cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
PENATAAN KOTA BERMUATAN ANTISIPASI BENCANA Danang Priatmodjo
NALARs Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.2.%p

Abstract

ABSTRACT. Many types of disasters are resulted from natural phenomenon that cannot be avoided. What should we do is reducing the risks of the disasters. Here human safety is placed in the first priority. Each type of natural disaster brings specific hazard. Learning from previous disasters and scientific data of an area (or a city), we can analyze the potential of hazards, vulnerability, and strategy of mitigation for each threat of disaster. In reducing the risks of natural disasters, a city should be equipped with integrated plan for anticipating disasters. Follow are steps that should be needed: (1) Identifying disaster potentials; (2) Setting-up spatial plan that contains disaster-preparedness; and (3) Building institutions and tools of disaster management. Keywords: natural disaster, risk reduction, disaster preparedness ABSTRAK. Banyak jenis bencana yang dihasilkan dari fenomena alam yang tidak dapat dihindari. Apa yang harus kita lakukan adalah mengurangi resiko bencana. Disini keselamatan manusia ditempatkan dalam prioritas pertama. Setiap jenis bencana alam membawa bahaya tertentu. Belajar dari bencana sebelumnya dan data ilmiah dari suatu daerah (atau kota), kita dapat menganalisis potensi bahaya, kerentanan, dan strategi mitigasi untuk setiap ancaman bencana. Dalam mengurangi risiko bencana alam, sebuah kota harus dilengkapi dengan rencana terintegrasi untuk mengantisipasi bencana. Diantara langkah yang diperlukan adalah: (1) Mengidentifikasi potensi bencana; (2) Pengaturan rencana tata ruang yang berisi kesiapan bencana, dan (3) Membangun institusi dan alat-alat manajemen bencana. Kata Kunci: bencana alam, pengurangan risiko, kesiapsiagaan bencana
TRANSFORMASI FUNGSI RUANG TERBUKA PUBLIK DI PERKOTAAN STUDI KASUS: TAMAN PEDESTRIAN KECAMATAN TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Yulia Pratiwi
NALARs Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.1.63-72

Abstract

ABSTRAK. Ruang terbuka publik semakin dibutuhkan terutama bagi penduduk perkotaan untuk saling berinteraksi sosial. Pembangunan kota seringkali mengabaikan kebutuhan ruang terbuka bagi masyarakat umum untuk wadah saling berinteraksi dan bersosialisasi. Jenis-Jenis ruang terbuka publik yang semakin banyak dibangun di daerah-daerah di Indonesia adalah pedestrian dan taman kota. Fungsi ruang terbuka publik yang berupa pedestrian tersebut dari waktu ke waktu mengalami transformasi, tidak hanya sebagai jalur untuk berjalan dan ruang berinteraksi sosial maupun mewadahi aktivitas ekonomi, tetapi fungsi pedestrian mulai bertransformasi untuk mengangkat daya tarik kawasan sekitarnya. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus tunggal holistik dengan pendekatan kualitatif untuk mengetahui apa fungsi-fungsi taman pedestrian di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hasil penelitian menunjukkan taman pedestrian di Kecamatan Tenggarong-Kutai Kartanegara memiliki fungsi sebagai (1) ruang interaksi sosial; (2) wadah aktifitas ekonomi; dan (3) ruang publik yang bertransformasi untuk menghidupkan kembali kawasan yang tidak produktif di sekitar jalur tersebut yaitu mengangkat daya tarik Pulau Kumala. Transformasi fungsi  taman pedestrian di Tenggarong tersebut disebabkan karena faktor keberadaan obyek di kawasan sekitar dan kebijakan pembangunan. Kata kunci: ruang terbuka publik, pedestrian, transformasi, Kecamatan Tenggarong ABSTRACT. Public open space is increasingly needed, particularly for urban residents for social interaction. Urban development often ignores the needs of open space for the public to interact and socialize. Types of public open space which is increasingly built in the regions in Indonesia are pedestrian and the city park. The function of public open space in the form of the pedestrian from time to time through a transformation, not only as paths for walking and social interaction space as well as to facilitate economic activities, but the function of pedestrian started to transform to increase attractiveness of the surrounding area. The method that has been used is holistic-single case study with a qualitative approach to find out what functions pedestrian park in District Tenggarong, Kutai Kartanegara, East Kalimantan. The results showed pedestrian park in the district of Tenggarong has function as (1) social interaction space; (2) space for economic activities; and (3) public spaces are transformed to revive the unproductive areas around the track is raised the attractiveness of Kumala Island. Transformation functions of pedestrian park in Tenggarong was caused due to the presence of objects in the surrounding area and development policies. Keywords: public open space, pedestrian, transformation, Tenggarong District
PENGARUH SETTING PERON TERHADAP ADAPTABILITAS PENGGUNA KRL STUDI KASUS: STASIUN KERETA API KEBAYORAN PADA JAM SIBUK Muhammar Khamdevi
NALARs Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.1.%p

Abstract

ABSTRACT. The increasing population of Jakarta caused huge number of passengers of Commuter Line (KRL), especially during rush hour . For instance, Serpong Line (Serpong - Manggarai). The trip Frequency of Serpong Line has been no additions yet, though the number of passengers continues to increase. Kebayoran station has a very short platform, that made the passengers in difficult conditions (Dira, 2011) . The Limited wide of the platform and low platform type must bring difficulties. To go up and down the train, the passengers should use "bancik", which is a small staircase made of iron. But now, long iron staircases has been built along the side of the platform, which is also used by the passengers as a seat. But it made the wide of the platform smaller and narrow. In addition, the number of passengers caused the platform becomes congested that will cause discomfort and the passengers will begin to adapt to these conditions. Is there a relationship between the platform setting to the passenggers adaptability? Is there any influence of the platform setting to the passengers adaptability? This study has used quantitative methods to determine the presence or absence of the influence by using SPSS  software version 16. Through this research is expected to provide knowledge on the influence of the platform setting to the passengers adaptability. The results of this study showed that there was indeed a strong and significant correlation, with r = 0.553 and t = 4.59, between the platform setting to the passengers adaptability. And the influence of the platform setting to the passengers adaptability are around 30,5% ABSTRAK. Bertambahnya penduduk kota Jakarta menyebabkan terjadinya lonjakan penumpang Commuter Line (KRL), terutama pada jam sibuk. Salah satunya adalah Serpong Line (Serpong-Manggarai). Frekuensi perjalanan KRL Serpong Line hingga kini belum ada penambahan, padahal jumlah penumpang terus mengalami peningkatan. Peron di Stasiun Kebayoran Lama sangat pendek sehingga menyulitkan penumpang (Dira, 2011). Luas peron yang terbatas tersebut dan ditambah dengan jenis peron yang rendah pasti sangat menyulitkan. Untuk naik-turun, penumpang harus  menggunakan bancik, yaitu tangga kecil yang terbuat dari besi. Namun sekarang sudah dibangun tangga besi sepanjang sisi peron, yang justru digunakan sebagai tempat duduk, namun di lain sisi justru makin mempersempit luas peron. Selain itu banyaknya penumpang menyebabkan peron menjadi sesak yang akan menimbulkan ketidak nyamanan dan mulai beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Adakah hubungan antara setting peron dengan adaptabilitas KRL? Adakah pengaruh setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL? Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui bahwa ada atau tidaknya pengaruh tersebut dengan menggunakan software SPSS versi 16. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan mengenai pengaruh setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata memang ada hubungan yang kuat dan signifikan dengan r=0,553 dan t=4,59 antara setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL. Dan pengaruh setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL sebesar 30,5 %.
SISTEM PEMERINTAHAN KERAJAAN PENGARUHNYA TERHADAP ARSITEKTUR BALI Rachmat Budihardjo
NALARs Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.11.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Membicarakan sistem pemerintahan kerajaan di Bali, tidak bisa dilepaskan oleh adanya pengaruh agama Hindu. Konsep Negara Klasik di Indonesia dipengaruhi oleh dua pusat peradaban yaitu India dan Cina, khususnya mengenai masalah kosmis-magis, angka-angka, benda keramat, para pemimpin, geografi, posisi dan lain-lain. Sistem pemerintahan kerajaan di Bali berawal dari sejak zaman Bali Kuno sampai dengan zaman Awal Kemerdekaan. Puncak kejayaannya terjadi pada zaman Majapahit atau setelah adanya ekspedisi patih Gajah Mada berhasil menaklukkan Bali. Pengaruh agama Hindu, terutama setelah kedatangan Pendeta dari Jawa Timur : Empu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha / Dang Hyang Dwijendra sangat mendominasi pada perkembangan dan perbaikan segi-segi kehidupan dan sistem pemerintahan kerajaan di Bali, termasuk perkembangan arsitekturnya baik pada jenis bangunan Parahyangan, Pawongan ataupun Palemahan. Pada mulanya keraton di Bali disebut dengan “Pura” seperti : Linggarsa Pura (Samprangan, Gianyar), Sweca Pura (Gelgel) dan Semara Pura (Klungkung), setelah beberapa generasi kekuasaan di Klungkung dilakukanlah perubahan sebutan : Pura untuk fungsi bangunan Kahyangan / Suci dan Puri untuk fungsi bangunan Pawongan / Keraton.  Kata Kunci: sistem pemerintahan, kerajaan, arsitektur Bali ABSTRACT.  Talking about the royal government system in Bali, it cannot be separated  by the influence of Hindu religion. The concept of classic country in Indonesia had been affected by the two centers of civilization, namely Indian and China, particularly on the issue of cosmic-magical, numbers and figures, sacred objects, leaders, geography, and other positions. System of royal government in Bali had began from the days of the Ancient Bali to Early Independence era. The peak of the victory had occured at the era of Majapahit  after the expedition of Gajah Mada in conquering Bali. Influence of Hindu religion, especially after the arrival of Reverend from East Java: Empu Kuturan and Dang Hyang Nirartha / Dang Hyang Dwijendra was very dominating on the development and improvement of aspect of life and system of royal government in Bali. The influence also affected the development of architecture in both building types Parahyangan, Pawongan or Palemahan. At early time, mostly palaces in Bali have called "Pura" such as: Linggarsa Pura (Samprangan, Gianyar), Sweca Pura (Gelgel) and Semara Pura (Klungkung), after several generations of power in Klungkung have undertaken designation change: Pura for building which has a function as a sacred place/ Kahyangan and  Puri for building which has function for Pawongan building/ palace. Keywords: system of government, royal, architecture of Bali
KAJIAN POLA PERMUKIMAN DUSUN NGIBIKAN YOGYAKARTA DIKAITKAN DENGAN PERILAKU MASYARAKATNYA Alreiga Referendiza Wiraprama; Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.13.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Pola permukiman masyarakat desa biasanya dipengaruhi oleh lokasi desa, iklim, serta adat budaya desa tersebut. Di antara adat budaya yang ada, beberapa di antaranya telah melekat kedalam diri masyarakat desa sehinggga membuat sebuah kebiasaan dan perilaku yang tercermin dari bagaimana cara mereka bersosialisasi terhadap sesama. Di sebuah dusun yang terletak di desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, kehidupan bermasyarakat dan gotong royong yang turun temurun menjadi sebuah budaya dan kebiasaan dari masyarakat telah membawa dusun ini bangkit dari keterpurukan atas terjadinya bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006. Tak hanya itu, berkat gotong royong dan kerja keras masyarakat membangun desanya kembali, desa ini berhasil masuk dalam nominasi Aga Khan Award pada tahun 2010 di Doha, India. Tentunya atas prakarsa arsitek senior, Eko Prawoto, yang telah menggerakkan hati masyarakat dan membuatkan sebuah desain yang unik untuk merekonstruksi kembali desa itu. Desa ini bernama dusun Ngibikan. Desa yang memiliki warisan leluhur yang tetap dijaga baik, warisan yang membuat desa ini mendapatkan predikat sebagai desa yang memiliki konsep Arsitektur Komunitas di dalamnya, yaitu konsep dimana pembangunan desa berbasis pada kebutuhan dan keinginan komunitas/ masyarakatnya, hal tersebut dikenal dengan warisan hidup bergotong royong. Perilaku masyarakat yang membentuk suatu pola permukiman pedesaan yang indah dan nyaman untuk dihuni.Kata kunci: pola permukiman, dusun ngibikan, perilaku masyarakat ABSTRACT. This research is aimed to analize the relation between patterns of settlement with the behavior of the community within the settlement. A case study of Ngibikan village has been conducted as a significant village within Yogyakarta city which had been destroyed by earthquake in 2006. This village has been nominated in Aga Khan Award 2010 in Doha, India, as a village that known well as a village which had been built by community participation or gotong royong’s concept. This village has a well maintaned heritage, that makes this village has been regarded as a village with a concept of community architecture within it. This concept known as a concept of a rural development based on the needs and desires of the community/ society by implementing the concept of community participation or gotong royong. By applying this concept, hopefully could create a settlement for the community which is comfort and livable.Keywords: pattern of settlement, Ngibikan village, community’s behaviour
KARAKTERISTIK ARSITEKTUR DESA MEKARWANGI, CISAUK Danang Harito Wibowo; Muhammar Khamdevi
NALARs Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.2.155-160

Abstract

Mekarwangi Village is in Banten Province area. It has its own architectural uniqueness, which distincts from Baduy and Java-Banten. However, its uniqueness became faded and abandoned. The Mekarwangi people started to adopt western buildings. On the other hand, most of the area became formal and modern housing development of Serpong. Conservation effort should be initiated, by starting a study about its architectural characteristics. How is the characteristics of the traditional architecture in Desa Mekarwangi? This study is a qualitative research, which is aimed to study the architectural characteristics in Desa Mekarwangi. The results showed, that the stylistic, spatial, physics and figural quality characters is sunda and banten.Keywords: traditional architecture, vernacular, conservation, cultural landscape heritage, local wisdom
PENGARUH IKLIM DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR Irfandi Irfandi
NALARs Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.8.1.%p

Abstract

Abstrak. Bangunan sebagai hasil perancangan arsitektur dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan mendukung aktifitas manusia yang berada di dalam bangunan. Kondisi ruangan yang baik dapat membuat manusia sebagai pemakai bangunan beraktifitas dengan baik sesuai dengan kehendaknya. Kondisi ini menuntut ruangan sebagai wadah aktifitas manusia untuk dapat memenuhi persyaratan kenyamanan yang meliputi kenyamanan terhadap suara (acoustics), pencahayaan (lighting), dan kenyamanan termal (thermal comfort). Oleh karena itu dalam perancangan arsitektur harus memperhatikan faktor iklim ini sehingga dapat tercipta lingkungan dan bangunan yang memberikan kenyamanan, kenikmatan, dan keselamatan terhadap pemakainya. Kata kunci: Iklim, Pengaruh Iklim, dan Perancangan Arsitektur Abstracts. Building as a product of architectural design is attempted to give comfort and to encourage human activities within building. Condition of well organized room will encourage people as building user to do their activities as good as they want. This condition will require the room as activities’ place for human being to fulfill the requirement of comfort which include acoustics, lighting, and thermal comfort. Therefor, in architectural design, should concern about climate factor, thus it will created building and enviroment which giving comfort, and savety for the users.  Keyword: climate, climate effect, architectural design
KARAKTERISTIK UNIT HUNIAN DAN PENGHUNI PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI KELURAHAN SUNGAI BELIUNG KOTA PONTIANAK Zairin Zain
NALARs Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Efisiensi dalam penggunaan lahan di perkotaan dan perlunya penataan permukiman menjadikan pembangunan rumah susun menjadi pilihan bagi penentu kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan perumahan. Rusunawa di kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang dan karakteristik yang beragam.Perbedaan unit hunian terletak pada ketinggian lantai, posisi dan orientasi dalam blok massa bangunan.Hal ini menyebabkan penghuni melakukan penyesuaian (adjusment) terhadap tipe hunian vertikal dengan memanfaatkan ruang-ruang yang tersedia.penelitian ini dilakukan untuk menelusuri karakteristik unit hunian dan penghuni yang mempengaruhi pola pemanfaatan ruang unit hunian pada Rumah Susun Sederhana Sewa (rusunawa) di Kelurahan Sungai Beliung, Kota Pontianak.Penelitian in termasuk ke dalam klasifikasi basic research (penelitian dasar). Penelitian dasar tidak ditujuan untuk memberikan efek langsung terhadap pemecahan masalah sehari-hari namun untuk menjawab pertanyaan penelitian atau fenomena yang terjadi untuk pengembangan suatu teori. Dari hasil pengamatan dan analisis dapat disimpulkan bahwa Karakteristik unit hunian Pada Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Di Kelurahan Sungai Beliung Kota Pontianak adalah unit dengan pemanfaatan ruang yang diterjemahkan berdasarkan pemahaman tentang kebutuhan bagi setiap penghuni unit hunian, dan karakteristik penghuni sementara untuk suatu unit hunian yang menjadikannya seperti rumah tinggal horizontal. Kondisi ini dapat dilihat dari motivasi menghuni, intensitas lama tinggal (beraktivitas) di hunian dan jumlah penghuni dengan melakukan perubahan dan fungsi jamak untuk setiap ruang.Kata kunci: unit hunian, penghuni, ruang, rusunawa ABSTRACT. Efficiency of landuse within city and the need of settlement planning had encouraged government to deliver a policy to provide vertical houses as an alternative solution to solve a housing problem. Rental vertical houses as known as Rusunawa at Sungai Beliung district, West Pontianak are occupied by community with variety background and characteristic. The differences of dwelling unit could be seen at the level of floor, position and orientation of the building’s blocks. This situation will affect the dwellers to do adjustment to the vertical dwelling’s unit type by using avalible rooms. This research is aimed to explore the characteristic of dwelling units and the dwellers as well which will affect the pattern of dwelling’s unit rooms at Rusunawa at Sungai Beliung district, West Pontianak.This research has been classified as a fundamental research. This fundamental research is not aimed to give a driect effect to the daily problem solution, but to answer research question or happening phenomena to develop a related theory. From the exploration and analysis result, it could be concluded that dwelling’s unit characteristic of Rusunawa at Sungai Beliung District, West Pontianak is a unit with a space utilization which transformed from an understanding of need for each dwellers, and the characteristic of temporary dwellers of a dwelling’s unit who make it as a horizontal houses. This condition could be seen from the dwellers’ motivation, intensity of the length of stay (activities within dwelling’s unit) and the number of dwellers who make changes and do some functions/ activities in the same room.Keywords: dwelling unit, dwellers, space, rental vertical house.
PERENCANAAN RTH SEMPADAN SUNGAI CILIWUNG D I KAWASAN KAMPUNG PULO DAN BUKIT DURI JAKARTA Sitti Wardiningsih; Banni Fuadi Salam
NALARs Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.1.65-74

Abstract

ABSTRAK. Sungai merupakan salah  satu bentuk alur air permukaan yang harus dikelola  secara menyeluruh dengan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk kebutuhan masyarakat. Dengan demikian untuk  mewujudkan  kemanfaatan  sungai  serta  mengendalikan  kerusakan  sungai,  perlu  ditetapkan  garis sempadan sungai, yaitu garis batas perlindungan sungai. Garis sempadan sungai ini selanjutnya akan menjadi acuan pokok dalam kegiatan pemanfaatan dan perlindungan sungai serta sebagai batas permukiman di wilayah sepanjang sungai. Sempadan sungai merupakan salah satu klasifikasi ruang terbuka hijau yang berada di kawasan tertentu sepanjang kiri-kanan sungai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian  fungsi  sungai.  Sungai  Ciliwung  merupakan  sungai  terpanjang  yang  melintas  di  tengah  Kota Jakarta. Usaha untuk menata dan mengembangkan sungai Ciliwung menemui banyak kendala, terutama terkait dengan kekumuhan. Penyebabnya adalah adanya perubahan penggunaan lahan menjadi pemukiman yang berdampak negatif pada kondisi fisik lingkungan, kualitas air sungai, dan kualitas estetika lingkungan sungai. Perencanaan tata hijau merupakan penggunaan  tanaman sesuai dengan  fungsi tanaman yang mendukung terbentuknya ruang fungsional. Metode dengan Pendekatan J.O.Simonds tahun 1987, meliputi perencanaan desain diawa;li dari tahapan-tahapan kegiatan pendahuluan,  inventarisasi,  analisis, sintesis, konstruksi , konsep dan desain. Tujuan Penatailangkan an tata hijau tidak lepas bahwa sempadan sungai merupakan salah satu bentuk RTH (ruang terbuka hijau), dalam kasus ini RTH yang dikembangkan memiliki manfaat diantaranya memperbaiki iklim mikro, menjaga dan memperbaiki kualitas udara, struktur tanah dan resapan air, sebagai area konservasi, dan meningkatkan kualitas visual. Kata kunci: ekologi, konsep perencanaan, konservasi, RTH, sempadan, Sungai Ciliwung ABSTRACT. A river is one form of surface water flow that must be managed thoroughly by realizing sustainable use of water resources for the needs of the community. Thus to understand the benefits of the river and control the damage, it is necessary to establish a river borderline, which is known as the river protection boundary line. The river borderline will then become the primary reference in river utilization and protection activities as well as settlement boundaries in areas along the river. The river boundary line is one of the classifications of green open space in certain areas along the bank of the river which have essential benefits to maintain the sustainability of river functions. Sungai Ciliwung is the longest river that crosses in the middle of Jakarta City. Efforts to organize and develop the Sungai Ciliwung encountered many obstacles, primarily related to slums. The cause is a change in land use into a settlement that has a negative impact on the physical condition of the environment, the quality of river water, and the aesthetic quality of the river environment. One of the green open space planning is the use of plants following plant functions that support the formation of functional space. The method with the J.O.Simonds approach in 1987, includes design planning in the stages of preliminary activities, inventory, analysis, synthesis, construction, concepts, and designs. The purpose of greening is that the river borderline is one form of green open space, in this case, the green open space developed has benefits including improving the microclimate, maintaining and improving air quality, soil structure, and water absorption, as a conservation area, and improve visual quality. Keywords: ecology, planning concept, conservation, green open space, borderline, Sungai Ciliwung
STUDI EMPIRIS PENERAPAN MANAJEMEN NILAI PADA PENGEMBANGAN REAL ESTATE DI SURABAYA Yeptadian Sari
NALARs Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.1.85-90

Abstract

ABSTRAK. Penerapan sebuah metode dalam pengembangan real estat sangat dibutuhkan agar memastikan proyek berjalan dengan lancar. Terdapat metode yang mampu meningkatkan nilai proyek dan bahkan membuang biaya yang tidak perlu dalam proyek yang disebut dengan metode manajemen nilai atau value management (VM). Metode ini masih jarang digunakan di Indonesia namun sebagian besar pengembang real estat di Surabaya mengaplikasikannya. Penelitian ini mencari tahu tentang studi empiris dari penerapan VM pada pengembangan real estat di Surabaya, lebih spesifiknya yaitu mencari tahu tentang bagaimana VM digunakan di perusahaan pengembang real estat di Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif  dengan metode penelitian analisa statistik deskriptif. Metode penentuan sampel dengan non-probabiliti sampling gabungan, yaitu dengan purposive sampling yang dilanjutkan dengan snowball sampling. Sedangkan teknik pengumpulan datanya menggunakan survei dengan alat kuesioner. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa 80% perusahaan pengembang real estat di Surabaya tidak memiliki pelaksana desain dan pelaksana proyek sendiri, dan mereka tidak dilibatkan dalam tujuan proyek sejak tahap preliminary, mereka baru dilibatkan sejak tahap desain konseptual. Selain itu, penelitian ini menemukan fakta bahwa 60% petinggi perusahaan pengembang real estat mengasumsikan bahwa manajemen nilai (VM) adalah rekayasa nilai (VE). Kata kunci : real estate, manajemen nilai, studi empiris. ABSTRACT. The application of a method in real estate development process is needed in order to ensure the project runs smoothly. There are methods that can indrease the value of the project and even discard the unnecessary cost of the project called value management. Many practitioners of real estate development in Surabaya claim that they always apply value management method. However, based on empirical data, it is known that not much research of value management in Surabaya. Thepurpose of this paper is to determine the empirical study of VM by the practitioners of real estate development in Surabaya. This is an exploratory research with statistic descriptive analysis that is used to achieve the research objectives. The sample taking and respondent determination are applied by a purposive sampling followed by snowball sampling. Data collection techniques use a survey by distributing the questionnaires.  Outcome of the analysis indicate that 80% of real estate development companies in Surabaya do not have executive design and project implementers. Design implementers and project officers are not involved in achieving the objectives of the project, these professionals began to be involved in the conceptual stages of design. Beside, this research finds that 60% of practitioners assume that VM is VE. Keywords : real estate, value management, empirical study.

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue