cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
ANGGARAN PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.593 KB)

Abstract

       Pendidikan senantiasa mendapatkan perhatian yang mahaserius dari berbagai kalangan,  baik kalangan pemerintah maupun kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena disadari pendidikan merupakan media dan sarana yang paling potensial untuk mengembangkan mutu sumber daya manusia.  Asumsinya sederhana:  kalau pendidikan dapat ditangani secara proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia akan lebih dekat realisasinya,  sebaliknya kalau penanganan pendidikan dilakukan kurang proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia tentu banyak mengalami hambatan.          Itulah sebabnya maka setiap RAPBN diumumkan oleh pemerintah, dalam hal ini oleh Presiden RI,  maka anggaran pendidikan selalu mendapat perhatian untuk dicermati nilainya;  apakah anggaran sektor pendidikan mengalami kenaikan nilai atau bahkan justru mengalami penurunan angka.          Sebagaimana dengan dinamika dalam RAPBN maka anggaran sektor pendidikan pun mengalami dinamika dalam angka-angkanya. Di dalam sejarahnya anggaran sektor pendidikan dari tahun ke tahun senantiasa mengalami pasang surut;  terkadang naik dan terkadang turun bila dibandingkan dengan anggaran dalam APBN yang sedang berjalan.
PERAN PGRI BAGI ANGGOTANYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.897 KB)

Abstract

"Pada bulan Februari 1991 oleh pejabat yang berwenang saya diusulkan naik pangkat ke golongan II/d per 1 April 1991 dengan dasar angka kredit yang telah dicapai sampai dengan Desember 1990, serta telah memenuhi syarat (fotocopy surat terlampir); .... apakah kenaikan pangkat saya berdasarkan angka kredit tersebut dapat ditetapkan SK-nya? Kalau dapat, mengapa sampai kini SK-nya belum juga turun?" Demikian kutipan pertanyaan dan keluhan guru yang dimuat oleh sebuah harian ibu kota baru-baru ini. Kutipan tersebut di atas hanya merupakan sedikit dari banyak keluhan yang senada; keluhan guru yang berka itan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan profesi yang ditekuninya. Bila kita cukup concern terha-dap masalah-masalah yang bergaung di lapangan maka saat ini di kalangan guru yang terhimpun di dalam keanggotaan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tengah muncul fenomena pendidikan yang sangat menyita perhatian dan e-nergi; yaitu menyangkut sistem angka kredit yang berkait langsung dengan pengurusan kenaikan jabatannya. Sistem angka kredit yang digaungkan sejak bebera-pa waktu yang lalu sekarang ini benar-benar populer bagi kalangan guru. Apakah hal itu dikarenakan para guru sa-ngat familiar terhadap sistem "baru" ini? Tidak! Apabila kita mau bicara jujur justru saat ini masih banyak guru yang belum memahami sistem tersebut, baik dalam kerangka konseptual maupun operasionalnya; padahal, mau tak mau, para guru harus pandai mengadaptasi sistem tersebut.
STRATEGI BISNIS PEDAGANG EMPEK-EMPEK (5) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.635 KB)

Abstract

Strategi bisnis pedagang empek-empek berikutnya adalah bekerja keras itu adalah ibadah. ?Berkerja itu ibadahkan Pak Yanto? katanya. ?Ya?ya? jawab saya. Setelah saya berbicara panjang dan menguak rahasia sukses pedagang empek-empek, tidak begitu lama empek-empek pesanan saya yang dibuat oleh Mamanya dan adiknya telah selesai. ?Ini empek-empek yang dipesan Pak Yanto? katanya, sambil menyerahkan dua bungkusan yang dimasukkan tas kresek yang berwarna putih kepada saya. ?Terima kasih? jawab saya, saya sekalian pamit ya, sampaikan salam ke Om Anda, kalau saya ke sini. ?Mampir ke sini lagi ya Pak? pintanya. ?Insya Allah? jawab saya. Saya berjalan menuju mobil dan saya melambaikan tangan. Ia membalas melambaikan tangan juga. Mobil yang saya tumpangi meninggalkan warungnya. Kemudian warung tersebut lenyap dari pandangan mata saya, tetapi ada yang masih menggores hati saya dan membekas di pikiran saya adalah kata ?Bekerja itu adalah ibadah?. Di sepanjang perjalan pulang saya merenung sambil melihat sawah-sawah yang hijau di sekitar jalan yang saya lewati. Saya teringat bahwa sebagian besar orang yang dikatakan sukses, kebanyakan mengerjakan pekerjaan dengan apa yang disukainya. ?Ketika sedang bekerja, saya rileks, tidak mengerjakan apa-apa? kata Pablo Picasso. Bill Gates menyukai komputer sejak kecil, bahkan tertarik pada perangkat lunak dan pemrograman komputer pada usia 13 tahun. Pada usia 18 tahun telah mampu mengembangkan sebuah versi bahasa pemrograman Basic untuk pertama kalinya pada komputer mikro MITS Altair di Harvard University. Ia rela meninggalkan Harvard untuk pekerjaan yang disenanginya dengan mencurahkan energinya pada perusahaan perangkat lunak yang baru didirikannya bersama kawan kecilnya Paul Allen, yaitu Microsoft. Perusahaan tersebut memperoleh pendapatan 39,79 miliar dolar Amerika pada akhir tahun fiskal Juni 2005, mempunyai lebih dari 61.000 karyawan, tersebar di 102 negara.  Pada 27 Jun 2008, Bill Gates pensiun dari hari ke hari-kegiatan perusahaan, berikut dua tahun periode transisi dari perannya sebagai Chief Software Architect, yang diambil oleh Ray Ozzie, tapi Ia tetap menjadi Chairman perusahaan, Ketua Dewan Direksi dan akan bertindak sebagai penasihat pada proyek-proyek yang kunci. Keichiro Toyoda sangat mencintai otomotif. Sampai-sampai perusahaan tenun ayahnya, ketika diserahkan kepadanya diganti perusahaan otomotif dan namanya diganti dari ?Toyoda? menjadi ?Toyota?. Saat ini merupakan salah satu perusahaan otomotif yang terunggul di dunia. Dari Januari 2008 sampai dengan Desember 2008, Toyota mampu menjual mobil sebanyak 8,547 juta unit. Mulai dari Toyota Lexus, Daihatzu dan Hino. Toyota mempunyai 12 pabrik di Jepang dan 53 pabrik di 27 negara. Karyawannya mencapai 265.800 orang dan penjualannya mencakup 170 negara. Penjualan Toyota, termasuk bisnis keuangan mencapai 21,35 triliun yen pada akhir Maret 2006. Pada awal 2009, cucu laki-laki dari Keichiro Toyoda, Akio Toyoda diangkat menjadi Presiden Toyota. Bill Gates dan Keichiro Toyoda mengembangkan pekerjaan yang dicintainya menjadi perusahaan legenda dunia. Kita membutuhkan pekerjaan yang kita senangi yang dapat membangkitkan semangat kita, menantang kita dan membawa kita ke tempat yang kita impikan. Mereka memandang bahwa berkerja adalah waktu bermain. Bekerja merupakan tempat untuk mengembangkan diri, mempelajari hal-hal baru, menjelajahi cara-cara baru dan mempraktikkannya dalam perilaku baru. ?Rahasia sukses adalah menjadikan pekerjaan Anda sebagai hiburan Anda? kata Mark Twain. Tetapi semua kata sukses tersebut hanya bersifat duniawi belaka. Saya terus mencari esensi yang dikatakan pedagang empek-empek itu, tetapi tidak terasa mobil saya telah sampai di rumah. Anak kecil saya telah menunggu di depan pintu sambil tersenyum dan mengayun-ayunkan kakinya untuk menyambut oleh-oleh yang saya bawa.
EBTANAS + UMPTN = KADAL + BUAYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.216 KB)

Abstract

       Secara khusus pada harian ini saya pernah menulis mengenai hubungan antara Ebtanas dengan UMPTN;  yang secara jelas diurai mengenai tidak adanya pola hubungan yang spesifik antara Ebtanas dengan UMPTN. Siswa yang nilai Ebtanasnya baik sama sekali tidak ada jaminan hasil UMPTN-nya memadai, demikian juga para kandidat mahasiswa baru PTN yang hasil UMPTN-nya "kritis" ternyata tidak senantiasa berasal dari siswa sekolah menengah yang nilai Ebtanas-nya "berantakan" (Supriyoko, "Hubungan Ebtanas dengan UMPTN", Pikiran Rakyat: 27 Juni 2000).       Realitas yang seperti itu tentu saja sangat menyedihkan kita semua; bukan saja karena kedua instrumen evaluasi tersebut secara akademis tidak saling "menyapa" akan tetapi hal itu juga menunjuk-kan kurang adanya hubungan koordinatif  yang memuaskan antara dua unsur departemen pendidikan nasional.         Kedua unsur departemen pendidikan nasional yang dimaksud adalah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen)  sebagai penyelenggara dan penanggung jawab Ebtanas dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) sebagai penyelenggara dan penanggung jawab UMPTN.       Kesedihan tersebut semakin mendalam  ketika tersebar berita adanya rencana  dari pimpinan departemen pendidikan nasional kita untuk menggabung Ebtanas dengan UMPTN.  Konon, secara prinsip rencana tersebut  sudah saling disepakati di antara pucuk pimpinan Ditjen Dikdasmen dengan pucuk pimpinan Ditjen Dikti. Persoalannya kemudian ialah  bagaimana mengoperasionalkan kesepakatan tersebut sahingga dapat dilaksanakan di lapangan.
CALON PEMIMPINKU (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Calon pemimpinku harus mempunyai lima sifat yang berikutnya, Keenam, Janganlah engkau memandang rendah orang-orang yang memiliki kebutuhan yang menunggu di depan pintumu. Hati-hatilah terhadap mereka. Manakala salah seorang rakyatmu memiliki kebutuhan terhadapmu, maka janganlah engkau malah tidak memperdulikan mereka karena sibuk dengan ibadah-ibadah sunah, bahkan hanya rapat-rapat yang tidak begitu penting. Sebab,memenuhi berbagai kebutuhan kaum rakyat adalah lebih utama daripada menunaikan ibadah-ibadah sunnah ataupun rapat-rapat yang tidak begitu penting. Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz memenuhi berbagai kebutuhan rakyatnya. Ia kemudian duduk bersandar karena kelelahan Setelah itu ia masuk ke rumahnya untuk beristirahat menghilangkan kepenatan. Anaknya kemudian berkata kepadanya ?Apa yang telah membuat Ayah merasa aman sementara kematian bisa saja datang saat ini, sedangkan pada saat yang sama di depan pintu Ayah ada orang membutuhkan yang sedang menunggu sementara Ayah malah mengabaikan haknya??. Umar bin Abdul Aziz berkata ?Engkau benar!?. Maka, saat itu juga Umar bangkit dan pergi ke majelisnya. Ketujuh, janganlah engkau membiasakan dirimu sibuk mengurusi berbagai keinginan seperti ingin pakaian kebesaran atau memakan makanan yang lezat atau ingin hartamu bertambah terus dengan cara tidak halal. Akan tetapi, hendaklah engkau bersikap qana?ah (keseimbangan dalam harta, tidak boros dan tidak kikir) terhadap seluruh perkara. Sebab, tidak akan ada keadilan tanpa sifat qana?ah. Umar bin Kaththab bertanya kepada seorang Salih ? Apakah engkau melihat sesuatu pada diriku yang engkau benci??. Orang itu berkata ?Aku mendengar bahwa engkau pernah meletakkan roti di atas meja makanmu, dan engkau punya dua baju, satu dipakai untuk malam hari dan satu lagi untuk siang hari. Apakah selain itu ada sesuatu??. Umar menjawab ?Tidak?. Orang itu berkata ?Demi Allah, kedua perkara ini tidak akan selamanya? . Kedelapan, sesungguhnya engkau, jika memang mampu melakukan setiap urusan dengan penuh kasih sayang dan kelemah lembutan, maka janganlah melakukan dengan kekerasan, sikap kasar dan marah-marah. ?Ahli surga ada tiga: Pertama, orang yang mempunyai kekuasaan hukum yang adil dan bersodaqoh kepada kaum fakir, selalu taat kepada Allah. Kedua, seorang yang hatinya lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sanak saudara. Ketiga, orang sholeh yang menahan dirinya dari hal-hal yang haram, mempunyai keluarga, tapi cintanya terhadap keluarga tidak mendorong untuk berbuat yang haram. Kesembilan, hendaklah engkau berupaya dengan sungguh-sungguh untuk meraih keridhaan rakyatmu melalui cara-cara yang sesuai dengan syariah. ?Sebaik-baik umatku adalah orang-orang yang mencintai kalian, dan kalian mencintai mereka. Dan seburuk-buruk umatku adalah orang-orang melaknat kalian, dan kalian melaknat mereka? sabda Rasulullah. Kesepuluh, janganlah engkau mencari keridhaan seorang manusia melalui cara-cara yang bertentangan dengan syariah. Siapa saja yang marah karena adanya pelanggaran syariah, maka marahnya tidak membawa bahaya. Mu?awiyah menulis surat kepada Aisyah r.a. agar memberikan nasihat dengan nasihat yang singkat. Maka, Aisyah menulisnya: Aku mendengar Rasulullah bersabda ?Siapa saja yang mencari keridhaan Allah walaupun manusia marah kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya, demikian pula manusia akan ridha kepadanya. Siapa saja mencari keridhaan manusia dengan cara dimurkai Allah, maka Allah akan murka kepadanya, demikian pula seluruh makhluk akan marah kepadanya?. Sepuluh pokok nasihat Al-Ghazali tersebut merupakan nasihat untuk untuk calon pemimpinku, yaitu pemimpin calon penghuni surga.
EBTANAS : KEBOCORAN DAN "KEPALSUAN"NYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.332 KB)

Abstract

       Kasus bocornya soal-soal Ebtanas yang tahun lalu sempat mengguncang dunia pendidikan kita, sekaligus menampar wajah Depdikbud, rasanya akan terulang lagi pada pelaksanaan Ebtanas tahun ini. Kali ini ada dugaan tentang bocornya Ebtanas SD di salah satu daerah di wilayah Jawa Timur. Sebuah tim yang terdiri dari beberapa unsur tengah  dikirim untuk bekerja intensif guna mengklarifikasi dugaan tersebut.         Sebagai warga negara yang baik tentu kita berharap agar dugaan tersebut tidak terbukti kebenarannya, tetapi kalau sampai dugaan atas kebocoran tersebut nantinya ter bukti  kebenarannya maka Depdikbud harus menyiapkan diri untuk kena tampar. Betapa tidak, di tengah-tengah adanya kritik tajam tentang kurang efektifnya lagi pola Ebtanas untuk dipertahankan sebagai sistem evaluasi belajar pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, ternyata beberapa (ada) daerah mengalami kebocoran. sudah barang tentu ter jadinya kasus kebocoran ini, kalau terbukti,  akan makin memperkuat argumentasi terhadap kritik-kritik yang dila-yangkan kepada depdikbud mengenai kurang efektifnya pola Ebtanas tersebut.          Kalau kita sempat bernostalgia sejenak kasus bo-cornya Ebtanas memang bukan barang baru lagi. Tahun yang lalu beberapa wilayah sempat terkena "penyakit" ini, tak terkecuali wilayah DKI Jakarta.  Berdasarkan pengalaman ini ternyata ada juga teman yang masih sempat bercanda; kalau di Jakarta tempat berkumpulnya top manager Depdik-bud saja bisa terjadi kebocoran yang meresahkan masyara-kat, apalagi di Jawa Timur. Duh, ....
HINDARI MISTERI KURSI KOSONG SIPENMARU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.263 KB)

Abstract

       SIPENMARU, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru, tahun yang lalu ternyata membawa pengalaman pahit yang cukup mahal harganya,ialah tentang "misteri kursi kosong". Diantara ratusan ribu calon mahasiswa baru yang memperebutkan 'kursi kuliah' pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang sangat terbatas jumlahnya ternyata pada akhirnya banyak ditemui "kursi kosong". Tanpa penghuni. Bahkan tanpa peminat.       Tentu saja hal ini menjadi "misteri" mengingat jumlah kursi kosong tersebut yang tidak sedikit. Ratusan bahkan ribuan!       Tahun lalu terdapat 900.000 lulusan SMTA yang rata-rata mendambakan dapat meneruskan studinya di perguruan tinggi. Namun demikian melihat kenyataan bahwa daya tampung PTN sangat terbatas maka banyak diantaranya yang "menyerah", kalah sebelum berperang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lulusan SMTA yang mendaftarkan diri pada PTN atau sebagai peserta Sipenmaru.       Peserta Sipenmaru untuk  tahun akademik 85/86 tercatat sebanyak 512.050 peserta. Setelah mengalami proses seleksi akhirnya yang dinyatakan diterima pada PTN sebanyak 71.280 orang  (tidak termasuk PMDK yang jumlahnya lebih dari 2000 orang). Jumlah ini tentu saja sudah disesuaikan dengan daya tampung maksimal PTN.
KEMAKNAAN YANG BERKURANG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.557 KB)

Abstract

       Tepat pada Sabtu 29 Mei 1993 yang baru lalu hasil Evaluasi Belajar Tahap Akhir tingkat Nasional (Ebtanas) SMA diumumkan secara serentak pada seluruh wilayah tanah air tercinta.  Para siswa SMA yang beberapa minggu sebe-lumnya telah tersita perhatian dan konsentrasinya sudah dapat melihat hasil jerih payahnya dalam ber-Ebtanasria; berhasil atau gagal.          Ebtanas SMA tahun 1992/1993 kali ini diikuti oleh lebih dari satu juta siswa yang semuanya berharap supaya hasilnya optimal,  meskipun tidak semua peserta Ebtanas tersebut benar-benar optimal mempersiapkan dirinya dalam mengikuti moment penting ini. Dari jumlah yang lebih da-ri satu juta siswa ini sebagian besar mengharapkan kalau berhasil menempuh Ebtanas dan lulus SMA-nya dapat segera melanjutkan studi ke perguruan tinggi, meskipun di dalam kenyataannya nanti hanya sebagian kecil saja dari jumlah tersebut yang dapat melanjutkan studinya.          Setelah Ebtanas SMA diumumkan maka terbukti bahwa sebagian besar peserta Ebtanas memang berhasil dan lulus studinya di SMA.  Secara nasional tahun ini ada sekitar satu juta lulusan (baru) SMA; jumlah ini tentu tidak ter masuk lulusan SMA tahun-tahun yang sebelumnya. Kemanakah para lulusan SMA ini akan "berjalan"? Umumnya mereka ber keinginan untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, PTN atau PTS.  Persoalannya sekarang adalah daya tampung keseluruhan perguruan tinggi kita jauh lebih kecil kalau dibandingkan jumlah lulusan SMA tersebut.
UNIVERSITAS YANG TAK TERTINGGAL KERETA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.498 KB)

Abstract

       Ada sepotong pertanyaan "urgent" yang akhir-akhir ini berkembang secara meluas di kalangan kaum akademisi pada khususnya dan di kalangan masyarakat ilmiah pada umumnya; yaitu universitas atau perguruan tinggi yang bagaimanakah yang sanggup mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi yang teramat dahsyat dalam dua atau tiga dasa warsa terakhir ini?       Pertanyaan tersebut muncul karena akhir-akhir ini terdapat fenomena akademis yang sangat gampang dicermati tentang betapa tertinggalnya ilmu dan teknologi perguruan tinggi dibandingkan dengan ilmu dan teknologi yang berkembang di lapangan.       Ilmu dan teknologi komputer kiranya sangat tepat untuk diangkat sebagai ilustrasi.  Kalau pengajaran ilmu dan teknologi komputer di perguruan tinggi pada umumnya masih dilaksanakan secara "amatiran", bahkan di berbagai perguruan tinggi tertentu sama sekali tidak dilaksanakan pengajaran ilmu dan teknologi komputer, maka perkembangan  ilmu dan teknologi komputer di lapangan sudah begitu dahsyatnya.
STRATEGI MEMBANGUN MEREK (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strategi pemasaran sesungguhnya strategi membangun merek di benak konsumen. Jika kita mempunyai kemampuan untuk membangun merek, artinya kita mempunyai program pemasaran yang tangguh. Strategi lain untuk membangun merek adalah dengan memberdayakan merek lini produk. Merek lini produk merupakan strategi meletakkan nama merek pada sebuah lini produk yang berhubungan. Merek lini produk berfokus dan memberikan keunggulan biaya dengan mempromosikan lini produk daripada masing-masing produk. Strategi ini efektif jika perusahaan mempunyai satu atau lebih lini produk yang masing-masing mengandung sebuah hubungan antara item-item produk tersebut. Satu keunggulan merek lini produk adalah penambahan item-item produk dapat dikenalkan dengan memberdayakan nama merek yang telah dibangun. Strategi yang digunakan perusahaan besar untuk membangun merek, biasanya dengan menggunakan merek perusahaan. Merek perusahaan merupakan strategi membangun identitas merek menggunakan nama perusahaan untuk mengidentifikasi produk yang dihasilkan. Toyota, Panasonic, Polytron, Sony, IBM, Intel, Nokia, Sharp, Sanyo, Toshiba, Yamaha, Honda dan McDonald?s menggunakan merek perusahaan (corporate brand) untuk mengiklankan produknya. Iklan Honda baik Mega Pro 1600 maupun Karisma tetap menonjolkan merek Honda sebagai merek perusahaan. Kesuksesan Kijang dan Avanza sebagai Top Brand Indonesia, salah satunya karena karena menggunakan merek perusahaan Toyota. Toyota dalam membangun merek tidak hanya merupakan perusahaan yang menjualmobil, tetapi perusahaan yang menawarkan Total Ownership Experience, mulai dari pelanggan menghubungi diler sampai pelayanan purna jual yang optimal. Toyota Kijang dengan citra bahwa kendaraan yang awet dan mudah dirawat serta harga purnajualnya relatif tinggi dibandingkan dengan merek pesaing menjadikan merek tersebut kuat di benak konsumen. Toyota Avanza, dengan menggunakan merek perusahaan Toyota yang telah dipercaya seluruh dunia yang memiliki produk unggul, pelayanan memuaskan penjualan kembali yang tinggi membuat mereknya menjadi Top Brand Indonesia. Panasonic dengan AC dan mesin cuci juga menjadi Top Brand Indonesia, keduanya menggunakan merek perusahaan. Polytron dengan audionya, yang memberikan citra produk elektronik relatif murah, tetapi berkualitas di Indonesia. Demikian pula Sharp dan Toshiba dengan pesawat televisi dan lemari esnya, kesemuanya menggunakan strategi merek perusahaan untuk meraih keunggulan.    

Page 87 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue