cover
Contact Name
Anisa Anisa
Contact Email
anisa@ftumj.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.nalars@ftumj.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
NALARs
ISSN : 14123266     EISSN : 25496832     DOI : -
Core Subject : Engineering,
NALARs is an architecture journal which presents articles based on architectural research in micro, mezo and macro. Published articles cover all subjects as follow: architectural behaviour, space and place, traditional architecture, digital architecture, urban planning and urban design, building technology and building science.
Arjuna Subject : -
Articles 349 Documents
DESAIN PARAMETRIK PADA PERANCANGAN DESAIN STUDI BENTUK BANGUNAN BERTINGKAT BANYAK Hendro Trieddiantoro Putro; Luhur Sapto Pamungkas
NALARs Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.2.153-158

Abstract

ABSTRAK. Melalui penelitian ini, peneliti menggunakan metode Desain Parametrik untuk studi bentuk bangunan bertingkat banyak. Rhinoceros dan Grasshopper digunakan sebagai alat studi bentuk bangunan bertingkat banyak. Desain parametrik dilakukan dengan parameter, yaitu berupa bentuk lantai dasar, jumlah lantai, ketebalan lantai, jarak antar lantai, derajat putar, dan olah bentuk. Eksperimen ditunjukkan dengan jumlah alternatif yang dihasilkan dari mengolah nilai parameter. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran proses mendesain bangunan berlantai banyak menggunakan metode desain parametrik. Hasil penelitian menunjukkan kreativitas dalam mengolah bentuk dasar menjadi bentuk bangunan bertingkat banyak.Kata kunci: Desain Parametrik, Software Rhinoceros dan Grasshopper, Bangunan Bertingkat Banyak ABSTRACT. The researcher has used the Parametric Design method to do form studies of a multi-story building. The Rhinoceros and Grasshopper software have been used as a design tool.  Design parameters were ground floor shapes, number of floors, the thickness of the story, the distance between levels, degree of rotation, and graph mapper. The experimental results are indicated by the number of alternatives generated from processing parameter values. The purpose of this study is to get a description of the process of designing many-story buildings using parametric design methods. The results of the study showed that creativity in processing basic forms into multi-story buildings. Keywords: Parametric Design, Rhinoceros and Grasshopper Software, Multi-storey Buildings
POTENSI BUDAYA PADA KAWASAN PERMUKIMAN TEPIAN SUNGAI STUDI KASUS KELURAHAN SEBERANG MESJID fitri wulandari; noor aina; humairoh razak
NALARs Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.1.57-64

Abstract

ABSTRAK. Kota Banjarmasin yang pada tahun 2018 berumur ke 492 tahun merupakan anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Sebagai Kota berbasis sungai, sejak dulu kehidupan masyarakatnya bergantung dengan aliran sungai yang ditandai permukiman di tepian sungai, persimpangan sungai atau muara sungai. Di kawasan tepian sungai ini pula terjadi ekspansi kekuasaan, kontak agama dan kebudayaan serta kontak perdagangan. Perkembangan di bidang teknologi material, pengetahuan berhuni, dan perkembangan infrastruktur kota secara tidak langsung berdampak pada pudarnya identitas lokal, yaitu budaya sungai pada fisik permukiman dan lingkungan permukiman di tepi sungai.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui budaya sungai pada kawasan permukiman tepian sungai di Kota Banjarmasin. Lokasi Penelitian adalah kelurahan Seberang Mesjid yang terletak di tepian sungai Martapura dan persimpangan antara Sungai Martapura dan Sungai Kuin. Objek penelitian adalah unsur budaya pada kawasan tepian sungai. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian terhadap identifikasi budaya di Kelurahan Seberang Mesjid menunjukkan, kawasan ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wisata belanja dan wisata edukasi berbasis pada budaya sungai. Kata kunci: Banjarmasin, budaya, permukiman, tepian sungai ABSTRACT. The city of Banjarmasin, which was 492 years old in 2018, is a member of the Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). As a river-based city, the life of the people depends on the river flow which is characterized by settlements on the banks of rivers, crossing rivers or estuaries. In this area of the river, there was also an expansion of power, religious and cultural contacts and trade contacts as well. The developments in the field of material technology inhabited knowledge and the development of urban infrastructure indirectly have an impact on the fading of local identities, such as river culture on physical settlements and settlement’s environments on the banks of rivers. This study aims to determine river culture in riverbank settlement areas in the city of Banjarmasin. The research location is the Seberang Mesjid village which is located on the banks of the Sungai Martapura and the intersection between the Sungai Martapura and Sungai Kuin. The object of research is the cultural element in the river bank. The method used is descriptive qualitative. The results of the study on cultural identification in Seberang Mesjid Village indicate that this area has the potential to be developed into shopping and educational tourism based on river culture. Keywords: Banjarmasin, culture, settlements, river banks
ADAPTASI ARSITEKTUR VERNAKULAR KAMPUNG NELAYAN BUGIS DI KAMAL MUARA Primi Artiningrum; Danto Sukmajati
NALARs Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.1.69-84

Abstract

ABSTRAK.Masyarakat Bugis terkenal sebagai pelaut ulung di Indonesia yang telah menjelajahi seluruh wilayah nusantara.Oleh karena itu permukiman masyarakat Bugis dapat ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama di kawasan pesisir.Di pantai Utara Jakarta juga terdapat satu kampung nelayan Bugis, yaitu di wilayah Kamal Muara.Karakter fisik dari permukiman ini menunjukkan ciri-ciri arsitektur vernacular Bugis yang dapat dilihat dari bentuk rumah-rumahnya.Akan tetapi, kondisi lingkungan yang berbeda dengan di tempat asalnya memaksa masyarakat kampung Bugis tersebut untuk beradaptasi baik terhadap lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budayanya.Adaptasi tersebut menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada bentuk dan pola perkampungannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh adaptasi terhadap bentuk rumah dan pola kampung yang dibandingkan dengan arsitektur Bugis yang asli.Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif.Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara kepada informan kunci termasuk beberapa pemilik rumah.Hasil dari penelitian ini adalah teridentifikasinya adapatasi bentuk arsitektur dan pola kampung terkait dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya. Kata  kunci : adaptasi, vernakular, arsitektur, nelayan, kampung ABSTRACT.Bugis people are famous as the best sailor in Indonesia who have sailed all over the archipelago. Their settlements can be found all over the country especially in the coastal area. Kamal Muara is one of the Bugis fishermen village located in the North coast of Jakarta. The physical character of this settlement demonstrates Bugis vernacular architecture which is especially noticeable in the form of its houses. However, the new place has forced the people to adapt to the physical environment as well as to the social and cultural environment. Consequently, the adaptation caused changes of architectural shapes and the pattern of the village. This objective of this research was to find out the influence of the adaptation to the house form and village pattern that was compared to its original Bugis Architecture. The method of this research was qualitative descriptive research. The data was collected through field study, observation, and interview to the key informants including the owner of the houses. The outcomes of this research is the identification of the adaptation in architectural form and village pattern related to the environmental condition and the sociocultural problem. Keywords:  adaptation, vernacular, architecture, fishermen, village
POLA DAN STRATEGI PERBAIKAN PERMUKIMAN KUMUH DI PERKOTAAN Ari Widyati Purwantiasning
NALARs Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.10.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Tulisan ini akan membahas sedikit banyaknya tentang pola dan strategi perbaikan permukiman kumuh di perkotaan khususnya DKI Jakarta yang dinilai terlalu banyak kantong-kantong permukiman kumuh. Pola dan strategi perbaikan yang dibahas dalam tulisan ini meliputi pola dan strategi perbaikan permukiman kumuh dari yang pertama digulirkan oleh pemerintah maupun yang sampai saat ini masih diterapkan oleh pemerintah.  Kata kunci: strategi, pola, permukiman kumuh  ABSTRACT. This paper will discuss more or less about strategies and patterns of slum settlement improvement programme within cities, particularly DKI Jakarta. DKI Jakarta has been regarded as a city which has many slum areas’ within it. Strategies and patterns of improvement programme which will be discussed in this paper include patterns and strategies of initial programme which had been delivered by government as well as programme which is still employed by government.. Keywords: strategies, patterns, slum settlement
MENELAAH TERITORIALITAS KELOMPOK SOSIAL PENGHUNI DI RUSUNAWA: PROSES HOME-MAKING WARGA RELOKASI Rossa Turpuk Gabe; Annisa Putri Lestari
NALARs Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.2.87-96

Abstract

ABSTRAK. Makna rumah tidak hanya pada kehadiran bangunan fisiknya saja, tetapi juga kehadiran ruang yang membuat rasa aman, nyaman dan kepemilikan penghuninya. Tulisan ini mencoba untuk membahas proses Home-Making dengan mengangkat sebuah kasus relokasi warga kampung padat ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Perbedaan mendasar pada hunian sebelum dan sesudah relokasi adalah kemampuan ruang huni yang tersedia mewadahi interaksi sosial warga. Melalui kasus ini dapat terlihat pembentukan teritori di rusunawa yang dikontrol dan dikuasai kelompok-kelompok sosial bedasarkan kebutuhan setiap kelompok. Teritorialitas tersebut merupakan upaya kelompok sosial mengklaim suatu area geografis yang didasari dengan kebutuhan interaksi kelompoknya. Kebutuhan privasi dan elemen ruang memiliki peran penting dalam menciptakan teritori. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan mengangkat Rusunawa Jatinegara Barat sebagai kasus. Rusunawa Jatinegara Barat dipilih karena rusun ini dikhususkan untuk warga relokasi Kampung Pulo yang telah rampung perpindahan seluruh warganya pada bulan Agustus 2015. Dalam rentang waktu huni tersebut, warga relokasi sudah menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Bedasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembentukan teritori kelompok sosial warga di rusunawa merupakan proses home-making penghuni relokasi kampung padat untuk menghadirkan kembali suasana dan nilai-nilai ‘rumah’ yang mereka yakini. Proses home-making ini diharapkan mampu meningkatkan rasa kepemilikan penghuni seiring tanggung jawab dalam menjaga dan memelihara lingkungan tempat tinggalnya. Kata kunci: teritorialitas, home-making, kelompok sosial, rumah susun ABSTRACT. The Meaning of Home is not only about the existence of its physical building, but also the existence of a space where the owners feel safe, comfortable and belong to it. This paper addresses processes of Home-Making of a relocation case of crowded kampong’s residents to Rental Low-cost Apartments (Rusunawa). The basic difference between before and after settlements is the ability of housing space to accommodate social interaction of residents. The case explains the formation of territory in Rusunawa that controlled and owned by specific social groups based on their needs. The territoriallity factor is an effort of social groups to claim a particular geographic area based on their interaction needs. The needs of privacy and space elements are important roles to create their territory. This study used a qualitative method with the case at Rusunawa Jatinegara Barat. Rusunawa Jatinegara Barat was chosen because it has been devoted to Kampung Pulo’s people who was moved in August 2015. During the settlement period, the relocation residents have adapted to their new neighborhood. The findings of this study suggest that the formation of social groups resident in Rusunawa is a process of home-making of crowded kampong’s residents to represent their concept of the atmosphere and values of home. These processes of home-making are expected able to increase resident’s sense of belonging and increase their responsibility to maintain and preserve their neighborhood. Keywords: territoriality, home-making, social groups, low-cost apartment
PENGARUH GEJALA “PARIWISATANISASI” REVITALISASI TEPIAN SUNGAI SEKANAK KHUSUSNYA TERHADAP KARAKTERISTIK BANGUNAN DAN KAWASAN HERITAGE SEKANAK SEBAGAI POTENSI URBAN HERITAGE TOURISM DI PALEMBANG Rizka Drastiani
NALARs Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.18.2.131-142

Abstract

ABSTRAK. Wisata sejarah saat ini merupakan segmen pertumbuhan potensial untuk pariwisata perkotaan. Sejak beberapa tahun belakangan wisata sejarah menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ekonomi kembali sebuah kota yang tentunya dengan tidak lupa mengangkat nilai-nilai lokal untuk diikutsertakan dalam perkembangan wisata sejarah tersebut. Sekanak yang merupakan salah satu kawasan bersejarah di kota Palembang berada tepat di tepian sungai Musi, kawasan bersejarah Sekanak khususnya di sepanjang sungai Sekanak dilakukan perubahan tema lansekap dengan konsep yaitu mewarnai bangunan dan elemen hardscape di sepanjang koridor sungai Sekanak. Apabila disesuaikan dengan kaidah dasar pelestarian kawasan bersejarah. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pengecatan warna warni bangunan dan bantaran sungai Sekanak terhadap karakteristik kawasan Sekanak Palembang.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data-data primer melalui observasi dan data sekunder dari studi literatur dan studi dokumen. Analisis yang dilakukan adalah dengan melihat elemen variabel standar bangunan dan kawasan yang masuk dalam syarat teori pelestarian sehingga dapat dinyatakan bangunan dan kawasan tersebut merupakan kawasan heritage kemudian akan dilakukan studi mengenai kesesuaian pengecatan kawasan tepian sungai Sekanak dengan karakteristik kawasan yang telah diperoleh sebelumnya. Kata kunci: Wisata, Kota, Pariwisata, Sejarah, Sekanak. ABSTRACT. Historical tourism is a potential growth segment for urban tourism. Since the past few years, historical tourism has become one of the ways to improve the economy of a city, of course by not forgetting to raise local values to be included in the development of historical tourism. Sekanak which is one of the historical areas of the city is located right on the banks of the Musi River, the historic neighborhood along the Sekanak river is done by changing the landscape with a concept made by studying buildings and hardscape elements along the Sekanak river. It is a fundamental principle of preserving the historic area. This research aimed at examining the characteristics of buildings and the banks of the characters of the Palembang area. The research method used by collecting primary data through collection and secondary data from literature studies and document studies. The inheritance area and surveys will be carried out on a standard variable. The inheritance area and studies had been carried out based on the suitability of the Sekanak river bank with the preservation area previously obtained.Keywords: Tour, City, Tourism, Heriage, Sekanak
PENGARUH KEBERAGAMAN ACTIVITY SUPPORT TERHADAP TERBENTUKNYA CITRA KAWASAN DI JALAN PANDANARAN KOTA SEMARANG Dea Putri Ghassani
NALARs Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Suatu kawasan perkotaan tidak dapat terlepas dari activity support terutama pada kawasan pusat kota. Kehadiran activity support di suatu kawasan pusat kota adalah sebagai pemenuh kebutuhan bagi masyarakatnya, selain itu agar suatu kawasan kota lebih ‘hidup’. Salah satu kawasan pusat kota yang memiliki keberagaman activity support di Kota Semarang adalah Jalan Pandanaran. Pada perencanaannya, kawasan Jalan Pandanaran ini memang difungsikan sebagai kawasan komersial. Seiring dengan berjalannya waktu, kemudian hadir fungsi bangunan lain seperti perkantoran yang melengkapi keberagaman aktivitas di kawasan ini. Adanya keberagaman yang terjadi di kawasan ini, tentu ada pengaruhnya terhadap terbentuknya citra kawasan. Dengan keberagaman activity support yang ada di Jalan Pandanaran, masyarakat kota Semarang sangat mengenal kawasan Jalan Pandanaran sebagai kawasan pusat oleh-oleh dimana kawasan pusat oleh-oleh hanya sebagian dari penggal Jalan Pandanaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keberagaman activity support terhadap terbentuknya citra kawasan. Metode kuantitatif rasionalistik digunakan dengan pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner, dan observasi lapangan. Selanjutnya analisis statistik dengan uji regresi menggunakan software SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh keberagaman activity support  terhadap terbentuknya citra kawasan sebesar 40%. ABSTRACT. An urban area cannot be separated from activity support particularly in central bussines district within city center. The presence of activity support in urban area is as a provider for its society needs, on the other hand, it will support the living urban areas.  One of a city center area within Semarang city which have diversity of activity support is Jalan Pandanaran. According to the  urban planning of Semarang, Jalan Pandanaran  area has been purposed as a commercial district. As the time go, the presence of another function of building such as office complex which complete the diversities of activity support in this district. The existence of these diversities that occurs within this area, surely has its influence to the form of the image of the area. But  the phenomena that happen with those diversity of activity support at Jalan Pandanaran, this area is well known as “semarang-ish” culinary centre and souvenir in Semarang City which the souvenir center only the half of Jalan Pandanaran. This research is aimed to know the influences of activity support diversity to the image area formed. A quantitative rasionalistic method is used by collecting literature study, questionnaires and field observationns. The method of  data analysis will use statistical analysis by regression test using SPSS 17.0 software for windows. This research has shown that there is influence of activity support diversity to the image area formed as amount as 40%.
MAKNA RUANG PUBLIK PADA RUMAH TRADISIONAL MASYARAKAT JAWA KASUS STUDI: DESA JAGALAN KOTAGEDE YOGYAKARTA Sumardiyanto Sumardiyanto; Antariksa Antariksa; Purnama Salura
NALARs Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.1.1-12

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemahaman tentang ruang publik pada rumah tinggal masyarakat Jawa. Untuk itu dipilih rumah-rumah tradisional masyarakat Jawa tipe joglo di desa Jagalan Kotagede Yogyakarta sebagai representasi aspek bentuk. Untuk representasi aspek fungsi dipilih tiga adat dan upacara daur hidup yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Pendekatan dasar yang digunakan adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Levi Strauss dikombinasikan dengan pengkategorisasian aspek dalam arsitektur oleh Capon dan perputaran aspek fungsi – bentuk – makna oleh Salura dan Fauzy. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengungkap struktur permukaan aspek fungsi dengan menelusuri elemen-elemen dan relasi sintagmatik dari kegiatan pada adat dan upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Pada saat yang sama juga dilakukan pengungkapan struktur permukaan aspek bentuk melalui penelusuran elemen-elemen dan relasi sintagmatik dari rumah-rumah kasus studi. Langkah berikutnya adalah melakukan analisis oposisi biner untuk mendapatkan relasi paradigmatik antara struktur permukaan aspek fungsi dan struktur permukaan aspek bentuk. Hasilnya kemudian diinterpretasi lebih lanjut dengan mengkaitkannya dengan konsep-konsep yang hidup dalam masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ruang publik pada rumah tinggal masyarakat Jawa merupakan bagian integral masyarakat Jawa dalam rangka menemukan keselamatan dalam hidup. Kata Kunci : ruang publik, makna, rumah tradisional, Kotagede. ABSTRACT. This research is aimed to explore the understanding of public space within Javanese traditional house. For this reason, it has been chosen some Javanese traditional houses known as Joglo House as case studies. Those houses are located in Jagalan Village, Kotagede Yogyakarta which will represent as form aspect. To represent function aspect, it has been conducted three ritual life cycle ceremony consist birth, marriage and death. The basic approach that has been used is structuralism which has been developed by Levi Strauss and has been combined with aspect categorization in architecture by Capon as well as rotation aspect of function-form-meaning by Salura and Fauzy. Steps taken in this research is describing the surface structure of function aspect by exploring elements and sintagmatic relation from the activities of ritual ceremony of birth, marriage and death. In the same time, it will describe the surface structure of form aspect through exploring elements and sintagmatic relation of case studies conducted. Next step is by doing binary opposition analysis to get paradigmatic relation between surface structure of function aspect and form aspect. The result will be interpretated more by relating with the concept of living within community. Analysis result has shown that public space on Javanese traditional house is an integral part of Javanese community in a term to find a safety life.         Key Words : public space, meaning, traditional house, Kotagede
KAJIAN KONSERVASI KAWASAN BANTARAN SUNGAI STUDI KASUS: BOAT QUAY SINGAPURA DAN SUNGAI CILIWUNG JAKARTA Lily Mauliani; Nurhidayah Nurhidayah; Fika Masruroh
NALARs Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.11.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kepedulian akan kondisi kawasan bantaran Sungai Ciliwung di Jakarta yang sebenarnya memiliki potensi yang tinggi yang dapat dilestarikan seperti layaknya kawasan Boat Quay di Singapura. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang konsep konservasi dan juga aplikasinya pada kawasan bantaran sungai khususnya pada kawasan Boat Quay yang dinilai sangat berhasil dan mengkaitkannya dengan kondisi kawasan bantaran sungai Ciliwung Jakarta. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif komparatif antara dua lokasi yang berbeda namun memiliki karakteristik yang hampir sama yaitu area bantaran sungai. Kata kunci: konservasi, kawasan, bantaran sungai ABSTRACT. This research has been encouraged by an awareness of the condition of banks of Ciliwung river in Jakarta. This area has been examined as a highly potential area which could be conserved as succeeded as conservation area in Boat Quay Singapore. This study is aimed to review the concept of conservation as well as the application within banks of the river particularly in Boat Quat which has been regarded as a success conservation area in Singapore. Moreover, the result will be associated with the condition of banks of Ciliwung river in Jakarta. The method of the research will conduct descriptive comparative method between two different location of case studies which have similar characterisctic. Both case studies are area of banks of the river.           Keywords: conservation, area, banks of the river
TIPOLOGI PROSES MERUMAH DAN MAKNA RUMAH DI ATAS TANAH GARAPAN Studi kasus Permukiman di Kapuk Muara Agustina Eka Wahyuni
NALARs Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.9.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Kapuk Muara adalah daerah permukiman di tepi Muara Angke yang telah ada sejak 50 tahun yang lalu. Permukiman di tepi Muara Angke yang berstatus tanah pemerintah. Pemerintah daerah menyebutnya dengan tanah garapan. Beberapa rumah mereka adalah rumah-rumah komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe proses merumah di Kapuk Muara dan melihat makna rumah. Untuk mencapat tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian naturalistik dengan metode deskriptif-kualitatif. Kesimpulan dari penelitian status tanah garapan berbeda antara penggarap dengan pendatang, dan sangat dipengaruhi proses merumaah. Proses tersebut terjadi sebagai respon dari situasi yang terjadi. Bagi pendatang, selain rumah masih bernilai ekonomis status tanah dan situasi lingkungan bukan masalah yang penting. Bagi penggarap proses merumah di Kapuk Muara akan terus berjalan karena mereka mempunyai hubungan dengan tanah yang mereka kerjakan atau mereka buka. Maka itulah tujuan mereka untuk memperbaiki kondisi rumah. Kata kunci : rumah, proses merumah, tanah garapan, makna ABSTRACT. Kapuk Muara is a settlement area of town residing in edge Muara Angke and has been more than 50 years. Settlement by the side of Muara Angke lies on goverment land status. Local resident conceive this as tanah garapan. Many of their houses are commercial house. This research aims to know types of housing process in Kapuk Muara and look for the meaning of house. To reach this target hence approach of this research to be used is naturalistic with method of qualitative-descriptive. Conclusion of this research of tanah garapan status comprehended to differ between penggarap aand arrival, and very influencing to housing process. The process expands as a response to situation that happened. For arrival, during house still valuable economically hence land status and situation of environment is not an importaant matter. For penggarap, housing process in Kapuk Muara will be still going on because they have strong relationship with land which they worked on or open, so that all their efforts are for improvement of house condition Keywords : house, housing process, tanah garapan, meaning

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): NALARs Vol 24 No 2 Juli 2025 Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025 Vol 23, No 1 (2024): NALARs Vol 23 No 1 Januari 2024 Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023 Vol 22, No 1 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 1 Januari 2023 Vol 21, No 2 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 2 Juli 2022 Vol 21, No 1 (2022): NALARs Volume 21 Nomor 1 Januari 2022 Vol 20, No 2 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 2 Juli 2021 Vol 20, No 1 (2021): NALARs Volume 20 Nomor 1 Januari 2021 Vol 19, No 2 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 2 Juli 2020 Vol 19, No 1 (2020): NALARs Volume 19 Nomor 1 Januari 2020 Vol 18, No 2 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 2 Juli 2019 Vol 18, No 1 (2019): NALARs Volume 18 Nomor 1 Januari 2019 Vol 17, No 2 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 2 Juli 2018 Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018 Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017 Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 2 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 2 Juli 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 14, No 1 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 1 Januari 2015 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 2 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 2 Juli 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014 Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Arsitektur NALARs Volume 13 Nomor 2 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 12, No 1 (2013): NALARs Volume 12 Nomor 1 Januari 2013 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 2 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 2 Juli 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 11, No 1 (2012): NALARs Volume 11 Nomor 1 Januari 2012 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 2 (2011): NaLARs Volume 10 Nomor 2 Juli 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 10, No 1 (2011): NALARs Volume 10 Nomor 1 Januari 2011 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 2 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 9, No 1 (2010): NALARs Volume 9 Nomor 1 Januari 2010 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 2 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 2 Juli 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 Vol 8, No 1 (2009): NALARs Volume 8 Nomor 1 Januari 2009 More Issue