cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (11) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.826 KB)

Abstract

Pemasaran sederhana dilakukan dengan memasang spanduk, yang khas yang bertuliskan nama bimbingan belajar kami dan program yang kita tawarkan. Kita juga membuat logo dengan sedikit meniru Perguruan Tinggi Besar di Yogyakarta, tetapi sedikit berbeda. Logo kita merupakan simbol dari Mahkota Sultan Agung, yang berkeinginan di kemudian hari seperti Sultan Agung yang merupakan Raja terbesar di Jawa. Kita juga berkeinginan suatu saat bimbingan belajar kita juga terbesar di Jawa, karena terbesar di Jawa juga bermakna terbesar di Indonesia. Selain spanduk, kita juga membuat brosur yang sederhana. Brosur tersebut kita bagi ke sekolah-sekolah yang ada di  kota Yogyakarta secara tebatas, karena brosurnya juga terbatas. Usaha yang cukup keras dengan membagi brosur ke sekolah-sekolah tersebut, ternyata yang mendaftar hanya ada 2 siswa. Itulah perjalanan yang harus kita lewati dengan susah payah, tetapi memberi pelajaran yang sangat berharga. Kesulitan itu akan memunculkan kratifitas dan inovasi yang sangat luar biasa. Hal ini tidak akan kita peroleh kalau kita tidak pernah mencoba memulai bisnis. Akhirnya memunculkan ide agar bimbingan belajar tersebut dapat menggelinding, maka kami menggratiskan 3 tetangga dengan persyaratan tertentu. ?Kamu ikut saja? kita mengajak. ?Nggak ada biaya Mas? kata mereka. ?Gratis..tapi syaratnya bawa speda motor? kita memberikan persyaratan. ?Dekat kok. Jalan saja bisa Mas? jawab mereka. ?Pokoknya kamu harus bawa sepeda motor? kami berharap. ?Oh..ya..Mas? mereka bersedia. Setelah mereka masuk bimbingan, terlihat di depan kantor sejumlah 6 sepeda motor yang terdiri dari 2 sepeda motor siswa kita yang sesungguhnya, 3 sepeda motor siswa gratis dan 1 sepeda motor pengajar (tentor). Dengan menggratiskan 3 siswa yang merupakan sedekah bagi kami dan merupakan senjata pemasaran yang sangat ampuh. Bimbingan belajar yang kecil itu sudah ada aktivitasnya. Adanya aktivitas merupakan bagian pemasaran yang sangat penting, meskipun aktivitas itu masih sederhana. Hal ini juga membuat kita lebih percaya diri, sehingga saya sendiri sudah berani keluar ruangan dan nampang di depan kantor, karena sudah ada aktivitas. Dalam hati saya berkata ?Lho.. ada siswanya kan..Ada yang ikut bimbingan tes kita kan?. Kemudian kawan saya mengajak untuk buka pada hari minggu. Luar biasa, ada 14 anak sebagian besar berasal dari Kudus mendaftar bimbingan belajar kami. Kepercayaan diri semakin meningkat. Langkah ketiga yang tersulit telah kita lewati. Siswa yang sedikit itu memaksa kita berpikir lebih keras, akhir terbersit ide untuk melayani siswa kita ke rumahnya masing-masing. Saya dan kawan-kawan datang bergantian setiap malam mengajari mereka atau kadangkala kami berdua atau bertiga. Kami menanyakan mata pelajaran apa yang merasa masih kesulitan. Tentor (pembimbing) mata pelajaran yang siswa merasa kesulitan tersebut yang bekerja. Kami hanya ingin mereka kelak dapat lulus dalam menempuh ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sebagai ukuran keberhasilan kita adalah banyaknya siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri. Pelayanan yang prima membuahkan hasil, karena orang tua dari siswa kita sangat senang. Seringkali kita memandang keuntungan itu hanya semata-mata finansial, tetapi sesungguhnya ada keuntungan yang jauh lebih penting dan berdampak jangka panjang, yang paling sering kita lupakan, yaitu keuntungan bertambah keluarga, keuntungan bertambah ilmu, keuntungan bertambah ketenangan jiwa dan keuntungan bertambah pahala yang mengalir tanpa henti sampai kita meninggalkan dunia ini.
KOMITMEN PENDIDIKAN SWASTA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.486 KB)

Abstract

Akhir tahun 1998 yang lalu telah terbit sebuah buku yang penting untuk kitabaca isinya, berjudul 'Financing of Education in Indonesia'. Buku setebal 135halaman yang berisi laporan keuangan dalam penyelenggaraan pendidikan diIndonesia itu diterbitkan atas kerja sama dari Asian Development Bank (ADB) dan The University of Hong Kong (UHK).Buku yang keseluruhannya terdiri dari sembilan bab tersebut laporanpembahasannya dimulai dari latar belakang sosio kultural Indonesia, sistempendidikan serta sistem keuangan di negara kita, sampai kesimpulan danrekomendasi. Sementara itu substansi atas laporannya ialah menyangkut bagaimana pemerintah Indonesia mem-buat perencanaan keuangan pendidikan, seberapa berani pemerintah kita mengalokasi anggaran pendidikan dari RAPBN maupun GNP, posisi Indonesia bila dibandingkan dengan negara-negara lain dalam mengalokasi anggaran pendidikan, serta bagaimana dana pendidikan itu dijalankan dalam tataran operasional.Secara detail buku tersebut melaporkan berapa banyak dana pendidikan yangdihabiskan oleh lembaga pendidikan pada masing-masing satuan; dalam hal ini SD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), SLTP, Madrasah Tsanawiah (MTs), SMU, MadrasahAliah (MA), SMK, PT, dan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI).Salah satu bagian yang menarik dalam laporan ADB dan UHK tersebut adalahpada perbandingan dana pendidikan yang diberikan kepada sekolah-sekolah negeri dengan sekolah-sekolah swasta; uta-manya yang berupa dana penyelenggaraan (recurrent budgets) dan dana pengembangan (development budgets).
STRATEGI EKONOMI BUNG HATTA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Bung Hatta dalam mengembangkan perekonomian Indonesia sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. Kerangka berpikir ekonomi Bung Hatta pada dasarnya dibangun berdasarkan tiga kategori berikut: teori ekonomi, politik ekonomi, dan politik perekonomian. Mengenai teori ekonomi, Bung Hatta secara tegas menyatakan bahwa penjelasan teori ekonomi hanya mengandung kebenaran sejauh diterapkan pada dirinya sendiri, tetapi menjadi sangat relatif bila dihadapkan pada realitas ekonomi. Artinya, sejauh diuji berdasarkan asumsi-asumsinya, kebenaran teori ekonomi dapat dikatakan bersifat mutlak. Tetapi karena asumsi-asumsi yang menjadi dasar teori ekonomi itu tidak ditemukan dalam realitas ekonomi, penjelasan teori ekonomi itu harus dilihat hanya sebagai salah satu alat bantu dalam memahami realitas ekonomi. Agar pemakaian teori ekonomi sebagai alat bantu untuk memahami  realitas ekonomi itu tidak menggiring pemakainya pada suatu kesimpulan yang keliru, diperlukan apa yang oleh Bung Hatta disebut sebagai politik ekonomi. Sebagaimana dijelaskannya, ?politik ekonomi adalah siasat untuk melaksanakan teori-teori ekonomi secara rasional dalam alam yang lahir,?. Sebagai suatu siasat untuk melaksanakan teori ekonomi, yang ditujukan untuk mencapai hasil sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, politik ekonomi harus memperhatikan keberadaan faktor-faktor non ekonomi. Bahkan, karena tiap-tiap cabang produksi memiliki realitasnya masing-masing, karakterisitik masing-masing cabang produksi merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam rangka politik ekonomi. Akhirnya, ketika dihadapkan pada keinginan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat, politik ekonomi harus ditransformasikan lebih lanjut menjadi politik perekonomian. Berbeda dari politik ekonomi yang merupakan siasat penerapan teori ekonomi, politik perekonomian adalah keputusan politik yang didasarkan atas pertimbangan ideologi tertentu. Sebagaimana dikemukakan Bung Hatta, ?Politik perekonomian mengemukakan tujuan normatif. Coraknya ditentukan oleh ideologi, politik negara dan paham kemasyarakatan. (Setelah itu) barulah ilmu datang dalam ?jabatan mengabdi?. Dalam menentukan tujuan kemakmuran, manusia menentukan sikap, pikiran yang menganalisa mengikuti di belakang,?. Berdasarkan kerangka berpikir ekonomi seperti itu, dapat disaksikan betapa Bung Hatta memberi tempat kedudukan yang sangat tinggi kepada ideologi sebagai acuan peningkatan kemakmuran masyarakat. Di bawah ideologi terletak realitas ekonomi. Sedangkan teori ekonomi terletak di urutan terbawah. Artinya, dalam rangka meningkatkan kemakmuran masyarakat, acuan utama bagi Bung Hatta bukanlah teori ekonomi yang sarat asumsi, melainkan kemauan yang hidup dalam hati dan pikiran masyarakat sebagaimana terungkap dalam ideologi yang diyakininya. Pandangan Bung Hatta mengenai ekonomi berencana pada dasarnya adalah sebuah kebijakan untuk ?mengadakan suatu perekonomian nasional yang diatur, yang direncanakan tujaunnya dan jalannya,?. Dasar ekonomi berencana terletak pada dua hal: pertama, pada tujuan yang hendak dicapai; dan kedua, pada penetapan susunan peraturan untuk mencapai tujuan itu. Secara lebih terinci, mengenai tujuan perencanaan ekonomi, Bung Hatta merumuskannnya sebagai berikut,? tujuan rencana ekonomi ialah melaksanakan, supaya produksi disesuaikan dengan keperluan sosial, supaya kemiskinan rakyat dilenyapkan atau kemakmuran rakyat ditimbulkan. Untuk melaksanakan ekonomi berencana tersebut, ?mesti ada suatu biro perencanaan sebagai alat pemerintah, yang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dituju dan dilaksanakan pada tiap-tiap jangka waktu tertentu, memikirkan pembelanjaannya, menyusun perimbangan yang tepat antara produksi dan konsumsi, antara impor dan ekspor, sehingga rencana itu merupakan suatu kesatuan yang bulat,?. Mengutip Angelopoulos, dalam rangka ekonomi berencana, pelaksanaan pembangunan pada dasarnya harus dilakukan melalui dua jurusan: sektor negara dan  sektor swasta. ?Negara melaksanakan usaha yang besar-besar yang mengenai kepentingan umum. Di mana perlu diadakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan besar yang banyak sedikitnya mempunyai kedudukan monopoli..... Di antaranya terdapat bank-bank, terutama bank sirkulasi, tambang-tambang, perusahaan transpor, listrik, perusahaan mengolah besi, industri berat, yang berpengaruh langsung atau tidak langsung atas aktivitas ekonomi lainnya. Aktivitas ekonomi seterusnya ...... diserahkan kepada swasta,? Yang menarik adalah komentar Bung Hatta mengenai pelaksanaan Repelita I. Menurut Bung Hatta, sebenarnya saat itu belum tepat waktunya untuk memulai ekonomi berencana. Syarat-syarat yang terpenting yang harus dipenuhi belum tersedia. Pertama, administrasi negara yang kacau dan berlebih-lebihan pegawainya belum disempurnakan. Kedua, gaji pegawai negeri yang hanya cukup untuk seminggu dan paling lama 10 hari, belum diperbaiki. Dan ketiga, syarat yang paling penting, data dan informasi yang cukup untuk keseluruhan ekonomi Indonesia belum tersedia. Khusus mengenai gaji pegawai negeri yang jauh dari mencukupi serta kaitannya dengan wabah korupsi yang melanda Indonesia, Bung Hatta berkomentar sebagai berikut, ?Sampai sekarang setelah Repelita berjalan dua tahun, korupsi semangkin merajalela, yang tidak salah kalau dikatakan lambat laun sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Tunjukkanlah, dimana tempat orang bertukar jasa yang tidak dihinggapi korupsi! ?Bagaimanakah Repelita dapat berjalan baik, selama kanker ini masih ada dalam tubuh pemerintahan. Sebab itu pula negeri-negeri lain, yang mau melaksanakan ekonomi berencana, bermula dengan membayar gaji yang cukup untuk hidup bagi pegawai-pegawainya. Itu dapat dipahamkan karena untuk melaksanakan ekonomi berencana secara rasional, perlu ada kegembiraan bekerja,?
EFEKTIVITAS PEMAKAIAN NILAI EBTANAS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.297 KB)

Abstract

           Berbicara tentang instrumen untuk menyeleksi para kandidat mahasiswa perguruan tinggi  berarti kita tengah berbicara mengenai tes prediksi (prediction test) yang moment pelaksanaannya dilakukan awal terminal. Sementara itu secara ideal yang didasarkan pada argumentasi akademik maka pembuatan atau penyusunannya disarankan memakai pendekatan prediksi (prediction approach).              Mengapa pendekatan prediksi perlu digunakan dalam menyusun instrumen atau materi tes masuk perguruan tinggi? Jawabnya jelas, karena melalui pendekatan ini maka prestasi atau hasil belajar mahasiswa dapat dideteksi seawal mungkin. Sementara itu "treatment" yang perlu dilakukan oleh lembaga untuk menaikkan prestasi mahasiswanya pun dapat dilaksanakan secara efektif,  karena akan lebih tepat sasarannya.              Semua itu sangat argumentatif untuk dilaksanakan karena apabila dibandingkan dengan hasil tes prestasi  maka hasil tes prediksi lebih mencerminkan kemampuan dasar  para calon mahasiswa untuk mengikuti proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
"PRAFORMAL", MODEL PENDIDIKAN BARU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.847 KB)

Abstract

       Adalah Bimbingan Tes (Masuk Perguruan Tinggi) dan Pendidikan Pra Universitas. Lembaga pendidikan ini dalam dua atau tiga tahun terakhir ini ramai dibicarakan, dimasalahkan dan didiskusikan. Bahkan tidak jarang menjadi polemik diantara para pengamat pendidikan, dari yang "kelas kroco" sampai para "jamhur".  Para pengelola lembaga dan para pemakai jasa lembaga ini tentu saja banyak yang ikut terlibat didalamnya.       Di setiap sekitar awal tahun ajaran (tahun akademika) baru masalah ini selalu muncul di permukaan yang lengkap dengan "warna-warni"nya disana-sini. Masalah ini memang senantiasa akan muncul terus karena setiap polemik dan diskusi yang berlangsung hampir tak pernah menghasilkan "kata akhir" sepotongpun.       Banyak diantara para pengamat yang membahas masalah ini dengan meninjaunya dari satu dimensi,  tanpa dengan mengaitkan de-ngan dimensi lainnya.  Ada pula yang pembahasannya lebih bersifat emosional dengan mengaitkan nya kepada kepentingan tertentu.  Aki-batnya tentu bisa ditebak, pembahasannya akan menjadi "rancu" dan tak berujung pangkal.  Tidak jarang pula yang akhirnya menjadi tidak proporsional.       Dua kutub yang saling berlawanan arah akhirnya menjadi lebih jauh jaraknya. Dari yang "pro-100%" terhadap kegiatan lembaga se-macam tersebut diatas sampai yang "kontra bulat-bulat".
PRESTASI MATEMATIKA SISWA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.04 KB)

Abstract

         Oleh sang penelitinya sendiri, Ramon Mohandas, saya diberi satu dokumen laporan penelitian dengan titel "Report on The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) : Indonesian Student Achievement in Mathematics and Science Compared to Other Countries" (2000).  Dari laporan penelitian ini bisa dilihat perbandingan prestasi Matematika (dan IPA) antar siswa antar daerah di Indonesia, di samping bisa pula dilihat perbandingan prestasi siswa Indonesia dengan siswa di negara-negara manca. Dalam hal ini yang dimaksud dengan siswa ialah anak-anak kelas 1 dan 2 SLTP beserta ekuivalennya.         Ternyata, menurut penelitian tersebut, siswa Aceh dan Jambi  mempunyai prestasi Matematika yang lebih baik daripada siswa dari daerah lain pada umumnya;  sedangkan  siswa dari Sumatera Barat mempunyai prestasi yang paling jelek daripada siswa dari daerah lain pada umumnya. Selisih prestasi di antara siswa Aceh dan Jambi dengan siswa Sumatera Selatan adalah sangat signifikan, atau baha-sa mudahnya sangat mencolok (mata).          Dalam skala internasional prestasi Matematika siswa Indonesia ternyata amat jelek, bahkan termasuk kelompok "terburuk", apabila dibanding dengan siswa dari negara-negara lainnya. Dari 42 negara pertisipan TIMSS, ternyata siswa Indonesia hanya menduduki rank-ing ke-39. Dalam hal ini siswa dari Singapura menduduki peringkat pertama,  sementara itu urutan kedua sampai dengan kelima bertu-rut-turut ditempati oleh siswa dari Korea, Jepang, Hong Kong, dan Belgia. Siswa dari Thailand berhasil menempati peringkat ke-20; sementara itu siswa kita hanya "leading" dari Kuwait, Columbia dan Afrika Selatan.
MEMBURU DANA PENELITIAN KE LUAR KAMPUS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.587 KB)

Abstract

       Kiranya sangat tepat apa yang pernah dikemukakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud Prof. DR. Soekadji Ranoewihardjo bahwa produktivitas dan kualitas penelitian merupakan salah satu tolok ukur kualitas perguruan tinggi; makin tinggi produktivitas dan kualitas penelitian pada sebuah perguruan tinggi maka semakin bermutu perguruan tinggi yang bersangkutan.       Berbagai perguruan tinggi pada negara-negara maju umum-nya sangat menyadari benar akan hal tersebut di atas, oleh karena itu aktivitas meneliti pada kalangan civitas akademikanya menjadi sangat dinamis.  Produktivitas dan kualitas penelitian pun menjadi begitu relatif tinggi.       Bagaimana dengan perguruan tinggi di negara kita? Kesadaran tentang pentingnya penelitian memang sudah tumbuh pada berbagai perguruan tinggi,  akan tetapi karena adanya berbagai hambatan dan keterbatasan maka aktivitas penelitian pun banyak yang menjadi tersendat-sendat. Adapun  salah satu hambatan yang menyebabkan tersendatnya aktivitas penelitian adalah masalah dana; yaitu berkisar pada minimnya dana lembaga yang dapat dialokasikan untuk menunjang aktivitas penelitian.
BELAJAR DARI STRATEGI PENJAHIT (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Ketika saya mengisi seminar bersama Pak Jeremy Thomas tentang kewirausahaan di STMIK AMIKOM Yogyakarta. Acara tersebut untuk membekali calon wisudawan agar setelah lulus tidak mencari pekerjaan, tetapi dapat menciptakan pekerjaan, meskipun barangkali hanya untuk dirinya sendiri. Pada sesi pertama yang menyampaikan pembekalan adalah Pak Jeremy Thomas, pemain sinetron yang terkenal, tetapi saat ini menjadi seorang Pengusaha. Ia telah mendirikan perusahaan bernama VMT.  ?Kalau dahulu sebagai pemain sinetron saya menjual fisik saya, tetapi sebagai Pengusaha seperti sekarang ini saya menjual otak saya? kata Pak Jeremy. Materi yang sangat menyentuh hati saya dari Pak Jeremy adalah materi tentang strategi seorang penjahit yang cerdas. Pak Jeremy bercerita tentang seorang penjahit yang hanya lulus SD yang otaknya cerdas dalam menangkap peluang. Penjahit tersebut bernama Pak Jon. Pada suatu waktu penjahit tersebut datang ke tempat Pak Jeremy untuk menawarkan jasa pembuatan jas. Setelah memperkenalkan diri, kemudian Pak Jon berkata ?Pak Jeremy adalah orang yang penting bagi saya. Pak Jeremy kan selebritis, kalau boleh saya buatkan jas dulu, nanti kalau cocok baru dibayar, tetapi kalau tidak cocok jangan dibayar? kata Pak Jon. ?Kalau tidak cocok nanti kasihan sama Bapak, kalau nanti rugi?? tanya Pak Jeremy. ?Tidap apa-apa Pak? jawab Pak Jon. Kemudian, Pak Jon menunjukkan gambar dalam beberapa majalah luar negeri, para selebritis luar negeri yang sedang memakai jas. Meskipun majalah yang dibawa hanyalah majalah bekas yang dapat dibeli di toko majalah bekas dengan harga yang sangat murah. Pak Jon meminta Pak Jeremy untuk memilih salah satu jas yang dipakai selebritis luar negeri. ?Modelnya pilih yang mana Pak?? tanya Pak Jon. Setelah Pak Jeremy memilih salah satu model jas, selanjutnya Pak Jeremy diukur badannya oleh Pak Jon dan semua ukuran telah dicatat. ?Satu bulan lagi mudah-mudahan sudah jadi Pak? kata Pak Jon sambil berpamitan pulang. Pelajaran pertama yang kita peroleh dari Penjahit yang hanya lulusan SD tersebut adalah sesuatu yang luar biasa. Ia tidak hanya sekedar menawarkan produk yang hebat dan nyaman dipakai, tetapi ia mencoba untuk memahami apa yang dinginkan pelanggannya, karena pelanggan menginginkan lebih dari apapun untuk dihargai dan dipedulikan dengan sungguh-sungguh. Pak Jon juga tidak sekedar memperhatikan hal-hal yang kelihatan, tetapi jauh lebih penting memahami hal-hal yang tidak kelihatan yang berupa perlakuan terhadap pelanggan dan menganggap bahwa pelanggannya adalah seorang yang sangat penting baginya, sehingga  menghasilkan pondasi hubungan pelanggan yang sejati. Sebaliknya, seringkali justru kita hanya berkutat pada produk dan harga saja, tetapi melupakan bagaimana kita memperlakukan kepada pelanggan kita dan menganggap pelanggan kita termasuk orang yang biasa saja atau orang yang tidak penting, sehingga mereka kecewa dan meninggalkan kita selamanya.  
STRATEGI ADALAH PERSEPSI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Jack Trout dalam bukunya Trout On Strategy, salah satu inti dari strategi adalah persepsi. Keunggulan bersaing perusahaan, sesungguhnya adalah keunggulan komunikasi. Sehingga masalah dalam bersaing adalah masalah dalam berkomunikasi. Strategi Positioning sesungguhnya adalah strategi komunikasi. Periklanan merupakan bentuk komunikasi yang, dari sudut pandang penerima, dibangun dalam penghargaan yang rendah. Jika Anda berhasil dalam dalam periklanan, kemungkinan Anda akan berhasil  dalam bidang bisnis, agama, politik atau aktivitas lainyang membutuhkan komunikasi massa. Positioning merupakan konsep yang mengubah keaslian iklan, konsep yang sederhana yang membuat orang menghadapi kesulitan dalam memahami kekuatannya. Positioning dimulai dengan sebuah produk, barang, jasa, perusahaan, atau orang. Tetapi positioning bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap produk. Positioning adalah sesuatu yang Anda lakukan terhadap pikiran calon konsumen, yaitu menempatkan produk itu pada pikiran calon konsumen. Maka merupakan kesalahan jika menyebut konsep ini sebagai ?positioning produk?. Seperti halnya Anda melakukan sesuatu hal terhadap fisik produk itu. Juga salah jika positioning tidak melibatkan perubahan. Tetapi perubahan tersebut adalah perubahan terhadap nama, harga dan kemasan bukan terhadap produk secara keseluruhan. Pada dasarnya ada perubahan penampilan yang akan dilakukan dengan tujuan menjamin suatu posisi yang lebih berharga dalam persepsi calon konsumen. Positioning juga merupakah tubuh pemikiran yang pertama yang dirancang untuk memegang permasalahan dalam mendengarkan masyarakat kita yang kebanjiran informasi. Satu-satunya pertahanan yang dimiliki seseorang dalam masyarakat adalah pemikiran yang sangat sederhana. Maka pendekatan terbaik yang akan diambil sesorang dalam masyarakat adalah pesan yang sederhana.  John Sculley, mantan Chairman Apple Computer mengatakan ?Segala hal yang telah kita pelajari dalam era industri cenderung menciptakan kerumitan yang semakin parah. Saya kira semakin banyak orang yang sadar bahwa Anda harus melakukan penyederhanaan, bukan sebaliknya. Ini ide yang sangat Asia, bahwa kesederhanaan adalah kecanggihan terhebat?. ProXL menggunakan kata ?Tak hanya bicara?, Polytron dengan ?Yang lainnya lewat? dan  RCTI ?Tambah Oke?. Siapa yang memenangkan persepsi terhadap benak konsumen adalah yang memenangkan persaingan, karena persepsi adalah salah satu inti dari strategi..
TIP BAGI YANG SUKSES UMPTN “91 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.183 KB)

Abstract

       Kalau tiada aral melintang, maka hari ini tanggal 3 Agustus 1991 hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) diumumkan secara serentak di seluruh Indonesia. Ada yang sukses, dan ada pula yang gagal; hal ini pasti akan terjadi karena merupakan bagian dari romantika akademik perguruan tinggi kita.          Seandainya ada aturan bagi yang sukses harus ter-tawa sekeras-kerasnya dan bagi yang gagal harus menangis sekeras-kerasnya maka hampir dapat dipastikan suara tawa akan "tertelan" oleh bunyi tangisan. Betapa tidak, untuk periode kali ini setiap ada satu orang yang tertawa karena sukses maka di sekitarnya ada enam atau tujuh orang yang menangis karena gagal. Seperti diketahui persaingan dalam UMPTN memang ketat; untuk dapat menembus dinding PTN melewati jalur UMPTN ini maka setiap kandidat harus siap bersanding serta bersaing untuk menyisihkan sekitar enam atau tujuh kandidat lainnya. Tentu saja hanya kanidat yang siap sajalah yang bisa melakukannya; terkecuali bagi kandidat yang tengah mendapatkan "lucky".          Bagi yang sukses dalam pengumuman UMPTN 1991 kali ini maka beberapa hari berikutnya akan mendapat predikat baru; yaitu sebagai mahasiswa perguruan tinggi, tentunya setelah melaksanakan herregistrasi di perguruan tinggi-nya masing-masing. Tulisan ini bermaksud memberi semacam tip berdasarkan pengalaman empirik  bagi kandidat yang berhasil menembus dinding PTN dan sebentar lagi akan me-nerima predikat barunya sebagai mahasiswa (baru).

Page 89 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue