cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
STUDI “GREEN INTERIOR” PADA STUDIO PERANCANGAN DI LIMA PERGURUAN TINGGI SWASTA PROGRAM STUDI ARSITEKTUR DI JAKARTA Putri Suryandari
NALARs Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Konsep green building/interior sudah mulai banyak menarik perhatian di Indonesia. Standar yang ingin dicapai dalam penerapan konsep green building adalah, mewujudkan konsep bangunan hijau yang ramah lingkungan. Laboratorium Studio Perancangan  Arsitektur adalah ruang belajar yang memiliki waktu penggunaan paling lama, di bandingkan ruang perkuliahan lain secara umum. Permasalahannya adalah, bagaimana menciptakan kenyamanan bagi mahasiswa di ruang studio, sehingga mampu menuju Green Interior Class yang sedikitnya mendekati kriteria BCA? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan Ruang studio perancangan di lima PTS di Jakarta (UKI, UBL, UP,Universitas Borobudur, Universitas Mercubuana) dengan standar criteria dari BCA Green Interior Office. Selain itu juga untuk menyarankan Konsep Interior Ruang kelas Laboratorium Arsitektur di PTS Jakarta menuju Green Interior. Metode penelitian yang di lakukan adalah  deskriptif kuantitatif, yaitu menguraikan kriteria interior hijau yang terdapat di GBCA pada Studio perancangan di  lima PTS, untuk kemudian di beri point penilaian sesuai standart green interior GBCA. Hasil studi di studio perancangan lima PTS yang menerapkan slogan Green building, memiliki nilai score Green Interior Class yang tertinggi, mengingat komitmen terhadap slogan tersebut secara berlanjut di laksanakan dengan baik. Kenyamanan ruang studio perancangan di lima PTS saat ini hanya dapat di capai dengan cara menggunakan pencahayaan maupun penghawaan buatan, namun dengan kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap pemanfaatan energinya, konsep Green interior bisa di capai. Kata Kunci : Green Interior, green building, kenyamanan, ruang studio perancangan ABSTRACT. The concept of green building / interior has begun to attract much attention in Indonesia. Standards to be achieved in the application of the concept of green building is embodies the concept of green buildings that are environmentally friendly. Laboratory of Architectural Design Studio is a study that has the longest usage time, in comparison to other lecture room in general. The problem is how to create convenience for students in a studio, so it was able to Green Interior Class is at least approaching the criteria of BCA? This study aims to determine the level of comfort room design studio in 5 Universities in Jakarta (UKI, UBL, UP, Universitas Borobudur, Universitas Mercubuana) with the standard criteria of the BCA Green Interior Office. In addition to suggest Concept Interior Architecture Laboratory Classrooms in PTS Jakarta toward Green Interior class. The research method was descriptive quantitative, which outlines the criteria contained in the green interior GBCA at Design Studio  at 5 PTS, and then given a point rating according to standard GBCA green interior. The study design studio 5 PTS implementing Green building Campaign, has a value score of the highest class Green Interior, given a commitment to the slogan continually carried on well. Leisure design studio classroom in the 5 PTS currently only be achieved by the use of artificial lighting and air conditioning, but with strict control and supervision of the use of energy, Green concepts in the interior can be achieved. Keywords: Green Interior, green building, comfort, space design studio
MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG LEBIH BAIK DENGAN PENYEDIAAN JALUR PEDESTRIAN BAGI PEJALAN KAKI Lily Mauliani; Ari Widyati Purwantiasning; Wafirul Aqli
NALARs Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.1.%p

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya dengan judul “Kajian Jalur Pedestrian Sebagai Ruang terbuka Pada Area Kampus” yang dipublikasikan pada Jurnal yang sama Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli 2013. Tulisan ini adalah hasil akhir dari Penelitian Desentralisasi Skim Penelitian Hibah Bersaing tahun kedua. Oleh karenanya pada tulisan ini, hasil akhir luarannya adalah berupa disain sesuai dengan yang diajukan sebelumnya. Ajuan disain alternatif dari Jalur Pejalan Kaki atau dikenal dengan jalur pedestrian ini merupakan hasil telaah survey lapangan, analisa baik fisik maupun fisik dari studi kasus yang terpilih yaitu Jalan Cempaka Putih Tengah XXX Jakarta Pusat serta hasil dari pemikiran berdasarkan studi preseden dari beberapa lokasi yang dianggap berhasil dan juga teori-teori yang berkaitan dengan hal tersebut.  Sebelum solusi disain diberikan, tentunya penelitian harus melalui beberapa tahapan proses yang akan menghasilkan luaran yang optimal. Tujuan dari penelitian adalah  untuk menganalisis penerapan konsep pedestrianisasi dalam area kampus sebagai ruang terbuka bagi komunitas kampus baik untuk memfasilitasi kebutuhan sosial juga untuk beraktifitas di dalamnya. Sebagai fakta terlihat bahwa jumlah arus pejalan kaki dalam waktu area kampus cukup tinggi. Perlunya kegiatan bersosialisasi antara mahasiswa dan lain-lain sangat penting. Metode deskriptif serta metode studi banding telah dipilih sebagai metodologi penelitian dalam merangkum fakta yang ada dan menganalisa data yang didapatkan, kemudian metode perencanaan juga dilakukan dalam menghasilkan luaran solusi disain yang tentunya diharapkan dapat diadopsi untuk direalisasikan.   ABSTRACT This paper is a continuation from the former paper titled “Kajian Jalur Pedestrian Sebagai Ruang terbuka Pada Area Kampus” which had been published in the same Journal Volume 12 Number 2 July 2013. This paper is a final output from Decentralization Research Program with a scheme of Penelitian Hibah Bersaing from DP2M, second year from two years research. Therefor within this paper, will deliver an appropriate design for a better solution. The proposed alternative designed for pedestrian way is a resulft from field survey analysis either physical or non physical analysis from designated case study Jalan Cempaka Putih Tengah XXX Jakarta Pusat which had been sincronized with appropriate theories and succeeded precedent studies.       Descriptive method and comparative method have been chosen as a research methodology for concluding the existing facts and to analysis all collected data. Then planning method will be used as well to deliver solution design which hopefully could be adopted.
Kawasan Bersejarah Magelang Pada Masa Mataram Kuno Wahyu Utami
NALARs Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.8.2.%p

Abstract

Not Available
UPAYA ADJUSTMENT DAN ADAPTASI UNTUK MENGATASI EKSTERNALITAS RUANG NEGATIF Happy Indira Dewi
NALARs Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui  besar eksternalitas ruang negatif dari ruang hasil dari pola pembangunan Bandung Super Mall. Besar eksternalitas ruang diukur dari upaya yang dilakukan penghuni untuk mengatasi eksternalitas ruang negatif. Upaya tersebut berupa tindakan adaptasi dan adjustment penghuni. Penelitian ini bersifat kualitatif-kuantitatif. Metodologi penelitian awalnya bersifat deskriptif-eksploratif, selanjutnya untuk menghitung besar dampak dari upaya penghuni secara adjustment, perhitungan dilakukan dengan menggunakan harga satuan bahan dan upah bangunan yang dikeluarkan oleh Departemen Kimpraswil. Sedangkan untuk mengetahui besar upaya adaptasi digunakan metoda psikologi.   Kata kunci : eksternalitas ruang negatif, adjustment,  adaptasi, penghuni  ABSTRACT. This research was conducted to determine the size of externalities of negative space from a result space of the development pattern of Bandung Super Mall. The size of externalities space has been measured from the efforts made by residents to overcome externatilies of negative space. Those efforts are adaptation action and residents’ adjustment.This research is qualitative-quantitative research.  Initially the research methodology is descriptive-explorative, and then to calculate the impact of the efforts of residents in adjustment, the calculation is done by using the unit price of building materials and wages incurred by the Ministry of Settlement and Regional Infrastructure. On the other hand, to determine how extend to which the adaptation efforts, it has been used psychology method. Keywords : Exsternalities of negative space,, adjustment, adaptationi, residents
POLA PEMANFAATAN DALAM TATA SPASIAL HUNIAN SUKU BAJO YANG BERKEMBANG DI KAMPUNG WURING KOTA MAUMERE Ambrosius A.K.S. Gobang; Antariksa Sudikno; Agung Murti Nugroho
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.51-64

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pola pemanfaatan ruang dalam tata spasial hunian yang berkembang berupa sistem spasial hunian dan aspek-aspek yang melandasi pembentukan dan pemanfaatan spasial hunian Suku Bajo pada kawasan kampung Wuring sebagai upaya untuk memahami kondisi awal hingga terbentuknya permukiman kampung saat ini. Aspek pembentukan spasial didalamnya mengandung substansi gagasan perencanaan dari fungsi, bentuk asli, variasi bentuk dan perkembangannya. Kondisi spasial hunian Suku Bajo di kampung Wuring Kota Maumere dilihat dari karakteristik permukiman masyarakat sebagai kampung awal peradaban muslim dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di Kabupaten Sikka. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan analisa deskriptif kualitatif dan bersifat naturalistik yaitu menggambarkan dan menginterpretasi catatan budaya Suku Bajo berupa keterangan sejarah, dokumen peta, maupun wujud fisik bangunan rumah masyarakat Suku Bajo. Hasil penelitian memberikan gambaran secara umum yaitu sistem spasial hunian mencakup organisasi ruang, orientasi ruang dan hirarki ruang dalam lingkup mikro hunian yang berdampak terhadap perkembangan lingkungan. Secara khusus ada perkembangan ruang dalam (mikro) berupa konsep ma’bunda-ma’buli serta bentuk rumah panggung tumbuh dan bentuk rumah panggung diaruma sebagai respon terhadap kecenderungan pola pemanfaatan ruang hunian dan beberapa aspek non fisik yang melandasi pembentukan spasial hunian di kawasan kampung Wuring. Kata kunci: pemanfaatan, sistem spasial, hunian, Suku Bajo, kampung Wuring. ABSTRACT. The purpose of this research is to examine using spatial pattern of a dwelling which developed into the form of spatial system occupancy and aspects to underline the formation and spatial utilization of Bajo Tribe at Wuring village as an effort to understand the initial condition until the creation of current village settlement. The aspects of spatial formation in it contain substance the idea of the planning of the function, the original form, the variation of form and its development. The spatial condition of the Bajo Tribe in Maumere City is seen from the characteristics of the settlement’s community as the early village of Muslim civilization and became the center of spreading out of Islam in Sikka District. By the approach in this research has been using phenomenology method with qualitative descriptive and naturalistic analysis that is descriptive describing and interpreting cultural record of Bajo Tribe in the form of description history, map document, and physical form of Bajo Tribe’s house. The results of the study provide a general overview of the spatial system of occupancy includes organization, orientation, and hierarchy space within the scope of micro occupancy that impact on the development of the environment. Particularly, there is a development of inner space (micro) in the form of ma'bunda-ma'buli concept and the formation at the growth of stage house and diaruma’s stage form as a response to the trend of occupancy utilization pattern space and some non-physical aspects underlying on the spatial establishment of dwelling in Wuring village. Keywords: utilization, spatial system, dwelling, Bajo Tribe, Wuring village..
TERITORI PEDAGANG INFORMAL (Studi Kasus Ruang Antara Pasar Johar dan Pasar Yaik Semarang ) Alin Pradita Agustin
NALARs Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.13.1.%p

Abstract

ABSTRACT. An informal trade sector is a part of the informal sector that emerged as a result of the increasing urbanization. The existence of this informal trade sector cannot be separated from urban spatial elements. Johar market is a considerable trade area having high historical value. Informal traders in Johar occupy public spaces and form mutual environment among them.The rapid growth triggers claims of public spaces. Claim of public space is a problem between humans’ behavior and their territories. These claims disrupt the public spaces function.The space between Johar and Yaik market is strategic. This space is the main circulation towards the parking garage from northerly direction and becomes the transitional space between Johar market building and Yaik market building. This strategic feature makes the growth of informal sector traders increases. These traders occupy right and left of the road by placing sign as a physical border to state their territory and as self-image recognition to control and personalizing space. By understanding the territorial behavior, it is expected the territory formation pattern and the factors influencing it can be understood, so the problems related to informal sector traders territorial claims over public space can be coped.Keywords: informal sector traders, territories, claims of spaceABSTRAK. Pedagang sektor informal merupakan bagian dari sektor informal yang muncul sebagai hasil meningkatnya urbanisasi. Keberadaan dari pedagang sektor informal ini tidak dapat dipisahkan dari elemen-elemen ruang kota. Pasar Johar dianggap sebagai kawasan perdagangan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Pedagang-pedagang informal di pasar Johar menempati ruang-ruang publik dan membentuk ruang baru diantara mereka. Perkembangan yang sangat pesat memicu timbulnya klaim atas ruang-ruang publik tersebut. Pada akhirnya klaim atas ruang-ruang publik tersebut menjadi masalah baru antara perilaku pedagang-pedagang informal tersebut dan teritorinya. Klaim inilah yang menjadi mengganggu dan merubah fungsi asal dari ruang publik tersebut.Ruang antar pasar Johar dan pasar Yaik merupakan lokasi yang strategis. Ruang inilah yang menjadi sirkulasi utama menuju ke area parkir dari arah utara dan menjadi ruang transisi antara bangunan pasar Johar dengan bangunan pasar Yaik. Keberadaan dari ruang strategis inilah yang memicu munculnya dan meningkatnya pedagang-pedagang sektor informal. Pedagang-pedagang tersebut menempati sepanjang jalan baik sisi kanan maupun kiri dengan meletakkan penanda teritori mereka sebagai bukti fisik. Selain itu penanda tersebut dianggap sebagai pengakuan terhadap ruang teritori untuk kontrol dan personalisasi ruang. Dengan memahami perilaku teritori, diharapkan pola pembentukan teritori dan faktor-faktor yang mempengaruhi dapat dipahami, sehingga masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan klaim ruang-ruang publik oleh pedagang-pedagang sektor informal dapat diatasiKata Kunci: pedagang sektor informal, teritori, klaim ruang
PEMAHAMAN FENOMENA PENGETAHUAN ARSITEKTUR KAMPUNG KOTA (KASUS : KAMPUNG BUSTAMAN BERBASIS KULINER) Budi Sudarwanto; Gagoek Hardiman; Agung Budi Sardjono
NALARs Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.2.145-154

Abstract

ABSTRAK.Kampung menjadi hambatan besar dalam proses modernisasi perkotaan di era globalisasi. 70 % area perkotaan di negara sedang berkembang seperti Indonesia adalah kampung. Kampung masih dipandang sebagai sisi negatif dan sebagai beban perkotaan. Fakta empiris menunjukan bahwa kampung kota melakukan kegiatan kehidupan sehari-hari secara mandiri. Kampung memiliki kekuatan lokal yang berbeda, masing-masing kampung menunjukan kekhususan yang dimiliki kampung. Secara umum, aspek sosial merupakan kekuatan lokal suatu kampung.Tulisan ini bertujuan untuk mencari pemahaman awal tentang kampung kota dalam dimensi ilmu arsitektur kota, melalui pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Analisa matriks antara keilmuan arsitektur dan konteks keberlanjutan kampung kota dipahami sebagai upaya pengembagan pengetahuan dini tentang keunikan dan kompleksitas kampung kota berbasis kuliner. Prosedur penelitian kualitatif digunakan dalam tahap-tahap kegiatan penelitian.Kampung Bustaman salah satu kampung kota yang mampu memberikan inspirasi gagasan/ide bagi kampung yang lain. Bustaman merupakan pengetahuan baru tentang arsitektur kampung di era kekinian, yang menunjukan kekuatan lokal yang dinamis dan sinergik. Kampung Bustaman menunjukan kelebihan dan kekurangan sebagai satu kampung kota pada umumnya. Kelebihan tersebut antara lain adalah potensial artefak dalam lingkungan kampung, kegiatan ekonomi lokal kuliner, keterbukaan sistem kekerabatan sosial, budaya masyarakat perkotaan kekinian, dan keterbukaan bagi pihak luar. Sedang kelemahannya adalah infrastruktur yang rentan, kondisi fisik lingkungan yang rendah, dan tingkat sosial ekonomi penghuni yang lemah. Kata kunci:Bustaman, Arsitektur, Kampung, Fenomena, Berkelanjutan. ABSTRACT.Kampung is a major obstacle in the process of urban modernization in the era of globalization. 70% of urban areas in developing countries such as Indonesia are home. Kampung still seen as a negative side and as an urban load. Empirical evidence shows that the hometown of the activities of daily life independently. Local villages have different strengths, each village to show the specificity owned by the village. In general, the social aspect is a local power a village.This paper aims to find the initial understanding of urban kampong in the dimensions of urban architecture, through a qualitative descriptive research approach. Matrix analysis between architectural science and the context of urban sustainability is understood as an effort to develop early knowledge about the uniqueness and complexity of culinary-based urban village. Qualitative research procedures are used in the stages of research activities.Kampung Bustaman one of the urban villages that is able to inspire ideas / ideas for other villages. Bustaman is a new knowledge of kampung architecture in the present era, which shows a dynamic and synergic local power. Kampung Bustaman shows advantages and disadvantages as a township in general. The advantages include potential artifacts in the village environment, culinary local economic activities, openness social kinship system, urban community culture and contemporary openness for outsiders. The weaknesses are the vulnerable infrastructure, the low physical condition of the environment, and the socio-economic level of the weak occupants. Keywords: Bustaman, architecture, kampong, phenomena, sustainability
WHAT ARE THE CHALLENGES OF INCREASING THE SUSTAINABILITY OF URBAN LIVELIHOODS? Neil Whittingham
NALARs Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.8.1.%p

Abstract

AbstraCT. This article places the challenge of rapid urbanisation throughout the world into a perspective that acknowledges inequalities due to economic history. As well as a brief exploration of the site-specific nature of challenges faced, this article seeks to outline the economic and structural obstacles that act as a backdrop to the lives of the poor. Such a perspective can inform attempts to improve the lot of the poor and help in outlining the moral obligation for the powerful to help the poor and vulnerable face up to the issue of Climate Change. Key words: Urbanisation, economic disadvantage, planning, sustainable urban management  AbstraK. Tulisan ini menempatkan tantangan dari urbanisasi yang sangat cepat di seluruh dunia ke dalam perspektif yang diketahui tidak sejajar dengan sejarah ekonomi. Seperti halnya dengan eksplorasi sepintas dari situs khusus alam dari tantangan yang dihadapi, tulisan ini mencoba untuk melihat halangan ekonomi dan struktural bagi masyarakat menengah bawah. Perspektif seperti itu  dapat  menjadi sebuah informasi untuk meningkatkan taraf hidup masyarkat miskin dan membantu dalam merumuskan obligasi moral bagi penguasa. Hal ini tentunya dapat membantu masyarakat miskin dalam menghadapi isu-isu perubahan iklim. Kata Kunci: Urbanisasi, kerugian ekonomi, perencanaan, keberlanjutan manajemen perkotaan
PENGARUH ASPEK EKSTERNAL PADA RUMAH MELAYU TRADISIONAL DI KOTA SAMBAS KALIMANTAN BARAT Zairin Zain
NALARs Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.11.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Fungsi rumah secara fisik untuk mempertahankan hidup mereka dari ancaman lingkungan seperti iklim dan cuaca atau hewan liar, sementara rumah juga sebagai diperuntukkan untuk kebutuhan rohani mereka dengan memfasilitasi interaksi antara penghuni di rumah atau interaksi dengan orang di luar rumah. Kebutuhan rohani di sini juga berarti bahwa rumah adalah tempat penampungan untuk mencapai kebahagiaan keluarga. Sebuah rumah memiliki fungsi sebagai tempat tinggal bagi penghuni dari pengaruh langsung fisik dari perubahan lingkungan seperti iklim atau cuaca. Penelitian ini dilakukan terhadap 3 (tiga) kasus rumah tradisional di kota Sambas yang dijadikan sebagai kasus penelitian. Lokasi ketiga kasus tersebut terletak di kampung Dalam Kaum sebanyak 1 (satu) rumah Potong Kawat (kasus II) dan kampung Tanjung Mekar sebanyak 2 (dua) buah rumah yaitu potong Limas (kasus I) dan Potong Godang (kasus III). Rumah Melayu tradisional di kota Sambas telah dirancang menyesuaikan dengan persyaratan iklim lokal yang menggunakan perangkat kontrol terhadap pengaruh sinar matahari langsung dan bahan kapasitas termal rendah. Penyesuaian-penyesuaian yang ditemukan di rumah-rumah tradisional Melayu di kota Sambas dalam penggunaan bahan dan desain yang mampu mengurangi pengaruh diterima dengan mengendalikan pemanasan, pendinginan, kelembaban dan menstabilkan lingkungan internal. Penggunaan material panas yang rendah di semua bagian rumah Melayu tradisional di kota Sambas mampu mengendalikan pemanasan yang berlebihan di dalam rumah pada siang hari dan juga oleh desain yang cocok digunakan untuk menjaga kehangatan pada malam hari atau musim hujan. Kata kunci : rumah Melayu tradisional, faktor ekternal, keawetan struktur, kenyamanan termal ABSTRACT. Function of a house is physically  to preserve human lives from the environmental threats such as climate, bad weather or wild animals, while the house as well to accomodating for their spiritual needs by facilitating the interaction between the occupants inside the house or the interaction with people outside the home. The spiritual needs here is also means that the house as a shelter for the family happiness. A house has a function as a residence for the occupants from the direct physical influences of the environment such as the climate change or weather. The research was conducted on 3 (three) cases of the traditional Malay houses that serve as cases on this study. Three cases and its location site which were choosed as samples is in the following: 1 sample in the village of Dalam Kaum for  Potong Kawat or the Kawat shape (as case II) and 2 samples were choosen in the village of Tanjung Mekar for Potong Limas or the Limas shape (as case I) and Potong Godang or Godang shape (as case III). The traditional Malay dwellings in the town of Sambas have been designed with adjustment to the local conditions of climatic by using a control device to the direct effects of sunlight and by the materials of low thermal capacity. Adjustments are found in the traditional Malay houses in the town of Sambas with the use of low thermal capacity materials that can reduce the received impacts  by controlling the heating, cooling, moisture and also stabilize the internal environment inside the house. The use of material with low thermal capacity in all parts of the traditional Malay house in the town of Sambas is able to control excessive heating in the house during the day and its also caused by a suitable design to keep the warmly conditions at night or in the rainy season. Keywords : traditional Malay dwellings, external factors, structure durability,thermal comfort
KAJIAN PERILAKU PADA RUANG TERBUKA PUBLIK Dedi Hantono
NALARs Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.1.45-56

Abstract

ABSTRAK. Ruang terbuka publik merupakan elemen kota yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan suatu kota. Aksesibilitas yang tinggi menjadikan ruang ini menjadi tempat bertemunya bermacam aktivitas dari berbagai pengguna. Dalam interaksinya para pengguna menghadirkan aspek perilaku yang beragam. Untuk melihat aspek tersebut maka dilakukan penelitian berdasarkan teori dan penelitian yang sudah ada dan pernah dilakukan sebelumnya. Metode yang digunakan berupa content analysis yang didukung dengan teori dan literatur lainnya. Dari hasil yang didapat terbukti bahwa teori yang digunakan membuktikan penelitian-penelitian mengenai perilaku pengguna di ruang terbuka publik. Selain itu ada juga temuan bahwa ada atribut perilaku lain yang berperan, yaitu: kepercayaan dan jenis kelamin. Kata kunci: arsitektur, ruang terbuka publik, perilaku ABSTRACT. Public open space is one of an element of the city that cannot be separated from the development of a city. High accessibility makes this space become a meeting place for various activities from various users. In their interactions, the users present diverse behavioral aspects. To discover these aspects, this research conducted based on existing theory and previous research that had been done before. The method used is a content analysis which is supported by theory and other literature. From the results obtained it showed that the approach used proves studies regarding user behavior in public open space. Besides, there are also findings that there are other behavioral attributes that play a role: believe and gender. Keywords: architecture, public open space, behavior

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue