Articles
7 Documents
Search results for
, issue
"1995: HARIAN SUARA MERDEKA"
:
7 Documents
clear
TAWARAN INOVASI YANG BERVARIASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.552 KB)
      Baru-baru ini, atau tepatnya tanggal 30 dan 31 Januari 1995, di Yogyakarta telah diselenggarakan presentasi pada final Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa (LITM). Lomba ilmiah ini diikuti oleh kelompok mahasiswa se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); baik mahasiswa PTN maupun PTS. Lomba yang dimaksudkan untuk merangsang berkembangnya inovasi di bidang teknologi ini diikuti oleh sebanyak 20 kelompok mahasiswa dari berbagai PTN dan PTS yang dinyatakan "lolos" oleh tim evaluasi.        Di Yogyakarta lomba semacam itu bukan untuk pertama kalinya karena pada tahun ini pelaksanaan LITM sudah terhitung yang ketujuh kalinya. Lomba tersebut dilaksanakan secara akademis, yaitu dengan cara memberikan kesempatan (waktu) dan stimulan dana bagi para mahasiswa untuk melakukan penelitian (research) di bawah bimbing-an seorang dosen untuk selanjutnya mempresentasi hasilnya di dalam forum ilmiah. Dalam forum ini mereka diuji sejauh mana pelaksanaan atas ide inovatifnya dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.        Para mahasiswa sebagai peserta lomba diberi kebebasan untuk mengembangkan gagasan inovatifnya; sedangkan gagasan inovatifnya boleh yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari, tetapi tidak harus demikian adanya.Â
MATA RANTAI REVOLUSI RADIO INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (414.608 KB)
      Lima puluh tahun atau setengah abad yang silam, tepatnya pada tanggal 11 September 1945 di negara kita lahir "bayi mungil" yang kemudian diberi sebutan Radio Republik Indonesia (RRI). Kelahiran RRI harus ditempuh melalui jalan panjang penuh liku semenjak jaman penjajahan Belanda dan Jepang.        Kalau kita mau merunut perjalanan sejarah sebenarnya lahirnya RRI sudah diembrionalisasi sejak jaman prakemerdekaan. Pada tahun 1933 di Solo berdiri Solosche Radio Vereniging (SRV), setahun be-rikutnya di Yogyakarta berdiri Mataramsche Vereniging voor Radio Omroep (MAVRO), di Jakarta muncul Vereniging Oosterse Radio Omroep (VORO), dan di kota Bandung berdiri Vereniging Oosterse Radio Luisteraars (VORL). Pada tahun 1935 di Surabaya berdirilah Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) dan di Semarang berdiri Radio Semarang. Itu semuanya merupakan embrio berdirinya RRI di persada ini.        Lahirnya RRI dilandasi tekad membela tanah air yang tercermin dalam Tri Prasetya RRI. Prasetia pertama berisikan tekad menyelamatkan semua alat siaran radio dari siapapun yang ingin memakai alat siaran untuk menghancurkan negara kita. Prasetia kedua berisi tekad untuk mengemudikan siaran RRI sebagai alat perjuangan berdasarkan jiwa kebangsaan yang murni, hati yang bersih dan jujur, serta kecintaan dan kesetiaan kepada tanah air dan bangsa. Sedangkan prasetia ketiga adalah tekad untuk bersatu di atas semua aliran, partai maupun golongan, berpegang pada jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.
KI HADJAR "RONTOKKAN" ORDONANSI BELANDA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.538 KB)
Kita mempunyai kebiasaan yang konstruktif pada setiap tanggal 2 Mei memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kiranya tidak banyak yang tahu bahwa kebiasaan ini sudah dimulai lebih dari tiga puluh tahun yang silam. Setiap kita bangsa Indonesia ini memperingati Hardiknas maka nama Ki Hadjar Dewantara segera muncul di benak kita semua;memang peringatan Hardiknas itu sendiri diambil atau dibakukan dari tanggal lahir Ki Hadjar sebagai Bapak Pendidikan yang telah menyumbangkan hampir seluruh hidupnya untuk mengembangkan pendidikan nasional.  Ki Hadjar lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas (RM) Soewardi. Beliau berasal dari keluarga bangsawan Soerjaningrat sehingga ketika muda lebih dikenal dengan nama R.M. Soewardi Soerjaningrat. Sebagaimana dengan kebiasaan "orang Jawa" waktu itu yang sering berganti nama di masa tuanya maka Soewardi pun ketika genap berusia "panca windu" atau empat puluh tahun, berdasarkan perhitungan Tahun Caka, juga berganti nama; adapun nama yang dipilihnya adalah Ki Hadjar Dewantara sebagaimana yang kita kenal sampai sekarang ini.  Semenjak mudanya Ki Hadjar senang mengekspresikan ide dalam tulisan. Beliau merupakan penulis yang mahatangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik yang sanggup membangkitkan semangat antikolonial. Tulisan-tulisan Ki Hadjar juga berisikan konsep-konsep pendidikan berwawasan kebangsaan Indonesia yang banyak dimuat di berbagai media massa terkenal ketika itu; antara lain Sedya Tama, Midden Java, De Express, Poesara, Oetoesan Hin-dia, Kaoem Moeda dan Tjahaja Timoer.
MEREALISASI KONSEPSI SEKOLAH UNGGULAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.538 KB)
      Pada tanggal 11 Mei 1995 yang lalu Presiden Republik Indonesia Soeharto berkenan membuka Seminar Nasional tentang Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam Era Kebangkitan Nasional Kedua yang bertempat di SMA Taruna Nusantara Magelang. Kiranya perlu diketahui bahwa SMA ini merupakan manifestasi dari kerja sama akademik antara Perguruan Tamansiswa dengan ABRI.        Mengenai kesediaan Presiden Soeharto untuk menghadiri acara pada sebuah SMA tersebut ternyata menimbulkan pertanyaan yang cukup menggelitik; mengapa Pak Harto berkenan menghadiri acara yang "hanya" dilakukan di suatu SMA. Dalam kenyataannya memang hampir tidak pernah Presiden Soeharto menghadiri acara resmi di tingkat SMA; apalagi di SMA, sedangkan di perguruan tinggi pun re-latif jarang dilakukan. Hanya perguruan tinggi terpilih dengan acara terpilih saja yang pernah dikunjungi langsung oleh Bapak Presiden.        Dalam kapasitas sebagai presiden memang seharusnya Pak Harto (atau stafnya) selektif memilih acara dan tempat yang harus dihadiri; bayangkan saja bila semua permintaan dari perguruan tinggi dan SMA dipenuhi maka waktu beliau akan habis untuk menghadiri acara-acara di perguruan tinggi dan sekolah.
PROBLEMATIKA PTS DI YOGYAKARTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.799 KB)
Bertempat di kantor Depdikbud Jakarta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Wardiman Djojonegoro baru-baru ini melantik tujuh pejabat baru selaku Koordinator (koordinasi Perguruan Tinggi Swasta) Kopertis. Salah satu diantara pejabat yang dilantik tersebut adalah Ir. Haryana, M.Arch. selaku Koordinator Kopertis Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menggantikan Ir. Soetojo Tjokrodihardjo selaku pejabat yang lama. Adapun serah terima jabatan di Kopertis Wilayah V dilaksanakan tanggal 29 Agustus 1995 yang lalu. Pada dasarnya penggantian pejabat di lingkungan suatu instansi pemerintah merupakan hal yang biasa-biasa saja; namun begitu peng-gantian Koordinator Kopertis memiliki arti yang sangat penting bagi pengembangan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia. Seorang koordinator bukan saja merupakan "jembatan" yang menghubungkan aspirasi para pelaksana pendidikan (swasta) di lapangan dengan para pengambil keputusan (pemerintah) di tingkat yang lebih tinggi, tetapi lebih daripada itu seorang koordinator seringkali harus memfungsikan diri sebagai pembuat kebijakan (decision maker) bagi penyelenggara-an pendidikan pada PTS di wilayahnya masing-masing. Jujur saja, selama ini sudah banyak kebijakan dan aturan main mengenai pelaksanaan pendidikan pada PTS; namun demikian banyak diantaranya yang baru menyentuh tahapan konsepsual dan sama sekali belum menyentuh tahapan operasional. Dalam hal seperti inilah seo-rang koordinator harus mampu memerankan diri sebagai pengambil keputusan, khususnya pada tahapan operasional.
KOMPETISI PENDIDIKAN JEPANG VS AUSTRALIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (184.699 KB)
Jepang dan Australia adalah dua negara yang memiliki fenomena pendidikan menarik pada beberapa tahun terakhir ini. Kedua negara yang mulanya terkesan menutup diri tersebut akhir-akhir ini membuka pintu pendidikan lebar-lebar terhadap dunia luar; bahkan lebih daripada itu kedua negara ini terlihat makin gencar dalam mempromosikan sistem dan pelayanan pendidikannya terhadap negara lain. Keaktifan Jepang dan Australia sama-sama membuahkan hasil yang memuaskan dengan banyaknya siswa dan mahasiswa asing yang mau memanfaatkan lembaga-lembaga pendidikannya. Sekarang ini di-perkirakan terdapat sekitar 100.000 siswa dan mahasiswa asing yang mengambil studi di Jepang; jumlah yang hampir sama juga terdapat di Australia. Siswa dan mahasiswa asing di kedua negara tersebut ada yang belajar pada sekolah formal di sekolah menengah dan perguruan tinggi; dan banyak pula yang mengambil kursus-kursus serta program-program jangka pendek lainnya. Kedua negara maju di kawasan Asia Pasifik tersebut sama-sama berambisi untuk "menarik" lebih banyak lagi siswa dan mahasiswa asing untuk belajar pada lembaga-lembaga pendidikan di negaranya. Mengapa demikian? Karena kedua negara tersebut menyadari benar bahwa dalam era globalisasi dewasa ini pendidikan pun telah menjadi investasi yang menggairahkan. Secara ekonomik makin banyak orang asing yang datang untuk belajar maka makin tinggi pendapatan negara karena kedatangan orang asing tersebut pasti membawa "bekal ekono-mik" yang akan dibelanjakan di negara tujuan.
MEMBENAHI PRAKTEK EKONOMI KERAKYATAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.453 KB)
Hari ini enam tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Mei 1989, Presiden Soeharto memberikan amanat mengenai tujuan kebangkitan nasional. Dinyatakan oleh beliau bahwa apabila kebangkitan nasional pertama tahun 1908 bertujuan mendirikan negara kebangsaan yang didasarkan atas persatuan dan kesatuan maka tujuan kebangkitan nasi-onal kedua nantinya (saat itu) adalah menempatkan negara dan bangsa Indonesia sejajar dengan negara dan bangsa lain yang sudah maju. Apa yang diamanatkan Pak Harto tersebut sangatlah jelas bahwa tujuan kebangkitan nasional kedua mempunyai formulasi politis yang berdeda dengan tujuan kebangkitan nasional pertama. Hal ini memang bisa saja terjadi karena dalam perjalanan sejarahnya bangsa Indonesia telah mengalami pergeseran kontekstual atas medan perjuangannya. Di awal abad ke-20 atau pada era kebangkitan nasinal pertama maka tantangan kultural bangsa Indonesia lebih tepusat pada masalah-masa-lah politis; sedang di akhir abad ke-20 ini atau pada era kebangkitan nasional kedua maka tantangan kultural bangsa Indonesia lebih terpusat pada masalah-masalah ekonomi global. Sudah barang tentu kita tidak dapat menyatakan masalah politik tersebut lebih kompleks daripada masalah ekonomi global, demikian pula sebaliknya, karena keduanya muncul pada situasi yang berbeda.