cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
PENGARUH SINKRETISME AGAMA ISLAM – KEJAWEN PADA ARSITEKTUR MESJID MENARA KUDUS Ashadi Hadiwinoto
NALARs Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Bentuk arsitektur mesjid Walisanga ditengarai dipengaruhi oleh sinkretisme agama Islam-Kejawen. Hal ini sejalan dengan metode kompromis yang diterapkan oleh para Walisanga dalam menyebarkan agama Islam di lingkungan masyarakat Jawa. Studi ini bertujuan untuk memahami pengaruh sinkretisme agama Islam-Kejawen pada arsitektur mesjid Menara Kudus. Metode yang digunakan dalam studi ini bersifat deskriptif, analitis dan interpretatif berdasar pada bukti empiris, yang dielaborasikan dengan konsep relasi aspek fungsi-bentuk-makna dalam arsitektur. Hasil dari studi ini menyimpulkan bahwa pengaruh sinkretisme agama Islam-Kejawen terjadi pada bentuk arsitektur mesjid Menara Kudus, yakni pada lingkup tapak dan bangunan. Pada lingkup bentuk arsitektur mesjid Menara Kudus yang mendapat pengaruh sinkretisme agama Islam-Kejawen memperlihatkan dominasi. Dominasi ini terjadi melalui proses adaptasi. Studi ini diharapkan dapat menyumbangkan pengetahuan teori tentang dan metode spesifik untuk membaca pengaruh sinkretisme agama Islam – Kejawen pada arsitektur mesjid tradisional di Jawa.Kata Kunci: Sinkretisme, Agama Islam, Kejawen, Bentuk Arsitektur ABSTRACT. The architecture of the mosque Menara Kudus has been influenced by Islam-Kejawen religion syncretism. This is sinergy with the compromise method applied by the Walisanga to spread Islam in the Java community. This study aims to understand the influence of Islam-Kejawen religion syncretism on architecture of mosque Menara Kudus. The method has been used in this research is a descriptive, analytical and interpretive, elaborated with the concept of relation aspects of function-form-meaning in architecture. The results of this study concluded that the influence of Islam-Kejawen religion syncretism occurs in the architectural form of mosque Menara Kudus, which occurs in the site and the building. In the architectural forms of mosque Menara Kudus which has been influenced by Islam-Kejawen religion syncretism show domination. This domination occurs through a process of adaptation. This study is expected to contribute knowledge of the theory about and specific methods to read the influence of Islam-Kejawen religion syncretism on the traditional architecture mosques in Java.Keywords: Syncretism, Islam, Kejawen, Architectural Form
ANALISIS KONSEP GREEN ROOF PADA KAMPUS SCHOOL OF ART, DESIGN AND MEDIA NTU SINGAPORE DAN PERPUSTAKAAN UI DEPOK Ratna Dewi Nur'aini
NALARs Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.2.161-168

Abstract

ABSTRAK. Jakarta termasuk salah satu kota yang terletak di daerah beriklim tropis. Sebagai ibukota negara, Jakarta mempunyai kepadatan penduduk sangat tinggi, lahan terbuka hijau semakin berkurang. Banyak sekali ditemukan bangunan yang menggunakan Air Conditioning (AC) sehingga akan menimbulkan global warming. Bangunan pendidikan merupakan salah satu bangunan yang perlu didesain sedemikian rupa sehingga menjadi nyaman dan tidak merusak lingkungan, yang akan mendukung terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Perlu adanya kajian konsep green building pada bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi pendidikan di daerah iklim tropis untuk menjadi sumber referensi yang nantinya bisa diterapkan di kota Jakarta pada khususnya. Pada penelitian ini kajian green building difokuskan pada analisis tentang green roof pada bangunan pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi konsep green roof bangunan kampus School of Art, Design and Media NTU Singapore dan bangunan Perpustakaan UI Depok dan menganalisisnya untuk dapat diterapkan di Kota Jakarta pada khususnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ini adalah kampus Nanyang Technological University School of Art, Design and Media Singapura dan Gedung Perpustakaan Universitas Indonesia Depok yang menggunakan aplikasi green roof. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem berkelanjutan telah menjadi salah satu kebijakan prioritas di kota Singapura dan Jakarta. Green roof tidak hanya merupakan upaya untuk menciptakan arsitektur berkelanjutan, tetapi juga dari segi estetika. Green roof merupakan salah satu aplikasi konsep green building yang tepat untuk diaplikasikan pada bangunan–bangunan pendidikan yang ada di Jakarta sebagai kota yang memiliki kepadatan bangunan tinggi dan lahan terbuka hijau yang sangat terbatas.Kata kunci:bangunan pendidikan,greenroof, iklim tropis, Kampus NTU, Perpustakaan UI Depok
ANALISIS BENTUK DAN RUANG PADA RUMAH MELAYU TRADISIONAL DI KOTA SAMBAS KALIMANTAN BARAT Zairin Zain
NALARs Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.11.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Arsitektur rumah Melayu tradisional di kota Sambas juga merupakan unsur kebudayaan nasional yang mempunyai struktur, fungsi dan style dengan bentuk fisik dalam proses pembuatannya senantiasa memberikan karakteristik tersendiri. Arsitektur tradisional sebagai hasil karya, cipta, karsa dan rasa manusia sebagai unsur kebudayaan manusia, yang tidak lepas dari interaksi dan pemahaman antara lingkungan fisik alam sekitar dengan keahlian atau kemampuan masyarakat dalam membentuk suatu kognisi. Penelitian ini dilakukan terhadap 3 (tiga) kasus rumah tradisional yang dijadikan sebagai kasus penelitian. Lokasi ketiga kasus tersebut terletak di kampung Dalam Kaum sebanyak 1 (satu) rumah Potong Kawat (kasus II) dan kampung Tanjung Mekar sebanyak 2 (dua) buah rumah yaitu potong Limas (kasus I) dan Potong Godang (kasus III). Kedominanan bentuk yang diberikan pada rumah tinggal Melayu tradisional baik secara vertikal maupun horizontal pada elemen pembentuk fasad disusun untuk memberikan perlindungan total dan kebebasan bagi anggota keluarga; sedangkan susunan ruang pada rumah Melayu tradisional di kota Sambas diarahkan pada penggunaan ruang secara bersamaan agar dapat menampung orang dalam jumlah yang banyak. Kata kunci : rumah Melayu tradisional, bentuk, ruang, kestabilan struktur ABSTRACT. The architecture of traditional Malay houses in the town of Sambas is also an element of the national culture and they also owned structure, function and style with the form, in its development process, is physically continues to provide its own characteristics. The traditional architecture as a result of the work, creativity initiative and the sense of man is an element of human culture, which can not be separated from the interaction and the understanding of the natural and physical environment with the skill or ability of the communities to form a cognition. The research was conducted on 3 (three) cases of the traditional Malay houses that serve as cases on this study. Three cases and its location site which were choosed as samples is in the following: 1 sample in the village of Dalam Kaum for Potong Kawat or the Kawat shape (as case II) and 2 samples were choosen in the village of Tanjung Mekar for Potong Limas or the Limas shape (as case I) and Potong Godang or Godang shape (as case III). The dominance is given by the form of traditional Malay houses, either vertically or horizontally, on the facade is forming the element arrangement to provide the total protection and freedom for all family members, whereas the spatial arrangement of the traditional Malay houses in the town of Sambas is directed to the use of space at the same time in order to accommodate many people in large numbers for traditional ceremony.Keywords : traditional Malay houses, forms, space, stability of the structure 
Pengaruh Modul Besaran Ruang Terhadap Tata Ruang Rumah Sangat Sederhana Lily Mauliani
NALARs Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.2.135-144

Abstract

ABSTRAK. Bangunan rumah sangat sederhana pada permukiman padat penduduk pada umumnya merupakan bangunan yang tidak memenuhi syarat kelayakan sebuah hunian, Ketidaklayakan bangunan rumah tidak saja dari segi luasan masing-masing ruang di dalamnya tetapi juga dari segi kenyamanan ruang yang mencakup pencahayaan, penghawaan serta penataan perabot di dalam ruang. Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui korelasi antara besaran ruang dan tata ruang rumah sangat sederhana ini adalah metode deskriptif, berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan. Modul besaran ruang rumah sangat sederhana yang relatif sangat kecil menuntut adanya penyelesaian pada disain tata ruangnya. Dengan modul besaran ruang rumah sangat sederhana sebesar 3 x 3 m2 pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah dengan menata ruang dengan sistem split level. Dengan sistem tersebut memungkinkan terjadinya pemisahan ruang privat berdasarkan jenis kelamin serta pengoptimalan pencahayaan dan penghawaan alami. Kata Kunci: modul, besaran ruang, tata ruang  ABSTRACT. A simple residential building in densely populated settlements, generally, is a building that does not meet the requirement of a dwelling, not laying the house not only in terms of the area of each space in it but also in terms of comfort space that includes lighting, air conditioning and the arrangement of furniture within a room. The research method that has been used to find out the correlation between space and spatial layout of this simple house is a descriptive method, based on phenomena that occurred in the field. Module size of the house space is very simple which is relatively minimal demands the completion of its spatial design. With the module size of a very simple home space 3 x 3 m2 problem solving can be done to arrange space with a split-level system. With such an arrangement allows the separation of private areas by sex and optimization of natural lighting and air conditioning.Keywords: module, dimension of space, layout
PERUBAHAN TATA RUANG RUMAH TIPE KECIL DAN PENGARUHNYA TERHADAP ASPEK KESEHATAN PENGHUNI Ashadi Ashadi; Anisa Anisa; Nelfiyanti Nelfiyanti
NALARs Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.2.81-90

Abstract

ABSTRAK. Kesehatan menjadi aspek penting yang harus diperhatilkan dalam desain rumah. karena rumah yang sehat akan berdampak pada kenyamanan yang dirasakan oleh penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tata ruang rumah tipe kecil ≤ 36 m2 dan pengaruh perubahan tersebut pada aspek kesehatan penghuninya. Kesehatan difokuskan pada sirkulasi udara dan cahaya (penghawaan dan pencahayaan) yang merupakan dua aspek penting pada kesehatan dalam rumah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan mengambil kasus secara purposif sampling. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah pada perubahan tata ruang rumah tipe kecil selalu ada ruang yang tidak mendapatkan pencahayaan secara maksimal. Arah perubahan pada rumah tipe kecil adalah ke arah samping, belakang dan depan sehingga sirkulasi udara dan cahaya yang awalnya dioptimalkan melalui halaman depan dan belakang menjadi terganggu. Upaya yang dilakukan adalah dengan membuat bukaan berupa jendela dan roster yang cukup lebar sehingga udara dan cahaya dapat masuk ke dalam ruangan. Namun untuk ruang yang tidak mendapatkan cahaya matahari secara langsung akan menjadi gelap dan lembab sehingga mempengaruhi kesehatan penghuninya.Kata kunci: tata ruang, rumah, kesehatanABSTRACT. Health is become an important aspect which should be concerned in designing a house. Healthy house will affect to the conviniency of the occupants. This research is aimed to explore the transformation of house’s layout of small house less than 36 m2 and the impact of the changes to the health aspect for occupants. Health aspect will be focused on air circulation and natural lighting which are very important aspects for health within house. A qualitative descriptive method has been conducted to analyse this research by taking some cases with purposive sampling. A significant result will be presented that the changes of house’s layout of small house will affect to the existence of room which will not suplied by maximum natural lighting as well as good air circulation. The change direction of small house is to the side direction, backwards and forward, thus air circulation and natural lighting which at the beginning will be optimized through rear side and front side will be interrupted. Efforts will be made by providing opened wall such as wide windows and roster, to circulate the air and natural lighting inside the house. For some rooms which will be not supported to get direct natural lighting and air circulation, the rooms will be uncomfortable for occupants, because it will be dark and humid for some reasons and will affect to the health of the occupants.Keywords: layout, house, health
VARIASI POLA DESA-DESA TRADISIONAL DI KOTANOPAN, MANDAILING NATAL Cut Nuraini
NALARs Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Permukiman penduduk di Mandailing terdiri atas beberapa desa yang letaknya tersebar di wilayah Mandailing Julu dan Mandailing Godang. Desa-desa tersebut pada awalnya merupakan huta adat yang dalam perkembangan selanjutnya disebut desa. Pola hidup yang menetap sudah lama ada di Mandailing sejak bermukimnya orang-orang yang pertama datang ke daerah ini. Dengan adanya pola hidup menetap, maka terbentuklah kampung-kampung (perkampungan) yang disebut huta.  Desa-desa yang terdapat di Kotanopan Mandailing dewasa ini secara tidak langsung telah mempengaruhi perencanaan dan pengembangan wilayah setempat. Fenomena ini semakin diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa sebagian besar wilayah pedesaan di Mandailing selalu didominasi oleh keberadaan alaman bolak selangseutang (halaman luas di depan rumah raja sebagai penanda bahwa desa tersebut telah melakukan proses adat) Pembahasan ini menjelaskan bahwa berdasarkan status letaknya, desa-desa di Kotanopan merupakan desa pedesaan, sedangkan berdasarkan mata pencahariannya, desa-desa tersebut terkategori dalam kelompok desa-desa pertanian dan desa-desa tambak. Jika ditinjau berdasarkan nilai sosial, desa-desa ini memiliki dua karakter, yaitu desa-desa yang berorientasi kultural dan sekaligus juga desa-desa yang berorientasi agama dan kepercayaan. Bentuk desa berdasarkan tiga kelompok, yaitu (1) Orientasi Rumah : merupakan bentuk desa dengan letak rumah-rumah yang membentuk kelompok terpusat (konsentris); (2) Aspek Fisiografis : merupakan desa lembah/ pegunungan dan (3) Aspek Non-Fisiografis : merupakan desa sepanjang jalan raya. Sedangkan Pola desa-desanya memiliki ciri linier dan radial.  Kata Kunci : Kawasan Permukiman, Huta, Konsentris, Linier, Radial  ABSTRACT. People Settlement in Mandailing consist of some villages that distribute on Mandailing Julu and Mandailing Godang district. In the beginning, those villages has been tradition huta expand to be a village in the future. Living to reside have been exist in Mandailing since those residence people came first in this region. With living to reside, so they have been created kampong-kampong as called huta.  The Villages in Kotanopan, Mandailing has effected the planning as well as the development of the region. This phenomenon has been strengthening by the fact that mostly on the village areas in Mandailing have been dominated by the existence of alaman bolak selangseutang (Wide yard in front of King House as symbolize that the village has been done the tradition proses). The discussion has tried to explain and describe that according to setting statue the villages in Kotanopan has been traditional village and according to people job the villages has been categoried in farm and lake villages. According to social value, the villages has been two caracter namely cultural oriented villages and religion oriented villages. The form of villages which has been delivered by 3 groups, namely (1) Houses Orientation : are villages form which have consentris house setting, (20 Fisiografis Aspect : are valley villages/ mountain villages and (3) Non-Fisiografis Aspect : are village along the main street. The pattern of Mandailing Villages has been linier and radial caracter.  Keywords:  Regional Settlement, Huta, Concentris, Linier and Radial
KAJIAN ARSITEKTUR LANSKAP RUMAH TRADISIONAL BALI SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR EKOLOGIS Luqmanul Hakim
NALARs Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini mengkaji pengaruh Arsitektur Lanskap Rumah tradisional Bali terhadap pendekatan perancangan Arsitektur ekologis di daerah tropis. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi yang dipadu dengan observasi terhadap arsitekur lanskap rumah tradisional Bali. Data yang dihasilkan akan dikelompokkan dan disusun sehingga menjadi sebuah data yang menunjukkan adanya hubungan antara elemen lanskap dengan norma–norma yang diterapkan dalam penataannya. Kesimpulan yang didapat adalah konsep Asta Kosala kosali terbukti berhasil membuat Arsitektur Lanskap Rumah Tradisional Bali khususnya, bertahan sampai sekarang. Penataan ruang dengan Kasta di Bali sudah menunjukan dan membuktikan merupakan produk Arsitektur Lanskap yang ekologis. Kata Kunci: Arsitektur Lansekap, RumahTradisional Bali, Arsitektur Ekologis  ABSTRACT. This study will examine the effect of architectural landscape of Balinese traditional house on the approach of ecologist architecture design within tropical area. The method has been used is a description method combined with observation of architectural landscape of Balinese traditional house. The collected data will be grouped and organized thus become a data which showing the relationship between landscape elements with norms applied in the setting. The conclusion is  showing that the concept of Asta Kosala Kosali has succeeded to make architectural landscape of Balinese traditional housein particular, has survived until now. Structuring space with Caste in Bali has shown and provedas an Ecological Landscape Architecture product. Keywords: Landscape Architecture, Balinese Traditional House, Ecologist Architecture
THE IMPLICATIONS OF DENSIFICATION POLICIES FOR GREATER RESISTENCIA (ARGENTINA): AN ASSESSMENT OF RECENT EXPERIENCE Valeria Schneider
NALARs Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.13.2.%p

Abstract

ABSTRACT. Since 2001, Resistencia City Council has been promoting growth in building height by steering development towards built-up areas in central districts that already have complete infrastructure, through the implementation of the Ordinance 5403/01 - high density. If Ordinance 5403/01 is to be accomplished, with the proposed density of up to 2400 inhabitants, there is a need for 128 hectares of green open space at the neighborhood level (Pérez and Schneider, 2011). In the last 10 years, although the population growth of the city (16%) has been followed by an increase in the supply of greenfield per inhabitant (85%), this increase has not been reflected in the inner city areas, where there is a higher population density. This legislation does, however, include sections that make it possible to optimize this situation.  This paper continues on from previous studies and attempts an analysis of the application of existing legislation that proposed the intensification of land use in built up core of Resistencia city. It is focused on an assessment of the scope of the implementation of this legislation, with an emphasis on the design of buildings which enable the supply of areas dedicated to leisure or recreation, which would allow a decompression in the demand for green spaces in the central area.  ABSTRAK. Sejak tahun 2001, Dewan Kota Resistencia sudah mulai mempromosikan pertumbuhan kotanya secara vertikal yang terlihat pada area-area terbangun dengan mengarahkan pembangunan menuju ke daerah-daerah di distrik pusat kota yang sudah memiliki infrastruktur lengkap melalui pelaksanaan Ordonansi nomor 5403/01 tentang kepadatan tinggi.     Apabila Ordonansi nomor 5403/01 telah dilaksanakan secara menyeluruh, dengan kepadatan yang diusulkan mencapai 2400 jiwa, maka akan diperlukan sekitar 128 hektar Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada tingkat lingkungan/ RT (Perez dan Schneider, 2011). Pada sepuluh tahun terakhir, walaupun pertumbuhan penduduk pada kota (16%) diikuti dengan peningkatan suplai dari area hijau/ penduduk (85%), peningkatan ini tetap saja tidak terlihat secara signifikan pada area pusat kota, dimana kepadatan penduduknya relatif sangat tinggi. Peraturan ini bagaimanapun juga melibatkan bagian-bagian yang memungkinkan untuk mengoptimalkan kondisi tersebut.    Tulisan ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya dan bertujuan untuk menganalisa aplikasi dari peraturan yang ada dimana di dalamnya diusulkan mengenai intensifikasi tata guna lahan dalam pembangunan pusat kota Resistensia. Penelitian ini difokuskan pada penilaian tentang ruang lingkup pelaksanaan dari peraturan tersebut, dengan penekanan pada perencanaan dan perancangan bangunan-bangunan yang dapat mensuplai kawasan-kawasan yang ditujukan untuk rekreasi dan hiburan, dimana akan mendorong untuk kebutuhan akan ruang-ruang hijau di dalam kawasan pusat kota.
Konversi Bangunan Tua Sebagai Salah Satu Aplikasi Konsep Konservasi Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.8.2.%p

Abstract

Not Available
PERUBAHAN PERILAKU MEMBANGUN RUMAH PASCA GEMPA 2006 DI YOGYAKARTA - STUDI KASUS PENGEMBANGAN 18 RUMAH BANTUAN JRF DI KABUPATEN BANTUL Johanita Anggia Rini; Sugeng Triyadi; Tri Yuwono
NALARs Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.1.45-54

Abstract

ABSTRAK. Masyarakat korban gempa 2006 di Yogyakarta menerima berbagai bantuan dalam proses membangun kembali rumahnya yang hancur, antara lain dengan bantuan Java Reconstruction Fund (JRF). Bantuan ini tidak hanya berbentuk dana untuk membangun rumah, namun juga pembelajaran membangun dengan prinsip tahan gempa, dan pengawasan selama proses pembangunan. Dengan cara pembelajaran adaptif ini, diharapkan pemilik rumah dapat mengadaptasi cara membangun rumah yang tahan gempa untuk seterusnya. Bertahun-tahun kemudian, pemilik rumah mulai mengembangkan rumahnya secara mandiri, tanpa bantuan dan pengawasan dari pihak luar. Penelitian ini mengkaji apakah perilaku membangun rumah dengan prinsip tahan gempa sudah dipraktekkan secara lestari oleh pemilik rumah, dengan cara meninjau fisik bangunan tambahan yang dibangun secara mandiri. Lebih lanjut, penelitian juga melihat sejauh mana keberhasilan pembelajaran adaptif yang diterima oleh pemilik rumah dilihat dari kacamata tahapan perubahan perilaku membangun. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menggambarkan kerentanan fisik rumah yang menjadi obyek studi mengingat potensi gempa masih selalu mengancam Kabupaten Bantul, dan menduga pengaruh proses pembelajaran adaptif terhadap perubahan perilaku membangun. Kata kunci: prinsip tahan gempa, pembelajaran adaptif, perubahan perilakuABSTRACT. The victims of the 2006 earthquake in Yogyakarta have received assistance in the reconstruction of their destroyed houses. One of them is Java Reconstruction Fund (JRF) program. This assistance came not only in the form of funds to rebuild houses, but also learning to build a house with earthquake resistant principles, and supervision during the development process. This system is referred to as adaptive learning. Homeowners are expected to be able to adapt the new way to build earthquake-resistant houses forever. Years later, homeowners began to develop their home independently, without help and supervision from outside. This study has examined whether the behavior to build earthquake-resistant houses have already been practiced in a sustainable manner by the homeowners, by means of reviewing the physical of additional buildings that has been constructed independently later. Furthermore, the study also looked at the level of adaptive learning received by the homeowner as perceived stages of behavior change. Results of the study can be used to describe the physical vulnerability of houses that became the object of study given the potential for an earthquake in Bantul is always threatening, and suspect the influence of the adaptive learning process to behavior change.  Keywords: earthquake resistant principles, adaptive learning, behavior change

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue