cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
DINAMIKA ARSITEKTUR INDONESIA DAN REPRESENTASI ‘POLITIK IDENTITAS’ PASCA REFORMASI kemas ridwan kurniawan
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.65-78

Abstract

ABSTRAK. Menguatnya politik identitas di Indonesia pasca reformasi telah melahirkan formasi arsitektur baru yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Identitas budaya terkait indigenitas menjadi bagian dari politik identitas yang menurut sebagian pengamat politik disinyalir dimanfaatkan para elit dan penguasa untuk kepentingan politik kekuasaan. Ironisnya, dalam bidang arsitektur, definisi tentang identitas ini justru semakin tidak jelas. Definisi-definisi ini berputar pada debat tentang pencarian jati diri yang tidak pernah selesai dan sering diasosiasikan dengan proses untuk memunculkan jati diri kebudayaan sebagai jawaban atas tantangan universalitas arsitektur modern, globalisasi dan kemajuan teknologi. Makalah ini mencoba mengambil dari sudut pandang yang berbeda yaitu politik identitas dalam silangannya dengan arsitektur (‘space’), waktu (sejarah) dan aspek sosial-politik. Isu yang muncul adalah bagaimana politik identitas perlahan-lahan melanjutkan pengaruhnya dalam formasi arsitektur di Indonesia pasca reformasi, di balik kesalah-pahaman tentang definisi ‘identitas’ dalam debat-debat arsitektur di Indonesia. Hal ini terjadi karena banyak arsitek atau teoretikus arsitektur di Indonesia membatasi dirinya hanya dalam lingkup arsitektur, dan gagal berinteraksi secara lebih luas dengan isu-isu sosio politik. Konsekuensinya, di satu sisi, istilah ‘identitas’ kehilangan pengaruh sosio-politiknya dan direduksi kepada masalah-masalah estetika visual semata, yang mengaburkan identitas arsitektur sebagai suatu konsep sosial budaya. Sementara itu, di sisi lain pemanfaatan identitas sebagai bagian dari komoditas politik juga melanjutkan dinamika yang terjadi di daerah (regional) yaitu warna kekuasaan (power) dalam formasi arsitektur di Indonesia sebagai imbas dari Desentralisasi. Makalah ini mengkritisi perilaku politik identitas yang cenderung berubah menjadi ‘regime’ dalam formasi identitas arsitektur saat ini, dan kurang terangkatnya isu identitas arsitektur dengan dinamika sosio-politik dan keseharian (‘everyday-life’) masyarakat. Kata Kunci: subjektivitas, hibrid, indigenitas, pasca-nasionalisme ABSTRACT. Straighthening the politics of identity in Indonesia after the 1997 political reformation has increased the formation of new architecture which are scattered in various regions in Indonesia. The cultural identity on indigeneity and become part of identity politics. It was exploited by elites and rulers for the sake of power politics. Ironically, in the field of architecture, the definition of this identity is even more unclear. These definitions spin on the debate about the search for identity that was never finished and is often associated with the process to bring a cultural identity as a response to the challenges of modern architecture such as universality, globalization and technological progress. This paper tried to look at architecture (space) in the intersection with time (history) and socio-political aspects. The issue that arises is how the politics of identity is slowly continuing influence in the formation of architecture in Indonesia after the 1997 political reform, under misconceptions about the definition of 'identity' in debates of architecture in Indonesia. This happens because many architects or architectural theorists in Indonesia restricts itself only in the sphere of architecture, and failed to interact more broadly with social and political issues. Consequently, on the one hand, the term 'identity' loss of the socio-political influences and are reduced to a visual aesthetic problems alone, which obscure the identity of architecture as a socio-cultural concept. Meanwhile, on the other hand the use of identity as part of a political commodity also continue the dynamics that occur in the area (regional) is the color of power (power) in the formation of architecture in Indonesia as the impact of decentralization. The paper criticized the behavior of identity politics that tends to turn into a 'regime' in the current architectural identity formation, and less lifting of architecture with issues of identity and everyday social and political dynamics ( 'everyday-life') of community. Keywords: subjectivity, hybrid, indigeneity, post-nationalism
GION MATSURI: PROSESI BUDAYA, PARTISIPASI KOMUNITAS DAN PELESTARIAN WAJAH KOTA KYOTO Titin Fatimah
NALARs Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.13.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Gion Matsuri adalah satu dari tiga festival terbesar di Jepang yang diselenggarakan tiap bulan Juli. Prosesi dalam festival yang berlangsung selama sebulan tersebut melibatkan masyarakat lokal sebagai penyelenggara utama. Artikel ini bertujuan untuk melihat apa dan bagaimana Gion Matsuri, sejauh mana keterlibatan masyarakat/ komunitas lokal dalam penyelenggaraannya serta kaitannya dengan upaya pelestarian wajah kota/ townscape sebagai bagian dari pelestarian lansekap kota secara keseluruhan. Kota menjadi panggung utama tempat festival ini digelar, oleh karena itu karakter khas Kyoto berupa bangunan tradisional/ machiya townhouse sangatlah penting. Berbagai upaya pelestarian telah ditempuh. Sayang sekali, pesatnya pembangunan yang tak terkontrol menyebabkan wajah kota Kyoto berubah banyak. Populasi machiya semakin menurun, tergantikan dengan menjamurnya bangunan-bangunan baru yang berpotensi merusak karakter kota Kyoto. Upaya pelestarian sudah ditempuh oleh pemerintah, namun beberapa peraturan yang sudah dibuat untuk melindungi karakter lansekap kota belum menyentuh pada esensi karakter kota secara keseluruhan. Padahal tantangan perubahan sosial ekonomi budaya terus berlangsung seiring tuntutan zaman. Untuk itu perlu upaya sinergis antara pemerintah, swasta dan masyarakat/ komunitas untuk mengkondisikan laju pembangunan tetap bisa selaras dan harmonis dengan karakter kota Kyoto.Kata kunci: Gion Matsuri, Kyoto, Festival, Komunitas, Lansekap Kota, Wajah Kota, Karakter Kota ABSTRACT. Gion Matsuri is an annually festival in Kyoto, organized in every July and renowned as one of the three biggest festivals in Japan. The processions take place through the whole month where local community take part as main organizer. This article aims to describe what is Gion Matsuri, how local community involved in organizing the festival, and the relation with the effort of townscape conservation as part of the whole urban landscape. The festival takes place in the historic city centre as its main stage, therefore traditional wooden architecture is important as the Kyoto’s character. A number of efforts on townscape conservation have been carried out, but unfortunately uncontrollable development have caused the big changes on Kyoto townscape. The population of machiya townhouses, the Kyoto’s unique traditional wooden architecture, has decreased. The new built buildings that replaced those traditional ones potentially destroy the character of Kyoto towscape. Government had took some efforts to protect the townscape, but the issued regulations does not yet touch the whole character of Kyoto townscape. Whereas, social economy and culture that are continuesly changing is a big challenge for conservation. Therefore, sinergic effort among the government, private sector and local community is needed to condition the development pace to be harmonious with the character of Kyoto City.Keywords: Gion Matsuri, Kyoto, Festival, Community, Urban Landscape, Townscape, City Character
PENERAPAN KONSEP FLEXIBLE DAN GREEN ARCHITECTURE PADA RUMAH TYPICAL DI LAMPUNG Ai Siti Munawaroh; Rachmat Ade Gunawan; Satrio Agung Perwira
NALARs Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.2.101-112

Abstract

ABSTRAKRumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Kebutuhan manusia di dalam rumah berbeda-beda. Keberadaan perumahan yang menyediakan rumah typical menjadi salah satu solusi dalam pemenuhan kebutuhan rumah bagi masyarakat.Namun rumah typical masih menimbulkan permasalahan, yaitu adanya aktivitas dan kebutuhan ruang dari penghuni yang tidak bisa  terakomodir. Disisi lain permasalahan lingkungan akibat dari aktivitas manusia di dalam rumah menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Lampung merupakan salah satu daerah yang memiliki arsitektur yang khas. Tetapi rumah typical yang dikembangkan oleh para developer perumahan belum ada yang menonjolkan arsitektur khas Lampung tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk merancang rumah yang dapat memenuhi kebutuhan masing-masing penghuni rumah dengan luas bangunan yang sama. Selain itu, rumah yang dirancang tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan mencirikan arsitektur Lampung.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Metode kualitatif dilakukan melalui studi literatur dan perancangan. Studi literatur dilakukan melalui kajian dari berbagai sumber yaitu buku, jurnal dan internet. Perancangan dilakukan melalui: penerapan konsep flexible house dan konsep green architecture serta transformasi bentuk hasil kebudayaan Lampung.Hasil penelitian adalah desain rumah typical di Lampung dengan konsep green flexible house. Kata kunci: green architecture, flexible house, rumah lampung ABSTRACTA house is one of the basic human needs. Human needs of house for each people is different. The existence of housing that provides typical house become one of the significant solutions to fulfill the needs of house for community. However, typical house is still causing problems for the occupants, because this typical house cannot accommodate all the occupants’ activities within it. I tbecause, typical house is a minimum standard for living which is different for each people.  On the other hand, environmental problems which is occurred by human activities within a house could raise negative impact for the environment. Lampung has been regarded as one of an area which has a distinctive character of architecture. But the typical house that is developed by the developer, have not described and represented the character of Lampung’sarchitecture.  This study has been conducted to design a house that would fulfill the needs of occupants of the house which has the same area space of the house. Additionally, the house has been designed to eliminate negative impact for the environment and would have a significant character for Lampung’sarchitecture. This research has used a qualitative method, which has been done by using literature study and design process.  Literature study has been conducted by reviewing some relevant books, journal sand various sources from worldwide web. And finally, design process has been conducted through: the application of flexible house and green architecture concept and the transformation of the Lampung’sculture. As a final result, this research will provide a design of typicalhouse in Lampung with green flexible house concept. Keywords: green architecture; flexible house; Lampung house
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOTA BARU DI INDONESIA: Antara Fasilitasi Bisnis dan Pelayanan Publik M Jehansyah Siregar
NALARs Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.11.2.%p

Abstract

ABSTRACT. The development of new-town in Indonesia have been initiated since 1950s through the development of Kebayoran Baru newtown as a satellite city in Southern Jakarta. Subsequently, a number of new-town were then built in Klender and Depok and in urban fringe area of other metropolitan like Surabaya and Medan. Hitherto, new-town development are then dominated by private developers, including industrial new-town development. In other side, various problems were occured in those new-town related to spatial planning, infrastructure and social and public facilities management issues. Through policy analysis on various documents, policy dialog notes and media analysis, it were found that there is an obscure policy direction in new-town development, both in national and local government levels, whether it is focused in business facilitation or it is focused in public service initiatives. As recommendations for next study and research, an obscure of policy direction is led to the need of strengthtened legal framework, capacity building and institutional development on new-town development in Indonesia. Keywords: new town, policy direction, Indonesia ABSTRAK. Pembangunan kota-kota baru di Indonesia pada dasarnya sudah dimulai sejak masa awal kemerdekaan, yaitu dengan dibangunnya Kota Kebayoran Baru sebagai kota satelit di sebelah Selatan dari Kota Jakarta. Selanjutnya, beberapa kota baru berupa permukiman terpadu skala besar dibangun oleh Perumnas seperti di Klender dan Depok. Pada perkembangannya hingga kini, pembangunan kota-kota baru lebih didominasi oleh usaha bisnis properti yang dilakukan oleh para pengembang swasta. Di sisi lain, beragam permasalahan bermunculan yang terkait dengan isu-isu penataan ruang dan pengelolaan pelayanan prasarana dasar dan fasilitas sosial dan umum di kota-kota baru tersebut. Berdasarkan analisis perkembangan kebijakan yang bersumber dari dokumen-dokumen rencana, catatan dari beberapa diskusi publik dan analisis media, dijumpai bahwa ada ketidakjelasan arah kebijakan pembangunan kota-kota baru, apakah lebih difokuskan kepada pelayanan bisnis properti atau perlu kembali ditekankan pada aspek pelayanan publik. Sebagai rekomendasi, adanya ketidakjelasan arah kebijakan ini menghantarkan pada perlunya dilakukan penguatan-penguatan pada aspek kerangka peraturan, peningkatan kapasitas dan pengembangan konsep dan sistem kelembagaan pembangunan kota-kota baru di Indonesia. Kata-kata kunci: kota baru, arah kebijakan, Indonesia.
EVALUASI PURNA HUNI DI PERUMAHAN CONDONGCATUR DITINJAU DARI ASPEK PENGGUNAAN DAN PERUBAHAAN RUANG Dita Ayu Rani Natalia; Endah Tisnawati
NALARs Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.1.35-44

Abstract

ABSTRAK. Perumahan merupakan hunian massal yang bersifat komoditi dengan bentuk bangunan yang tipikal dan dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat. Bangunan akan mengalami perubahan ketika tidak dapat memenuhi kebutuhan penghuni atau mengalami kerusakan. Proses atau cara yang digunakan oleh penghuni atau pengguna untuk melakukan perubahan pada bangunan untuk mencapai kenyamanan dan kebutuhan pengguna adalah berbeda-beda. Hubungan antara pengguna lingkungan hunian yang terbangun dengan perilaku penghuni tersebut menyebabkan adanya upaya evaluasi untuk mengetahui keterkaitan pengguna bangunan terhadap performa bangunan termasuk fasilitas dan fungsinya. Proses evaluasi untuk penggunaan bangunan dalam mencapai hal tersebut disebut dengan Evaluasi Pasca Huni (EPH). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek Evaluasi Purna Huni yang terjadi di Perumahan Condongcatur dari aspek Evaluasi Purna Huni yang terkait dengan penggunaan dan perubahan ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualititaif dengan analisis Post Occupancy Evaluation (POE) atau Evaluasi Purna Huni (EPH). Hasil penelitian yang telah dilakukan menujukkan bahwa adanya perubahan fungsi pada bangunan sebagai ruang usaha maupun ruang lain. Acara komunitas juga mempengaruhi penggunaan dan perubahan ruang. Perubahan pada bangunan dilakukan secara horisontal maupun vertikal dengan adanya penambahan konstruksi. Faktor yang mempengaruhi penggunaan dan perubahan ruang disebabkan adanya perkembangan kawasan, kebutuhan ruang, penambahan anggota keluarga serta keamanan dan keselamatan bangunan. Kata kunci: evaluasi purna huni, perumahan, ruang ABSTRACT. Housing is a commodity mass residences that have a typical building and is built to meet residential needs for the community. Buildings will experience changes when they cannot meet the needs of residents or are damaged. The method used by residents or users to make changes to the building to achieve user comfort and needs are different. The relationship between the user of the residential built environment and the behavior of the occupants led to an evaluation effort to determine the relationship of building’s users to the performance of the building including its facilities and functions. The evaluation process for building’s use in achieving this is called the Post-Occupational Evaluation (EPH). This study aims to identify aspects of the Post-Occupational Evaluation that occur in Condongcatur Housing from the Post Evaluation aspect related to space use and change. The research method used is qualitative with the Post-Occupancy Evaluation (POE) analysis. The results of the research show that there is a change in the function of the building as a business space or other space. Community events also affect the use and replace the space. Changes in buildings are carried out horizontally and vertically with the addition of construction. Factors that influence the use and modification of space are due to the development of the area, space requirements, the acquisition of family members and the security and safety of buildings. Keywords: post-occupational evaluation, housing, space
MENGELOLA YANG TERBENGKALAI MENJADI FUNGSIONAL STUDI PRESEDEN: PROYEK URBAN SPLASH DI INGGRIS Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.1.61-68

Abstract

ABSTRAK.Saat ini, perkembangan bangunan-bangunan baru di Jakarta berkembang sangat cepat. Kondisi ini membawa dampak negatif bagi beberapa titik di kawasan ibukota Jakarta, terutama di kawasan Kota Lama Jakarta yang dikenal sebagai kawasan bersejarah di Kota Jakarta. Beberapa bangunan tua di dalam kawasan ini dikenal telah terbengkalai puluhan tahun, dan ini menjadi beban bagi kota Jakarta sebagai kota metropolitan. Bangunan-bangunan tua tersebut telah diabaikan dan terbengkalai hingga puluhan tahun karena tidak difungsikan sebagaimana mestinya, hal ini dikarenakan bangunan-bangunan tua tersebut sudah tidak layak pakai karena utilitas dan infrastruktur yang tidak memadai. Mengacu pada kondisi di atas, sudah selayaknya dipikirkan tentang bagaimana memelihara bangunan-bangunan tua bersejarah tersebut, apakah harus dimusnahkan atau dijaga kelestariannya. Keduanya tentunya harus dipertimbangkan secara baik-baik dan menguntungkan serta bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi pemilik bangunan, dengan menjaga bangunan tua bersejarah tersebut tanpa harus mencari sumber pendanaan dari sumber lain. Tulisan ini akan mengeksplor dan memberikan solusi terbaik bagi permasalahan ini dan mencari alternatif solusi bagaimana metode yang tepat untuk memelihara bangunan tua bersejarah di Jakarta. Dengan metode yang tepat diharapkan keberadaan bangunan-bangunan tua bersejarah di Jakarta dapat menjadi identitas bagi kota Jakarta dan menjadi peran yang penting dalam perkembangan kota yang seharusnya terbentuk dari peradaban sejarah. Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian program hibah Kementrian Riset dan Teknologi Dirjen Pendidikan Tinggi yang telah dimulai sejak tahun 2012 dengan tiga fokus penelitian dan pengamatan yang berbeda tentang konservasi dan revitalisasi. Penelitian ini merupakan skema akhir dari roadmap penelitian kami dan akan memberikan sebuah jawaban solusi mengenai berbagai permasalahan yang muncul dari tiga penelitian sebelumnya. Kata Kunci: metode, terbengkalai, fungsional, bangunan tua bersejarah, kawasan kota lama Jakarta ABSTRACT. Recently, the development of new buildings in Jakarta is increasing rapidly. This condition has a negative impact for some spots within Jakarta, particularly within Jakarta Old Town which is well known as a historical area in Jakarta. Some old buildings within this area have been neglected for years and this become a burden for Jakarta as a metropolitan city. Those historical old buildings have been abandoned because they could not been functioned anymore, they have lack of utilities and infrastructures.Referring to the above condition, there should be a method to maintain those historical old buildings, either to keep it or to demolish it all. The maintenance should benefit all parties, particularly the owner of the buildings could maintain the buildings without searching other funding's source. This paper will explore and present what is the best solution for this matter, and what is the appropriate method to maintain all those historical old buildings, thus could be existed within Jakarta Old Town area. Historical area could become an identity of the city and would become important role in urban development, which formed from a historical civilization. This paper is a part of research study undertaken from Competition Research Grant Programme - The Minister of Higher Education that has been started from 2012 with 3 different focus and point of view about conservation and revitalization. This research is a final scheme from the roadmap, and will present an answer about many problems occurred in those 3 previous researches.Keywords: method, abandoned, functional, historical old buildings, Jakarta Old Town area
TEKTONIKA BEBADUNGAN DI ARSITEKTUR BALI Josef Prijotomo
NALARs Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Bata adalah bahan bangunan yang mungkin saja paling dikenal oleh semua orang. Kita tidak perlu mempersoalkan sejak kapan bata ini digunakan sebagai bahan bangunan. Bersamaan dengan masa Renaisans di Eropa, di masa Majapahit bata juga sudah digunakan sebagai bahan pembangunan candi- candi. Bata memang bahan bangunan yang digunakan hampir di semua penjuru dunia. Memang, ada bata yang tidak dibakar dan ada yang dibakar terlebih dulu; juga ada bata yang berukuran kecil dan yang berukuran besar, namun perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi pengkonstruksian bata menjadi sebuah komponen bangunan. Tembok yang dihadirkan dari pasangan bata yang dijejer dan ditumpuk bukan sekadar sebuah teknologi konstruksi bangunan, tetapi juga sebuah tantangan bagi arsitek dan perancang untuk menggubah sebuah tektonika bata, yakni sebuah seni mengkonstruksi bataKata Kunci: tektonika, bebadungan, bataABSTRACT. Redbricks are a common building material in the world. We never know since when this material have been used as a building material. In the same time of Renaissance Period in Europe, in Majapahit Era, redbricks have been used as building material as well for temples. Redbricks have been regarded as a building material which have been used all over the world. Although, it has been know that there are many kind of redbricks: oven redbricks and non oven redbricks; small redbricks and big redbricks, but the differences will not become an obstacle in the process of building construction. Redbricks become one of building component in building construction. Building’s wall which have been constructed from redbricks structure is not only building construction technology, but also a challenge for architect and designer to change redbricks techtonic, which known as an art how to construct redbricks Keywords : Techtonic, ”bebadungan”, redbricks 
KAJIAN JALUR PEDESTRIAN SEBAGAI RUANG TERBUKA PADA AREA KAMPUS Ari Widyati Purwantiasning; Lily Mauliani; Wafirul Aqli
NALARs Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Jalur pedestrian sudah seharusnya dapat menjadi fasilitas yang baik yang disediakan baik oleh pemerintah maupun lembaga swasta sebagai fasilitas untuk pejalan kaki. Kebutuhan fasilitas pejalan kaki sebagai ruang terbuka publik juga meningkat karena adanya penyesuaian gaya hidup dan standar hidup bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jakarta khususnya. Daerah jalur pejalan kaki memiliki banyak fungsi, salah satu fungsi mereka baik sebagai fasilitas untuk pejalan kaki, juga sebagai ruang terbuka untuk berbagai aktifitas diantaranya aktifitas social dan juga aktifitas lainnya. Sebuah jarak dari tempat tinggal ke tempat kerja harus direncanakan dan dirancang sebagai akses yang mudah dan dapat dicapai dengan berjalan kaki. Hal ini menjadi latar belakang mengapa konsep pedestrian penting untuk diterapkan dalam wilayah publik seperti area kampus. Namun pada kenyataannya jalur pedestrian yang ada masih jauh dari optimal dalam hal perencanaan, desain atau penggunaannya. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis penerapan konsep pedestrianisasi dalam area kampus sebagai ruang terbuka bagi komunitas kampus baik untuk memfasilitasi kebutuhan sosial juga untuk beraktifitas di dalamnya. Sebagai fakta terlihat bahwa jumlah arus pejalan kaki dalam waktu area kampus cukup tinggi. Perlunya kegiatan bersosialisasi antara mahasiswa dan lain-lain sangat penting. Metode deskriptif serta metode studi banding telah dipilih sebagai metodologi penelitian. Kata kunci: jalur pedestrian, ruang terbuka, area kampus ABSTRACT. A pedestrian line should be a good facility provided either by government or private institutions as a tool for pedestrians. The need for pedestrian facilities as public open spaces have also increased due to an adjustment of lifestyle and standard of living for Indonesian community generally and Jakarta’s community particularly. Pedestrian areas have many functions, one of their functions either as a tool for pedestrians, also as a space for social need for many people. A distance from residence to work place should be planned and designed as an easy access and can be reached by walking distance. This is become a background why the concept of pedestrian is important to be applied within public area such as campus area. But in fact the existing pedestrian path is far from optimal in terms of planning, design or use. This paper is aimed to analyse the application of pedestrianization concept within campus area as a public space for social need. As the fact showed that number of pedestrian’s flow within campus area is quite high. The need for socialization’s activity between students and others is significant as well. Descriptive method as well as comparative studies method have been chosen as a methodology of the research. Keywords: pedestrian line, open space, campus area 
PEMBENTUKAN ATRIBUT RUANG BERSAMA PADA PERMUKIMAN DUSUN BONGSO WETAN GRESIK Intan Ardianti
NALARs Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Suatu kelompok masyarakat hidup dalam suatu permukiman mempunyai keterkaitan sosial satu sama lain. Dusun Bongso Wetan Gresik merupakan permukiman yang berpenduduk awalnya berasal dari Madura, beragama Hindu dan Islam yang saling berdampingan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menggunakan ruang sosial yang digunakan bersama pada kehidupan sehari-hari maupun pada kegiatan ritual tertentu sehingga menjadi ruang bersama masyarakat. Latar belakang budaya dan kekerabatan masyarakat Dusun Bongso Wetan dalam suatu kawasan pedesaan menjadikan interaksi sosial dan aktivitas budaya yang khas dan beragam. Ruang bersama yang terbentuk dalam suatu lingkungan fisik dipengaruhi aktivitas, pelaku, ruang fisik dan waktu aktivitasnya yang terbentuk dalam suatu setting dengan elemen ruang pembentuknya yaitu elemen fix, elemen semifix dan elemen non fix. Tujuan studi adalah untuk mengetahui bagaimana suatu aktivitas masyarakat membentuk ruang bersama dengan atributnya. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pengamatan aktivitas pada tempat sehingga diperoleh hasil studi suatu setting dari elemen-elemennya yang membentuk ruang bersama pada permukiman. Setting ruang aktivitas bersama sehari-hari maupun aktivitas budaya masyarakat menunjukkan bagaimana pembentukan ruang bersama memiliki atribut yang berbeda sehingga dapat memenuhi fungsi ruang yang tumpang tindih. Keleluasaan dan aksesibilitas yang mudah memungkinkan berbagai aktivitas terjadi dalam suatu setting.Kata kunci: ruang bersama, setting, atribut ruang, elemen ruang ABSTRACT. A community lives in a settlement has social relation each other. People of Dusun Bongso Wetan Gresik originally came from Madura Island, and now with their religion Islam and Hindu, they live together in their daily activities in Dusun Bongso Wetan. These activities use social spaces in their settlement together in their daily community interactions or in occasionally rituals and then common space for society formed. This community with their cultural and kinship background in rural area makes a unique and diverse of their domestic activities. In physical environment, common space influenced by activities, person (who did the activity), space (where the activity happen) and time (when the activity happen) formed as a setting with its space elements: fixed element, semi-fixed element, and non-fixed element. The purpose of this study was to identify how common space with its attribute formed by activities. Qualitative method with place centered mapping observation has been used to get the result of this study, a setting with its space elements form common space in settlement. Setting for daily activities and cultural activities in society shown how common space have different attribute to accommodate the sumperimposed using of space. Flexibility and accessibility of space make more activities possible to take place inside the setting.Keywords: common space, setting, space attributes, space elements
TRANSFORMASI STRUKTUR BENTUK JARINGAN JALAN DI KAWASAN SIMPANGLIMA KOTA BANDUNG Syarifah Ismailiyah Al-Athas
NALARs Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.2.121-130

Abstract

ABSTRAK. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perubahan bentuk jaringan jalan dan bentukan ruang yang terjadi dalam skala kota Bandung. Secara khusus, studi transformasi ini akan digerakkan pada obyek pertumbuhan jaringan jalan di simpang lima kota Bandung sebagai salah satu penggal Grote Postweg serta pembentukan ruang yang terjadi sebagai akibat pertumbuhan pembangunan ruas jalan dan bangunan di tepiannya. Dengan multi-signifikansinya, ruas jalan ini mengalami berbagai perubahan karakter dan memerlukan strategi konservasi serta peninjauan kembali signifikansi tampak ruang jalan. Studi dimulai dengan paparan singkat tentang signifikansi kawasan Simpanglima Bandung dalam konteks penggal pertama dalam pembangunan Grote Postweg. Data fisik berupa catatan sejarah dan dokumentasi peta jalan serta bangunan di kawasan Simpanglima Bandung selama rentang waktu 1808 sampai dengan 1942 akan menjadi obyek analisis selanjutnya. Kerangka analisis pada studi ini bersumber dari teori transformasi N.J. Habraken yang menempatkan „bentuk‟ sebagai wujud keteraturan fisik. Tahap pertama analisis akan dilakukan terhadap data fisik Simpanglima Bandung untuk mensarikan elemen yang akan diamati perubahannya. Analisis kemudian dilanjutkan untuk merumuskan konfigurasi elemen tersebut beserta proses pertumbuhannya. Lebih mendalam lagi pada studi selanjutnya, rentang waktu dipilih untuk membatasi studi pada andil pemerintah kolonial Belanda sebagai agen transformasi dalam pembentukan morfologi simpang lima pada khususnya, dan kota Bandung secara umum dalam konteks kolonialisasi.Kata kunci: transformasi, morfologi, Simpanglima Bandung, keteraturan fisikABSTRACT. This study is aimed to analyze the deformation of the road network and the formation of the space in Bandung. In particular, the study of this transformation will be driven on the object of the growth of the road network in the Simpanglima Bandung as one piece of Grote Postweg as well as the formation of space occurs as a result of roads construction growth and buildings on its streetscape. With multi-significance, this road undergone various changes in character and require conservation strategies as well as a review of the significance of visible road space. The study has been begun with a brief description of the significance of Simpanglima Bandung region in the context of the first cut-off in the construction Grote Postweg. Physical data such as historical records and documentation as well as the road map Simpanglima Bandung buildings in the area during the time range between 1808 to 1942 will become an object for further analysis. Framework of analysis in this study comes from the theory of transformation N.J. Habraken who put the 'shape' as a form of physical regularity. The first stage of the analysis will be performed on the physical data Simpanglima Bandung to extract elements that will be observed. Analysis then proceeded to define the configuration of these elements along with the growth process. More deeply in subsequent studies, the time range has been chosen for the study limits the influence of the Dutch colonial government as an agent of transformation in the establishment of Simpanglima morphology in particular, and the city of Bandung in generally in the context of colonization.Keywords: transformation, morphology, Simpanglima Bandung, physical regularity

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue