cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
’KARSTEN’ DALAM PERENCANAAN KOTA DAN PEMUKIMAN DI KOTA MALANG Ana Christalina Siuriwati Suryorini
NALARs Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.2.%p

Abstract

ABSTRACT. The industrial revolution in Europe make an impact on the development of big cities in Indonesia especially producing region for industrial raw materials in Europe. Political ethics reciprocation by the Netherlands to the Indonesian nation manifested in urban planning, among others, improvement of quality and environmental management due to the increase of the Dutch people who go to big cities and towns in the Netherlands Indies plantation. Malang City as the region surrounded by plantations developed quite rapidly in 1917 as a residential area planned by Ir. Herman Thomas Karsten Dutch city planners. This study uses data exploration methods using observational study of literature and documentation. In the first stage described the concept of town owned by Ir. Thomas Karsten. In the second phase, analysis of case planning by the city of Malang, Ir. Herman Thomas Karsten. This research has produced: the concept of "Indiese Stedebouw" that can be drawn into the three red lines as follows: the macro-scale planning (satellite town), messo (neighboorhod) and micro (house lots). In principle, the concept is a concept Indiese Stedebouw to plan the town follow the town master plan that is comprehensive as controller. Malang City as one of the city planned by Karsten planned to live in unity together with great harmony. Keywords: Indiese Stedebouw, Karsten, kota Malang ABSTRAK. Revolusi industri di Eropa memberikan dampak pada perkembangan kota-kota besar di Indonesia khususnya daerah penghasil bahan baku mentah industri di Eropa. Pengaruh politik dari bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia juga mempengaruhi perencanaan kota satu dengan lainnya, peningkatan kualitas dan juga manajemen lingkungan terhadap meningkatnya orang-orang Belanda yang tinggal di kota-kota besar di perkebunan Hindia Belanda. Kota Malang sebagai daerah yang dikelilingi oleh perkebunan, berkembang secara pesat pada tahun 1917 sebagai daerah permukiman yang direncanakan oleh Ir. Herman Thomas Karsten, perencana kota berwarga negara Belanda. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi data yang menggunakan studi observasi dengan literatur maupun dokumentasi. Pada tahap pertama menggambarkan konsep kota yang dikenalkan oleh Ir. Thomas Karsten. Sementara di tahap kedua, analisa dari studi kasus perencanaan kota malang oleh Ir. Herman Thomas Karsten. Penelitian ini menghasilkan: konsep dari Indiese Stedebouw yang dapat dijabarkan kedalam 3 hal penting yaitu perencanaan skala makro (kota satelit), skala menengah (lingkungan/ kawasan kecil), dan skala mikro (perumahan). Secara prinsip, konsepnya adalah konsep Indiese Stedebouw yang merencanakan kota mengikuti masterplan kota secara komprehensif sebagai pengontrol. Kota malang adalah salah satu kota yang direncanakan oleh Karsten, yang direncanakan bagi masyarakatnya untuk hidup bersama secara harmonis. Kata Kunci: Indiese Stedebouw, Karsten, Kota Malang 
ARTOWARDS THE HEALTHY CITY : A REFLECTION ON PLANNING FOR HEALTH Neil Whittingham
NALARs Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.11.1.%p

Abstract

ABSTRACT. Health, in a sense, can be considered an intensely personal matter, strongly governed by behavioural choices and genetics. However, indicators show that at the level of the community or the city, marked disparities exist in morbidity and mortality throughout the world. Clearly, politics, economics and geography also have a bearing on health outcomes, and not just in environments that are obviously extremely hazardous. Health problems can in part be due to a failure to reconcile the impact of the layout and design of urban form with the needs of individuals and communities for space to achieve a healthy existence. This article seeks a greater understanding of how the planning, design and management of cities have a bearing on sustainable development and the health of their citizens. It seeks such an understanding through a consideration of the social and environmental determinants of health and the influence that urban policy has upon the quality or liveability of cities. Lessons are sought from development theory and the move towards more collaborative approaches to health, looking particularly at the WHO Healthy Cities Project, to identify challenges and recommendations for future policy. Key words: health, wellbeing, sustainable development, urban planning, collaboration, WHO Healthy Cities Project.  ABSTRAK. Kesehatan dapat dikatakan sebagai masalah pribadi, yang biasanya merupakan akibat genetika ataupun pilihan kebiasaan. Namun, indicator-indikator memperlihatkan bahwa pada tingkat masyarakat atau kota tertentu, terdapat kesenjangan dalam morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Jelasnya, politik, ekomoni dan geografi juga memiliki pengaruh pada luaran kesehatan, tidak hanya pada lingkungan tertentu yang sangat jelas berbahaya. Masalah kesehatan sebagian disebabkan karena adanya kegagalan dari akibat tata ruang dan disain dari “urban form” disesuaikan dengan kebutuhan individu dan komunitas akan ruang untuk mencapai kehidupan yang lebih sehat. Artikel ini bertujuan untuk mencari pemahaman yang lebih besar dari bagaimana perencanaan, disain dan pengelolaan sebuah kota yang memiliki pengaruh pada pembangunan berkelanjutan dan masyarakat yang sehat. Selain itu juga untuk mencari pemahaman seperti melalui pertimbangan faktor penentu sosial dan lingkungan kesehatan dan pengaruh bahwa kebijakan perkotaan ditentukan oleh kualitas atau kelayakan sebuah  kota. Pelajaran dicari dari teori pengembangan dan pergerakan menuju pendekatan yang lebih kolaboratif untuk kesehatan, terutama dengan melihat Proyek Kota Sehat dari WHO, untuk mengidentifikasikan tantangan dan rekomendasi bagi kebijakan masa depan.      Kata kunci: kesehatan, pengembangan berkelanjutan, perencanaan kota, kolaborasi, Proyek Kota Sehat WHO 
Karakteristik Arsitektur di Kota Lama Kudus Anisa Anisa
NALARs Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.2.155-164

Abstract

ABSTRAK. Kota Lama Kudus atau yang lebih sering disebut Kudus Kulon adalah sebuah kawasan bersejarah yang berada di Kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Kudus terbagi menjadi dua yaitu Kudus Kulon dan Kudus Wetan dengan sebuah sungai sebagai pemisah kedua area tersebut. Kudus Kulon atau Kota Lama Kudus merupakan cikal bakal kota Kudus dan sebuah tempat bersejarah dengan adanya makam Sunan Kudus dan Masjid Menara Kudus.  Kudus yang kita kenal sekarang ini selain adanya Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, juga terkenal karena industri rokok. Dalam sejarah dikisahkan dahulu industri rokok berkembang mulai dari home industry di Kota Lama Kudus sekitar tahun 1900. Jauh sebelum industri rokok berkembang, sudah ada perdagangan yang memajukan daerah Kota Lama Kudus yaitu perdagangan palawija dan tembakau. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan serta menginterpretasikan karakteristik arsitektur Kota Lama Kudus. Deskripsi dan interpretasi ini penting dilakukan karena kondisi terkini Kota Lama Kudus sudah mengalami banyak perubahan. Data diambil melalui observasi lapangan tentang kondisi rumah, permukiman dan kawasan Kota Lama Kudus. Pada daerah sekitar Masjid dan Menara Kudus, permukiman didominasi oleh rumah-rumah Kilungan sehingga membentuk jalan-jalan berbentuk lorong seperti labirin. Semakin jauh dari Masjid dan Menara Kudus bentuk permukimannya berubah menjadi rumah-rumah terbuka tanpa dinding kilungan. Selain lingkungan permukimannya, arsitektur rumah di Kota Lama Kudus juga beragam. Ada rumah tradisional Kudus dengan bangunan sisir (tempat usaha), rumah tradisional Kudus tanpa bangunan sisir, rumah gedong (gaya eropa) dan rumah kilungan (rumah di dalam pagar tinggi). Tiga arsitektur rumah tersebut adalah asli sebagai karakteristik arsitektur Kota Lama Kudus. Faktor yang mempengaruhi karakteristik arsitektur di Kota lama Kudus adalah aktivitas yang di lakukan di kawasan tersebut  Kata Kunci: karakteristik, arsitektur, rumah, permukiman, Kota Lama Kudus ABSTRACT. Kota Lama Kudus or more commonly called Kudus Kulon is a historic area located in Kudus District, Central Java Province. Kudus District is divided into two namely Kudus Kulon and Kudus wetan with a river as a separator of both areas. Kudus Kulon or Kota Lama Kudus is the forerunner of Kudus city and a historic place with the tomb of Sunan Kudus and Mosque of Menara Kudus. Kudus that we know today besides the existence of the Masjid Menara and the Tomb of Sunan Kudus, also famous for the cigarette industry. In the history of the first cigarette industry began to grow from the home industry in the Kudus Old City around the year 1900. Long before the cigarette industry develops, there is a trade that promotes the area of the Old Town Kudus palawija and tobacco trade. This research is  qualitative descriptive research that describes and interpret the architectural character of Kota Lama Kudus. These descriptions and interpretations are essential because the current condition of the Kudus Old City has undergone many changes. The data was taken through field observations on the condition of houses, settlements and the area of the Old City. In the area around the Mosque and the Menara, the settlements are dominated by Kilungan houses to form alley-shaped streets such as labyrinths. The farther away from the Mosque and the Menara form the settlements are transformed into open houses without the globe walls. In addition to its residential neighborhood, the architecture of the house in the Kudus Old City also varied. There is a traditional Kudus house with a sisir building (place of business), a traditional Kudus house without a sisir building, a gedong house (European style) and a kilungan house (house inside a high fence). The three architectural houses are genuine and are a character of the architecture of the Kudus Old City. Factors affecting the architectural characteristics of the old city of Kudus are the activities undertaken in the region Keywords: characteristics, architecture, house, settlement, kudus Old City
KAJIAN BEHAVIOR SETTING DI PASAR TUGU SIMPANG LIMA GUMUL KEDIRI Anisah Nur Fajarwati
NALARs Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.2.99-108

Abstract

ABSTRAK. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis behavior setting di Pasar Tugu Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri. Untuk mengkaji behavior setting, dilakukan behavioral mapping atau pemetaan perilaku. Analisis yang digunakan dalam studi ini terdiri dari dua langkah. Pertama, analisis dilakukan dengan tinjauan teori behavior setting Roger Barker. Kedua, untuk menganalisis data yang ditemukan di lapangan, dilakukan behavioral mapping dengan metode person centered map. Lokasi pengamatan yang ditentukan adalah di segmen barat Pasar Tugu. Behavior setting yang terjadi di setiap tenda dagangan memiliki ciri tersendiri sesuai dengan barang yang diperdagangkan. Peletakkan dan penataan tenda didasarkan pada jenis barang dagangan, setiap tenda untuk satu penyewa. Hubungan antara aktivitas perilaku pengguna (standing patterns of behavior) dan lay out ruang lingkungan pengguna (milieu) sangat sesuai dan terpenuhi dengan baik (synomorphic).Kata kunci: behavior setting, pemetaan perilakuABSTRACT. This study is aimed to identify and analyze behavior setting within Pasar Tugu Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri. To explore behavior setting, behavioral mapping had been conducted. Analysis method that had been used in this research consisted two steps. Firstly, analysis was carried out by using a theory review of behavior setting by Roger Baker. Secondly, to analyze data on the field, behavioral mapping was carried out with person centered map method. The designated location of this research was in the west segmen of Pasar Tugu. Behavior setting which had been happened in every stand had its own character depend on the commercial’s goods. The placement and the layout of the stands were based on the commercial’s goods of the every stands for every tenants. The relation between behavior activity of the stand’s users and the users’ environment layout is well organized and appropriated.Keyword: behavior setting, behavioral mapping
UTILITAS PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT Permadi Permadi
NALARs Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Limbah cair adalah hasil buangan berupa cairan yang perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang. Menteri kesehatan RI telah mengatur melalui keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1204/MENKES/SK/X/2004, Tentang : Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Sebagian besar Rumah Sakit masih membuang air limbah langsung ke sistem drainase atau saluran air kota. Dalam beberapa kasus air limbah rumah sakit juga langsung dibuang ke sistem irigasi yang biasa digunakan untuk air minum. Padahal air limbah rumah sakit banyak mengandung polutan dari bahan-bahan yang dapat menimbulkan penyakit dan berbahaya bagi manusia dan lingkungan.Untuk itulah perlu diadakan pengolahan limbah cair rumah sakit dengan menggunakan teknologi pengolahan limbah cair yang efektif dan efisien serta ekonomis. Kata kunci : Limbah cair rumah sakit, karakteristik air limbah cair, teknologi pengolahan limbah cair. ABSTRACT. Liquid waste is a liquid waste product that needs to be treated before disposed. The Health Minister of RI has established a decision of the health ministers of the Republic of Indonesia Number: 1204/ MENKES/ SK/ X/ 2004, about: Requirements of Environmental Health Hospital. Most hospitals have not concerned about this issues. They do not have waste management thus all the liquid waste have been disposed through water drainage system or directly into city waterways. In some cases the liquid waste from hospital is directly discharged into the irrigation system which will be used for drinking water. It is too dangerous to consume this drinking water, because it has been regarded that liquid waste from hospital contains pollutants from organic materials. Thus, it is necessary to deliver liquid waste management for hospital by using technology which are effective, efficient and economical. Keywords : hospital’s liquid waste, characteristic of liquid waste, technology of liquid waste treatment
BENANG MERAH ANTARA DISAIN DAN POLA TATA RUANG RUMAH TAHAN GEMPA NGIBIKAN YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU PENGHUNINYA Ahmad Mubarak Djuha; ari widyati purwantiasning
NALARs Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Pada tahun 2006 silam, Yogyakarta luluh lantak oleh bencana alam yang begitu dashyat yaitu bencana gempa bumi. Sebagian besar kota Yogyakarta terutama desa-desa di pinggiran kota Yogyakarta dan sekitarnya ikut merasakan bencana ini. Kehancuran bangunan-bangunan dan desa-desa di Yogyakarta juga terjadi di salah satu desa di daerah Bantul. Dusun Ngibikan nama desanya, dan dampak bencana tersebut dirasakan mendalam bagi masyarakat dusun ini. Dusun yang terletak di Kelurahan Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul ini terletak sekitar 10 km dari pusat gempa sehingga tidak dapat dihindari sebagian rumah warga desa sudah rata dengan tanah dan rumah yang masih berdiripun sudah rusak parah. Dengan kondisi tersebut, muncul inisiatif akan salah satu bentuk keprihatinan dan kepedulian seorang arsitek Eko Prawoto yang mengajak masyarakat Ngibikan bersama-sama membangun kembali desanya dengan dipimpin oleh pemimpin masyarakat Pak Maryono. Dalam penelitian ini, peneliti mengangkat masalah bagaimana keterkaitan antara rumah tahan gempa Ngibikan yang didesain Eko Prawoto terhadap perilaku masyarakat Ngibikan pasca gempa  Rumah lama berbentuk limasan direkonstruksi menjadi rumah baru dengan modifikasi inovatif yang dirancang agar tahan dari  gempa bumi.  Beberapa rumah dibangun tetap berada pada setting layout rumah yang lama, tujuannya untuk mempertahankan kebutuhan ruang seperti yang pernah ada sebelumnya. Proses rekontruksi tersebut melalui bentukan arsitekturnya dan perubahan fisik bangunan sedikitnya  telah merubah karakteristik lingkungan  Desa Ngibikan.  Secara tidak langsung perubahan tersebut dapat mempengaruhi kegiatan/ aktifitas, perilaku dan psikologi masyarakatnya. ABSTRACT. This research is aimed to analize the relation between design and pattern of spaces within house with the behavior of the community within the settlement. A case study of Ngibikan village has been conducted as a significant village within Yogyakarta city which had been destroyed by earthquake in 2006. This village has been nominated in Aga Khan Award 2010 in Doha, India, as a village that known well as a village which had been built by community participation or gotong royong’s concept. This village has a well maintained heritage, that makes this village has been regarded as a village with a concept of community architecture within it. This concept known as a concept of a rural development based on the needs and desires of the community/ society by implementing the concept of community participation or gotong royong. By applying this concept, hopefully could create a settlement for the community which is comfort and livable. Former house with pyramid shape had been reconstructed to be a new house with an innovative modification which had been designed to resistant with earthquake. Some houses had been built by remaining the old setting layout house, in order to maintain the need of space. The reconstruction processes through the formation of architectural and physical change of the houses at least have changed the characteristic of the environment of Ngibikan Village. Indirectly, those changes may affect the activities, behavior and psychological of the community.
ADAPTASI PENGHUNI TERHADAP KONDISI TERMAL (Studi Kasus Penghuni dan Rumoh Aceh Modern) Husnus Sawab
NALARs Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.8.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Rumah Tradisional yang beragam merupakan kekayaan bangsa.  Salah satu kekayaan tersebut adalah rumah tradisional Aceh (rumoh Aceh).  Banyak hal yang dapat dipelajari, salah satu dari sekian banyak hal tersebut adalah masalah kondisi termal.  Oleh karena itu pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui kondisi termal hunian yang nantinya akan jadi masukan yang sangat berharga pada perencanaan bangunan pada iklim tropis lembab.Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif.  Pengambilan data penghuni dilakukan dengan wawancara ataupun penyebaran kuesioner. Sedangkan pengamatan terhadap bangunan dilakukan dengan mengukur kondisi termal indoor dan outdoor bangunan tersebut.  Kata kunci:  rumah tradisional, kondisi termal ABSTRACT. A variety traditional house is a country wealth. One of this wealth is traditional house in Aceh (Rumoh Aceh). There are many things that could be learnt from this traditional house, such as thermal condition within the house. This research will explore thermal condition within traditional house that will become an input an solution for building plan in humid  tropical climate.  This research will use quantitative method by collecting data from building user with interviews and questionaire distribution. On the other hand, to explore the builring by measuring thermal condition either indoor or outdoor.Keywords: traditional house, thermal condition
ARSITEKTUR ISLAM ATAU ARSITEKTUR ISLAMI? Sativa Sativa
NALARs Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Diskusi dan kajian tentang arsitektur Islam sudah sedemikian banyak, terutama di kalangan akademisi dan praktisi. Sebagian diskusi tersebut memfokuskan pada aspek bentuk, langgam, peninggalan historis dan hal-hal lain yang bersifat fisik yang dianggap merupakan bagian dari  kebudayaan umat muslim. Sementara itu sebagian kalangan merasa bahwa sesungguhnya  Islam tidak cukup hanya diwujudkan dengan aspek  fisik semata. Saat ini semakin berkembang  wacana tentang arsitektur islam yang lebih mengedepankan nilai-nilai keislaman daripada tipologi fisik produk arsitektur. Di dalam pengertian ini, penulis menyebutnya sebagai arsitektur islami. Tulisan ini bertujuan untuk menggali sejauh mana perbedaan antara kedua pemikiran tentang arsitektur Islam dan arsitektur Islami, dan mengetahui apa sajakah aspek yang berpengaruh dalam perencanaan produk arsitektur yang islami, melalui kajian terhadap berbagai sumber berupa Al Qur’an dan hadits, buku,  jurnal, dan beberapa artikel, di samping analisis pemikiran penulis sendiri. Dari kajian tersebut ditemukan bahwa bahasan tentang arsitektur islam sangat berbeda dengan arsitektur islami. Arsitektur islam menekankan tentang aspek fisik sebuah lingkungan binaan, sedangkan arsitektur islami lebih mengedepankan pada nilai-nilai keislaman yang bersumberkan pada Al Quran dan Hadits atau sunnah Rasulullah. Aspek dari arsitektur islami yang perlu untuk dikembangkan adalah efisensi, egaliter, privasi, kearifan lokal. Kata kunci : arsitektur islam, arsitektur islami, nilai Islam     ABSTRACT. It has been regarded, there are so many discussion and study of Islamic architecture, particularly among academics and practitioners. Most of the discussion focuses on aspects of form, style, historical relics and other things that are considered physical is part of the culture of Muslims. Meanwhile, some people feel that the real Islam is not enough just realized with the physical aspect only. Currently, growing discourse about Islamic architecture which tends to emphasize Islamic values rather than physical typology of product architecture. In this matter, the author referred to it as Islamic Architecture.This paper is aimed to discover how extend to which the differences between two thinking about Islam Architecture and Islamic Architecture, and to find out the aspects which influence in Islamic Architecture product planning, through the study of various sources of the Qur'an and hadith, books, journals, and several articles, in addition to analysis of the author's own thoughts.From those studies it was found that a discussion of Islam architecture is very different from Islamic architecture. Islam architecture emphasizes the physical aspects of the built environment, while Islamic architecture is more advanced on Islamic values which root on Al Quran and hadith or sunnah of the Prophet. Aspects of Islamic architecture that need to be developed is efficiency, egalitarian, privacy and genius loci. Keywords : Islam Architecture, Islamic Architecture, Islamic values
PENGARUH FUNGSI RITUAL PADA BENTUK ARSITEKTUR Kasus Studi : Gereja Katedral, Gereja Theresia,Gereja Salib Suci, Gereja Santo Matias Rasul dan Gereja Stella Maris Rudy Trisno; Antariksa Antariksa; Purnama Salura
NALARs Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.1.25-34

Abstract

ABSTRAK: Fenomena pudarnya sakralitas bentuk gereja Katolik di seluruh dunia cukup merisaukan Paus Benedictus. Ternyata pudarnya sakralitas bentuk terjadi juga pada gereja Katolik di Indonesia khususnya Jakarta. Secara keseluruhan, permasalahan yang muncul dari fenomena ini adalah tidak terjalinnya relasi yang baik antara fungsi kegiatan dengan bentuk tersebut serta makna yang tampil dari relasi tersebut. Tarik-menarik antara kedua fungsi dan bentuk inilah yang kemudian dimaknai oleh manusia melalui pengamatan langsung bagi pengguna maupun pengamat arsitektur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertama, merekam fungsi liturgi dan bentuk pada gereja-gereja sebagai obyek studi  kemudian menggambarkan kembali secara rinci agar dapat dianalisis seluruh bentukan arsitektur yang ada. Kedua, menggunakan gabungan pendekatan sakralitas dari Eliade, Hoffman, Jones, dan Martasudjita untuk menelusuri seluruh fungsi kegiatan sedangkan untuk identifikasi ornamen dengan pendekatan Peirce. Sedangkan untuk menelusuri ekspresi bentuk digunakan elaborasi dari pendekatan arsitektur Salura dan Evensen. Analisis ini berlandas pada pendekatan strukturalisme yang menelusuri struktur-dalamnya. Ketiga, setelah dianalisa semua kasus studi kemudian diperbandingkan pada setiap obyek studi mana struktur-dalam. Keempat, interpretasi relasi kegiatan dan konsepsi sakral pada obyek studi. Kelima, menyimpulkan  bahwa pemaknaan relasional fungsi dengan sakralitas bentuk arsitektur gereja. Dengan demikian jika elemen sakralitas bangunan ini ada maka keseluruhan arsitektur gereja pada obyek studi dapat dikatakan memancarkan ekspresi bentuk sakral yang sarat dengan nilai ke-Katolik-an. Kata kunci:  Relasi, Fungsi  dan bentuk, Ekspresi, Sakralitas, Gereja Katolik ABSTRACT: The phenomenon of fading off form “sakralitas” of Catholic Church in the world has worried Paus Benedictus. Evidently, this phenomenon had been happened to Catholic Church in Indonesia, particularly Jakarta. Generally, problem has been occurred from this phenomenon is because there is no well relation between activities function with the form as well as the appearance meaning from that relation. The attraction between these both function and form, will be interpreted by people through direct observation for user as well as architectural researcher. This research will use some methods, firstly, will record liturgy function and form on the conducted churches as case studies then will describe in detail, thus could be analyzed all the existing architecture form. Secondly, will use combination “sakralitas” approach from Eliade, Hoffman, Jones and Martasudjita to explore all activities function, although to identify ornament will use Peirce approach. On the otherhand, to explore form expression will use elaboration from architectural approach of Salura and Evensen. This analysis will be based on to structuralism approach, which will explore the inner structure. Thirdly, after analysis process, all case studies will be compared each other on each study object which known as inner-structure. Fourthly, interpretation of activities relation and sacred conception on study objects. Fifthly,  to conclude the signification of function relational with form sakralitas of church architecture. Therefore, if this building element’s sakralitas exist, then all the church architecture on study objects could be said, they are throwing off the expression of sacred form which full of Catholic’s values.         Keywords:  relation, function and form, expression, sakralitas, Catholic Church
PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT MEDIKA DRAMAGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS VISUAL Priambudi Trie Putra; Moh. Sanjiva Refi Hasibuan; Ray March Syahadat
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.39-50

Abstract

ABSTRAK. Beberapa penelitian melaporkan cara negara-negara di berbagai belahan bumi melestarikan kualitas visual lanskap. Tingginya apresiasi terhadap lanskap membuat mereka selalu melakukan sebuah penilaian atau assessment setiap adanya penambahan struktur baru pada lanskap. Hal inilah yang membuat kualitas visual mereka tetap terjaga dari kerusakan baik yang disengaja maupun tak disengaja. Di Indonesia, perhatian ini masih lemah dan belum ada peraturan dari pemerintah yang khusus mengaturnya. Penelitian ini mencoba melakukan penilaian terhadap kualitas visual pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga yang didirikan pada tahun 2012. Proses proyek dan setelah proyek memiliki beberapa efek yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah dampak visual konstruksi pada lanskap sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) menganalisis dampak visual dari kegiatan pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga bagi masyarakat sekitar yang dilihat dari aspek natural resources dan cultural resources; dan 2) mengidentifikasi persepsi dan preferensi masyarakat sebagai user utama. Hasil dari penelitian ini berupa rekomendasi perlindungan visual setelah adanya pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga terhadap lanskap sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode visual impact assessment (VIA) dengan menggunakan pendekatan dari Ogawa. Hasil penilaian menunjukkan bahwa kualitas visual Rumah Sakit Medika Dramaga umumnya dapat diterima secara visual, namun perlu dilakukan sedikit tindakan mitigasi (modifikasi kecil) untuk menghilangkan kontras visual yang terjadi dengan lingkungan. Kata kunci: kualitas lingkungan, lanskap, penilaian dampak visual, kualitas visual ABSTRACT. The prior researches in many countries report about preserving their visual landscape qualities. Due to their high appreciation for managing their landscape makes them always conduct an assessment of every new structure in its landscape. That is what makes their landscape well managed. In Indonesia, the attention to that case is still weak, and there are no specific rules issued by the governments. This research tries to assess the visual quality development of Medika Dramaga Hospital that built in 2012. The project process and after the project has several effects that must be considered. One of them is the visual impact of construction on the surrounding landscape. The aims of this article are to 1) analyze the visual impact of Medika Dramaga Hospital towards the community nearby based on natural resources and cultural resources aspects, and 2) to identify the community perception and preference as the primary user. The output of this research is a recommendation for the visual preservation after the completed process of Medika Dramaga Hospital development towards is landscape. This study using visual impact assessment (VIA) method based on Ogawa approaches. The results of the assessment of visual quality Medika Dramaga Hospital acceptable as visually, but need to do a few of mitigation actions (minor modifications) to eliminate the visual contrast that occurs with the surrounding environment. Keywords: environmental quality, landscape, visual impact assessment, visual quality

Filter by Year

2009 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026 Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue