ribu siswa berasal dari sekitar 3.500 sekolah (170.000/3.500); sementara i-tu peserta Ebtanas SD dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berturut-turut adalah 830.000/24.800, 690.000/22.000, dan 640.000/22.500. Ketiga propinsi di Jawa ini memang masuk dalam kelompok "the best three" dalam soal jumlah peserta Ebtanas SD. Adapun beberapa propinsi lain yang jumlah peserta Ebtanas SD-nya relatif tinggi adalah Propinsi Sumatera Utara (315.000/9.300), Sumatera Selatan (180.000/5.500), Sulawesi Selatan (175.000/7.200), serta Lampung (165.000/4.300). Peserta Ebtanas SD di Propinsi Bali secara keselu ruhan jumlahnya "hanya" sekitar 121 ribu siswa saja yang ber-asal dari 2.700 sekolah. Propinsi-propinsi lain yang jumlah peserta Ebtanas SD-nya hampir sama dengan Bali di antaranya adalah Kalimantan Selatan (121.000/2.900) dan Sulawesi Utara (120.000/2.900).
POTENSI INOVATIF MAHASISWA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (408.814 KB)
Baru-baru ini di Yogyakarta dilangsungkan upacara penyerahan tanda penghargaan bagi pemenang lomba inovasi teknologi yang dibuka untuk kaum intelektual muda, dalam hal ini mahasiswa PTN dan PTS. Penyerahan tanda penghar-gaan ini dilakukan langsung oleh gubernur setempat yang disaksikan oleh para tamu undangan; baik dari kalangan wakil rakyat, kantor wilayah, pimpinan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa dan pelajar. Lomba inovasi teknologi tersebut dimaksudkan un-tuk merangsang intelektual muda kita agar mengembangkan daya nalarnya guna membuat inovasi di bidang teknologi; baik teknologi yang terapan (appropriate technology) mau pun teknologi yang masih harus dikembangkan lebih lanjut (developed technology). Sedangkan dihadirkannya para un-dangan yang cukup "representatif" dalam penyerahan tanda penghargaan serta diserahkannya langsung tanda penghar-gaan tersebut oleh gubernur dimaksudkan agar supaya para inovator mendapatkan bimbingan dan bombongan untuk terus berkarya. Metode ini juga menunjukkan adanya perhatian yang cukup memadai dari pemerintah terhadap pengembangan teknologi, meski sifatnya masih teknologi "embrional". Memang demikianlah yang seharusnya. Meskipun, ba-rangkali dari segi kualitas masih sangat banyak kekurang an dalam mengimplementasi ide-ide kreatif-inovatif para mahasiswa kita; akan tetapi sebenarnya hal ini menunjuk-kan adanya potensi inovatif yang perlu dikembangkan. Un-tuk mengantisipasi datangnya era industrialisasi negara kita maka seluruh potensi inovatif dari para intelektual muda kita mau tidak mau harus dikembangkan.