cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
FENOMENA BENTUK DAN WUJUD ARSITEKTURAL: Antara Materialitas, Representasi dan Muatan Kehidupan Keseharian dari Permukiman Kampung Perkotaan Triatno Yudo Harjoko
NALARs Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Pengetahuan arsitektur yang bukan fisik (kultur material), yakni artefak lingkung bangun dan keteknikannya, banyak dijelaskan melalui ide metafisik (non-material culture) hasil reka-pikir yang tidak terkait langsung dengan obyek fisik yang diamati. Ide metafisik arsitektural tidak dapat diklaim sebagai pengetahuan yang tetap. Kampung sebagai topik diskusi dalam tulisan ini akan dibahas bukan dari aspek fisik, seperti teknologi, tipologi, yang seringkali dipahami sebagai ide yang tetap dan tergeneralisasi, tetapi sebagai fenomena kehadiran bermukim sekelompok masyarakat perkotaan. Tropotopia sebagai sebuah ide untuk membahas kampung perkotaan suatu ‘ada’ akan mengungkap ‘apa’ dan ‘keapaan’nya. Ide ini juga dimaksud sebagai penjelasan tandingan dari ide kampung yang ada secara umum. Kata kunci: Kampung perkotaan, Bentuk, Wujud, dan Tropotopia ABSTRACT. Architecture as knowledge can be conceived as material or non-material culture. Analysis on non-material culture is basically a metaphysic; it cannot be claimed as fixed knowledge. Kampung can be discussed in this sense, as a non-material culture. Its does not concern technology (techne) or even typology, but as an existence or ‘being in the world’ – a phenomenon of human settlement di urban settings. Tropotopia as a metaphysical idea is bring forward to analyze urban kampung conceived as a being. It will discuss urban kampung to uncover ‘what’ and ‘whatness’ of it. This analyisis is also to put forward a rival paradigm against what is traditionally or generally accepted in architectural discourse. Keywords: urban kampung, form,appearance,tropotopia
KONSEP ARSITEKTUR BALI APLIKASINYA PADA BANGUNAN PURI Rachmat Budihardjo
NALARs Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Arsitektur Bali yang kita kenal sampai dengan saat kini adalah merupakan arsitektur vernakuler yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya dalam perkembangan kepariwisataan di Bali. Salah satu dampak kepariwisataan adalah terjadinya perubahan status sosial yang lebih baik pada sebagian masyarakat (termasuk keluarga Puri) dan berakibat pada perubahan setting tata ruang dan tata bangunan (arsitektural) sesuai dengan tingkat perkembangan kebutuhan untuk masa kini dan masa yang akan datang. Puri yang pada masa lampau merupakan pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat di sekitarnya juga sekaligus menjadi tempat tinggal raja beserta keluarganya eksistensinya sampai dengan saat kini masih ada termasuk komposisi masyarakat Bali yang dibedakan menurut kasta masih juga bertahan ditengah-tengah perubahan jaman. Studi mengenai Puri yang ditelusuri sejak awal (masa lampau), saat sekarang dan upaya menjaga eksistensinya untuk masa yang akan datang tentunya akan menjadi topik yang urgen dan menarik bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya terkait dengan bidang sosial, budaya dan arsitektur Kata Kunci: Arsitektur Bali, Bangunan Puri ABSTRACT. Balinese architecture that we know nowadays is a vernacular architecture that grows and develops in the middle of the society in the development of tourism in Bali. One of the impacts of tourism is the change of social status to be better one on some part of community (including family of Puri). This change will affect to the changes of setting layout and building layout (architectural) referring to the development needs for the present and the future. Puri which in the past was the center of government and community activities in the surrounding area and also become a place for the royal family, their existence still remain the same, including the composition of the people of Bali which are differentiated by caste still survive in the middle of changing times. A study of Puri has been traced from the beginning (of the past), the present and the efforts to maintain its existence for the foreseeable future will certainly be an urgent topic and interesting for the development of science, particularly in relation to social,cultural and architectural. Keywords: Balinese Architecture, Building of Puri
ANALISIS POLA KONFIGURASI RUANG TERBUKA KOTA DENGAN PENGGUNAAN METODA SPACE SYNTAX SEBAGAI SPATIAL LOGIC DAN SPACE USE Muhammad Fajri Romdhoni
NALARs Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.2.113-128

Abstract

ABSTRAK. Pengembangan kota Palembang terus berkembang sejak adanya kegiatan Pekan Olah Raga Nasional PON dan juga SEA Games yang dilaksanakan di kota Palembang. Saat ini Palembang terus berbenah diri dengan menyosong dilaksanakannya kegiatan olah raga Asean Games di tahun 2018 ini. Berbagai pengembangan fisik kota dari dibangunan jaringan LRT (light rapid transit), pembangunan pusat perbelanjaan dan juga hotel-hotel baru hingga peremajaan dan pembangunan ruang terbuka untuk menampung kegiatan spatial dan kegiatan baik masyarakat kota Palembang itu sendiri ataupun untuk kepentingan pariwisata kota Palembang. Perkembangan ruang kota tersebut dirasakan peneliti dikerjakan dengan terburu-buru dan tidak disertai dengan perencanaan yang matang, sehingga menghasilkan produk yang tidak maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti konfigurasi ruang terbuka yang ada di kota Palembang, dan lokasi dari penelitian tersebut adalah ruang terbuka yang sangat terkenal di kota palembang yaitu ruang terbuka kawasan Benteng Kuto Besak. Di dalam ruang terbuka BKB tersebut terdapat beberapa elemen yang tidak sesuai dengan konfigurasi ruang terbuka yang baik, dan ditinjau dari analisis space syntax yang berguna untuk mengukur kualitas spatial, terlihat bahwa di ruang terbuka BKB tersebut tercipta beberapa ruang-ruang mati dan elemen di kawasan tersebut yang cenderung melemahkan kualitas spatial yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat ruang gerak yang wajar di ruang terbuka BKB, di dalam arsitektur hal tersebut dikenal dengan istilah spatial logic yang berguna untuk melihat arah pengembangan ruang terbuka agar dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi space use konfigurasi ruang terbuka kota Palembang. Kata kunci: ruang terbuka, Benteng Kuto Besak, space syntax, spatial logic, space use ABSTRACT. The development of Palembang city has arisen since the National Sporting Event known as PON and also the Southeast Asian games known as SEA games thas is being held in the town. Nowadays the city has transformed itself and constantly changing for the preparation to hold another international sporting event known as Asian games in the year 2018. There are many development that is being done to the city from the building of the new infrastructure of Light Rapid Transit rails across the city and also the development of new shopping malls and even new hotels to the development of the towns open space that is a spatial spot that holds the public event and also has the particular needs to be developed to support the cities tourism. The researcher felt that development that is being done in the city is done carelessly and without careful planning and produces poor spatial products. This research purpose is to analyze the open space configuration carefully and the place that the research is being carried out is a well known open space in Palembang which is the open space of Benteng Kuto Besak, or that is well known as BKB. The elements inside BKB is not appropriate to the spatial configuration of good public space, and through the space syntax analysis to see the spatial quality we can see that there are dead spaces throughout the BKB area and the spatial elements inside the BKB are responsible for them. The purpose of this research is to understand the natural flow of space and to see the spatial logic that is intended for the BKB space. Through the spatial logic, we can also see the best space use designed for the BKB open space configuration pattern in Palembang. Keywords: open space, Benteng Kuto Besak, space syntax, spatial logic, space use
ANALISIS KONSEP DESAIN HYBRID PADA MASJID AGUNG JAWA TENGAH (TINJAUAN ASPEK RUANG DAN BENTUK ) Ikhwanuddin Ikhwanuddin
NALARs Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Desain arsitektur perlu memperhatikan sejarah dan budaya lokal, agar karya-karya arsitektur tidak asing berada di tempatnya dan sekaligus tetap memiliki karakternya yang unik. Salah satu cara untuk mendesain karya-karya berkarakter lokal dan unik adalah dengan menggunakan konsep desain Hybrid. Gagasan pokok konsep desain  Hybrid adalah mencampur atau  menggabungkan dua hal (referensi arsitektur) yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, konsep desain ini sangat menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek penelitian adalah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Lokasi obyek penelitian berada di kota Semarang, Jawa Tengah. Teknik pengambilan data primer dengan survei (observasi dan dokumentasi). Data sekunder berupa gambar perencanaan. Teknik analisis data dengan analisis grafis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hybrid diterapkan pada desain MAJT, baik pada aspek bentuk maupun ruang.Pada aspek bentuk berupa mixing atau percampuran antara bentuk-bentuk elemen arsitektur masjid  Timur Tengah dan arsitektur tradisonal Jawa.mixing elemen arsitektur ini terdapat pada: a) atap masjid, b) interior ruang utama sholat,dan c) elemen penting lainnya, seperti: plafond mezanin, kolom-kolom  dan menara masjid.  Sedangkan pada aspek ruang, diterapkan konsep desain: a) dominasi organisasi ruang masjid tradisional Jawa pada ruang sholat utama, b) ambiguity pada serambi masjid, dan c) displacing beberapa elemen penting masjid.  Kata Kunci: mixing, ambiguity, displacing  ABSTRACT. The architectural design needs to consider the local history and culture, thus architectural masterpieces will not become out of place within their location and will have unique character. How to design masterpieces which have local and unique character is by using Hybrid design concept. Hybrid design concept main idea is to mix or combine the two things (reference architecture), which is different to produce something new. Therefore, this design concept is very interesting to study. The paradigm of research is rationalism. A research using a grand concept. The case of research is Central Java Province Great Mosque (CJP-GM). The location of object lay on street of Gajahmada in Semarang City, capitol of central Java Province. The data is qualitative one and the method of collecting data is survey. The data have been analyzed using graphical method. The results of research show that hybrid design concept is used in formal aspect and space one of researched object. In formal aspect is used mixing method between arabic mosque (ottoman type) and javanese traditional mosque. The method was used in several ways: a) on the roof. It is used the principal of equivalent-mixing by wrapping and simplicity technique to form roof of CJP-GM, b) in interior of haram. it  used the principal of dominant-mixing to create the haram interior. The affect of javanese traditional mosque is strong enough in creating interior sense than arabic mosque, c) ambiguity principal is used in creating the form of Serambi of CJP-GM by cutting the Shan form. For the space aspect, it used some  methods: a) organisational space. The organisational space of Javanese traditional mosque is used as the rule to organize the space of CJP-GM, but the one space, called serambi (front porch), is modified in touch of an arabic mosque space, b) serambi of mosque. The space of Serambi is formed using ambiguity methods. The technique of placing-displacing is treated between serambi and shan, and the merging technique is treated berween shan and pelataran, c) the wudlu place and bedug. Both of them  are important elements in javanese traditional  mosque. Both element are treated with displacing technique. By this technique, both elements are placed differently from javanese traditional mosque. Keywords: mixing, ambiguity, displacing
ADAPTASI PERILAKU PEDAGANG BAZAR DALAM TERITORI RUANG DAGANG Estuti Rochimah; Handajani Asriningpuri
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.21-28

Abstract

ABSTRAK. Bazar telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Tangerang Selatan, kegiatan ini makin marak berkembang dan dikunjungi masyarakat. Bazar memiliki jadwal hari rutin dengan tempat penyelenggaraan yang berpindah-pindah, antara lain di halaman rumah seseorang, ruang terbuka dalam komplek hunian, penggal jalan lingkungan, depan pertokoan. Uniknya, para pedagang tidak saling berebut area serta mampu melaksanakan kegiatan berdagangnya di lingkungan lokasi dagang berbeda-beda. Para pedagang ini kebanyakan merupakan pedagang kecil dan menjajakan barang dagangannya dengan cara membuat lapak. Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk adaptasi perilaku pedagang pada area dagangnya, sehingga memperkuat terbentuknya teritori ruang dagang bazar. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Selanjutnya data diidentifikasi, dikategorikan dan diinterpretasikan untuk menemukankan faktor-faktor, serta keterkaitan antar faktor yang melatarbelakangi adaptasi perilaku hingga terwujudnya teritori ruang dagang bazar tersebut. Hasil penelitian menunjukkan perilaku pedagang; berjalan keliling, duduk di sela-sela barang dagang atau duduk di salah satu sisi tatanan barang yang dijualnya. Bentuk adaptasi tersebut dipengaruhi adanya fleksibilitas perilaku pedagang sebagai upaya adaptasi terhadap ruang dagang yang tersedia, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan mengontrol, mengawasi dan berkomunikasi dengan pengunjung, sebagai upaya memperkuat terwujudnya teritori ruang dagang bazar di Tangerang Selatan. Kata kunci: Adaptasi, Pedagang Bazar, Perilaku, Teritori ABSTRACT. Bazaar has become the main interest for the people of South Tangerang. It is increasingly visited by the people, widespread, and also growing. The bazaar has a regular schedule using moveable stalls; in front of houses, on the open space within the residential area, on the sidewalk, and at the storefront. However, the Sellers are not fighting over the venue and they are able to execute their selling activities in a different location. The sellers are mostly small-scale sellers, and they peddle their wares by making stalls. The study aims to determine the way of adapting behavior from the sellers using moveable stall method. Thus it can strengthen the formation of the bazaar trading space. The research method is descriptive qualitative using observation and interviews. Furthermore, the data were already identified, categorized and interpreted for finding the factors as well as the relationship among the factors behind the establishment of the territory behavioral adaptations to the bazaar trading space. The results showed that the behavior of the sellers was; moving around and sitting in between or aside their selling goods. Those adaption behavior were influenced by their flexibilities in adapting to available stall space with taking into account the ability to control and monitor their stalls as well as communicate with visitors as the effort to strengthen the realization of trading fairs territorial space in South Tangerang. Keywords: adaptations, behavioral, the sellers of bazaar, territory
MODEL RUMAH SUSUN LAYAK ANAK DI DKI JAKARTA Permadi Permadi
NALARs Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perumahan Rakyat, bertekad membangun Rumah Susun sebanyak 2000 buah pertahun untuk masyarakat dengan penghasilan ekonomi menengah bawah. Kebanyakan pemakai/ penghuni Rumah Susun adalah keluarga muda yang mempunyai anak yang masih kecil baik yang masih bayi, balita maupun remaja. Anak-anak yang masih dalam taraf tumbuh kembang memerlukan tempat tinggal lengkap dengan sarana dan fasilitas yang layak bagi anak baik dari segi keamanan, kenyamanan, kesehatan dan ketersediaannya ruang terbuka hijau untuk sarana bermain dan olah raga.Penelitian ini bertujuan untuk mencari karakteristik Konsep Desain Rumah Susun Layak Anak yang kemudian diaplikasikan ke perancangan model Rumah Susun Layak Anak. Model Rancangan ini nantinya akan menjadi pilot project yang dapat diaplikasikan pada berbagai bangunan Rumah Susun khususnya yang ada di DKI Jakarta. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas bangunan Rumah Susun yang Layak Anak. Maksudnya dapat menjadi wadah tumbuh kembang anak baik dari segi keamanan, kesehatan maupun kenyamanan serta tersedianya lahan atau ruang terbuka hijau yang dapat menjadi sarana dan fasilitas bermain atau olah raga yang layak bagi anak.Kata kunci: rumah susun, layak anak, model, desain. ABSTRACT. The Government of the Republic of Indonesia through the Ministry of Housing, Flats determined to build as many as 2000 pieces per year to the community with middle-low income. Mostly, users/ occupants are young families who have small children either still babies, toddlers and teenagers. Children who are still in early stages of growth and development requires a residence which is complete with facilities and adequate facilities for children in terms of safety, comfort, health and availability of green open spaces for play and sports facilities.This study is aimed to explore the characteristics of Children Friendly Design Concepts Flats then applied to the design of the model flats which are eligible and friendly for children. This design models will be a pilot project that can be applied to various flats buildings/ vertical housing particularly in Jakarta. Another goal of this research is to improve the quality of vertical housing which are eligible and friendly for children. This vertical housing should become a proper space for children to growth either in terms of safety, health and comfort as well as the availability of land or green open space that would become a playing facility or sport facility for children.Keywords: vertical housing, children friendly, model, design
EFEKTIFITAS JALUR HIJAU DALAM MENGURANGI POLUSI UDARA OLEH KENDARAAN BERMOTOR Lukmanul Hakim; Priambudi Trie Putra; Azka Lathifa Zahratu
NALARs Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.1.91-100

Abstract

ABSTRAK. Ameliorasi iklim adalah salah satu manfaat yang diberikan alam khususnya tumbuhan terhadap lingkungan hidup, dengan cara meningkatkan kualitas lingkungan untuk menjamin tersedianya lingkungan yang sehat. Salah satunya adalah dengan menyediakan oksigen (O2) untuk kebutuhan pernafasan dan meminimalisir gas buang kendaraan bermotor yang beracun seperti gas carbon monooksida (CO) dan debu timbal (Pb). Kedua zat beracun ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, khususnya yng berada disekitar jalan raya dan sekitar kawasan industri.Green belt adalah salah satu desain penghijauan yang fungsi utamanya adalah untuk mengurangi debu pencemaran ini. Yang diuji dalam penelitian ini adalah efektifitas desain green belt di sisi jalan raya dalam menangkap atau menjerap partikel (debu) polusi yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor. Fakta dalam percobaan yang dilkukan menunjukkan, bahwa bentuk struktur tajuk dan luas penampang daun sangat menentukan efektifitas dari penyerapan debu polusi. Daun yang mempunyai permukaan yang lebih luas dan mempunyai permukaan yang kasar, mempunyai nilai efektifitas yang tinggi. Begitu juga dengan pohon yang bertajuk rapat dan lebat akan sangat efektif dalam menjerap debu polusi atau polutan. Dalam hal ini, untuk desain green belt, diperlukan beberapa pertimbangan untuk efektifitas dalam mengurangi polusi udara. Yaitu pemilihan jenis vegetasi yang mempunyai daun yang lebar dan kasar serta pemilihan jenis struktur tajuk pohon yang disesuaikan dengan lokasi green belt tetapi dipilih yang rimbun dan lebat.Kata kunci: Ameliorasi iklim, vegetasi, penyerapan dan polusiABSTRACT. Climate amelioration is one of the many benefit from that nature, particularly plant that, provides to the environment, by enhancing quality of environment and guaranting the provision of healthy environment. For example is by providing oxygen (O2) for respiration and minimalizing toxic gas such as carbon monoxide (CO) and lead dust (Pb) emitted by vehicle. Both mentioned are toxic substances which highly dangerous for human health, especially for those residing around streets and industrial areas.Green belt is a greening design having main function to reduce pollution dust. This research tested the effectiveness of green belt on side roads in catching or absorbing pollution dust or particles emitted by vehicles. Facts from this research showed that the shape of canopy structure and leaves’ cross sectional area highly determine the effectiveness of pollution dust absorpsion. Leaves with wider surface area and rough texture have high effectiveness. Trees having dense canopy and bushy are very effective in absorpsion of pollution dust. In this case, to design a green belt will required a few considerations that are affecting effectiveness in reducing air polution. Namely, selection of vegetation that has wide and rough leaves and type selection of tree canopy structure that is dense and bushy and suitable to green belt location.Keywords : climate amelioration, vegetation, absorpsion and pollution
INFLITRASI NILAI KEMUHAMMADIYAHAN PADA STRUKTUR KAWASAN DAN DESAIN BANGUNAN KOTA DI SULAWESI SELATAN KHILDA WILDANA NUR
NALARs Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.1.9-22

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini menjabarkan eksistensi nilai Kemuhammadiyahan yang mempengaruhi aspek fisik dan non fisik kawasan kota, baik dalam bentuk tata ruang (spatial) maupun pada bangunan kepemilikan Muhammadiyah. Substansi penelitian diharapkan dapat membuka cakrawala dan pemikiran bahwa keterkaitan masa lalu dalam ajaran murni Islam yang telah berkembang sebelum era perancangan kota dan arsitektur modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah dan fenomenologi dengan jenis penelitian kualitatif-eksploratif. Teknik pengumpulan data dilakukan dari data primer, data sekunder dimana pengambilan populasi melalui purposive sampling dan random sampling. Metode analisa yang digunakan antara lain metode fenomenologi dan sejarah dengan teknik sikronik dan diakronik reading serta memadukan metode urban morfologi dan tipologi. Kajian ini akan memberikan aplikasi penciptaan lingkungan yang terbangun berdasarkan pengamalan amal makruf nahi mungkar yang menjadi tujuan pendirian Muhammadiyah. Kata kunci: Bangunan, Kawasan, Mamminasata, Muhammadiyah, Tipologi ABSTRACT. This study describes the existence of the value of Kemuhammadiyahan which affects the physical and non-physical aspects of the city area, both in spatial form and in the ownership of Muhammadiyah’s buildings. The substance of research is expected to be able to open knowledge and thoughts that the past linkages in the pure understanding of Islam which have developed before the era of urban design and modern architecture. This study uses a historical and phenomenological approach with a type of qualitative-explorative research. Data collection techniques were carried out from primary data, secondary data where the population was collected through purposive sampling and random sampling. The analytical methods used phenomenology and history methods with synchronous and diachronic reading techniques and integrating urban morphology and typology methods. This study will provide an application for the creation of an environment that is built based on the practice of charitable and moral merit which is the aim of the establishment of Muhammadiyah. Keywords: Buildings, Regions, Mamminasata, Muhammadiyah, Typology
SEMIOTIK RUANG PUBLIK KOTA LAMA ALUN-ALUN SELATAN KRATON YOGYAKARTA Laksmi Widyawati
NALARs Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.1.15-26

Abstract

ABSTRAK. Ruang publik kota dibutuhkan warga kota  untuk berkumpul  tanpa perbedaan. Pada kota lama bekas kerajaan di Jawa seperti Yogyakarta,tata ruang kotanya mengikuti makna filosofi yang dipercaya pada masanya, dan memiliki alun-alun yang berkembang menjadi ruang publik. Meskipun pengertian ruang publik di sini berbeda dengan ruang publik di Eropa, namun sebagai tempat berkumpul cukup menarik. Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta saat ini begitu hidup berkembang sebagai ruang publik terutama setiap malam dengan berbagai kegiatan menarik. Perubahan pemaknaan terjadi seiring perkembangan jaman. Berangkat dari anggapan awal saya tentang perubahan fungsi dan makna alun-alun, di lapangan saya memperoleh temuan bahwa kerelaan pihak kraton memberikan halamannnya untuk rakyat adalah faktor utama terbentuknya ruang publik di alun-alun. Di lapangan saya juga menemukan berbagai makna yang bisa dibaca dari tanda, yang bisa dimaknai sebagai semiotik alun-alun. Penelitian saya memiliki dua arah, kajian sejarah sebagai tolok ukur perkembangan fungsi dan makna, serta proses lapangan menekankan pada eksplorasi aktor-aktor yang terlibat di alun-alun selatan, dengan mengacu Actor Network Theoryserta Semiotik untuk memahami terbentuknya  makna bagi pemilik dan pengguna, yang bisa berubah pada kurun waktu yang berbeda. Kata Kunci: alun-alun, ruang publik, makna, semiotik ABSTRACT.  Public space needed to gather citizens without distinction. In the old town of the former kingdom in Java such as Yogyakarta, the city follows the spatial meaning of the philosophy that believed in his time, and had the square developed into a public space. Although the notions of public space here is different from the public space in Europe, but as a gathering place quite interesting. South Alun-Alun Kraton Yogyakarta today so thrive as a public space, especially every night with a variety of interesting activities. Changes of meaning occurs over the development period. Departing from my initial assumptions about changes in the function and meaning of the square, on the ground I gained the finding that the willingness of the parties the court gives halamannnya for the people is a major factor in the formation of a public space of the square. On the field, I also found a variety of meanings that can be read from the signs, which could be interpreted as a semiotic alun-alun My research has two directions, the study of history as a benchmark the development of the function and meaning, as well as the pitch emphasis on exploration of the actors involved in the  south Alun-Alun, with reference Actor Network Theory and Semiotics to understand the formation of meaning for owners and users, which may change at different times.  Keywords: square, public space, , meaning, semiotic
DAKWAH WALI SONGO PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN PERUBAHAN BENTUK ARSITEKTUR MESJID DI JAWA (STUDI KASUS : MESJID AGUNG DEMAK) Ashadi Ashadi
NALARs Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Perkembangan Islam awal di Jawa tidak terlepas dari dakwah Wali Songo dengan menggunakan pendekatan kompromis terhadap kebudayaan lama, sehingga terjadilah sinkretisme antara ajaran Islam dengan kepercayaan Animisme, Hindu dan Budha. Mesjid sebagai sarana dakwah Wali Songo kemudian menjadi penting bagi dunia penelitian karena perubahan-perubahan yang terjadi padanya selama beberapa abad sejak didirikan pada zaman Wali Songo hingga sekarang ini. Salah satu aspeknya adalah perkembangan perubahan bentuk arsitektur mesjid Wali Songo, yang bisa diketahui sejauh mana dakwah Wali Songo mempengaruhi perkembangan itu.            KATA KUNCI : Dakwah Wali Songo, Sinkretisme, Perubahan Bentuk Arsitektur ABSTRACT. Initial Islamic development in Java cannot be separated from Wali Songo’s missionary by using compromise approach to old culture. This condition will affect the appearance of cyncretism between Islam and animism, Hindu and Budhist. Mosque as a facility for walisongo’s missionary become something significant for research because the changes had been happened to the mosque for centuries since had been built at walisongo’s period untill recently. One of the aspect is the development of architectural form changing of walisongo’s mosque which had been known how far walisongo’s missionary will affect the development. Keywords : walisongo’s missionary, sincretism, architectural form changing.

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue