cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
KAJIAN ARSITEKTURAL TAMAN YANG MENGAKOMODASI AKSESIBILITAS DIFABEL STUDI KASUS TAMAN TRIBECA CENTRAL PARK MALL, TAMAN MENTENG DAN TAMAN AYODIA Fika Masruroh; Lily Mauliani; Anisa Anisa
NALARs Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Selama ini difabel masih dinomorduakan dalam hal pemenuhan kebutuhan aksesibilitas baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan. Banyak fasilitas umum yang hanya sedikit menyediakan akses dan fasilitas sesuai dengan kemampuan khusus mereka. Bahkan ruang terbuka hijau berupa taman kotapun masih belum ramah terhadap keberadaan para difabel. Padahal taman kota menurut Undang-Undang Penataan Ruang no. 24 tahun 1992 merupakan tempat yang cukup penting yaitu sebagai tempat bermain aktif untuk anak-anak dan dewasa, tempat bersantai pasif untuk orang dewasa, dan bahkan sebagai areal konservasi lingkungan hijau. Penelitian ini bertujuan menganalisa bagaimana implementasi 7 Prinsip Universal Design dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 30/PRT/M/2006 tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan pada Taman Tribeca, Taman Menteng dan Taman Ayodia.Kata kunci : Aksesibilitas Difabel, Taman Ayodia, Taman Menteng, Taman Tribeca. ABSTRACT. For decades, disabled people always become a second priority in providing the need of accessibility either within buildings or outside buildings (open spaces and public spaces). There are many public facilities which are only few of them providing special access and facilities for disabled people (difable). Even, parks and green open spaces within city mostly are not user friendly for difable, though city parks as an important place to do activities such as sport and playing, passive place for relaxation, and as a conservation area for green environment, should provide facilities which are user friendly for children and adult (UU Penataan Ruang No. 24 tahun 1992).This research is aimed to analyse how to implement the seven principle of universal design and regulation from Menteri Pekerjaan Umum No. 30/PRT/M/2006 about technical guidelines of facilities and accessibilities for buildings and environment at Taman Tribeca, Taman Menteng and Taman Ayodia.Keywords: accessibilty for difable, Taman Ayodia, Taman Menteng, Taman Tribeca.
FUNGSI DAN PERAN JALUR PEDESTRIAN BAGI PEJALAN KAKI Sebuah Studi Banding Terhadap Fungsi Pedestrian Lily Mauliani
NALARs Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Jalur pedestrian pada sebuah kota adalah bagian yang sangat penting, baik sebagai kelengkapan (amenity) kota maupun sebagai tempat orang berjalan kaki dengan aman dan nyaman. Namun untuk kota Jakarta, dan mungkin juga kota-kota lainnya di Indonesia, pedestrian seringkali mengalami perubahan fungsi tidak hanya sekedar sebagai jalur pejalan kaki namun juga bisa menjadi jalur kendaraan bermotor, area berjualan para pedagang kaki lima yang bersifat mobile, tetapi bisa juga menjadi “ruko” alias rumah toko. Permasalahannya adalah bagaimana nasib para pejalan kaki, dimana mereka dapat berjalan kaki dengan aman, tanpa takut tertabrak pengendara sepeda motor, tersenggol bajay, mikrolet atau mobil pribadi? Pembahasan tentang pedestrian ini dilakukan dengan cara mengamati dan membandingkan antara pedestrian yang ada di Jakarta dan di Singapura, dilihat dari segi fungsi dan penataannya. Kata kunci : pedestrian, fungsi, pejalan kaki ABSTRACT. Pedestrian path within the city has been regarded as an important element, either as a city amenity which contribute an aesthetic of city space or as a space for people or pedestrian to walk safely and comfort. Jakarta as one of a big city in Indonesia, has many pedestrian paths within it, but there are many pedestrian paths which have been changed in function. The pedestrian paths are not as a space for people to walk but have been accommodated as motorcycle lines as well as mobile shop or shop-house which has been known as RUKO or rumah toko. The main problem is how people could walk safely and comfort. This discussion of pedestrian paths will be explored in this paper by comparing the function and the design as well as the plan of pedestrian paths in Jakarta and Singapore. Keywords : pedestrian path, function, pedestrian.
KESINAMBUNGAN DAN PERUBAHAN SPASIAL PADA RUMAH TRADISIONAL KUDUS Anisa Anisa
NALARs Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.11.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Rumah tradisional Kudus merupakan rumah adat yang masih banyak ditemukan di Kota Lama Kudus. Rumah ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, dan masih difungsikan hingga sekarang ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kesinambungan dan perubahan spasial pada rumah tradisional Kudus. Penelitian menggunakan metode rasionalistik kualitatif dengan pengambilan sampel secara bertujuan (purposif sampling). Temuan fisik mengenai kesinambungan dan perubahan spasial ditemukan pada pada hirarki ruang, fungsi ruang dan orientasi rumah. Temuan non fisik meliputi pola kegiatan tradisi upacara adat yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran, khitanan dan kematian. Kata kunci : Kesinambungan, Perubahan Spasial, Rumah Tradisional Kudus ABSTRACT. Kudus traditional house is a traditional house that is still found in the Old Town Kudus. This house has been there for hundreds of years ago, and still functioned until nowadays. The purpose of this study was to gain an overview of spatial continuity and change in the traditional house of Kudus. This research has conducted qualitative rationalistic method by taking some sampling purposely (purposive sampling). Physical findings on the spatial continuity and change have been found in the hierarchy of space, space function and the orientation of the house. On the other hand, non-physical findings include the pattern of tradition ceremonial activity which is associated with pregnancy, birth, circumcision and death. Keywords: continuity, spatial change, Kudus traditional house
IDENTIFIKASI IKLIM MIKRO DAN KENYAMAN TERMAL RUANG TERBUKA HIJAU DI KENDARI Santi Santi; Siti Belinda; Hapsa Rianty
NALARs Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.1.23-34

Abstract

ABSTRAK. Fenomena UHI (Urban Heat Island) mengakibatkan suhu udara perkotaan menjadi tinggi, sehingga menurunkan kualitas lingkungan kota. Untuk dapat meningkatkan kualitas kota dan mengimbangi pertumbuhan kota, maka pemerintah menggalakkan pengembangan infrastruktur hijau perkotaan melalui pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kota Kendari memiliki beberapa ruang terbuka yang beberapa diantaranya merupakan pusat aktifitas dan interaksi masyarakat kota, diantaranya Taman Walikota dan Pelataran Tugu Religi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui kondisi iklim mikro dan kenyamanan termal ruang terbuka. Data-data yang dikumpulkan berupa karakteristik dan nilai indikator iklim mikro yang meliputi suhu udara, kelembaban relatif, dan kecepatan angin pada sejumlah titik ukur pada siang hari. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan uji Statistik Independent T Test untuk mengetahui perbedaan iklim mikro antara kedua lokasi dan analisis Temperature Humidity Index (THI) untuk mengetahui tingkat kenyamanannya. Hasil dari uji statistik menunjukkan tingkat perbedaan yang tidak sigifikan antara kedua lokasi, meliputi suhu udara (sig.=0,283); kelembaban relatif (sig.=0,115); dan kecepatan angin (sig.=0,105). Sementara itu, melalui analisia THI menunjukkan nilai index tidak nyaman hampir terjadi pada keseluruhan titik ukur. Nilai THI tertinggi pada lokasi Taman Walikota terletak pada titik A5 (THI=31,9), yaitu pada daerah memiliki kecepatan angin rendah karena posisinya pada bagian tengah kawasan. Sedangkan pada lokasi pelataran Tugu Religi, nilai terendah THI diperoleh pada titik B9 (THI=33,12), yakni titik yang sebagian besar material permukaan lahannya berupa aspal. Kata kunci: ruang terbuka, temperatur, angin, kelembaban relatif, Temperature Humidity Index ABSTRACT. The UHI (Urban Heat Island) phenomenon affected urban air temperatures become high, which decreases the quality of the city environment. To be able to improve the quality of the city and to balance the growth of the city, the government promotes the development of urban green infrastructure through the development of Green Open Space (RTH). Kendari City has several open spaces, some of which are the center of the activities and interactions of urban communities, including the Taman Walikota and the Pelataran Tugu Religi. This research is a descriptive study to determine the microclimate conditions and thermal comfort of open spaces. The data collected is in the form of characteristics and values of microclimate indicators which include air temperature, relative humidity, and wind speed at some measuring points during the day. The collected data were analyzed using the Independent T-Test Statistic Test to determine the differences in microclimate between the two locations and the Temperature Humidity Index (THI) analysis to determine the level of comfort. The results of the statistical tests show a significant level of difference between the two locations, including air temperature (sig. = 0.283); relative humidity (sig. = 0.115); and wind speed (sig. = 0.105). Meanwhile, through THI analysis, the uncomfortable index value almost occurs at the whole measuring point. The highest THI value in the location of the Taman Walikota is located at point A5 (THI = 31.9), which is in the area with low wind speed because of its position in the central part of the city. Whereas in the location of the Pelataran Tugu Religi, the lowest value of THI is obtained at point B9 (THI = 33.12), which is the point where most of the surface material in the land is asphalt. Keywords: open space, temperature, wind, relative humidity, Temperature Humidity Index 
ANALISIS PERMUKIMAN PEMULUNG SEBAGAI SEBUAH ASSEMBLAGE STUDI KASUS: PERMUKIMAN PEMULUNG DI WILAYAH JURANGMANGU, TANGERANG SELATAN Eka Permanasari
NALARs Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.1.27-42

Abstract

ABSTRAK. Keberadaan pemulung adalah suatu fenomena umum di kota-kota Indonesia.  Dalam fenomena keberadaan pemulung, terdapat sebuah paradoks.  Di satu sisi, terdapat pandangan bahwa pemulung memiliki pengaruh negatif bagi lingkungan sosial maupun fisik.  Di sisi lain, pekerjaan sebagai pemulung memberi kontribusi positif dalam hal proses daur ulang sampah serta dalam memberikan alternatif lapangan kerja.  Paradoks ini membuat keberadaan pemulung menarik untuk dikaji, baik dari segi sosial, ekonomi, maupun lingkung bangunnya. Kajian mengenai pemulung dari sudut pandang sosial dan ekonomi telah banyak dilakukan dalam berbagai penelitian.  Namun, sejauh ini, belum ada penelitian yang membahas persoalan pemulung dari sudut pandang lingkung bangun permukimannya.  Penelitian ini dilakukan untuk memberi kontribusi dalam hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai pembentukan dan perubahan lingkung bangun permukiman pemulung, berdasarkan hasil observasi terhadap dua permukiman pemulung di Jurangmangu, Tangerang Selatan, dan wawancara kepada penghuninya.  Bentukan suatu lingkung bangun terkait dengan pola kegiatan, serta dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan ekonomi dari manusia di dalamnya.  Untuk itu, penelitian ini membahas tentang lingkung bangun permukiman pemulung serta hubungannya dengan pola aktivitas dan sistem sosial ekonomi penghuninya. Kata kunci: permukiman pemulung, assemblage. ABSTRACT. The phenomena of informal waste-picker settlements are very common in many cities in developing countries. Behind the rapid development and the image of economical wealth, lies beneath the informal waste-picker settlements which may often be overlooked. The existence of the informal waste-picker settlements is like two sides of a knife. On one hand, the settlements are often perceived as giving the negative impact to the social and physical condition of the city. On the other hand, their job in reducing waste and providing alternative employment is perceived as giving positive impact to the city. This binary oppositions and their impact to the social, economical condition and  the built environment  are the focus of this research  There are some research on social and economical condition of informal waste-picker settlements. However, the research on the urban assemblage of informal waste-picker settlements are not very common. Therefore, this research focus on how the social and economical condition shape the informal waste-picker settlements in terms of urban assemblage.  This research investigates the development and transformation of the informal waste-picker settlements in two prime locations in Jurangmangu, South Tangerang. The methods are through observation and interview to key persons (leaders) on each settlement. The urban assemblage on these waste-picker settlements is heavily influenced by social and economical condition and activity of their users.  Key words: waste picker settlements, urban assemblage, informality
KONSEP RUANG TERBUKA SEBAGAI ELEMEN ARSITEKTUR KOTA Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Tulisan ini akan memaparkan tentang bagaimana konsep ruang terbuka diaplikasikan dalam perencanaan sehingga fungsinya sebagai elemen arsitektur kota dapat terasa keberadaannya. Ruang terbuka sebagai elemen arsitektur kota mempunyai beberapa fungsi dari mulai fungsi sosial, kultural maupun ekonomi. Beberapa dampak akibat pergeseran fungsi terbuka juga dirasakan, dari mulai beralihnya fungsi pedestrian menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima, sampai dengan menjadi jalur sirkulasi kendaraan bermotor.   Kata kunci: ruang terbuka, elemen arsitektur  ABSTRACT. This paper will explain about how extend to which an open space will be applied in planning, thus its function as architecture element of city will be existed. Open spaces as architecture element of city have some functions from social, cultural, and economic function. Some effects have been determined from transformation of open spaces, for example the function of pedestrian as public market, as well as the change of pedestrian function to sirculation for vehicle.     Keywords: open space, architecture element
PENGARUH MAIN ENTRANCE TERHADAP AKSESIBILITAS PENGUNJUNG RUMAH SAKIT Studi Kasus: Koridor Jl. Dr. Soetomo dan Jl. Kariadi Semarang Adelina Noor Rahmahana; Erni Setyowati; Gagoek Hardiman
NALARs Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.2.%p

Abstract

ABSTRAK. RSUP1 Dr.Kariadi Semarang berfungsi sebagai rumah sakit rujukan untuk wilayah Jawa Tengah. Lingkungan rumah sakit sebagai fasilitas publik, memberikan pelayanan kesehatan dan perawatan intensif bagi masyarakat. Jalan Kariadi dan Jalan Dr. Soetomo merupakan jalan utama yang dapat mengakses lingkungan RSUP1 Dr.Kariadi. Tahun 2010 terjadi peningkatan volume pelayanan kesehatan dan program fungsi yang dilakukan pihak rumah sakit. Oleh karena itu main entrance dibuat dengan sistem teluk (bay system) yang dapat menampung 2-3 mobil. Adanya main entrance di Jl. Kariadi menarik minat PKL untuk mendirikan tenda di jalur pedestrian. Sedangkan pada koridor Jalan Dr. Soetomo terdapat pangkalan taksi di sekitar main entrance untuk menunggu penumpang. Main entrance diduga mempengaruhi aksesibilitas pengunjung dalam menuju lingkungan rumah sakit. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara main entrance terhadap aksesibilitas pengunjung rumah sakit. Tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara aksesibilitas pengunjung kelompok main entrance Jl. Dr. Soetomo dan Jl. Kariadi. Adanya penambahan fungsi pelayanan kesehatan akan meningkatkan jumlah pengunjung RSUP Dr. Kariadi yang keluar masuk pada main entrance. Kata kunci : Main entrance, aksesibilitas pengunjung, rumah sakit 1RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat ABSTRACT. RSUP1 Dr. Kariadi Semarang serves as a general hospital for the regional of Jawa Tengah. The hospital environment, as public facility, provides health care and intensive care for society. Kariadi Street and Dr.Soetomo Street are the major road that can access RSUP1 Dr.Kariadi environment. In year 2010, there was an increase volume of health services and function program that carried out by hospital. Therefore, main entrance is designed based on the bay system that could accommodate 2-3 cars. By the existence of main entrance on Kariadi Street, it could attract the street vendors to set up a tent on the pedestrian ways. On the otherhand, at Dr.Soetomo corridor, there are taxi stands around the main entrance to accomodate the passengers.Main entrance has been predicted has an influence the accessibility of visitors to the hospital environment. The result of this research is there are some influences and relations between main entrance to the hospital visitors’ accessibility. There are no significant differences between the visitors’ accessibility of main entrance group on Dr. Soetomo Street and Kariadi Street. There is an additional of health service function which will increase the number of visitors of Dr. Kariadi Hospital either in or out at the main entrance. Keywords: Main entrance, visitor accessibility, hospitals 
THE EFFECTS OF TOURISM ON VERNACULAR HOUSES IN TRADITIONAL VILLAGE: THE COMPARISON BETWEEN KAMPUNG NAGA IN WEST JAVA AND DESA KANEKES IN BANTEN Muhammar Khamdevi
NALARs Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.2.141-148

Abstract

ABSTRACT. Tourism is one of the significant economic sectors in Indonesia. It has major, economic, social and environmental impacts. However, it may become unsustainable tourism, if its management ignores environmental issues, especially the degradation of the cultural heritage environment. Kampung Naga in West Java and Desa Kanekes in Banten are two cultural heritage villages that became tourist attractions in Indonesia. Their vernacular houses experienced several shifts and changes since then. How are the effects of tourism in Kampung Naga and Desa Kanekes on their vernacular houses? Are there any differences between both of them? A comparative approach is adopted in investigating the cases. This study is expected to find the implementation of current tourism in both villages and its effects on vernacular houses. The study shows that unsustainable tourism is occurred in both locations and result several concerned effects on their vernacular houses.Keywords: sustainable tourism, cultural heritage, vernacular architectureABSTRAK. Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi penting di Indonesia. Ia memiliki dampak ekonomi, sosial dan lingkungan. Meskipun begitu, ia menjadi pariwisata tidak berkelanjutan, jika pengelolaannya mengabaikan isu-isu lingkungan, terutama penurunan kualitas lingkungan warisan budaya. Kampung Naga di Jawa Barat dan Desa Kanekes di Banten adalah dua kampung warisan budaya yang menjadi tujuan wisata di Indonesia. Rumah-rumah vernakularnya mengalami pergeseran dan perubahan sejak saat itu. Bagaimana pengaruh pariwisata di Kampung Naga dan Desa Kanekes pada rumah-rumah vernakularnya? Apakah ada perbedaan di antara keduanya? Pendekatan komparatif dipakai untuk menyelidiki kasus tersebut. Kajian ini diharapkan untuk menemukan pelaksanaan pariwisata saat ini di kedua kampung dan pengaruhnya pada rumah-rumah vernakularnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pariwisata yang tidak berkelanjutan terjadi di kedua lokasi dan menghasilkan beberapa pengaruh-pengaruh yang memprihatinkan pada rumah-rumah vernakularnya.Kata Kunci: pariwisata berkelanjutan, warisan budaya, arsitektur vernakular
JOINT STUDIO PADA STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR Heru Wibowo Poerbo
NALARs Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Terdapat lebih dari 170 perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan program studi sarjana arsitektur. Seluruh program studi tersebut menggunakan format studio sebagai salah satu cara utama pembelajaran, seperti juga halnya pada umumnya sekolah arsitektur di dunia (Lawson, 2004: 20). Dominasi studio tercermin dalam kurikulum program sarjana arsitektur nasional yang menuntut minimum 48 SKS studio. Diantara sekian banyak program studi arsitektur tersebut, terdapat berbagai “warna” atau paradigma yang dianut masing-masing program studi. Paradigma tersebut juga mewarnai tugas dan pelaksanaan studio perancangan arsitektur. Keragaman dalam studio perancangan merupakan kekayaan pengetahuan dan ketrampilan yang perlu diserap. Joint studio merupakan salah satu cara “menyerap” kekayaan ini. Artikel ini menyampaikan pengalaman penyelenggaraan joint studio perancangan arsitektur. Kata kunci : joint studio, studio, perancangan arsitektur ABSTRACT.  There are more than 170 universities in Indonesia that are organizing study program of architecture. Those entire study programs is applying studio format as one of the main ways of learning, as well as most schools of architecture in the world (Lawson, 2004: 20). Studio dominance is reflected in the national curriculum of architecture degree program that requires a minimum of 48 credits of studio. Among those many study programs of architecture, there are various "colors" or paradigm that has been adopted by each study program. The paradigm is also color the task and the implementation of architectural design studio. Diversity in the design studio is a power of knowledge and skills that need to be absorbed. Joint studio is one way to "absorb" this power. This article will deliver and share the experience of organizing joint studio in architectural design. Keywords: joint studio, studio, architectural design
AKTIVITAS RITUAL PEMBENTUK TERITORI RUANG PADA PESAREAN GUNUNG KAWI KABUPATEN MALANG Dhinda Ayu
NALARs Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.1.%p

Abstract

ABSTRAK.        Salah satu bentuk kebudayaan yang ada pada kehidupan masyarakat diwujudkan dalam bentuk aktivitas. Salah satu aktivitas yang menjadi tradisi pada masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat Jawa adalah berkunjung atau ziarah ke makam tokoh-tokoh yang dianggap penting atau berjasa, seperti yang terjadi pada Pesarean Gunung Kawi. Pengunjung tidak hanya dapat melakukan satu jenis ritual karena pada Pesarean Gunung Kawi terdapat beberapa ritual yang diadakan sebagai peringatan hari-hari tertentu yang dianggap penting. Selain banyaknya jenis ritual yang dilaksanakan, keberagaman juga terdapat pada pelaku ritual yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni kelompok muslim, kejawen dan Tridharma. Hal tersebut dapat menimbulkan perbedaan teritori ruang pada aktivitas ritual yang ada di Pesarean Gunung Kawi. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui teritori ruang yang terbentuk akibat aktivitas ritual pada Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil studi ini menunjukkan bahwa banyaknya aktivitas ritual yang terdapat pada Pesarean Gunung Kawi menimbulkan beragamnya ruang ritual yang terbentuk pada ruang yang sama.  ABSTRACT.      One of the types of culture within society is translated into activites. One of the activites within Javanese Society which become a tradition is pilgrimage to the tomb of the figures that are considered as an important or meritorious person. This activity could be seen in Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang. The visitors not only could do one kind of ritual because there are some rituals at Pesarean Gunung Kawi that performed as a celebration on certain days that considered important. Therefor many kinds of rituals that could be performed, diversity is also found in the ritual actors that can be divided into three groups, there are moslem, kejawen  and Tridharma. It would cause differences of space territory in Pesarean Gunung Kawi. The purpose of this study is to determine space territory that made by ritual activities at Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. The method has been used in this study is a qualitative descriptive research. The result of this study has shown that many kinds of rituals in Pesarean Gunung Kawi cause the diversity of the ritual space which formed in the same space.

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue