Articles
22 Documents
Search results for
, issue
"1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT"
:
22 Documents
clear
PENDIDIKAN KEUNGGULAN SEKOLAH DASAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.851 KB)
Tahun 2003 sudah dekat, tinggal enam tahun lagi. Hal itu berarti bahwa suka tidak suka dan mau tidak mau bangsa Indonesia harus ikut berkompetisi di pasar bebas dunia, khususnya di tingkat Asia. Ketika pintu AFTA, Asia Free Trade Area, dibuka nanti maka tak seorang pun dan tidak satu bangsapun mampu menutupnya kembali. Dalam hal ini hanya ada satu pilihan, bersaing! Itulah sebabnya maka tiap bangsa harus mampu meningkatkan daya saingnya kalau ingin tetap survive, dan apalagi berprestasi. Bangsa Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif (compa-rative advantage) memang menjadi bangsa yang beruntung karena telah dikaruniai modal untuk bersaing; namun demikian mengandalkan keunggulan komparatif saja tentu tidak akan "laik saing". Keunggulan komparatif ini harus dibarengi dengan keunggulan kompetitif (compe-titive advantage) yang berkualitas. Itulah sebabnya kualitas manusia Indonesia harus senantiasa ditingkatkan agar bangsa ini memiliki daya saing yang handal di tingkat internasional. Untuk meningkatkan kualitas manusia itulah diperlukan pengem-bangan konsepsi pendidikan keunggulan di setiap satuan pendidikan; utamanya satuan Sekolah Dasar (SD).
BUKAN ARCHAISME, BUKAN PULA FUTURISME
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (137.537 KB)
Sebagai lembaga kebudayaan yang mempergunakan pendidikan dalam arti luas sebagai medan kiprahnya wajarlah kalau Tamansiswa menyelenggarakan sarasehan secara nasional secara rutin. Sarasehan yang menghadirkan tokoh-tokoh nasional, dari para menteri, pejabat, pimpinan partai politik, dosen, guru, mahasiswa, pakar, "pedagang" sampai dengan para praktisi budaya itu sendiri membahas berbagai hal yang berkait dengan perkembangan kebudayaan nasional kita. Sudah barang tenu dalam kebudayaan itu sendiri terkandung banyak elemen; antara lain politik, teknologi, pendidikan, hukum, sosial, kesenian dan sebagainya. Sekarang ini rutinitas tersebut sudah memasuki tahun yang kese-puluh; itulah sebabnya sarasehan yang dilaksanakan tanggal 19 dan 20 September 1997 merupakan sarasehan kebudayaan yang kesepuluh. Menghubungkan konsepsi kebudayaan nasional dengan nama Ki Hadjar Dewantara kiranya memang tidak mengada-ada. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh karena Ki Hadjar pernah mendapatkan gelar doktor honoris causa (Dr. Hc.) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1956 karena jasanya yang besar di bidang kebudayaan dan konsepsi kebudayaannya yang "mengindonesia"; akan tetapi sosok Ki Hadjar memang benar-benar menggambarkan sosok manusia Indonesia yang gigih dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kebudayaan nasional kita. Sejak mudanya Ki Hadjar telah banyak mengekspresi pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep kebudayaannya melalui berbagai media massa kala itu; katakanlah misalnya melalui media Wasita, Keloearga Poetera, Hindia Poetera, Poesara, dan sebagainya. Dari tulisan-tulisan Ki Hadjar memang nampak betapa tingginya komitmen tersebut.
APAKAH PENELITI PERLU IKUT "NAIK GAJI"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (124.77 KB)
Kalkulasi dan spekulasi akan terdapatnya kenaikan gaji bagi para anggota Pegawai Negeri Sipil (PNS),ABRI dan Pensiunan nampaknya akan segera terbukti. Secara politis bisa dikatakan tak ada satu fraksi pun yang tidak setuju akan adanya usulan kenaikan gaji, apalagi yang menentangnya. Bahkan ada fraksi yang telah mengusulkan kenaikan gaji dengan angka-angka yang "menawan". Secara ekonomi-matematis kenaikan tersebut juga sangat dimung-kinkan. Hal ini dapat dilihat dari adanya kenaikan RAPBN baik secara total maupun secara parsial pada mata-mata anggaran yang berkaitan dengan gaji pegawai. Seperti diketahui RAPBN 1997/1998 yang ber-nilai 101,09 trilyun rupiah mengalami kenaikan sebesar 11,5 persen dari APBN 1996/1997 yang bernilai 90,62 trilyun rupiah. Sementara itu secara parsial mata anggaran Belanja Pegawai Pusat pada RAPBN 1997/1998 yang bernilai 21,192 trilyun rupiah juga naik sebesar 15,9 persen dari APBN 1996/1997 yang bernilai 18,281 trilyun rupiah; di sisi yang lain mata anggaran Belanja Pegawai Daerah yang bernilai 10,968 trilyun rupiah juga naik sebesar 15,5 persen dari nilai semula, 9,496 trilyun rupiah. Formulasi angka-angka itulah yang menimbulkan kalkulasi dan spekulasi akan terjadinya kenaikan gaji. Bahkan mulai April mendatang kenaikan gaji tersebut diperkirakan sudah dapat direalisasi untuk dinikmati para PNS, ABRI dan pensiunan pegawai pemerintah. Di tengah-tengah kalkulasi dan spekulasi kenaikan gaji para PNS, ABRI dan pensiunan tersebut sekarang ini muncul pertanyaan kreatif yang beredar di kalangan masyarakat ilmiah; apakah para peneliti juga akan ikut "naik gaji"? Pertanyaan kreatif ini muncul karena baru-baru ini telah beredar polemik opini mengenai perlunya kenaikan tunjangan jabatan bagi para peneliti di Indonesia yang konon masih sangat mem-prihatinkan adanya.
SISTEM SELEKSI MASUK PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.749 KB)
Menyusun instrumen atau materi testing perguruan tinggi bukanlah pekerjaan yang gampang; oleh karena itu kiranya wajar saja kalau sampai saat ini masih ada perguruan tinggi, PTS maupun PTN, yang belum berani menegakkan kemandirian dalam mengembangkan sistem seleksi terhadap kandidat mahasiswa barunya. Sampai kini masih ada PTN yang masih bergantung pada instansi lain untuk dapat menyeleksi kandidat mahasiswa baru; dan apalagi PTS, masih banyak PTS yang juga bergantung pada instansi lain termasuk PTN dalam mengembang-kan instrumentasinya. Secara metodologis ada empat persyaratan yang diperlukan untuk membuat materi tes sebagai bagian dari sistem seleksi di perguruan tinggi. Adapun keempat persyatan yang dimaksud ialah sbb: (1) pre-diction effektiveness, (2) economic effectiveness, (3) teaching-learning incentive dan (4) equity. Persyaratan yang pertama, prediction effectiveness, dimaksudkan sebagai seberapa akurat materi tes dapat membedakan kandidat yang probabilitas keberhasilannya adalah besar dengan kandidat lain yang probabilitas keberhasilannya adalah kecil seandainya mereka diberi kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi. Lain kata, seberapa tepat keputusan seleksi menerima kandidat yang berpotensi tinggi dan menolak kandidat yang berpotensi rendah. Materi tes haruslah benar-benar bisa menyaring kandidat yang potensi akademiknya tinggi. Persyaratan kedua, economic effectiveness, lebih menunjuk pada pertimbangan "economic gain". Dalam bahasa yang sederhana dana atau anggaran yang dialokasikan untuk menopang kepentingan sistem haruslah sepadan dengan kecermatan prediksi yang diperoleh. Jangan membuang uang banyak untuk materi tes yang kurang valid di dalam penyusunan dan pelaksanannya.
KONSEPSI KEUNGGULAN SEKOLAH TAMANSISWA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.618 KB)
Pada harian ini sesungguhnya saya sudah beberapa kali menulis tentang sekolah unggul, antara lain "Mendesiminasi Sekolah Unggul Tamansiswa" (Pikiran Rakyat: 25/07/96), "Pendidikan Keunggulan Sekolah Dasar" (Pikiran Rakyat: 06/01/97) dan "Rahasia Keberha-silan Sekolah Unggul" (Pikiran Rakyat: 31/01/97); meski demikian tulisan ini tidak akan bersifat replikatif karena konsepsi keunggulan sekolah Tamansiswa yang menjadi bahasan tulisan ini memang sangat spesifik dan khas. Seperti kita ketahui pembicaraan mengenai sekolah unggul akhir-akhir ini kembali menarik minat masyarakat, terutama sekali setelah Tamansiswa mencanangkan dimulainya (kembali) operasional sekolah unggul di beberapa tempat. Tanggal 3 Juli 1997 yang lalu bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-75 (tigaperempat abad) Perguruan Nasional Ta-mansiswa, Ketua Umum Yayasan Ki Hadjar Dewantara (Soesilo Soedarman) bersama-sama Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa (Ki Boerhanoeddin Lubis) telah mencanangkan dimulainya operasionali-sasi sekolah unggul SMU Tamansiswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta. Dimulainya sekolah unggul di lingkungan Tamansiswa sebenar-nya tidak istimewa bila dilihat dari realitas tentang banyaknya sekolah unggul di berbagai tempat sekarang ini. Meskipun demikian hadirnya sekolah-sekolah unggul di Tamansiswa ternyata sangat menarik minat masyarakat disebabkan ada kekhasan yang dikembangkan didalamnya. Hadirnya sekolah-sekolah unggul (yang baru) di lingkungan Tamansiswa sama sekali bukan karena kelatahan. Sebelum masyarakat kita "menghebohkan" hadirnya sekolah unggul di negeri ini maka terlebih dahulu Tamansiswa sudah merintisnya; misalnya SMU Tamansiswa Arun,Aceh (kerja sama dengan PT Arun) dan SMU Taruna Nusantara Magelang, Jawa Tengah (kerja sama dengan ABRI).
INDONESIA IKUT MEMBIDANI LAHIRNYA "PAPE"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.209 KB)
Hari Kamis s/d Sabtu 8 s/d 10 November 1979 lebih dari delapan belas tahun yang lalu bertempat di Tokyo Jepang telah berkumpul 36 pakar dan praktisi pendidikan dari lima negara di Kawasan Pasifik; yaitu Amerika Serikat (AS), Indonesia, Jepang, Taiwan dan Thailand. Ke-36 pakar tersebut sedang asik membahas posisi dan perkembangan pendidikan swasta pada era 80-an dalam suatu seminar internasional yang mengambil tema "Private Schools in 1980's". Dari komunikasi antar pakar dan praktisi tersebut terbetik adanya kesamaan pendapat tentang pentingnya persamaan persepsi di antara masyarakat Pasifik dalam mengantisipasi perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan swasta, yang makin hari dirasa tidak semakin ringan akan tetapi justru semakin kompleks. Sejak hari pertama pertemuan, para pakar dan praktisi tersebut memandang perlu dibentuknya organisasi yang menghimpun aspirasi masyarakat Pasifik dalam hal pengembangan pendidikan pada umum-nya dan pendidikan swasta pada khususnya. Dan setelah melalui tahap pembahasan akhirnya mereka memutuskan untuk membentuk organisasi sebagaimana yang dimaksudkan. Nah ..., pada saat itulah kemudian lahir "bayi mungil" yang di-beri nama Kan-Taiheiyo Shigaku Kyoiku Rengokai (bahasa Jepang), atau dalam bahasa Inggris 'The Conference of Pan-Pacific Private Education', yang kemudian dikenal dengan nama 'Pan-Pacific Asso-ciation of Private Education' (PAPE). Sebagai catatan, pergantian nama yang lama menjadi PAPE terjadi satu tahun kemudian ketika di-selenggarakan kongres di Taipei, Taiwan. Dari perjalanan historis ini jelaslah bahwa Indonesia termasuk satu dari lima negara yang membidani lahirnya PAPE.
KONGRES SISWA SEKOLAH SWASTA DI PASIFIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.38 KB)
Pada hari Senin tanggal 21 April 1997 pimpinan PAPE kembali mengadakan pertemuan ekstra atau pertemuan istimewa (extraordina-ry meeting) yang berlangsung di Tokyo, Jepang. Pertemuan diadakan di dua tempat; untuk acara yang formal di Nihon University Kaikan, sedangkan untuk acara-acara nonformalnya dilaksanakan di Shigaku Kaikan (dua gedung yang saling berseberangan jalan). Pertemuan ekstra di Tokyo tersebut merupakan tindak lanjut dari keputusan pengurus PAPE dalam pertemuan direktur (MOD/Meeting of Directors) di Hong Kong pada bulan November 1996 yang lalu, bersamaan dengan dilaksanakannya Kongres Ke-18 PAPE. Ketika itu MOD dihadiri oleh 12 anggota pimpinan PAPE, yaitu Mr. Katsuaki Horikoshi (Jepang), Mr. Mikio Kawabata (Jepang), Mr. Ekyo Yama-moto (Jepang), DR. Peter W.Harris (Australia), DR. Man Kwan Tam (Hong Kong), DR. Ki Supriyoko. M.Pd (Indonesia), Mr. Kyu-Baek Uhm (Korea Selatan), Mr. John Sargent (New Zealand), DR. Ochoa Cesar S. (Philippina), DR. Anthony Si-An Chen (Taiwan), DR. Bro. Leo Visith Srivichairatana (Thailand) dan MR. Andre Corcoran (AS). Oleh karena banyaknya masalah yang belum/tidak selesai dibahas secara tuntas dalam MOD di Hong Kong tersebut di atas maka saya (Indonesia) mengusulkan dilanjutkannya rapat tersebut dalam forum pertemuan ekstra; tempatnya bisa di Tokyo, Jepang atau di Bangkok, Thailand. Rupanya semua peserta rapat menyetujui pertemuan ekstra dilaksanakan di Tokyo Jepang, dan Jepang sanggup menyediakan ber-bagai fasilitas. Keputusan pemilihan Tokyo untuk pertemuan ekstra memang cu-kup tepat; di samping Tokyo merupakan pusat kegiatan PAPE maka peran sekolah swasta di Jepang memang tidak diragukan lagi.
JEPANG UNGGULI EROPA DAN AS
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.663 KB)
Sebagaimana dengan Indonesia dan Philipina maka Jepang adalah 'islands country'; negara dengan banyak pulau. Apabila Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau (besar dan kecil), Philipina memiliki lebih dari 7.000 pulau maka Jepang memiliki lebih dari 10.000 pulau. Kalau Indonesia memiliki lima pulau besar, yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya maka setidak-tidaknya Jepang memiliki empat pulau besar; masing-masing adalah Kyushu, Shikoku, Honshu (terbesar), dan Hokkaido. Semenjak awal tahun 60-an Jepang memang telah menjadi suatu fenomena dunia. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, pendidikan yang maju, dan kebudayaan yang lestari telah mendudukkan Jepang sebagai gerbong kereta api dunia yang melaju di paling depan. Apabila kita berkunjung ke kota-kota besar di Jepang, antara lain Nagasaki, Kagoshima dan Fukuoka (di Pulau Kyushu), Matsuyama, Takamatsu dan Kochi (di Pulau Shikoku), Tokyo, Kyoto dan Nagoya (di Pulau Honshu), atau di Sapporo dan Hakodate (di Pulau Hokkaido) maka orang pun bisa heran; di negara yang amat sering dilanda gempa bumi ini ternyata berdiri gedung-gedung pencakar langit yang berdesak-desakan. Itu semua terjadi karena Jepang memiliki para insinyur dan teknisi yang mampu membuat gedung tinggi tahan gempa. Ekono-mi yang kuat dan keseriusan kerja bangsa Jepang memang merupakan kombinasi yang ideal untuk mengembangkan teknologi tinggi. Seperti telah dikenal oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini, orang Jepang dengan semangat "makoto" memang sangat serius menekuni karir dan profesi. Umumnya mereka tidak akan berhenti bekerja kalau belum berhasil. Banyak orang Jepang yang tidak mengenal kata gagal dalam menekuni karir dan profesi.
ARAH PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 90-AN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (118.455 KB)
Tahun 90-an merupakan dasawarsa terakhir menjelang datangnya Era 2000. Di dalam kurun waktu ini terjadi banyak perubahan yang cepat dan dahsyat dalam kehidupan masyarakat, khususnya di bidang sosial dan budaya. Dari masyarakat yang lebih berkultur lokal menuju masyarakat yang lebih berkultur global. Perubahan yang cepat dan dahsyat seperti ini menuntut kesiapan masyarakat yang tinggi; dan se-cara empirik memang terdapat kelompok masyarakat yang mampu mengantisipasi akan datangnya perubahan sehingga mampu pula mem-persiapkan diri, akan tetapi terdapat pula kelompok masyarakat yang tidak mampu mengantisipasi akan datangnya perubahan sehingga tidak atau kurang siap menerimanya. Kompetisi atau persaingan merupakan elemen dominan di dalam kata kunci perubahan itu sendiri; sehingga kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan sebenarnya dapat diukur sejauh mana mereka dapat mempersiapkan daya saing. Pendidikan merupakan media yang sangat tepat untuk membangun daya saing, baik dalam tataran individual maupun kolegial. Hal itulah yang menyebabkan pelaksanaan pendidikan di setiap negara harus di-arahkan pada pembentukan atau pembangunan daya saing manusia. Dengan tanpa daya saing yang memadai maka suatu bangsa tidak mungkin dapat berprestasi di tingkat internasional; bahkan untuk seke-dar bertahan hidup saja bisa-bisa menjadi sulit. Konvensi umum seperti pun juga berlaku di Indonesia. Itulah se-babnya pelaksanaan pendidikan nasional Indonesia dalam kurun waktu tahun 90-an lebih diarahkan kepada pembangunan daya saing manusia Indonesia baik secara individual maupun secara kolegial demi kemajuan bangsa dan negara. Meski demikian ternyata dalam pelaksanaan pendidikan pada masing-masing jenjang (dasar, menengah, dan tinggi) terjadi banyak fenomena yang layak dicatat
RAHASIA KEBERHASILAN SEKOLAH UNGGUL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.137 KB)
Tulisan pendidikan saya di harian ini, "Pendidikan Keunggulan Sekolah Dasar" (PR: 6/1/97) telah mendapat tanggapan yang sangat konstruktif dari dua responder; masing-masing ialah Bapak Sudarwan dalam "Reformasi Menuju Pendidikan Keunggulan" (PR: 11/1/97) serta Bapak Dadang S. Anshori dalam "Menuju Keunggulan Kompetitif" (PR: 18/1/97). Penerimaan ide pengembangan sekolah unggul, dalam konteks ini khususnya ialah SD, merupakan point yang perlu dihargai; kiranya ini cukup penting karena sampai saat ini masih ada kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya bisa menerima hadirnya sekolah unggul, bah-kan alergi terhadap sekolah unggul. Mereka menganggap bahwa seko-lah unggul itu adalah sekolah yang mahal, hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat yang berduit, tak memihak pada rakyat banyak, menimbulkan egoisme segmental, dan sebagainya. Bahwa sekolah unggul memerlukan pembeayaan yang tinggi me-mang benar adanya, namun bukan berarti (selalu) mahal. Juga tidak (selalu) benar bahwa sekolah unggul itu hanya dapat ternikmati oleh kaum yang berduit saja; SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, SMP Tamansiswa Arun Aceh, dan SMU Taruna Nusantara adalah contoh sekolah unggul yang dapat dinikmati oleh kaum "dzuafa". Bahkan di sekolah-sekolah unggul tersebut mereka yang berasal dari keluarga "tidak mampu" mendapat bantuan finansial. Ini bukti konkrit bahwa sekolah unggul pun dapat dipresentasi sebagai sekolah yang berbeaya tinggi tetapi tidak mahal, dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat yang tidak berduit, memihak pada rakyat banyak, serta tidak menimbulkan egoisme segmental.